Seorang gadis berlari tergesa di lorong kelas XII. Dia tidak mempedulikan penampilan nya yang begitu acak - acak an, baju kusut, rambutnya yang berantakan. Bahkan ikat rambut yang semula mengikat nya pun kini sudah terlepas. Entahlah, jatuh di mana.
Matanya beberapa kali melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
Jarum jam itu ternyata menunjukan angka tujuh lebih sepuluh menit, mampus. Dirinya sudah terlambat, dia merafalkan doa dalam hati semoga guru matematika yang harusnya mengajar itu tidak masuk.
Manik mata cokelat itu kini berbinar, saat hanya beberapa langkah lagi menuju pintu kelasnya. Dengan terburu, dia mendobrak pintu kelas itu.
Semua murid beserta guru yang mengajar di kelas XII IPA 2 itu kini menolehkan kepalanya, saat mendengar suara pintu yang di dobrak.
"Rachelia Amora Dirgantara," panggil guru itu dengan suara yang rendah.
Sedangkan gadis yang bernama Rachel itu kini menelan ludahnya gugup, kedua telapak tangan nya bahkan sudah berkeringat.
Seluruh murid yang di kelas pun merasakan perasaan yang sama, pasalnya guru itu terkenal killer, dan tidak pandang bulu untuk menghukum siswa yang terlambat, apalagi cara masuk Rachel yang sangat bar - bar.
'mampus gue!' batin Rachel menjerit.
"I-iya, pak," jawab Rachel gugup saat guru yang sedang menerangkan materi itu menatapnya dengan tajam.
"Terlambat, hm?"
"Iya pak," jawab Aurel menundukan kepalanya gugup. Sungguh, guru di depannya ini terlihat menyeramkan, dia bagaikan dewa pencabut nyawa.
Guru itu terlihat menganggukan kepalnya, tangan kanan nya di masukan ke dalam saku celana. "Duduk."
Entah Rachel yang terlalu lola, atau gurunya yang terlalu berbicara singkat, sehingga kata - katanya tidak dapat di serap oleh otak Rachel yang terlalu minim.
"Maksudnya, pak?" tanya Rachel mengerjapkan matanya polos.
"Saya yakin kamu tidak budeg!"
Rachel mencebik kesal ketika mendapatkan jawaban dari gurunya. Dia berlari kecil ke arah bangkunya dengan kepala yang menunduk saat kini teman - teman di kelasnya memperhatikannya. Mungkin mereka merasa aneh, karena tidak biasanya murid yang terlambat bisa lolos begitu saja.
Rachel merasa kan aneh sama seperti yang lainnya, tapi tidak urung hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya saat dia berhasil mendudukan bokongnya di kursi.
"Lo tuh kenapa sih bisa terlambat? Udah tau ini pelajaran si guru killer?!" tanya Zaskia lalubis, yang merupakan teman sebangkunya.
"Biasa," jawab Aurel menyengir kuda.
Zaskia hanya menggelengkan kepalanya, sudah biasa sahabatnya itu terlambat akibat marathon drama Thailand. Kadang Zaskia berfikir, di saat orang lain lebih menyukai drakor, tapi sahabatnya itu hanya menyukai drama Thailand.
"Zaskia, Rachel, kalian mau belajar atau terus bergosip?" tanya guru itu sembari mengetukan penghapus pada bor.
Sontak kedua gadis itu menutup mulutnya rapat, mereka menundukan kepalanya masing - masing, saat tatapan guru itu bagaikan laser yang mematikan.
Saat guru itu kembali menolehkan kepalanya ke arah bor. Rachel menatapnya dengan berang, dia memeletakan lidahnya seolah meledek guru itu. 'dasar guru nyebelin!'
Alvino Rakha Satyawdjaya, guru muda yang mempunyai wajah datar, serta jutek. Siapa sih, yang tidak mengenal dirinya? Bahkan mungkin seluruh murid di penjuru sekolah pun mengenalnya. Dia mempunyai julukan guru yang super duper killer.
Entahlah, mengapa seluruh murid si sekolah ini sangat mengidolakan parasnya yang rupawan, tapi tidak dengan Rachel. Menurutnya, pak vino itu guru yang paling menyebalkan, guru yang tidak mentorerir jika muridnya berbuat kesalahan.
"Oh iya, Rachel. Kamu belum mengumpulkan tugas yang saya kasih, kan?" tanya pak vino menatap ke arah murid nya.
Sontak, tubuh Rachel menegang. Otaknya bekerja keras untuk mengingat tugas apa yang guru itu berikan?
"Tugas yang mana?" tanya Rachel berbisik sambil menyenggol lengan sahabatnya.
"Tugas yang semalam di share di grup, ege!" jawab Zaskia dengan berbisik pula.
"Ko gue gak tahu?"
"Lo nya terlalu asik nonton drama sih, jadinya gak nyadar kan, ada chatt masuk dari grup."
Seketika Rachel menelan ludahnya yang terasa pahit. Mampus sudah, pasti sekarang pak Vino tidak akan memaafkan nya.
"Ah, tugas ya..." Rachel menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Bola matanya bergerilya menatap ke sana, kemari untuk mencari jawaban yang pas.
Sedangkan pak Vino menaikan sebelah alisnya untuk menunggu jawaban dari murid yang jarang sekali mengerjakan tugas.
"Saya... Gak tau, pak, kalau bapak ngasih tugas," jawab Rachel menyengir tidak berdosa.
"Loh, bukan kah, Saya sudah menyuruh kalian untuk meng share nya di grup?"
"Dani, kamu sebagai ketua kelas, bukan nya saya sudah menyuruh kamu untuk memberitahukan nya pada seluruh teman sekelas mu?" tanya pak Vino pada Dani, ketua kelas XII IPA 2.
"Sudah saya share ko, pak," jawab Dani mantap, yang membuat wajah Rachel semakin pias.
"Tuh, kan, kamu dengar sendiri. Lalu apa alasan yang akan kamu berikan kali ini, Rachelia?"
"Saya ketiduran, pak. Karena tugasnya di berikan terlalu malam," Rachel berusaha mengelak.
"Benar, itu?" Seluruh murid di kelas pun menggeleng ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari pak Vino.
"Bukan nya, sebelum Maghrib juga sudah di share, ya?" Celetuk Agnes, yang merupakan bendahara kelas XII IPA 2.
Sontak Rachel langsung menatap tajam ke arah Agnes. Sedangkan sang empu hanya cengengesan sembari menunjukan jari telunjuk dan jari tengah.
"Maju," titah pak Vino dengan suara yang begitu datar.
Karena tidak ingin membuat gurunya lebih marah lagi, Rachel pun maju. Dia berdiri di depan seluruh murid . Sungguh rasanya malu sekali, jika Rachel bisa memilih, lebih baik dia membersihkan WC. Ketimbang harus di hukum di hadapan seluruh teman nya.
"Kaki kanan angkat!" Rachel pun menuruti perintah pak Vino.
"Angkat juga kedua tangan kamu, lalu tempelkan di telinga," karena merasa telah di kerjain, Rachel pun hendak protes.
"Kamu protes, saya tambah hukuman nya!" Pak Vino menunjuk Rachel dengan pengagaris panjang, yang biasanya di gunakan untuk bor.
Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Rachel pun terpaksa menuruti perintahnya.
"Bagus. Tetap seperti ini sampai jam saya habis, ya?"
Kedua mata Aurel langsung membulat. Apakah dia sudah gila? Dia ingin menghukumnya berdiri di sini selama tiga jam? Rasanya ingin sekali Rachel mengumpati pak Vino.
***
Setelah belajar kurang lebih enam jam, akhirnya waktu yang sejak tadi di nantikan seluruh murid pun tiba juga.
"Sampai jumpa Minggu depan, dan selamat siang anak - anak," akhir kata yang di ucapkan Bu Retno, yang merupakan guru bahasa Inggris.
"Siang, buk," jawab seluruh murid dengan serempak.
Masing - masing dari mereka, segera memasukan seluruh buku pelajaran yang berserakan di ata meja ke dalam tas. Sedangkan Rachel sejak tadi hanya menempelkan dagunya di ata meja dengan lesu. Tadi pak Vino benar - benar menghukumnya sampai pelajaran matematika selesai.
Zaskia yang melihat sahabatnya nampak murung pun hanya menghela nafas. Biasanya Rachel lah yang paling semangat untuk pergi ke kantin. Tapi saat ini sahabatnya itu nampak masih menekuk wajahnya dengan kesal.
"Udahlah. Daripada mikirin tuh guru terus, mendingan kita pergi ke kantin, yuk?"
"Males, lo pergi sendiri aja," jawab Rachel dengan sekenaknya.
"Yah, Lo mah gak asik ah!" Rajuk Zaskia.
Saat sedang hanyut dengan pikirannya masing - masing. Seorang perempuan yang seperti nya kelas XI itu memasuki kelas Rachel.
"Ada apa?" Tanya Zaskia saat gadis itu kini malah menghampiri mejanya dengan Rachel.
"Kak Rachel di panggil pak Vino ke ruang guru," ucap gadis itu memilin rok abu nya.
Rachel yang mendengar namanya di sebut pun, segera bangkit. "Mau ngapain?"
"Aku juga, gak tau, kak. Yang pasti sekarang kakak di suruh ke ruang guru. Eummm... Kalau begitu permisi ya, kak," ujar gadis itu langsung ngacir keluar.
"Mau ngapain lagi coba, tuh guru?" tanya Zaskia heran.
"Entahlah," jawab Rachel mengusap wajahnya kasar. Tubuhnya di sandarkan di sandaran kursi.
"Yaudah, mending sekarang lo temuin, pak vino, gih!" titah Zaskia.
"Ogah lah, pasti dia mau nge hukum gue lagi," ucap Rachel malah kembali merebahkan kepalanya di atas meja.
"Mending di hukum sekarang, daripada nanti bertambah lagi hukumannya," Zaskia menarik tangan Rachel agar gadis itu bangun.
Dengan ogah - ogahan, Rachel pun bangkit dari kursinya. Dia harus siapkan mental untuk nanti, jika sewaktu - waktu pak Vino memarahinya lagi.
"Assalamualaikum," ucap Rachel ketika memasuki ruangan guru. Saat ini ruang guru terlihat sepi, mungkin karena lagi jam istirahat.
Kepala Rachel celingukan untuk mencari meja kerja pak Vino. Matanya kini tertuju pada seorang pria yang memakai kameja biru Dongker, dengan kacamata yang bertengger manis di hidung mancung nya. Serta tangan yang bergerak di atas keyboard laptop.
"Kalau masuk tuh, salam dulu," sindir Vino tanpa mengalihkan pandangan nya dari laptop.
"Dasar, budeg. Gue udah ucap salam juga, tapi lo nya aja yang gak dengar," dumel Rachel, biarlah dirinya menjadi murid yang tidak sopan terhadap guru. Tapi sungguh dirinya sangat kesal sekali pada pak Vino.
Sepertinya pak Vino tidak dengar apa yang Rachel ucapkan, buktinya pria itu tetap fokus pada laptopnya. Rachel berpikir, pekerjaan apa yang sedang di kerjakan pak Vino? Sehingga dirinya terlihat serius, dan beberapa kali kening nya mengernyit.
Pak Vino segera mematikan laptop itu, kemudian dia melipat dan menyimpan nya di atas tumpukan buku paket yang lumayan tebal.
Sekilas, pak Vino melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Jam 10.05
"Terlambat tiga menit, apakah kamu murid yang tidak bisa tepat waktu?" tanya pak Vino setelah Rachel menduduki kursi di hadapan nya.
Rachel tentu saja menahan gejolak amarah. Padahal dirinya hanya terlambat tiga menit saja, lagian berjalan dari kelas ke kantor pun membutuhkan waktu kurang lebih satu menit. Lantas, mengapa dia harus mempermasalahkan waktu? lagian juga siapa dirinya, sehingga Aurel harus menemuinya tepat waktu?
"Cuman terlambat tiga menit, kan? Jadi bapak tidak usah mempermasalahkan waktu."
"Bukan nya saya mempermasalahkan waktu, tapi kamu harus bisa belajar di siplin, Rachel!" tegas pak Vino.
Rachel memutar bola matanya malas, apakah dirinya di suruh datang ke sini itu hanya untuk menceramahi soal waktu?
"Ngapain bapak nyuruh saya ke sini?" tanya Aurel mengalihkan topik. Dia hanya malas, Jika guru di depan nya ini terus - terusan mengungkit waktu.
"Ah, iya. Saya sampai lupa, tadi kan, kamu datang terlambat dan tidak mengerjakan tugas dari saya. Dan saya baru menghukumnya satu kali, bukan?"
Jantung Aurel berdetak dengan kencang, apakah karena dirinya membuat kesalahan dua kali, jadi harus di hukum dua kali juga? Jika iya, sekarang apalagi hukuman nya?
Pak Vino tidak langsung melanjutkan ucapan nya, dia menatap reaksi muridnya terlebih dahulu. Hampir saja, pak Vino menyemburkan tawanya ketika melihat Rachel hanya terdiam dengan wajah yang pucat.
"Ya, saya akan menghukum kamu, lagi. Kamu harus lari di lapangan sepuluh putaran!" titah pak Vino mutlak, tanpa bantahan.
Rachel pun segera bangkit dari duduknya. Dia menggebrak meja pak Vino, tidak peduli jika saat ini guru itu sedang menatapnya tajam. Cukup tadi dirinya di permalukan di depan teman - teman se kelasnya. Rachel tidak akan menurut lagi untuk kali ini.
"Jangan mentang - mentang bapak guru, jadi bapak bisa menghukum murid sepuasnya, pak!" protes Rachel.
"Jika kamu menolak, jangan salahkan saya, jika saya memberi kamu nilai E di raport," tantang pak Vino sembari bersedekap dada.
Kedua tangan Rachel mengepal erat, rasanya dia ingin sekali meninju wajah pak Vino yang sok polos itu. Dengan nafas yang memburu, serta kaki di hentakan Rachel pergi ke luar. Tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Pak Vino yang melihat itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia segera bangkit dari kursinya untuk mengikuti Aurel, apakah murid itu benar - benar menjalankan hukuman nya.
Karena merasa ada seseorang yang menguntit, Rachel segera membalikan tubuhnya ke belakang. Dan betapa kagetnya dia, saat mendapati pak Vino berdiri di belakangnya.
"Bapak ngapain sih, ko ngikutin saya?" Kesal Rachel.
"Saya cuman mau memastikan saja, bahwa kamu memang menjalankan hukuman nya," jawab pak Vino dengan santai.
Karena merasa kesal, Rachel segera mempercepat langkahnya. Dia ingin segera sampai di lapangan. Memangnya pak Vino pikir dirinya tidak jujur?
Sudah sembilan putaran Rachel lakukan, sesekali dia mengipasi wajahnya yang terasa panas akibat matahari begitu menyengat. Tentu saja dengan di awasi pak Vino.
Setelah menyelesaikan hukuman nya, pak Vino segera meninggalkan Rachel yang masih ngos - ngos an.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, tungkai Aurel menuju ke arah kantin. Tidak peduli bel masuk yang sebentar lagi akan berbunyi.
Manik mata Aurel mengedar ke seluru penjuru kantin yang terlihat sepi, karena pastinya murid lain sudah pada masuk kelas. Rachel menghampiri meja paling pojok dekat jendela. Di sana terdapat Zaskia dan Leo yang sedang berbincang. Entahlah, mereka membicarakan apa, yang pasti sahabat dan kekasihnya itu sering terlihat mengobrol berdua.
Tentu saja itu membuat perasaan cemburu kembali muncul di hati Aurel. Tapi dia segera menggelengkan kepala menepis semua hal negatif yang bersarang di otak nya.
"Holla, guys, lagi ngobrolin apa nih? Kaya nya serius amat," sapa Rachel ketika sudah tiba di depan meja tadi.
"Eh, sayang. Sini, duduk," Leo menepuk bangku kosong yang berada di sampingn nya.
Leonel Grestavio, seorang badboy yang menjadi langganan BK, dan merupakan kekasih Rachel.
"Minum dulu," Leo menyodorkan segelas es teh yang memang sudah dia pesankan untuk Rachel.
"Makasih, pacar aku pengertian banget sih," Rachel menerima gelas yang di sodorkan oleh kekasihnya.
Leo mengusap keringat Rachel menggunakan telapak tangan, tanpa rasa jijik sedikit pun. "Kasihan banget sih pacar aku keringetan gini."
"Pak Vino itu emang guru yang tidak punya hati banget ya. Pedahal kan lo udah di hukum di depan kelas, masih aja di suruh keliling lapangan," cerocos Zaskia.
Rachel mengangguk membenarkan Zaskia. "Bener banget, dia tuh guru yang paling nyebelin, so cool, so ganteng lagi. Rasanya pengen gue tonjok tuh, muka so kegantengan nya," ujar Rachel menggebu - gebu.
"Sabar, sayang," Leo merangkul pundak Rachel untuk menenangkan kekasihnya.
Sedangkan Zaskia melototkan kedua matanya saat melihat siapa yang di belakang Rachel. Dia terus memberi kode pada sahabatnya lewat lirikan mata.
"Kalau dia tau kita di sini, nih, pasti dia akan kasih hukuman lagi. Dasar guru gila hukuman, gak punya ha--"
"Kalau ngomongin seseorang itu di depan orang nya," potong sebuah suara yang begitu familier di telinga Rachel.
Dengan kaku, Rachel membalikan tubuhnya ke arah belakang, untuk memastikan apakah benar tidak orang itu?
"Eh, pak Vino. Mau makan, pak? Kalau gitu saya yang pesanin ya?" Rachel berusaha merayu pak Vino.
"Tidak usah!" Tolak pak Vino dengan datar, membuat Rachel meringis.
"Saya hanya ingin ngasih hadiah untuk kamu," pak Vino menyerahkan sebuah paperbag yang entah apa isinya. Tapi yang pasti perasaan Rachel sudah tidak enak.
Dengan ragu - ragu, Rachel pun menerima paperbag yang di serahkan oleh pak Vino, tapi tidak langsung membukanya.
"Sebentar lagi bel masuk, jadi lebih baik kalian masuk kelas," setelah mengatakan itu, pak Vino segera keluar dari kantin.
Leo dan Zaskia pun segera merapat pada Rachel, untuk mengetahui apa isi hadiah yang di berikan pak Vino.
Mulut Rachel menganga, matanya mengerjap kecil saat melihat apa di dalam totebag itu. Ternyata itu tiga buah buku paket matematika.
"Eh ada tulisannya, nih" ujar Zaskia heboh.
'jangan lupa kerjakan, dan besok pagi harus sudah ada di meja saya'
Begitulah kata - kata yang tertulis di sebuah kertas putih di dalam papaerbag tadi.
Sedangkan Rachel terduduk lemah di kursi kantin. Gurunya sudah benar - benar gila, bagaimana mungkin tiga buku paket bisa di kerjakan dalam waktu satu malam?
Saat ini Rachel sedang menggerutu tidak jelas di dalam kamarnya. Bagaimana dia tidak kesal? Dirinya di suruh mengerjakan tiga buku paket matematika dan harus di kumpulkan besok pagi. Pedahal, kan otak Rachel itu sangat minim tentang pelajaran tersebut.
Rachel meregangkan tangan nya saat terasa pegal. Matanya menatap horor ke arah tumpukan buku paket itu. "Lo kapan selesainya, sih? Tangan gue udah pegel banget," keluh Rachel memarahi kertas yang tak bersalah.
"Anak mama kenapa marah - marah terus sih?" Ujar Renata Dirgantara, istri dari Arman Dirgantara.
"Ini, mah, masa aku di suruh ngerjain matematika tiga paket, dan harus selesai besok pagi juga," rajuk Rachel mengerucutkan bibirnya.
Renata pun terkekeh melihat tingkah putrinya yang begitu menggemaskan. "Udah nanti lagi aja kerjain nya, sekarang mending kamu siap - siap."
"Siap - siap ke mana, ma?" tanya Rachel mengernyitkan dahinya bingung. Bahkan Rachel baru menyadari bahwa mama nya itu Kini sudah berpenampilan rapi. Dengan dress berwarna cream yang membalut tubuhnya.
"Loh, kan mama udah bilang, kalau malam ini tuh ada acara makan malam bareng kolega papa," jawab Renata.
"Astaga. Aku bahkan sampai melupakan nya karena mengerjakan tugas yang tidak pernah selesai," Rachel sampai menepuk dahinya.
"Ya udah, sekarang kamu siap - siap ya, dandan yang cantik, oke?" Renata menuntun tubuh Rachel ke arah kamar mandi.
Saat hendak memasuki pintu kamar mandi, Aurel menatap ke arah Renata dengan mata yang memicing. "Tapi gak ada udang di balik batu kan, ma?"
"Udah gak usah nethink, mending sekarang mandi. Kayanya tiga puluh menitan lagi tamu nya bakal sampe," Renata mendorong tubuh Rachel agar memasuki kamar mandi.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Rachel tidak langsung mandi. Dia duduk dulu di toilet. Sebenarnya tamu penting siapa, sih? Kenapa mama nya itu terlihat bahagia sekali.
Karena teriakan Renata sudah terdengar, Rachel segera mandi dengan mengguyur tubuhnya pakai shower.
Setelah 15 menit mandi, Rachel berjalan ke arah lemari untuk milih dress yang menurutnya cocok di kenakan malam ini. Tatapan Rachel jatuh pada sebuah dress berwarna biru dongker, dress ini memang tidak terlalu bagus. Tapi entah kenapa Rachel ingin mengenakan yang ini.
Setelah selesai memakai baju, Rachel berjalan ke arah meja rias untuk memoleskan sedikit liptint pada bibir nya yang pucat, tidak lupa juga Rachel menaburkan sedikit bedak bayi pada wajahnya.
"Perfect," gumam Rachel menatap pantulan nya sendiri di cermin.
Setelah merasa sudah rapi, Rachel pun keluar menuruni undakan tangga dengan hati - hati.
"Ma, pa," panggil Rachel saat kedua orang tuanya mengobrol di sofa ruang tamu.
"Wah, putri papa cantik sekali," ujar Arman Dirgantara, dia mengecup puncak kepala Rachel dengan lembut.
Tin... Tin... tin
Suara klakson mobil yang berbunyi mengalihkan perhatian mereka. "Itu pasti tamunya," Renata segera berjalan ke arah pintu untuk menyambut ke datangan sang tamu.
"Ya ampun, jeng, udah lama banget kita gak ketemu," Renata bercipika cipiki dengan Anita Satyawidjaya. Yah, ternyata keluarga pak vino lah yang bertamu, tapi tentu saja Rachel belum mengetahui itu.
Adrian Satyawidjaya dan Arman langsung berjabat tangan. Ah, rasanya mereka sudah lama sekali tidak bertemu.
"Oh, iya. Perkenalkan, ini putri kami," ujar Renata memperkenalkan Rachel
"Rachel, Tan, om," Rachel menyalami tangan Anita dan Adrian dengan sopan.
"Ternyata kamu cantik banget, ya," puji Anita yang membuat pipi Rachel bersemu merah.
"Oh iya, anak kalian di mana?" tanya Renata saat tidak mendapati putra Anita dan Adrian.
"Kebetulan tadi kami berangkat nya terpisah,
mungkin dia masih terjebak macet di jalan," jelas Adrian.
Renata dan Arman hanya menganggukan kepalanya. Sedangkan Rachel mengernyitkan kening nya bingung. Siapa yang di maksud oleh kedua orang tuanya? Bukan kah tamu nya hanya om Adrian dan Tante Anita? tanya Rachel dalam hati.
Sambil menunggu orang yang mereka tunggu, Renata dan Anita mengobrol bernostalgia tentang masa SMA. Ya memang, Renata dan Anita adalah sahabat satu sekolah. Sedangkan Arman dan Adrian, kedua pria itu nampak membahas tentang bisnis. Rachel yang merasa bosan pun memainkan ponselnya.
"Maaf, saya terlambat," ujar seorang pria yang baru saja datang.
Rachel yang tadinya fokus pada ponsel pun kini teralihkan pada pria yang memakai jas warna senada dengan dress yang di kenakan nya. Sontak Rachel langsung bangkit dari duduknya dengan mata yang melotot ke arah pria itu.
"PAK VINO!" teriak Rachel.
Vino yang di tatap sedemikian rupa oleh Rachel hanya mampu menampilkan senyum. Dia pun segera menghampiri kedua orang tua Rachel untuk bersalaman.
Tangan Rachel mengucek matanya beberapa kali, apakah yang baru datang itu benar pak Vino gurunya yang killer, dan judes itu?
Ternyata memang benar, Rachel sungguh - sungguh tidak berkhayal ataupun salah lihat. Pria itu adalah guru yang tadi pagi menghukumnya. Rachel berpikir, kenapa gurunya bisa ada di sini?
"Rachel, duduk," tegur Renata.
Rachel pun segera mendudukan tubuhnya di kursi yang tadi. Dia menatap heran ke arah Iima orang dewasa yang satu ruangan dengan dirinya.
'pak Vino ngapain sih, ke rumah gue, pake bawa keluarga nya segala,' batin Rachel bertanya - tanya.
Adrian, papa nya Vino berdehem, sebelum memulai pembicaraan yang serius.
"Kedatangan saya, bersama keluarga saya kemari adalah untuk melamar Rachelia Amora Dirgantara, putri dari bapak Arman Dirgantara. Untuk di jadikan istri bagi putra kami yang bernama, Vino Rakha Satyawidjaya," jelas Adrian yang tentu saja membuat Rachel kaget seketika.
"APA?" teriak Rachel.
"APA?" Rachel berteriak. Dia rasa orang tuanya sudah gila, bagaimana mungkin dia menikah dengan seseorang yang dia benci.
"Rachel, yang sopan," Renata yang berada di samping Rachel pun segera mencubit tangan putrinya itu.
Adrian dan Anita menatap kearah Arman seolah meminta penjelasan. Bukan kah rencana perjodohan ini sudah di bicarakan sejak lama? tapi kenapa Rachel seperti orang yang tidak tahu apa - apa.
"Sebenarnya kami memang belum memberitahu, Rachel, karena kami menunggu waktu yang tepat," jelas Arman.
"Tapi, ma, pa. Bagaimana mungkin aku di jodohin dengan guru Aku sendiri?" tanya Rachel memelas.
"Ya emang apa salahnya? Pak vino itu ganteng, pria yang bertanggung jawab. Kamu pasti akan hidup bahagia jika menikah dengan nya," jawab Renata dengan santai.
Gila. Rachel rasa ini sudah benar - benar gila. Jadi muridnya saja dia sudah di buat pusing tujuh keliling. Apalagi jika harus menjadi istrinya, bisa stres dia lama- lama. Mungkin dia juga akan merasa bosan karena hidup berdua dengan orang yang kaku seperti pak Vino. Di tambah lagi mulutnya yang super pedas seperti di masuki cabai.
Pokonya dia harus membuat perjodohan ini batal, bagaimanpun caranya. Selain dia tidak ingin hidup berdua dengan pak Vino, Rachel juga sudah punya kekasih. Dia tidak ingin jika harus meninggalkan Leo dan menyakiti hatinya.
"Tapi, ma, mama kan, sudah tahu kalau aku sudah punya pacar."
"Baru pacar, kan? Kamu masih bisa putusin dia sekarang," jawab Renata santai.
Rachel di buat menganga, bagaimana mungkin, mamanya bisa dengan gampang menyuruhnya untuk meninggalkan Leo? Apakah dia tidak memikirkan perasaan nya.
"Mama tau gak, dia itu udah tega menghukum aku. Bukan cuman satu kali, tapi dia sampai tiga kali nge hukum aku dalam satu hari," Rachel berusaha menjelekan Vino di depan semua orang. Agar Renata tahu bagaimana kelakuan calon menantunya terhadap dirinya.
"Ya mungkin itu karena kamu nya yang nakal, benar kan, nak Vino?" tanya Renata meminta pendapat pada pak Vino.
"Benar, Tan, saya menghukum Rachel juga karena dia tidak mengerjakan tugas yang saya beri," jawab pak Vino.
Nafas Rachel memburu, kedua tangan nya mengepal erat. Dia menatap benci ke arah Vino yang dengan santainya tersenyum mengejek ke arah dirinya.
"Kenapa sih, mama, sama papa, pake nge jodohin Rachel segala? Lagian Rachel itu baru kelas XII. Masa depan Rachel tuh masih panjang, lagian Rachel juga bisa ko, cari calon suami yang lebih baik dari dia," ujar Aurel menggebu, Kedua matanya juga berkaca.
Arman menghembuskan nafasnya, sebenarnya dia juga tidak tega jika melihat Rachel di usia muda sudah harus menjadi istri. Tapi dia pun terpaksa melakukan ini, demi kebaikan putrinya.
"Papa tau masa depan Rachel itu masih panjang banget, tapi nikah muda juga kan bukan masalahnya. Lagian papanya Vino itu donatur tertinggi di sekolah kamu, jadi para guru juga akan menutup rapat tentang pernikahan kamu," ucap Adrian membelai rambut putrinya.
"Tapi, pa, kenapa harus aku?" tanya Rachel dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
"Karena kan, cuman kamu putri papa satu - satu nya. Masa papa mau nyuruh abang kamu buat nikah sama pak Vino," ujar Adrian terkekeh di ikuti semua orang, kecuali Rachel, dia mengerucutkan bibirnya.
"Papa jodohin aku itu karena papa gak mau ngurus aku lagi, kan?" tanya Rachel dengan suara bergetar.
"Bukan nya papa gak mau ngurus, Rachel. Tapi papa sama mama harus menetap untuk sementara waktu di Jerman."
"Tuh kan, emang papa tuh udah bosen ngurusin aku, mangkanya papa pergi keluar negri," ujar Rachel dengan tangis yang semakin menjadi, dia tidak peduli jika keluarga pak Vino akan meledeknya.
"Bukan begitu, papa harus bantuin abang, kamu. Karena perusahaan di sana sedang bermasalah, " Arman segera mendekap tubuh putrinya.
Rachel baru ingat, bahwa kakak laki - laki nya itu sudah tidak pulang selama lima tahun. Lintang Arya Dirgantara pria yang berusia 25 tahun itu merupakan kakak satu - satunya yang Rachel miliki. Tapi Lintang harus menetap di Jerman, karena dia meneruskan perusahaan Arman yang ada di sana.
Arman merasa bersalah, seharusnya dia memberitahu kabar ini sebelumnya, agar Rachel tidak Shok seperti ini.
"Yaudah, kalau mama, papa mau pergi, ya pergi aja. Gak usah jodohin Rachel segala," Rachel segera mendorong tubuh papanya.
"Bagaimana mungkin papa pergi, dan ninggalin putri papa sendirian? Kalau kamu nikah dengan, nak Vino, kan papa ngerasa tenang. Karena kamu ada yang jagain."
"Rachel bisa jaga diri sendiri ko."
"Gak bisa, papa gak akan tenang, kalau ninggalin kamu tanpa ada yang jagain. Pokonya, mau gak mau kamu harus tetep mau nikah dengan Vino!" tegas Arman.
"Papa egois," Rachel segera berlari keluar rumah dengan berderai air mata.
Arman memijit pelipisnya yang terasa pening, ini salahnya karena terlalu memanjakan Rachel, sehingga kini putrinya itu jadi pembangkang.
"Biar saya susul, om," izin, Vino. Arman pun hanya menganggukan kepalanya.
Vino sudah berkeliling di setiap sudut rumah ini, tapi dia belum juga menemukan Rachel. Sebenarnya ke mana gadis itu pergi. Dia teringat, ada satu tempat lagi yang belum dia kunjungi. Taman belakang rumah.
Langkah kaki Vino berhenti saat sudah berada di taman belakang rumah. Matanya menelisik ke seluruh penjuru taman, manik hitam legam itu memicing saat melihat seorang gadis yang sedang menelungkup kan kepalanya di atas lipatan lutut dengan bahu yang bergetar.
Tungkai Vino berjalan kearah gadis itu, dia menghela nafas saat orang yang sejak tadi di carinya ternyata malah di sini sambil menangis.
Saat merasa ada seseorang yang duduk di sebelahnya, Rachel mendongkakan kepalanya. Dia menatap nyalang ke arah orang itu saat tahu siapa yang duduk di samping nya.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Rachel dengan wajah yang sembab serta mata memerah.
"Mau nyamperin orang yang lagi nangis sendirian di taman," jawab Vino.
Rachel mencebikan bibirnya kesal, kaki yang sejak tadi di lipat kini di turunkan.
"Lo kenapa sih nerima perjodohan ini?" tanya Rachel menatap ke bawah dengan kaki yang di ayunkan.
"Ingin membahagiakan orang tua."
Rachel merasa alasan itu cukup klise, bukan kah Vino sudah mapan, punya pekerjaan yang tetap apakah kedua orang tua nya belum juga cukup bahagia?
"Lo itu kan, udah punya penghasilan sendiri dan juga pekerjaan yang tetap, masa orang tua lo belum juga bahagia sih?"
"Mama dan papa saya ingin melihat saya menikah. Dan saya rasa, tidak ada salah nya saya menerima perjodohan ini jika itu bisa membuat mereka bahagia."
"Tapi kan, lo bisa nikah sama perempuan lain yang seumuran sama lo. Bukan sama gue yang umurnya jauh banget."
"Tapi orang tua saya hanya ingin saya menikah dengan kamu."
Rachel terdiam, bagaimana mungkin dia harus menikah dengan pria yang umurnya jauh sekali. Bahkan Vino lebih cocok menjadi abang nya.
Perbedaan umur Rachel dan Vino memang cukup jauh. Rachel 17 tahun, sedangkan Vino 25 tahun. Rachel pasti akan merasa canggung dengan perbedaan umur itu, di tambah lagi Vino yang berprofesi sebagai guru yang mengajar di sekolahnya.
"Saya tidak akan memaksa kamu untuk menerima perjodohan ini," ujar Vino lalu setelahnya dia meninggalkan Rachel.
Beberapa saat Rachel terdiam, dia berperang dengan hati dan pikiran. Setelah di rasa mendapatkan jawaban yang di rasa pas, Rachel pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana, apakah Kamu mau menikah dengan anak, tante?" tanya Anita saat Rachel kembali mendudukan bokongnya di sofa.
Rachel menarik nafasnya, dia berusaha meyakinkan diri bahwa ini memang jawaban yang pas. Dengan pelan, Rachel menganggukan kepalanya. "Iya, Rachel mau menikah dengan, pak Vino."
"Alhamdulilah," ucap serentak semua orang di dalam ruangan itu.
Sedangkan Rachel hanya tersenyum kecut ketika melihat semua orang menyunggingkan senyum bahagianya. Sedangkan dirinya harus merelakan masa depan nya dengan menikahi gurunya sendiri.
"Kalau begitu, kita langsung tentukan saja tanggal pernikahan nya," ujar Adrian.
"Bagiamana kalau dua minggu lagi?" usul Arman meminta pendapat.
"Bagaimana, Rachel, apakah kamu setuju?" tanya Renata.
"Kalau Rachel sih, terserah kalian. Gimana baiknya aja," jawab Rachel. Rasanya dia sudah lelah dengan semua yang terjadi hari ini.
"Berarti sudah fixs ya, dua minggu lagi," ucap Anita.
"Karena sudah deal, bagaimana kalau kita merayakan nya dengan makan malam, dengan hidangan yang sudah kami siapkan?" ajak Renata.
Mereka semua pun segera berjalan ke arah meja makan. Makan malam kali ini terlihat hangat di penuhi dengan canda tawa di antara kedua keluarga yang sebentar lagi akan menjadi besan.
Sedangkan Rachel hanya mengaduk makanan nya tidak berselera. Dia menyesali ajakan mama nya untuk makan malam bersama, jika saja tadi dia tetap berada di dalam kamar, mungkin perjodohan ini tidak akan terjadi.
Rachel berpikir bagaimana nanti jika dia sudah menjadi istri dari Vino, menjadi guru saja dia sudah bertindak se mena - mena terhadap dirinya. Apalagi jika nanti sudah menjadi suami.