Di dalam kamar tidur yang remang-remang di Vila Tanjung, Kota Nasan.
Setelah berhubungan intim, Vovo dengan lembut mengecup tahi lalat kecil di dada Jasmine, lalu duduk tegak.
Dengan ekspresi datar, dia berkata, "Ayo kita bercerai."
Jasmine, yang masih terengah-engah setelah berhubungan dengannya, menoleh perlahan, sorot mata liar penuh ketidakpercayaan terpancar dari matanya.
Mereka telah menikah selama setahun. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan ingin bercerai?
"Dia mengidap kanker perut dan hidupnya hanya tersisa enam bulan lagi," ucap Vovo sambil menyalakan sebatang rokok.
Asap itu mengepul perlahan di sekitar wajahnya.
"Harapan terakhirnya adalah menjadi istriku," tambahnya, nyaris tanpa beban.
Mendengar itu, Jasmine hanya bisa tertegun. Keheningan menyelimuti ruangan seperti kabut tebal.
Lampu di samping tempat tidur menyala redup, memancarkan bayangan panjang di dinding, membuat jarak keduanya tampak lebih jauh dari kenyataannya.
Vovo melirik Jasmine sambil mengerutkan kening.
"Pernikahan itu hanya untuk menghiburnya," jelas Vovo. "Kita akan menikah lagi setelah enam bulan. Jasmine, hidupnya tidak akan lama lagi."
Suaranya tenang, hampir tanpa emosi, seperti seseorang yang menyampaikan pesan yang tak ada hubungannya dengan dirinya.
Jasmine menatap Vovo dalam diam, matanya tak berpaling dari wajah suaminya.
Vovo berbicara seolah-olah kata-katanya adalah perintah, bukan permintaan.
Hubungan mereka selalu sepihak. Sejak awal, Jasmine-lah yang selalu mengejarnya, terbawa oleh rasa cinta masa muda.
Dia tetap berada di sisinya selama bertahun-tahun, melewati masa-masa sulit tanpa pernah menyerah.
Jasmine masih ingat hari itu, saat hujan deras membasahi tubuh mereka berdua, Vovo berdiri tegak, melindunginya dari ayah tirinya—sambil memegang tongkat yang retak, dan berkata dengan suara penuh amarah, "Sentuh Jasmine lagi, dan kamu akan menyesal."
Momen itu terukir dalam hatinya. Bahkan ketika Jasmine lemah dan berlumuran darah, dia melihat Vovo—tak bergeming, melindungi, dengan penuh keberanian.
Sejak saat itu, Jasmine adalah miliknya.
Dia mencintai pria itu tanpa ragu, memenuhi setiap permintaannya dengan sepenuh hati, lebih sempurna dari siapa pun.
Vovo akan selalu menepuk kepalanya dengan lembut dan hangat, lalu berkata dengan suara pelan, "Jasmine, kamu melakukannya dengan sangat baik."
Tetapi pujian Vovo tidak pernah bertahan lama, ciumannya hanya berlangsung singkat, dan kasih sayang yang mereka bagikan selalu terasa asing. Tetapi Jasmine meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah sifatnya.
Bahkan ketika orang lain menyebutnya naif, dia tetap bertahan—setia dan penuh keyakinan.
Dia sudah mendedikasikan tujuh tahun hidupnya untuk pria itu.
Setahun yang lalu, kakek Vovo, Derek, menderita sakit parah. Keluarga, yang berharap dapat menghiburnya, memutuskan bahwa Vovo harus segera menikah. Mungkin pernikahan cucunya bisa memberi pria tua itu kebahagiaan dan semangat untuk bertahan.
Jadi Vovo akhirnya menikahi Jasmine.
Jasmine berpikir mimpinya akhirnya akan terwujud. Tetapi setelah menikah, sesuatu malah berubah. Vovo mulai menjauh. Terkadang, pria itu memandangnya seolah-olah dia adalah orang asing.
"Jasmine, apa kamu mendengar perkataanku?" Vovo mengerutkan kening saat melihat tatapan jauh di mata Jasmine.
"Apa harus melakukan ini?" tanyanya pelan.
Vovo tidak menjawab secara langsung. Sebaliknya, dia berkata, "Jasmine, dia sangat menderita."
Mendengar itu, dada Jasmine terasa sesak. "Lalu bagaimana denganku?"
Vovo tidak langsung menjawab. Sorot matanya suram dan tenang, mengerjap dengan sedikit ketidaksabaran.
Kemudian, setelah terdiam sekitar tiga detik, dia berkata, "Jasmine, dia sedang sekarat. Mungkin kamu tidak tahu, tapi dia mencintaiku. Karena kita sudah menikah, dan dia tidak ingin menyakitimu, dia tidak pernah membiarkan hubungan kami berkembang terlalu jauh. Bahkan saat aku mencoba menebusnya, dia akan selalu menolak. Dia wanita yang baik. Kumohon, biarkan dia memenuhi harapan terakhirnya. Jangan membuatku berpikir kalau kamu tidak berperasaan."
Kata-katanya, yang diucapkan dengan begitu tenang, menusuk hatinya lebih dalam daripada jika pria itu berteriak.
Jadi, menurut Vovo, seorang wanita yang jatuh cinta pada pria beristri—yang berjanji akan menahan diri tapi sebenarnya tidak benar-benar pergi, adalah wanita baik.
Dan seorang istri yang hanya ingin mempertahankan suaminya untuk dirinya sendiri justru dianggap tidak berperasaan.
Jasmine menatap wajahnya. Wajah yang sama yang dulu membuatnya jatuh cinta—mata yang tajam, hidung yang tegas, bibir yang indah.
Kapan segalanya mulai hancur?
Mungkin sejak hari wanita itu muncul.
"Apa kamu yakin ini yang kamu inginkan?" tanya Jasmine, mencoba menenangkan dirinya.
Vovo tidak menjawab, hanya mengatupkan bibirnya.
Akhirnya, dia membuka mulut untuk menjawab. "Ya, kamu—"
"Baiklah." Jasmine memotongnya sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannya.
Vovo menatapnya, jelas merasa terkejut. Dia mengerutkan kening, menatapnya dengan tajam.
"Jasmine, kamu menjadi semakin cerdik," ucapnya, dengan nada sedikit kesal. "Kamu tahu aku butuh persetujuanmu untuk melanjutkannya. Apa kamu berniat menggunakannya untuk membuatku kesal?"
Jasmine tidak menjawab. Dia hanya menatap dinding putih, mengamati bagaimana bayangan mereka memanjang.
Vovo mematikan rokoknya dan tidak mengatakan apa-apa lagi, mengenakan pakaiannya dengan cepat, lalu bergegas pergi.
Dia tampak tidak peduli dengan perasaan Jasmine. Dia juga tidak berhenti sejenak untuk menyadari betapa memalukan atau menyakitkan permintaannya itu.
Vovo tahu Jasmine tidak akan bisa meninggalkannya.
Dia sangat yakin akan hal itu.
Pintu tertutup dengan keras di belakangnya.
Dan dengan begitu, Jasmine ditinggal sendirian.
Dia duduk diam di atas tempat tidur, menatap pintu seolah-olah pintu itu akan terbuka lagi.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan muncul di layar.
Dia mengambil ponselnya, Itu adalah pesan dari nomor yang dikenalnya. "Dia datang menemuiku lagi."
Pesan itu disertai dengan sebuah foto. Wajah Vovo tertangkap di pantulan pintu kaca, senyum lembut tersungging di bibirnya, kehangatan di sorot matanya belum pernah Jasmine rasakan sebelumnya.
Jasmine membeku. Kemudian, dia menggulir ke atas untuk melihat pesan-pesan sebelumnya. "Dia bilang dia punya perasaan padaku."
"Malam hujan tidak terasa sepi karena dia ada di sini bersamaku. Bagaimana denganmu?"
"Wanita yang tidak dicintai adalah wanita simpanan. Jasmine, kamu tidak pernah jadi pilihan pertama baginya; dia hanya memilihmu karena terpaksa. Dia melihat keindahan seperti aku, selera kamu sama, dan dia mencintaiku."
Pesan-pesan itu terus berlanjut, membuktikan pengkhianatan Vovo.
Pria yang selama tujuh tahun terakhir selalu memperlakukannya dengan dingin ternyata mampu bersikap lembut pada wanita lain.
Jasmine terus menggulir layar hingga sampai pada pesan pertama. "Kamu seharusnya tahu siapa aku. Apa kamu suka bunga yang ada di ruang tamu hari ini? Akulah yang mengirimnya. Dia bilang bunga-bunga itu sangat indah."
Tentu saja, Jasmine tahu siapa yang mengiriminya pesan.
Vivian, desainer bunga terkenal yang biasa merangkai bunga di berbagai villa dan pesta mewah untuk para klien kaya raya.
Jasmine pernah menunjukkan pesan-pesan itu pada Vovo sebelumnya. Tetapi dia malah mengabaikannya dan mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa pesan itu berasal dari Vivian.
Dia bahkan menuduh Jasmine yang mengirimkannya sendiri untuk menjebak Vivian. Sebagian besar pesan tidak disertai foto, dan yang ada pun terlihat kabur—diambil dari kejauhan sehingga sulit untuk dikenali.
Tetapi tidak untuk hari ini. Foto hari ini sangat jelas.
Jasmine berpikir untuk menunjukkan foto itu padanya. Kemudian matanya melirik laci di samping tempat tidur. Dia meraih dan membukanya.
Itu dia. Di dalamnya, ada tes kehamilan yang dia dapatkan tadi pagi.
Dia mengandung anak Vovo. Pada saat yang paling buruk.
Air matanya jatuh, membasahi kertas itu dan mengaburkan tintanya.
Tetapi untuk apa lagi semua ini? Hati Vovo sudah lama pergi.
Jasmine menyeka wajahnya dan mengambil korek api yang ditinggalkan Vovo. Api menyala saat dia mendekatkan hasil tes ke api.
Vovo tidak menyadari bahwa menyetujui perceraian mereka akan menjadi hal terakhir yang akan dia lakukan untuknya.
Dia telah membayar utangnya—bukan dalam bentuk uang, tetapi tujuh tahun masa mudanya.
Dia tidak akan pernah mencintainya lagi.
Keesokan harinya, Vovo duduk di dalam mobil Maybach-nya yang diparkir tepat di luar gedung pengadilan, dengan tenang mengetuk setir dengan tangan kirinya.
"Vovo, kamu dan Jasmine sudah menikah selama setahun sekarang. Bukankah sudah saatnya kalian memiliki seorang anak?" Suara wanita tua terdengar dari pengeran telepon.
Wajah Vovo melembut, jejak kekecewaan terlintas sejenak, tetapi dia tetap sangat sabar.
"Oma, kami berdua masih muda. Tidak perlu terburu-buru. Nenek dan Kakek sebaiknya fokus menjaga kesehatan. Dia ...."
"Apa maksudmu dengan 'tidak perlu terburu-buru'?" Suara wanita tua itu meninggi, terdengar sedikit jengkel. Kondisi kakekmu mungkin sudah membaik, tapi kami tidak semakin muda. Kita tidak tahu berapa banyak waktu yang kita punya."
"Nenek ...."
"Jangan banyak alasan! Vovo, aku sudah mendengar rumornya. Apa pun yang terjadi, kamu harus memperlakukan Jasmine dengan baik."
Keheningan menyelimuti saluran telepon selama beberapa detik.
"Vovo, apa kamu mendengarku?" tanya sang Nenek.
Vovo mengusap keningnya frustrasi. "Aku mengerti, Nek."
Mereka mengobrol sebentar sebelum dia mengakhiri panggilan.
Vovo kembali mengetuk setir kemudi dengan jarinya, kali ini lebih lambat, pikirannya teralihkan. Dia menatap gedung pengadilan dari kaca mobilnya.
Vovo mengatupkan rahangnya. Kemudian, dia membuka aplikasi pesan di ponselnya.
Ibu jarinya melayang di atas foto profil yang familier—gambar bunga sederhana, bertuliskan "My Love." Vovo melewatinya dan membuka obrolan dengan Jasmine.
Pesan terakhir yang dia kirimkan padanya hanya mengingatkan tentang waktu dan tempat untuk bertemu terkait urusan perceraian.
Jasmine masih belum datang.
Dengan raut wajah masam, Vovo mengirim sebuah pesan baru. "Di mana kamu?"
Saat itu juga, terdengar suara ketukan di jendela. Vovo menoleh dan melihat Jasmine berdiri di luar, wajahnya terlihat sedikit pucat.
Jasmine membuka pintu dan duduk di kursi penumpang, menatapnya dengan tatapan kosong.
Vovo masih mengenakan pakaian kemarin—pakaian yang sama yang dia pilih untuknya.
Jasmine melakukannya selama bertahun-tahun—memilih dasi, menentukan parfum yang dipakainya, hingga mengatur setiap detail potongan kemeja dan jasnya.
"Kenapa kamu terlambat?" tanya Vovo.
Jasmine berpaling, menghindari tatapannya.
"Aku tidak terlambat," jawabnya pelan.
Dia bukan lagi gadis yang dulu, yang selalu datang lebih awal dan menunggunya tanpa ragu.
Jari-jari Vovo berhenti di atas setir kemudi. Dia menyipitkan kedua matanya saat menatapnya.
Jasmine terlihat sedikit pucat, mungkin karena semalam dia tidak bisa tidur setelah Vovo menyebutkan soal perceraian.
Meski begitu, dia terlihat baik-baik saja.
"Nenek baru saja meneleponku," ucap Vovo pelan, sambil mengalihkan pandangannya. "Jangan beri tahu mereka mengenai perceraian kita. Mereka sudah terlalu tua untuk mendengar kabar seperti itu."
Jasmine tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia bertanya, "Apa kata nenekmu?"
"Nenek ingin kita punya anak," jawab Vovo datar, terdengar sedikit kesal.
Keheningan menyelimuti mobil itu.
Beberapa saat kemudian, Jasmine tertawa pelan.
Vovo mengepalkan tangannya ke kemudi dan menoleh ke arah luar jendela.
Ada kalanya dia membayangkan seperti apa rupa anak mereka kelak.
Dia teringat saat memeluknya dari belakang, menempelkan tangannya di perutnya sambil berbisik, "Jasmine, kapan kamu akan memberiku seorang anak?"
Tetapi itu tidak pernah terjadi.
Bagaimanapun juga, mereka bisa menikah lagi dalam enam bulan dan mulai merencanakan untuk memiliki anak. Masih ada cukup waktu.
Namun Vivian hanya memiliki waktu enam bulan lagi.
Di luar, orang-orang berlalu lalang.
Tak lama kemudian, Jasmine mulai berbicara. "Vovo, untuk terakhir kalinya. Apa kamu benar-benar yakin ingin melanjutkan proses perceraian ini?
"Apa kamu merasa ragu?" bentak Vovo, terlihat sangat kesal.
Vivian masih menunggunya di studio.
Setelah mendengar jawabannya, Jasmine tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia mengambil sebuah dokumen dari tasnya, lalu memberikannya pada Vovo.
Vovo menerimanya dengan ekspresi cemberut, membolak-balik halaman. Itu adalah perjanjian pembagian harta.
"Kalau kita bercerai," ucap Jasmine, "kita harus memperjelas semuanya. Aku hanya akan mengambil apa yang menjadi hakku dari Keluarga Puconto. Dan mulai saat ini, uang yang kita hasilkan akan menjadi milik masing-masing secara pribadi."
Kemudian Jasmine mengeluarkan pulpen dan meletakkannya di sampingnya.
"Jika kamu setuju, tanda tangan di sini."
Mata Vovo tetap tertuju pada dokumen itu, kerutan di keningnya semakin dalam saat dia membacanya.
Dokumen tersebut terlalu sederhana. Jasmine benar-benar tidak menuntut banyak hal. Tanda tangannya juga sudah ada di sana.
Vovo tidak mengerti.
Apa maksud Jasmine sebenarnya? Ini hanyalah perceraian palsu.
Vivian hanya memiliki waktu enam bulan lagi. Vovo berniat menghabiskan sisa waktu itu di sisinya. Setelah itu, dia akan kembali pada Jasmine—tidak ada orang lain yang perlu tahu bahwa perceraian ini pernah terjadi.
Baginya, Jasmine adalah wanita yang setia tanpa syarat.
Vovo tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang memiliki harga diri atau batasan.
Ada kalanya Vovo merasa bosan dengannya, memaksanya melakukan hal-hal yang sengaja merusak harga dirinya.
Tetapi Jasmine tidak pernah menolak.
Dia akan kembali dengan senyuman lembut, memperlihatkan hasilnya seperti sebuah trofi. "Vovo, lihat—aku berhasil. Bukankah ini hebat?"
Jasmine adalah seorang istri yang baik. Lemah lembut. Penurut. Selama tujuh tahun, dia telah melihat hal itu berulang kali.
Jika bukan karena Vivian, pernikahan mereka mungkin akan terus berjalan seperti itu.
Namun ....
Yang terbayang di benaknya—wajah Vivian yang lemah dan muntah darah, masih berusaha tersenyum—menusuk dadanya. Rasa sakit itu begitu tajam dan tak bisa dihilangkan.
Vovo berpaling ke luar jendela sekali lagi.
Pantulan wajah Jasmine menatapnya—kosong, dan tanpa ekspresi.
Apa ini cara Jasmine mengancamnya?
Bagaimanapun juga, dia pernah memalsukan pesan untuk memfitnah Vivian.
Jasmine membenci Vivian.
Sambil tertawa kecil, Vovo mengambil pulpen dan menandatangani namanya.
Tidak ada seorang pun yang bisa mendesaknya. Bahkan Jasmine sekali pun.
Ada dua salinan perjanjian itu.
.Jasmine dengan tenang mengambil salinannya setelah Vovo menandatangani keduanya.
Mereka berdua keluar dari mobil dan menuju ke gedung pengadilan. Mereka mengajukan perceraian bersama-sama.
Saat mereka kembali ke sini nanti, mereka akan menyelesaikan semuanya dan mengambil surat keputusan resmi.
Begitu semua urusan formal selesai, keduanya pun melangkah keluar dari gedung pengadilan bersama.
Matahari sudah terik, dan Jasmine bisa merasakan kehangatan itu di kulitnya.
Vovo mengamati orang-orang yang berlalu lalang.
Tak sulit menebak pasangan mana yang akan menikah dan siapa yang akan berpisah. Beberapa orang memilih untuk melangsungkan pernikahan di kantor pengurusan pernikahan.
Sekelompok orang berjalan berdampingan, sambil bergandengan tangan.
Senyum wanita itu mengingatkan Vovo pada sesuatu. Dia teringat ekspresi yang sama di wajah Jasmine setahun lalu, saat mereka pertama kali menikah.
Vovo melirik Jasmine, tetapi ekspresi wanita itu terlihat datar.
"Aku akan terus mentransfer uang ke rekeningmu selama enam bulan ke depan," ucap Vovo. "Dan jangan katakan apa pun pada Kakek dan nenekku."
Dia tidak menunggu jawaban. Dia hanya berbalik dan berjalan pergi.
Jasmine hanya berdiri diam, menyaksikan mobilnya menghilang di tikungan.
Tak lama setelah itu, taksi Jasmine datang.
Kemudian, dua mobil itu berbelok ke arah yang berbeda.
Satu menuju Toko Bunga Vivian.
Dan yang satu menuju Rumah Sakit Harmoni.
Vovo masuk ke studio Vivian, di mana wanita itu menyambutnya dengan senyuman lembut.
Vovo lalu memberitahunya, "Semuanya sudah selesai. Dia tidak membuat keributan."
Sementara itu, Jasmine melangkah ke ruang kandungan dan duduk diam di hadapan dokter.
Dokter itu menjulurkan tangannya dan menarik tirai.
"Jasmine ... apa kamu yakin ingin menggugurkan kandunganmu?" Dokter sekaligus sahabatnya, Ayu Hussain, menatapnya dengan ekspresi cemas. "Dulu, kamu sangat ingin punya anak. Kamu bahkan berusaha begitu keras untuk menjalani program hamil ...."
Jasmine merogoh tasnya dan meletakkan surat pengajuan perceraian di atas meja.
"Ya," jawabnya tenang. "Aku ingin menggugurkan kandunganku. Aku tidak menginginkannya lagi."
Ayu terkejut melihat surat itu.
Dia dan Jasmine menjadi sahabat dekat selama lebih dari sepuluh tahun, dan selama itu, Ayu telah melihat seberapa besar cinta Jasmine pada Vovo.
Dulu, Jasmine rela mati untuknya, dan tidak akan ada orang yang mempertanyakannya.
Mereka menikah setahun yang lalu. Ayu senang melihat mereka menikah, meskipun ada sesuatu yang janggal mengenai hubungan keduanya. Tetapi tetap saja, Jasmine telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Itu sudah cukup bagi Ayu.
Sekarang ini ....
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku tidak mencintainya lagi," ucap Jasmine, sebelum Ayu sempat bertanya.
Jasmine meliriknya, dan tersenyum dengan tenang.
Dalam senyum itu, Ayu melihat sekilas sosok Jasmine yang dulu—sosok yang ada sebelum segalanya hancur, sebelum kesedihan menggerogoti jiwanya, sebelum kematian ayahnya dan kejatuhan Keluarga Samtoso mengubahnya.
Entah kenapa, hal itu membuat Ayu merasa tenang.
"Vovo tidak tahu tentang kehamilanku," ucap Jasmine tenang. "Dan sebelum resmi bercerai, aku tidak ingin mengambil risiko apa pun. Akan lebih baik kalau dia tidak tahu."
Jika salah satu pihak berubah pikiran sebelum keputusan cerai ditetapkan, mereka dapat menarik kembali permohonan tersebut, dan proses itu tidak akan dilanjutkan.
Pada saat inilah Ayu menyadari bahwa Jasmine memang serius tentang perceraiannya dengan Vovo.
Setelah mempertimbangkan semuanya, Ayu segera bertindak: dia mengatur tes medis Jasmine dan kemudian menyarankan dengan hati-hati, "Kamu harus menunggu beberapa hari sebelum menjalani operasi."
Jasmine mengernyit bingung. "Kenapa?"
"Kamu tahu golongan darahmu—Rh-negatif. Itu golongan darah yang langka. Kami perlu waktu untuk menyiapkan darah, hanya untuk berjaga-jaga. Aku sudah menghubungi bank darah. Mereka bilang mungkin perlu waktu seminggu."
Jasmine tertegun sejenak. Kesedihan terlihat jelas di matanya.
Golongan darah langka itu berasal dari ayahnya. Dan kini, dia merindukan ayahnya lagi.
Seandainya ayahnya masih hidup ....
"Oke." Jasmine mengangguk pelan. Senyuman tersungging di bibirnya, tetapi matanya memerah.
"Kamu juga menunjukkan beberapa tanda keguguran. Kamu harus berhati-hati beberapa hari ke depan," tambah Ayu, suaranya penuh dengan kekhawatiran.
Mereka tumbuh bersama, dan Ayu sangat memahami kesedihan Jasmine.
Dia menggenggam tangan Jasmine. "Tunggu aku. Jam kerjaku hampir selesai. Aku akan pulang bersamamu."
Jasmine mengangguk, lalu pergi untuk menunggu di lorong.
Dia menatap perutnya.
Tanda-tanda keguguran awal.
Apakah bayinya tahu keputusannya dan memutuskan untuk pergi lebih dulu?
Sambil mengerutkan bibirnya, Jasmine berjalan menuju laboratorium untuk menjalani tes.
Pada saat yang bersamaan, ponselnya bergetar. Itu adalah notifikasi dari bank.
Dia telah membuka rekening baru— rekening yang tidak akan diketahui oleh Vovo. Dia menyimpan uangnya secara terpisah sebelum perceraian diselesaikan.
Mulai sekarang, setiap sen yang dia peroleh akan disimpan di rekening tersebut.
Pesan kedua masuk. Pembayaran untuk komposisi dan lirik telah diselesaikan. Departemen keuangan telah mengirimkan transfer. Mohon konfirmasi."
Sebelum menikah dengan Vovo, Jasmine diam-diam bekerja sebagai penulis lagu yang tak bernama.
Musik selalu menjadi cinta pertamanya. Dulu, ketika ayahnya masih hidup, hidupnya sangat berkecukupan, dan dia tidak kekurangan apa pun. Sebagai anak perempuan satu-satunya Keluarga Samtoso, dia memiliki kebebasan dan kesempatan untuk mengembangkan bakatnya.
Perubahan yang terjadi dalam hidupnya telah mengajarkannya banyak hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.
Mungkin ayahnya tidak pernah menyangka bahwa hobi yang dulu dia dukung akan menjadi hal yang menyelamatkannya suatu hari nanti.
Jasmine berhenti sejenak, lalu membalas, "Uang sudah diterima. Terima kasih."
Balasan datang dengan cepat. "Kamu pantas mendapatkannya. Kamu sudah menulis banyak lagu hits selama bertahun-tahun. Kenapa kamu tidak berencana kembali? Ada acara baru yang cocok untukmu. Itu sangat cocok untukmu. Aku sudah mengirimkan rinciannya di email. Aku menyiapkan slot kontestan khusus untukmu."
Jasmine membuka dan membaca emailnya. Sebuah pesan baru muncul di bagian atas, mengundangnya untuk bergabung dalam sebuah acara kompetisi musik. Formatnya familier, seperti acara yang pernah dia tonton sebelumnya, tetapi yang ini menginginkan sesuatu yang orisinal.
Jasmine mengetik balasan singkat. "Aku akan pikirkan."
Kemudian dia menyimpan ponselnya. Kram ringan terasa di perut bagian bawahnya.
Membuatnya kembali teringat ayahnya.
Untuk kedua kalinya hari ini.
....
Sementara itu, internet dipenuhi dengan berita terbaru.
#VivianSimpsonKankerLambung
#HitungMundurFloristVivianSimpson
#EnamBulanTerakhirHidupnya
Postingan yang paling populer adalah video yang menampilkan seorang wartawan yang merangkum berita tentang Vivian. "Sumber membenarkan bahwa desainer bunga terkenal, Vivian Simpson, telah didiagnosis menderita kanker lambung. Dia hanya punya waktu enam bulan lagi untuk hidup. Namun, alih-alih menyerah, dia memilih untuk mendokumentasikan sisa waktunya—dia ingin membagikan kehidupannya dengan dunia di saat-saat terakhirnya."
Dalam video itu, Vivian muncul. Dia memandang kamera dengan senyum getir di wajahnya. "Dalam enam bulan terakhir ini, aku akan berbagi pengalaman hidupku. Aku tidak melakukannya untuk mencari perhatian. Aku hanya ingin memberikan dukungan untuk orang-orang yang menderita penyakit yang sama. Kuharap kalian semua tetap kuat."
Kemudian reporter kembali muncul di layar. "Selama ini, ada gosip yang beredar tentang Nona Vivian dan Pak Vovo, CEO Grup Puconto. Tapi Pak Vovo sudah menikah. Kita harus melihat apakah dia akan kembali berhubungan dengan Nona Vivian selama saat-saat terakhirnya."
Di latar belakang, Vivian sepertinya mendengar bagian itu. Dia melangkah maju, berhenti di samping wartawan, dan dengan lembut menyela.
Vivian menghadap kamera.
"Memang benar aku menyukai Kak Vovo. Dia adalah pria yang luar biasa," ucapnya. "Aku yakin aku bukan satu-satunya yang merasakan hal itu. Tapi aku ingin memperjelas satu hal—aku tidak akan mengganggu pernikahan orang lain. Itu bukan diriku."
Setelah mengatakan hal itu, Vivian berjalan pergi, meninggalkan wartawan sendirian.
Dia menyusuri kerumunan sambil tersenyum dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu.
Perawat asing memberikan segelas air padanya, tangan terhenti di udara, ada sedikit keraguan di wajahnya.
"Kamu sepertinya ingin mengatakan sesuatu," ucap Vivian, suaranya dingin. "Katakan saja. Supir itu salah satu orang kita."
Perawat itu mendekat dan memelankan suaranya. "Nona Vivian, diagnosis Anda ... adalah tukak lambung. Membuat klinik kami mengubahnya menjadi kanker lambung sudah sangat berisiko. Tapi sekarang Anda malah mengumumkannya ke media?"
Vivian tertawa menghina, yang mengejutkan sang perawat.
"Klinikmu—apakah itu klinik yang sudah berizin?" tanyanya.
Pengasuh itu mengangguk.
"Apakah klinikmu mengurus rekam medisku secara pribadi?"
Perawat itu mengangguk sekali lagi.
"Bukankah rekam medisku menyatakan aku menderita kanker lambung dan hanya punya waktu enam bulan lagi?"
Perawat itu ragu sejenak sebelum mengangguk lagi.
"Tepat!" Vivian bersandar kembali sambil tersenyum. "Kalau begitu, diagnosis itu benar. Tidak ada seorang pun yang bisa mempertanyakannya."
"Tapi Anda tidak benar-benar menderita kanker lambung. Lalu apa yang akan terjadi nanti ...."
"Ada dua jalan keluar," ucap Vivian, menyela. Suaranya kini lebih sinis, sorot matanya menajam. "Satu: aku sembuh secara ajaib selama pengobatan di klinikmu atau tempat lain, mungkin karena semua cinta yang aku terima. Dua: klinikmu akan disalahkan atas kesalahan diagnosis dan pengobatan yang salam selama berbulan-bulan."
Vivian menatap perawat itu, tampak lebih menakutkan. "Pilihan mana yang kamu pilih?"
Perawat itu tampak panik, tetapi berusaha untuk menjawab. "Maafkan saya, Nona Vivian. Saya mengerti sekarang. Anda sudah memikirkan semuanya."
Mendengar itu, Vivian hanya mencibir.
"Nona Vivian, kita mau ke mana sekarang?" tanya perawat itu berusaha meringankan suasana.
Vivian melirik ponselnya. "Rumah Sakit Harmoni."
Perawat itu mengang. "Tapi—"
"Tenang saja. Aku ke sana untuk meminta obat pereda nyeri dengan rekam medisku," ucap Vivian, lalu meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Vovo, memberitahunya untuk bertemu di rumah sakit nanti.
Seketika itu juga, Vovo membalas, "Tentu."
Sementara itu, Jasmine berdiri di kamar mandi rumah sakit, merasakan nyeri yang terus-menerus di perut bagian bawahnya. Di tangannya ada tisu, noda darah terlihat jelas di atasnya.
Itu adalah tanda awal keguguran.