Bab 1

"Tolong! Jangan kau bunuh suamiku! Aku sedang hamil tua. Jika suamiku tiada, lalu bagaimana nasibku dan anakku nanti."

Seorang wanita yang tengah hamil tua, merangkak di bawah kaki seorang laki-laki, yang sedang berdiri sembari menginjak dada suami wanita tersebut.

"Harnum, istriku," ucap laki-laki yang sedang sekarat tersebut.

Wanita yang bernama Harnum itu, beralih merangkak memeluk tubuh suaminya yang sudah berlumuran darah.

"Mas Reno, tolong bangun, Mas! Jangan tinggalkan aku." Harnum menangis sembari memeluk tubuh sang suami.

"Tuan, tolong jangan kau sakiti istriku dan anakku. Tolong kau lepaskan mereka," ucap Reno dengan penuh permohonan.

Tetapi laki-laki yang sedang menyiksanya itu, tidak bergeming. Laki-laki itu justru semakin menekan dada Reno.

"Uhuk! Uhuk!"

Reno terbatuk-batuk, dan batuk darah. Harnum langsung mengangkat kepala sang suami dan diletakkan di atas pahanya. Harnum membelai-belai kepala dan wajah Reno, dengan berlinangan air mata.

"Harnum, Sayang. Cepat kau pergi dari tempat ini, selamatkan dirimu dan anak kita!" titah Reno.

"Tidak, Mas. Aku tidak akan pergi kemanapun juga! Biarkan aku tetap disini bersamamu. Kita akan mati bersama, Mas," ucap Harnum.

"Jangan berbicara seperti itu, Sayang. Setidaknya kau pikirkan anak kita, karena masa depannya masih panjang," ucap Reno.

Albern Barnard, laki-laki yang tengah menyiksa Reno tersebut, semakin dibuat naik pitam melihat perlakuan dan cinta Reno yang begitu besar terhadap Harnum.

"Aku tidak akan membiarkan istri dan anakmu hidup dengan tenang, laki-laki keparat! Jika kau mati, maka istrimu yang akan aku jadikan bahan untuk pelampiasan dendamku," batin Albern.

Albern merogoh pinggangnya, yang terdapat senjata, yaitu sebuah pistol yang berjenis SIG Sauer P226. Pistol yang berkekuatan dan berkualitas tinggi tersebut, langsung diarahkan ke dada Reno.

"Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu pada suamiku! Lebih baik kau bunuh aku saja!" Harnum memeluk tubuh Reno dengan erat.

"Istriku Sayang, tolong pergilah dari sini! Aku sangat mencintaimu dan buah cinta kita," ucap Reno.

"Tidak, Mas! Biarkan kita bertiga mati bersama," ucap Harnum.

Albern yang sedari tadi menahan emosinya, langsung menendang tubuh Harnum hingga bergeser jauh. Harnum memekik menahan sakit di perutnya, yang terasa kram.

Dor! Dor! Dor!

Suara tembakan sebanyak tiga kali, menggema di ruangan kosong tersebut. Darah bercucuran keluar dari luka tembakan Reno, hingga mengalir ke lantai. Harnum yang melihat pemandangan tersebut, berteriak histeris.

"Maas Renoooo ...! Tidak ...! Mas, jangan tinggalkan aku, aku mohon!" Harnum mengguncang-guncang tubuh Reno yang sudah tidak berkutik.

"Hahaha ... sekarang kau sudah berada di neraka, Reno! Seperti itulah yang dirasakan oleh Kakakku, ketika ia mati bunuh diri akibat ulahmu!" teriak Albern.

Telinga Harnum yang masih normal, mendengar ucapan Albern tersebut. Ia langsung berdiri dan menghadap pada Albern. Matanya yang merah, menatap nyalang dan penuh kebencian pada Albern.

Plak! Plak!

Harnum melayangkan tamparan pada wajah Albern. Albern merasa semakin emosi, ia mendorong tubuh Harnum hingga terjengkang.

"Aww! Perutku sakit sekali. Tolong ... tolong aku, se ... sepertinya ... a ... aku ... kontraksi. Aku akan melahirkan. Ahhh ... sakitt!! Tolong aku ...."

Harnum memohon kepada Albern, agar menolongnya. Tetapi Albern seakan tuli, ia tidak menghiraukan permohonan Harnum. Ia melangkahkan kakinya menuju lantai atas, dan meninggalkan Harnum serta mayat Reno.

"Apa peduliku. Walaupun wanita itu serta anak di dalam kandungannya mati, aku tidak peduli. Biarkan mereka semua merasakan kesakitan dan penderitaan yang dulu dirasakan oleh Kakakku, Ameralda," batin Albern.

"Mas Reno, suamiku. Perutku sakit sekali, Mas. Tolong aku dan anak kita." Rintih Harnum.

Darah semakin membanjiri lantai tersebut. Darah dari tubuh Reno dan juga darah yang keluar merembes dari pangkal paha Harnum.

***

"Toloonnggg ....!"

Harnum terus merintih dan meminta tolong kepada suaminya yang sudah menjadi mayat. Harnum juga berteriak meminta tolong pada Albern. Tetapi Albern tidak mempedulikannya. Pria itu sudah naik ke lantai atas.

"Toloonngg ....!" Harnum terus merintih.

Darah sudah memenuhi lantai di ruangan rumah kosong tersebut. Kaki Harnum sudah berlumuran darah.

"Tolong ...! Perutku sakit sekali, aku sudah tidak kuat rasanya. Mas Reno, suamiku ...." ucap Harnum.

Sementara itu di lantai atas, Albern terlihat sedang menghubungi seseorang. Setelah itu, ia menatap sebuah foto yang ada di dalam dompetnya.

"Kakak, aku sudah membalaskan dendammu kepada Reno, laki-laki yang telah menyakitimu dan mengkhianatimu, sehingga membuatmu bunuh diri. Dan kini, wanita yang telah merebutnya darimu itu, sudah berada dalam genggamanku. Aku akan menyiksa hidupnya," monolog Albern.

"Toloonnggg ....!" suara teriakan Harnum kembali terdengar.

Albern yang tengah melamun, sontak terkejut mendengar suara teriakan Harnum. Ia bergegas menyimpan kembali foto sang Kakak ke dalam dompetnya. Lalu setelah itu, ia bergegas turun ke lantai bawah.

Albern melihat Harnum yang sudah lemas tidak berdaya. Wanita itu sudah tergolek dengan wajah yang pucat pasi karena kebanyakan mengeluarkan darah.

"Hey! Bangun! Apa kau ingin menyusul suamimu itu untuk masuk neraka bersama, hah!" teriak Albern sembari menendang tubuh Harnum.

Tetapi Harnum tidak bergerak sedikitpun. Albern yang melihat itu, mengernyitkan keningnya. Dengan berat hati dan penuh keterpaksaan, Albern berjongkok dan memeriksa nadi Harnum.

"Dia masih hidup, berarti dia hanya pingsan. Aahh ... kau menjadi urusanku saja, segala pingsan. Kau sangat merepotkan!" batin Albern.

Tidak berapa lama kemudian, para anak buah Albern datang. Mereka itu yang tadi Albern hubungi.

"King, mayat ini akan dibuang dimana?" tanya Rully, salah satu anak buah Albern.

"Kalian buang saja mayatnya itu di laut! Dan ingat! Jangan sampai perbuatan kalian itu terendus oleh polisi!" ucap Albern dengan tegas.

"Baik King!" ucap semua anak buah Albern dengan kompak.

"King, biar saya saja yang membawa tubuh wanita ini." Rully berjongkok dan hendak menyentuh tubuh Harnum.

"Jangan berani-berani kau menyentuhnya! Jika tidak ingin aku remukkan tanganmu itu!" bentak Albern dengan tegas.

Rully langsung beringsut mundur.

"Maaf, King," ucap Ruly.

"Lebih baik kau ajak mereka untuk membuang mayat itu! Dan ingat! jangan sampai terendus polisi!" imbuh Albern sekali lagi.

"Baik, King!"

Rully dan teman-temannya itu, langsung menggotong tubuh Reno yang sudah dimasukkan ke dalam kantong mayat. Mereka langsung membawa mayat Reno menuju mobil.

Sementara Albern, ia kembali menatap tubuh Harnum. Dengan raut wajah yang sangat kesal. Albern terpaksa membopong tubuh Harnum.

"Ah, sialan! Tubuh wanita ini sangat berat sekali. Kau menyusahkanku saja, huh!" umpat Albern di dalam hati.

Albern langsung meletakkan tubuh Harnum di kursi belakang mobil. Ia tidurkan tubuh yang tidak berdaya itu. Setelah itu, ia segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya Albern telah sampai di rumah sakit. Albern langsung membopong tubuh Harnum menuju ke dalam rumah sakit. Tim medis yang melihat itu, langsung berlari dan membawakan brankar untuk Harnum. Albern meletakkan tubuh Harnum di brankar tersebut. Tim medis itu langsung membawa Harnum menuju ruangan IGD, karena keadaan Harnum yang sudah sangat kritis.

Sementara Albern, ia hanya menatap ke arah Harnum dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah itu, ia berbalik arah untuk pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Tetapi, saat ia akan melangkah pergi, tiba-tiba dirinya dipanggil oleh seorang Suster.

"Tuan, tunggu!" panggil Suster tersebut.

TBC ( TO BE CONTINUED ).

Bab 2

Albern melangkahkan kakinya keluar. Tetapi seorang Suster memanggilnya.

"Tuan, tunggu!" panggil Suster tersebut.

Albern langsung menghentikan langkahnya, dan menatap Suster yang memanggilnya itu.

"Ada apa!" ucap Albern dengan ketus dan dingin.

"Maaf, Tuan. Anda dipanggil oleh Dokter yang sedang menangani istri Tuan," ucap sang Suster.

Suster tersebut mengira bahwa Albern adalah suami Harnum. Albern mengernyitkan keningnya mendengar ucapan sang Suster.

"Wanita itu bukan i ...." ucapan Albern terpotong.

"Maaf, Tuan. Tolong segera menghadap Dokter, karena ini darurat," ucap Suster itu yang memotong ucapan Albern.

Albern tidak melanjutkan ucapannya. Ia mengikuti Suster tersebut dari belakang. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan IGD.

"Dok, ini suami pasien," ucap sang Suster.

"Baik, Sus, terima kasih," ucap sang Dokter.

"Ada apa!" ucap Albern ketus.

"Maaf, Tuan. Kondisi istri Anda sangat kritis. Pasien telah kehilangan banyak darah, dan kondisi janin di dalam kandungannya sudah sangat kritis," ucap Dokter tersebut.

"Lalu?" jawab Albern.

"Istri Anda harus segera di operasi. Untuk menyelamatkan nyawanya dan juga nyawa bayinya."

"Aku tidak peduli. Dia akan mati bersama bayi di dalam kandungannya itu, itu bukan urusanku! Jadi, itu terserah padamu apa yang akan kau lakukan padanya!"

DEG

Dokter tersebut merasa sangat syok mendengar ucapan Albern. Ia merasa heran dan aneh, mengapa seorang suami begitu tega berkata sedemikian rupa pada istri dan anaknya yang sedang kritis dan skarat. Itu lah yang ada dalam benak sang Dokter, karena ia mengira bahwa Albern adalah suami Harnum.

Setelah mengatakan itu, Albern berlalu pergi. Ia langsung keluar dari ruangan IGD tersebut.

"Seharusnya tadi aku bunuh saja wanita sialan itu. Dia menyusahkanku saja, huh! Tapi ... jika aku membunuhnya, maka aku tidak akan bisa menyiksanya. Aahh ... jika seperti ini bearti wanita sialan itu harus tetap hidup," batin Albern.

Albern tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Ia kembali masuk ke dalam ruangan IGD.

"Dok. Lakukan yang terbaik untuknya!" ucap Albern dengan tegas.

Dokter yang bernama Rehan itu, merasa terkejut mendengar ucapan Albern, yang tiba-tiba berubah pikiran. Tetapi ia merasa senang, setidaknya suami kejam itu masih memiliki hati nurani. Itulah yang ada di dalam benak sang Dokter.

"Baik, Tuan. Kami akan segera melakukan operasi caesar. Karena hanya itu jalan satu-satunya," ucap sang Dokter.

"Hmm ...." Albern hanya berdehem.

Dokter Rehan langsung mempersiapkan perlengkapan untuk melakukan operasi caesar. Albern dimintai untuk menanda tangani surat persetujuan operasi caesar tersebut, karena ia dianggap sebagai suami Harnum. Albern langsung membubuhkan tanda tangannya.

Setelah itu, Albern langsung keluar dari ruangan tersebut. Sementara Dokter Rehan dan para timnya segera mempersiapkan perlengkapan operasi caesar.

***

Tubuh Harnum langsung dibawa menuju ruangan operasi, karena kondisinya dan kandungannya sudah sangat kritis. Maka tim Dokter mempercepat proses operasinya. Sementara Albern berdiri menatap kepergian Harnum yang dibawa ke ruangan operasi. Tanpa ia sadari, kakinya melangkah mengikuti tim medis.

"Tuan, silakan ikut masuk untuk menemani operasi pada istri Anda," ucap Dokter Rehan.

Albern tidak menjawab, tetapi ia mengikuti Dokter Rehan. Albern memperhatikan semua yang para Dokter laki-laki itu lakukan. Ia mengernyitkan keningnya ketika melihat Dokter yang akan melakukan operasi caesar itu adalah Dokter laki-laki semua.

"Tunggu ....!" ucap Albern.

"Ya Tuan, ada apa?" ucap Dokter Rehan.

"Mengapa Dokter yang akan melakukan operasi ini merupakan Dokter laki-laki semua?" tanya Albern.

Dokter Rehan dan Dokter yang lainnya saling bertatapan. mereka merasa terkejut karena baru kali ini mereka diprotes oleh keluarga pasien.

"Ya Tuan, karena kami semua merupakan Dokter pilihan untuk melakukan operasi caesar. Apalagi ini merupakan hal yang darurat, jadi kami tidak memiliki banyak waktu lagi," ucap Dokter Rehan.

"Tidak! Aku tidak mengizinkan Dokter laki-laki yang melakukan operasi pada perempuan itu. Aku mengizinkan hanya Dokter wanita yang menanganinya. Otak kalian memang mesum, ingin memeriksa pasien wanita, karena kalian bisa bebas melihat alat vitalnya, begitu?!" ucap Albern dengan sarkas.

Ucapan Albern tersebut, tentu saja sangat membuat syok para Dokter. Karena baru kali ini mereka dituduh seperti itu oleh orang lain.

"Maaf, Tuan. Tapi kami tim medis atau para Dokter, tidak ada berpikiran seperti itu. Karena kami sudah memiliki sumpah. Kami bukannya ingin mencari kesempatan dalam kesempitan. Kami melakukan tugas kami, sesuai prosedur. Kami ...." ucap Dokter Rehan, tetapi ucapannya tersebut langsung dipotong oleh Albern.

"Cukup! Aku tidak mau mendengar pembelaan diri darimu atau dari kalian semua. Aku hanya mengizinkan Dokter wanita yang menanganinya. Jika tidak! Lebih baik tidak usah dilakukan operasi!" ucap Albern dengan tegas.

Dokter Rehan dan para Dokter yang lainnya kembali dibuat syok oleh ucapan Albern. Akhirnya mereka mengalah, demi keselamatan Harnum dan bayinya.

Dokter Rehan langsung menghubungi para Dokter wanita, untuk menggantikan tugasnya dan tugas Dokter laki-laki yang lainnya. Setelah itu, para Dokter laki-laki tadi keluar dan diganti dengan para Dokter wanita.

Para Dokter wanita itu, langsung bergegas melakukan operasi caesar pada Harnum. Sementara Albern, ia hanya berdiri disamping kepala Harnum sambil bersedekap dada.

Sesekali matanya memperhatikan wajah Harnum, dan sesekali juga ia memperhatikan para Dokter yang sedang sibuk melakukan operasi dibagian perut Harnum.

Tidak berapa lama kemudian, operasi caesar itu telah selesai. Seorang Suster wanita yang menggendong bayi mungil tersebut, langsung mendekati Dokter Helda, yaitu Dokter yang bertugas penuh pada proses operasi tersebut.

"Dok, bayinya ...." ucap sang Suster.

Dokter Helda langsung melihat ke arah sang bayi perempuan mungil dan sangat cantik itu. Mata Dokter Helda berkaca-kaca menatap sang bayi.

"Tuan, bayi Anda meninggal dunia. Bayi Anda mengalami Stillbirth yaitu kematian pada janin di dalam kandungan, yang usia kandungannya sudah lebih dari 37 minggu. Dan, ini terjadi pada bayi Anda. Karena istri Anda mengalami pendarahan hebat, dan istri Anda mengalami kontraksi yang lama, tetapi tidak segera dilakukan tindakan medis."

Dokter Helda menghela napasnya sejenak, kemudian ia kembali melanjutkan ucapannya.

"Sehingga Pendarahan berat yang terjadi di trimester akhir, yang mengakibatkan janin mati dalam kandungan. Itu semua terjadi karena plasenta sudah mulai terpisah atau meluruh dari rahim sebelum memasuki masa persalinan. Kondisi ini disebut abrupsi plasenta atau placental abruption," ucap Dokter Helda memberi penjelasan pada Albern.

Albern tidak bergeming. Matanya hanya menatap pada bayi mungil tersebut, yang tidak bergerak sedikitpun juga. Tiba-tiba mata Albern mengembun. Ia memejamkan matanya dan menarik napasnya yang terasa sesak.

"Lakukan yang terbaik pada perempuan ini dan bayinya. Aku serahkan semuanya padamu, Dok! Nanti ada orang suruhanku yang akan kesini untuk mengurus semuanya, karena aku akan pergi dalam beberapa waktu."

Setelah mengatakan itu, Albern berlalu pergi meninggalkan ruangan operasi. Harnum yang masih tidak sadarkan diri itu, belum mengetahui apa yang telah terjadi pada bayinya.

"Baguslah jika bayinya mati, untuk menggantikan nyawa keponakanku," batin Albern.

TBC ( TO BE CONTINUED ).

Bab 3

Albern benar-benar keluar dari ruangan operasi tersebut, dan langsung pergi menuju ke suatu tempat.

"Dok, apa yang harus kita lakukan?" tanya sang Suster.

"Sesuai perintah Tuan tadi, bahwa kita harus melakukan yang terbaik pada istrinya dan bayinya," jawab Dokter Helda.

Setelah itu, tim medis yang menangani Harnum, langsung mengurus Harnum dan mayat bayinya untuk segera dimakamkan.

Setelah operasi caesar dan pemberian anestesi umum maupun regional dihentikan, lalu tubuh Harnum dibawa menuju Recovery Room atau ruang pemulihan atau yang disebut juga dengan Post Anesthesia Care Unit ( PACU ).

Harnum berada di ruangan pemulihan tersebut selama 60 menit. Setelah itu, Harnum dipindahkan ke ruang perawatan atau ruang intensif.

Sementara Albern, laki-laki itu sudah pergi dari rumah sakit. Ia membawa mobilnya menuju ke sebuah pemakaman umum. Albern mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Terkadang ia terlihat sedang menyusut air matanya yang terus saja berjatuhan membanjiri pipinya.

Tidak butuh waktu yang lama, Albern sudah sampai di pemakaman umum yang ia tuju. Ia bergegas turun dari mobilnya dan langsung berlari ke sebuah makam yang di atas batu nisannya tertera nama Ameralda Barnard.

Albern langsung menjatuhkan dirinya di hadapan makam tersebut. Ia menekuk lututnya sembari memeluk batu nisan itu.

"Kakak, aku sudah membalaskan dendammu. Aku sudah berhasil membunuh Reno, laki-laki yang telah menyakitimu dan mengkhianatimu. Dia tega meninggalkanmu yang sedang hamil tua, sehingga membuatmu mati bunuh diri setelah melahirkan bayi perempuanmu yang mungil dan cantik sepertimu itu. Tetapi bayimu juga ikut meninggal setelah kau tiada. Dan Reno lebih memilih wanita jalang itu. Tetapi kau tenang saja, Kak. Karena wanita sialan itu telah kehilangan suaminya dan juga bayinya. Dia merasakan apa yang kau rasakan, Kak. Dan aku akan menyiksa hidupnya! Nyawanya sekarang berada dalam genggamanku," ucap Albern yang berbicara pada makam sang Kakak.

Albern terus bersimpuh di pusara sang Kakak. Hingga akhirnya ada seseorang yang datang dan memanggil namanya.

"Albern," ucap seseorang tersebut.

Albern langsung menoleh, dan melihat siapa yang memanggil namanya tersebut.

"Monica," ucap Albern dengan lirih.

"Baby, aku mencarimu di mansion, tetapi kau tidak ada. Dan aku sudah menduga jika kau berada di makam Kak Ameralda. Maka dari itu aku menyusulmu kemari," ucap Monica.

"Ada apa kau mencariku? Jika tidak penting, lebih baik kau pergi dan jangan pernah menggangguku lagi!" ucap Albern dengan tegas.

"Baby, aku sangat merindukanmu. Setelah kepulanganmu dari Itali, kau tidak pernah menemuiku disini, mengapa?"

"Aku sangat sibuk! Pulanglah dan jangan menggangguku lagi!"

Tetapi Monica tidak menghiraukan ucapan Albern. Wanita yang berpakaian minim dan seksi itu, justru melangkah mendekati Albern. Ia ingin menyentuh bibir Albern menggunakan bibirnya, tetapi Albern langsung mendorong tubuh Monica.

"Jaga batasanmu, Monic! Sudah berulang kali aku katakan dan aku peringatkan padamu, jangan berani-beraninya kau menodai bibirku. Aku sangat membencinya!"

"Baby, aku sangat merindukanmu dan sangat ingin melepas rindu padamu."

"Monica, pulanglah! Dan ingat! Bahwa kita tidak pernah memiliki hubungan spesial. Hubungan kita hanya sebatas teman, tidak lebih! Are you understand!"

Monica seketika terdiam, ketika Albern mengatakan hal tersebut.

"Tapi aku sangat mencintaimu, Albern! Mengapa kau tidak pernah mau mengerti tentang diriku dan perasaanku?" ucap Monica.

Albern memejamkan matanya dan kedua tangannya sudah mengepal. Ia sangat geram dengan Monica yang tidak tahu malu itu.

"Monica, kau tentu tahu bagaimana karakterku. Jadi jangan memancing emosiku!"

"Baiklah, aku pergi. Tetapi nanti aku akan kembali ke mansion."

Setelah mengatakan itu, Monica bergegas pergi meninggalkan Albern seorang diri. Albern menatap tajam kepergian Monica.

"Aku sangat membenci yang namanya pengkhianatan. Cukup Kakakku saja yang menjadi korban pengkhianatan. Monica, kau pun sama telah berkhianat pada Robbin, sahabatku. Dan kau justru ingin menjadi bagian dalam hidupku. Dasar wanita ular kau, Monic!" batin Albern.

***

Setelah itu, Albern pun bergegas pergi meninggalkan pemakaman. Albern menuju sebuah tempat, untuk menenangkan pikirannya.

"Aku butuh ketenangan. lebih baik aku beristirahat di paviliun yang berada di rumah tuaku yang tersembunyi di hutan," batin Albern.

Lalu, Albern melajukan mobilnya menuju hutan, dan jauh dari pemukiman penduduk. Di hutan tersebut, terdapat rumah tua milik Albern. Dan di belakang rumah tua itu, ada paviliun tempat Albern beristirahat dan menenangkan pikirannya.

Di rumah tua dan paviliun itu, ada sepasang suami istri yang mengurusnya, yang bernama Mira dan Toni. Mereka merupakan orang tua angkat Albern, yang telah mengurus Albern dan Ameralda sejak bayi. Dikarenakan kedua orang tuanya tidak memiliki waktu luang untuk mengurus mereka berdua.

"Tuan, Anda pulang?" ucap Bu Mira, pelayan setia sekaligus Ibu angkat Albern.

"Iya, Bu. Aku ingin istirahat di paviliun," jawab Albern.

"Baik, Tuan. Saya siapkan air hangat dulu, untuk Tuan mandi."

"Bu, sudah berulang kali aku katakan, jangan memanggilku Tuan, panggil saja namaku, Albern!"

"Maaf, Tuan, saya tidak bisa melakukannya, karena walau bagaimanapun juga, Anda adalah majikan saya. Sangat tidak sopan rasanya jika saya hanya memanggil nama."

"Tapi aku ini adalah anakmu, dan kau adalah Ibuku. Walaupun kita hanya anak dan Ibu angkat, tapi kita tetap keluarga."

Bu Mira hanya menundukkan wajah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa jika Albern sudah berkata seperti itu.

Bu Mira dan sang suami, yang sudah mengabdi selama puluhan tahun itu kepada keluarga Addison Gevariel Barnard, yang merupakan Ayah dari Albern Barnard dan Ameralda Barnard.

Addison Gevariel Barnard merupakan orang Inggris, yang merupakan keturunan bangsawan. Tetapi ia tidak mendapatkan keadilan dari keluarganya, sehingga ia memilih pergi dan menetap di Italia dan menjadi seorang Mafia terkenal dan sangat disegani.

Saat Addison Gevariel Barnard masih muda, dan sedang melakukan perjalanan bisnis ke negara Indonesia, ia bertemu dengan Miranda, gadis asli Indonesia yang sangat cantik dan lembut. Sehingga membuatnya jatuh cinta dan menikahinya, hingga mereka memiliki dua orang anak, yaitu Ameralda dan Aldern.

"Tuan, air hangatnya sudah saya siapkan. Silakan mandi," ucap Bu Mira.

Albern beranjak dan menuju kamarnya untuk menuju kamar mandi. Albern membuka seluruh pakaiannya sehingga menampakkan otot-otot tubuh yang sangat sempurna.

Albern masuk ke dalam bath up dan berendam. Ia memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Tetapi ketika Albern tengah memejamkan matanya, tiba-tiba ia membuka matanya dan memukul air di bath up.

"Sial! Mengapa disaat aku sedang menenangkan pikiranku, wajah wanita jalang itu justru muncul dalam ingatanku. Aaahhhh ... jika seperti ini, aku tidak bisa menenangkan pikiranku! Awas kau wanita jalang, akan aku siksa kau!" Albern mengumpat di dalam hati.

TBC ( TO BE CONTINUED ).

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED