Siang hari ini sangat terik, Mira baru saja pulang dari liputan khusus perampokan di perumahan dekat kantornya. Sekarang dirinya sedang markirkan motorya digarasi kantor, setelah selalu melakukan kegiatan itu dirinya bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya.
Di ruang kerjanya cukup panas, lantas Mira menyalakan AC karena peluh sudah membanjiri pelipisnya. Setelah itu ia bergegas menuju pentri kantor mengambil secangkir kopi dan menyapa para OB disana. Ada beberapa OB yang ikut menyapa dirinya, karena dirinya dikenal baik oleh beberapa orang yang ada di sini.
“Ah mba Mira saya kira mba ga datang hari ini” ujar Ujo.
Sambil tersenyum Mira menjawab, “Saya pagi pagi sudah ditugaskan oleh bos untuk liputan emang ada apa?” tanya Mira di akhir.
“Biasa mba pala botak heboh mba nyariin mba satu satu ruangan dimasukin sambil teriak teriak Mira...Mira dimana kamu?” Ujo Sambil manyun bercerita kepada Mira.
Mira tertawa. “Lupa rupanya nyuruh tuan putrinya ini sedang liputan diluar pagi pagi, dasar bandot tua,” sahutnya pelan dan dengan candaan di akhir.
Mira pun bergegas ke ruang kerjanya sambil membawa kopi ditangannya. Karena dirinya juga harus bekerja, jika bersantai-santai maka pekerjaannya akan menumpuk.
Menumpuk.
“Mbak, hati ati. Pala botak menghadang,” teriak Ujo kepada Mira.
Sambil tertawa kecil mira pun mengacung kan jempol kebelakang pada Ujo. Mira kembali berjalan menjauh dari Ujo dan para Ob yang lain. Sampai akhirnya dirinya sudah berada di depan ruang kerjanya, dengan begitu dirinya langsung masuk. Ternyata setelah sampai di dalam ruangan, dirinya dikejutkan dengan keberadaan Pak Hendro sudah berada diruangannta sambil tersenyum lebar.
“Selamat siang bapak ku tersayang, kenapa sih pak udah heboh nyari tuan putri yang cantik ini kan saya lagi liputan diluar bapak,” ujwe Mira dengan sedikit menyombongkan diri.
“Oh ya, saya lupa kamu liputan diluar pagi pagi tadi,” balas Pak Hendro.
“Kalo mau nyuruh liputan kan ada yang lain pak,” sahut Mira.
“Tidak, tidak saya mau kamu liputan pagi besok, Mir,” suruh Pak Hendro.
“Oh baiklah, bapak ku tersayang. Besok dimana saya harus meliput?” tanya Mira.
“Dikantor polisi, cantik,” jawab Pak Hendro dengan nada genit di akhir.
“Hah? Apa pak? Dikantor polisi? Ga salah kan bapak bicara?” tanya Mira. Tatapannya tak percaya, berharap apa yang dirinya dengar hanya lelucon saja.
Pantas pak Hendro menggeleng kan kepala sebagai jawaban.
“Kenapa harus saya? Ada Rendi, ada Jono. Bapak suruh saja salah satu dari mereka kesana,” sahut Mira tak terima.
“Saya terlalu istimewa buat ke sana pak,
Bapak nyuruh saya ngeliput penangkapan maling, rampok atau pelaku pembunuhan?” lanjut Mira.
“Kalo karena itu kenapa saya suruh kamu, pasti saya langsung suruh Jono. Tidak bukan itu, justru kamu istimewa dan saya meminta kamu yang kesana. Ada berita besar disana,” sahut Pak Hendro.
“What? Qpa pak? Saya? Oh my God bapak,” ucap Mira sembari menepuk kepalanya sendiri.
Rendy pun bergegas masuk keruangan Mira setelah mendapatkan pesan bahwa Pak Hendro menyuruh dirinya datang ke sini. Tentu saja ia langsung datang, mana mungkin ia tak mau menuruti apa kata bosnya sendiri. Tapi di dalam ia terkejut ketika melihat ada Pak Hendro juga berada di ruangan Mira. Sebenarnya apa yang terjadi? Membuat dirinya cemas saja.
“Rendy, besok kamu temani Mira ke kantor polisi,” ucap Pak Hendro setelah mengetahui keberadaan Rendy di sini.
“Iya pak, besok saya nemenin Mira pagi-pagi ke kantor polisi ya,” jawab Rendy.
“Oh iya, Mba Mira kenapa pagi pagi kekantor polisi? Apa yang hilang mba?” tanya Rendy kepada Mira. Sedikit berbisik tapi masih dapat di dengar oleh Pak Hendro.
Mira pun memberi isyarat kepada Rendy agar menurut saja, Rendy yang mendapatkan tatapan maut dari Mira langsung menganggukkan kepalanya pertanda paham. Rupanya salah ia bertanya seperti itu, ia pun jadi gerogi mendapatkan tatapan dari Mira.
“Ba–baik pak, besok saya temenin mba Mira kesana,” ujar Rendy dengan sedikit terbata-bata.
“Oke, saya tinggal dulu. Kalian berdua rembukan mau bagaimana berangkatnya, kalau saya sih terserah sama kalian,” ucap Pak Hendro lalu melangkah pergi dari sini.
Tersisa Rendy dan Mira saja, mereka merencanakan keberangkatan besok. Supaya tidak telat, beberapa kali Mira memberikan peringatan kepada Rendy agar dia datang tepat waktu. Tentu saja jika telat Pak Hendro akan marah besar. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?
Keesokan paginya Mira dan Rendy berangkat ke mabes polri, ternyata disana ada pelantikan pejabat polri. Seperti biasa, Mira dengan lincah menuju tempat pelantikan. Sedangkan Rendy yang tubuhnya gemulai seperti perempuan berjalan seperti putri sambil memanggil Mira. Pemandangan seperti ini memang sering kali terjadi.
“Mba, mba Mira, tungguin! Jalan cepat amat sih mba?!” ucap Rendy yang sedikit kesal dengan Mira.
Sambil berhenti sejenak Mira mengatakan, “Makannya, buruan jalannya! Kita ketinggalan berita kalo gini caranya!”
Sambil menyeret Rendy menuju ruang liputan, Mira dan Rendy pun liputan khusus tempat itu dan akhirnya selesai lalu kembali kekantor. Ketika Mira dan Rendy kembali kekantor pak Hendro sudah berada diruang kerjanya Mira menyambut Mira, Mira setengah kaget saat melihat pak Hendro sudah duduk diruang kerjanya.
“Sudah lama pak diruangan saya?” tanya Mira.
“Tidak 5 menit yang lalu saya sudah disini. Bagus Mira, kau melaksanakan tugas dengan baik,” ucap Pak Hendro sembari menepuk pundak dan tersenyum pada Mira.
Mira pun heran melihat sikap pak Hendro hari itu yang tidak biasa nya, setelah pekerjaan selesai Mira pun kembali pulang kerumahnya. Dirumah dia disambut bapak dan keponakan masih 3 tahun, kakaknya menjadi TKW di Singapura sejak bercerai dengan suaminya 2 tahun yang lalu demi mencukupi kebutuhan anak semata wayangnya.
Sedangkan Mira anak ke 3 dari 3 bersaudara, kakaknya yang pertama seorang tentara 4 tahun yang lalu tewas ketika menjalankan tugasnya di Papua sedangkan ibunya meninggal dunia 1 tahun karena stroke. Kini tumpuan ayahnya hanya Mira dan kakaknya no 2 bernama Rasmi, saat ini Mira tinggal bersama ayahnya dan keponakannya.
Menjadi wartawati adalah cita citanya Mira dari sejak dia duduk dibangku SD. Kecintaan dia terhadap dunia jurnalistik mengantarkan dia menjadi wartawati yang cerdik dan selalu dipercaya dan dibanggakan oleh para Leadernya dikantor. Entah mengapa setiap Mira meliput sendiri beritanya selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.
Mira tinggal dengan ayahnya yang lumpuh dan beliau hanya bisa duduk di kursi roda akibat kecelakaan mobil saat pulang kerja 2 tahun yang lalu. Kakinya diamputasi sehingga sang ayah tak bisa berjalan dan bergantung pada orang lain, dan dengan keponakan yang berumur 3 tahun sedikit keterbelakangan mental karena sewaktu ibunya mengandung sempat mendapat perlakuan yang tak baik dari suaminya perut sang kakak ditendang sampai tersungkur saat itu suaminya dalam keadaan mabuk berat.
Hingga menyebabkan sang kakak terpaksa dibawa kerumah sakit dan dipaksa untuk melahirkan agar anak yang dikandung bisa selamat dan ibunya, sedangkan sang kakak ipar ntah dimana keberadaannya sampai saat ini. Mungkin karena kecewa dan malu terhadap orang tuanya karena suami yang dia banggakan adalah orang yang suka mabuk, judi dan suka main perempuan.
Rasmi akhirnya merantau ke negeri orang di Singapura menjadi ART atau Assisten Rumah Tangga dan anak semata wayangnya dititipkan oleh orang tua dan adiknya Mira. Kejadian sang kakak membuat Mira trauma menjalin hubungan dengan laki laki takut kejadian kakak terulang lagi pada dirinya, itu sebabnya Mira sampai hari ini dia masih sendiri. Dia lebih memilih karirnya walaupun orang tua kadang menjodohkan dengan pilihan mereka tapi Mira tetap menolak.
Seperti sekarang ini, ayah Mira memperkenalkan Mira pada seorang lelaki tajir dan tampan. Begitu Mira dipertemukan dengan dia, laki-laki itu sebut saja Rey. Ayahnya mengajak Mira kesebuah pesta dirumah Rey, disana Mira bertemu dengan orang tua Rey. Orang tua Rey menyukai Mira, Mira pun asyik dengan obrolan sang calon mertua. Namun, apa yang terjadi ketika Mira bertemu dengan Rey betapa terkejutnya. Ternyata Mira pernah diusir oleh satpam kantor Rey saat melakukan liputan khusus dikantor beberapa waktu yang lalu.
“Ba–bapak disini?” tanya Mira sedikit terbata-bata.
“Eh kamu, ngapain disini? Belum puas kamu ngobrak ngabrik kantor saya dengan beritamu yang menjijikan itu? Pergi kamu dari sini!” usir si Rey.
“Ini rumah saya! Saya berhak mengusir siapa pun yang mengganggu saya dan keluarga saya!” lanjut Rey dengan mata elangnya yang siap memghunus kapan saja.
Semua mata para tamu dirumah itu tertuju pada anak tuan rumah pesta itu dan Mira. Dengan tergopoh-gopoh papa Rey menghampiri Rey dan dengan penuh emosi papanya Rey menapar pipi Rey. Suasana begitu hening, semuanya fokus menatap ayah dan anak itu.
Plak
Tamparan mendarat di pipi mulus milik Rey, tentu saja dia dapatkan dari papanya yang sekarang menatap dirinya dengan tatapan mematikan.
“Apa-apaan kamu ini Rey? Berani sekali kamu usir tamu mama sama papa?”
Mama Rey berusaha membantu Mira yang habis dipukul oleh Rey dan menjauhkan Mira dari Rey. Tapi Rey memang sempat memukul Mira hingga Mira jatuh, tentu saja semua orang terkejut dengan kejadian ini.
“Papa dan ayah Mira berusaha menjodohkan kamu dengan Mira!” ujar Papa Rey.
“Tapi perempuan itu menghancurkan bisnisku, pa?” sahut Rey tak terima.
“Mulai hari ini juga papa berhentikan kamu dari pemilik perusahaan! Papa anggap kamu ga becus ngurus perusahaan! Dan kamu keluar dari rumah ini papa tidak kasih sepeserpun dari warisan papa dan mama! Soal perusahaan Wendi yang akan menggantikan posisi kamu!” Keputusan mendadak yang Rey dapatkan. Ini berita yang sangat buruk.
“Tapi pa—” belum juga Rey melanjutkan ucapannya.
“Tidak ada tapi tapian! Cepat keluar dari sini
Atau ... Wendi,” potong papa Rey cepat.
“I–iya pa panggilkan satpam komplek katakan sama mereka ada perusuh disini!”
“Ba–baik pa.”
Rey pun pergi, tapi terlebih dahulu dirinya berhenti di samping Mira.
“Lihat saja, nanti aku akan melakukan perhitungan denganmu perempuan licik!” ancam Rey sambil mengacungkan jari telunjuknya kepada Mira.
Setelah mengancam Mira Rey pun pergi dari pesta itu setelah kepergian Rey Mira bersimpuh didepan kedua orangtua Rey meminta maaf atas kekacauan dan merusak pesta hari itu. Ibu Rey sambil membantu Mira berdiri.
“Sudahlah nak Mira, ini bukan kesalahanmu ini semua salah tante dan om yang terlalu memanjakan Rey. Om dan tante yakin kamu hanya menjalankan tugasmu saja.”
“Iya, Mir,” timpal papanya Rey.
“Om terlalu percaya dengan Rey, ternyata dia bukan lah pemimpin perusahaan yang baik dia egois menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan sendiri. Om kira memperkenalkan kamu dengan Rey solusi terbaik untuk merubah sikap Rey yang arogan dan cenderung egois tapi malah justru sebaliknya,” ujar Papa nya Rey.
“Terimakasih Mir atas kamu telah mengungkap apa yang terjadi di perusahaan om kalo kamu tidak mengungkap berita itu ntah apa yang terjadi pada perusahaan om dikemudian hari. Pak Dendy saya harap persahabatan ini tetap terjalin baik walaupun kita batal menjadi besan,” lanjut Papa Rey.
Dengan senyum yang mengembang ayah Mira menggangguk kepala tanda setuju, Semua larut dalam pesta malam itu hingga pesta pun akhirnya selesai. Mira dan ayahnya pamit pada sahabatnya pak Irwan dan istrinya sang sahabat menawarkan kepada Mira dan ayahnya untuk diantar pulang dengan sopir.
“Yah, kok ga bilang sih kita ketempat om Irwan? Mira kan bisa siap siap apa gitu kek,” ucap Mira sambil pasang muka cemberut kepada ayahnya.
“Mau siap siap apa mir?” tanya ayahnya.
“Siap siap kabur,” jawab Mira asal.
“Kalo ayah bilang ke kamu sebelumnya sepertinya udah kabur itu,” balas ayah Mira.
“Ah ... ayah.” Dengan nada manja Mira mengadu.
“Tapi Mira ga mau dijodohkan sama Rey yah,” lanjut Mira.
“Kalo ga mau dijodohin cepetan gih kasih ayah mantu mir,” balas ayah Mira dengan nada sangat santai.
“Biar ayah dapat cucu lagi biar rame itu rumah ayah,” lanjutnya.
“Ah ayah, mulai deh ayah,” sahut Mira.
Ayahnya pun tertawa kecil melihat ulah anak bungsunya itu. Etelah sampai di rumah Mira dan ayahnya mengucapkan terimakasih pada pak sopir yang mengantarkan dan menyampaikan salam pada keluarga sahabatnya itu. Mira dan ayah masuk rumah, Mira pun membantu ayahnya untuk membersihkan badan serta membantu mengenakan pakaian ketika selesai membatu ayahnya Mira pun segera membersihkan badan dan pergi tidur bersama keponakan yang masih balita.
Suara peluit cukup nyaring, lalu lintas cukup padat. Kalimat itu mungkin bisa menandakan situasi di jalanan pagi ini. Seorang polisi sedang mengatur lalu lintas yang padat, sebut saja dia bernama Ardian. Saat Ardian mengatur lalu lintas yang padat, sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju dengan kencang.
Dari arah berlawanan muncul sepeda motor yang hendak menyeberang, terlihat juga sopir mobil tersebut terkejut ketika tabrakan maut tak dapat dihindari. Ardian dengan sigap segera menolong para korban dan membawa kerumah sakit.
Setelah selesai menolong korban kecelakaan tersebut, Ardian kembali ke kantor. Setibanya dikantor, Ardian baru saja duduk. Namun Ferdian datang menghampiri Ardian.
“Eh di dipanggil tuch sama komandan,”ujar Ferdian
“Ada apa?” tanya Ardian.
“Ntah lah, tadi komandan mencari mu kesini semoga bukan hukuman yang akan kau dapatkan,” ledek Ferdian.
“Ya sudah lah sebentar lagi aku kesana,” sahut Ardian.
Ardian sudah berada di depan ruangan Pak Wisnu yang sekarang menjabat sebagai komandannya. Lantas Ardian mengetuk pintu ruang pak Wisnu.
“Ya masuk,” sahut Pak Wisnu dari dalam yang dapat terdengar dari luar.
“Kamu sudah pulang?” tanya Pak Wisnu.
“Sudah Ndan,” jawab Ardian.
“Ini ada surat dari kantor pusat,” ucap Pak Wisnu sambil menyerahkan surat pemindah unit kepada Ardian.
“Selamat ya di kamu dipindah tugaskan di unit kekerasan dan Kejahatan,” lanjut Pak Wisnu sembari tersenyum bangga ke arah Ardian.
Dengan kaget setengah bahagia Ardian menerima surat dari Pak Wisnu. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang barusan dirinya dengar.
“Terimakasih pak,” ujar Ardian yang sudah tak lagi bisa menyembunyikan senyumannya.
“Kebetulan kamu masuk di unit 3 kekerasan dan Kejahatan, saya serahkan sebuah kasus untuk kamu yang harus kamu pecahkan bersama tim kamu. Pembunuhan Berantai yang sampai sekarang belum terungkap siapa pelakunya. Mulai besok kamu
Menjadi Kanit 3,” jelas Pak Wisnu.
“Siap Ndan,” balas Ardian dengan hormat dan memutar badannya.
Sambil senyum senyum Ardian kembali ke ruangannya, Ferdian melihat Ardian senyum-senyum merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu. Apalagi tak biasanya Ardian senyum seperti itu, tentu saja banyak sekali pertanyaan yang bersarang di kepala Ardian.
“Di, kenapa kamu senyum senyum gitu?” tanya Ferdian.
“Emang kamu diapain sama komandan tadi?” tanya Ferdian lagi.
“Yes, Yes, Yes,” sorak Ardian penuh kesenangan.
“Aku mulai besok ga disni lagi, Fer,” jelas Ardian.
“Terus kamu mau kemana? “ tanya Ferdian dengan wajah penasaran.
“Mulai besok aku dipindah tugaskan unit 3 kejahatan dan kekerasan, Fer,” jawab Ardian.
“Hah? Apa? Apa aku ga salah dengar kan, Di?” tanya Ferdian. Ardian menggelenkan kepalanya sebagai jawaban.
“Besok kamu ikut aku ya? Mau kan?” tanya Ardian.
“Serius, Di?” tanya Ferdian tak percaya.
“Iya serius,” jawab Ardian tanpa ragu.
Keesokan paginya Ardian dan Ferdian bertugas di unit 3 kejahatan dan kekerasan. Baru saja masuk sudah dapat laporan penemuan mayat seorang perempuan dirumah kosong, Ardian dan tim segera menuju ke lokasi. Banyak sudah para warga berdatangan melihat mayat tersebut.
Ardian dan Ferdian menerima laporan bahwa ada bekas luka jeratan di bagian leher, luka tusuk di bagian perut sebanyak 7 kali dengan panjang 15 cm, mayat perempuan setengah telanjang di bagian kemaluannya terdapat bercak sperma. Diduga pelaku menjerat lehernya dahulu.
Niat pelaku hanya ingin memperkosa tapi karena korban sadar dari pingsannya dan berteriak, pelaku panik menusuk korban. Belum puas menusuk korbannya, melihat korban tak berdaya si pelaku ini melakukan niat awalnya memperkosa korbannya. Setelah selesai ditinggalkan begitu saja oleh pelaku,
Dan ini korban yang ke 5 dengan luka yang dibagian sama cerita Ferdian pada Ardian.
Saat penyelidikan berlangsung seorang perempuan dan laki-laki separuh baya datang mencoba menerobos penjagaan petugas untuk lihat mayat, wanita menangis sambil meraung raung. Semua orang yang ada di tempat kejadian perkara hanya diam sembari menatap ke arah perempuan dan laki-laki paruh baya itu.
“Anakku, kenapa sampai begini? Ibukan sudah bilang jangan pulang sendirian, Nak,” teriak perempuan paruh baya dengan tangisan yang terdengar pilu itu.
Ardian pun mencoba mendekati ibu dan bapak separuh baya itu.
Dengan sopan dan pelan Ardian mendekat. “Maaf, bapak ibu. Apakah jasad ini adalah anak ibu dan bapak?” tanya Ardian.
Sang bapak mengatakan, “Iya nakx kami yakin itu putri kami. Nak, mohon diizinkan kami melihat jenazah anak kami nak.” Bapak itu menangis sambil mengusap air matanya.
Sambil memberikan isyarat pada petugas jaga, Ardian mempersilahkan bapak dan ibu paruh baya itu melihat jenazah yang diduga anaknya.
“Baik pak silakan masuk,” ucap Ardian memberikan izin.
Begitu melihat jenazah perempuan tersebut, sepasangan suami istri itu menangis histeris. Benar, jenazah perempuan adalah putri mereka yang dicari semalaman dan tak ketemu.
Sementara dikantor Mira pak Hendro mendengar berita itu meminta Mira untuk mencari tahu kabar berita pembunuh itu. Mereka berdua memang berada di dalam satu ruangan yang sama.
“Mira, kamu nanti liputan di sana, berikan informasi yang akurat dan terpercaya,” suruh Pak Hendro.
“Baik bapak ku tersayang,” jawab Mira.
Mira pun keluar kantor mencari berita tentang pembunuhan itu. Disaat bersamaan, Ardian sedang mencari bukti bukti untuk menangkap pelaku pembunuhan. Ketika Mira sibuk mencari berita, ada tamu tak diundang menghampiri Mira berusaha merebut kamera Mira.
“Tolong, tolong copet,” teriak Mira ketika kamera miliknya sudah diambil oleh pencopet itu.
Mira berusaha mengejar, seorang bapak bapak datang menghampiri Mira.
“Ada apa mba?” tanyanya.
“Tolong pak, kamera saya dicopet,” jawab Mira dengan nafas terengah-engah.
Dengan sigap Ardian menangkap pencopet itu dengan menjegal kakinya hingga jatuh tersungkur dan Ferdian segera memborgol tangan pencopet tersebut. Sesampainya Mira disana, ia
Mendapatkan kameranya sudah ditangan Ardian dan pencopetnya sudah terborgol.
Ardian bukan tipe laki laki yang gampang tergoda dengan wanita tapi ntah mengapa dengan Mira dia seperti terhipnotis. Saat Ardian menyerahkan kameranya, Ferdian heran melihat Ardian menatap Mira tanpa berkedip sekalipun.
“Di, Di,” ucap Ferdian sambil menepuk pundak sahabat, sesekali menatap Mira mulai menjauh dari pandangannya.
“Woy, kamu kenapa Kok seperti melihat sesuatu gitu. Kamu sakit?” tanya Ferdian heran.
Ardian tersadar sahabatnya sudah disebelahnya. “Ah, tidak,” jawabnya sambil berlalu pergi.
“Eh di tunggu kamu mau kemana?” tanya Ferdian yang melihat Ardian mulai pergi dari hadapannya.
“Ah...apa bagus nya perempuan itu hingga Ardian sampai lupa diri gitu sih? Ah sudahlah yang penting Ardian masih waras dia,” cuman Ferdian.
Setiba dikantor Adrian terlihat melamun, Ferdian mulai merencanakan untuk menggoda sahabatnya itu.
“Eh Di, kamu dari tadi setelah ku perhatikan kamu setelah lihat gadis itu melamun terus kesambet kamu ya?” tanya Ferdian dengan alis yang dinaik turunkan.
Ardian hanya senyum membuat Ferdian percaya dugaannya benar, jika Ardian telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Cie, cie, Aku tau kamu lagi jatuh cinta ternyata sama gadis itu,” goda Ferdian.
Melihat tingkah sahabatnya itu Ferdian paham jika temannya jatuh cinta. Beberapa hari setelah kejadian, Adian mendapat laporan lagi jika ada korban pembunuhan lagi dan lukanya sama persis seperti korban sebelumnya.
Begitu mendengar kabar itu Mira pun tanpa berpikir panjang segera ke lokasi kejadian kejadian tersebut untuk meliput, dan kembali Ardian dan Mira bertemu kembali. Tanpa sengaja Mira menubruk Ardian melakukan penyelidikan, Mira hilang keseimbangan dan hampir jatuh dengan reflek Ardian menagkap Mira supaya tidak jatuh. Mereka berdua saling menatap tanpa bekata apa apa.
Melihat hal itu Ferdian memberi isyarat pada Ardian
Berdehem seketika Mira dan Ardian tersadar. Mereka langsung merubah posisi masing-masing yang cukup tidak enak dipandang itu.
“Ah .. maaf pak saya tidak sengaja,” ucap Mira.
“Oh tak apa mba,” balas Ardian.
“Mba tempo hari kan yang kehilangan kameranya?” tanya Ardian memastikan.
“Iya pak,” jawab Mira.
“Rupanya mba wartawan,” balas Ardian.
“Iya pak saya wartawan,” Mira menganggukkan kepalanya.
Semenjak pertemuan itu insensitas pertemuan antara Ardian dan mira sering bukan hanya tentang pekerjaan, tapi yang lainnya juga. Akhirnya mereka saling jatuh cinta setelah setahun mereka berpacaran Ardian berniat ingin melamar Mira. Ardian mencoba bicara pada ayah ibu nya dan ingin sekali menikah dengan Mira.
“Betul kamu ingin menikah dengan Mira?”
“Papa dan mama setuju saja di tapi inget jika kamu nyakiti papa sendiri yang akan menghukum kamu. Mira itu anaknya baik, papa dan mama suka sama dia.”
“Iya pa Ardian ga akan nyakiti Mira pa, Ardian janji pa,” ujar Ardian. Ia sudah mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuanya.
Baik besok kita akan melamar Mira. Dengan wajah berbinar binar Ardian mengucapkan terimakasih.
Keesokan harinya Ardian dan orang tuanya datang melamar Mira. Betapa senangnya hati Mira, beberapa bulan kemudian Ardian dan Mira pun menikah.
Setelah 1 tahun berlalu Ardian dan Mira menikah, banyak hal yang mereka hadapi namun suatu ketika Mira mendapatkan tugas dari pak Hendro sang atasan untuk mencari tahu sebuah kasus yang belum terpecahkan yang juga ditangani Ardian suami nya. Kasus Pembunuhan Berantai.
Sedang asyik mencari tahu kasus itu tiba tiba seseorang menarik tangan Mira dan membekap mulutnya.
“Hai...sayang lama tak jumpa aku rindu sama kamu,” ujar seseorang itu dengan tertawa dan memeluk Mira.
Dengan terkejut Mira menjawab, “Gila kamu ky, aku sudah jadi istri orang.”
Dengan tersenyum sinis dan mengunyah permen karet. “Hah..polisi bodoh itu suami mu? Apa hebatnya dia?”
“Jangan hina suamiku dia tetap lebih baik dari kamu,” bela Mira kepada suaminya.
“Apa kamu bilang? Polisi bodoh itu lebih baik dariku katamu apa iya? Apa buktinya?” tanyanya beruntun.
“Ingat ada tanda tanda yang pernah dikatakan Ardian dilengannya penuh tato selalu menggunakan slayer orange dan bertopi biru,” batin Mira.
“ Jadi selama ini kamu pembunuh berantai itu?” tanya Mira dengan tatapan mengintimidasi.
Sekali lagi risky tersenyum sinis. “Kalo iya kenapa hah? Kali ini kau tidak akan membawaku kekantor suamimu yang bodoh itu aku lah yang akan mengirimmu ke neraka!” ujar nya dengan penuh penekanan.
Dengan ketakutan Mira berlari sambil telpon Ardian suaminya, namun belum sempat terangkat oleh Ardian Mira sudah keburu dihadang dan diseret oleh risky dibawa tempat persembunyian. Setelah itu Mira disetubuhi oleh risky dan lebih parahnya Mira dibunuh dengan cara ditusuk 7 kali seperti korban lainnya setelah itu Mira dibawa dan ditinggalkan begitu saja dirumah kosong.
Ardian pun mencoba telpon balik tapi tidak terangkat oleh Mira, Ardian heran dengan sikap istrinya yang tak biasa seperti ini. Perasaannya semakin tak karuan, entah mengapa ia khawatir dan takut secara bersamaan. Bahkan ia tidak tahu ketakutan apa yang dirinya rasakan sekarang.
“ Kenapa, Di?” tanya sahabatnya, Ferdian.
“Ntahlah, Mira tak biasa begini. Biasanya kalo ku telpon disegera angkat telponnya,” ujarnya.
“Bisa jadi dia dijalan, maka dari itu dia tak mengangkat telepon mu,” jawab Ferdian yang mulai menenangkan sahabatnya itu yang sekarang menampilkan wajah panik.
“Mudah mudahan seperti itu,” sahut Ardian.
Akhirnya Ardian telpon kerumah untuk mengecek.
Tut
Tut
Tut
“Hallo,” sapa seseorang dengan suara cadelnya.
“Andi ini om, tante sudah pulang sayang?”
“Belum om.”
“Coba om mau bicara sama kakek.”
“Iya om sebental.”
“Kek, kakek.”
“Iya... “
“Ada telepon dari om.”
“Oh, terimakasih cucuku.”
“Om Andi makan dulu ya.”
“Iya sayang sambil senyum.”
Sambil menyerahkan gagang telepon ke kakeknya. “Hallo nak.”
“Mira sudah pulang yah?”
“Belum nak.”
“Ayah juga heran nak biasa nya jam 5 td sudah dirumah tapi sampai jam segini belum dirumah.”
“Baik yah Ardi sebentar lagi pulang.”
“Oh baik lah nak hati hati di jalan ya.”
“Iya yah.”
Sambil menutup teleponnya, Ardian berkemas untuk pulang.
“Kamu pulang, Di,” tanya Ferdian.
“Iya, Mira ternyata sampai jam segini belum dirumah,” jawab Ardian.
“Ouh, baiklah aku berjaga disini Di.”
“Jika ada sesuatu telepon aku saja tak apa,” ucap Ardian sambil menepuk pundak Ferdian.
“Oke, kamu juga jika butuh bantuan ku aku segera kesana,” ucap Ferdian.
Ardian menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempol ke Ferdian lalu berlalu pergi . Dalam perjalanan pulang, Ardian melihat kanan kiri siapa tahu dia bertemu istrinya.
“Ya Tuhan dimana istriku?!” Ardian bergumam dalam hati.
Hingga tiba dirumahpun tak kunjung bertemu istrinya, sepanjang malam pun Ardian dan ayah mertuanya menunggu Mira pulang tapi tak pulang hingga pagi hari. Ardian kembali kekantor pun tak ada kabar dari Mira.
Saat dikantor, Ardian Mendapat laporan dari warga jika ada penemuan mayat kembali. Ardian dan Ferdian bergegas ke lokasi, hancur hati Ardian melihat sang istri terbujur kaku di TKP. Dengan mengepal tangan Ardian berjanji didepan jasad istrinya akan menangkap pelakunya sendiri.
Ardian yang saat itu masih emosi mendapatkan laporan dari pihak forensik mengatakan sang istri tewas dengan setengah telanjang, luka tusuk didadanya, leher terjarat dan ditemukan ada sperma di baju atasan yang dikenakan saat itu serta peralatan jurnalistiknya berupa kamera dan buku catatan yang bertebaran.
Kemungkinan besar sang pelaku ini membunuh korbannya dulu baru diperkosa semakin marah Ardian mendengar semua yang dikatakan oleh forensik, baru 1 tahun Ardian menikah, Mira istrinya pergi meninggalkan dengan cara mengenaskan seperti itu. Tak lama setelah itu terdengar ribut ribut dari kejauhan ternyata sang mertua dan atasan Mira memohon mohon untuk melihat jasad anak nya.
Ardian memberikan isyarat pada petugas jaga agar dipersilahkan masuk akhirnya dipersiahkan masuk. Ardian pun berlari kecil memeluk ayah mertuanya Dandy sambil menangis dan berlutut didepan ayah mertuanya.
“Ayah, maafkan Ardian, Ardian tidak bisa menjaga Mira dengan baik ayah. Ardian akan menangkap sendiri pelaku pembunuh Mira yah,” ucap Ardian sambil menangis. Dengan mengusap air matanya, ayah Mira membantu Ardian berdiri.
Ayah Mira berkata, “sudah lah nak ini semua bukan kesalahanmu, Mira memang anaknya begitu terlalu berani. Nanti jika sudah selesai pulang ke rumah ya, ayah ingin menunjukkan sesuatu padamu siapa tahu bisa jadi pentunjuk untukmu.”
Sambil mengusap air mata Ardian berkata, “Baik yah Ardian akan pulang nanti dan menemani ayah.”
Setelah ayahnya melihat jasad Mira lalu masuk mobil ambulans dan ayahnya ikut dimobil itu. Ardian mengikuti dari belakang bersama teman temannya.
Selesai diotopsi Mira pun dibawa pulang dan dimakamkan dekat dengan ibu dan kakaknya. Ardian menatap semua ini sambil menangis.
“Sayang terlalu cepat kamu pergi kita belum menikmati semuanya,” ucap Ardian sambil mencium pusara istrinya.
“Aku akan kembali setelah aku menemukan pembunuh mu sayang,” lanjut Ardian dengan sorot mata tak dapat di artikan.
Ardian bangkit dari posisinya dan menghampiri kedua orang tuanya yang berdiri di sampingnya. “Pah, mah Ardi pulang ke rumah Mira ya gpp kan?” tanya Ardian.
“Iya nak, gak papa. Pulanglah kerumah sesukamu nak yang penting hatimu tenang. Pak saya titip Ardian ya.”
“Baik pak, Ardian akan baik baik saja,” jawab ayah Mira sambil tersenyum.
Akhirnya Ardian mengikuti ayah mertuanya pulang kerumah, sedangkan orang tua Ardian pun kembali kerumahnya. Sesampainya dirumah Ardian masuk kamar Mira, disana ada beberapa foto Mira yang masih terpajang dan melihat lihat seisi kamar dengan mata sayu dan berkaca kaca.
Dikamar ini penuh kenangan, meraka pernah bercengkrama tertawa dan bercanda dikamar ini. Dengan tiba tiba ayah mertuanya masuk dengan membawa sebuah buku ditangannya.
“Ini yang pernah ayah janjikan nak, Mira pernah berkata dengan ayah jika sesuatu terjadi padanya berikan ini pada suamiku Ardian yah,” ujar ayah Mira.
“Apa ini yah?” tanya Ardian l yadengan alis berkerut.
“Ntahlah nak, ayah juga tak tahu isinya apa,” sahut ayah Mira lalu keluar dari kamar Mira dan meninggalkan Ardian sendri dikamar itu.
Ardian pun mulai membuka buku itu, membaca satu persatu buku diary dan Ardian pun senyum senyum sendiri ketika membuka diary istrinya.
Tanggal 20 Mei 2019.
Hari ini aku berkenalan dengan seorang pria dia penuh kharismatik dia seorang polisi Ardian namanya senyumnya tawanya sungguh mempesona.
Tanggal 05 Oktober 2020.
Akhirnya mas Ardian melamarku setelah satu tahun kami pacaran sungguh Bahagianya aku nanti malam mas Ardian datang ke rumah bersama orang tuanya.
Tanggal 20 Mei 2021.
Akhirnya hari bahagiaku dan mas Ardian datang hari ini adalah hari pernikahanku semoga aku bisa selalu bersamanya.
Tanggal 19 Maret 2022
Aish, kenapa tiba tiba Riski ingin menemuiku setelah 3 tahun dia dipenjara karena kasus pemerkosaan dan pembegalan? Apa dia masih marah sama aku? Aku memutuskan dia dan menjebloskan dia ke penjara apa dia tidak jera dengan hukuman 3 tahun kenapa dia masih ingin membunuh orang lain?
Tanggal 22 Maret 2022
Tolong, tolong mas Ardi Mira takut, Riski mau membunuh Mira mas Ardi tolong Mira.
Dengan menangis Ardian membaca semua buku dairy istrinya, Ardian pun bergegas turun menuju ruang tengah menemui ayah mertua yang sedang asik menonton televisi dan duduk disamping ayah mertuanya. Ia mengembalikan buku diary milik Mira, Ardian pun meminta ayahnya membaca buku itu juga. Setelah beberapa saat membaca buku itu ayahnya pun kaget membaca buku diary anaknya itu.
“Kenapa yah Mira tak pernah cerita tentang ini pada saya, Riski itu siapa yah?” tanya Ardian dengan masih sesenggukan.
“Setahu ayah Riski pernah pacaran sama Mira, namun ayah tak pernah merestui hubungan Mira dan Riski karena umur mereka terlalu jauh Riski masih anak anak umur 19 tahun sedangkan Mira jauh sepuluh tahun lebih tua dari Riski. Akhirnya Mira kecewa dengan Riski nak karena ternyata Mira memergoki Riski memperkosa temannya dan Riski adalah salah satu kawan begal. Serta Mira lah yang menjebloskan Riski ke penjara,” jelas ayah Mira.
Ardian pun menangis mendengar cerita dari ayah mertuanya dan memeluk ayah mertuanya seperti anak kecil yang ingin dipeluk oleh bapaknya,sambil bersandar dipundak ayahnya sambil berkata, “Yah, izinkan Ardi tinggal bersama ayah sampai Ardi bisa menemukan Riski yah,” ujarnya.
“Iya tak apa, tinggalah disini nak sesukamu.Toh ini rumahmu juga sayang,” sahut ayah Mira sambil mengusap kepala menantunya itu.
Hingga akhirnya Ardian tertidur dipundak sang ayah.
Keesokan pagi Ardian kembali bertugas dikantor, ia sudah berada di depan ruangan pak Wisnu. Dengan segera dirinya mengetuk pintu ruang pak Wisnu.
“Ardian, kamu sudah kekantor? Ga papa kamu udaham, Di?” tanya pak Wisnu.
Ardian menjawab dengan anggukan kepala sambil berkata, “iIya pak ga papa, saya pun sudah punya petunjuk siapa pelaku pembunuh Mira pak.” Ardian menyodorkan buku harian Mira, pak Wisnu pun membaca sejenak buku.
“Kamu yakin Riski pembunuh istrimu? Dia kan masih dipenjara Di? Bagaimana caranya dia dipenjara bisa membunuh istrimu?”
“Tidak pak, menurut informasi yang saya dapatkan dia sudah keluar dari penjara pak, Mohon izin saya menangani kasus istri saya.” Ardian sangat memohon untuk masalah ini.
“Baik saya izin kan tapi ingat jangan menggunakan emosi menangani kasus ini kamu tahukan apa resikonya.”
“Baik pak.”
“Saya serahkan kasus ini sama kamu dan timmu, kumpulkan bukti yang kuat sebanyak mungkin agar kita bisa menangkap Riski lagi.”
Dengan segera Ardian mengumpulkan bukti-bukti dan menemui pak Hendro selaku atasan Mira. Ardian pun masuk keruangan pak Hendro, ketika Ardian masuk beberapa karyawan nguping pembicaraan Ardian dan pak Hendro.
“Mas, maafkan saya kalo saya tahu begini akhirnya saya tidak akan izinkan Mira untuk meliput kasus ini.” Pak Hendro menundukan kepalanya penuh rasa bersalah.
“Tak apa pak,” balas Ardian sambil menyodorkan sebuah foto.
“Pak, andapernah melihat atau bertemu dengan orang ini?” tanya Ardian.
Sambil mengerutkan keningnya dan kaget. “Ini mas, ini yang sering datang kekantor kita sekitar 3 tahun pernah mengancam Mira sampai Mira ketakutan seminggu tidak masuk kantor. Karena ulah orang ini,” jawab Pak Hendro.
“Bapak tahu dia pemerkosa dan begal, dia pernah masuk penjara dan saat ini sudah keluar dari penjara.”
“Apa mas, saya baru tahu tentang ini. Bukan dia dulu pacarnya Mira?” tanya Pak Hendro.
“Menurut dugaan dia pelaku pembunuh Mira pak, jadi mohon kerjasamanya jika ada informasi tentang orang ini tolong hubungi saya pak.”
“Baik mas,” sahut Pak Hendro sambil jabat tangan dengan Ardian. Lalu Ardian pamit kembali kekantor
Ketika Ardian keluar beberapa karyawan yang nguping pembicaraan tadi pun bubar.