Bab 1

Pagi hari.

Tok tok tok ....

Suara ketukan pintu dari luar kamar. Itu terdengar begitu berisik hingga membuat Ziana kesal.

"Ian..." Panggil seorang wanita di balik pintu yang tidak lain adalah kakak kandung Ziana yaitu shiren.

"mendengarkan tidak ada respon dari dalam. shiren kembali mengetuk pintu sambil memanggil nama kecil Ziana.

"Hah...! Mereka tidak pernah membiarkan hidup ku tenang sedikit pun." Ujarnya kesal lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju kearah pintu kamarnya.

"Ian, apa kau baik-baik saja...? Semalam kau pulang larut malam." Ujar Shiren yang mengkhawatirkan kondisi adiknya itu.

"Bukankah, aku telah memberitahu mu untuk tidak memasuki kamarku! cepat keluar dari sini!" ucap kesal Ziana mengusir sang kakak dengan nada kasar.

itu bukan pertama kalinya, Ziana mengusir Shiren.

Ziana begitu membenci sang kakak yang lebih di sayangi kedua orang tuanya.

Tapi Shiren tidak pernah membenci sang adik atas perlakuan kasar Ziana padanya.

walaupun berulang kali Ziana mencoba menyakiti dan juga memfitnah dirinya. Shiren tidak pernah marah dan membalas sang adik.

"Baiklah, aku akan keluar. Oh iya, papa dan mama menunggu mu untuk sarapan bersama." ucapnya dengan lembut tapi malah di jawab dengan ucapan kasar lagi oleh Ziana.

"Berisik! cepat keluar." Shiren pun keluar dari kamar Ziana.

"Mereka sungguh membuat kepala ku sakit."

Ziana selalu merasa sendiri dan kesepian, Karena kedua orang tuanya selalu saja sibuk dengan sang kakak yang sering sakit-sakitan.

kedua orangtuanya lebih banyak mengabaikan Ziana. Ia kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuannya sejak kecil.

Sebab itulah Ziana sangat membenci kedua orang tuanya, dan juga sang kakak yang mengambil semua kasih sayang orang tua mereka.

Seperti biasa, Ziana melangkah pergi tanpa menghiraukan kedua orang tuanya, dan juga sang kakak yang menyapa serta memintanya untuk sarapan bersama sebelum pergi ke kampus.

"Makin hari, Anak itu semakin tidak bisa di atur. aku terlalu memanjakan dirinya, sehingga ia berbuat sesuka hati."

Tuan Zi yang merupakan ayah dari Ziana, begitu kesal dengan sikap Ziana yang menurutnya semakin berbuat semena-mena.

"Pa... redakan amarah papa. nanti penyakit jantung papa kumat lagi. Ian, juga seperti itu karena kita pa... seharusnya kita lebih mengerti akan sifatnya saat ini. padahal dulu, Ian adalah anak yang begitu manis." kata Tante Diana yang mencoba menenangkan amarah sang suami.

"Semua ini salah Iren, jika bukan karena penyakit Iren, Ian tidak akan jadi seperti saat ini."

Shiren sangat menyayangi Ziana. Ia benar-benar sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada sang adik selama ini.

"Sudahlah... jangan saling menyalahkan.

dia saja yang masih kekanak-kanakan." ucap tuan Zi dengan nada acuh tak acuh akan Ziana. mereka pun melanjutkan sarapan tanpa Ziana.

Seperti biasa. Ziana berangkat ke kampus menggunakan taksi. Sudah 2 tahun lamanya, Ia tidak menggunakan atau naik mobil mereka.

Alasannya cukup klise, sang ayah terkadang meminta sopir pribadi mereka untuk lebih mementingkan shiren dibandingkan ziana.

ziana yang kesal akan hal itu, memutuskan untuk pergi naik taksi ke kampus. bahkan naik bus ke kampus.

Setibanya di kampus. Ziana menguatkan dirinya untuk masuk kedalam kelas/ruang dimana tempat mereka menerima mata kuliah dari dosen.

baru saja, Ia melangkahkan kaki di depan pintu. tatapan sinis,dan ketidak nyamanan mereka membuat ziana berbalik pergi.

kelas itu, adalah kelas yang sama dengan shiren. di beberapa mata kuliah, dirinya dan shiren sekelas.

itulah, tidak heran begitu banyak orang yang membencinya karena sikap acuh tak acuhnya terhadap shiren.

Ziana benar-benar di buat kesal dengan tuduhan teman-teman shiren yang terus saja menuduhnya, ingin mencelakai shiren. Walaupun dirinya sangat membenci shiren, dan mengharapkan shiren hilang selamanya dari kehidupannya, namun ia tidak berani membunuh orang.

"Lihatlah wajah tidak tahu malunya itu." Ujar seorang wanita yang merupakan sahabat sang kakak.

"Benar, aku dengar shiren sakit hari ini. Mungkin dia telah melakukan sesuatu kepada shiren." Balas seorang teman lagi.

Ziana tidak menggubris perkataan mereka. Ia memilih untuk pergi dari pada harus bertengkar dengan mereka. Toh, nantinya Ia lah yang akan di salahkan.

Tidak ada yang akan membelahnya. Ia selalu sendiri.

Hum....suara helaan nafasnya. Ia memilih untuk duduk berteduh di bawah pohon yang ada di taman belakang kampus. Di sana Ia bisa menyandarkan tubuhnya. Hanya ada kicauan burung, dan juga angin lembut yang berhembus.

Ia menatap kearah langit yang begitu cerah.

"Sungguh tidak adil," gumam dengan nada sedih.

Ziana selalu tersisihkan dan diasingkan oleh semua teman-teman kampusnya.

Semua itu berawal saat mereka duduk di bangku SMA kelas 2.

Shiren dan ziana berdebat. Ziana cukup kesal kepada shiren, karena selalu saja memintanya untuk memaklumi dan bersabar saat teman-teman mereka mengatakan hal yang buruk.

Shiren tidak ingin ziana terlibat masalah. Namun, ziana yang tidak ingin di salahkan atas apa yang tidak pernah Ia lakukan. Memilih untuk tidak mendengarkan shiren.

Ia pergi dengan penuh amarah. Shiren mencoba menghentikan shiren dengan meraih tangan ziana,tapi ziana yang terlanjur kesal. Menghempaskan tangan ziana hingga membuat shiren jatuh kelantai,dan hal itu di saksikan oleh beberapa siswa dan siswi yang lewat.

Mereka segera menghampiri shiren dan membantunya.

Kini mereka menatap ziana dengan tatapan tidak senang. Ziana menggigit bibir bawahnya, mentahan amarahnya saat itu. Ia segera berbalik dan pergi.

"Mereka pasti berpikir bahwa aku membuly kakakku yang sakit-sakitan itu." Gumamannya dengan langkah yang cepat. Ia ingin segera pergi meninggalkan tempat itu.

Sejak hari itu. Ziana di cap sebagai adik yang kejam.

Dirinya bahkan di bully oleh beberapa kakak seniornya. Ziana yang tidak ingin diam, memilih untuk melawan dan akhirnya berkelahi dengan mereka hingga terluka cukup parah.

Tidak cukup di marahi guru saja. Bahkan sang ayah tidak ingin datang ke sekolah saat mendapat panggilan atas namanya. Hanya ibunya yang selalu datang, namun alih-alih datang menemuinya. Tapi, perhatian selalu tertuju pada shiren.

Ziana bahkan sering di bentak dan di teriaki oleh ayahnya, karena membuat shiren terluka.

Bahkan tidak jarang, dirinya di tampar oleh ayahnya.

Ziana selalu mengurung dirinya didalam kamar dan merenungi akan kesalahannya.

Kesalahannya yang tidak pernah Ia buat.

"Mengapa bukan aku saja yang sakit...?" Ujarnya dengan penuh kesedihan.

Pohon yang besar serta teduh itu, menjadi tempat sandaran terakhirnya dikala dirinya merasa terbuang.

Karena terlalu lelah dengan begitu banyaknya tekanan. Ia pun memutuskan untuk menutup matanya sejenak.

Dari balik pohon, berdirilah sosok yang tidak di kenal sedang menatapnya.

Sosok itu, melihatnya yang sedang tertidur.

Cukup lama sosok itu berdiri di depan ziana yang sedang tertidur,lalu pergi.

"Aku harap kau bisa bahagia...,"

Doa yang tulus dari sosok yang tidak pernah terlihat.

Bab 2

Tanpa terasa, waktu berjalan lebih cepat. Ia di bangunkan oleh satpam yang sedang berkeliling.

Ternyata itu, sudah waktunya untuk pulang.

Matahari mulai terbenam, dan hari mulai gelap.

"Aku tidak ingin pulang," ucapnya. Ia tahu apa yang sedang menunggunya di rumah.

Shiren kembali masuk rumah sakit. Yang akan disalahkan adalah dirinya.

Tidak ada teman ataupun saudara yang bisa Ia ajak bicara ataupun sebagai tempat berlari disaat seperti ini.

Ziana menyadari bahwa selama ini, dirinya benar-benar sendirian.

Lagi-lagi ziana melihat keatas langit.

"Seharusnya Engkau tidak membuat ku lahir di dunia ini. Jika aku harus menanggung beban hidup yang teramat berat seperti ini. HM... Setidaknya kasihlah aku sedikit saja. Aku kesepian."

Kini Ia menundukkan kepalanya.

Tik...Tik... Suara rintikan hujan.

"Aku bahkan tidak di ijinkan untuk mengeluh...," Ucapnya diiringi deraian air mata.

Waktu menunjukkan pukul 08:30 malam.

Ziana tiba di rumah dalam keadaan basah kuyup.

Seorang pelayan membukakan pintu untuknya.

Melihat ziana yang basah kuyup. Pelayan itu hanya diam saja,tanpa membantunya mengambilkan handuk.

Ia sudah terbiasa akan hal itu. Ia masuk kedalam rumah,dan pergi ke kemarnya yang ada di lantai atas.

Beberapa saat kemudian. Ziana mendengarkan suara teriakan dari lantai bawah. Ia membuka pintunya kamarnya, Ia ingin mendengar apa yang sedang terjadi.

Rupanya, ayahnya sedang mengomeli para pelayan yang membiarkan genangan air berada dilantai.

"Bagaimana jika Iren jatuh saat melewati lantai ini? Dasar bodoh." Ujarnya yang membentak dan memarahi semua pelayan.

Zian segera masuk dan mengunci pintu kamarnya. Ia tahu, bahwa pelayan itu pasti akan melaporkan bahwa dirinya lah yang salah.

Benar saja. Tidak sampai 2 menit. Ayahnya sedang menggedor-gedor pintu kamarnya.

"Ziana... Ziana...! Cepat buka pintunya." Panggilan Tuan Zi yang kini sedang di penuhi amarah.

Ziana yang tidak ingin berdebat,serta menambah luka hatinya. Hanya bisa masuk kedalam selimut, dan menutupi telinganya dengan bantal.

"Aku lelah...," Ucapnya dalam kesunyian.

Masa kecil Ziana benar-benar indah. Walaupun sudah lewat 20 tahun lamanya. tapi, kenangan indah saat dirinya di sayangi oleh kedua orang tuanya, masih samar di ingatannya.

Dirinya sendiri tidak ingat lagi, sejak kapan ibu dan ayahnya berubah. mereka menjadi acuh tak acuh akan dirinya. Ia selalu di abaikan, dan kakaknya selalu di perhatikan. semua perhatian di pusatkan kepada shiren. hingga perlahan membuat shiren yang baru berumur 6 tahun, mulai merasa cemburu dan iri terhadap kakaknya.

Ia bahkan mendorong shiren saat hendak mendekatinya.

karena hal itu, Tuan Zi membentak Ziana. hingga gadis kecil itu terkejut, dan duduk menangis di lantai.

Ziana di abaikan oleh sang ayah yang pergi dengan menggendong shiren di lengannya.

Sejak hari itu. perlakuan tidak adil, dan selalu abaikan yang di dapatkan oleh Ziana.

Pakaian baru, mainan baru, boneka baru. semuanya untuk shiren.

Ziana tumbuh dewasa dengan memendam kebencian terhadap kakak perempuannya,dan juga kedua orang tuanya.

Kehidupannya yang pahit pernah di alami oleh setiap manusia. tapi, itu ada batasnya.

**** **** ****

Sebulan kemudian.

Nasib buruk menimpa Ziana.

Hari itu. Ziana di minta oleh ibunya untuk membawa buku catatan shiren yang tertinggal di meja makan. Awalnya Ziana menolak untuk membawa buku itu,tapi sorot mata sang ayah yang menandakan kemarahan, membuat Ziana akhirnya dengan terpaksa membawa buku tersebut ke kampus.

Bukankah ziana takut akan di marahi lagi, tapi lebih tepatnya ziana tidak ingin merusak pagi yang damai itu.

terlebih lagi, Ibunya akan menangis jika dirinya terus bertengkar dengan sang ayah.

walaupun kebencian Ziana begitu besar, namun Ia tetap menyayangi ibunya.

Ia tahu bahwa sang ibu, masih sering datang mengunjungi kamarnya setiap malam dan mengucapkan kata maaf padanya.

Ziana tahu bahwa, Ibunya tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan sang ayah.

Ziana pergi ke kampus naik Bus. Ia turun di stasiun dekat kampus.

dari sana, Ia berjalan dengan begitu santai. tidak ada yang menunggunya. untuk apa Ia harus buru-buru. walaupun saat itu sudah waktunya kelas pagi dosen killer pak Jeo.

Salah satu dosen yang sering memberinya hukuman,dan marah tanpa sebab padanya.

Ziana mengirimkan pesan kepada shiren untuk mengambil bukunya di taman.

Ia akan menunggu shiren di sana.

Shiren segera membalas pesannya.

"Baiklah, thank you. muaaahh..."

melihat pesan dari shiren. hati Ziana sedikit melunak. Ia sadar bahwa shiren selalu baik padanya, walaupun terkadang dirinya memperlakukan shiren dengan kasar.

"Apa aku ajak makan siang bersama ya...?" gumamannya yang sedang berpikir untuk mengajak shiren makan siang bersama.

senyuman terpancar di wajahnya. Ia tidak berharap banyak dengan hubungan baik mereka. Ziana hanya ingin sedikit mengerti akan sang kakak.

Ia duduk di taman sambil menunggu shiren selesai kuliah.

begitu banyak mahasiswa yang berlalu lalang di depannya,tapi kebanyakan menganggapnya tidak ada.

Ziana sudah terbiasa akan hal itu. Ia tidak berkecil hati lagi.

Dua jam kemudian. shiren datang menghampirinya.

Baa... suara shiren mengagetkan sang adik yang sedang duduk melamun.

Ziana segera berbalik kearah sang kakak yang saat itu sedang tersenyum lebar padanya.

"Maaf mengagetkan mu,"

"tidak apa-apa. um... ini buku mu yang tertinggal di atas meja." ujar Ziana sambil memberikan buku yang ia pegang itu kepada shiren.

"Maaf ya... merepotkan mu."

"HM...." balas Ziana.

sebenarnya ziana sedikit canggung untuk mengajak shiren makan siang bersama. Ini lebih berat di bandingkan, dia bicara sendiri tadi.

"Am...begini... Aku ingin..." ucapannya terhenti saat mendengar suara batuk dari shiren.

Uhuk....uhuk....

Ziana segera beranjak dari tempat duduknya, dan menghampiri shiren.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya ziana yang mulai panik. terlebih lagi shiren tidak berhenti batuk dan wajahnya kini memucat.

Menjawab pertanyaan Ziana, shiren menggelengkan kepalanya.

kini tubuh shiren mulai melemah,dan akhirnya jatuh ke tanah.

"Shiren...," panggil ziana yang semakin panik.

"To...tolong... ambilkan obat di tasku." pinta shiren dengan suara yang terbata-bata.

Ziana segera melakukan apa yang di perintahkan oleh shiren.

Ia menggeledah isi tas shiren untuk mencari obat. Ia menemukan botol obat di dalamnya.

"Apa ini obatnya...?" tanya ziana kepada shiren sambil menunjukkan botol obat itu.

shiren menganggukkan kepalanya.

Ziana segera membuka tutup botol obat itu. lalu mengeluarkan beberapa kapsul.

"Berapa banyak yang kau makan?" tanya ziana kepada shiren.

shiren yang melihat obatnya di tangan ziana. segera mengambil dua kapsul dan meminumnya.

Ziana segera berbalik kearah tempat duduknya meraih tas miliknya mengambilkan air minum untuk shiren.

"Minumlah i....," ucapannya terhenti saat melihat keadaan shiren. Ziana begitu syok dan juga takut saat melihat hidung dan mulut shiren yang mengeluarkan darah.

Tubuhnya gemetar, dan suaranya tidak bisa keluar dari tenggorokannya.

"Minggir kau!" teriak seseorang padanya sambil mendorong tubuh Ziana hingga terpental cukup jauh.

orang yang mendorong ziana saat itu adalah pak Jeo yang merupakan dosen mereka.

"Shiren sadarlah... shiren..." panggil pak Joe yang tengah memeluk tubuh shiren yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Pria itu menatap Ziana dengan tatapan jijik. seperti Ia baru saja melihat kotoran.

"Berdoalah, shiren baik-baik saja." ujarnya dengan nada kesal.

Pak Jeo segera membawa shiren ke rumah sakit.

Bab 3

semua orang berkumpul melihat apa yang sedang terjadi.

semua mata tertuju kepada ziana.

salah satu sahabat shiren datang menghampirinya.

"Apa yang telah kau lakukan kepada shiren, hah?! dia itu kakakmu. mengapa kau begitu tega padanya...? hiks..."

Ziana yang masih syok, hanya diam saja.

gyurrr... suara guyuran air yang di siramkan salah satu teman shiren.

kini Ziana menjadi basah kuyup. semua orang yang berdiri di depannya. hanya bisa mengutuk, memaki dan menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa shiren.

mereka meninggalkannya sendirian saat itu.

Ziana segera bangkit, dan pergi ke toilet wanita.

di sana semua orang menggunjingkan dirinya sebagai wanita jahat.

Ia segera berbalik dan pergi dari sana. Ia memilih untuk mencari toilet umum.

di sana Ia membersihkan kotoran yang ada di pakainya.

Ia ingin pulang ke rumah untuk mengganti pakaiannya. namun, Ia ragu untuk kembali. apakah rumah itu masih akan menerimanya, setelah kejadian hari ini...?

Ia duduk di dalam toilet, dan menangis dalam diam.

Ia sendiri tidak tahu dimana letak kesalahannya. semua orang hanya bisa menuduhnya saja, tanpa ingin tahu kebenarannya.

Ia duduk menangis meluapkan semua kesedihannya selama ini.

sejam kemudian. Ia keluar dari dalam. semua mata kembali tertuju padanya. mereka menatap curiga kearah ziana yang sudah sejam duduk didalam toilet tanpa keluar.

"Apa kau baik-baik saja ...?" tanya seorang wanita menghampiri ziana.

Ini pertama kalinya ada yang menanyakan tentang keadaannya. Ia mengigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hampir saja jatuh.

wanita itu yang melihat Ziana bersedih. merasa kasihan.

"Nak... aku tidak tahu apa yang sedang kau alami. tapi yakinlah, bahwa semuanya akan segera berlalu." ujar wanita tersebut menyemangati Ziana.

"Terima kasih, Nyonya." balas Ziana lalu pergi.

Ia berjalan dengan pikiran yang tidak menentu,dan juga arah tujuan yang tidak pasti.

"Kemana aku harus pergi?"

Ia kini duduk di halte bus. duduk berjam-jam di sana.

Ia melihat kearah jalan. begitu banyak kendaraan yang lewat. serta orang yang berlalu lalang dengan penuh keceriaan. canda tawa terdengar di sekitarnya.

Ia kembali menundukkan kepalanya.

"Apa hanya aku yang sedang menderita...? mengapa kalian bisa tertawa lepas seperti itu. sedangkan aku menderita. hiks...hisk... dasar tidak adil."

Kini pikiran ziana menjadi sangat kacau. Ia bahkan memikirkan untuk bunuh diri. Ia beranjak dari tempat duduknya dengan air mata yang terus mengalir deras di wajahnya.

Ia berjalan di tengah jalan. suara bunyi klakson mobil terus terdengar. Ia tidak menghiraukan semua itu.

sebuah mobil melaju dari arah belakang. seorang pria paruh baya menarik tangan Ziana.

hampir saja ziana di tabrak oleh mobil terus yang bahkan menerobos lampu merah.

"Hei! apa kau sudah gila?! bagaimana bisa kau berdiri di tengah jalan seperti ini...?"

pria itu terus saja mengomelinya.

"Sebaiknya aku menelpon kantor polisi." ujar kesal pria paruh baya itu yang melihat Ziana hanya diam saja tanpa menggubris perkataannya.

"Maaf Tuan, saya mengenal gadis ini. saya yang akan mengurusnya," ujar seorang pria muda.

pria muda itu menoleh kearah belakang, sambil memberikan isyarat kepada seorang pria yang ikut bersamanya.

pria itu pun menghampiri pria paruh baya itu untuk bicara.

sementara, pria muda tersebut mengangkat tubuh Ziana,dan membawanya masuk kedalam mobil.

"Aku akan mengantarmu pulang," ucapnya.

Pria muda itu menatap Ziana dengan penuh rasa iba.

"Gadis yang malang...,"

Ziana bagaimana tubuh tanpa jiwa saat itu. Ia diam tanpa mengatakan apapun.

setengah jam kemudian. pria muda itu menurunkan ziana tepat di depan rumah.

"Turunlah, kau telah sampai." kata pria muda itu. tidak lupa pria itu memberikan kartu namanya.

"Hubungi aku jika kau dalam kesulitan nantinya,"

Ziana hanya diam saja. Ia menggenggam kartu nama yang ada di tangannya itu.

Ia masuk kedalam rumah setelah dibukakan pintu oleh seorang pelayan.

"Tuan Muda, apa anda mengenal gadis itu?" tanya pria yang menjadi sopirnya kini.

"Entahlah...," jawabnya.

mereka pun pergi meninggalkan rumah Ziana.

sementara itu. Ziana di sambut dengan tatapan dingin oleh para pelayan.

"Masih berani dia menginjakkan kaki di rumah ini setelah membuat nona shiren hampir mati." ucap seorang pelayan.

Ziana yang mendengar hal itu, segera menoleh kearah pelayan itu.

pelayan itupun seketika diam.

Ziana kembali ke kamarnya. Ia segera mandi untuk mengganti pakaiannya yang kotor.

baru saja, Ia selesai mandi. Ia mendengar suara ketukan pintu yang begitu keras. Ia tau siapa itu.

"Ziana... Ziana! cepat buka pintunya, atau aku akan mendobrak pintu ini." teriak tuan Zi dari luar kamarnya.

Zian tidak memperdulikan teriakan sang ayah. Ia mengambil pakaiannya, dan mengganti pakaiannya didalam kamar mandi.

setelah selesai mengganti pakaiannya. Ia segera keluar. saat Ia keluar dari kamar mandi, sebuah tamparan keras mengenai wajahnya.

plakk....

"Pa..." panggil Tante Diana yang kaget ketika suaminya itu menampar putrinya.

"Diam kau! anak ini sudah sangat keterlaluan. apa kau baru bisa senang saat melihat kakakmu mati, Hah...?!"

Ziana hanya diam saja. Ia tidak mengatakan apapun. Ia tahu bahwa apapun yang akan dia ucapkan, ayahnya tidak akan pernah mempercayainya.

"Lagu pula dia tidak mati." ujar Ziana melangkah pergi.

mendengar perkataan ziana yang seperti itu. membuat amarah tuan Zi meledak. Ia melempar ziana dengan vas bunga yang ada di meja rias Ziana, hingga mengenai kepala Ziana.

"Dasar anak kurang ajar. beraninya kau menyumpahi kakakmu seperti itu. Kau baru saja hampir membunuhnya,tapi bukannya merasa bersalah, kau malah bersikap sombong." teriak tuan Zi.

darah menetes kelantai dari kepala Ziana.

Ia berbalik kearah sang ayah.

"Apakah aku masih kau anggap sebagai putri mu...?"

Tuan Zi terdiam mendengar pertanyaan dari Ziana.

"Sayang... apa yang kau katakan? kau adalah putri kami." ucap Tante Diana. Ia segera menghampiri Ziana, namun ziana memintanya untuk berhenti.

"Apa aku ingin tubuh yang sehat? jika aku bisa memilih, aku ingin sakit seperti dia. agar kalian bisa melihat ku. semua perhatian kalian tujukan kepadanya. apapun yang terjadi padanya walaupun bukan salahku, tetap saja aku yang disalahkan. aku tidak pernah di ijinkan untuk menjelaskan. tampar, makian dan hinaan yang lebih dulu datang, di bandingkan meminta penjelasan. Aku tidak tahan lagi. Aku benci jadi anak kalian... aku lebih memilih untuk mati, dan tidak pernah terlahir sebagai anak kalian di kehidupan ini, maupun kehidupan berikutnya."

luapan emosi darinya membuat semua terdiam. namun, hati tuan Zi yang membatu tidak tergerak sama sekali.

"Kau makin sombong dan kurang ajar. Kau pikir aku ingin punya anak kejam seperti mu, hah?! hari ini kau mencoba membunuh kakakmu karena cemburu, bisa saja besok kau mencoba membunuh ku."

"Zian!" ucap lantang Tante Diana memperingati suaminya yang menurutnya sudah keterlaluan.

"Ha-ha-ha.... imajinasi mu terlalu kacau. walaupun mereka mengutuk sebagai seorang wanita kejam, tapi aku tidak akan pernah membalas apa yang kalian lakukan padaku. satu hal lagi. Ayahlah yang lebih kejam dariku."

Ziana segera keluar dari kamarnya. Tuan Zi yang tidak terima segera mengejarnya.

"Jangan pernah menginjakkan kaki mu lagi di rumah ini, jika kau tidak merenungi kesalahan mu." teriak Tuan Zi.

Ziana tidak menggubris hal itu. Tante Diana segera berlari mengejar ziana.

"Ian... sayang...." panggil sang ibu.

melihat ziana yang tidak menoleh sama sekali.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED