BRUKK...!
Badan Arini ambruk terjatuh terasa lemah lunglai, tatkala melihat isi pesan chat sang suami dengan seorang perempuan yang bernama Mira.
Arini duduk lemah seakan tidak berdaya di bawah meja rias di dalam kamarnya.
Hati wanita mana yang tidak kesal, kecewa, sedih. Tatkala membaca isi pesan yang begitu romantis dan seakan wanita yang berada di pesan tersebut seolah-olah wanita simpanan sang suami.
Arini menatap lekat ke arah foto profil dari sang wanita tersebut. Dia terlihat cantik dan bajunya begitu seksi seakan sedap di pandang kaum adam.
Arini hanya menghela napas secara perlahan dan nampak dia meneteskan air mata. Mungkin hanya itu yang dia bisa lakukan saat ini. Dia tidak mau rumah tangganya yang sudah dia bina dengan sang suami selama 4 tahun hancur gara-gara adanya seorang wanita yang datang menghampiri kedalam kehidupannya.
Arini berprinsip demi anak dan dia harus mempertahankan mahligai rumah tangga tersebut bersama sang suami dan putrinya yang bernama Aura yang kini baru menginjak 3 tahun.
____
Terdengar suara kaki Bagas yang sedang berjalan, ketika memasuki kamar. Arini pun seakan menyadari kalau sang suami akan masuk ke dalam kamarnya tersebut. Tanpa pikir panjang Arini langsung menyimpan kembali ponsel sang suami yang tadi dia ambil di atas nakas.
Arini mencoba tidak bersifat ceroboh dan akan bersikap seperti biasa seakan dia tidak mengetahui dengan apa yang sedang terjadi.
"Eheem!"
Suara deheman terdengar dari sang suami ketika membuka pintu kamar dan Bagas pun nampak tidak menampakkan gelagat yang aneh ketika menghampiri sang istri yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Ma, besok aku ada tugas keluar kota untuk beberapa hari dan tolong siapkan baju untuk di bereskan ke dalam koper," ucap Bagas.
____
Kemudian Bagas pun berdiri dan mengambil ponselnya yang tengah berada di atas nakas. Dia pun beralih tempat duduknya ke kursi kaca rias. Arini pun nampak mendelik karena dia pikir mungkin sang suami akan memberikan sebuah pesan kepada wanita yang baru saja dia baca isi pesan chat nya, di layar ponsel suami.
Tersenyum lebar Bagas ketika menatap layar ponsel. Seakan ada kabar bahagia dengan isi pesan yang berada di pesan tersebut yang tiba-tiba muncul setelah Bagas pertama yang memberikan sebuah kabar.
Hati Arini merasa di remas dan terbakar api cemburu. Dia pun mencoba menetralkan deru napasnya yang kian tidak beraturan. Dalam benaknya berpikir, apakah dia bisa menyindir sang suami dengan isi pesan yang sempat dia baca di ponsel milik sang suami.
"Mas, Mira itu siapa!?" batin Arini menjerit.
Begitu lama Arini menatap sang suami yang tengah asik memainkan ponselnya. Apakah Bagas menyadari atau dia sedang berpura-pura tidak melihat sang istri yang tengah menatapnya.
Mungkin Bagas tidak memperdulikan itu semua yang ada di pikirannya adalah, Arini sosok yang pendiam dan selalu mengalah. Jadi dia bebas melakukan apapun karena istrinya wanita lemah dan penurut terhadap sang suami.
____
Dengan darah yang mendesir dan mata yang berkaca-kaca Arini pun berlalu dari hadapan sang suami untuk mengambil beberapa baju yang akan dia masukkan ke dalam koper. Karena permintaan Bagas dia pagi akan pergi keluar kota untuk urusan kerja.
Sedikitpun tidak ada rasa curiga dengan kepergian Bagas keluar kota. Arini berpikir positif kalau Bagas sang suami keluar kota untuk kepentingan kerja dan tidak lebih dari itu.
"Buatkan kopi dong!" titah Bagas dengan pandangan masih tetap fokus ke layar ponsel.
____
Arini yang baru saja menyimpan beberapa baju ke dalam koper kemudian dia berlalu ke dapur.
Namun sebelum dia sampai di dapur bunyi ponselnya berdering beberapa kali yang dia simpan tadi di atas kursi sofa.
Arini pun bergegas mengambil ponsel tersebut dan setelah ponsel tersebut tengah berada di genggaman tangannya. Terlihat sang sahabat Novi menelepon.
"Tumben Novi telpon ada apa." gumam Arini.
Sepertinya Arini mengabaikan bunyi suara telepon tersebut karena dia mau membuatkan kopi untuk Bagas. Arini pun menyimpan kembali ponselnya dibatas kursi sofa.
Namun baru saja dia melangkahkan kakinya untuk berlalu dari sana, terdengar bunyi pesan muncul. Arini pun sontak membalikkan lagi badannya dan mengambil kembali ponselnya tersebut.
Terlihat Novi memberikan sebuah pesan.
{"Aku tadi melihat suami kamu di sebuah kafe dan dia terlihat mesra dengan seorang wanita,"}
Deg!
Jantung Arini berasa mau copot tatkala membaca pesan tersebut. Dadanya bergemuruh hebat dan peluh pun terlihat seketika bercucuran. Tangan Arini bergetar ketika memegang ponsel tersebut.
"Apakah yang di ucapkan oleh Novi itu benar adanya, atau hanya isapan jempol semata?" batin Arini berkecamuk hebat.
Arini pun mencoba membalaskan pesan kepada sahabatnya itu untuk memastikan kebenarannya
"Ma, cepat! Kopinya, lama banget." teriakan sang suami mampu membuat hati Arini terkejut.
Arini pun kembali menyimpan ponsel tersebut di atas kursi sofa dan dengan cepat dia menyeret langkah kakinya ke dapur untuk membuat kopi.
____
"Lelet banget, ngapain sih!" bentak sang suami. Tatkala melihat Arini baru saja memasuki kamar dan membawa secangkir kopi.
Arini terlihat gugup ketika Bagas bertanya kepada dirinya. Karena Arini tengah memikirkan kabar dari sahabatnya, bahwa sang suami tadi tengah bermesraan dengan seorang wanita di sebuah kafe.
Terlihat Arini dihinggapi rasa serba salah yang teramat. Apakah dia harus bertanya kepada suaminya tentang sosok wanita yang tadi pergi bersama suaminya ke sebuah kafe, biar semuanya jelas. atau Arini cukup memendam semuanya dan pada akhirnya semua akan terungkap seiring waktu berjalan.
Arini hanya menghela napas lelah dan dia pun merebahkan badannya di atas ranjang sambil memeluk sang anak dari arah belakang. Arini terlihat mengusap-usap kepala rambut sang anak dan menciumnya dengan lembut.
Tak terasa bulir putih pun lolos seketika di ujung matanya. Arini pun memejamkan kedua matanya dengan terpaksa karena dia ingin menyimpan rasa lukanya.
______
Terdengar suara tawa renyah dari Bagas ketika dia membalaskan pesan lewat sambungan selularnya. Sepertinya Bagas sedang di mabuk asmara.
{"Pokoknya aku minta oleh-oleh dari kamu Mas, setelah pulang dari luar kota nant,"} tulis pesan Mira wanita selingkuhan Bagas.
{"Oke, untuk kamu pasti apapun Mas, belikan,"} balas pesan Bagas.
Bagas kemudian menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Terdengar dia menggeser kursi, kemudian dia berlalu dari kamar. Arini tahu pasti Bagas pindah duduk di teras rumah sambil menikmati sepoi angin malam.
_____
TING!
TING!
Beberapa bunyi pesan muncul dan terdengar datangnya dari ponsel milik Bagas. Arini yang sedari tadi hanya berpura-pura tertidur. Dia pun sepertinya dihantui rasa penasaran yang teramat besar dengan beberapa pesan yang masuk ke layar ponsel sang suami.
Dalam batin arini berkata mengapa Bagas tidak membawa ponselnya dan dia hanya membawa secangkir kopi ketika keluar kamar dan pindah duduk di teras rumah.
Arini kemudian bangkit dari ranjangnya dan mengintip dari arah jendela kamar. Terlihat Bagas sedang menikmati kopi dan pandangan matanya tertuju ke jalan rumah.
Arini pun dengan ragu lalu membaca notifikasi yang muncul di ponsel Bagas. Mata Arini membulat, guratan kesedihan terpancar dari matanya.
Betapa terkejut hati Arini karena pesan kembali muncul dari Mira yang mengatakan rasa terima kasih dia terhadap Bagas karena siang tadi Bagas sudah mentraktir makan di sebuah kafe.
"Berarti benar apa yang di ucapkan oleh Novi," gemuruh hebat terasa menerpa di dada dan saat ini hati Arini terasa di remas.
Bersambung...
Pagi sekali Bagas tengah bersiap untuk pergi meninggalkan rumah. Dia akan pergi keluar kota untuk urusan kerja. Terlihat Arini sangat sibuk mempersiapkan sarapan untuk sang suami.
Bagas kalau makan lauknya tidak cukup satu menu. Tapi harus ada beberapa menu yang harus tersedia di meja makan.
Rengekan anak pun yang sedang menangis seakan tidak dihiraukan oleh Arini karena dia pikir waktu begitu mepet dan jika dia mengambil anaknya untuk mencoba menenangkan pasti akan memakan waktu lama.
Bagas nampak tidak begitu sayang terhadap sang anak. Tatkala melihat sang anak menangis pun hanya tatapan sinis yang dia berikan kepada sang anak.
Sontak sang anak merasa takut dengan tatapan tajam sang Papa dengan mata yang melotot.
Hening seketika tangisan sang anak dan Arini pun terlihat lega karena dia merasa tidak terburu-buru untuk memasak karena rengekan tangis sang anak.
____
"Aura, sudah bangun?" Arini memeluk tubuh sang anak dan tersenyum lebar. Tatkala datang dari arah dapur.
Nampak sang anak memeluk sang Mama begitu erat dan terlihat ketika sang anak melirik ke arah sang Papa, seperti dihinggapi rasa takut dan seperti bukan sosok Papa yang kini tengah berada di hadapannya itu.
"Kenapa Aura, kok memandang Papa seperti itu," sindir Bagas yang terlihat menampakkan rasa sayang dan peduli terhadap sang anak di depan istrinya.
Aura pun berpikir dalam hatinya, mengapa tadi Papanya seakan mau menerkam dirinya. Tapi setelah ada kedatangan sang Mama, Papanya berpura-pura baik.
____
"Sini Papa cium dulu, kan Papa mau pergi lama," ucap Bagas sambil berjalan ke arah sang anak yang nampak tambah merekatkan pelukannya ke tubuh sang Mama.
Arini pun berpikir dalam hatinya. Mengapa sang anak seperti sedang dihinggapi rasa takut oleh sang Papa. Tapi Arini mencoba menepis semuanya dan dia berpikir mungkin sang anak baru bangun tidur dan masih lelap terbawa suasana mimpi buruk.
Arini berlalu ke meja makan dengan menggendong sang anak dengan di ikuti dari arah belakang oleh Bagas.
Arini selalu jadi istri patuh dan diam jika Bagas berbicara dengannya. Karena kalau dia menyela omongan sang suami, pasti sang suami matanya langsung melotot dan tidak mau kalah.
____
"Aku mau pinjam uang sama kamu Ma," ucap Bagas di sela-sela sedang makan. Dan pandangan Bagas melirik ke arah kalung yang tengah di pakai oleh sang istri.
Arini seakan tahu maksud dari sang suami bahwa dia akan meminjam uang dari hasil menjual kalung yang tengah Arini pakai. Karena sebelumnya Bagas sudah membicarakan hal itu seminggu yang lalu kepada Arini, bahwa dia ingin meminjam kalung Arini untuk keperluan proyeknya dan Bagas berdalih akan membayarnya bulan depan.
"Baru saja aku memakai kalung ini dari hasil uang arisan," batin Arini seakan tidak rela jika kalung tersebut di jual oleh Bagas, meskipun bulan depan akan digantikan oleh sang suami.
Bagas pandai merayu sang istri dan dia memaksa secara halus agar kalung itu dijual Arini, dan setelah itu uangnya nanti di transfer ke rekening Bagas.
Perdebatan kecil terlihat di antara sepasang suami istri itu. Bagas yang dengan bersikukuh untuk menjual kalung Arini, sedangkan Arini seakan tidak rela jika kalungnya akan dia jual untuk kepentingan pekerjaan Bagas.
____
Entah mengapa terasa janggal jika Bagas meminta kalungnya untung dijual. Bukannya bulan lalu dia bilang minggu ini Bagas akan mendapatkan uang bonus dari kantor.
Arini pun memberanikan diri untuk bicara kepada Bagas perihal uang bonus tersebut dengan berhati-hati karena takut tersinggung.
"Pah, bukannya kamu akan mendapatkan uang bonus dari kantor," lirih Arini dengan tatapan redup mencoba menetralkan hati sang suami.
"Bonus apa? Tidak jadi dapat bonus," jawabnya enteng.
Arini pun seakan tidak percaya dengan pengakuan sang suami karena Indra teman dari Bagas yang suka ke rumah, dia waktu itu bilang juga akan mendapatkan bonus dari kantor. Begitupun dengan Bagas.
"Tapi kata indra---!" Arini nampak tidak melanjutkan ucapannya karena terpotong oleh Bagas.
"Kamu jangan percaya Indra!" bentak Bagas.
Indra salah satu teman Bagas di kantor dan dia selalu datang ke rumah Bagas. Dia usianya masih muda sekitar 27 tahun dan belum menikah. Kedekatan anaknya Bagas dengan Indra cukup erat.
Mungkin boleh di bilang dari pada dengan Bagas, Aura sang anak lebih dekat dengan Indra karena Indra pribadi penyayang.
____
"Pokoknya nanti siang kalung itu sudah kamu jual dan uangnya segera transfer ke rekening aku. Jangan takut gak akan di ganti pasti aku ganti," sindir Bagas dengan tegas sambil melengos keluar.
Arini pun nampak mengekor dari arah belakang Bagas. Dia hanya bisa menatap punggung Bagas dan menghela napas panjang.
Bagas kemudian memasuki mobil dengan muka cemberut, mungkin takut jika sang istri benar-benar tidak menjual kalung tersebut.
Sebelum Bagas mengeluarkan mobilnya, nampak dia berucap lagi kepada sang istri untuk menjual kalungnya itu. Arini pun mengangguk dengan terpaksa.
"Hati-hati Mas!" Arini nampak melambaikan tangannya dan tersenyum tipis saat mobil Bagas keluar dari halaman.
____
"Arini!"
Teriak seorang wanita dari arah halaman rumah. Tatkala Arini membalikkan tubuhnya untuk masuk kembali kedalam rumah, setelah kepergian sang suami.
"Novi!"
Arini tersenyum dan terlihat kaget karena kedatangan sahabatnya itu tidak memberikan kabar terlebih dahulu.
"Suami kamu pergi ya, barusan aku lihat mobilnya keluar," Novi nampak memeluk Arini tatkala sudah turun di motornya.
Arini hanya menganggukkan kepalanya dan mereka pun duduk di depan teras rumah. Novi terlihat menyapa Aura kemudian Aura di gendong oleh Novi.
Aura nampak terlihat senang tatkala di gendong oleh sahabat Mamanya itu. Beda dengan perlakuan Bagas Kepada anaknya. Aura tidak dekat dengan sang Papa.
____
"Arini, aku cuma mau bilang kemarin itu loh. Aku---!" nampak Novi menatap lekat kedua bola maya Arini dan nampak ragu untuk memulai pembicaraan.
Terlihat Arini seakan memahami isi pembicaraan dari Novi yang hendak di sampaikan. Bahwa Bagas kemarin bersama wanita lain di sebuah kafe.
Nampak Arini membuang napas kasar, dia seakan tidak ingin mendengarnya dari mulut Novi karena itu akan menyakitkan.
"Nov, mau minum apa? Bentar ya, aku ambilkan minum." Arini pun dengan cepat melengos dari hadapan Novi.
Dada Arini tersentak seketika karena dia rasanya belum siap untuk mendengar pengakuan dari mulut Novi, bahwa Bagas bermain serong di belakangnya.
_____
Crack!!!!
Terdengar nyaring suara gelas terjatuh di dalam dapur. Novi nampak terperangah dengan bunyi suara tersebut. Dia pun nampak dengan cepat berlalu ke arah dapur untuk memastikan keadaan.
"Arini, kenapa gelasnya pecah ya!?" Novi berjalan ke arah dapur. Sementara Aura dia dudukkan di atas kursi teras.
Terlihat Arini sedang memungut serpihan gelas yang sudah pecah dan disana yang sudah terisi kopi panas. Novi pun dengan cepat menghampiri dan membantunya.
"Konon katanya kalau tiba-tiba gelas terjatuh dan pecah itu ada pertanda-!" ucap Novi
"Akh, kamu jangan mikir macam-macam," Arini pun kembali mengambil gelas untuk membuatkan kopi kembali.
"Stop! Jangan kamu bicara tentang suamiku Nov," batin Arini terasa was-was jika Novi spontan bercerita masalah Bagas bermain serong dengan wanita lain.
Bersambung...
Bagas tertawa lepas yang tengah berada jauh disana, ketika menikmati alunan musik yang menghentakkan badannya. Seakan pertanda bahwa dia sedang dihinggapi rasa gembira. Mata dari Bagas terlihat sudah merah menyala, akibat minuman alkohol dan ada beberapa wanita yang berada di pinggirnya.
Botol minuman pun nampak berserakan di atas meja beserta puntung rokok. Suara renyah menggoda dan tubuh seksi dari wanita tersebut sungguh membuat tergoda para lelaki hidung belang. Di tambah bau parfum yang wanginya menyengat khas wanita malam, seakan menambah betah berlama-lama untuk menikmati malam panjang.
___
"Bro! Dari sini mau pindah ke pub lain tidak?" tanya teman dari Bagas yang ketika berucap sama tercium bau alkohol yang menyengat.
"Pulang ke mes saja, kepalaku pusing." jawab Bagas sambil memegang keningnya yang terasa pusing akibat minum alkohol yang berlebihan.
Ocehan dari mulut Bagas terdengar tidak jelas dan seakan membuat para wanita yang tengah menggoda Bagas mepet terus memeluknya, karena Bagas terlihat mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
Sang teman langsung menarik tubuh Bagas dan dengan cepat mengambil uang yang tengah berada di tangan Bagas. Sang teman tidak mau jika para wanita tersebut mengambil semua uang yang di pegang oleh Bagas sekarang.
"Ayo! Kita kembali ke tempat mes," ucap sang teman yang bernama Hendra.
Di dalam mobil nampak Bagas ngoceh terus akibat minuman keras yang di teguknya terlalu banyak. Bagas kemudian merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya. Terlihat dia menelepon sang istri.
____
{"Halo, Ma--! Ini Papa perjalanan pulang. Buka pintunya!"} ucapnya seakan tidak nyambung, padahal dia pulang ke tempat mes bukan ke rumah Arini sang istri.
Terdengar di sambungan telepon Bagas ngomong tidak karuan dan ngoceh tidak jelas yang mengakibatkan di sebrang sana Arini dihinggapi rasa curiga dan tanya atas kelakuan sang suami.
Tiba-tiba Hendra sang teman merebut ponsel dari Bagas karena obrolan bagas dan sang istri sudah tidak nyambung.
Tut...
Tut...
Sambungan telepon terputus.
___
Nampak Arini mengernyitkan dahinya seakan bingung dengan kejadian barusan karena dia baru saja bangun tidur ketika mendengar bunyi suara telepon dari Bagas.
"Apakah Mas Bagas sedang mabuk!" batin Arini berkata dengan penuh curiga.
Arini pun nampak gelisah seakan tidak bisa meneruskan tidurnya lagi karena masih teringat dengan kejanggalan ketika menerima telepon yang baru saja dia terima dari sang suami.
Arini pun dihinggapi rasa penasaran. Kemudian dia mencoba menghubungi Bagas kembali. Tapi sia-sia ponselnya mati sepertinya ponsel Bagas tidak aktif.
_____
Keesokan harinya.
Terdengar pagi sekali Bagas menelepon Arini. Nampak seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa dengan kejadian semalam dan dari cara bicara Bagas pun terdengar normal
"Apa aku semalam.bermimpi!" batin Arini penuh tanya.
Arini pun dihinggapi rasa penasaran, lalu dia pun menanyakan kejadian semalam ketika sang suami menelepon. Terdengar Arini seperti mengintrogasi sang suami. Bagas pun terdengar tidak terima jika sang istri seakan memojokkan dia.
"Aku semalam tidur, mungkin aku sedang bermimpi dan aku menelepon kamu atau sambungan telepon ke pijit." alasan Bagas kepada Arini seakan sulit di mengerti.
Bagas pun kemudian menanyakan uang kalung mengapa sampai sekarang belum di transfer ke dia, padahal Bagas sedang butuh. Uang Bagas semalam habis dipake untuk bersenang-senang dan memberikan uang tips kepada wanita malam.
Arini pun berdalih kepada Bagas, dia belum sempat menjual kalung tersebut dan baru hari ini dia akan menjualnya. Arini hari ini mau menjual kalung sekalian mau menginap di rumah Ibunya karena jarak toko emas dan rumah sang Ibu sangat dekat.
_____
"Cepat! Pagi ini kamu pergi ke toko emas nya, jangan sampai kayak kemarin, aku nunggu uang dari kamu," titah Bagas terdengar kesal.
Arini hanya mengucap kata iya, dan dia pun nampak menutup sambungan teleponnya karena beralasan setelah mandi, dia akan secepatnya pergi ke toko emas.
TING!
Tiba-tiba pesan muncul dari Novi yang mengatakan. Apakah jadi Arini pergi ke Ibunya, dan dia akan siap mengantar dengan sepeda motornya. Arini pun tidak menolak ajakan dari sahabatnya itu.
{"Aku mau mandi dulu dan kamu langsung masuk ke rumah. Anakku Aura sedang nonton televisi,"} balas pesan Arini.
Arini pun nampak mengambil handuk yang menggantung di jemuran belakang. Setelah itu dia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
_____
Tin!
Tin!
Suara klakson sepeda motor membuyarkan pandangan Aura yang sedang sibuk menonton televisi. Anak kecil itu kemudian berlari kecil menghampiri suara sepeda motor yang datang memasuki halaman rumahnya.
Aura nampak tersenyum renyah tatkala melihat kedatangan sahabat Mamanya datang.
"Nov, bentar ya, aku pakai baju dulu," Arini nongol di balik pintu kamar dengan masih memakai handuk yang melilit di badannya.
Tatapan Novi lekat ke leher sahabatnya itu. Dia begitu teliti dengan detail setiap inci tubuh dari Arini. Dalam batin Novi berkata, kemanakah kalung yang setia melilit di leher jenjang Arini.
Novi sedikit kepo dan dia pun berpikir nanti setelah Arini keluar kamar pasti akan menanyakan kalung itu.
Sebelum mandi tadi Arini telah membuka kalung tersebut untuk dia simpan di dalam dompet karena agar pas nanti di jual tidak perlu lagi repot untuk membukanya.
____
Ceklek..!
Pintu terbuka lebar dan terlihat sosok Arini yang terlihat memakai pakaian yang sopan yaitu baju gamis dengan kerudung senada yang menutup dadanya.
"Gimana aku mau nanya masalah kalungnya, lehernya tertutup," batin Novi.
Novi pun seakan mengurungkan niatnya untuk lebih serius menanyakan perihal masalah kalung tersebut kepada sahabatnya tersebut.
"Nov, sebelum ke rumah Ibuku, antar aku ke toko emas. Aku mau menjual kalungku," Arini terlihat menghela napas perlahan, seakan tidak ada keikhlasan di raut wajahnya akan menjual kalung itu.
"Terjawab sudah semua dan aku tidak perlu bertanya kalung itu kemana," batin Novi.
Tapi Novi masih dihinggapi rasa penasaran mengapa sahabatnya itu akan menjual kalung. Padahal kalung tersebut baru dibelinya dan ketika membeli kalung tersebut di antar oleh Novi.
____
"Kenapa kamu jual kalung itu?" tanya Novi kepada Arini dengan ragu takut sang sahabat tersinggung dengan pertanyaannya.
"Mas Bagas suruh jual. Katanya uangnya akan dia pakai untuk buat proyek," jawab Arini singkat.
Novi mengernyitkan dahi seakan tidak percaya kalau hasil penjualan kalung akan di gunakan Bagas untuk keperluan proyek kerjanya. Terlihat muka dari Novi penuh tanya dan rasa tidak percaya.
"Sudah kamu jangan mikir macam-macam sama suamiku," Arini nampak kesal.
Arini pun berlalu keluar dengan membawa sang anak dengan di ikuti oleh Novi dari arah belakang.
___
"Kamu yakin, Mas Bagas akan gunakan uang tersebut untuk urusan pekerjaan?" penuh curiga Novi ketika bertanya tatkala berada di halaman rumah sebelum menaiki sepeda motornya.
Sontak Arini matanya melotot seperti dihinggapi rasa kesal. Dia berpikir mengapa sahabatnya itu seakan mencampuri urusan rumah tangga orang lain.
"Kamu kenapa ikut campur!" sindir Arini dengan mata mendelik.
Bersambung.