Syafana lalu berlari sekencang mungkin saat mendengar sang ayah benar-benar emosi. Vas bunga di ayunkan tepat di samping tubuhnya.
Brakk! Pyar! Dengan suara lantang vas bunga itu terlempar dan pecah menghantam tembok. Untung saja lemparan itu meleset jauh dari tubuh Syafana. Allah masih melindunginya.
Syafana pun terus berlari menuju ke garasi. Ia berhasil mengendarai mobil CRVnya dan bergegas meninggalkan rumah yang mengerikan itu. Meninggalkan sang ayah tiri yang semakin brutal kepadanya.
Dengan nafas yang ngos-ngosan Syafana terus menyetir mobilnya melaju memecah kemacetan Ibu kota Jakarta. Ia berhasil lepas dari jerat maut. Jantungnya benar-benar berdetak tak karuan kaki dan tangannya masih bergetar mengingat kejadian menyeramkan tadi.
Itulah yang membuat Syafana ingin segera pergi dari rumahnya. Dengan menikah Ia akan bisa mudah melepaskan diri dari cengkraman sang ayah tiri. Syafana pun terus membawa mobilnya ke arah kota Jakarta.
Syafana yang telah trauma dengan kejadian pagi tadi tak berani pulang ke rumahnya saat ini. Ia pun terpaksa berangkat ke kantor sambil memakai baju seadanya.
Jam telah menunjukkan pukul 16.00 sore. Ia telah selesai dengan pekerjaan di kantornya dan waktu yang pas untuk menjemput Arman, calon suami Syafana.
Ia akan menembus kemacetan ibukota kembali untuk menjemput sang empunya hati. Perjalanan ke kantor Arman sekitar 25 menit dari kantor Syafana.
Sesampainya di depan kantor Syafana pun melihat Arman sudah berdiri menunggunya.
"Mas Arman?" panggil Syafana dengan lembutnya.
Memantik gelora hati yang begitu menggeliat dalam relung hati Syafana dengan memanggil nama sang empunya hati. Saat Syafana bertemu dengan Arman ia bisa melupakan lara hatinya dengan sang ayah.
Mendengar seorang wanita cantik menjemputnya membuat Arman seorang laki-laki muda berusia 28 tahun itu pun bahagia tak kepalang. Ia lalu menoleh ke arah pemilik suara lembut yang menggetarkan hatinya itu, suara yang menemaninya 5 bulan belakangan ini.
Cinta Syafana dan Arman begitu sederhana, hingga getaran cinta itu pun muncul dihati keduanya dan mereka pun memutuskan untuk menikah 3 hari lagi.
"Hay Syafana. Aku disini menunggumu!" ucap Arman dengan senyuman mengembang di bibirnya.
Laki-laki yang telah berdiri di depan perusahaan Valerindo corps yang menjabat sebagai asisten CEO. Dia mendapatkan jabatan itu berkat promosi yang diberikan Vania kepada atasannya yang tak lain adalah keluarga Vania sendiri.
"Maaf aku baru datang mas. Ayo masuk kita berangkat." jawab Syafana dengan lembutnya.
"Eh lo udah dijemput tuh Man?" ucap Hanafi dengan tawa bahagia.
"Iya nih gue duluan ya!" jawab Arman sembari tersenyum melihat ke arah teman-teman nya.
"Cie mau malam mingguan nih ye!" sambung Leo ikut menggoda Arman yang sudah terjebak malu tersebut.
Wajah Arman memerah ia tersipu malu tatkala teman-temannya menggodanya.
"Ah kalian ini bicara apa sih aku mau mengantar Syafana pergi mencari cincin pernikahan." jawab Arman dengan bahagianya.
Senyum di wajahnya tak memungkiri bahwa ia sedang kasmaran. Arman pun lalu berjalan memasuki mobil Syafana dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Meninggalkan teman-temannya yang berdiri di sampingnya.
Melihat ada Leo dan Hanafi yang berdiri bersama dengan Arman, Syafana pun mengucapkan salam dengan ramahnya.
"Selamat sore Mas Leo, selamat sore Mas Hanafi." sapa syafana dengan senyuman manis.
Syafana adalah perempuan cantik yang sangat menjaga penampilannya dia selalu memakai baju yang sopan di kantor dan menggunakan hijab yang panjang menutupi dadanya.
"Selamat sore juga mbak Syafana." jawab mereka berdua serempak.
"Gue duluan ya, bye!" ucap Arman dari dalam mobil.
"Gimana mas lancar kerjanya hari ini?" tanya Syafana membuka obrolan dengan manisnya.
mobil mereka pun terus melaju meninggalkan perusahaan Valerindo corps memecah kemacetan ibu kota.
"Alhamdulillah lancar. Ternyata aku baru tahu kalau kenaikan jabatanku karena dipromosikan oleh Vania. Pemilik Valerindo corps ternyata masih keluarga Vania." ucap Arman dengan bahagianya.
"Oh begitu ya mas. Hebat ya bisa bawa mas jadi asisten CEO. Oh iya dia tau kita mau nikah?" tanya Syafana.
"Iya dia tahu, aku cerita banyak tentang rencana pernikahan kita." ucap Arman dengan bahagianya.
"Benarkah lalu apa reaksinya mas?" tanya Syafana lagi. Ia seakan penasaran dengan jawaban Arman yang seolah begitu mengidolakan Vania.
"Iya aku mengatakan kepadanya kalau kita akan cari cincin pernikahan lalu dia mengatakan padaku kalau mau cari cincin pernikahan beli di Jacob Jewelry. Disitu katanya bagus-bagus cincinnya soalnya itu langganan dia biasanya beli cincin." ucap Arman dengan semangatnya.
Seolah perkataan Vania itu membuat hatinya berbunga-bunga. Syafana pun mulai resah mendengar cerita Arman mungkinkah Vania menaruh hati kepada calon suaminya.
"Oh ya? Benarkah? wah seru sekali sepertinya, lalu Mas Arman bicara apa lagi dengan Vania?" tanya Syafana lagi.
Raut wajahnya yang semula berbinar kini berubah kecut. Syafana terus memancing Arman agar bercerita tentang Vania.
"Ya biasalah ngobrolin masalah kerjaan juga katanya dia mau bantu kita kalau kita kebingungan mencari souvenir pernikahan. Dia bisa dimintai tolong jadi di bawah santai aja sayang!" ucap Arman tidak ingin membuat Syafana marah.
Melihat raut wajah calon istrinya yang berubah kecut membuat Arman pun berhati-hati dalam perkataan nya.
"Kamu marah ya? Jangan marah Syafana, toh dia juga teman kantorku bukan siapa-siapa. Kamu juga kenal kan sama Vania? Jadi kamu nggak perlu marah ya?" Pinta Arman sambil memegang tangan kiri Syafana yang asyik menyetir itu.
"Ah ya nggak lah, nggak mungkin aku marah aku kan kenal dia!" ucap Syafana dengan gaya bicara yang cuek.
"Kamu nggak suka ya aku cerits tentabg Vania?" duga Arman.
"Tidak mas! Aku cuma tidak suka saja mendengarnya," protes Syafana lirih.
"Aku kemarin ketemu sama Mas Indra." ucap Syafana mengalihkan pembicaraan.
"Apa? Lalu dia bilang apa?"
"Nggak banyak. Dia cuma cerita kalau hubungan nya dengan Anisa sudah selesai. Mereka berpisah karena beda prinsip. Jadi susah untuk menentukan arah dan tujuan hubungan mereka." ucap Syafana dengan seriusnya.
Syafana pun melontarkan pertanyaan ultimatum. "Mas Arman serius kan mau menikah denganku? Atau mas hanya sekedar menikah dan selesai begitu saja?"
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Kamu itu jangan suka menuduhku yang tidak-tidak. Buat apa aku menikahimu kalau aku tidak serius. Buang-buang waktuku saja!" jawab Arman ketus.
"Ya kan aku tanya Mas. Aku rasa akhir-akhir ini Mas Arman sering tidak jawab telponku. Mas memangnya sesibuk itu ya?"
"Kan aku sudah bilang kerjaanku di kantor banyak. Sudahlah jangan berdebat. Aku tidak mau bertengkar denganmu!" jawab Arman dengan ketusnya.
Gemercik rintik hujan membasahi mobil Syafana seperti hatinya. Rintik hujan itu pun kian masuk membasahi relung hatinya karena persiapan pernikahannya semakin dekat tetapi terasa semakin rumit.
"Kok wajah kamu gitu sih sayang? Kamu marah ya?" tanya Arman yang penasaran melihat Syafana bermuka datar.
"Ya nggak gitu Mas semua persiapan pernikahan mulai cari WO, make up, foto prewed semuanya hingga cari cincin pun aku yang memikirkan sendiri!" jawab Syafana dengan kesalnya.
"Ya kan aku sibuk kerja kamu kan tahu sendiri aku berangkat kerja jam berapa pulang jam berapa. Sekarang aku bisa menemanimu cari cincin aja udah bagus kan? Sudahlah Syafana aku tidak mau berdebat denganmu!"
Syafana pun hanya diam. Ia terus menyetir mobilnya dengan kencangnya.
"Aku tadi pagi bertengkar dengan Ayahku!"
"Apa? Kenapa lagi memangnya?" tanya Arman penasaran.
"Iya. Ayahku tadi pulang dari kerjaan nya, pulang-pulang dia memanggilku dengan sebutan perawan tua sambil marah-marah. Aku yang mendengar perkataan Ayah pun akhirnya terbangun dan menemuinya. Beliau tambah marah dan pertengkaran pun terjadi."
"Lalu kamu nggak apa kan?"
"Ayah tiriku memukulku dengan sebilah kayu dan langsung melempar vas bunga ke arahku untung lemparan itu meleset. Aku semakin tidak kuat saja dengan prilakunya." ucap Syafana dengan kesalnya.
Arman pun berfikir dengan cepat. Ia tiba-tiba mengatakan dengan serius di depan Syafana
"Bagaimana kalau kita memajukan tanggal pernikahan kita?
"Apa? Yang benar saja mas kan semua sudah diatur dari mulai tanggal nya sudah kita daftarkan di KUA. Jadi mana bisa kita majukan lagi sih mas!"
"Ya tapi kan aku nggak mau lihat kamu di bentak-bentak terus sama ayah tirimu Syafa, aku nggak terima calon istriku diperlakukan seperti itu!" sambung Arman seolah tidak terima dengan perkataan Syafana.
"Pokoknya setelah menikah kita harus pindah rumah mas!"
"Iya kamu kan bisa tinggal di kontrakanku. Itu juga rumahmu mulai sekarang barang-barangmu pindahkan semua ke kontrakanku biar nanti setelah menikah kamu bisa langsung pindah." ucap Arman dengan seriusnya.
Matanya pun tak berhenti memandang wajah cantik calon istrinya nya itu.
"Atau kalau kamu mau kita cari rumah yang lebih besar lagi. Aku bisa menyewa rumah yang lebih besar kalau kamu mau."
"Kita dikontrakan itu dulu aja Mas. Lagian Kita tidak punya banyak waktu dengan kesibukan kita berdua di kantor. Aku nggak apa kok harus tinggal di kontrakan yang penting kita tinggal berdua!" jawab Syafana.
Mereka berdua pun saling pandang memandang. Merasakan cinta yang tumbuh dalam hati keduanya. Syafana senang sekali memandangi wajah Arman yang begitu tampan.
"Kalau begitu bawa saja kunci rumahku. Jadi kamu bisa memindahkan barangmu sewaktu-waktu."
"Oke baiklah mas. Terimakasih ya!" ucap Syafana dengan bahagia meski rumah yang ditinggali Arman hanya kontrak tetapi Syafana sangat bahagia. Ia merasa impian nya selama ini hampir terwujud menikah dan memiliki rumah sendiri walau hanya kontrakan tetapi itu sudah lebih dari cukup untuknya.
Wajahnya pun kini berubah. Senyum sumringah menghiasi sudut bibirnya kesedihannya kini ia buang jauh-jauh tatkala mereka pun sampai di toko emas untuk membeli cincin perkawinan.
Setelah memilih-milih beberapa pilihan yang cocok di jari manis Syafana. Ia pun akhirnya terjerat oleh satu model cincin klasik yang manis pilihannya pun jatuh pada cincin emas dengan berat 3.5 gram tersebut.
"Apa kamu suka?" tanya Arman dengan bahagianya.
"Suka sekali mas. Terimakasih ya ini sudah lebih dari cukup buatku."
Melihat wajah Syafana yang begitu bahagia membuat hati Arman pun ikut bahagia. Ia mencoba untuk membahagiakan wanita yang kini akan menjadi Istrinya tersebut.
Setelah selesai memilih dan membayar cincin emas tersebut mereka pun akhirnya pulang dan berjalan kembali memasuki mobil Syafana.
"Mas kalau nanti malam aku mulai memindahkan barang-barangku sedikit demi sedikit ke kontrakan mas gimana?" pinta Syafana.
"Lo jangan sekarang Syafa. Ini kan sudah jam 7 malam memangnya kamu nggak capek besok aja ya. Ini nanti kunci kontrakan mas kamu bawa aja biar besok kamu bisa memindahkan barangmu ke kontrakan mas." ucap Arman sambil tersenyum bahagia.
Arman pun mengelus kepala Syafana sambil mengatakan "Kamu cantik sekali Syafana. Seperti mimpi rasanya bisa menikah denganmu." sambung Arman dengan bahagianya.
Mereka berdua pun akhirnya pulang dan seperti biasa Syafana selalu mengantar Arman pulang ke kontrakan nya.
"Hati-hati dijalan ya Syafa. Kalau ada apa-apa beritahu aku. Kalau ayahmu masih marah hubungi aku dan akan ku temui dia." ucap Arman seolah tak terima dengan perlakuan ayah tiri Syafana.
"Baiklah terimakasih ya mas. Aku akan pulang sekarang."
Arman pun lalu turun dari mobil CRV milik Syafana sambil mencium kening wanita yang akan menjadi istrinya itu.
Sementara itu ada seorang wanita cantik yang menunggu kedatangan Arman dengan santainya itu pun beranjak dari duduknya. Ia menunggu di sebelah kontrakan Arman tanpa sepengetahuan Syafana. Melihat kedatangan Vania yang sexy itu membuat Arman menelan salivanya.
"Loh Vania kok disini?" tanya Arman dengan halusnya.
"Iya aku menunggumu. Ada yang ingin aku katakan padamu." jawab Vania dengan santainya.
Arman pun bingung kenapa tiba-tiba Vania mau menemuinya sampai ke kontrakan nya. Tanpa pikir panjang Arman pun mengajak Vania untuk memasuki kontrakannya.
"Ah baiklah kalau begitu ayo masuk maaf kalau kontrakanku kecil."
"Tidak masalah tapi ini bersih sekali ya? ini kamu sendiri yang membersihkan?" tanya Vania.
Sambil melihat sekeliling ruangan kontrakan yang tidak terlalu besar itu mereka berdua pun mengobrol banyak hal.
"Silahkan duduk aku ambilkan minum dulu ya." ucap Arman.
Arman pun berjalan memasuki dapur menuju ke kulkas untuk mengambil minuman. Hatinya mulai dipenuhi rasa bimbang.
Setelah Arman keluar dari dapur Ia pun berjalan menuju ke ruang depan menemui Vania betapa kagetnya Arman melihat Vania menutup pintu depan tanpa dikunci.
"Lo Vania kenapa pintunya ditutup?"
"Iya biar nggak ada yang lihat." jawab Vania dengan suara datar.
Vania pun lalu beranjak dari duduknya dan mendekati Arman laki-laki yang berwajah tampan itu. Semakin mendekat dan semakin dekat Vania pun lalu memegang punggung Arman seolah akan memeluknya.
Arman pun menelan salivanya lagi. Jantungnya bergetar tak karuan manakala tubuh sexy Vania bersentuhan dengan tubuhnya.
"Wah Vania apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini tolong minggirlah." pinta Arman dengan gugup.
Arman seakan tak bisa menahan godaan Vania yang menyerangnya duluan. Kaki Arman pun mundur selangkah dan badan nya Ia condongkan ke belakang tetapi tangan lembut Vania telah melingkari pinggangnya.
Seakan mengunci ruang gerak Arman. Ia pun benar-benar tergoda oleh godaan duniawi yang sangat berat untuk Arman hindari.
"Tolong jangan begini!" pinta Arman lirih.
Arman mulai takut jika Vania berbuat diluar batas. Tetapi dalam hati Ia tak memungkiri kalau hatinya masih mencintai Vania.
"Aku hanya ingin mencoba ini denganmu." ucap Vania.
Vania adalah janda beranak 1. Vania memang dikenal sebagai wanita yang berani jika dengan laki-laki. Rumornya Ia adalah seorang wanita penggoda dan benar saja kini giliran Arman yang masuk jebakan godaan tubuh indah Vania.
Dengan memakai baju kemeja yang begitu ketat serta dibalut dengan rok dibawah lutut membuat penampilan Vania begitu menggoda. Membuat siapapun laki-laki yang dekat dengan nya dibuat panas olehnya.
"Kamu mau kan menemaniku sejam atau dua jam!" pinta Vania sambil menatap mata Arman dengan seriusnya.
Tatapan mata yang membuyarkan dunia Arman. Membuat Arman pun tidak bisa menolak pesona wanita cantik yang terus memeluknya erat.
"Tolong minggirlah, aku tidak bisa seperti ini." pinta Arman mulai tidak nyaman dengan Vania.
Vania pun tersenyum licik sembari berkata "Jadilah milikku!" sambil terus menatap Arman dengan tatapan liar.
"Aku tidak akan meninggalkanmu meski kamu akan menikah dengan Syafana. Hubungan kita sudah terlalu jauh Arman."
"Kamu yakin mau bertahan denganku?" tanya Arman dengan seriusnya.
"Jelas lah. Kamu kan cinta pertamaku."
"Kalau begitu ikutlah denganku ke kamarku!" Ajak Arman sambil menggendong tubuh Vania dan membawanya menuju kamarnya.