Bab 1

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Heathrow, dan Karina menarik napas panjang. Kabut tipis dan udara dingin London menyambutnya saat dia melangkah keluar dari pesawat.

Kota ini begitu berbeda dari Jakarta, tempat di mana panas, lembap, dan keramaian hampir tak pernah surut. Namun, Karina tidak datang ke sini untuk berlibur. Dia datang untuk bekerja, untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menjalankan tugas besar yang diberikan keluarga. London akan menjadi tantangan terbesar dalam hidupnya, dan dia berniat untuk menang.

Mobil hitam yang disediakan hotel  milik keluarganya sudah menunggunya di luar terminal. Karina memasukkan kopernya kecamatan dalam bagasi dan ia duduk di kursi belakang, pandangannya tertuju keluar jendela, mengamati kota yang sudah dikenalinya sejak masa kuliah. Dulu, ia hanya mahasiswa yang belajar manajemen perhotelan, bermimpi suatu hari akan memimpin salah satu cabang hotel keluarganya. Sekarang, mimpinya hampir terwujud. Tetapi, dia tahu ini bukan sekadar soal meraih mimpi, ini soal pembuktian.

Keluarga Sutanto bukan keluarga biasa. Sebagai salah satu keluarga konglomerat di Indonesia, mereka memiliki berbagai bisnis, namun bisnis perhotelanlah yang menjadi fondasi kejayaan mereka. Jaringan hotel Sutanto Hotels tersebar di berbagai kota besar dunia, Jakarta, Singapura, New York, Tokyo, dan sekarang London.

Hotel di London ini adalah salah satu aset paling berharga, sebuah hotel mewah yang terkenal karena arsitektur klasiknya. Namun, seperti bangunan tua pada umumnya, hotel ini membutuhkan renovasi besar-besaran agar tetap relevan dan menarik di pasar yang kompetitif.

Selama bertahun-tahun, Karina bekerja keras membuktikan kemampuannya dalam mengelola beberapa hotel Sutanto di Asia. Dia mulai dari posisi manajemen dasar, naik perlahan melalui hierarki dengan keringat dan dedikasi. Meskipun keluarganya memegang kendali besar, Karina tidak pernah mendapat perlakuan istimewa. Sebaliknya, ibunya, Alicia Sutanto, selalu memberinya tugas-tugas yang berat, menekankan bahwa sebagai anak perempuan tertua, Karina harus menunjukkan kapabilitas yang tidak diragukan.

"Kamu tahu, Karina, kita tidak bisa hanya mengandalkan nama besar keluarga," suara Alicia kembali terngiang di kepalanya. "Bisnis ini harus dijaga oleh orang yang benar-benar tahu apa yang mereka lakukan. Dan itulah kamu."

Karina menghela napas panjang. Sejak awal, ibunya adalah sosok yang selalu menekankan tanggung jawab. Alicia adalah wanita kuat, keras, namun sangat dihormati dalam keluarga dan dunia bisnis. Seluruh keluarganya memiliki standar tinggi yang harus dipenuhi. Ayahnya, Richard Sutanto, lebih fleksibel, namun tetap mendukung keinginan Alicia untuk menjaga integritas bisnis keluarga. Di bawah bimbingan kedua orang tuanya, Karina dibesarkan dengan harapan bahwa suatu hari dia akan memegang kendali besar dalam imperium keluarga.

Saat mobil memasuki pusat kota, Karina bisa melihat Big Ben berdiri megah di kejauhan, simbol ikonik London yang tampaknya menjadi saksi bisu dari segala dinamika kota ini. Karina tersenyum tipis. Di bawah bayang-bayang menara jam itu, dia akan menjalani salah satu tugas terpenting dalam hidupnya.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan hotel yang akan dia kelola,  The Wellington. Hotel ini merupakan bangunan bergaya Victoria yang berdiri megah di tengah kawasan elit.

Karina keluar dari mobil dan berdiri sejenak, mengamati bangunan itu dengan penuh perasaan bangga sekaligus tanggung jawab. Dia tahu bahwa dia harus berhasil dalam proyek renovasi ini, tidak hanya untuk menjaga reputasi hotel, tetapi juga untuk membuktikan bahwa dia pantas berada di posisi ini.

Seorang pria berjas rapi menyambutnya saat dia melangkahi masuk ke dalam hotel. "Selamat datang, Miss Sutanto. Saya James, manajer operasional. Semua persiapan sudah kami lakukan untuk kedatangan Anda."

Karina mengangguk dan tersenyum profesional. "Terima kasih, James. Saya akan memeriksa semuanya setelah saya beristirahat sebentar." Suaranya terdengar tenang, meskipun di dalam hatinya, ada sedikit kegelisahan yang tersisa.

Karina tahu bahwa tanggung jawab yang menunggunya jauh lebih besar dari sekadar renovasi bangunan. Ini adalah pembuktian atas segala yang telah dia pelajari dan persiapkan sepanjang hidupnya.

Dia diantarkan ke suite pribadi yang telah disiapkan untuknya. Ruangan itu luas, dengan pemandangan kota London yang menakjubkan dari jendela besar di ruang tamu. Namun, tidak ada waktu untuk bersantai. Karina menatap koper-koper yang baru saja dibawa ke kamar dan langsung merasa dorongan untuk mulai bekerja.

Setelah beristirahat sejenak, Karina mulai melakukan keliling singkat ke seluruh hotel. Meski hotel itu terlihat menawan dengan desain klasik, dia bisa melihat mengapa renovasi sangat diperlukan. Beberapa bagian interior sudah mulai usang, dan fasilitas yang ditawarkan tidak lagi sebanding dengan standar hotel-hotel mewah kainnya yang ada di London. Tantangan besar di depan matanya semain nampak jelas. Karina harus mengubah hotel ini menjadi sesuatu yang istimewa tanpa kehilangan keanggunan klasiknya.

Selama berkeliling, pikirannya terus mengingat percakapan terakhirnya dengan Alicia sebelum keberangkatannya ke London.

"Kamu tahu apa yang diharapkan dari kamu, kan?" kata Alicia saat mereka berbincang di ruang kerja di rumah keluarga di Jakarta. "Renovasi ini bukan hanya soal memperbaiki hotel, tetapi juga tentang memastikan kita tetap memiliki keunggulan kompetitif di pasar internasional. Kamu harus membuat hotel ini tidak hanya menonjol, tetapi juga menjadi permata di jaringan hotel kita."

Karina mengangguk saat itu, meski tekanan yang dirasakannya semakin besar. "Aku mengerti, Ma."

"Dan satu hal lagi," Alicia menambahkan dengan nada serius. "Henry Whitmore, arsitek yang akan bekerja denganmu, adalah pilihan keluarga. Pastikan kamu bisa bekerja sama dengan baik dengannya. Ini bukan hanya soal proyek, ini juga tentang hubungan bisnis yang harus kita jaga."

Karina ingat perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menyerangnya. Nama Henry Whitmore tidak asing baginya. Keluarga Whitmore adalah salah satu keluarga bisnis terkemuka di Inggris, dan ada rumor bahwa mereka berusaha mempererat hubungan bisnis dengan keluarga Sutanto. Karina merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar proyek renovasi ini.

Setelah selesai dengan berkeliling singkat, Karina kembali keluar dalam  kamarnya, duduk di tepi tempat tidur, dan memikirkan tantangan yang ada di depannya.

Dia tahu bahwa ini bukan hanya tentang renovasi hotel, melainkan juga tentang dirinya. Ini adalah kesempatan baginya untuk menunjukkan kepada keluarganya, terutama ibunya, bahwa dia mampu. Karina harus membuktikan bahwa dia bisa memimpin proyek sebesar ini dan mengelola tim, termasuk bekerja sama dengan seseorang yang mungkin memiliki agenda sendiri.

Sambil menatap ke arah jendela, di mana langit London mulai berubah menjadi senja, Karina mengambil keputusan dalam hatinya. Dia akan menghadapi tantangan ini dengan seluruh kemampuan dan kekuatannya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun meragukan kemampuannya, bahkan jika itu berarti harus menghadapi tekanan besar dari keluarganya atau bekerja dengan seseorang seperti Henry Whitmore.

London mungkin adalah kota yang penuh dengan sejarah dan tradisi, tetapi Karina datang ke sini untuk menciptakan masa depannya sendiri. Ini adalah saatnya bagi dia untuk membuktikan dirinya, di bawah bayang-bayang menara jam raksasa, di tengah kota yang berkilauan dengan peluang dan tantangan.

"Aku bisa melakukannya," bisik Karina pada dirinya sendiri. Dan dengan tekad yang kuat, dia mulai bersiap untuk hari-hari ke depan yang penuh tantangan.

Bab 2

Keesokan paginya, Karina bangun dengan perasaan campur aduk. Dia merasa segar setelah beristirahat cukup, tetapi ada ketegangan yang terus membayanginya. Hari ini dia akan bertemu dengan tim renovasi dan memperkenalkan dirinya sebagai pemimpin proyek. Ini bukan pertemuan biasa, dan Karina tahu bahwa sukses atau tidaknya proyek ini bergantung pada kemampuannya memimpin.

Karina berdiri di depan cermin, mengenakan blazer hitam yang elegan dengan sentuhan profesionalisme. Dia menata rambutnya rapi dan menatap bayangan dirinya di cermin dengan penuh keyakinan. Sebagai anak perempuan tertua keluarga Sutanto, tanggung jawab besar selalu ada di pundaknya, tetapi dia tidak pernah mundur. Karina sudah terlatih menghadapi situasi menantang, dan ini hanyalah satu lagi di antaranya.

Di ruang rapat utama hotel, Karina berjalan dengan percaya diri. Ruang rapat itu besar dan mewah, dengan jendela-jendela tinggi yang memperlihatkan pemandangan London yang megah. Di dalamnya sudah ada beberapa orang yang menunggu, termasuk James, manajer operasional, yang mengatur pertemuan ini. Beberapa anggota tim dari divisi keuangan dan manajemen hotel juga hadir, duduk di kursi mereka dan menatapnya ketika dia masuk.

Namun, yang menarik perhatian Karina adalah seorang pria tinggi dengan rambut cokelat yang berdiri di depan papan rencana proyek. Dia berbicara dengan seorang staf lain sambil memperlihatkan desain yang tergantung di papan tersebut. Pria itu memancarkan aura ketenangan dan percaya diri, seolah-olah dia sangat mengenal setiap detail ruangan ini. Karina segera tahu bahwa pria itu pasti Henry Whitmore, arsitek yang akan bekerja dengannya.

"Miss Sutanto, selamat datang," James menyambutnya dengan senyum hangat. "Ini adalah tim yang akan bekerja dengan Anda. Dan ini..." dia mengisyaratkan ke arah pria di depan papan proyek, "Henry Whitmore, arsitek utama yang bertanggung jawab atas renovasi hotel ini."

Henry menoleh saat namanya disebut, dan pandangan pertama mereka bertemu. Henry melangkah mendekat dengan tenang, lalu mengulurkan tangan. "Senang akhirnya bertemu dengan Anda, Miss Sutanto," katanya, dengan nada yang sopan tetapi terukur.

Karina tersenyum tipis dan menerima uluran tangannya. "Anda juga, Mr. Whitmore," jawabnya sambil mempertahankan tatapan profesional.

Pertemuan singkat ini sudah cukup untuk membuat Karina merasa sedikit tidak nyaman. Henry tampak begitu percaya diri, bahkan sedikit angkuh, meski sikapnya sopan. Namun, Karina tahu dia harus menjaga sikap profesional. Tidak ada ruang untuk emosi pribadi dalam proyek sebesar ini.

Setelah semua orang berkumpul, James memulai pertemuan. Dia memberikan pembukaan singkat, memperkenalkan Karina kepada tim dan menjelaskan bahwa dia akan mengambil alih kendali renovasi hotel ini.

"Miss Sutanto akan memimpin keseluruhan proyek ini dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana," ujar James. "Kami berharap Anda semua bisa bekerja sama dengan baik untuk mencapai hasil terbaik."

Karina mengangguk dengan anggun. "Terima kasih, James. Saya senang bisa bekerja dengan tim yang profesional seperti kalian semua. Renovasi ini adalah kesempatan besar untuk meningkatkan standar hotel kita, dan saya yakin kita bisa mencapai sesuatu yang luar biasa jika kita bekerja sama."

Setelah pembukaan singkat itu, Henry berdiri dan mengambil alih pembicaraan. "Saya telah menyiapkan beberapa konsep desain yang menurut saya akan sesuai dengan visi yang telah dibicarakan sebelumnya dengan manajemen," katanya sambil menunjuk ke arah desain yang tergantung di papan.

Henry mulai menjelaskan rencananya. Dia berbicara dengan jelas dan detail, menunjukkan pengalamannya sebagai arsitek yang telah banyak menangani proyek bangunan bersejarah. Konsepnya fokus pada menjaga keaslian struktur bangunan sambil menambahkan sentuhan modern yang akan membuat hotel ini lebih menarik bagi pelanggan kelas atas.

Namun, seiring Henry berbicara, Karina merasakan kegelisahan. Meskipun ide-idenya terdengar baik, Karina merasa beberapa elemen desain Henry terlalu berfokus pada estetika tanpa memperhitungkan sisi praktis operasional hotel. Selain itu, konsep renovasi Henry tampak terlalu mahal dan berlebihan. Karina menyadari bahwa pendekatan Henry mungkin tidak sepenuhnya sejalan dengan visi dan anggaran yang dia bayangkan.

Saat Henry selesai menjelaskan, Karina memutuskan untuk mengutarakan pendapatnya.

"Desain Anda sangat mengesankan, Mr. Whitmore," kata Karina dengan nada sopan namun tegas. "Namun, saya khawatir bahwa beberapa elemen ini mungkin tidak sesuai dengan anggaran dan tujuan operasional yang kami miliki. Saya pikir kita perlu mencari keseimbangan antara keindahan dan efisiensi."

Henry menatap Karina dengan satu alis terangkat, jelas tidak terbiasa dengan orang yang langsung memberikan kritik pada karyanya. "Saya mengerti kekhawatiran Anda, Miss Sutanto, tetapi proyek seperti ini membutuhkan investasi yang signifikan jika kita ingin menciptakan sesuatu yang luar biasa. Hotel ini perlu memiliki daya tarik visual yang kuat untuk bersaing dengan hotel-hotel mewah lainnya di London."

Karina menatap Henry tanpa gentar. "Saya setuju bahwa kita perlu menciptakan sesuatu yang unik, tetapi kita juga harus realistis. Renovasi ini harus memberikan hasil yang memuaskan tanpa mengorbankan efisiensi dan profitabilitas. Saya tidak ingin hotel ini hanya menjadi sebuah monumen arsitektur. Ini harus berfungsi dengan baik untuk tamu-tamu kita dan meningkatkan pengalaman mereka selama menginap."

Ruangan itu hening sejenak. Beberapa anggota tim tampak canggung, tetapi Karina tetap tenang. Dia sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang berbeda pendapat dengannya dalam rapat bisnis. Dia tahu bahwa pertentangan ini bukan masalah pribadi, ini adalah bagian dari proses kerja.

Henry tersenyum tipis, tetapi senyumnya tidak sepenuhnya hangat. "Saya paham maksud Anda, Miss Sutanto. Namun, jika kita terus-menerus membatasi diri pada anggaran yang ketat, kita tidak akan pernah mencapai potensi penuh dari apa yang bisa dilakukan di hotel ini. Saya percaya bahwa dengan investasi yang lebih besar, kita bisa menarik tamu-tamu yang lebih elit dan meningkatkan reputasi hotel ini di pasar global."

Karina membalas senyum Henry dengan tatapan yang tegas. "Tentu saja, saya setuju bahwa kita harus berinvestasi dengan bijak. Namun, saya percaya bahwa keseimbangan adalah kuncinya. Saya ingin memastikan kita membuat keputusan yang cerdas, bukan hanya keputusan yang berani."

Pertukaran kata-kata antara mereka membuat atmosfer pertemuan menjadi tegang, tetapi Karina tidak mundur. Dia tahu bahwa Henry mungkin arsitek yang berpengalaman, tetapi dia tidak akan membiarkan seseorang, atau siapapun itu, meremehkan visinya atau kontrolnya atas proyek ini. Dia datang ke London untuk memimpin proyek ini, dan itulah yang akan dia lakukan.

James, yang tampaknya menyadari Ketegangan di antara mereka, segera melanjutkan pertemuan dan meminta tim untuk fokus pada logistik dan timeline proyek. Karina mendengarkan dengan seksama, mencatat hal-hal penting yang perlu segera ditangani. Namun, pikirannya masih tertuju pada Henry dan ketegangan di antara mereka. Dia tahu bahwa ini bukanlah pertemuan terakhir yang akan diwarnai perbedaan pendapat.

Setelah pertemuan selesai, Karina berdiri untuk pergi, tetapi Henry mendekatinya sebelum dia sempat keluar dari Ruangan itu.

"Miss Sutanto," panggil Henry, suaranya tetap tenang. "Saya rasa kita memiliki pandangan yang sedikit berbeda mengenai proyek ini, tetapi saya berharap kita bisa bekerja sama dengan baik. Saya menghargai kemampuan Anda sebagai pemimpin proyek, dan saya yakin kita bisa mencapai sesuatu yang hebat jika kita saling mendengarkan."

Karina menatap Henry sejenak, mencoba membaca apa yang ada di balik kata-katanya. Dia tidak yakin apakah Henry benar-benar tulus atau hanya bersikap diplomatis. "Tentu saja, Mr. Whitmore. Saya juga berharap kita bisa bekerja sama dengan baik. Namun, saya harap Anda mengerti bahwa tanggung jawab saya adalah memastikan proyek ini berjalan sesuai dengan visi yang saya yakini."

Henry mengangguk. "Saya paham. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya."

Karina meninggalkan ruang rapat dengan pikiran yang berputar. Dia tahu bahwa ini hanya awal dari hubungan profesional yang penuh tantangan dengan Henry. Mereka berdua sama-sama ambisius dan ingin melakukan yang terbaik, tetapi jelas bahwa mereka memiliki cara pandang yang berbeda.

Sambil berjalan kembali ke kamarnya, Karina memikirkan langkah selanjutnya. Dia harus menemukan cara untuk bekerja sama dengan Henry tanpa kehilangan kendali atas proyek ini. Dia tahu bahwa setiap keputusan yang dia buat akan diawasi dengan ketat, baik oleh keluarganya maupun oleh tim di London.

Karina tahu satu hal dengan pasti: dia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Henry Whitmore, menggoyahkan keyakinannya. Proyek ini adalah miliknya, dan dia akan memastikan itu berjalan sesuai dengan visi yang dia yakini, meskipun itu berarti harus menghadapi perlawanan dari arsitek terkenal di London ini.

Bab 3

Karina menghabiskan sisa hari itu dengan mempelajari detail-detail proyek renovasi di kamarnya. Dokumen-dokumen berisi anggaran, desain, dan jadwal pembangunan menumpuk di atas meja, dan dia tenggelam dalam analisis mendalam. Meskipun pertemuannya dengan Henry tadi terasa menegangkan, Karina tahu bahwa dia harus tetap rasional dan profesional dalam menyikapi segala hal. Tugas utamanya adalah memastikan proyek ini selesai tepat waktu dan sesuai anggaran, tanpa mengorbankan kualitas.

Namun, di tengah-tengah kerja kerasnya, sebuah pesan masuk di ponsel miliknya. Itu dari ibunya, Alicia Sutanto.

"Bagaimana hari pertamamu, Karina?" tulis ibunya dalam pesan tersebut.

Karina berhenti sejenak, merenung sebelum membalas. Dia tahu bahwa ibunya sangat mengawasi kemajuan proyek ini, dan memberikan laporan jujur adalah bagian dari tanggung jawabnya. Namun, dia tidak ingin terdengar terlalu khawatir atau negatif di awal perjalanan ini.

"Berjalan baik, Ma. Saya sudah bertemu dengan tim dan Henry Whitmore. Ada beberapa perbedaan pandangan, tapi semuanya masih terkendali."

Tidak butuh waktu lama untuk Alicia membalas. "Henry adalah arsitek yang hebat. Dia sudah bekerja dengan banyak properti bersejarah di Eropa. Dengarkan pendapatnya, tapi jangan lupa bahwa kamu juga yang memimpin proyek ini. Ingat tanggung jawabmu."

Karina menghela napas panjang setelah membaca pesan itu. Ibunya benar, dia harus tegas tetapi juga terbuka terhadap masukan. Proyek ini adalah ujian besar baginya, dan setiap langkah yang dia ambil akan diperhitungkan oleh keluarganya. Mereka mempercayakan proyek ini padanya bukan karena darah, tapi karena mereka tahu dia mampu memimpin.

"Saya akan berusaha, Ma."

Malam itu, Karina hampir tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan bagaimana membangun komunikasi yang baik dengan Henry. Mereka perlu bekerja sama, tetapi Karina juga tahu bahwa perbedaan gaya kepemimpinan mereka akan terus menjadi tantangan.

***

Keesokan harinya, Karina kembali ke lokasi renovasi di hotel. Kali ini, dia sudah menyiapkan beberapa usulan revisi terhadap konsep desain Henry yang ingin dia diskusikan secara langsung. Dia berharap pertemuan hari ini bisa lebih konstruktif daripada pertemuan sebelumnya.

Saat tiba di lokasi, Karina melihat Henry sudah ada di sana, berbicara dengan beberapa anggota tim arsitektur sambil memeriksa area lobby yang sedang direnovasi. Henry tampak fokus dan penuh perhatian, menunjukkan profesionalisme tinggi. Karina menghargai dedikasi itu, meskipun dia masih merasa ada jarak di antara mereka.

"Pagi, Mr. Whitmore," sapa Karina saat mendekatinya.

Henry menoleh dan tersenyum kecil. "Pagi, Miss Sutanto. Sudah siap untuk melihat progres hari ini?"

"Tentu," jawab Karina sambil membuka tablet yang memuat data-data dan desain revisinya. "Saya juga ingin membahas beberapa revisi yang saya pikir bisa kita terapkan untuk menyeimbangkan estetika dan efisiensi."

Henry menatap tablet Karina sejenak, kemudian mengangguk. "Baiklah, mari kita lihat."

Karina mulai menjelaskan usulannya, memperlihatkan bagaimana beberapa elemen desain bisa disederhanakan tanpa mengorbankan keindahan atau keaslian bangunan. Salah satu contohnya adalah penggantian bahan lantai yang lebih murah namun tetap elegan, serta penyesuaian tata letak beberapa ruangan agar lebih praktis bagi operasional hotel.

Namun, sepanjang penjelasan Karina, Henry tampak tak sepenuhnya setuju. Pandangannya tetap tenang, tetapi dari caranya memandang tablet dan mendengarkan, Karina bisa merasakan bahwa Henry menyimpan keraguan.

"Desain ini lebih ekonomis, memang," ujar Henry setelah Karina selesai berbicara. "Tapi, seperti yang saya katakan kemarin, kita perlu sesuatu yang spektakuler. Mengurangi kualitas material mungkin akan berdampak pada pengalaman tamu. Hotel ini bukan hanya tempat untuk tidur, ini adalah pengalaman yang mereka cari."

Karina mengangguk, berusaha bersikap terbuka. "Saya setuju dengan itu, tetapi kita juga harus memastikan hotel ini tetap fungsional. Tidak ada gunanya memiliki desain yang mewah jika operasional hotel terganggu atau biayanya membengkak terlalu jauh."

Henry menatapnya beberapa saat, lalu menyilangkan tangan di dada. "Anda benar dalam hal efisiensi, tetapi saya ingin Anda mempertimbangkan dampak jangka panjang. Desain yang baik akan meningkatkan reputasi hotel dan menarik lebih banyak tamu elit. Itu juga akan meningkatkan nilai properti secara keseluruhan."

Diskusi mereka semakin intens, dan tim lain mulai merasakan ketegangan. Karina tahu bahwa Henry bukan orang yang mudah diyakinkan, tapi dia juga bukan tipe yang mudah menyerah.

"Saya paham tujuan Anda, Henry," kata Karina dengan nada yang lebih tegas. "Namun, saya juga harus mempertimbangkan keseluruhan proyek. Ada batasan anggaran dan waktu yang tidak bisa kita abaikan. Kita harus mencari jalan tengah di sini."

Henry terdiam sejenak, menatap Karina dengan tatapan yang lebih lembut. "Saya rasa kita berdua sama-sama ingin yang terbaik untuk hotel ini, Karina. Tapi, kita harus saling percaya. Saya di sini bukan untuk membuat proyek ini gagal, saya ingin melihat hotel ini berhasil."

Karina menatapnya kembali, merasakan bahwa di balik sikap profesional Henry, ada rasa tanggung jawab yang tulus terhadap proyek ini. "Saya juga ingin yang terbaik, Henry. Itu sebabnya kita harus menemukan keseimbangan yang tepat. Ini adalah tanggung jawab saya kepada keluarga dan seluruh tim di sini."

Henry tersenyum kecil. "Baiklah. Mari kita lihat bagaimana kita bisa bekerja sama lebih baik ke depannya."

***

Seiring berjalannya waktu, Karina dan Henry mulai belajar untuk lebih saling memahami meski perbedaan tetap ada. Setiap kali mereka bertemu, perdebatan selalu hadir, tetapi perlahan, ada kesadaran bahwa kedua belah pihak memiliki tujuan yang sama yaitu membuat hotel ini menjadi yang terbaik di London.

Namun, ketegangan antara mereka tidak sepenuhnya hilang. Karina masih merasa bahwa Henry sering kali terlalu keras kepala dalam hal artistik, sementara Henry menganggap Karina terlalu fokus pada anggaran. Keduanya terus berhadapan dengan tantangan baru setiap hari, dari masalah konstruksi hingga perubahan desain yang mendesak.

Di tengah-tengah semua itu, Karina mulai memperhatikan hal lain. Henry, di balik sikap profesionalnya, ternyata memiliki sisi yang lebih pribadi. Beberapa kali dia mendengar anggota tim berbicara tentang Henry yang dikenal sebagai arsitek berbakat tetapi juga sosok yang sangat mandiri dan jarang terlibat secara emosional. Henry tampak seperti seseorang yang lebih nyaman menyendiri daripada terlibat dalam hubungan interpersonal yang lebih dalam.

Karina tertarik, tetapi dia tetap fokus pada pekerjaannya. Bagaimanapun, tugas utamanya adalah memimpin renovasi hotel ini hingga selesai. Namun, dia tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa hubungan mereka mungkin akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar profesional. Henry adalah pria yang kompleks, dan Karina tahu bahwa di balik dinding profesionalismenya, ada cerita yang lebih dalam, cerita yang mungkin akan terbuka seiring waktu.

Sementara itu, bayang-bayang Big Ben terus mengintai di luar jendela hotel, seolah mengingatkan Karina bahwa tantangan besar lainnya selalu menunggu di setiap tikungan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED