Bab 1

Jaka dan Fatimah telah menikah 5 tahun, namun belum juga memiliki keturunan. Keluarga Fatimah dan keluarga Jaka sangat mengharapkan keturunan dari mereka.

Mereka tinggal di rumah keluarga Fatimah, karena Fatimah merupakan anak bungsu. Karena keinginan mempunyai keturunan, mereka melakukan tes kesuburan.

Hari ini Jaka dan Fatimah duduk di bangku antri sebuah rumah sakit. Mereka sedang menunggu pemeriksaan.

Setelah menunggu beberapa lama, nama mereka akhirnya dipanggil. Mereka masuk ke ruangan Dokter. Disana mereka melakukan pemeriksaan setelah itu mereka menunggu hasilnya. Ada rasa takut pada diri mereka, jika salah satu dari mereka mandul maka akan menjadi petaka di rumah tangga mereka.

"Ini Pak, Bu hasilnya," kata Dokter menyodorkan surat hasil tes.

Jaka menerimanya lalu dibuka dan dibaca bersama Fatimah.

Deg

Bagai disambar petir, dalam hasil tes tersebut Jaka dinyatakan mandul. Seketika Jaka tertunduk lesu, dia tidak menyangka dirinya mandul.

"Sabar Mas, Dokter pasti punya solusinya," kata Fatimah.

"Sperma Pak Jaka sangat lemah Bu, jadi tidak memungkinkan untuk membuah sel telur," kata Dokter.

"Apa tidak ada pengobatan untuk masalah ini, Dok?" tanya Fatimah.

"Ada, namun hasilnya belum tentu berhasil," jawab Dokter.

Setelah itu mereka pulang, sedari tadi Jaka terdiam. Dia harus mengatakan apa pada keluarga Fatimah, mereka sangat mendambakan cucu dari Jaka dan Fatimah.

"Dek, bagaimana kalau keluarga kamu masih menuntut kita untuk punya anak?" tanya Jaka sedih.

"Biarkan saja Mas, Fatimah tetap terima Mas apa adanya. Apapun keadaan Mas Jaka sekarang," jawab Fatimah.

Ada rasa senang bercampur sedih dihati Jaka, meskipun dia mandul Fatimah tetap menerima dia.

"Bagaimana hasilnya? coba Ibu lihat!" serbu Ibu Fatimah yang bernama Aminah ketika melihat Jaka dan Fatimah sudah masuk ke dalam rumah.

Dengan tangan gemetar Fatimah memberikan hasil tes kesuburan mereka. Mata Aminah serasa mau copot saat melihat hasil tes mereka.

"Apa? Jaka mandul?" tanya Aminah tidak percaya. "Lihat ini hasilnya Jaka mandul!" perintah Aminah pada Rani dan Santo suaminya.

"Iya Jaka mandul," kata Rani kakak kandung Fatimah. "Kalau Jaka mandul, sampai kapanpun Fatimah tidak akan hamil, Bu," kata Rani.

"Tidak, Fatimah harus punya anak. Kalau Jaka tidak bisa memberi keturunan, kalian cerai saja!" seru Santo.

Fatimah bersimpuh di kaki Santo yang masih duduk di tempatnya.

"Pak, jangan suruh kami bercerai. Sampai kapanpun kami tidak akan bercerai walau sampai mati," kata Fatimah.

"Iya Pak, saya juga tidak akan menceraikan Fatimah," kata Jaka ikut bersimpuh di kaki Santo.

Nafas Santo memburu, dia sedang menahan rasa marahnya. Harapan dia memiliki cucu dari Fatimah telah pupus.

"Kita beritahu saja orang tua kamu Jaka, biar mereka tahu kamu itu mandul," kata Aminah kesana dengan membanting surat tadi ke meja.

"Jangan Bu, ibu ku sudah sakit-sakitan. Kalau beliau tahu fakta ini pasti dia bisa tambah parah," ucap Jaka memohon pada Aminah.

"Tapi kami tetap meminta keturunan dari Fatimah, aku tidak mau jika kalian adopsi anak," bantah Santo.

Mereka bertiga meninggalkan Fatimah dan Jaka diruang tamu, mereka sangat marah karena Jaka dan Fatimah sepakat tidak mau bercerai.

"Bagaimana ini, Rani? Kalau seperti ini terus Bapak tidak mau," kata Santo saat mereka bertiga berada di meja makan.

"Carikan saja Fatimah suami baru," kata Rani.

"Kamu gila? mana Fatimah mau?" tanya Aminah. "Lagian kalau mereka tidak bercerai mana bisa Fatimah menikah lagi?" tanya Aminah kesal dengan usul Rani.

"Carikan pria yang mau menghamili Fatimah, Bu maksudku. Hanya itu solusinya," jawab Rani. "Kalau Fatimah tidak mau kita paksa saja, kita ancam saja Jaka kalau tidak mengizinkan rencana kita. Kita ancam untuk memberitahu keluarga dia tentang kemandulan dia," kata Rani.

Santo dan Aminah menggut-manggut tanda mengerti.

"Tapi siapa yang mau menikah siri dengan Fatimah?'' tanya Santo.

"Kita pikirkan saja nanti, Rani mau pulang dulu. Mas Hasan akan pulang siang ini," jawab Rani lalu berjalan menuju pintu keluar dapur.

Fatimah dan Jaka duduk termenung diatas ranjang, mereka takut jika keluarga Fatimah akan memisahkan mereka.

"Dek, Mas takut kalau mereka memisahkan kita," kata Jaka.

"Jangan takut Mas, kita coba saja saran Dokter tadi," ucap Fatimah. "Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, Mas. Sekalipun itu keluarga aku sendiri yang melakukannya," kata Fatimah memeluk Jaka.

**

Rani sudah sampai di rumah, dia melihat suaminya sudah sampai rumah. Melihat istrinya baru pulang, Hasan nampak hanya diam saja.

"Mas, kamu tahu nggak aku tadi dari rumah ibu. Jaka dan Fatimah baru saja pulang tes kesuburan, ternyata Jaka mandul Mas," cerocos Rani.

"Bukannya bapak sama ibu ingin cucu dari mereka? lalu bagaimana?" tanya Hasan antusias.

"Aku kasih solusi aja supaya Fatimah cari pria yang mau menghamilinya supaya dapat keturunan. Ibu sama bapak sudah setuju, kami harap Jaka dan Fatimah juga setuju. Kamu punya nggak Mas, teman yang mau ?" tanya Rani.

"Nanti coba aku tanya teman-temanku di kantor. Siapa tahu ada yang mau, apalagi yang masih bujang tentu mau. Semua kan tidak terlalu terikat," kata Hasan lalu mengajak Rani makan siang.

Putra mereka telah siap di meja makan, Rani segera menyiapkan piring dan sendok.

**

Malam ini mereka berkumpul di ruang tengah, Jaka dan Hasan datang. Namun tidak dengan Ahmad putra mereka. Ahmad sedang bermain game bersama temannya jadi tidak ikut.

"Gimana Bu, sudah bilang sama mereka?" tanya Rani pelan takut Fatimah dengar.

"Sebentar lagi, mereka juga baru duduk," jawab Aminah.

"Fatimah, Jaka kami sudah menemukan solusinya," kata Santo. "Kalian yakin tidak akan bercerai, bukan?" tanya Santo pada Fatimah dan Jaka.

"Iya Pak, kami tidak akan bercerai. Apapun keadaan Mas Jaka, aku akan tetap menjadi istrinya," jawab Fatimah.

"Jaka, kamu harus setuju dengan solusi kami. Jika kamu tidak setuju, maka kami akan beritahu keluarga kamu dan pulangkan kamu," kata Santo.

Jaka berkaca-kaca, dia tidak mau orang tuanya tahu. Dia tidak sanggup melihat ibunya semakin sakit. Apalagi jika sampai ibunya tiada, maka Jaka tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.

"Insyaallah saya setuju Pak, jika itu solusi terbaik," jawab Jaka. Fatimah menoleh kearah Jaka, dia seakan tidak setuju dengan jawaban Jaka.

"Baiklah, Jaka sudah setuju. Fatimah hamillah dengan pria lain," kata Santo.

Jaka dan Fatimah terkejut mendengar ucapan Santo. Mereka tidak menyangka jika solusi yang mereka punya adalah menghadirkan orang ketiga di rumah tangga mereka.

"Tapi Pak, aku masih istri sah Mas Jaka," bantah Fatimah.

"Jaka, kamu setuju, kan?" tanya Santo.

Jaka mendongakkan kepalanya, melihat kearah Fatimah. Dia berharap Fatimah memberi solusi padanya. Namun, Fatimah sendiri hanya diam karena di takut untuk menghianati Jaka.

Bab 2

Fatimah masih menunggu jawaban Jaka, ada rasa takut pada diri Fatimah. Jaka tidak akan mengizinkan istrinya untuk berzina dengan pria lain. Tetapi Jaka juga tidak ingin menceraikan Fatimah.

"Maaf Pak, bukannya itu sama saja zina?" tanya Jaka pada Santo.

"Kalau begitu, Fatimah kamu gugat cerai saja suamimu yang tidak berguna ini," kata Santo.

"Apa? tidak. Aku tidak akan melakukan itu, Pak," tolak Fatimah.

"Benar Fatimah, gugat saja Jaka. Pria mandul seperti dia hanya akan menyusahkan kita," tambah Aminah.

"Fatimah, apa yang kamu harapkan lagi dari suami mandul? Cinta?" tanya Rani. "Apa dengan cinta saja kalian bisa bahagia? Hah aku rasa tidak," ucap Rani setengah mengejek.

"Tidak, aku tidak akan menggugat Mas Jaka. Aku juga tidak akan melakukan zina," tolak Fatimah lalu berdiri dan berlari menuju kamarnya. Dia menutup pintunya dengan kasar karena kesal pada keluarganya.

Jaka menyusul Fatimah, dia akan menenangkan Fatimah. Jaka juga tidak akan rela jika Fatimah berzina. Entah mengapa keluarga Fatimah terlalu egois tanpa mempedulikan perasaan Jaka dan Fatimah.

"Sayang, jangan menangis!" larang Jaka mendekati Fatimah yang duduk di tepi ranjang dan memeluknya.

"Mereka keterlaluan, Mas. Demi ingin mendapatkan cucu dariku, mereka rela menyuruhku berzina," ucap Fatimah sedih.

Jaka mengusap lembut pipi Fatimah, air mata telah membasahi pipi mulus Fatimah.

"Kita pasti mendapatkan jalan lain, sayang," kata Jaka mencoba agar Fatimah lebih tenang.

Di ruang tengah Santo masih tidak menyangka bahwa Fatimah sudah cinta mati dengan Jaka.

"Jaka pakai dukun apa sih, kok bisa membuat anakku itu cinta mati sama dia," kata Santo.

"Kalau dia tidak mau berzina, kita harus melakukan rencana baru, Pak. Kita jangan kalah sama Jaka, Fatimah itu keluarga kita. Lagi pula mereka tinggal di rumah ini, jadi harus tunduk pada peraturan rumah ini," kata Rani.

"Sudahlah sayang, sepertinya susah memisahkan mereka," kata Hasan.

"Tidak Hasan, kita harus buat Fatimah hamil. Bagaimana pun caranya itu," kata Santo.

Hasan dan Rani pulang, karena belum mendapatkan solusi untuk masalah Fatimah. Rani merasa bahwa adiknya itu sudah gila, mau bertahan dengan pria yang jelas-jelas mandul.

"Rani, jangan terlalu ikut campur dengan rumah tangga Fatimah. Biarkan bapak dan ibu melakukannya sendiri. Kamu jangan libatkan dirimu lagi," kata Hasan.

"Mas, aku tidak bisa. Fatimah itu adikku," bantah Rani. "Aku tidak mau Fatimah menderita karena punya suami mandul." Rani terus saja membantah.

Hasan hanya diam, dia tidak pernah bisa mengalahkan keinginan Rani. Bahkan dalam urusan rumah tangganya sendiri saja dia selalu kalah.

Rani selalu saja tidak mau dikalahkan, bahkan dia tidak pernah menghiraukan pendapat dari suaminya. Bagi Rani pendapat dan keinginan dialah yang terbaik.

**

Fatimah tertidur dalam pelukan Jaka, kini dia terbangun karena haus. Fatimah mengambil air minum ke dapur. Saat melewati kamar orang tuanya dia mendengar pembicaraan mereka.

"Fatimah terlalu bodoh, dia bertahan demi suami mandul. Jika seperti ini dia tidak akan hamil," kata Aminah kesal.

"Tenang saja, aku akan membuat Fatimah hamil," kata Santo.

Fatimah berjalan ke dapur dan mengambil minum. Dia duduk di meja makan, dia memikirkan antara memenuhi keinginan orang tuanya atau tidak. Tetapi berzina sangat tidak mungkin dia lakukan, apalagi menggugat Jaka hanya karena dia mandul.

"Fatimah, kamu disini," kata Aminah.

"Iya Bu, Fatimah haus tadi," kata Fatimah. Aminah duduk di dekat Fatimah, dia memegang tangan Fatimah.

"Fatimah, maafkan kami. Karena kami telah ikut campur dalam rumah tangga kalian. Bagi kami keturunan itu penting, Fatimah. Makanya kami sangat ingin kamu hamil," kata Aminah.

Entah mengapa Fatimah merasa bahwa Aminah bersikap lembut karena ada maunya. Semenjak permintaan mereka agar Fatimah berzina, Fatimah selalu berpikir jelek pada kedua orang tuanya.

"Fatimah, aku ingin kamu bahagia. Lihat saja teman-teman kamu, mereka sudah punya buah hati dan hidupnya sangat sempurna," kata Aminah. "Jika kamu tidak mau menggugat Jaka, kami terima. Tapi kami harap kamu bisa segera hamil, entah bagaimana caranya," kata Aminah lagi.

Setelah mengatakan itu, Aminah pergi meninggalkan Fatimah. Entah mengapa Fatimah tidak peduli dengan masalah buah hati. Bagi dia saat ini kebahagiaannya adalah bersama Jaka.

Fatimah masuk ke dalam kamar, dia berbaring di samping Jaka. Dia memandangi wajah suaminya, hingga akhirnya terlelap.

**

Pagi ini Rani sudah heboh di rumah Aminah, dia membawa undangan dari saudara mereka.

"Bu, ini loh Satria dan istrinya mengundang kita ke acara aqiqah anaknya yang baru lahir," kata Rani menunjukkan undangan pada Aminah. "Dia juga mengundang Fatimah dan Jaka, mereka berharap kita semua datang," tambah Rani.

Fatimah yang sedang menyiapkan sarapan hanya diam saja. Dia tidak mau nimbrung dengan Rani dan Aminah.

Jaka keluar dari kamar dan sudah siap untuk berangkat kerja. Rani mendekati Jaka, dia langsung menyodorkan undangan dari Satria pada Jaka.

"Jangan lupa, ajak Fatimah datang." Rani sedikit sinis.

Jaka menerima undangan tersebut dan membukanya, lalu duduk di meja makan.

"Kita akan datang ke acara Satria, kamu siapkan kadonya saja ya. Ini undangannya," kata Jaka memperhatikan undangan dari Satria.

Fatimah hanya tersenyum, mereka lalu makan bersama dengan Santo dan Aminah.

"Fatimah beli kado yang bagus, jangan beli kado murahan untuk anak Satria," kata Aminah.

"Iya, Bu." Fatimah lalu makan saja tanpa mau menjawab lebih banyak ucapan Aminah.

Jaka pamit ke kantor, dia tidak ingin datang terlambat ke kantor. Sesampainya di kantor, Jaka bertemu dengan atasannya. Dia bernama Bu Yunita, dia seorang janda beranak satu. Bu Yunita selalu mengajak putranya ke kantor. Sebagai atasan Bu Yunita orang yang sangat baik kepada karyawannya termasuk Jaka.

"Om Jaka!" panggil Jonathan pada Jaka.

"Jo, kamu sudah datang anak pintar." Jaka memeluk Jonathan. Jaka biasa memanggil Jonathan dengan sebutan Jo. Jaka dan Jonathan sangat akrab sekali, bahkan orang yang tidak tahu dikiranya Jaka adalah ayah Jonathan.

"Om, kapan kita main lagi?" tanya Jonathan pada Jaka.

"Maaf Om Jaka tidak bisa untuk saat ini, pekerjaan Om sangat banyak," tolak Jaka. Ada rasa sedih dihati Jonathan, akhirnya Jonathan menghampiri Yunita.

"Pak Jaka, maaf jika Jonathan merepotkan Bapak," kata Yunita.

"Tidak Bu, justru saya senang. Namun, saat ini saya kan banyak pekerjaan," ucap Jaka.

Jaka lalu masuk ke ruangannya dan segera kerja.

Fatimah pergi membeli kado bersama Rani, mereka terlihat sangat menjaga jarak.

"Fatimah belikan baju bagus itu," kata Rani. "Satria itu orang kaya kalau kita beli barang murah nanti nggak di pakai," kata Rani.

Akhirnya Fatimah menurut saja pada Rani, setelah itu mereka mampir makan siang di sebuah cafe.

Cafe itu dekat dengan kantor Jaka, saat Rani ke toilet dia melihat Jaka di cafe itu. Jaka duduk bersama seorang wanita.

"Jaka...," ucap Rani.

Jaka terkejut melihat Rani, dia takut jika Fatimah juga melihat dia dan Yunita sedang makan bertiga dengan Jo.

Bab 3

Jaka tidak menyangka akan bertemu Rani, Jaka segera mendekati Rani.

"Ada apa Jaka? Kamu takut jika Fatimah tahu?" tanya Rani ketika melihat raut ketakutan di wajah Jaka.

"Aku tidak akan memberitahu Fatimah, tetapi ada syaratnya," kata Rani. "Kita bicarakan nanti di rumah," kata Rani lalu pergi.

Rani kembali ke mejanya lalu memesan makanan bersama Fatimah. Mereka tidak lupa membungkus makanan untuk Aminah dan Santo.

Sesampainya di rumah, Rani menemui Aminah di kamarnya.

"Bu, aku tadi melihat Jaka dengan seorang wanita dan anak kecil," kata Rani.

"Apa Fatimah juga melihatnya?" tanya Aminah penasaran.

"Tida Bu, aku akan gunakan hal ini sebagai senjata untuk mengancam Jaka. Supaya dia mengizinkan kita bisa mencari pria untuk menghamili Fatimah," kata Rani senang.

Aminah yakin, jika Fatimah tahu suaminya keluar dengan wanita lain pasti marah.

**

Sorenya Jaka pulang dari kantor, dia melihat Fatimah sedang duduk di tepi ranjang. Melihat wajah Fatimah yang sedih membuat Aji merasa takut. Dia takut jika Rani telah memberitahu Fatimah.

Ponsel Jaka bergetar, ada pesan dari Rani. Rani menyuruh Jaka ke rumahnya sekarang.

"Dek, Bapak sama ibu kemana? kok sepi?" tanya Jaka.

"Ke rumah mbak Rani, Mas," jawab Fatimah.

"Dek, mas mau keluar sebentar ya. Kamu tidak apa-apa kan di rumah sendiri?" tanya Jaka sedikit takut.

"Iya Mas, pergilah!" perintah Fatimah.

Jaka segera ke rumah Rani, padahal dia belum mandi apalagi ganti baju.

Sesampainya di rumah Rani, disana sudah ada Aminah dan Santo.

"Duduklah, Jaka!" perintah Santo.

Jaka duduk di dekat Hasan, mereka tampak serius sekali. Jaka yakin Rani sudah bercerita tentang pertemuannya dengan Rani tadi siang di cafe.

"Jaka tanda tangani perjanjian ini," kata Rani menyodorkan sebuah map berwarna merah.

Jaka melihat isi perjanjian itu, tertulis Jaka harus mengizinkan Fatimah hamil dengan pria lain. Kedua Jaka harus memberi nafkah 5 juta per bulan pada Aminah. Ketiga Jaka harus melakukan pekerjaan rumah, mulai dari memasak hingga mencuci baju.

"Perjanjian ke tiga apa Fatimah tidak akan curiga jika aku melakukan semua?" tanya Jaka.

"Baca lagi yang bawah," kata Rani sinis.

Jaka membaca lagi, ada peraturan bahwa Jaka dan Fatimah harus setuju dengan segala rencana dan peraturan yang Santo buat. Dibawahnya lagi jika Jaka tidak memenuhi peraturan dan rencana Santo maka Fatimah akan tahu hubungan Jaka dengan wanita lain Serta orang tua Jaka akan tahu kemandulan Jaka.

"Aku dan Bu Yunita tidak ada hubungan apa-apa, mengapa harus disangkut pautkan disini?" tanya Jaka.

"Kamu terlihat sangat akrab dengan wanita itu, sepertinya wanita itu menyukai kamu," jawab Rani. "Tanda tangani saja kalau kamu masih ingin bersama Fatimah," kata Rani.

"Kalian mengapa tega sekali, aku tidak mau jika Fatimah harus bersin," tolak Jaka.

"Jaka, ingat kamu mandul. Kami tidak mau jika kamu menjadi penghalang kami mempunyai cucu," bentak Santo.

"Kalau tidak mau berzina ceraikan saja Fatimah," ucap Santo.

Jaka masih berpikir, karena dia takut jika harus meninggalkan Fatimah. Akhirnya Jaka menandatangani surat perjanjian itu. Mungkin Jaka sudah kehilangan akal sehatnya karena mau melakukan hal yang tidak dia inginkan.

'Maafkan aku Fatimah,' batin Jaka sedih.

Jaka pulang, dia tidak ingin Fatimah curiga karena dia pergi terlalu lama. Sesampaimya di rumah, Jaka langsung mandi. Sedangkan Fatimah sedang memasak untuk makan malam.

Terdengar suara tawa Santo dan Aminah, Jaka tahu mereka senang karena berhasil mendapatkan tanda tangan Jaka.

"Mas, kok ngelamun," tegur Fatimah yang melihat Jaka mau memakai baju tetapi malah melamun. "Melamunin apa?" tanya Fatimah penasaran.

"Tidak apa-apa, Dek." Jaka memakai bajunya lalu meletakkan handuknya. "Mas hanya banyak pekerjaan saja," ucap Jaka berbohong.

Ada rasa menyesal di hati Jaka, karena dia telah menandatangani perjanjian dengan keluarga Fatimah. Fatimah menyiapkan makanan, Jaka membantunya.

"Tumben Mas bantuin aku menyiapkan makan malam," ucap Fatimah tanpa rasa curiga.

"Ya sekali-kali, biar kamu tidak capek. Seharian kamu kan sudah ngerjain yang lain," kata Jaka sambil menata piring di meja makan.

Santo dan Aminah hanya tersenyum melihat anak menantunya sudah mulai mengikuti perjanjian.

"Jaka, ambilkan air minum!" suruh Aminah.

"Biar aku saja, Bu," jawab Fatimah.

"Tidak, aku maunya Jaka yang ambil. Kamu kerjakan yang lain," kata Aminah. Jaka mengambil air minum untuk Aminah lalu meletakkannya di meja depan Aminah.

"Ini Bu minumnya," ucap Jaka lalu membantu Fatimah lagi.

Jaka dengan sigap membantu Fatimah menyiapkan makan malam. Santo terlihat tersenyum sinis pada Jaka.

Setelah itu mereka makan, tidak ada yang berubah selama makan. Mereka makan seperti biasanya.

"Fatimah, ayo ikut Ibu!" ajak Aminah pada Fatimah yang akan membereskan bekas makan malam mereka.

"Biar aku bersihkan meja makan dulu, Bu," jawab Fatimah.

"Biar Jaka yang membereskan semua, kamu sudah capek seharian mengerjakan pekerjaan rumah." Aminah menarik tangan Fatimah.

Jaka langsung membawa piring kotor ke wastafel, dan menyimpan sisa makanan di almari. Lalu membersihkan meja makan dan mencuci piring. Jaka tidak pernah mengeluh, karena dia melakukannya juga untuk merindukan pekerjaan Fatimah.

Aminah mengajak Fatimah ke rumah seseorang, Fatimah merasa tidak asing dengan rumah itu.

"Fatimah kamu ingat Angga?" tanya Aminah sembari turun dari sepeda motornya.

"Iya, ini rumah Angga, Bu. Ngapain kita kesini?" tanya Fatimah penasaran. Pasalnya dulu dia dan Angga pernah menjalin hubungan namun kandas. "Fatimah tidak enak dengan keluarga Angga, apalagi dengan istrinya," ucap Fatimah merasa tidak enak hati.

Aminah tidak menjawab, dia mengetuk pintu rumah Angga. Terlihat sosok pria tampan dengan pakaian santai membuka pintu.

"Tante Aminah, Fatimah," ucap Angga nampak kaget dengan kedatangan Aminah dan Fatimah ke rumahnya.

"Bu, balik saja ya," bisik Fatimah.

"Silahkan masuk, te, Fatimah! perintah Angga.

Aminah menarik tangan Fatimah agar masuk ke dalam rumah Angga. Mereka duduk di sofa ruang tamu rumah Angga.

"Aku dengar, istri Nak Angga telah meninggalkan Nak Angga," ucap Aminah tanpa basa-basi.

"Benar Bu, entahlah. Mungkin dia lebih mencintai kekasihnya dibandingkan aku dan putranya." Angga duduk di sofa single.

Terdengar langkah kaki, seorang bocah berusia 4 tahun memasuki ruang tamu. Dia melihat kearah Fatimah, dia tersenyum pada Fatimah. Fatimah pun membalas senyum bocah kecil yang pasti putranya Angga.

"Dia anak aku, namanya Shaka," kata Angga memperkenalkan Shaka pada Fatimah dan Aminah.

"Mama... mama," panggil Shaka sembari mendekati Fatimah.

Fatimah terkejut mendengar bocah kecil itu memanggilnya mama.

'Mungkin dia merindukan Ibunya,' pikir Fatimah.

"Mama jangan pergi tinggalkan Shaka," ucap Shaka. Angga mendekati Shaka, dia memeluk putranya dan mencium keningnya.

"Dia bukan Mamanya Shaka," kata Angga dengan lembut.

"Ini Mamanya Shaka," kata Shalat melepas pelukan Angga dan memeluk Fatimah.

Fatimah tidak tahu harus berbuat apa melihat anak kecil ini memeluknya dan menganggapnya sebagai Mamanya. Aminah tersenyum senang, ada rencana apa di balik senyumnya itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED