Windy menyeka bulir keringat pada dahi. Nafas berat keluar dari belah bibirnya. Satu per satu box coklat berbagai ukuran ia pindai sembari berhitung dalam hati.
Pas. Semuanya dalam jumlah yang sama persis sebelum ia berangkat 2 jam yang lalu. Windy bergerak mendekati pintu balkon, dia buka lalu ia hirup udara senja yang menyapa hangat paras jelitanya.
Windy terpaku manakala netra kilaunya melihat serat lembayung yang terbentang luas di langit biru. Menarik kedua ujung bibirnya hingga membentuk sebuah kurva senyuman.
Lembayung senja selalu menjadi hal yang paling ia sukai. Selain wujudnya yang elok, menyaksikan langit berselimut oranye keemasan terbilang cukup jarang terjadi bagi Windy. Maka dari itu, Windy rela berdiam diri di jendela maupun pintu balkon demi menatap sang cakrawala.
"Windy, mau sekalian aku bantu nyusun barang?" Chacha, gadis bertubuh mungil dengan poni samping yang menutupi setengah dahi. Gadis itu baru saja selesai berkeliling memandang tiap sudut ruangan.
"Boleh deh, tolong susun barang-barang buat bagian dapur ya Cha? Aku susun buat yang di kamar, sisanya biar besok aja," ujar Windy menerima bantuan Chacha.
***
Matahari telah sepenuhnya berpulang ke ufuk barat. Begitu pula dengan Windy dan Chacha yang baru saja selesai menata barang. Keduanya kini sedang menunggu makan malam yang mereka pesan melalui aplikasi.
"Tumben orang tua kamu kasih izin buat tinggal sendiri dan pisah jauh dari mereka."
Chacha meneguk sekaleng soda ketika serbuk bumbu pada keripik kentang mulai membuat tenggorokannya tidak nyaman. Sembari menunggu hidangan utama datang, keduanya mengganjal rasa lapar lebih dulu dengan kudapan yang sempat mereka beli saat perjalanan kemari.
"Itu pun nggak mudah, Cha. Terutama Papa, kamu tahu sendiri kan Papa gimana."
Chacha mengangguk pelan.
Papa Windy adalah salah satu orang yang cukup over protektif terhadap Windy. Selain karena ia anak tunggal, hidup sendiri dan jauh dari orang tua tidak selalu menjadi pilihan baik untuk perempuan.
Wajar. Sampai sekarang pun, masih banyak orang tua yang enggan melepas jauh putri mereka. Menurut sebagian besar orang tua, sangat beresiko bagi kaum hawa tinggal seorang diri di luar sana. Apalagi insiden kejahatan lebih rentan terjadi pada wanita.
Akan tetapi, separuh dari mereka jadi merasa sulit untuk bergerak, terutama dalam meraih mimpi atau cita-cita.
"Aku harus yakinin Papa setiap hari. Terutama membangun kepercayaan Papa sama aku. Mama juga bantu supaya hati Papa luluh. Dan ya, usaha tidak menghianati hasil. Papa setuju, dengan syarat setiap akhir pekan aku harus pulang ke rumah orang tua, juga lebih rajin kasih kabar.”
Sebenarnya, salah satu alasan kuat Windy diizinkan lepas karena kondisi kesehatannya. Perjalanan dari rumah ke kampus butuh menempuh waktu sekitar 1 jam lebih, bahkan bisa hampir 2 jam bila kondisi jalanan terlalu macet. Aktivitas kampus yang kian padat, ditambah lagi perjalanan pulang yang sangat menguras tenaga serta waktu, Windy akhirnya jatuh sakit dan dirawat.
Tidak ingin kondisi putrinya semakin memburuk, akhirnya orang tua Windy mengizinkan Windy tinggal di salah satu apartemen di tengah hiruk pikuk ibu kota.
"Eh, itu makanannya udah dateng."
Chacha sontak berdiri dan berjalan cepat menuju pintu utama. Diterimanya 1 kantong berukuran cukup besar yang berisi berbagai menu makanan yang mereka pesan.
"Terima kasih ya Pak," ucap Chacha.
Usai memberikan beberapa lembar uang, Chacha berbalik masuk, menaruh makanan di atas meja pantry lalu mengeluarkan semua kotak sekaligus membukanya.
Windy datang menghampiri dan duduk di salah satu kursi.
"Kamu besok ngampus Win?"
Windy menggeleng pelan seraya berujar, "aku nggak ada jadwal kuliah besok, jadi bisa fokus beresin sisa barang yang belum disusun," jelas Windy kemudian balik bertanya.
"Kamu sendiri gimana?"
"Aku ada kelas pagi besok. Cuman 4 sks sih. Dari jam 8 sampai jam 12 siang. Kalau kamu mau, besok pas pulang aku langsung ke sini buat bantu-bantu."
"Nggak usah Cha. Tinggal sedikit lagi. Tapi kalau kamu mau mampir buat main, aku welcome kok."
Ting!
Ting!
Ting!
Chacha dan Windy menoleh ke arah benda pipih yang tergeletak di sofa.
"Eh, siapa tuh? Papa kamu?"
Windy berjalan mendekat guna mengintip. Sebuah nama yang amat familiar terpampang di layar kunci. Nama yang akhir-akhir ini buat hari-hari Windy cukup terganggu.
"Siapa?" tanya Acha lagi.
"Bukan siapa-siapa," jawab Windy malas.
Baru saja mereka hendak menikmati makan malam, dering telepon Windy menjeda kegiatan mereka. Windy menghela nafas berat, dia kembali berjalan guna meraih gawainya. Ketika dilihat, lagi-lagi nama itu yang muncul.
Windy semakin gerah.
Dia langsung menekan tombol merah, kemudian mengaktifkan mode diam pada ponsel. "Siapa sih?" Chacha tetap melempar inti pertanyaan yang sama. Penasaran kian membuncah kala mendapati raut wajah Windy yang kurang bersahabat setelah ia mematikan telepon.
"Jimmy."
Windy duduk di salah satu kursi, meraih salah satu makanan dan menyantapnya. Chacha tidak berani untuk bersuara lebih, ia tahu bahwa Jimmy meninggalkan kesan kurang baik bagi Windy. Dan Windy memiliki alasan kuat atas itu.
Karena suasana mendadak suram, akhirnya mereka memutuskan menikmati makan malam dalam diam. Lagipula tampaknya kondisi hati Windy tidak secerah tadi.
***
Windy merasa tergelitik kala sinar mentari pagi menyapa hangat paras jelitanya. Cuitan para burung menarik kedua kelopak mata gadis muda itu terbuka secara perlahan. Windy menengok ke arah jam yang berada di atas nakas. Waktu baru menunjukkan pukul 8 pagi lebih 10.
Windy bangkit merubah posisinya menjadi duduk. Merenggangkan otot-otot tubuh, kemudian bersandar pada kepala ranjang. Diraihnya ponsel saat notifikasi pesan masuk dari sang ayah muncul.
'Windy, kamu udah bangun?'
'Udah sarapan?'
'Gimana lingkungannya di sana? Tetangganya pada baik, kan?'
'Ingat, kamu tuh perempuan. Apalagi jauh dari orang tua. Jangan suka keluyuran malam-malam, kalau urusan kampus sudah selesai, langsung cepat pulang. Perempuan rawan jadi incaran.'
Windy tersenyum membaca isi pesan dari ayahnya. Walau ayahnya cukup protektif, Windy tidak merasa risih ataupun jengkel. Dia malah merasa nyaman dan senang dengan bentuk perhatian sang ayah yang seperti ini.
Di umurnya yang sudah menginjak 21 tahun, Windy masih senantiasa menerima perhatian serta tuntunan dari orang tua. Berbeda dari teman-temannya yang dilepas sepenuhnya oleh orang tua mereka.
Windy bangkit dari tempat tidur. Perut rampingnya sudah bersuara untuk minta asupan makan. Karena kemarin dia tidak sempat membeli beberapa bahan, Windy putuskan untuk turun ke bawah. Kebetulan di lantai 1 apartemen ada mini market. Siapa tahu ada makanan siap saji.
Ketika Windy hendak menutup pintu lift, tiba-tiba sebuah suara menghentikan aksinya.
"Tunggu!"
Seorang pria dengan tinggi 185 senti, berkulit putih, rambut hitam legam, mata bulat serta tajam, melangkah masuk ke dalam lift.
"Terima kasih," ujarnya.
Sejenak Windy terkesiap. Terpesona akan paras menawan sang pria. Ditambah aroma musk dari tubuhnya perlahan mulai mendominasi ruangan 1,2 x 1 meter tersebut.
"Emm, ya, sama-sama." Windy buru-buru menutup pintu lift tatkala perutnya kembali menyerukan protes bersama sedikit rasa nyeri.
"Oh kebetulan, saya juga mau ke lantai 1." Pria berkata sembari tersenyum saat melihat tombol angka 1 menyala. Tubuhnya bersandar pada dinding lift, melihat panah merah yang bergerak turun pada layar display.
Hening.
Keduanya sama-sama terdiam. Hingga lift akhirnya sampai di lantai yang dituju, mereka keluar. Sebelum Windy melangkah lebih jauh, pria tadi kembali bersuara.
"Kamu orang baru ya di sini?"
Windy lantas berbalik, menatap balas netra pria yang memandangnya penuh keingintahuan. "Iya, saya orang baru," jawab Windy sekenanya. "Oh gitu, tinggal di apartemen nomor berapa?" Pria itu kembali melempar tanya.
"26."
"Wah, ternyata kita tetangga. Saya tinggal di apartemen nomor 27. Semisal butuh bantuan atau apapun, bisa ketuk pintu apartemen saya."
"Iya Mas, makasih. "
"Kalau begitu saya duluan."
Pria itu beranjak pergi keluar gedung. Meninggalkan kesan ramah dan supel bagi Windy. Justru Windy merasa senang karena memiliki tetangga seperti pria tadi. Sayangnya, mereka lupa untuk saling bertukar nama.
Drrt! Drrt!
Ponsel Windy bergetar. Ada panggilan masuk dari Chacha. Langsung saja ia menekan tombol ikon berwarna hijau. Di seberang sana, Chacha memanggil nama Windy dengan nada gelisah dan gemetar. Kemudian, Chacha melontarkan sebuah untaian kalimat yang sukses buat Windy membeku di tempat.
'Jimmy meninggal, Win.'
─── To Be Continue
Jimmy Putra Aksara.
Orang-orang memanggilnya Jimmy. Lelaki yang kerap kali menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa, juga dosen. Paras menawan berhiaskan lesung pipi menambah kadar manis ketika ranum tebalnya tertarik membentuk senyuman. Selain karena tampangnya, Jimmy sering jadi pembicaraan karena tekadnya dalam mengejar sang pujaan hati.
Bila dugaan kalian adalah Windy, jawabannya tepat. Jimmy sudah menyukai Windy sejak mereka menduduki bangku SMA.
Berbagai usaha untuk mendekati agar segera resmi berstatus sebagai sepasang kekasih tidak diindahkan oleh Windy. Bahkan Windy beberapa kali telah menolak secara halus. Memberi pengertian semaksimal mungkin agar Jimmy berhenti mengejarnya.
Akan tetapi, Jimmy malah tak acuh. Dia selalu berpikir bahwa ini hanya perkara waktu. Jimmy terima jika Windy memang belum menumbuhkan rasa secuil pun untuk dirinya. Maka dari itu, ia akan terus berjuang yang justru membuat Windy risih dan merasa terganggu. Sikap Jimmy semakin lama semakin mengusik kehidupan Windy.
Tidak. Windy tidak membencinya. Tidak ada salahnya bila seseorang mencintai insan lain. Namun, apa yang dilakukan Jimmy sudah salah karena Windy merasa tidak nyaman.
Bayangkan, tanpa sepengetahuan Windy, ternyata Jimmy diam-diam sering mengambil foto dirinya. Lalu saat pulang, Jimmy pernah beberapa kali tertangkap mengikuti Windy sampai ke rumah.
Alasan ingin memastikan Windy sampai dengan selamat tidak bisa Windy terima. Memangnya perilaku Jimmy yang seperti itu bisa dibilang baik dan etis? Itulah kenapa Windy malas berurusan dengan hal yang menyangkut Jimmy.
Termasuk pesan masuk serta telepon dari Jimmy semalam. Dan hari ini, Windy dirundung penyesalan. Sebab, ia terkejut atas isi pesan tersebut.
'winnn, tkglng'
'toklng'
'tolng ajuht'
'winbnn'
Huruf acak yang langsung Windy mengerti bahwa Jimmy butuh pertolongan. Dia minta bantuan yang justru malah Windy abaikan dan menghantarkan Windy pada rasa bersalah.
"Seandainya aku buka pesan dari Jimmy, apa kejadiannya bakal berbeda? Seandainya aku angkat telepon dari Jimmy, pasti sekarang dia masih ada di sini kan?"
Sekesal apapun Windy pada Jimmy, seharusnya ia tetap bersikap baik padanya.
***
"Hatinya tidak ada."
Jun melongo mendengar penuturan dari Kevin, dokter ahli forensik. "Hatinya seperti ditarik paksa, bukan dipotong atau diputus dengan benda tajam. Beberapa bagian tubuh organ rusak karena terhunus pisau berkali-kali. Menurutku ini kasus pembunuhan yang keji. Si pelaku menghabisi nyawa korban dengan sangat brutal," jelas Kevin.
"Sudah menghubungi keluarga korban?"
Jun anggukan kepala.
"Mereka sedang perjalanan kemari. Kalau begitu aku pergi, terima kasih."
Jun meraih ponsel dan membuka pesan dari rekan kerjanya. Di situ tertulis daftar orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan Jimmy untuk mereka datangi guna menggali informasi.
Rekan kerja Jun juga melaporkan hasil bahwa tidak ada satupun petunjuk dari warga yang tinggal di sekitar tempat kejadian perkara. Dari mereka pula tidak ada yang memakai kamera pengintai. Otomatis, perburuan kali ini akan lebih sulit dan memakan waktu.
Jun membuka kontak dan menekan salah satu nama untuk ia hubungi.
"Halo Detektif Glen, besok kamu mulai gali informasi dari pihak keluarga. Biar aku yang gali informasi dari teman-temannya," titah Jun yang langsung disetujui oleh rekan kerjanya tersebut.
***
"Windy, udah dong, jangan terus-terusan merasa bersalah. Yang namanya petaka, kita nggak ada yang tahu. Walaupun kamu terima cintanya Jimmy, jika dalam skenario Tuhan jalannya dia memang harus seperti itu, mau bagaimana lagi?"
Perihal kejadian Windy yang mengabaikan semua pesan beserta panggilan Jimmy, membuat gadis jelita itu dirundung rasa bersalah. Andaikan, andaikan, andaikan, dan andaikan. Windy selalu berandai jika saja ia mau peduli dengan Jimmy malam itu, mungkin garis yang sudah dibuat oleh Sang Pencipta bisa berubah?
Namun apa yang dikatakan oleh Chacha juga benar. Nasib seseorang tidak ada yang tahu.
Ding! Dong!
Bunyi bel menarik atensi Chacha. Gadis mungil itu menatap sejenak ke arah Windy yang masih diam berbaring telungkup di atas ranjang, tanpa ada respon gerak setelah mendengar bunyi bel barusan.
Lantas, Chacha berdiri dan menghampiri pintu utama. Ketika dibuka, muncul sosok pria tinggi dengan pakaian serba hitam. Wajah tegas, rahang tajam, hidung mancung dan kulit sawo matang. Tampak seram namun tampan secara bersamaan.
"Saya Detektif Jun, bisa bertemu dengan seseorang yang bernama Windy?" Jun mengangkat lencana miliknya sembari memperkenalkan diri.
"Ada keperluan apa ya Pak?"
"Saya hanya ingin melempar beberapa pertanyaan mengenai Jimmy."
Chacha diam. Bingung harus mengambil keputusan apa. Jadi, sebelum dia mempersilahkan Detektif tersebut masuk, Chacha kembali ke kamar guna memberitahu tamu beserta tujuannya datang kemari.
Windy setuju dan segera keluar dari kamar. Chacha mengajak Jun masuk lalu memintanya untuk duduk di sofa. Sedangkan Windy, ia mengisi sofa yang berhadapan dengan Jun.
"Bapak mau minum apa?"
"Air putih saja."
Chacha langsung pergi ke dapur setelah mendapat jawaban dari Jun. Kini, hanya mereka berdua di sana.
Jun mengeluarkan note kecil dan bolpoin dari kantung bagian dalam jaketnya.
Interogasi pun, dimulai.
"Saudari Windy, anda kenal dengan pria bernama Jimmy?"
"Iya Pak, saya kenal."
"Bisa jelaskan hubungan anda dengan korban?"
Windy menghela nafas berat sebelum ia mengurai panjang jawaban yang akan dia beri. Selama bercerita, Jun tak lepas mencatat poin-poin yang menurutnya penting.
Di sela perbincangan, Chacha kembali, menaruh segelas air putih di meja kemudian duduk di sebelah Windy. Mendengar penuturan sang sahabat hingga usai.
"Kalau saja… Kalau saja saya tidak mengabaikan pesan dan telepon Jimmy hari itu, mungkin dia masih ada di sini."
Chacha sigap memeluk dan mengusap punggung Windy ketika tangis gadis itu pecah. Jika kalian bertanya mengapa Windy sampai merasa seperti ini?
Padahal Jimmy sering kali membuat dirinya tidak nyaman. Jawabannya adalah, karena Jimmy orang baik.
Terlepas dari perilaku Jimmy yang membuat Windy tidak nyaman, dia sebenarnya adalah pria yang baik. Peduli, rendah hati, tidak pandang teman, bahkan dia selalu memberi untuk mereka yang dilanda kesusahan.
Windy tidak membenci Jimmy, dia hanya terlalu jengah dengan sikap Jimmy yang selalu saja datang mengganggu dengan embel-embel bentuk perjuangan cinta.
Satu jam berlalu, Detektif Jun menyudahi sesi interogasi pada Windy. Dia kemudian berterima kasih, lalu pamit pergi dari sana.
"Windy, aku keluar dulu ya. Mau beli makan malam di Mas nasgor depan. Kamu mau nasi goreng atau kwetiau?" tanya Chacha.
"Apa aja deh, Cha," jawab Windy sekenanya.
Sepersekian detik, Chacha pergi dari apartemen Windy untuk membeli makanan. Khusus hari ini, Chacha berinisiatif menginap dan menemani Windy.
Baru saja Windy ingin masuk ke kamar, tiba-tiba suara bel kembali bergema. Itu pasti bukan Chacha, karena Chacha tahu kata sandi apartemen Windy. Apa mungkin Detektif Jun datang lagi?
Windy mengintip pada lubang pintu dan tidak mendapati siapapun.
"Masa sih orang iseng?" monolognya.
Karena penasaran, Windy membuka pintu. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat lorong yang sepi nan kosong. Dan saat netra bulatnya jatuh pada permukaan lantai, di sana Windy mendapati secarik kertas putih yang dilipat dua.
Ia raih, lalu ia buka perlahan. Detik selanjutnya, kalimat yang tertulis di permukaan kertas buat Windy terpaku.
'Seharusnya kamu bahagia Jimmy mati.'
─── To Be Continue
"Kamu nggak sempet lihat wajah pengirimnya?" Chacha melempar tanya sambil membaca kutipan kalimat di kertas yang ia pegang.
Rasa penasaran dan merinding turut melingkupi Chacha, lantaran arti dari kalimat tersebut membuat dirinya ikut merinding.
"Waktu aku intip dari lubang pintu, nggak ada siapa-siapa Cha," jelas Windy.
"Win, apa jangan-jangan, pengirimnya itu orang yang udah ngebunuh Jimmy?"
Windy tidak menepis dugaan Chacha, karena Windy pun berpikir demikian. Makna yang keduanya tangkap pun sama. Seolah-olah pengirim berkata,
'Aku tuh udah nyingkirin Jimmy.
Seharusnya kamu senang dia mati.'
Kira-kira seperti itulah yang terbesit di benak Windy dan Chacha.
Jikapun orang lain, apa gunanya dia mengirim kata-kata seperti ini?
Dan yang terpenting, dari mana ia tahu bahwa Windy sedang bersedih serta menyesal?
"Kamu mau lapor polisi soal ini?"
"Lapor gimana Cha? Lapor polisi tuh nggak gampang, belum tentu mereka langsung anggap serius secarik kertas kusut kayak gitu. Ujung-ujungnya pasti mereka bilang kalau itu cuman kerjaan orang iseng."
Benar juga ya. Berurusan dengan kepolisian tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan belum tentu langsung diusut atau diselidiki sampai tuntas.
Kasus kekerasan dan pelecehan yang sedang marak saja tidak ditangani dengan benar, apalagi hal semacam ini.
"Yaudah, kita anggap aja ini ulah orang iseng."
Perbincangan di antara keduanya terhenti manakala ibu kantin datang membawa 2 mie goreng pedas atas pesanan mereka berdua. Keduanya pun mulai menikmati santapan. Topik seputar kampus dan tugas kuliah menjadi pengganti topik obrolan sebelumnya.
Keluhan sesekali keluar saat Chacha ataupun Windy bercerita mengenai tugas yang semakin menggunung, ataupun tentang dosen killer yang tidak memberi toleransi sedikit pun atas tugas atau dateline yang diberikan, namun mereka tutup dengan candaan konyol masing-masing.
Kala tengah asyik mengisi perut sambil berbincang, tiba-tiba…
BRAK!
Kaget bukan main ketika meja yang mereka tempati digebrak secara kasar. Pelakunya adalah sosok perempuan berpostur tinggi layaknya model, wajah jelita berpoles make up natural, serta surai coklat yang bergelombang karena catokan.
"Airin! Kamu apa-apaan sih?!" Pekik Chacha tidak terima atas perlakuan Airin barusan.
"Masih bisa ya kamu ketawa-ketiwi setelah apa yang kamu lakuin ke Jimmy! Kamu nggak ada rasa bersalah sama sekali, hah!? Jimmy meninggal gara-gara kamu!"
Suara melengking Airin menarik atensi semua orang yang ada di kantin. Mereka saling berbisik dengan berbagai jenis pandangan. Ada yang menatap bingung serta sinis, dan tentunya tidak lepas dari perkataan yang kurang berkenan
"Airin, kematian Jimmy bukan kesalahan Windy! Yang pantas disalahkan itu ya si pembunuh!"
"Nggak! Dia tetap salah! Aku sempet denger kalau orang yang terakhir kali Jimmy hubungi itu Windy! Bahkan dia kirim beberapa pesan teks. Walau kalimat yang dia ketik nggak jelas, tapi aku paham bahwa Jimmy lagi minta pertolongan! Dan Windy malah pilih untuk nggak peduli!"
Suasana kian ricuh. Atmosfer sekitar berubah dalam sekejap, membelit Windy pada rasa malu serta bersalah. Tapi, apa harus seperti ini? Hanya karena sikap tak acuh yang Windy lakukan, ia langsung dicap sebagai pembunuh? Bagaimana bisa?
Chacha langsung peka terhadap perubahan suasana, langsung menarik Windy untuk pergi menjauh dari keramaian. Sebenarnya ia tidak keberatan meladeni Airin yang terus saja berusaha memojokkan Windy. Karena apa yang Airin lontarkan barusan sama sekali tidak masuk akal, bahkan tidak dapat diterima sebagai alasan bahwa Windy patut untuk disalahkan.
***
Waktu terus berjalan, jarum jam berputar menyapa tiap angka. Langit telah sepenuhnya gelap. Menarik orang-orang agar berhenti dari aktivitas mereka, dan menikmati waktu luang untuk beristirahat ataupun sekedar berkumpul dengan orang-orang tersayang.
Tak sedikit pula yang memilih untuk tetap tinggal, rela ditemani beberapa tumpuk berkas yang tentunya tidak pernah berhenti menguras tenaga dan pikiran.
Windy mengambil beberapa minuman dingin. Ia juga mengambil beberapa kudapan atau makanan ringan lalu ia taruh di keranjang merah. Malam ini ia putuskan begadang, mengejar tugas yang sebenarnya masih jauh dari ketentuan dateline.
Padahal, fisik dan batinnya sudah lelah. Pilihan tidur sering menjadi opsi paling bagus usai seharian bercengkrama dengan tugas. Namun, hari ini pikiran Windy penuh oleh hal-hal yang cukup mengganggu. Jadi ia pikir, bila mencari kegiatan lain akan membuat semua beban tersebut hilang.
“Totalnya jadi 68.700,” ujar lelaki muda di seberang meja kasir.
Windy membuka resleting dompet, meraih selembar uang merah, lalu menyodorkannya ketika kantung plastik belanja diberikan. “500 rupiahnya boleh disumbangkan?” Windy mengangguk.
Selesai urusan, Windy ingin cepat-cepat pulang ke rumah guna memanjakan lidah. Akan tetapi, ketika pintu dibuka, muncul sosok pria yang pernah Windy temui di lift. Pria yang sempat membuat tubuhnya mengalami malfungsi, diam tak bergerak karena paras rupawan yang ia miliki.
Dan kini, lagi, pria itu melebarkan ranumnya, membentuk senyuman yang entah kenapa buat mata Windy terkunci. Jatuh dalam hipnotis keindahan dunia yang lagi-lagi mampu buat dirinya diam tak berkutit.
***
Malam ini, langit tergantung seorang diri. Tanpa bintang, tanpa bulan. Awan pun ikut bersembunyi, membiarkan atap dunia menjadi kosong dan lengang. Sama seperti kondisi jalanan yang tengah dilalui oleh sepasang lelaki dan perempuan. Gesekan antara aspal dan alas sandal begitu jelas terdengar.
Windy sesekali mengusap lengan, menghangatkan kulit sebab atmosfer malam yang terasa dingin walaupun tak ada angin yang berhembus sama sekali. Apa karena bulan sudah memasuki musim penghujan?
“Oh iya, kita belum kenalan. Aku Brian.”
“Windy.”
Keduanya saling melempar senyum usai perkenalan singkat. Hening kembali mendominasi. Canggung menjadi alasan utama serta hambatan bagi mereka untuk merajut tali percakapan.
“Ngomong-ngomong, aku turut berduka cita ya?”
“Heh?” Windy menoleh, berkedip heran pada Brian.
“Soal kematian teman kamu, Jimmy,” jelasnya.
“Mas tahu darimana?”
Wajar bila Windy merasa aneh. Pasalnya, mereka baru bertemu satu kali. Tidak ada bertukar informasi apapun termasuk nama. Dan dipertemuan kedua ini Brian langsung menyatakan bela sungkawa atas kematian Jimmy. Aneh bukan?
“Hmm, selain satu apartemen, kita ternyata satu kampus juga...”
Mata Windy melebar, kaget mendengar perkataan Brian barusan.
“... Aku mahasiswa tingkat 2 jurusan Desain Grafis,” sambungnya seolah tahu apa yang ada di benak Windy. “Oh!? Kakak tingkat ternyata. Aku tingkat 1 jurusan Ilmu Komunikasi.”
Selama perjalanan pulang, mereka mulai asyik dan larut dalam obrolan. Kumpulan topik seputar kegiatan kampus atau hal lainnya menjadi elemen yang berhasil meluruhkan suasana canggung yang sempat membatasi.
Dalam sekejap, keduanya menjadi akrab, sedikit demi sedikit mulai terbuka. Selang beberapa menit, kini mereka telah sampai di apartemen. Mereka menuju lift, naik dan menekan tombol panah ke atas. Perbincangan masih terus berlanjut hingga pintu lift terbuka di lantai yang mereka tuju.
“Woah, pasti kakak jago gambar. Dari hobinya aja udah ken-...”
“Nona Windy.”
Windy belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah panggilan menyela. Windy dan Brian menoleh ke arah suara, lebih tepatnya ke arah pria berpakaian serba hitam yang sedang bersandar di pintu apartemen Windy.
Ya, dia menunggu Windy.
Ingin bertemu dengan gadis jelita itu.
Tentu, Windy sudah kenal. Karena ia adalah pria tempo hari yang datang ke sini untuk melakukan sesi interogasi saat kematian Jimmy. Ialah Detektif Jun. Tungkainya bergerak menghampiri Windy dan Brian.
“Selamat malam Nona Windy, maaf saya mengganggu anda di jam larut seperti ini. Tujuan saya kemari untuk melakukan interogasi lagi pada Nona.”
“Interogasi? Kalau ini menyangkut soal Jimmy, keterangan saya masih sa-...”
“Bukan. Ini bukan soal kematian Jimmy.” Detektif Jun mengeluarkan ponsel dari balik saku jaket. Dia membuka galeri lalu menunjukkan sebuah foto pada Windy.
“Anda kenal?” tanyanya.
Windy langsung terperanjat. Ia mundur satu langkah, tubuhnya gemetar hebat. Pupil berkaca-kaca menahan tangis. Tanpa berucap sepatah kata pun, Windy memberi anggukan. Dia tahu dan sangat kenal dengan sosok yang Detektif tunjukkan padanya.
Namun, yang membuat ia takut bukan main adalah, sosok itu tergeletak bernyawa bersama darah yang menggenang. Ada hal yang paling mengerikan di mata Windy. Yaitu bagian mulut dari sosok tersebut dijahit membentuk zigzag.
“Airin Larissa ditemukan tewas pukul 5 sore tadi di area kampus.”
─── To Be Continue