"Diam! Banyak sekali bicaramu!" gertak Anggara.
Rahangnya mengeras dengan tatapan tajam seperti seekor singa yang sedang ingin menerkam mangsa di depannya. Bukan tanpa alasan dia seperti itu, terlalu lelah ia mendengar ocehan dan sumpah serapah gadis yang diculiknya 10 jam yang lalu.
Selama 10 tahun dia menyimpan luka dalam kesendiriannya. Hingga hari ini, luka itu bisa menjadi sedikit terobati atau mungkin justru akan semakin melebar dan dalam.
Melihat gadis yang di hadapannya ini, membuka kembali memori. Tepat ketika sebuah mobil mendekatinya dan ibunya dengan kecepatan tinggi, beriringan dengan suara teriakan setiap orang yang melihatnya.
Bruuukkk...!!!
Hening. Kaku. Menusuk.
Masih dengan mata polosnya, Anggara menyaksikan secara langsung bagaimana ibunya terkapar bermandikan darah. Hampir tiap malam, memori itu terus berulang dalam tidurnya. Pemuda itu bahkan takut untuk memejamkan mata. Teriakan Almaira mengembalikan kesadarannya.
"Lepaskan aku! Siapa kau hah?!! Aku tak pernah melakukan kesalahan apapun padamu. Aku sama sekali tak mengenalmu!"
Anggara bergeming.
"Lepaskan aku! Biadap!"
"Ciih..bicaramu kasar sekali. Sama sekali tidak menggambarkan kecantikan wajahmu dan kelembutan kulitmu." Anggara mulai menghisap rokoknya yang dari tadi ia bakar namun baru bisa ia nikmati.
"Aku tak peduli dengan etika dan adab untuk menghadapi bajingan sepertimu. Lepaskan aku!"
Gadis yang bernamaa Almaira itu memberontak sekuat tenaga seolah ia tak lelah dan tak kenal putus asa.
"Kau tuli haah? Harus berapa kali aku katakan untuk melepaskanku dan membiarkanku pergi dari tempat terkutuk ini. Seandainya ayahku tau, takkan ia mengampunimu. Lepaskan aku!" tambahnya lagi.
Anggara menyiringai. Pelipisnya yang tergores oleh cakaran Almaira sedikit mengangkat dan memandang gadis itu tanpa berkedip.
"Ayahmu? Laki-laki laknat itu akan merasakan kesakitanku selama ini. Kehilangan orang yang dicintai. Bila perlu selamanya," bisik Anggara membuat gadis bermata indah itu semakin membulatkan pandangannya.
"Apa maksudmu? Ayahku bukan laki-laki yang kau pikirkan. Kau salah orang. Lepaskan aku sebelum aku berubah pikiran untuk mengampunimu!"
"Terus saja meracau, aku tak peduli. ”
Anggara menyeringai memberikan tatapan yang mengejek.
“Lepaskan aku! Sebelum suruhan ayahku menemukanmu dan kau hanya mampu bersujud memohon ampun!” teriak Almaira. Mata indahnya menyala, urat wajahnya memerah. Amarah gadis itu membuat api yang mungkin sulit dipadamkan.
Angara terkekeh mendengar perkataan Almaira.
"Hhhh…kaulah yang akan bersujud memohon agar ayahmu tidak membusuk karena pnderitaannya kehilangan anak kesayangannya, begitu kan? “
“Dasar Pengecut kau!” umpat Almaira.
“Kau benar-benar memiliki nyali yang kuat. Di luar dugaanku. Tapi maaf, aku sudah lelah mendengar ocehanmu dari tadi. Aku ingin istirahat."
Anggara melingkari selembar kain merah pada mulut gadis itu. Almaira meronta dan sekuat tenaga mengayunkan kakinya. Namun pria berkumis tipis itu mampu menghindarinya dengan cekatan.
"Bergerak sedikit lagi bukan tidak mungkin kain ini turun ke lehermu," lirih Anggara pelan tepat di dekat telinga Almaira namun terdengar benar-benar meyakinkan.
Pemuda bertubuh altetis itu pergi meninggalkan Almaira sendirian. Tidak peduli bagaimana gadis itu melewati malam di tempat yang baru, kebencian dalam dirinya menyelimutnya berlapis-lapis. Kehilangan dunia dan seiisinya bukanlah sebuah musibah, namun kehilangan ibu? Siapa yang mampu mengurai.
Anggara menghisap batang rokok dan menghembuskan asapnya begitu saja. Terasa menusuk cuaca malam itu seperti menembus hati terdalam lalu membuatnya semakin beku.
“Ibu, akan kubalaskan dendam ini sampai Si Tua Bangka itu menginginkan kematiannya sendiri.”
Anggara menatap sebuah foto usang yang memperlihatkan seorang wanita dewasa yang sedang menggendong bayi.
"Gadis itu akan menjadi alatku membalas kematianmu, Bu. Aku tahu, hati muliamu itu pasti menolaknya. Tapi hanya dengan cara ini, ayahnya akan mati secara perlahan-lahan. Sakitnya kau tinggalkan akan dia rasakan, rasa sakit seperti ditusuk sampai ke sum-sum tulang hingga seperti tak berpijak lagi di bumi, "desis Anggara sendirian dengan tatapan nyalang dan menakutkan.
***********************************************
"Pembalasan adalah monster nafsu makan, haus darah selamanya dan tidak pernah kenyang." - Richelle E. Goodrich
***********************************************
Gerakan Almaira semakin melemah. Gadis itu hanya mampu meneteskan air mata sambil sesekali menghentak-hentakkan kaki dan tangannya yang sedang terikat. Ia menatap nanar punggung laki-laki licik di hadapannya yang semakin menjauhinya.
Anggara menutup pintu itu dengan kasar lalu terdengar suara gagang pintu yang sedang dikunci. Hal itu membuat kebencian Almaira pada pemuda itu tumbuh bagai virus yang menyebar begitu cepat memenuhi seluruh tubuhnya. Menjalar dan mengalir mengikuti aliran darah dan keluar menjadi nafasnya.
Apa salahnya? Bertemu pun tidak pernah.
'Apa Papaku pernah menggusur paksa tanah milik keluarganya?' pikir Almaira. Mengingat ayahnya adalah seorang pengusaha properti yang sangat sukses.
'Tapi laki-laki itu mengatakan tentang kehilangan seseorang yang dicintai. Apa maksudnya? Mungkinkah Papa memiliki wanita simpanan lalu laki-laki ini adalah anggota keluarganya? Atau bisa jadi dia adalah anak mereka dan itu berarti, laki-laki itu adalah saudaraku?' batin Almaira.
"Aaaarrrgggh..."
Almaira memberontak, mengehentakkan tubuhnya.
'Pikiran apa ini?!! Membayangkan laki-laki itu menjadi anggota keluargaku, perutku serasa ingin mengeluarkan semua isinya!' pekik Almaira di dalam hati.
'Tidak. Aku hanya akan membuang waktu dengan memikirkan alasannya menculikku. Aku akan mencari tahu setelah aku keluar dari neraka ini' batinnya sambil memperbaiki posisi duduk.
Gadis itu berusaha menggosok-gosokkan kakinya yang terikat oleh tali tambang. Agak sedikit longgar. Mungkin karena sedari tadi dia terus menggerakkan kaki dan tangannya.
'Tali macam apa ini. Sudah longgar masih saja susah untuk lepas. Sepertinya laki-laki licik itu mengikatnya dengan cara yang tidak biasa. Susah sekali,' racaunya hampir tak terdengar jelas akibat sumpalan di mulutnya yang masih erat.
“Aaaaaagggh…" erang Almaira menahan sakit pada pergelangan tangannya. Terasa ada goresan yang cukup perih dan meyebabkan luka karena ia terlalu memaksakan diri. Makin pedih jika semakin digerakkan.
Gadis itu menangis. Berusaha berteriak antara kesakitan dan amarah menjadi satu. Namun yang paling tidak bisa ia bendung adalah rasa takut. Takut itu benar-benar telah menyelimuti dirinya tanpa celah. Rasa takut itu membuatnya mampu mengumpulkan tenaga untuk berusaha mencari cara keluar dari tempat itu. Takut mungkin sebentar lagi laki-laki itu akan merenggut kehormatannya sebagai seorang gadis lalu setelah itu bisa jadi, tubuhnya akan dimutilasi. Bergidik ia membayangkannya. Berbagai macam pkirannya muncul dan itu membuatnya semakin tak terkendali.
'Aku akan membuat perhitungan denganmu, bangsat!' jerit batinnya menghempaskan kepalanya sendiri pada dinding tempatnya bersandar.
Almaira merasakan penyesalan terbesarnya selama ia hidup adalah ketika kemarin sore ia memutuskan keluar dari rumahnya sendirian untuk menyaksikan senja yang selalu mampu membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Senja adalah pemandangan indah yang bisa ia lihat di sebuah lapangan tidak jauh dari rumahnya. Biasanya ia selalu ditemani oleh pekerja kebunnya yang dipanggil Mamang Udin atau Bi Minah yang bertugas sebagai asisten rumah tangga harian di rumahnya. Kedua pekerja itu memang tidak tiap hari datang, namun secara berkala dan terjadwal.
'Andai aku lebih bersabar menunggu esok agar Bi Minah menemaniku, takdirku mungkin tidak seburuk ini,' isaknya dalam diam.
'Dengan liciknya, dia membiusku dan membawaku ke tempat terburuk ini, pencundang!' Almaira menendang tak beraturan, meluapkan kemarahannya.
Bayangan ayah dan ibunya muncul di pelupuk matanya. Almaira yakin, pasti saat ini mereka sedang bersusah payah mencarinya.
“Ma…Pa…aku di sini. Aku takut. Temukan aku secepatnya.” Tangis Almaira semakin deras.
Almaira berusaha bangkit. Ia mencoba berdiri dengan susah payah. Ia melompat-lompat kecil menuju setiap sudut ruangan. Mencari sesuatu yang mungkin bisa ia manfaatkan untuk melepaskan tali pengikat itu. Nihil…sebab ia pun tidak tahu alat apa di ruangan itu yang bisa membantunya. Yang bisa terlihat olehnya adalah kaleng bekas, botol berisikan air yang sudah keruh, sisa bungkusan makanan, beberapa wadah yang sangat kotor. Lebih tepatnya ia bisa menyimpulkan bahwa ruangan itu benar-benar sudah lama ditinggal dan tidak ada yang mengurusnya.
'Ini bukan ruangan untuk manusia, ini kandang hewan,' dengus gadis itu mengatupkan matanya.
Almaira menyerah. Rasanya seluruh tenaganya sudah habis terkuras. Perlahan ia kembali duduk menahan keseimbangan dirinya agar tubuhnya tidak terhempas di lantai. Sudah remuk rasa di tubuhnya, seperti tulang-tulangnya terasa akan terlepas dari daging. Perih semua. Usahanya untuk melepaskan diri dari laki-laki berwajah sangar itu membuat sekujur tubuhnya semakin sakit.
'Laki-laki pengecut!' umpatnya dalam hati.
Sangat ingin rasanya ia berteriak dan mengucapkan kalimat itu berulang kali. Mungkin seribu kali tidak cukup baginya. Api kebencian benar-benar membakarnya dengan sangat cepat.
Matanya bagai tidak memiliki ruang selain aliran untuk mengeluarkan air mata.
Hanya sinar lilin yang mulai redup seperti akan habis yang menyinari setiap sudut ruangan itu. Aroma debu yang lama mengendap membuat gadis itu sesekali mendenguskan hidung mungilnya.
Beberapa ekor tikus kecil menelusuri setiap garis dinding. Begitu acuh. Tidak peduli ada tamu di ruangan itu. Mungkin terlalu nyaman ruangan ini bagi mereka. Pekat. Dingin. Menakutkan.
Sekarang Almaira hanya mampu menatap kosong dinding yang di hadapannya. Dinding itu seolah memberikan cerita betapa sulitnya melewati masa. Terkelupas oleh dinginnya malam dan luruh oleh panasnya matahari. Almaira menekuk lututnya dan menghentikan usaha tangannya untuk melepaskan diri. Semakin ia bergerak terasa sakit sampai ke tulang.
Ada aroma darah yang bercampur dengan serpihan cat dinding yang semakin luruh akibat gesekan-gesekan yang ia ciptakan. Ia sesekali menggengam lalu membuka kembali kepalan tangannya. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Inikah yang disebut putus asa?
Rintihan-rintihan kecilnya terdengar hanya oleh angin malam. Walaupun Anggara menyumpal mulutnya dengan ikatan kain yang longgar, namun tetap saja dia tidak mampu mengeluarkan suara dengan jelas. Air liurnya membasahi kain itu dan membuatnya semakin berat. Gadis berkulit langsat itu benar-benar dalam masalah besar. Sungguh siapapun yang melihatnya akan sangat iba. Namun adakah yang bisa menolongnya?
***********************************************
"Ketika rasa sakit bertemu dengan dendam. Maka benci adalah keturunannya. "
Anonim
***********************************************
Suasana pagi yang ramai akan kicauan burung juga suara hewan hutan yang saling sahut-menyahut. Seperti bernyanyi bahagia menyambut matahari yang akan semakin terang sinarnya. Namun sayang, racauan riang nan syahdu itu tidak bisa dirasakan oleh dia yang sedang berada di dalam kamar mandi sederhana. Tampak tidak ada aksesoris yang menarik apalagi mewah. Justru, karatan di setiap sisi cermin itu memberikan tanda, betapa lamanya ia bertengger bisu di situ. Ia menatap pantulan diri di depannya, mengelus sedikit kasar beberapa goresan bekas cakaran gadis yang kemarin sore ia culik.
"Bodohnya aku, harusnya kupatahkan saja tangan wanita itu," desisnya sambil mengguyurkan beberapa tetes obat luka di setiap bagian tubuhnya. Di pelipis, rahang, leher, dan yang paling parah dibagian dahinya. Tergores panjang sampai ke hidungnya.
"Aaarrggh.."
Anggara melepas kasar kapas yang digunakannya. Melempar benda halus itu pada cermin yang seolah menertawakan kelemahannya. Seorang Anggara ternyata bisa merasakan sakit karena seorang gadis. Andai itu sebuah batu, remuk redamlah cermin itu seketika.
Anggara merasakan ada luka yang cukup dalam di bagian punggungnya. Ia meraba sedikit demi sedikit bagian-bagian yang ia rasakan begitu nyeri. Seperti ada bekas gigitan yang begitu dalam. Semakin ia sentuh semakin memberikan sensasi nyeri sampai ke telinganya.
"Ssssshhhhh…wanita itu!" geramnya.
Anggara mengambil nafas dalam-dalam berusaha untuk tetap menahan amarah.
Kali ini, ia enggan untuk mengobati luka di punggungnya. Ia memilih membiarkannya. Sakit hatinya makin bertambah sebab baru kali ini ada wanita yang bisa menyentuh kulitnya apalagi sampai melukainya. Benar-benar ia merasa harga dirinya terguncang.
"Lihat saja, aku akan memberikan wanita itu pelajaran, sampai ia akan lupa dia pernah punya tangan dan mulut!"
Anggara mendesis sambil mengenakan kaos hitam bergambar seekor elang yang siap mendarat. Dipadukan dengan celana jeans denim streach yang terlebih dahulu ia kenakan. Ada aksen putih dibagian lututnya yang memberikan kesan lembut. Tapi tidak mampu melembutkan hati pemakainya yang sedang menahan angkara.
***
Anggara memasukkan kunci ke lubang pintu tanpa melihatnya. Matanya fokus pada sebuah piring yang sedang di tangan kirinya. Piring berisikan nasi goreng dilengkapi dengan sebutir telur rebus. Ada 2 telur rebus yang belum dikupas mengambil bagian di atas piring silver yang terbuat dari stainless steel. Ia masih begitu ragu untuk membawa nasi goreng yang ia buat dengan bantuan bumbu siap saji itu.
Tiba-tiba Anggara merasa canggung sekaligus menahan rasa kesal. Ia tidak pernah menyuguhkan makanan yang dibuatnya untuk orang lain, apalagi pada seorang wanita. Lebih-lebih wanita itu banyak memberikannya bekas cakaran dalam waktu semalam, mengumpat dan meludahinya berkali-kali. Lalu bagaimana dengan malam-malam berikutnya? Namun dia tidak punya pilihan, wanita itu tak boleh mati kelaparan.
Pintu terbuka dan ia melihat Almaira sedang tidur pulas. Masih ada bekas air matanya yang belum kering. Sepertinya dia baru saja tertidur. Mungkinkah gadis itu menangis sampai ke dalam mimpinya? Entahlah.
Pemuda itu meletakkan begitu saja piring yang dibawanya di atas lantai keramik yang tak bisa disebut putih karena tertutupi debu yang sangat tebal. Terdengar ada suara nyaring yang dihasilkan dari perpaduan benda itu. Namun yang sedang terelelap, tidak bergeming apalagi membuka mata.
"Hhh ... nyaman juga kau tidur di sini. Sepertinya tempat ini memang cocok untukmu," lirih Anggara hampir tak berdengar.
Ia lalu bergeser menuju jendela. Dibukanya gorden penutup jendela itu hingga sinar matahari seolah menembus masuk. Almaira masih tidak bergerak walau wajah cantiknya terguyur sinar matahari yang cukup menyeruak silau.
Anggara mendekatinya lalu mendorong kaki gadis malang itu dengan sepatu hitamnya yang kokoh. Masih tak ada respon. Ia mendorong lebih keras lagi, sampai kaki cantik itu bergeser. Akan tetapi, masih tak berkutik sedikitpun.
“Hehh..bangun!” Anggara sedikit menaikan suaranya berharap tubuh yang di hadapannya merespon.
Ragu-ragu ia mendaratkan tangannya pada rambut indah tergurai tak beraturan itu agar wajah pemiliknya mendongak lalu membuka matanya. Namun secara tidak sengaja, tangannya menyentuh dahi Almaira. Panas. Spontan ia menarik kembali tangannya.
Ia terhenyak sepersekian detik lalu menyadari gadis itu sedang sakit. Terlihat dari bibirnya yang pucat dan kulitnya tiada berwarna seolah tidak ada darah yang mengalir di tubuhnya.
Anggara menjauhi Almaira yang masih diam seolah membeku. Dia memandang lepas pemandangan di luar jendela. Rimbunan pohon yang tiada batas pandang. Kicauan burung yang berganti dengan beberapakali suara tonggeret yang bersahutan. Hewan yang bersayap kokoh itu bernyanyi nyaring memberikan tanda musim hujan akan berakhir.
Anggara berbalik menatap Almaira.
"Aku tidak menginginkan kematianmu. Kamu harus tetap hidup hingga aku bisa membunuh ayahmu secara perlahan."
Dengan sigap ia mengangkat tubuh lemah Almaira dan memindahkannya ke sebuah ruangan yang bercat kuning yang sudah mulai memudar. Anggara membuka ikatan di kaki dan tangan Almaira. Ia lalu menyadari bahwa semalam gadis itu benar-benar berusaha sangat keras untuk melepaskan diri.
“Tidak bisakah setelah ini kau menyerah…”
Anggara mengecap bibirnya menandakan perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
Ia kembali mengikat satu tangan Almaira dengan benda bulat yang mirip dengan borgol. Besi itu tersambung dengan rantai yang panjang lalu terhubung dengan besi bulat lainnya yang masing-masing memiliki kunci. Pemuda itu lalu mengaitkannya pada sisi lain dari ranjang besi yang mulai berkarat. Ranjang itu memiliki ukiran-ukiran yang rumit di bagian kepala dan sisi-sisinya.
“Aku akan kembali,” tuturnya sendirian walau ia tahu lawan bicaranya takkan meresponnya.
Merasa sudah yakin untuk meninggalkan Almaira, Anggara berpacu dengan waktu. Langkahnya tergesa-gesa tanpa sadar menghempaskan kerikil-kericil yang ia lewati. Dengan cekatan, ia melepaskan kalung hitam dari lehernya yang bermatakan sebuah kunci lalu memasuki mobil lawas yang masih sangat kokoh.
Mobil Jeep CJ 7 itu mengaung menderum siap untuk membawa pemiliknya keluar dari hutan yang gelap dan beraura mistis. Hutan yang dikenal sebagai tempat bekas pembunuhan massal pribumi masa perang. Tempat dimana aroma kematian itu terhembus bersamaan dengan derikan hewan liar yang tak terhitung dan teraba.
Namun laki-laki itu sedikitpun tidak merasa takut karena baginya takut adalah kelemahan terbesar seorang manusia. Terlalu sakit hidup yang telah ia lewati, hingga hatinya tidak memiliki ruang untuk rasa itu.
Anggara mengerutkan wajahnya pertanda sedikit kesal dengan peristiwa pagi ini. Harusnya ia bisa melanjutkan istirahatnya karena esok dia memiliki pekerjaan penting.
Akan tetapi, ia tidak punya pilihan. Mau tidak mau, gadis itu harus tetap hidup.
***
"Berikan obat pereda panas." Anggara meyerahkan beberapa lembar uang pada pada wanita paruh baya penjaga apotik.
"Untuk orang dewasa atau anak-anak ya, Pak?"
"Dewasa."
"Disertai flu?"
"Tidak tau. Berikan apa saja. Aku tidak punya banyak waktu di sini."
Anggara memasukkan tangan kosongnya ke dalam saku jaketnya. Ia mengangkat wajahnya yang ditutupi topi hitam. Tatapannya membuat petugas apotik sedikit bergidik. Gadis berseragam putih itu bergegas ke dalam ruangan di belakangnya dan keluar membawa beberapa papan obat-obatan.
"Saya sudah tuliskan aturan minumnya. Jika selama 3 hari belum sembuh. Pasien segera dibawa ke dokter."
Petugas apotik itu menyerahkan plastik putih dan beberapa lembar uang yang nominalnya lebih kecil.
"Ambil saja!"
Anggara sigap meraih plastik itu dan memasukkannya ke kantung jaketnya. Petugas apotik itu hanya tersenyum kecil bahkan hampir tidak terlihat. Terlalu tegang rasanya berhadapan dengan laki-laki yang terlihat memiliki banyak luka bekas cakaran di wajahnya. Mengerikan baginya jika dipandang lebih lama.
Pemuda berwajah dingin itu kembali menelusuri sebuah pertokoan serba ada dan mengambil beberapa pacs buah-buahan. Beras, telur, daging beku, makanan instan dan minyak goreng. Tidak lupa ia memasukkan garam, penyedap rasa, dan beberapa bumbu siap saji ke dalam troli belanja. Semua itu ia butuhkan untuk bertahan di dalam hutan, sampai waktu yang tidak bisa ia tentukan. Dia juga mengambil beberapa botol susu dan tisu basah. Perlengkapan mandi juga deterjen. Lengkap sudah pikirnya.
Dengan terburu-buru, Anggara melajukan mobilnya dan melintas cepat. Meninggalkan hiruk pikuk kota yang menjadi pusat keramaian menuju tempat yang sepi, sunyi dan tiada berpenghuni. Tempat yang setiap kaki enggan untuk berpijak. Hanya akan ada dia dan gadis malang berwajah sendu. Mungkin suatu hari gadis itu bisa tersenyum. Musyilkah? Hanya waktu yang bisa memberi jawaban.
***********************************************
"Saat kamu memulai perjalanan balas dendam, mulailah dengan menggali dua kuburan: satu untuk musuhmu, dan satu untuk dirimu sendiri."
- Jodi Picoult
***********************************************