Pagi masih sangat buta ketika Sasti terbangun. Matanya mengerjap untuk mencari fokusnya. Setelah menggeliat sesaat, tangan gadis itu menggeragap mencari jam beker kecil yang kini menunjukkan pukul setengah empat pagi. Jam beker kecil pemberian Prasetya itu memang selalu dia letakkan di sisi ranjang rapuhnya —yang sebenarnya kurang layak disebut ranjang— karena hanya berupa ranjang besi yang sudah sangat kuno bentuknya. Kasur kapas yang tak lagi empuk itu sangat tak nyaman untuk digunakan sebagai tempat tidur. Dan itu sangat berkebalikan dengan kasur yang terdapat di kamar lain rumah ini, yang tentunya jauh lebih empuk, lebih nyaman, lebih elegan dan tentu lebih bersih.
Tapi apapun kasur yang kini ditidurinya sudah berhasil membuat Sasti untuk bersyukur, karena bagaimanapun ini jauh lebih baik. Setidaknya masih ada orang —meskipun mereka adalah paman dan bibinya— yang bersedia menampung hidupnya yang sebatang kara semenjak kecil. Senyum kecil terbit di bibir Sasti ketika dia meletakkan jam beker itu pada tempatnya semula, karena dia teringat bahwa itu jam beker hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Pras, teman sekolahnya semenjak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Hadiah ulang tahun satu-satunya yang pernah dia terima selama eksistensinya di desa Serayu ini. Dan Sasti merasa bahwa ini akan jadi satu-satunya kado yang dia terima seumur hidup, karena dia tak yakin apakah di masa mendatang, akan ada orang yang cukup gila untuk memberinya kado. Meskipun begitu, Pras tak akan Sasti masukkan dalam golongan orang yang gila itu ketika dia memberinya sebuah kado.
Hal pertama yang Sasti lakukan setelah selesai dengan ibadah paginya adalah bergegas ke dapur. Rutinitas sudah menunggu untuk dia kerjakan, atau dia akan mendapat cacian karena dianggap malas oleh paman, bibik dan juga kak Pipit. Sebisa mungkin dia merahasiakan apa yag dilihatnya dini hari tadi dan tetap fokus dengan pekerjaan paginya.
Bukankah tutup mulut memang lebih baik bagi Sasti?
Menanak nasi dengan menggunakan panci dan dandang adalah kebiasaan di keluarga ini. Jadi sebisa mungkin, Sasti tetap melakukan hal yang sama. Semenjak masih duduk di sekolah dasar, Sasti memang sudah disuruh untuk belajar memasak oleh bik Siti yang merupakan adik tiri dari ibu Sasti. Sementara ibu Sasti sendiri meninggal akibat sakit lever ketika Sasti masih berusia lima tahun. Sementara ayah Sasti tak diketahui kabarnya hingga kini usia Sasti sudah menginjak dua puluh dua tahun.
Bukankah tutup mulut memang lebih baik bagi Sasti?
Menanak nasi dengan menggunakan panci dan dandang adalah kebiasaan di keluarga ini. Jadi sebisa mungkin, Sasti tetap melakukan hal yang sama. Semenjak masih duduk di sekolah dasar, Sasti memang sudah disuruh untuk belajar memasak oleh bik Siti yang merupakan adik tiri dari ibu Sasti. Sementara ibu Sasti sendiri meninggal akibat sakit lever ketika Sasti masih berusia lima tahun. Sementara ayah Sasti tak diketahui kabarnya hingga kini usia Sasti sudah menginjak dua puluh dua tahun.
Masak apa kamu pagi ini?” tiba-tiba terdengar suara Pipit yang bertanya dengan sinis tanpa keramahan sama sekali, tepat ketika Sasti usai menyapu seluas rumah itu.
* * *
Dan di sinilah kini Pipit berada, berdiri dengan gelisah setelah tadi menghambur dengan panik menuju ke kamar bapak dan ibunya. Tangannya berkeringat dengan jantung berdebar kencang karena dilanda ketakutan akan terjadi sesuatu dengan bapak dan ibunya. Pipit mondar mandir kesana kemari dengan kegelisahan yang tak bisa diredamnya dengan baik karena dihantui oleh rasa bersalah sekaligus rasa takut yang diakibatkan oleh kekonyolannya tadi malam.
“Ini semua gara-gara Feri. Kalau dia nggak nekat menginap kan aku nggak harus memberi obat tidur di teh bapak dan ibu,” Pipit mondar mandir dengan gelisah.
Berbagai macam pikiran buruk membanjiri otaknya, membuatnya membuat keputusan impulsif.
“Pak? Bu? Sudah siang. Kalian nggak bangun? Bukankah bapak harus berangkat kerja?” Pipit menggedor pintu kamar orang tuanya yang masih saja sepi.
Dan kini bahkan masih juga hening, belum ada jawaban sama sekali, membuat Pipit semakin dilanda kepanikan yang luar biasa. Tak mau menunggu, Pipit menggedor pintu yang terkunci dari dalam itu dengan lebih keras.
“Pak! Bu! Buka pintu sudah siang!” Pipit mengeraskan suaranya dengan nada panik sementara keringat dingin membasahi tubuhnya.
“Iya...” terdengar sahutan lirih dari dalam kamar, membuat Pipit merasa lega seketika.
Kemudian terdengar keributan kecil dari dalam kamar sebelum kemudian pintu terbuka dan muncul wajah ibunya yang disusul oleh bapaknya dengan wajah yang masih terlihat mengantuk namun juga panik.