Syafana Azzahra adalah seorang wanita cantik yang bekerja di suatu perusahaan ternama di ibukota Jakarta. Usianya kini sudah memasuki kepala 3. Tepatnya tahun ini ia berusia 33 tahun.
Tentu saja usia yang menurut kebanyakan orang sudah tidak lagi muda untuk membangun sebuah mahligai rumah tangga. Syafana terbilang terlambat dan tidak pintar jika menilik masalah percintaan. Dalam perjalanannya ia sering dibohongi dan diselingkuhi laki-laki.
Syafana pernah gagal 2 kali saat akan menikah. Menjelang pernikahan pertama saat usianya menginjak 30 tahun, tiba-tiba ia berubah pikiran. Karena Syafana sadar menurutnya laki-laki yang akan dinikahi benar-benar tidak mencintainya.
Dia berselingkuh dengan rekan kerjanya dan H-3 sebelum pernikahan. Ia pun membatalkan pernikahan itu. Rasa kecewa bercampur malu pun selalu menyelimuti hari-hari Syafana. Betapa tidak? Ayah tirinya selalu memanggilnya dengan sebutan perawan tua. Panggilan yang sangat melukai hati kecil Syafana.
Beberapa bulan kemudian, Syafana mulai membuka hati kembali dan mencoba menjalin hubungan serius dengan teman masa kecilnya bernama Lukman. Dari dulu Lukman memang menyukainya tetapi baru kali ini ia sadar kalau Lukman lah orang yang selama ini Syafana cari. Hanya berselang 3 bulan menjalin hubungan serius dengan Lukman akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah.
Menjelang pernikahan keduanya itu ternyata Syafana baru mengetahui jika calon suaminya itu berstatus suami orang dan memiliki 3 orang anak. Bak tersambar petir di siang bolong sontak mendiang Mama Syafana tidak menyetujui dan batal lah rencana pernikahan kedua Syafana. Kalaupun tetap dilanjutkan akan menambah derita dan kehancuran dalam hidupnya.
Setelah 2 kali gagal menikah ia pun sangat terpukul. Cacian hingga hinaan dari ayah tirinya pun seakan sudah menjadi makanan sehari-hari. Tetapi jika masalah menafkahi dirinya dan Jovi, ayah tirinya terbilang tidak pernah telat memberi mereka uang. Kebutuhan rumah tangga selalu tercukupi karena memang beliau memiliki usaha jual beli mobil yang menguntungkan.
Untunglah kali ini Ia memberanikan diri untuk menikah dengan laki-laki pilihan sahabatnya yang bernama Arman Alatas. Seorang laki-laki muda berusia 28 tahun yang menjabat sebagai asisten CEO di salah satu perusahaan ternama di Jakarta.
Syafana membulatkan tekad untuk mencintai laki-laki yang lebih muda darinya. Bersama Arman Ia merasa laki-laki itu bisa jadi pendamping yang baik untuk masa depannya. Karena menikah adalah satu-satunya jalan agar Ia bisa meninggalkan ayah tirinya yang tempramental itu.
Hati Syafana kini dipenuhi dengan rasa tergesa-gesa. Semoga saja rencana pernikahan ketiga ini tidak meleset lagi. Dalam hati kecilnya Ia tidak mau gagal lagi.
Sang fajar pun datang. Mentari pagi nan elok keluar dari peraduan nya. Jam menunjukkan tepat pukul 06.00 pagi. Gadis cantik yang selalu memakai hijab dan bertubuh tinggi semampai itu masih tertidur dengan pulasnya.
Dari arah pintu depan terdengar suara derap langkah kaki dan suara lantang yang tidak asing lagi di telinganya.
"Syafana! Syafana! Dasar perawan tua, dimana kau?" Ayah tirinya menggerutu dengan suara yang nyaring melengking.
Mendengar perkataan ayahnya yang sedang berteriak memanggilnya. Ia pun lalu terbangun dengan mata yang masih sembab, mencoba membuka perlahan pupil matanya. Mata sipitnya sayu karena memang kurang tidur. Syafana pun lalu mencoba berdiri dari ranjangnya. Sambil mengambil kacamata di atas nakas yang setia menemaninya.
Krek! Suara daun pintu terdengar diiringi derap tubuh kecil Syafana yang keluar dari dalam kamarnya. Ia melihat sang ayah tiri telah berdiri di depan kamarnya dengan mata yang melotot tajam.
"Iya, Ayah. Syafa di sini ada apa?" Syafana menyahut sambil keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati sang Ayah tiri.
"Hey dasar kamu perawan tua! Jam segini baru bangun? Mana sarapan untukku? Perutku lapar mau makan!" Ayah tiri membentak berkali-kali. Membuat hati Syafana begitu perih.
"Kenapa terus memanggilku perawan tua sih? Sebentar, aku akan membeli makanan untuk sarapan!" jawab Syafana kesal.
"Anak perempuan itu harusnya bangun pagi dan siapkan makanan! Eh kamu malah enak-enakan tidur! Makanya jodohmu jauh!" Ayah tirinya membentak lagi. Sekali lagi cukup menciptakan luka baru di hati Syafana.
"Ayah, kenapa memarahiku sih? Aku kan banyak pekerjaan, jadi wajarlah aku bangun kesiangan!" ucap Syafana.
Plak! Tanpa diduga Arkan mengambil tongkat kayu. Ia memukul tubuh Syafana. Pukulan keras tersebut tepat mendarat di punggung Syafana saat Ia mencoba menangkis pukulan itu.
"Agh! Sakit Ayah!" Syafana mengerang kesakitan.
Tubuh gadis itu terasa ngilu. Ia merasakan sakit dan perih di bagian belakang pinggangnya. Betapa tidak? Pukulan keras dari arah belakang itu membuat Syafana meringis kesakitan.
"Kenapa kamu menangis?" gertak Arkan.
Arkan Adhiguna adalah seorang laki-laki berusia 58 tahun. Ia merupakan Ayah tiri dari Syafana. Ia memiliki sifat yang tempramental, dan suka sekali memukul Syafana bila gadis itu tidak menurut. Hal yang membuat Syafana ingin pergi jauh meninggalkan dirinya.
"Aku sudah tidak betah hidup denganmu, Ayah! Aku ingin pergi dari sini!" teriak Syafana.
Gadis itu seolah tidak takut dengan mata tajam sang ayah tiri yang terus melotot di depan nya. Lantas, justru Arkan tertawa menggelegar. Membuat Syafana menghentikan tangisannya sejenak.
"Hahaha! Pergilah kemanapun kamu mau! Siapa laki-laki yang mau denganmu? Dasar perawan tua!" Arkan membentak dengan nada tinggi. Mustahil rasanya mendengar Arkan berbicara dengan suara yang lembut.
"Baiklah kalau itu memang mau Ayah. Aku sadar memang aku bukanlah siapa-siapa dirumah ini. Setelah kepergian mama, semua seakan berubah, Ayah dengan seenaknya mengolok-ngolokku bahkan tak sungkan mengayunkan pukulan di tubuhku!" teriak Syafana.
"Pergilah kalau kamu mau! Pergilah sekarang! Angkat kakimu dari sini sekarang juga!" usir Arkan.
Syafana hanya menangis sedih. Pikirannya kalut. Kemana ia akan tinggal? Sementara, sebentar lagi ia akan menikah. Sangat tidak mungkin dia akan angkat kaki sekarang. Mau tidak mau untuk sementara waktu Syafana harus sedikit bersabar. Menunggu sampai pernikahan itu tiba.
"Pergilah! Kalau kamu mau pergi! Dasar perempuan tidak tau diuntung! Kau sama seperti mamamu!" Arkan terus mendesak Syafana untuk segera pergi dari rumah.
Syafana tetap terdiam. Ia mencoba menerima semua perkataan jahat sang ayah. Meski itu menyangkut pautkan mendiang sang mama, Syafana mencoba tegar. Biarlah untuk sekarang ia harus menelan semua perkataan menyedihkan sang ayah tiri.
Melihat ada vas bunga yang berdiri sempurna di atas nakas, Arkan pun mengambil vas bunga itu lalu mengayunkannya ke arah Syafana. Ia mengambil ancang-ancang untuk melemparnya tepat ke arah kepala Syafana tanpa berpikir panjang.
Mendapati sang Ayah tiri akan mengayunkan Vas bunga itu tepat ke arah tubuhnya, Syafana pun reflek langsung bergegas berlari dengan kencangnya.
"Kemari kau Syafana! Jangan lari!" teriak Arkan.
"Ayah! Jangan lakukan itu! Apa Ayah berniat membunuhku? Tolong aku, Ayah! Kumohon jangan lempar vas itu padaku!" Syafana pun tak kalah berteriak. Kini tangisan memilukan itu kian terdengar di telinga.
Sungguh malang nasib Syafana.
Syafana lalu berlari sekencang mungkin saat mendengar sang ayah benar-benar emosi. Vas bunga di ayunkan tepat di samping tubuhnya.
Brakk! Pyar! Dengan suara lantang vas bunga itu terlempar dan pecah menghantam tembok. Untung saja lemparan itu meleset jauh dari tubuh Syafana. Allah masih melindunginya.
Syafana pun terus berlari menuju ke garasi. Ia berhasil mengendarai mobil CRVnya dan bergegas meninggalkan rumah yang mengerikan itu. Meninggalkan sang ayah tiri yang semakin brutal kepadanya.
Dengan nafas yang ngos-ngosan Syafana terus menyetir mobilnya melaju memecah kemacetan Ibu kota Jakarta. Ia berhasil lepas dari jerat maut. Jantungnya benar-benar berdetak tak karuan kaki dan tangannya masih bergetar mengingat kejadian menyeramkan tadi.
Itulah yang membuat Syafana ingin segera pergi dari rumahnya. Dengan menikah Ia akan bisa mudah melepaskan diri dari cengkraman sang ayah tiri. Syafana pun terus membawa mobilnya ke arah kota Jakarta.
Syafana yang telah trauma dengan kejadian pagi tadi tak berani pulang ke rumahnya saat ini. Ia pun terpaksa berangkat ke kantor sambil memakai baju seadanya.
Jam telah menunjukkan pukul 16.00 sore. Ia telah selesai dengan pekerjaan di kantornya dan waktu yang pas untuk menjemput Arman, calon suami Syafana.
Ia akan menembus kemacetan ibukota kembali untuk menjemput sang empunya hati. Perjalanan ke kantor Arman sekitar 25 menit dari kantor Syafana.
Sesampainya di depan kantor Syafana pun melihat Arman sudah berdiri menunggunya.
"Mas Arman?" panggil Syafana dengan lembutnya.
Memantik gelora hati yang begitu menggeliat dalam relung hati Syafana dengan memanggil nama sang empunya hati. Saat Syafana bertemu dengan Arman ia bisa melupakan lara hatinya dengan sang ayah.
Mendengar seorang wanita cantik menjemputnya membuat Arman seorang laki-laki muda berusia 28 tahun itu pun bahagia tak kepalang. Ia lalu menoleh ke arah pemilik suara lembut yang menggetarkan hatinya itu, suara yang menemaninya 5 bulan belakangan ini.
Cinta Syafana dan Arman begitu sederhana, hingga getaran cinta itu pun muncul dihati keduanya dan mereka pun memutuskan untuk menikah 3 hari lagi.
"Hay Syafana. Aku disini menunggumu!" ucap Arman dengan senyuman mengembang di bibirnya.
Laki-laki yang telah berdiri di depan perusahaan Valerindo corps yang menjabat sebagai asisten CEO. Dia mendapatkan jabatan itu berkat promosi yang diberikan Vania kepada atasannya yang tak lain adalah keluarga Vania sendiri.
"Maaf aku baru datang mas. Ayo masuk kita berangkat." jawab Syafana dengan lembutnya.
"Eh lo udah dijemput tuh Man?" ucap Hanafi dengan tawa bahagia.
"Iya nih gue duluan ya!" jawab Arman sembari tersenyum melihat ke arah teman-teman nya.
"Cie mau malam mingguan nih ye!" sambung Leo ikut menggoda Arman yang sudah terjebak malu tersebut.
Wajah Arman memerah ia tersipu malu tatkala teman-temannya menggodanya.
"Ah kalian ini bicara apa sih aku mau mengantar Syafana pergi mencari cincin pernikahan." jawab Arman dengan bahagianya.
Senyum di wajahnya tak memungkiri bahwa ia sedang kasmaran. Arman pun lalu berjalan memasuki mobil Syafana dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Meninggalkan teman-temannya yang berdiri di sampingnya.
Melihat ada Leo dan Hanafi yang berdiri bersama dengan Arman, Syafana pun mengucapkan salam dengan ramahnya.
"Selamat sore Mas Leo, selamat sore Mas Hanafi." sapa syafana dengan senyuman manis.
Syafana adalah perempuan cantik yang sangat menjaga penampilannya dia selalu memakai baju yang sopan di kantor dan menggunakan hijab yang panjang menutupi dadanya.
"Selamat sore juga mbak Syafana." jawab mereka berdua serempak.
"Gue duluan ya, bye!" ucap Arman dari dalam mobil.
"Gimana mas lancar kerjanya hari ini?" tanya Syafana membuka obrolan dengan manisnya.
mobil mereka pun terus melaju meninggalkan perusahaan Valerindo corps memecah kemacetan ibu kota.
"Alhamdulillah lancar. Ternyata aku baru tahu kalau kenaikan jabatanku karena dipromosikan oleh Vania. Pemilik Valerindo corps ternyata masih keluarga Vania." ucap Arman dengan bahagianya.
"Oh begitu ya mas. Hebat ya bisa bawa mas jadi asisten CEO. Oh iya dia tau kita mau nikah?" tanya Syafana.
"Iya dia tahu, aku cerita banyak tentang rencana pernikahan kita." ucap Arman dengan bahagianya.
"Benarkah lalu apa reaksinya mas?" tanya Syafana lagi. Ia seakan penasaran dengan jawaban Arman yang seolah begitu mengidolakan Vania.
"Iya aku mengatakan kepadanya kalau kita akan cari cincin pernikahan lalu dia mengatakan padaku kalau mau cari cincin pernikahan beli di Jacob Jewelry. Disitu katanya bagus-bagus cincinnya soalnya itu langganan dia biasanya beli cincin." ucap Arman dengan semangatnya.
Seolah perkataan Vania itu membuat hatinya berbunga-bunga. Syafana pun mulai resah mendengar cerita Arman mungkinkah Vania menaruh hati kepada calon suaminya.
"Oh ya? Benarkah? wah seru sekali sepertinya, lalu Mas Arman bicara apa lagi dengan Vania?" tanya Syafana lagi.
Raut wajahnya yang semula berbinar kini berubah kecut. Syafana terus memancing Arman agar bercerita tentang Vania.
"Ya biasalah ngobrolin masalah kerjaan juga katanya dia mau bantu kita kalau kita kebingungan mencari souvenir pernikahan. Dia bisa dimintai tolong jadi di bawah santai aja sayang!" ucap Arman tidak ingin membuat Syafana marah.
Melihat raut wajah calon istrinya yang berubah kecut membuat Arman pun berhati-hati dalam perkataan nya.
"Kamu marah ya? Jangan marah Syafana, toh dia juga teman kantorku bukan siapa-siapa. Kamu juga kenal kan sama Vania? Jadi kamu nggak perlu marah ya?" Pinta Arman sambil memegang tangan kiri Syafana yang asyik menyetir itu.
"Ah ya nggak lah, nggak mungkin aku marah aku kan kenal dia!" ucap Syafana dengan gaya bicara yang cuek.
"Kamu nggak suka ya aku cerits tentabg Vania?" duga Arman.
"Tidak mas! Aku cuma tidak suka saja mendengarnya," protes Syafana lirih.
"Aku kemarin ketemu sama Mas Indra." ucap Syafana mengalihkan pembicaraan.
"Apa? Lalu dia bilang apa?"
"Nggak banyak. Dia cuma cerita kalau hubungan nya dengan Anisa sudah selesai. Mereka berpisah karena beda prinsip. Jadi susah untuk menentukan arah dan tujuan hubungan mereka." ucap Syafana dengan seriusnya.
Syafana pun melontarkan pertanyaan ultimatum. "Mas Arman serius kan mau menikah denganku? Atau mas hanya sekedar menikah dan selesai begitu saja?"
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Kamu itu jangan suka menuduhku yang tidak-tidak. Buat apa aku menikahimu kalau aku tidak serius. Buang-buang waktuku saja!" jawab Arman ketus.
"Ya kan aku tanya Mas. Aku rasa akhir-akhir ini Mas Arman sering tidak jawab telponku. Mas memangnya sesibuk itu ya?"
"Kan aku sudah bilang kerjaanku di kantor banyak. Sudahlah jangan berdebat. Aku tidak mau bertengkar denganmu!" jawab Arman dengan ketusnya.
Gemercik rintik hujan membasahi mobil Syafana seperti hatinya. Rintik hujan itu pun kian masuk membasahi relung hatinya karena persiapan pernikahannya semakin dekat tetapi terasa semakin rumit.
"Kok wajah kamu gitu sih sayang? Kamu marah ya?" tanya Arman yang penasaran melihat Syafana bermuka datar.
"Ya nggak gitu Mas semua persiapan pernikahan mulai cari WO, make up, foto prewed semuanya hingga cari cincin pun aku yang memikirkan sendiri!" jawab Syafana dengan kesalnya.
"Ya kan aku sibuk kerja kamu kan tahu sendiri aku berangkat kerja jam berapa pulang jam berapa. Sekarang aku bisa menemanimu cari cincin aja udah bagus kan? Sudahlah Syafana aku tidak mau berdebat denganmu!"
Syafana pun hanya diam. Ia terus menyetir mobilnya dengan kencangnya.
"Aku tadi pagi bertengkar dengan Ayahku!"
"Apa? Kenapa lagi memangnya?" tanya Arman penasaran.
"Iya. Ayahku tadi pulang dari kerjaan nya, pulang-pulang dia memanggilku dengan sebutan perawan tua sambil marah-marah. Aku yang mendengar perkataan Ayah pun akhirnya terbangun dan menemuinya. Beliau tambah marah dan pertengkaran pun terjadi."
"Lalu kamu nggak apa kan?"
"Ayah tiriku memukulku dengan sebilah kayu dan langsung melempar vas bunga ke arahku untung lemparan itu meleset. Aku semakin tidak kuat saja dengan prilakunya." ucap Syafana dengan kesalnya.
Arman pun berfikir dengan cepat. Ia tiba-tiba mengatakan dengan serius di depan Syafana
"Bagaimana kalau kita memajukan tanggal pernikahan kita?
"Apa? Yang benar saja mas kan semua sudah diatur dari mulai tanggal nya sudah kita daftarkan di KUA. Jadi mana bisa kita majukan lagi sih mas!"
"Ya tapi kan aku nggak mau lihat kamu di bentak-bentak terus sama ayah tirimu Syafa, aku nggak terima calon istriku diperlakukan seperti itu!" sambung Arman seolah tidak terima dengan perkataan Syafana.
"Pokoknya setelah menikah kita harus pindah rumah mas!"
"Iya kamu kan bisa tinggal di kontrakanku. Itu juga rumahmu mulai sekarang barang-barangmu pindahkan semua ke kontrakanku biar nanti setelah menikah kamu bisa langsung pindah." ucap Arman dengan seriusnya.
Matanya pun tak berhenti memandang wajah cantik calon istrinya nya itu.
"Atau kalau kamu mau kita cari rumah yang lebih besar lagi. Aku bisa menyewa rumah yang lebih besar kalau kamu mau."
"Kita dikontrakan itu dulu aja Mas. Lagian Kita tidak punya banyak waktu dengan kesibukan kita berdua di kantor. Aku nggak apa kok harus tinggal di kontrakan yang penting kita tinggal berdua!" jawab Syafana.
Mereka berdua pun saling pandang memandang. Merasakan cinta yang tumbuh dalam hati keduanya. Syafana senang sekali memandangi wajah Arman yang begitu tampan.
"Kalau begitu bawa saja kunci rumahku. Jadi kamu bisa memindahkan barangmu sewaktu-waktu."
"Oke baiklah mas. Terimakasih ya!" ucap Syafana dengan bahagia meski rumah yang ditinggali Arman hanya kontrak tetapi Syafana sangat bahagia. Ia merasa impian nya selama ini hampir terwujud menikah dan memiliki rumah sendiri walau hanya kontrakan tetapi itu sudah lebih dari cukup untuknya.
Wajahnya pun kini berubah. Senyum sumringah menghiasi sudut bibirnya kesedihannya kini ia buang jauh-jauh tatkala mereka pun sampai di toko emas untuk membeli cincin perkawinan.
Setelah memilih-milih beberapa pilihan yang cocok di jari manis Syafana. Ia pun akhirnya terjerat oleh satu model cincin klasik yang manis pilihannya pun jatuh pada cincin emas dengan berat 3.5 gram tersebut.
"Apa kamu suka?" tanya Arman dengan bahagianya.
"Suka sekali mas. Terimakasih ya ini sudah lebih dari cukup buatku."
Melihat wajah Syafana yang begitu bahagia membuat hati Arman pun ikut bahagia. Ia mencoba untuk membahagiakan wanita yang kini akan menjadi Istrinya tersebut.
Setelah selesai memilih dan membayar cincin emas tersebut mereka pun akhirnya pulang dan berjalan kembali memasuki mobil Syafana.
"Mas kalau nanti malam aku mulai memindahkan barang-barangku sedikit demi sedikit ke kontrakan mas gimana?" pinta Syafana.
"Lo jangan sekarang Syafa. Ini kan sudah jam 7 malam memangnya kamu nggak capek besok aja ya. Ini nanti kunci kontrakan mas kamu bawa aja biar besok kamu bisa memindahkan barangmu ke kontrakan mas." ucap Arman sambil tersenyum bahagia.
Arman pun mengelus kepala Syafana sambil mengatakan "Kamu cantik sekali Syafana. Seperti mimpi rasanya bisa menikah denganmu." sambung Arman dengan bahagianya.
Mereka berdua pun akhirnya pulang dan seperti biasa Syafana selalu mengantar Arman pulang ke kontrakan nya.
"Hati-hati dijalan ya Syafa. Kalau ada apa-apa beritahu aku. Kalau ayahmu masih marah hubungi aku dan akan ku temui dia." ucap Arman seolah tak terima dengan perlakuan ayah tiri Syafana.
"Baiklah terimakasih ya mas. Aku akan pulang sekarang."
Arman pun lalu turun dari mobil CRV milik Syafana sambil mencium kening wanita yang akan menjadi istrinya itu.
Sementara itu ada seorang wanita cantik yang menunggu kedatangan Arman dengan santainya itu pun beranjak dari duduknya. Ia menunggu di sebelah kontrakan Arman tanpa sepengetahuan Syafana. Melihat kedatangan Vania yang sexy itu membuat Arman menelan salivanya.
"Loh Vania kok disini?" tanya Arman dengan halusnya.
"Iya aku menunggumu. Ada yang ingin aku katakan padamu." jawab Vania dengan santainya.
Arman pun bingung kenapa tiba-tiba Vania mau menemuinya sampai ke kontrakan nya. Tanpa pikir panjang Arman pun mengajak Vania untuk memasuki kontrakannya.
"Ah baiklah kalau begitu ayo masuk maaf kalau kontrakanku kecil."
"Tidak masalah tapi ini bersih sekali ya? ini kamu sendiri yang membersihkan?" tanya Vania.
Sambil melihat sekeliling ruangan kontrakan yang tidak terlalu besar itu mereka berdua pun mengobrol banyak hal.
"Silahkan duduk aku ambilkan minum dulu ya." ucap Arman.
Arman pun berjalan memasuki dapur menuju ke kulkas untuk mengambil minuman. Hatinya mulai dipenuhi rasa bimbang.
Setelah Arman keluar dari dapur Ia pun berjalan menuju ke ruang depan menemui Vania betapa kagetnya Arman melihat Vania menutup pintu depan tanpa dikunci.
"Lo Vania kenapa pintunya ditutup?"
"Iya biar nggak ada yang lihat." jawab Vania dengan suara datar.
Vania pun lalu beranjak dari duduknya dan mendekati Arman laki-laki yang berwajah tampan itu. Semakin mendekat dan semakin dekat Vania pun lalu memegang punggung Arman seolah akan memeluknya.
Arman pun menelan salivanya lagi. Jantungnya bergetar tak karuan manakala tubuh sexy Vania bersentuhan dengan tubuhnya.
"Wah Vania apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini tolong minggirlah." pinta Arman dengan gugup.
Arman seakan tak bisa menahan godaan Vania yang menyerangnya duluan. Kaki Arman pun mundur selangkah dan badan nya Ia condongkan ke belakang tetapi tangan lembut Vania telah melingkari pinggangnya.
Seakan mengunci ruang gerak Arman. Ia pun benar-benar tergoda oleh godaan duniawi yang sangat berat untuk Arman hindari.
"Tolong jangan begini!" pinta Arman lirih.
Arman mulai takut jika Vania berbuat diluar batas. Tetapi dalam hati Ia tak memungkiri kalau hatinya masih mencintai Vania.
"Aku hanya ingin mencoba ini denganmu." ucap Vania.
Vania adalah janda beranak 1. Vania memang dikenal sebagai wanita yang berani jika dengan laki-laki. Rumornya Ia adalah seorang wanita penggoda dan benar saja kini giliran Arman yang masuk jebakan godaan tubuh indah Vania.
Dengan memakai baju kemeja yang begitu ketat serta dibalut dengan rok dibawah lutut membuat penampilan Vania begitu menggoda. Membuat siapapun laki-laki yang dekat dengan nya dibuat panas olehnya.
"Kamu mau kan menemaniku sejam atau dua jam!" pinta Vania sambil menatap mata Arman dengan seriusnya.
Tatapan mata yang membuyarkan dunia Arman. Membuat Arman pun tidak bisa menolak pesona wanita cantik yang terus memeluknya erat.
"Tolong minggirlah, aku tidak bisa seperti ini." pinta Arman mulai tidak nyaman dengan Vania.
Vania pun tersenyum licik sembari berkata "Jadilah milikku!" sambil terus menatap Arman dengan tatapan liar.
"Aku tidak akan meninggalkanmu meski kamu akan menikah dengan Syafana. Hubungan kita sudah terlalu jauh Arman."
"Kamu yakin mau bertahan denganku?" tanya Arman dengan seriusnya.
"Jelas lah. Kamu kan cinta pertamaku."
"Kalau begitu ikutlah denganku ke kamarku!" Ajak Arman sambil menggendong tubuh Vania dan membawanya menuju kamarnya.