Bab 2

Suara peluit cukup nyaring, lalu lintas cukup padat. Kalimat itu mungkin bisa menandakan situasi di jalanan pagi ini. Seorang polisi sedang mengatur lalu lintas yang padat, sebut saja dia bernama Ardian. Saat Ardian mengatur lalu lintas yang padat, sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju dengan kencang.

Dari arah berlawanan muncul sepeda motor yang hendak menyeberang, terlihat juga sopir mobil tersebut terkejut ketika tabrakan maut tak dapat dihindari. Ardian dengan sigap segera menolong para korban dan membawa kerumah sakit.

Setelah selesai menolong korban kecelakaan tersebut, Ardian kembali ke kantor. Setibanya dikantor, Ardian baru saja duduk. Namun Ferdian datang menghampiri Ardian.

“Eh di dipanggil tuch sama komandan,”ujar Ferdian

“Ada apa?” tanya Ardian.

“Ntah lah, tadi komandan mencari mu kesini semoga bukan hukuman yang akan kau dapatkan,” ledek Ferdian.

“Ya sudah lah sebentar lagi aku kesana,” sahut Ardian.

Ardian sudah berada di depan ruangan Pak Wisnu yang sekarang menjabat sebagai komandannya. Lantas Ardian mengetuk pintu ruang pak Wisnu.

“Ya masuk,” sahut Pak Wisnu dari dalam yang dapat terdengar dari luar.

“Kamu sudah pulang?” tanya Pak Wisnu.

“Sudah Ndan,” jawab Ardian.

“Ini ada surat dari kantor pusat,” ucap Pak Wisnu sambil menyerahkan surat pemindah unit kepada Ardian.

“Selamat ya di kamu dipindah tugaskan di unit kekerasan dan Kejahatan,” lanjut Pak Wisnu sembari tersenyum bangga ke arah Ardian.

Dengan kaget setengah bahagia Ardian menerima surat dari Pak Wisnu. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang barusan dirinya dengar.

“Terimakasih pak,” ujar Ardian yang sudah tak lagi bisa menyembunyikan senyumannya.

“Kebetulan kamu masuk di unit 3 kekerasan dan Kejahatan, saya serahkan sebuah kasus untuk kamu yang harus kamu pecahkan bersama tim kamu. Pembunuhan Berantai yang sampai sekarang belum terungkap siapa pelakunya. Mulai besok kamu

Menjadi Kanit 3,” jelas Pak Wisnu.

“Siap Ndan,” balas Ardian dengan hormat dan memutar badannya.

Sambil senyum senyum Ardian kembali ke ruangannya, Ferdian melihat Ardian senyum-senyum merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu. Apalagi tak biasanya Ardian senyum seperti itu, tentu saja banyak sekali pertanyaan yang bersarang di kepala Ardian.

“Di, kenapa kamu senyum senyum gitu?” tanya Ferdian.

“Emang kamu diapain sama komandan tadi?” tanya Ferdian lagi.

“Yes, Yes, Yes,” sorak Ardian penuh kesenangan.

“Aku mulai besok ga disni lagi, Fer,” jelas Ardian.

“Terus kamu mau kemana? “ tanya Ferdian dengan wajah penasaran.

“Mulai besok aku dipindah tugaskan unit 3 kejahatan dan kekerasan, Fer,” jawab Ardian.

“Hah? Apa? Apa aku ga salah dengar kan, Di?” tanya Ferdian. Ardian menggelenkan kepalanya sebagai jawaban.

“Besok kamu ikut aku ya? Mau kan?” tanya Ardian.

“Serius, Di?” tanya Ferdian tak percaya.

“Iya serius,” jawab Ardian tanpa ragu.

Keesokan paginya Ardian dan Ferdian bertugas di unit 3 kejahatan dan kekerasan. Baru saja masuk sudah dapat laporan penemuan mayat seorang perempuan dirumah kosong, Ardian dan tim segera menuju ke lokasi. Banyak sudah para warga berdatangan melihat mayat tersebut.

Ardian dan Ferdian menerima laporan bahwa ada bekas luka jeratan di bagian leher, luka tusuk di bagian perut sebanyak 7 kali dengan panjang 15 cm, mayat perempuan setengah telanjang di bagian kemaluannya terdapat bercak sperma. Diduga pelaku menjerat lehernya dahulu.

Niat pelaku hanya ingin memperkosa tapi karena korban sadar dari pingsannya dan berteriak, pelaku panik menusuk korban. Belum puas menusuk korbannya, melihat korban tak berdaya si pelaku ini melakukan niat awalnya memperkosa korbannya. Setelah selesai ditinggalkan begitu saja oleh pelaku,

Dan ini korban yang ke 5 dengan luka yang dibagian sama cerita Ferdian pada Ardian.

Saat penyelidikan berlangsung seorang perempuan dan laki-laki separuh baya datang mencoba menerobos penjagaan petugas untuk lihat mayat, wanita menangis sambil meraung raung. Semua orang yang ada di tempat kejadian perkara hanya diam sembari menatap ke arah perempuan dan laki-laki paruh baya itu.

“Anakku, kenapa sampai begini? Ibukan sudah bilang jangan pulang sendirian, Nak,” teriak perempuan paruh baya dengan tangisan yang terdengar pilu itu.

Ardian pun mencoba mendekati ibu dan bapak separuh baya itu.

Dengan sopan dan pelan Ardian mendekat. “Maaf, bapak ibu. Apakah jasad ini adalah anak ibu dan bapak?” tanya Ardian.

Sang bapak mengatakan, “Iya nakx kami yakin itu putri kami. Nak, mohon diizinkan kami melihat jenazah anak kami nak.” Bapak itu menangis sambil mengusap air matanya.

Sambil memberikan isyarat pada petugas jaga, Ardian mempersilahkan bapak dan ibu paruh baya itu melihat jenazah yang diduga anaknya.

“Baik pak silakan masuk,” ucap Ardian memberikan izin.

Begitu melihat jenazah perempuan tersebut, sepasangan suami istri itu menangis histeris. Benar, jenazah perempuan adalah putri mereka yang dicari semalaman dan tak ketemu.

Sementara dikantor Mira pak Hendro mendengar berita itu meminta Mira untuk mencari tahu kabar berita pembunuh itu. Mereka berdua memang berada di dalam satu ruangan yang sama.

“Mira, kamu nanti liputan di sana, berikan informasi yang akurat dan terpercaya,” suruh Pak Hendro.

“Baik bapak ku tersayang,” jawab Mira.

Mira pun keluar kantor mencari berita tentang pembunuhan itu. Disaat bersamaan, Ardian sedang mencari bukti bukti untuk menangkap pelaku pembunuhan. Ketika Mira sibuk mencari berita, ada tamu tak diundang menghampiri Mira berusaha merebut kamera Mira.

“Tolong, tolong copet,” teriak Mira ketika kamera miliknya sudah diambil oleh pencopet itu.

Mira berusaha mengejar, seorang bapak bapak datang menghampiri Mira.

“Ada apa mba?” tanyanya.

“Tolong pak, kamera saya dicopet,” jawab Mira dengan nafas terengah-engah.

Dengan sigap Ardian menangkap pencopet itu dengan menjegal kakinya hingga jatuh tersungkur dan Ferdian segera memborgol tangan pencopet tersebut. Sesampainya Mira disana, ia

Mendapatkan kameranya sudah ditangan Ardian dan pencopetnya sudah terborgol.

Ardian bukan tipe laki laki yang gampang tergoda dengan wanita tapi ntah mengapa dengan Mira dia seperti terhipnotis. Saat Ardian menyerahkan kameranya, Ferdian heran melihat Ardian menatap Mira tanpa berkedip sekalipun.

“Di, Di,” ucap Ferdian sambil menepuk pundak sahabat, sesekali menatap Mira mulai menjauh dari pandangannya.

“Woy, kamu kenapa Kok seperti melihat sesuatu gitu. Kamu sakit?” tanya Ferdian heran.

Ardian tersadar sahabatnya sudah disebelahnya. “Ah, tidak,” jawabnya sambil berlalu pergi.

“Eh di tunggu kamu mau kemana?” tanya Ferdian yang melihat Ardian mulai pergi dari hadapannya.

“Ah...apa bagus nya perempuan itu hingga Ardian sampai lupa diri gitu sih? Ah sudahlah yang penting Ardian masih waras dia,” cuman Ferdian.

Setiba dikantor Adrian terlihat melamun, Ferdian mulai merencanakan untuk menggoda sahabatnya itu.

“Eh Di, kamu dari tadi setelah ku perhatikan kamu setelah lihat gadis itu melamun terus kesambet kamu ya?” tanya Ferdian dengan alis yang dinaik turunkan.

Ardian hanya senyum membuat Ferdian percaya dugaannya benar, jika Ardian telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Cie, cie, Aku tau kamu lagi jatuh cinta ternyata sama gadis itu,” goda Ferdian.

Melihat tingkah sahabatnya itu Ferdian paham jika temannya jatuh cinta. Beberapa hari setelah kejadian, Adian mendapat laporan lagi jika ada korban pembunuhan lagi dan lukanya sama persis seperti korban sebelumnya.

Begitu mendengar kabar itu Mira pun tanpa berpikir panjang segera ke lokasi kejadian kejadian tersebut untuk meliput, dan kembali Ardian dan Mira bertemu kembali. Tanpa sengaja Mira menubruk Ardian melakukan penyelidikan, Mira hilang keseimbangan dan hampir jatuh dengan reflek Ardian menagkap Mira supaya tidak jatuh. Mereka berdua saling menatap tanpa bekata apa apa.

Melihat hal itu Ferdian memberi isyarat pada Ardian

Berdehem seketika Mira dan Ardian tersadar. Mereka langsung merubah posisi masing-masing yang cukup tidak enak dipandang itu.

“Ah .. maaf pak saya tidak sengaja,” ucap Mira.

“Oh tak apa mba,” balas Ardian.

“Mba tempo hari kan yang kehilangan kameranya?” tanya Ardian memastikan.

“Iya pak,” jawab Mira.

“Rupanya mba wartawan,” balas Ardian.

“Iya pak saya wartawan,” Mira menganggukkan kepalanya.

Semenjak pertemuan itu insensitas pertemuan antara Ardian dan mira sering bukan hanya tentang pekerjaan, tapi yang lainnya juga. Akhirnya mereka saling jatuh cinta setelah setahun mereka berpacaran Ardian berniat ingin melamar Mira. Ardian mencoba bicara pada ayah ibu nya dan ingin sekali menikah dengan Mira.

“Betul kamu ingin menikah dengan Mira?”

“Papa dan mama setuju saja di tapi inget jika kamu nyakiti papa sendiri yang akan menghukum kamu. Mira itu anaknya baik, papa dan mama suka sama dia.”

“Iya pa Ardian ga akan nyakiti Mira pa, Ardian janji pa,” ujar Ardian. Ia sudah mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuanya.

Baik besok kita akan melamar Mira. Dengan wajah berbinar binar Ardian mengucapkan terimakasih.

Keesokan harinya Ardian dan orang tuanya datang melamar Mira. Betapa senangnya hati Mira, beberapa bulan kemudian Ardian dan Mira pun menikah.

Setelah 1 tahun berlalu Ardian dan Mira menikah, banyak hal yang mereka hadapi namun suatu ketika Mira mendapatkan tugas dari pak Hendro sang atasan untuk mencari tahu sebuah kasus yang belum terpecahkan yang juga ditangani Ardian suami nya. Kasus Pembunuhan Berantai.

Sedang asyik mencari tahu kasus itu tiba tiba seseorang menarik tangan Mira dan membekap mulutnya.

“Hai...sayang lama tak jumpa aku rindu sama kamu,” ujar seseorang itu dengan tertawa dan memeluk Mira.

Dengan terkejut Mira menjawab, “Gila kamu ky, aku sudah jadi istri orang.”

Dengan tersenyum sinis dan mengunyah permen karet. “Hah..polisi bodoh itu suami mu? Apa hebatnya dia?”

“Jangan hina suamiku dia tetap lebih baik dari kamu,” bela Mira kepada suaminya.

“Apa kamu bilang? Polisi bodoh itu lebih baik dariku katamu apa iya? Apa buktinya?” tanyanya beruntun.

“Ingat ada tanda tanda yang pernah dikatakan Ardian dilengannya penuh tato selalu menggunakan slayer orange dan bertopi biru,” batin Mira.

“ Jadi selama ini kamu pembunuh berantai itu?” tanya Mira dengan tatapan mengintimidasi.

Sekali lagi risky tersenyum sinis. “Kalo iya kenapa hah? Kali ini kau tidak akan membawaku kekantor suamimu yang bodoh itu aku lah yang akan mengirimmu ke neraka!” ujar nya dengan penuh penekanan.

Dengan ketakutan Mira berlari sambil telpon Ardian suaminya, namun belum sempat terangkat oleh Ardian Mira sudah keburu dihadang dan diseret oleh risky dibawa tempat persembunyian. Setelah itu Mira disetubuhi oleh risky dan lebih parahnya Mira dibunuh dengan cara ditusuk 7 kali seperti korban lainnya setelah itu Mira dibawa dan ditinggalkan begitu saja dirumah kosong.

Ardian pun mencoba telpon balik tapi tidak terangkat oleh Mira, Ardian heran dengan sikap istrinya yang tak biasa seperti ini. Perasaannya semakin tak karuan, entah mengapa ia khawatir dan takut secara bersamaan. Bahkan ia tidak tahu ketakutan apa yang dirinya rasakan sekarang.

“ Kenapa, Di?” tanya sahabatnya, Ferdian.

“Ntahlah, Mira tak biasa begini. Biasanya kalo ku telpon disegera angkat telponnya,” ujarnya.

“Bisa jadi dia dijalan, maka dari itu dia tak mengangkat telepon mu,” jawab Ferdian yang mulai menenangkan sahabatnya itu yang sekarang menampilkan wajah panik.

“Mudah mudahan seperti itu,” sahut Ardian.

Akhirnya Ardian telpon kerumah untuk mengecek.

Tut

Tut

Tut

“Hallo,” sapa seseorang dengan suara cadelnya.

“Andi ini om, tante sudah pulang sayang?”

“Belum om.”

“Coba om mau bicara sama kakek.”

“Iya om sebental.”

“Kek, kakek.”

“Iya... “

“Ada telepon dari om.”

“Oh, terimakasih cucuku.”

“Om Andi makan dulu ya.”

“Iya sayang sambil senyum.”

Sambil menyerahkan gagang telepon ke kakeknya. “Hallo nak.”

“Mira sudah pulang yah?”

“Belum nak.”

“Ayah juga heran nak biasa nya jam 5 td sudah dirumah tapi sampai jam segini belum dirumah.”

“Baik yah Ardi sebentar lagi pulang.”

“Oh baik lah nak hati hati di jalan ya.”

“Iya yah.”

Sambil menutup teleponnya, Ardian berkemas untuk pulang.

“Kamu pulang, Di,” tanya Ferdian.

“Iya, Mira ternyata sampai jam segini belum dirumah,” jawab Ardian.

“Ouh, baiklah aku berjaga disini Di.”

“Jika ada sesuatu telepon aku saja tak apa,” ucap Ardian sambil menepuk pundak Ferdian.

“Oke, kamu juga jika butuh bantuan ku aku segera kesana,” ucap Ferdian.

Ardian menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempol ke Ferdian lalu berlalu pergi . Dalam perjalanan pulang, Ardian melihat kanan kiri siapa tahu dia bertemu istrinya.

“Ya Tuhan dimana istriku?!” Ardian bergumam dalam hati.

Hingga tiba dirumahpun tak kunjung bertemu istrinya, sepanjang malam pun Ardian dan ayah mertuanya menunggu Mira pulang tapi tak pulang hingga pagi hari. Ardian kembali kekantor pun tak ada kabar dari Mira.

Bab 3

Saat dikantor, Ardian Mendapat laporan dari warga jika ada penemuan mayat kembali. Ardian dan Ferdian bergegas ke lokasi, hancur hati Ardian melihat sang istri terbujur kaku di TKP. Dengan mengepal tangan Ardian berjanji didepan jasad istrinya akan menangkap pelakunya sendiri.

Ardian yang saat itu masih emosi mendapatkan laporan dari pihak forensik mengatakan sang istri tewas dengan setengah telanjang, luka tusuk didadanya, leher terjarat dan ditemukan ada sperma di baju atasan yang dikenakan saat itu serta peralatan jurnalistiknya berupa kamera dan buku catatan yang bertebaran.

Kemungkinan besar sang pelaku ini membunuh korbannya dulu baru diperkosa semakin marah Ardian mendengar semua yang dikatakan oleh forensik, baru 1 tahun Ardian menikah, Mira istrinya pergi meninggalkan dengan cara mengenaskan seperti itu. Tak lama setelah itu terdengar ribut ribut dari kejauhan ternyata sang mertua dan atasan Mira memohon mohon untuk melihat jasad anak nya.

Ardian memberikan isyarat pada petugas jaga agar dipersilahkan masuk akhirnya dipersiahkan masuk. Ardian pun berlari kecil memeluk ayah mertuanya Dandy sambil menangis dan berlutut didepan ayah mertuanya.

“Ayah, maafkan Ardian, Ardian tidak bisa menjaga Mira dengan baik ayah. Ardian akan menangkap sendiri pelaku pembunuh Mira yah,” ucap Ardian sambil menangis. Dengan mengusap air matanya, ayah Mira membantu Ardian berdiri.

Ayah Mira berkata, “sudah lah nak ini semua bukan kesalahanmu, Mira memang anaknya begitu terlalu berani. Nanti jika sudah selesai pulang ke rumah ya, ayah ingin menunjukkan sesuatu padamu siapa tahu bisa jadi pentunjuk untukmu.”

Sambil mengusap air mata Ardian berkata, “Baik yah Ardian akan pulang nanti dan menemani ayah.”

Setelah ayahnya melihat jasad Mira lalu masuk mobil ambulans dan ayahnya ikut dimobil itu. Ardian mengikuti dari belakang bersama teman temannya.

Selesai diotopsi Mira pun dibawa pulang dan dimakamkan dekat dengan ibu dan kakaknya. Ardian menatap semua ini sambil menangis.

“Sayang terlalu cepat kamu pergi kita belum menikmati semuanya,” ucap Ardian sambil mencium pusara istrinya.

“Aku akan kembali setelah aku menemukan pembunuh mu sayang,” lanjut Ardian dengan sorot mata tak dapat di artikan.

Ardian bangkit dari posisinya dan menghampiri kedua orang tuanya yang berdiri di sampingnya. “Pah, mah Ardi pulang ke rumah Mira ya gpp kan?” tanya Ardian.

“Iya nak, gak papa. Pulanglah kerumah sesukamu nak yang penting hatimu tenang. Pak saya titip Ardian ya.”

“Baik pak, Ardian akan baik baik saja,” jawab ayah Mira sambil tersenyum.

Akhirnya Ardian mengikuti ayah mertuanya pulang kerumah, sedangkan orang tua Ardian pun kembali kerumahnya. Sesampainya dirumah Ardian masuk kamar Mira, disana ada beberapa foto Mira yang masih terpajang dan melihat lihat seisi kamar dengan mata sayu dan berkaca kaca.

Dikamar ini penuh kenangan, meraka pernah bercengkrama tertawa dan bercanda dikamar ini. Dengan tiba tiba ayah mertuanya masuk dengan membawa sebuah buku ditangannya.

“Ini yang pernah ayah janjikan nak, Mira pernah berkata dengan ayah jika sesuatu terjadi padanya berikan ini pada suamiku Ardian yah,” ujar ayah Mira.

“Apa ini yah?” tanya Ardian l yadengan alis berkerut.

“Ntahlah nak, ayah juga tak tahu isinya apa,” sahut ayah Mira lalu keluar dari kamar Mira dan meninggalkan Ardian sendri dikamar itu.

Ardian pun mulai membuka buku itu, membaca satu persatu buku diary dan Ardian pun senyum senyum sendiri ketika membuka diary istrinya.

Tanggal 20 Mei 2019.

Hari ini aku berkenalan dengan seorang pria dia penuh kharismatik dia seorang polisi Ardian namanya senyumnya tawanya sungguh mempesona.

Tanggal 05 Oktober 2020.

Akhirnya mas Ardian melamarku setelah satu tahun kami pacaran sungguh Bahagianya aku nanti malam mas Ardian datang ke rumah bersama orang tuanya.

Tanggal 20 Mei 2021.

Akhirnya hari bahagiaku dan mas Ardian datang hari ini adalah hari pernikahanku semoga aku bisa selalu bersamanya.

Tanggal 19 Maret 2022

Aish, kenapa tiba tiba Riski ingin menemuiku setelah 3 tahun dia dipenjara karena kasus pemerkosaan dan pembegalan? Apa dia masih marah sama aku? Aku memutuskan dia dan menjebloskan dia ke penjara apa dia tidak jera dengan hukuman 3 tahun kenapa dia masih ingin membunuh orang lain?

Tanggal 22 Maret 2022

Tolong, tolong mas Ardi Mira takut, Riski mau membunuh Mira mas Ardi tolong Mira.

Dengan menangis Ardian membaca semua buku dairy istrinya, Ardian pun bergegas turun menuju ruang tengah menemui ayah mertua yang sedang asik menonton televisi dan duduk disamping ayah mertuanya. Ia mengembalikan buku diary milik Mira, Ardian pun meminta ayahnya membaca buku itu juga. Setelah beberapa saat membaca buku itu ayahnya pun kaget membaca buku diary anaknya itu.

“Kenapa yah Mira tak pernah cerita tentang ini pada saya, Riski itu siapa yah?” tanya Ardian dengan masih sesenggukan.

“Setahu ayah Riski pernah pacaran sama Mira, namun ayah tak pernah merestui hubungan Mira dan Riski karena umur mereka terlalu jauh Riski masih anak anak umur 19 tahun sedangkan Mira jauh sepuluh tahun lebih tua dari Riski. Akhirnya Mira kecewa dengan Riski nak karena ternyata Mira memergoki Riski memperkosa temannya dan Riski adalah salah satu kawan begal. Serta Mira lah yang menjebloskan Riski ke penjara,” jelas ayah Mira.

Ardian pun menangis mendengar cerita dari ayah mertuanya dan memeluk ayah mertuanya seperti anak kecil yang ingin dipeluk oleh bapaknya,sambil bersandar dipundak ayahnya sambil berkata, “Yah, izinkan Ardi tinggal bersama ayah sampai Ardi bisa menemukan Riski yah,” ujarnya.

“Iya tak apa, tinggalah disini nak sesukamu.Toh ini rumahmu juga sayang,” sahut ayah Mira sambil mengusap kepala menantunya itu.

Hingga akhirnya Ardian tertidur dipundak sang ayah.

Keesokan pagi Ardian kembali bertugas dikantor, ia sudah berada di depan ruangan pak Wisnu. Dengan segera dirinya mengetuk pintu ruang pak Wisnu.

“Ardian, kamu sudah kekantor? Ga papa kamu udaham, Di?” tanya pak Wisnu.

Ardian menjawab dengan anggukan kepala sambil berkata, “iIya pak ga papa, saya pun sudah punya petunjuk siapa pelaku pembunuh Mira pak.” Ardian menyodorkan buku harian Mira, pak Wisnu pun membaca sejenak buku.

“Kamu yakin Riski pembunuh istrimu? Dia kan masih dipenjara Di? Bagaimana caranya dia dipenjara bisa membunuh istrimu?”

“Tidak pak, menurut informasi yang saya dapatkan dia sudah keluar dari penjara pak, Mohon izin saya menangani kasus istri saya.” Ardian sangat memohon untuk masalah ini.

“Baik saya izin kan tapi ingat jangan menggunakan emosi menangani kasus ini kamu tahukan apa resikonya.”

“Baik pak.”

“Saya serahkan kasus ini sama kamu dan timmu, kumpulkan bukti yang kuat sebanyak mungkin agar kita bisa menangkap Riski lagi.”

Dengan segera Ardian mengumpulkan bukti-bukti dan menemui pak Hendro selaku atasan Mira. Ardian pun masuk keruangan pak Hendro, ketika Ardian masuk beberapa karyawan nguping pembicaraan Ardian dan pak Hendro.

“Mas, maafkan saya kalo saya tahu begini akhirnya saya tidak akan izinkan Mira untuk meliput kasus ini.” Pak Hendro menundukan kepalanya penuh rasa bersalah.

“Tak apa pak,” balas Ardian sambil menyodorkan sebuah foto.

“Pak, andapernah melihat atau bertemu dengan orang ini?” tanya Ardian.

Sambil mengerutkan keningnya dan kaget. “Ini mas, ini yang sering datang kekantor kita sekitar 3 tahun pernah mengancam Mira sampai Mira ketakutan seminggu tidak masuk kantor. Karena ulah orang ini,” jawab Pak Hendro.

“Bapak tahu dia pemerkosa dan begal, dia pernah masuk penjara dan saat ini sudah keluar dari penjara.”

“Apa mas, saya baru tahu tentang ini. Bukan dia dulu pacarnya Mira?” tanya Pak Hendro.

“Menurut dugaan dia pelaku pembunuh Mira pak, jadi mohon kerjasamanya jika ada informasi tentang orang ini tolong hubungi saya pak.”

“Baik mas,” sahut Pak Hendro sambil jabat tangan dengan Ardian. Lalu Ardian pamit kembali kekantor

Ketika Ardian keluar beberapa karyawan yang nguping pembicaraan tadi pun bubar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED