Bab 2

Hal pertama yang Sasti lakukan setelah selesai dengan ibadah paginya adalah bergegas ke dapur. Rutinitas sudah menunggu untuk dia kerjakan, atau dia akan mendapat cacian karena dianggap malas oleh paman, bibik dan juga kak Pipit. Sebisa mungkin dia merahasiakan apa yag dilihatnya dini hari tadi dan tetap fokus dengan pekerjaan paginya.

Bukankah tutup mulut memang lebih baik bagi Sasti?

Menanak nasi dengan menggunakan panci dan dandang adalah kebiasaan di keluarga ini. Jadi sebisa mungkin, Sasti tetap melakukan hal yang sama. Semenjak masih duduk di sekolah dasar, Sasti memang sudah disuruh untuk belajar memasak oleh bik Siti yang merupakan adik tiri dari ibu Sasti. Sementara ibu Sasti sendiri meninggal akibat sakit lever ketika Sasti masih berusia lima tahun. Sementara ayah Sasti tak diketahui kabarnya hingga kini usia Sasti sudah menginjak dua puluh dua tahun.

Bukankah tutup mulut memang lebih baik bagi Sasti?

Menanak nasi dengan menggunakan panci dan dandang adalah kebiasaan di keluarga ini. Jadi sebisa mungkin, Sasti tetap melakukan hal yang sama. Semenjak masih duduk di sekolah dasar, Sasti memang sudah disuruh untuk belajar memasak oleh bik Siti yang merupakan adik tiri dari ibu Sasti. Sementara ibu Sasti sendiri meninggal akibat sakit lever ketika Sasti masih berusia lima tahun. Sementara ayah Sasti tak diketahui kabarnya hingga kini usia Sasti sudah menginjak dua puluh dua tahun.

Masak apa kamu pagi ini?” tiba-tiba terdengar suara Pipit yang bertanya dengan sinis tanpa keramahan sama sekali, tepat ketika Sasti usai menyapu seluas rumah itu.

* * *

Bab 3

Dan di sinilah kini Pipit berada, berdiri dengan gelisah setelah tadi menghambur dengan panik menuju ke kamar bapak dan ibunya. Tangannya berkeringat dengan jantung berdebar kencang karena dilanda ketakutan akan terjadi sesuatu dengan bapak dan ibunya. Pipit mondar mandir kesana kemari dengan kegelisahan yang tak bisa diredamnya dengan baik karena dihantui oleh rasa bersalah sekaligus rasa takut yang diakibatkan oleh kekonyolannya tadi malam.

“Ini semua gara-gara Feri. Kalau dia nggak nekat menginap kan aku nggak harus memberi obat tidur di teh bapak dan ibu,” Pipit mondar mandir dengan gelisah.

Berbagai macam pikiran buruk membanjiri otaknya, membuatnya membuat keputusan impulsif.

“Pak? Bu? Sudah siang. Kalian nggak bangun? Bukankah bapak harus berangkat kerja?” Pipit menggedor pintu kamar orang tuanya yang masih saja sepi.

Dan kini bahkan masih juga hening, belum ada jawaban sama sekali, membuat Pipit semakin dilanda kepanikan yang luar biasa. Tak mau menunggu, Pipit menggedor pintu yang terkunci dari dalam itu dengan lebih keras.

“Pak! Bu! Buka pintu sudah siang!” Pipit mengeraskan suaranya dengan nada panik sementara keringat dingin membasahi tubuhnya.

“Iya...” terdengar sahutan lirih dari dalam kamar, membuat Pipit merasa lega seketika.

Kemudian terdengar keributan kecil dari dalam kamar sebelum kemudian pintu terbuka dan muncul wajah ibunya yang disusul oleh bapaknya dengan wajah yang masih terlihat mengantuk namun juga panik.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED