Bab 1

Malam itu di saat Raka tengah melakukan pertemuan di luar kota. Tanpa diduga-duga sang klien telah menjebaknya. Wanita itu dengan sengaja mencampurkan obat perangsang ke dalam minumannya.

Setelah Raka meminumnya, dia segera pamit ke toilet dan tidak kembali lagi.

Mulanya Raka merasakan sedikit pusing. Namun, lama-lama tubuh Raka merasa gerah dan panas. Dia begitu gelisah sekali.

"Hey, kamu kenapa, Pak Bos?" ledek Joe tersenyum. Dia bersikap biasa karena hanya berdua saja dengan Raka.

"Entahlah, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku." Raka mengusap peluh di keningnya.

"Maksudmu, aneh bagaimana?" tanya Zoe serius. Dia tak lagi meledeki Raka. Malah sekarang dia merasa cemas dan khawatir.

"Awalnya, aku merasa pusing. Lalu, tubuhku terasa gerah dan panas. Dan sekarang si junior seperti bereaksi," jelas Raka mulai meringis.

"Hah, jangan bilang kalau kamu terpengaruh obat perangsang?" tanya Joe terkejut bukan kepayang. Dia otomatis bangkit dari kursi.

"Ayo cepat kita kembali ke Villa dahulu," ajak Raka tak tahan.

"Baik!" Joe segera memapah Raka.

Di Villa Raka sudah berusaha menumpahkan hasratnya sendiri di kamar mandi. Namun, usahanya tidak sepenuhnya berhasil. Reaksi obat tersebut masih terus bekerja.

"Ah, usahaku belum berhasil! Yang ada dia malah semakin mengembang saja!" gerutu Raka keluar dari kamar mandi. Tubuhnya tetap terasa panas, bahkan mulai menggigil. Dia merasa kalau malam ini dia akan mati sia-sia.

Joe selaku sekertaris dan assisten pribadinya dibuat pusing tujuh keliling. Dampak dari obat perangsang tersebut begitu cepat menjalar ke tubuh Raka.

"Waduh, bagaimana ini? Jika aku menjemput istrimu yang ada itu tidak mungkin. Kita sekarangkan sedang di luar kota. Bagaimana kalau aku carikan wanita di daerah sini saja?" saran Joe terpaksa mencari seorang wanita untuk melampiaskan hasrat bos sekaligus sahabatnya ini untuk menyelamatkan hidupnya.

"Terserahmu saja! Cepat pergilah!" usir Raka pasrah. Yang terpenting baginya saat ini adalah pelampiasan.

"Oke." Joe segera berlari tergesa-gesa keluar dari kamar.

Raka segera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk. Tubuhnya langsung meringkuk karena harus kuat menahan gejolak yang terus menyiksa.

Sudah hampir setengah jam berlalu, namun belum juga ada tanda-tanda kedatangan Joe. Raka semakin dibuat kelimpungan.

"Uh, lama sekali Zoe mencari satu wanita saja yang bersedia melayaniku. Apa dia sengaja ingin membunuhku secara perlahan, ah!" gerutu Raka kesal.

Tangannya terus mencengkram kuat sesuatu yang semakin mengeras. Buliran-buliran keringat terus mengucur dari tubuhnya. Berulang kali dia mengganti posisi tubuhnya menghadap kanan dan kiri karena benar-benar tak kuasa lagi menahannya.

"Dasar wanita sialan! Sebenarnya, motif dan tujuannya itu apa meracuni minumanku tadi? Kalau dia menginginkan aku ... tak mungkin dia pergi begitu saja setelah meracuniku," umpat Raka bertanya-tanya.

Dia begitu marah dan kesal akibat perbuatan wanita tersebut.

"Awas saja, esok akan aku selidiki dia? Jangan harap dia bisa tersenyum lagi seperti tadi, ah." Raka kembali mengerang.

Ceklek!

Pintu kamar tempat Raka berbaring dibuka seseorang. Raka segera menengoknya. Ternyata, yang datang adalah Joe sekertaris sekaligus assisten pribadinya.

"Hey, sebegitu menderitanya kamu? Sampai-sampai wajahmu pucat seperti akan mati saja," ledek Joe terkekeh. Dia menghampiri ranjang Raka. Dia dan Raka sudah bersahabat sejak kecil makanya saat sedang berdua mereka tampak akrab dan biasa saja. Karena sudah berhasil menemukan target, sengaja Joe meledeki Raka.

"Sialan kau! Mana wanitanya? Kenapa kau malah datang sendirian?" gerutu Raka dengan bibir bergetar. Kali ini dia benar-benar sudah tak kuat lagi menahannya.

"Haha, sabar! Dia sebentar lagi sampai kemari. Oh ya, sebaiknya aku ganti saja penerangannya agar wanita itu tidak curiga," jelas Joe langsung mematikan lampu utama. Lalu, menggantinya dengan lampu kamar yang remang-remang.

"Maksudmu apa? Apa wanita yang kau sewa adalah wanita baik-baik? Atau jangan-jangan dia ... ah!" Reaksi obatnya semakin menyiksa tubuh Raka.

"Tentulah dia wanita baik-baik. Mana mungkin aku membiarkan sahabat plus bos besarku ini tertular penyakit dari wanita malam," jawab Joe terkekeh. Sementara Raka diam seribu bahasa merasakan tubuhnya yang semakin panas.

Tak lama terdengar derap langkah seseorang yang semakin dekat. Joe yakin kalau yang datang pasti orang sewaannya. Dia segera meminta izin kepada Raka untuk mengeceknya.

"Sepertinya, pasienmu sudah datang. Aku tinggal dulu ya? Oh ya, ingat perlakukan dia dengan lembut. Dengar-dengar dia itu masih virgin loh," goda Joe tersenyum geli. Tubuhnya membungkuk dengan posisi bibir di telinga Raka.

"Hemmm."

Joe segera memperbaiki posisinya lalu melangkah meninggalkan Raka. Sesampainya di depan pintu, berdirilah laki-laki mengenakan jaket kulit berwarna hitam sambil membopong tubuh wanita.

Wanita itu sepertinya setengah sadar. Matanya sesekali terbuka dan tertutup kembali. Mungkin laki-laki itu sudah memberinya minuman yang membuatnya seperti itu.

"Ayo buruan bawa dia masuk ke dalam!" perintah Joe cepat dengan suara lirih. Dia tak ingin wanita itu mengetahuinya.

Pria itu tak bersuara, dia hanya mengangguk patuh. Lalu, buru-buru melangkah masuk ke dalam kamar. Ketika dia hampir sampai di dekat kasur, wanita itu mengeluarkan suaranya.

"Mas, kita ini di mana? Kenapa lampunya remang-remang? Oh ya, kenapa kepalaku terasa berat?" tanya wanita itu bingung. Tubuhnya terus berkeringat karena merasa gerah sekali.

"Sudah, tak usah banyak protes. Yang terpenting kita akan menikmati malam yang panjang, Sayang!" bisik pria itu sangat lembut di telinganya.

"Terima kasih, Mas. Aku sangat mencintaimu," ucap wanita itu bahagia sekali. Setelah beberapa bulan menjalani pernikahan. Akhirnya, sang suami mau menyentuhnya.

"Hemmm."

Begitu sampai di dekat ranjang, pria itu segera meletakkan tubuh wanita itu di sana. Lalu, dengan mengendap-ngendap melangkah keluar meninggalkannya.

Wanita itu terdiam merasakan panas di tubuhnya yang semakin menjadi-jadi. Tangannya menyingkap baju atasan yang dia kenakan berharap bisa menyejukkan tubuhnya.

"Mas, kenapa tubuhku tambah panas begini, ah!" celoteh wanita itu kebingungan.

Raka tak menjawabnya. Dia merasa kalau wanita di sampingnya juga pasti sudah dicekoki obat agar tak sadar sudah melakukan hal itu pada pria lain.

Grebbbb!

Mendengar suara pintu tertutup, Raka segera mencoba bangkit dari posisinya. Lalu, mengamati wajah wanita yang samar-samar terlihat menggemaskan itu. Keringat yang terus mengucur dari tubuh sang wanita semakin membuatnya bergairah. Tanpa berpikir panjang, dia segera menjalankan aksinya. Sementara wanita itu hanya diam saja menikmatinya.

Namun, ketika Raka mulai ketujuan inti. Wanita itu berteriak histeris karena kesakitan. Tangannya mencengkram kuat seprai kasur. Darah segar mengalir begitu saja membasahi seprai tersebut. Sungguh Raka semakin mabuk kepayang. Ini merupakan kali keduanya, dia merasakan tubuh wanita yang masih suci.

"Astaga, ternyata dia masih suci. Bodoh sekali pria itu rela menjual wanitanya hanya karena uang semata," batin Raka terus beraksi. Bibirnya melengkung ke atas tanda merasa sangat puas. Dia seolah lupa dengan wanita yang jelas tengah termenung menunggu kepulangannya di rumah.

Satu jam telah berlalu, di dalam kamar Raka masih saja berkutat di atas kasur.

Sementara Joe dan pria itu tampak kesal menunggunya di luar. Pria itu seperti sedang merasa was-was. Mungkin, dia takut kalau istrinya itu akan segera sadar kalau efek obat yang diberikannya tadi sudah habis.

"Astaga, kenapa teman anda lama sekali? Ini sudah satu jam lebih! Saya takut kalau pengaruh obat yang saya berikan tadi sudah hilang efeknya. Bisa-bisa ketahuan dong perbuatanku ini," ucap pria itu gelisah.

Bab 2

"Entahlah! Mungkin, dia terlalu menikmatinya! Atau bisa jadi, karena efek obat perangsangnya besar sehingga belum hilang-hilang efeknya," jawab Joe garuk-garuk kepala.

"Huh, kenapa Anda tadi tidak bilang sih, kalau teman anda itu sedang terpengaruh obat?" tanya pria itu gelisah. Tangannya juga ikut menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Hehe, maaf! Saya pikir tanpa menjelaskannya Anda sudah paham sendiri." Joe tersenyum kikuk.

"Oh ya, memang wanita itu siapa? Kenapa Anda begitu cemas sekali kalau sampai ketahuan?" selidiki Joe penasaran.

"Em, sebenarnya dia itu istriku," jelas pria itu tersenyum kikuk. Dia sama sekali tidak merasa malu mengungkapkan identitas istrinya.

"Astaga!" Joe langsung kaget bukan kepayang. Dia tidak mengerti arah pikiran pria di depannya ini. Bisa-bisanya dia menjual tubuh istrinya hanya demi uang semata.

"Maaf, kamu kok bisa menyewakan tubuh istrimu sendiri? Apa kamu tidak merasa keberatan wanitamu dinodai pria lain?" tanya Joe merasa aneh.

"Em, aku sih biasa saja. Toh, aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Kami menikah atas dasar cinta sepihak. Dia yang mencintaiku, sedangkan aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuh kurus keringnya itu. Daripada dianggurin, lebih baik kusewakan saja pada kalian. Kan, lumayan bisa menghasilkan uang," jelasnya santai.

"Astaga, dia benar-benar sudah gila," batin Joe.

"Em, jika kamu tak mencintainya … kenapa kamu menikahinya? Apa ada alasan penting yang mendasarinya?" selidiki Joe lebih dalam.

"Aku menikah dengannya karena ibuku yang meminta," jelasnya santai.

"Wah, berarti kalau ibumu sampai tahu hal ini juga? Bisa-bisa kamu dipecat dong dari daftar warisan?" tanya Joe sambil meledekinya.

"Haha, sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi. Ibuku sekarang sudah tidak ada. Itu semua karena dia tidak becus merawat ibuku," jelasnya sangat kecewa.

"Hem, kalau menurutku sih itu semua sudah takdir. Bukan dia yang tidak bisa merawat ibumu. Hidup dan mati seseorang sudah digariskan masing-masing," bela Joe tersenyum.

"Entahlah, masa bodo. Aku tidak ingin mengingat yang sudah berlalu," ucapnya sendu.

"Sabar," nasihati Joe.

"Ini ngomong-ngomong kok masih juga belum keluar sih? Memangnya berapa banyak obat perangsang yang diminum temanmu?" tanyanya gelisah.

"Aku tidak tahu. Sebenarnya, temanku menjadi korban oleh klien yang tidak bertanggung jawab," jelas Joe jadi kesal.

"Hah, jadi teman anda itu dijebak toh?" tanyanya melebarkan mata.

"Iy__" Belum sempat Joe menjelaskan. Sudah terdengar pintu kamar itu terbuka. Dia tak jadi menjelaskannya.

Terlihat Raka muncul dengan tubuh yang dipenuhi keringat. Dia hanya mengenakan celana boxer saja. Aura wajah pucatnya sudah tak tampak lagi. Sekarang dia sudah normal kembali. Malah wajahnya terlihat bugar sekali.

"Cepatlah bawa wanita itu pergi sebelum dia terbangun! Aku tidak ingin kalau dia sampai tahu semuanya! Oh ya, tolong kamu jaga identitas kita semua. Jangan pernah bocorkan persoalan malam ini pada siapapun. Cukup kita bertiga saja yang tahu. Apa kamu mengerti?" ucap Raka panjang lebar dari depan pintu.

"Oke. Siap!" Pria itu dengan bibir melengkung ke atas segera melangkah cepat masuk ke dalam kamar.

Sementara Joe, segera menghampiri Raka sambil tersenyum kikuk. Raka yang disenyumi langsung memasang wajah kusutnya. Dia yakin kalau sahabatnya ini pasti akan meledekinya habis-habisan.

"Hey, kenapa wajahmu kusut begitu? Oh ya, bagaimana tadi? Pasti sangat nikmat sekali kan?" tanya Joe mengedip-ngedipkan matanya.

"Sudahlah diam! Kalau bukan karena efek obat perangsang, mana mungkin aku akan berbuat hal bodoh ini. Kamu kan tahu kalau aku selalu setia pada istriku saja," sewot Raka kesal.

"Iya-iya," jawab Joe dengan suara lesu.

Di saat bersamaan, keluarlah pria itu sambil membopong tubuh wanita yang masih saja memejamkan matanya. Sepertinya, bukan karena efek obat yang memengaruhinya. Akan tetapi, karena dia begitu kelelahan dijadikan pelampiasan Raka.

"Aku mohon pamit sekarang! Jika Anda butuh bantuan lagi, jangan sungkan untuk menghubungi saya kembali," ucapnya senang.

Raka tidak sengaja melihat kancing baju wanita itu ada yang belum dikancing olehnya.

"Tunggu sebentar," cegah Raka mendekati pria itu.

"Iya ada apa lagi, Tuan?" tanya pria itu bingung.

"Itu kancing bajunya belum terkancing semua. Takutnya nanti dilihat orang lain," jelas Raka segera mengancingnya.

"Oh, terima kasih, Tuan." Pria itu tersenyum.

"Hemmm," balas Raka jutek. Dia benar-benar tidak menyangka ada pria gila macam pria itu. Tega menjual wanita yang masih suci kepada lelaki yang membutuhkan pelampiasan.

Pria itu segera berlalu dari hadapan Raka dan Joe.

"Oh ya, apa kamu sudah membayarnya?" tanya Raka penasaran.

"Tentu sudah. Kalau belum, mana mungkin dia akan sebahagia itu," jawab Joe tersenyum.

"Baguslah! Kalau begitu kembalilah ke kamarmu! Aku lelah dan ingin segera beristirahat!" usir Raka.

"Huh, mentang-mentang habis dapat enak main usir saja," goda Joe tersenyum genit.

"Sudah, tidak usah banyak bicara. Ingat besok kamu harus segera memberantas wanita yang berani menjebakku," tegas Raka.

"Hem, iya-iya." Joe segera meninggalkan Raka. Dia masuk ke dalam kamar miliknya.

Raka pun ikut masuk ke dalam kamarnya. Dia segera membaringkan tubuhnya di kasur beralaskan kedua sikunya. Bibirnya terus melengkung ke atas. Bayang-bayang saat dia melampiaskan hasrat itu kembali terngiang di kepalanya.

"Astaga, malam ini memang malam yang sial bagiku. Bayang-bayang soal kegiatan panas tadi tak bisa luput dari pikiranku. Padahal seingatku malam pertama dengan Anita dahulu pun dia dalam keadaan suci. Apa karena pengaruh obat sehingga malam ini terkesan lebih panas," gumam Raka menatap langit-langit kamar.

Keesokkan harinya, Raka dan Joe memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Mereka sudah tidak sabar ingin segera menuntaskan kasus semalam. Rencananya mereka akan menyewa orang yang handal untuk menyelidiki kasus ini.

Lagi-lagi Raka melamun dan senyam-senyum sendiri tanpa sebab di kursi tengah mobil. Joe yang tidak sengaja melihatnya dari kaca sepion langsung mengkerutkan keningnya bingung.

"Ini orang lagi kesambet apa, ya? Nggak ada angin, nggak ada hujan senyam-senyum sendiri tanpa sebab," batin Joe sesekali mengintip aksi aneh Raka.

Tanpa diduga-duga ada di saat Joe lengah pengawasan saat mengemudi. Tiba-tiba seorang pria mengenakan kaca mata hitam dan memegang tongkat hendak menyebrangi jalan. Otomatis saat Joe menyadarinya. Dia begitu terkejut dan langsung menginjal pedal remnya kuat.

Ciittt!

Brukkk!

Tubuh Raka langsung tersungkur ke depan. Diakan tidak mengenakan sabuk pengaman. Selain itu, dia juga terlalu asik dengan lamunannya sehingga tak ada pertahanan sama sekali saat Joe mengerem mendadak. Kepalanya membentur dinding belakang jok tempat duduk Joe.

"Astaga, Joe! Kamu ini bisa nyetir apa tidak sih? Kalau memang nggak bisa, aku siap kok cairkan pesangon untukmu," umpat Raka mengelus-elus jidatnya.

Bab 3

"Eh, jangan dong! Kalau aku dipecat sekarang bagaimana dengan nasib calon istriku kelak?" tanya Joe cengar-cengir.

"Terserahmu! Itu bukan urusanku! Toh, calon yang kamu bangga-banggakan itu belum tampak di dunia," balas Raka kesal. Dia terus mengusap keningnya. Sepertinya, nanti keningnya akan benjol karena benturannya sangat kuat.

"Hehe. Ini semua terjadi juga gara-gara aku terlalu asik memandangi kamu yang sedari tadi senyam-senyum melulu di belakang. Kamu itu kenapa sih? Apa kejadian semalam meninggalkan kesan yang waw di kepalamu?" terka Joe terkekeh geli. Menurutnya hanya kejadian itu yang pantas dijadikan alasan kenapa Raka seperti orang gila.

"Hey, mana mungkin aku mengingat kejadian semalam itu! Aku senyam-senyum karena tidak sabar ingin bertemu dengan istriku," kilah Raka tidak terima. Padahal yang diucapkan Joe benar adanya. Setiap dia berdiam diri, pasti ingatannya diisi adegan panasnya itu.

"Kok, aku nggak yakin, sih? Seingatku, kamu tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya pada Anita. Setiap kamu bepergian keluar kota … jangankan untuk mengingat Anita … menghubunginya saja kamu tidak pernah. Pastilah Anita yang sibuk menghubungi kamu duluan," jelas Joe mengedip-ngedipkan matanya genit.

"Astaga ini orang memang minta dikasih surat peringatan agar lebih sopan lagi dengan atasan," sewot Raka kesal.

"Huh, beraninya mengancam mulu untuk menutupi image-nya agar tidak jatuh di depanku. Padahal apa yang dituduhkan bawahannya ini fakta bukan opini semata," ucap Joe segera melajukan mobilnya lagi setelah oranh itu berhasil menyebrangi jalan.

Raka tak menggubrisnya lagi. Dia diam saja karena malas harus berdebat panjang sama Joe. Toh, memang benar yang dituduhkan Joe tersebut.

Kini mobil mereka sudah sampai di rumah Raka. Di teras rumah terlihat Anita tengah berdiri sambil menyunggingkan bibirnya menyambut kedatangan sang suami. Mereka berdua segera turun dari mobil lalu menghampiri Anita. Hal itu dimanfaatkan Joe kembali untuk meledeki bosnya di depan sang istri.

"Wah, sepertinya siang ini akan ada adegan panas di rumah. Sebaiknya, aku langsung pamit saja," ledek Joe tersenyum genit.

Raka langsung melebarkan matanya mendengar celotehan Joe yang lagi-lagi menyindirnya. Dia diam saja karena malas berdebat lagi dengan Joe.

Berbeda dengan Anita, dia malah langsung menanggapinya.

"Ah, kamu ini bisa saja Joe. Mas Raka, pasti masih lelah karena habis melakukan perjalanan jauh. Jadi, nggak mungkin dia sempat memikirkan hal itu," jelas Anita terkekeh geli.

"Hem, untuk kali ini dia tidak lelah kok. Dia malah melamun saja sambil senyam-senyum sendiri mikirin Bu Bos tadi selama di perjalanan," jelas Joe sesuai alasan Raka tadi.

"Ck, bocah tengil ini memang sengaja cari gara-gara sama aku. Awas saja dia. Bulan ini tidak akan ada bonus untuknya," umpat kesal Raka dalam hati. Dia menatap sinis Joe.

"Hah, masa sih? Apa benar Mas yang diucapkan Joe itu?" tanya Anita tertegun saat melihat tatapan sinis suaminya terhadap Joe.

"Kamu kenapa, Mas? Kok, menatap Joe sesinis itu? Apa ucapan Joe memang hanya bualan saja agar aku senang?" tanya Anita tersenyum.

"Iya, dia itu hanya membual saja untuk menghilangkan defresi akibat tak kunjung menemukan calon istri sesuai kategori impiannya," jelas Raka merangkul bahu istrinya. Sekarang dia tak sinis lagi. Bibirnya melengkung ke atas menandakan dia bisa membalas ganti Joe.

"Hey, aku bisa menunjukkan buktinya jika Bu Bos ingin tahu kebenarannya," saran Joe mengedip-ngedipkan matanya.

Dia lupa bahwa obrolan mereka bukan hanya membahas soal kilahan Raka. Namun, menyebar ke mana-mana. Jika Anita sampai melihat rekaman hasil kamera tersembunyi di mobil Joe. Yang ada rahasia Raka akan terbongkar.

Anita yang penasaran langsung melepaskan rangkulan Raka.

"Ayo cepat tunjukan padaku," ajak Anita semangat.

Dia segera melangkah duluan mendekati mobil Joe. Sementara Joe langsung tersenyum mengejek Raka. Lalu, bergegas mengekori langkah Anita.

Raka langsung melebarkan matanya. Dia mengingat semua obrolannya bersama Joe di dalam mobil.

"Ini gawat sekali kalau Anita sampai mendengar obrolanku sama Joe. Dasar anak buah tidak bermutu. Kalau bertindak suka gegabah," batin Raka segera mengejar mereka sebelum terlambat. Soalnya, Joe dan Anita sudah membuka pintu mobilnya.

"Tunggu!" teriak Raka cemas.

Mereka berdua mengurungkan niatnya masuk. Mereka segera menatap ke arah Raka yang terlihat begitu panik.

"Ada apa lagi, Mas? Apa Mas malu kalau aku sampai melihat ekspresi Mas saat melamuni aku?" tanya Anita tersenyum geli.

"Tidak sama sekali. Baiklah, aku membenarkan ucapan Joe tadi soal aku. Ayo lebih baik kita masuk ke dalam. Soalnya, Joe masih ada tugas penting juga," jelas Raka masih begitu panik.

"Hem, sikap Mas ini malah semakin membuat jiwa penasaranku meronta-ronta. Jadi, sebaiknya, aku tengok dulu hasil rekaman CC TV-nya buat hiburan. Ayo Joe cepat tunjukkan," ajak Anita semangat sekali. Dia segera masuk ke dalam.

Sementara, Joe masih bingung melihat wajah panik Raka. Dia langsung menerka-nerka apa yang membuat Raka begitu tak ingin istrinya melihat hasil rekaman CC TV di mobilnya. Tangan Raka langsung memberi kode ke arah bibirnya berharap Joe segera mengingat semua pembahasan mereka tadi selama di mobil.

"Astaga, bodoh sekali aku ini. Jika sampai Anita melihatnya … yang ada nanti semua rahasia akan terbongkar soal kejadian semalam," gumam Joe dalam hati ketika ingatannya kembali soal perbincangannya di dalam mobil tadi.

Dia langsung membuat alasan agar Anita tidak jadi melihatnya.

"Aduh, maaf, Bu Bos." Ekspresi wajahnya dibuat semenyesal mungkin untuk meyakinkan Anita.

"Maaf, kenapa?" tanya Anita bingung.

"Aduh, aku lupa kalau CC TV-nya masih rusak. Terlalu sibuk sama kerjaan di kantor membuatku lupa memperbaikinya lagi," jelas Joe meringis malu.

"Hem, kamu ini bikin mod-ku memburuk saja." Anita mengerucutkan bibirnya. Lalu, segera keluar dari mobil Joe. Dia mendekati Raka dan menggandeng lengan Raka.

"Ayo Mas, kita masuk sekarang," ajak Anita tersenyum manis.

"Yuk!" Gandeng Raka tersenyum. Mereka segera melangkah masuk ke dalam rumah.

Sementara Joe langsung menghela napas dan mengelus dadanya.

"Huh, hampir saja semuanya terbongkar gara-gara kelalaianku," gumam Joe menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah itu, dia memutuskan untuk naik ke dalam mobil dan pergi dari rumah Raka.

Kini Raka dan Anita sudah berada di dalam kamar. Seperti biasa Anita selalu memberikan pelayanan terbaiknya sebagai seorang istri. Tangannya dengan telaten membuka satu per satu kancing kemeja yang dikenakan Raka. Lalu, pelan-pelan melepasnya dari tubuh sang suami. Bibir Raka terus melengkung ke atas menikmati semua perhatian sang istri. Aksi Anita berhenti seketika. Matanya menyipit saat melihat tanda merah di bahu sang suami.

"Mas, ini kena apa? Kok, bisa merah?" tanya Anita bingung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED