Bab 1
Pernikahan mewah itu terpancar dari segala penjuru ruangan. Adam sangat tampan, ia mengenakan jas hitam yang sempurna dan Melisa tak kalah cantiknya, mengenakan gaun pernikahan seperti putri dongeng, yang di rancang oleh desainer ternama.
Sajian menu yang tersedia sangat kreatif yang sudah di buat langsung oleh chef profesional, donat-donat cantik juga, disusun di meja prasmanan, serta sajian makanan lezat tersedia disana. Penampilan hiburan yang sudah profesional mengiringi sesi makan malam, dan penari juga memeriahkan suasana pesta. Semua acara pernikahan berjalan dengan sukses dan sesuai rencana. Itu semua berkat Wedding Organizer profesional yang di pilih langsung oleh Adam.
Agni tersenyum menatap Adam, kini telah resmi menjadi seorang suami Melisa. Agni turut bergembira atas pernikahan itu, ia sangat menyangi Adam. Agni memandang kedua orang tuanya juga turut bahagia. Acara pesta pernikahan berlangsung tiga jam lamanya.
Agni naik ke atas panggung menghampiri ke dua orang tuanya. Fotografer mengambil sesi foto keluarga di akhir jam pesta. Agni berdiri di samping Melisa yang kini telah resmi menjadi kakak iparnya.
Agni melangkahkan kakinya menghampiri Adam. Adam tersenyum menatap Agni, adiknya yang kini sudah tumbuh dewasa,
"selamat ya mas, semoga menjadi suami yang baik untuk mbak Melisa".
"Iya terima kasih dek, kamu jangan lupa bantu ibu dan bapak dirumah. Rajin-rajinlah kuliah, banggakan kedua ibu dan bapak" ucap Adam.
"Iya mas" ucap Agni.
"Mas bangga dengan kamu, kamu pintar dan kamu sekarang tumbuh cantik. Mas, sayang kamu" ucap Adam, ia lalu memeluk Agni.
Sedetik kemudian, Adam melepaskan pelukkannya. "Jika kamu perlu apa-apa bilang sama Mas".
Agni tersenyum dan mengangguk, "Iya mas".
Selama ini, Adam lah yang banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Keluarganya bukanlah keluarga yang kaya seperti yang orang lihat. Pesta pernikahan mewah ini memang permintaan Adam, agar keluarganya tidak di lecehkan oleh keluarga Melisa. Melisa terlahir dari keluarga kaya raya, jadi Adam sudah sepantasnya membuat pesta pernikahan ini agar Melisa tidak dikucilkan oleh keluarganya.
Agni melihat sendiri bagaimana perjuangan Melisa mengejar Adam. Melisa memperjuangkan Adam di depan kedua orang tuanya. Awalnya Adam menyerah saja, ingin mengakhiri hubungannya dengan Melisa. Tapi Melisa, mencoba membangunkan semangat Adam untuk bangkit kembali, memperjuangkan cinta mereka berdua.
Adam dengan giat belajar sambil bekerja sebagai waiter di restoran, demi untuk membiayai kuliahnya sendiri. Akhirnya Adam dapat menyelesaikan kuliah teknik sipilnya dengan cepat. Sekarang Adam bekerja di perusahaan kontruksi, mendapati posisi penting disana. Bukanlah mudah, membutuhkan proses yang cukup panjang bertahun-tahun lamanya.
Melisa kini sudah resmi menjadi istri Adam. Kisah cinta mereka seperti tidak berujung, mereka dapat memperjuangkan cinta yang tidak ada habisnya. Cintalah yang membuat mereka bersama. Agni juga salut kepada Melisa yang tegar menghadapi setiap rintangan yang ada. Kini ia menuai hasilnya, Melisa bahagia karena sudah menjadi istri Adam.
Agni juga teringat, Melisa dulu pernah diseret keluar dari rumahnya, oleh orang tuanya secara paksa. Wajar saja itu terjadi, orang tua mana yang menginginkan anak gadisnya yang cantik mencintai laki-laki miskin seperti Adam.
Jika melihat perjuangan itu, ia pasti akan menangis. Tuhan tidak tidur, Adam bangkit dan menyelamati cintanya. Ia tidak ingin cintanya menjadi sia-sia. Tahun berganti tahun semuanya semakin berubah, dan semua itu butuh proses yang panjang. Adam telah membuktikan semuanya bahwa laki-laki miskin, yang dulu dikucilkan dan dipandang sebelah mata kini telah menjadi singa yang disegani. Itu karena kekuatan cinta dan ia kembali merebut Melisa.
************
Sementara di ujung sana sepasang mata, memandang acara pernikahan mewah Adam dan Melisa. Bram mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, ia ingin sekali menghancurkan pernikahan itu. Hatinya seakan mendidih melihat kebahagian itu. Seharusnya dirinya yang bersanding dengan Melisa disana, bukan laki-laki miskin seperti Adam.
"Sial" umpatnya.
"Bodoh !".
Bram gagal membatalkan pernikahan itu, uang, kekayaan, tidak bisa meluluhkan hati Melisa. Sedetik kemudian ia mengalihkan tatapannya, kepada wanita berambut panjang, berjalan mengahampiri Adam. Wanita itu tertawa, dan sedang berbincang-bincang kepada Adam.
"Siapa dia" tanya Bram.
Alan mengerutkan dahi, "Dia?" Tanyanya bingung.
"Itu yang, berada di depan Adam" ucap Bram, Bram menunjuk ke arah wanita berkebaya merah itu tepat dihadapan Adam.
Alan memandang arah yang di maksud Adam. "Itu Agni, adiknya Adam".
"Kenapa saya baru melihatnya" Tanya Bram.
"Sejauh yang saya lihat, wanita itu selalu ada. Dia kuliah sambil bekerja di outlet butik di salah satu Mall. Mungkin Agni sibuk kuliah sambil bekerja, hingga kamu tidak pernah melihatnya".
Barm kembali berpikir ternyta nama perempuan itu adalah Agni, adiknya Adam, "Begitu ternyata" ucap Bram.
Bram memperhatikan lagi wanita berkebaya merah itu. Wanita itu nampak tertawa bersama Melisa mereka terlihat sangat akrab. Bram kembali memperhatikan gerak-gerik Agni, hingga akhirnya Agni turun dari panggung.
"Kuliah dimana?" Tanya Bram penasaran.
"Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi. Sekarang tahun ke tiga" ucap Alan.
Bram mengerutkan dahi, ia melirik Alan. "Dari mana kamu tahu semua itu".
"Saya kekasihnya, dan saya mengenalnya dengan baik. Saya akan melamarnya setelah Agni lulus dari kuliah nanti".
Bram kembali menatap Alan, ia tidak menyangka bahwa Alan diam-diam telah menaruh hati kepada wanita muda itu,
"kamu mencintainya?" Tanya Bram.
"Iya, tentu saja".
"Kenapa tidak menikahinya saja".
"Dia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu Bram, saya pasti akan menikahinya".
"Ya lanjutkan pendekatan kamu pada wanita itu". ucap Bram, ia lalu berlalu pergi, meninggalkan Alan.
***
Bab 2
Agni mengikat rambutnya seperti ekor kuda, ia menatap penampilannya di cermin, kemeja putih di padukan dengan celana jins biru, yang sangat pas di tubuhnya. Agni melirik jam melingkar di tangannya, menunjukkan pukul 07.32 menit. Jam 09.00 nanti, ia ada Mata kuliah Matematika Ekonomi dan Bisnis. Agni berjalan menuju meja makan, ia memandang ibu sedang menyiapkan sarapan untuknya.
Agni melihat sarapan yang tersaji, ia tersenyum kerena nasi goreng favoritnya telah tersedia di atas meja dengan telur mata sapi di atasnya.
Agni duduk dan menyimpan tasnya di kursi kosong. Agni meraih gelas berisi air mineral dan diteguknya air mineral itu, lalu disimpannya kembali gelas di meja. Agni mengambil sendok dan ia mulai makan dalam diam. Beberapa menit kemudian Agni menyudahi makannya.
"Ibu, nanti Agni pulang malam, setelah dari kampus Agni langsung ke butik".
"Iya" ucap ibu.
Ibu memandang putri kecilnya kini sudah beranjak dewasa. Ibu percaya bahwa anak-anaknya tumbuh kuat, dan tidak pernah mengeluh sedikitpun kepadanya.
Rumah sederhana inilah yang ia miliki sekarang. Adam sudah merenovasi rumah reot ini menjadi rumah minimalis yang modern. Bagaimanapun pendidikan anak itu selalu nomor satu, dulu bapak bekerja banting tulang, sebagai buruh lepas dipasar, untuk membiayai pendidikan anak. Makan hanya sekedarnya saja, bahkan hanya makan nasi dengan sayur saja itu sudah cukup, jarang sekali makan ikan atau daging demi membiayai pendidikan. Sekarang bapak tidak sanggup bekerja lagi, hanya Bram lah yang diharapkan untuk kelangsungan hidup mereka. Bram salalu memberi uang untuk keperluan rumah dan kuliah Agni.
Agni menatap sang ibu, yang usianya tidak muda lagi, rambut hitamnya kini telah memutih.
"Ibu, Agni pergi dulu" ucap Agni lalu mengecup tangan sang Ibu.
"Iya, hati-hati".
Agni memeluk tubuh ibu, di peluknya tubuh sang ibu, dan ia lalu melepaskan pelukkanya, "Doa kan Agni bu, semoga sukses" ucap Agni.
Ibu tersenyum, "iya, ibu selalu mendoakan kamu".
"Iya, bu".
Agni melangkahkan kakinya menjauhi rumah, sekali lagi menoleh menatap sang ibu yang memandangnya dari daun pintu. Agni melambaikan tangannya dan tersenyum.
***********
Aktivitas Agni tidak lebih dari mahasiswa lainnya, sibuk mengerjakan tugas makalah, presentasi dan ujian. Dari awal Gani memang tidak ingin mengikuti organisasi kampus, ia hanya ingin fokus kuliah dan menyelesaikan mata kuliahnya dengan cepat. Agni lebih memilih bekerja paruh waktu, dari pada mengikuti organisasi kampus yang tidak ada matinya itu.
Dengan bekerja, ia bisa membeli keperluan pribadinya, ia tidak terus-terusan meminta kepada Adam. Cukup Adam membiayai kuliahnya dan untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bapak. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi, Agni lebih baik mencari uang sendiri. Bermodal wajah cantik serta tubuh ideal, Agni di terima sebagai pramuniaga di salah satu butik terkenal. Bosnya tidak mempermasalahkan ia berstatus mahasiswi, karena ia bisa mengatur jam kerja dan jadwal mata kuliah. Agni lebih banyak memilih midle, karena status Agni sebagai mahasiswa reguler mengharuskannya masuk pagi seperti mahasiswa pada umumnya.
Tidak terlintas di pikiran Agni, untuk mencari pacar, untuk meluangkan waktunya sendiri saja ia sulit, apalagi untuk berbagi dengan pacar. Ada beberapa teman kampus mencoba mendekatinya, tapi Agni sama sekali tidak mengubrisnya. Tapi hanya ada satu laki-laki yang kini bersamanya, yaitu Alan temannya mas Adam.
Agni lebih baik, mementingkan bagaimana caranya menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan mendapatkan pekerjaan, itu saja yang ada di dalam pikirannya. Agni tidak ingin berlama-lama di dunia kampus. Ia akan mengikuti jejak Adam, Adam sudah menasehatinya berkali-kali bahwa dunia ini kejam. Jika kita tidak kuat dan berani menghadapi dunia, sudah dipastikan, akan dipandang sebelah mata oleh orang lain.
Hidup itu seperti sepeda yang kita bawa dengan seimbang, lalu menuju satu tujuan dan lalu meraihnya. Bukan seperti kapal yang berlayar terombang-ambing di laut lepas tanpa tujuan.
**********
Setelah jam kuliah berakhir, Agni melanjutkan langkahnya menuju tempat kerja. Jas hitam dan rok span hitam sangat pas tubuhnya, inilah pakaian kerjanya sehari-hari yang disiapkan oleh tempatnya bekerja. Agni menatap penampilannya sekali lagi. Rambutnya diikat dengan hairnet agar terlihat rapi. Sebagai pramuniaga di tuntut rapi dan bersih.
Melayani pembeli dengan baik adalah tugas utama Agni. Ia juga di tuntut menjaga citra positif perusahaan agar konsumen yang berbelanja puas dan kembali ke tempat itu kembali. Setelah melakukan FIFO (first In First Out) dimana barang yang lebih dahulu masuk diletakkan paling depan.
Agni kini mulai mengganti pakaian di manekin, dengan dress merah, lalu ia melingkarkan syal di leher menekin itu. Semua aksesoris di menekin, telah terpasang sempurna. Agni tersenyum apa yang ia lakukan. Manekin itu terlihat cantik dan berkelas. Agni melangkahkan kakinya menuju meja counter, mencatat hasil Fifo.
Agni memandang laki-laki bertubuh tinggi, tegap itu masuk ke dalam outlet. Kaca mata hitam itu bertengger di sisi matanya. Laki-laki itu membuka kaca mata dan lalu menatapnya. Agni terdiam sesaat, karena sepasang mata itu melihatnya dengan intens. Adel temannya bekerja, dengan capat menghampiri tamu itu dan melayani.
Agni hanya diam, diposisi yang sama, karena memang Adel telah melayaninya. Agni lalu kembali mencatat FIFO ke dalam buku lock book. Ia kembali menyibukkan diri.
Beberapa saat kemudian,
"Bisakah kamu mencarikan kemeja putih untuk saya".
Agni mendengar suara berat itu berucap, ia lalu mengalihkan tatapannya kearah sumber suara. Agni menelan ludah menatap wajah tampan, dan berahang tegas itu. Mata tajam itu menatapnya, jantung Agni meraton iris mata itu memandangnya intens. Agni mengalihkan tatapannya kearah Adel, yang ingin sekali melayani tamu itu.
Agni meletakkan pulpen itu begitu saja di counter meja. Ia lalu tersenyum, mencoba bersikap ramah.
"Ya, tentu saja" ucap Agni.
Agni lalu melangkahkan kakinya menuju pakaian laki-laki, di susul Bram dari belakang.
**********
Bab 3
Beberapa menit yang lalu, Bram memperhatikan Agni dari kejauhan. Wanita itu tengah sibuk memasang baju di manekin. Bram melangkahkan kakinya menuju butik berkelas itu. Bram memperhatikan secara intens, wanita itu kini sedang berdiri di meja counter itu. Bram juga tidak tahu apa yang di catat wanita itu. Ada beberapa pramuniaga menghampirinya dan melayaninya dengan ramah. Tapi Bram tidak mengubrisnya dan ia lebih memilih melangkah mendekati Agni yang sedang sibuk mencatat itu.
"Bisakah kamu mencarikan kemeja putih untuk saya" ucap Bram.
Agni lalu menoleh ke arah Bram, "Ya tentu saja".
Agni tersenyum kepadanya, senyum itu begitu cantik dan membuat hatinya berdesir. Bram menatap punggung Agni dari belakang, wanita itu sangat rapi, bahkan tidak ada helaian rambut yang jatuh di lehernya
Agni kembali memandang Bram, memperhatikan keseluruhan tubuhnya. Tubuh laki-laki itu begitu bidang, dan ia pastikan tubuh itu hasil olah raga teratur.
Agni lalu mengambil kemeja yang menggantung yang di rak. Ia lalu mengambil kemeja putih, yang cocok dengan Bram.
"Saya pikir kemeja ini cocok untuk anda" ucap Agni, Agni memperlihatkan kemeja itu untuk Bram.
Alis Bram terangkat, ia kembali memperhatikan Agni dan lalu mengambil kemeja dari tangan Agni. Bram sengaja menyentuh tangan Agni. Bram merasakan sentuhan kulit itu, kulit itu begitu lembut seperti bayi.
"Terima kasih" ucap Bram.
"Setelah itu, carikan jas hitam untuk saya" ucap Bram lagi.
Bram lalu melangkahkan kakinya masuk ke kamar pass. Bram mencoba kemeja pilihan Agni. Pilihan tidak diragukan lagi, sangat pas padahal ia pikir wanita itu memilihnya asal, tapi lihatlah, tanpa memandang ukuran, wanita itu seakan tahu apa yang pas di tubuhnya.
Bram keluar dari kamar pass, ia menatap Agni tepat di hadapannya, wanita itu tersenyum kembali kepadanya. Senyumnya begitu manis, hatinya kembali berdesir.
"Anda sangat cocok memakainya" ucap Agni.
"Ini jas pilihan saya, jas ini sangat pas untuk anda" Agni menyerahkan jas berwarna hitam itu, kepada Bram.
Bram lalu mengenakan jas itu tepat di hadapan Agni, karena jas memang tidak perlu masuk ka kamar pass. Pilihan jas hitam itu juga sangat pantas ia kenakan.
"Jas itu, sepertinya memang di takdirkan untuk anda" ucap Agni.
"Saya pikir dasi ini cocok untuk kamu", Agni lalu mengambil dasi berwarna biru yang tidak jauh darinya.
"Bisakah kamu memakaikan dasi itu untuk saya" ucap Bram seketika.
Agni mengerutkan dahi, permintaan laki-laki itu terlalu banyak, lihatlah ia meminta memasangkan dasi itu untuknya. Agni juga tidak bisa menolak, karena supervaisornya disana tengah memperhatiannya. Bagaimanapun ia pembeli adalah raja.
Agni menarik nafas, dan ia lalu mengalungkan dasi itu di leher Bram. Agni bersyukur bahwa ia mengenakan hak tinggi, hingga tubuhnya hampir sejajar, ia bisa mengalungkan dasi itu sempurna di leher Bram.
Bram memperhatikan Agni yang menyimpul dasi itu dengan cekatan. Posisi Agni seakan memeluknya, hembusan nafas itu terasa di permukaan wajahnya. Bram merasakan harum stroberi dari tubuh Agni. Dulu inilah yang ia inginkan, ia ingin sekali Melisa di posisi ini. Ia ingin Melisa memasangkan dasi di kerah bajunya.
"Sudah" ucap Agni.
"Terima kasih" ucap Bram. Bram memandang pantulan bayangannya di cermin. Pilihan Agni memang sangat bagus, pantas saja ia bekerja di dunia fashion.
"Agni Anggraeni" ucap Bram.
Agni mengerutkan dahi, "anda tahu nama saya?" Tanyanya.
"Ya, tentu saja, itu name tag kamu".
"Ah, ya saya hampir lupa".
"Saya Bram, senang berkenalan dengan anda" ucap Bram, ia mengulurkan tangannya.
Agni meraih tangan Bram, ia rasakan tangan kasar dan hangat itu menyentuh permukaan kulitnya. Sedetik kemudian Agni melepaskan tangannya. Suasana nampak canggung, begitu juga Bram, ia berusaha tenang.
"Saya ambil semua" ucap Bram seketika.
"Iya, saya ambilkan yang baru" ucap Agni lagi lalu melangkah menjauhi Bram.
Beberapa menit kemudian, Bram membayar semua pembeliannya, ia melirik Agni.
"Bolehkah saya meminta nomor ponsel kamu?" Tanya Bram.
"Untuk apa?" Tanya Agni, ia menggesek kartu kredit Bram dan di serahkan kembali kartu itu kepada Bram.
"Untuk memesan baju lagi, siapa tahu saya dapat diskon" ucap Bram, ia memasukkan kartu itu ke dalam dompetnya.
Agni tertawa, ia melirik Bram "disini enggak ada diskon".
"Ya, diskonnya nomor ponsel kamu Agni".
Agni tersenyum, dan ia tidak menolak ketika Bram meminta nomor ponselnya.
"Mana ponsel kamu" ucap Agni memelankan nada suaranya, agar tidak terdengar oleh supervaisornya.
Bram merogoh ponselnya, disaku celananya, menyerahkan kepada Agni. Agni menekan nomor ponsel miliknya ia menyerahkan ponsel itu lagi kepada Bram.
"Terima kasih" ucap Bram, ia memasukan kembali ponsel itu di saku celananya.
"Umur kamu berapa?" Tanya Bram penasaran.
"20 tahun".
"Kamu masih muda" gumam Bram.
"Dan kamu sudah tua" timpal Agni.
"Kamu mengatakan sudah tua?" Tanya Bram.
"Ya, saya prediksi umur kamu 36 tahun" ucap Agni lagi.
"Sayangnya prediksi kamu salah, Agni".
"Biasa saya selalu benar, jadi umur kamu berapa?" Tanya Agni penasaran.
"35 tahun Agni".
"Setidaknya hampir mendekati" timpal Agni.
"Bukankah berteman tidak memandang umur".
"Ya, memang tidak memandang umur".
"Terima kasih telah memilihkan pakaian untuk saya".
"Iya sama-sama".
"Semoga kita bertemu lagi" ucap Bram, sebelum meninggalkan Agni.
Agni menatap tubuh Bram dari kejauhan. Sementara Adel lalu merapat kearahnya.
"Gila, keren banget, kamu kenal laki-laki tadi?" Ucap Adel.
"Enggak".
"Yang, bener !, Cowok sekeren dia mau kenal sama kamu".
"Dia memang keren".
"Agni, sumpah nih, kamu beruntung banget !" Ucap Adel antusias.
Percakapan itu berlanjut, dan Agni hanya bisa tertawa. Jujur ia tidak percaya bahwa ada laki-laki tampan seperti Bram ingin berkenalan dengannya.
**********