Bab 1

Suasana kelas tampak ramai karena hampir semua murid kelas tiga pariwisata —jurusan perhotelan, sudah datang. Terlihat Reina si siswi ceria namun terkenal bodoh, tengah mengobrol seru dengan beberapa temannya. Gayanya yang sedikit tomboi dengan rambut panjang yang dikuncir kuda, menjadi ciri khasnya sebagai seorang siswi biasa saja,tetapi paling heboh di kelasnya.

Suara riuh nan membahana dalam ruangan itu seketika sunyi saat seorang siswa tampan muncul di pintu kelas, yang datang bersama beberapa murid lainnya. Dia adalah Rian, siswa paling pintar di kelas perhotelan tersebut.

Meja di mana Reina berada mendadak heboh karena kebiasaan mereka yang sangat senang menggoda gadis tersebut.

"Shut, si Rian tuh! Ehem!" goda Anita ke Reina.

Ya, bukan rahasia lagi kalau Reina si siswi tomboi dan bodoh itu memiliki perasaan suka pada sosok Rian. Dan bukan rahasia umum juga jika berkali-kali Reina ditolak oleh Rian ketika gadis itu menyatakan perasaannya.

Pagi itu di mana untuk yang entah untuk keberapa kalinya, Reina berencana untuk menyatakan perasaannya kepada sang pujaan hati, lagi.

Reina yang merasa waktu belajar mereka di sekolah hanya tersisa beberapa minggu lagi itu, merasa harus mengambil kesempatan di waktu-waktu terakhirnya.

Ya, mereka adalah murid kelas tiga yang hanya tinggal menghitung hari saja demi menyiapkan sejumlah ulangan dan ujian sekolah sebelum akhirnya lulus. Dan Reina pun sudah memantapkan dirinya untuk menguatkan hati jika kali ini Rian harus kembali menolaknya.

Kini, ketika siswa tampan dan teladan itu berjalan menuju bangku-nya, Reina dengan penuh percaya diri beranjak dari posisinya untuk menghampiri sosok si siswa pintar tersebut.

"Reina! Please!" rajuk Jefry yang tak rela jika gadis yang ia sukai harus kembali dipermalukan oleh si siswa teladan karena penolakan yang dilakukan.

Tapi sepertinya Reina tak acuh dan ia tetap meneruskan rencananya. Siswi itu pun berjalan semakin dekat.

Kini tatapan penasaran bukan hanya berasal dari meja di mana teman-teman Reina berkumpul saja, tetapi seluruh murid di kelas itu melihat ke arah Reina yang tampak ceria berjalan mendekati Rian.

Semua menahan napas saat langkah kaki sang siswi bodoh itu berhenti dan berdiri tepat di tepi meja Rian. Rian yang tahu ada sosok yang kerap mengganggunya itu berdiri di samping meja belajarnya, tampak pura-pura buta dan tidak melihat siswi tersebut.

Keheningan begitu terasa di ruangan itu bahkan suara bel tanda jam pelajaran dimulai pun tak mereka indahkan. Tak terkecuali Pak Tana —guru F & B, yang juga terdiam di ambang pintu ketika suasana hening sangat terasa saat ia baru akan masuk di jam pertama pelajarannya di kelas tersebut.

Begitu guru paruh baya itu melihat ke arah satu titik di mana bangku paling depan yang ditempati Rian —si siswa teladan, adalah titik pusat bagi semua mata murid-muridnya, guru itu pun memilih diam demi ingin mengetahui drama apalagi yang hendak dibuat oleh Reina, siswi yang paling terkenal karena kebodohan dan keseruannya itu.

Detik waktu terus berlalu, baik Reina atau Rian si tokoh utama pagi itu masih sama-sama membisu. Rian malah bersikap cuek dengan membuka buku tebal di tangannya. Ia membiarkan keheningan ruangan kelas itu terjadi. Keheningan yang disebabkan oleh kegilaan yang hendak Reina lakukan, yang pastinya sudah bisa ia tebak oleh otaknya yang pintar.

Reina terlihat menghela napas dan melepasnya kasar. Tak lama kemudian, gadis tujuh belas tahun itu menjulurkan kedua tangan untuk menyerahkan sebuah amplop merah muda ke hadapan Rian.

"Rian, untuk yang kesekian kalinya aku mau kamu tahu bahwa aku menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu sejak dulu, yaitu sejak kita masih duduk di bangku kelas satu yang sama, sampai sekarang. Aku tidak tahu apakah ini terakhir kalinya aku akan menyatakan perasaanku padamu atau tidak, mengingat waktu kita yang memang hanya sedikit lagi. Tapi, meski aku tahu kamu akan menolakku lagi, minimal terimalah surat dariku ini. Aku tidak berharap kamu membalas suratnya, tetapi bacalah untuk pertama kalinya setelah surat-surat sebelumnya kamu tolak."

Tak ada yang bersuara setelah kalimat pernyataan cinta yang Reina sampaikan selesai. Semua murid termasuk Pak Tana menunggu reaksi atau respon yang akan Rian berikan.

Mereka melihat kedua tangan Reina masih menjulur di depan Rian, menunggu. Sedangkan siswa itu masih belum bergeming dari posisinya. Hingga sebelah tangan Rian pun bergerak dan terangkat ke atas. Sebuah senyuman muncul di bibir Reina ketika melihat respon yang Rian berikan. Kedua matanya berbinar bahagia karena Rian akan menerima amplop yang ia berikan.

Bukan hanya Reina, tetapi semua teman satu geng-nya pun ikut tersenyum bahagia. Hanya Jefri saja yang tampak kesal, ia tak suka melihat pemandangan di depannya itu.

Namun, sepertinya kebahagian memang belum Tuhan takdirkan untuk Reina rasakan. Ketika Rian sudah mengambil amplop berwarna merah muda dari tangan Reina, dengan pandangan mata tak berkedip menatap wajah teman perempuan di depannya yang masih tersenyum bahagia, Rian dengan gaya lambat merobek amplop tersebut menjadi empat bagian. Lalu menyerahkan kembali robekan amplop itu ke tangan Reina yang masih terjulur.

"Kalau kamu sudah tahu jawabannya, mengapa masih saja memaksaku untuk membaca tulisan yang tidak penting ini? Jangan melakukan tindakan bodoh karena otakmu yang bodoh itu!"

Deg! Kembali Reina harus mengalami patah hati. Meski ini sudah berulang kali terjadi bahkan ia pun sudah mempersiapkan semuanya, tetapi entah mengapa penolakan kali ini membuat hatinya merasakan sakit yang amat sangat.

"Rian!" seru seorang siswa dari arah belakang.

Terdengar langkah cepat menuju ke arah Reina yang terdiam dan Rian yang masih menatap benci pada temannya itu. Lalu,

Bugh!

Sebuah pukulan keras tepat mengenai wajah Rian yang tidak siap akan terjangan yang ternyata Jefri lakukan.

"Jefri!" teriak Reina terkejut.

Sontak keadaan kelas pun menjadi riuh. Sebagian siswa yang lain mencoba menghentikan Jefri yang sepertinya akan kembali menghajar Rian. Lalu sebagian siswa lain yang didominasi para siswi mencoba menolong Rian yang jatuh tersungkur ketika harus mendapat bogeman dari Jefri. Pak Tana yang tadi diam berdiri di ambang pintu pun merangsek masuk dan mencoba menghentikan kehebohan itu.

"Kalau kamu memang enggak suka sama si Reina, minimal kamu jangan mempermalukan dia dengan kalimat yang menyakitkan!" seru Jefri masih dengan tubuh yang ditahan oleh teman satu geng-nya, termasuk Reina yang memegang tangan lelaki itu.

Rian tersenyum ketika mendengar kalimat pembelaan yang meluncur dari mulut Jefri, lelaki yang ia tahu menyukai perasaan suka pada Reina. Dalam posisinya yang masih duduk di lantai dengan darah yang menghiasi sudut bibirnya, Rian pun bicara.

"Dia sendiri yang mempermalukan dirinya. Bersikap tidak tahu malu sejak dulu. Aku yang lelaki saja malu sedangkan dia yang seorang perempuan malah bertingkah memalukan dengan menyatakan perasaannya yang sudah sangat jelas dia tahu jawabannya."

"Rian!" teriak Jefri lagi. Inginnya lelaki itu berkata kasar pada si siswa teladan, tetapi melihat Pak Tana ada di depannya membuat ia hanya mampu berteriak memanggil nama Rian sembari menggeretakkan giginya.

Rian terlihat berdiri. Reina si siswa bodoh itu pun melihat ketika lelaki yang ia sukai itu bersusah payah bangun setelah jatuh tersungkur tadi. Darah yang tadi sempat ia lihat di sudut bibir Rian, sudah terhapus dengan tisu yang Angela berikan. Ya, si murid pintar lainnya yang kerap mencari muka di hadapan sang siswa teladan, tampak membantu Rian berdiri dan kemudian menatap ke arah Reina dan kelompoknya.

Kedua mata Reina sudah memerah menahan tangis, sedangkan mata Jefri sudah bisa dipastikan merah karena menahan amarah. Lantas Rian, lelaki itu malah terlihat biasa bahkan menatap sinis ke arah gadis yang tak pernah bosan mengganggunya.

"Seharusnya kamu itu membalas perasaan suka yang temanmu miliki dan bukan terus menerus menggangguku. Dulu aku biasa saja saat awal-awal kegilaanmu dimulai, tetapi sekarang kamu sudah membuatku muak dengan segala tingkah lakumu itu!"

Plak!

Kali ini adalah tamparan yang spontan Reina berikan. Sebuah tamparan yang membuat seluruh siswi menutup mulut mereka karena terkejut. Tak terkecuali Pak Tana yang masih berdiri di sebelah Rian.

"Sudah cukup! Cukup!" ucap Reina dengan suara bergetar menahan emosi.

"Reina," Kompak semua teman satu geng menatapnya, lirih bersuara.

Reina yang tidak sadar akan perbuatannya, seketika menunduk dan membungkuk menatap wajah gurunya yang sejak tadi diam saja.

"Maafkan saya, Pak Tana! Saya izin ke toilet sebentar.

Sedetik kemudian, Reina pun beranjak keluar kelas. Meninggalkan seluruh temannya yang masih berdiri membeku. Termasuk Rian yang masih diam di posisinya, seperti terkejut akan tindakan yang Reina lakukan padanya dengan lelehan air mata yang terlihat mengalir di wajahnya.

***

Note:

- F&B = Food and Beverage, makanan dan minuman. Salah satu departemen yang membidangi area restoran, termasuk di dalamnya bagian dapur dan pastry, juga restoran bagian depan.

***

Bab 2

Senin pagi adalah waktu tersibuk bagi siapa pun, tak terkecuali bagi seorang Reina Valeria, yang pagi itu harus segera berangkat kerja karena dapat Jadwal shift satu. Jadwal kerja yang memaksanya harus bangun lebih pagi karena takut jika perjalanannya akan terhambat dengan banyaknya orang yang melakukan aktifitas pagi hari, sama sepertinya.

"Buu! Aku berangkat yah?" teriak Reina dari arah ruang tamu memanggil ibunya yang sedang sibuk di dapur.

"Kamu enggak sarapan dulu?" tanya sang ibu dengan teriakan yang sama.

"Enggak. Di kantin saja. Aku takut terlambat."

Tak lama sang ibu pun muncul dengan tangan yang masih belepotan adonan terigu. Kegiatan setiap pagi di mana wanita itu membuat berbagai macam jenis kue untuk dititipkan di pasar atau toko yang menjajakan beraneka macam panganan tersebut.

"Ya sudah, hati-hati di jalan!" seru sang ibu ketika putri semata wayangnya sudah menaiki kendaraan roda duanya hendak keluar halaman rumah.

"Iya, Bu," jawab Reina sambil mendorong motornya, menghampiri sang ibu untuk mencium telapak tangannya.

Ibu Cintya adalah seorang single mother yang sudah hampir lima tahun berjuang menghidupi keluarganya, ia dan Reina saja. Sang suami yang meninggal ketika Reina baru saja lulus SMA, membuatnya banting tulang untuk membiayai kehidupannya yang otomatis berubah paska ditinggal sang kepala keluarga. Cita-cita Reina yang sebelumnya ingin kuliah setelah lulus sekolah, tak mampu Bu Cintya kabulkan karena keterbatasan biaya yang ia miliki.

Suaminya bukanlah seorang pegawai negeri yang mewariskan uang pendidikan setiap bulannya atau seorang pengusaha yang memiliki banyak uang dan harta. Lelaki yang meninggal karena serangan jantung itu, hanyalah seorang buruh karyawan biasa yang mengandalkan gaji sesuai upah yang berlaku. Otomatis ketika ia meninggal maka tak ada simpanan apapun yang bisa sang istri gunakan untuk membiayai putrinya kuliah.

Setelah akhirnya Reina lulus sekolah dengan keterbatasan IQ yang dimilikinya, sang ibu bersyukur sebab anak gadisnya bisa diterima kerja di sebuah hotel bintang lima sesuai dengan disiplin ilmu yang ia miliki ketika menempuh pelajaran di bangku SMA.

"Semua tentunya berkat doa Ibu. Reina tidak mungkin bisa bekerja di tempat bagus seperti ini dengan nilai dan otak Reina yang Ibu tahu sendiri, terbatas," kekehnya kala itu, yakni lima tahun lalu ketika ia baru beberapa bulan lulus sekolah, setelah hampir putus asa karena tak ada perusahaan yang tidak mau menerima dirinya karena nilai pelajarannya yang rendah.

"Ditambah usaha dan kerja kerasmu yang membuat Tuhan akhirnya menggerakkan kuasa-Nya sehingga putri Ibu bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkan."

Ya, itulah Reina. Setelah diberi tahu jika orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai kuliahnya, gadis itu sama sekali tidak protes atau marah, ia justru memutuskan untuk langsung mencari pekerjaan setelah lulus sekolah.

"Aku ingin membantu Ibu. Tak penting kuliah bagiku saat ini sebab ada hal yang lebih penting selain menghabiskan uang untuk para dosen dan universitas," ujar Reina seraya tertawa.

Kini, lima tahun sudah Reina bertahan dengan bekerja sebagai seorang room girl di bagian room attendant. Bagian pekerjaan yang salah satunya mengurusi dan membersihkan area kamar tamu hotel, baik yang sudah ditinggalkan tamu check out atau kamar yang masih bersih belum terisi.

Bu Cintya tentu sangat bersyukur, Reina masih bertahan selama ini meski drama pekerjaan yang ia lalui kerap mampir terjadi dan ia alami.

Ya, Tuhan seolah masih senang bermain dengan kehidupannya. Sikap Reina yang ceroboh terkadang masih saja gadis itu alami ketika sedang bekerja. Tak jarang ia akan dimarahi atau diberikan teguran oleh tamu atau atasannya. Namun, kedisiplinan yang dimiliki serta sikapnya yang menurut, mampu menutupi kesalahan-kesalahan yang ia perbuat sehingga ia masih bertahan selama itu.

Lantas, hari itu di mana katanya akan diadakannya perpisahan sang atasan —Bu Cici, karena berhenti bekerja, membuat Reina ingin segera sampai di hotel. Gadis itu pastinya akan merasa kehilangan sosok sang eksekutif housekeeper tersebut. Seorang wanita dewasa yang harus merelakan pekerjaannya demi keluarga.

Setelah setengah jam perjalanan yang Reina tempuh dari rumah menuju hotel yang berada di kawasan bisnis, di pusat kota, Reina sampai di pelataran parkir gedung. Ia kemudian memarkirkan motor matik kesayangannya yang baru lunas itu di tempat parkir khusus karyawan.

"Pagi, Pak Anto!" sapa Reina pada salah satu security yang tengah berada di lantai parkir basemant.

"Pagi, Reina! Baru datang?"

"Iya, Pak. Loh, mau kemana?"

"Pulanglah. Bapak baru selesai kerja shift malam."

"Oh, iya. Hati-hati di jalan yah, Pak!"

"Ok! Selamat bekerja, yah!"

"Siap, Pak!" balas Reina seraya berbalik dan meninggalkan sang security yang hendak mengeluarkan motor dari parkiran.

"Eh iya, Rein. Denger-denger ada manajer baru di bagian kamu yah?"

Reina berbalik dengan kedua alisnya yang bertaut.

"Reina enggak denger, Pak. Emang iya yah?"

"Kurang tahu juga, cuma semalam Bapak sempat denger aja waktu Tuan Meyer bicara sama Bu Salma di lobi."

Reina tampak diam sembari memandang kosong ke arah lain. Tuan Meyer adalah general manager di hotel tempatnya bekerja. Orang asing yang memegang jabatan tertinggi di hotel tersebut berbicara dengan wakilnya, tentu bukan sesuatu yang main-main.

"Tapi, tidak ada kabar kalau Bu Winda akan resign," gumamnya. "Yang Reina tahu cuma Bu Cici yang sudah mengundurkan diri."

"Bapak juga tidak tahu pasti, mungkin Bapak salah dengar semalam atau mungkin memang akan ada perputaran manajer," kekehnya becanda.

"Pak Anto ada-ada saja." Reina akhirnya tertawa menanggapi. "Ya sudah, Reina ke atas dulu yah, Pak. Sudah siang ini."

"Iya."

Gadis itu pun segera berlari menuju ruang loker khusus karyawan. Jam hampir menunjukkan pukul tujuh pagi sedangkan ia belum berganti pakaian seragamnya.

"Baru datang?" tanya Jefry pada Reina yang baru keluar dari ruang loker laki-laki.

"Eh, iya, Jef. Kamu shift pagi juga? Katanya hari ini masih ekstra off?" ucap Reina seraya berjalan menuju ruang loker khusus karyawan perempuan, yang letaknya bersebelahan dengan ruangan loker temannya itu.

"Kemarin aku ditelepon Mas Ganda supaya libur ekstra-nya diganti pekan depan soalnya si Bayu dari kemarin sakit dan hari ini belum bisa masuk."

"Oh gitu!" sahut Reina dari balik pintu. "Ya udah aku mau ganti baju seragam dulu yah, Jef!" seru Reina yang sudah masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu itu kemudian.

"Ya udah, aku ke atas duluan yah, Rein!" ujar Jefry sedikit mengencangkan suaranya supaya temannya itu mendengar.

"Ok!" teriak Reina dari dalam ruangan loker.

Reina tinggal sendiri di dalam ruangan itu. Teman-temannya yang kebagian shift pagi, sepertinya sudah pergi ke lantai atas semua. Mungkin sebagian yang lain sudah mulai bekerja.

Setelah siap dengan penampilannya, Reina pun mengunci pintu loker miliknya. Lalu, memandang wajahnya di cermin kecil yang ia tempel di pintu loker. Wajah yang tampak segar dengan make up sangat tipis memperlihatkan perbedaan wajah Reina aslinya yang sama sekali tidak suka berdandan. Rambut panjang yang masih ia pertahankan meski sifat tomboi masih mendominasi, ia ikat sangat rapi dengan digelung supaya tidak berantakan dan mengganggu aktifitas pekerjaannya seharian nanti.

Setelah semua dirasa cukup dan siap, gadis itu pun keluar ruangan untuk segera menuju ke lantai dua tempat kumpul seluruh karyawan room attendant sebelum memulai pekerjaannya.

Ketika Reina yang terburu-buru karena waktu yang semakin menunjuk ke angka tujuh, tiba-tiba berhenti mendadak ketika sebuah mobil yang muncul dari arah luar gedung menuju parkir basemant melaju cepat.

Bunyi rem yang berdecit dengan lantai parkiran terdengar menggema di area basemant tersebut. Reina hampir saja tertabrak ketika pengendara itu tidak segera menginjak rem mobilnya.

Gadis itu masih menutup wajah dengan telapak tangannya selama beberapa saat. Tak lama terdengar suara berat milik seorang lelaki menegurnya keras.

"Apakah kamu anak kecil yang masih berlarian di tempat parkir seperti ini!" hardiknya kesal.

Reina seketika terdiam. Suara itu sangat ia kenal. Tapi, di mana? Ia lalu mencoba membayangkan sosok laki-laki yang ia kenal.

"Tak mungkin Jefry," gumamnya pelan.

"Aldo, Juki, Aryan, atau Suripto? Bukan semuanya."

Tak mau terus-terusan menebak yang malah berakhir keliru, Reina pun menarik tangan dari wajahnya. Lalu, menatap wajah lelaki yang sudah berdiri di pintu mobilnya yang terbuka. Lelaki itu menatap angkuh padanya dengan wajah khawatir yang tampak jelas tergambar.

Sedetik, dua detik mereka saling memandang, hingga akhirnya,

"Rian!"

"Reina!"

***

Bab 3

Reina sudah selesai dengan tugasnya saat jam istirahat tiba. Seluruh peralatan 'perang'nya, yakni alat pembersih dan tumpukan kain linen bersih dalam troley kerja miliknya, ia rapikan di tempat penyimpanan sebelum akhirnya ia turun untuk istirahat ke kantin.

Jadwal shift satu hari itu Reina kebagian membersihkan area kamar di lantai lima. Bersyukur tentu saja gadis itu panjatkan pada Tuhan sebab ia merasa beruntung bisa terhindar dari sosok Rian, yaitu teman sekolahnya yang hari itu resmi menjadi atasannya sebagai manajer room division di hotel tempat Reina bekerja.

Bagaimana bisa dikatakan beruntung? Tentu saja Reina merasa beruntung karena ruangan di mana manajer itu berada berada di lantai dua yang biasanya langganan menjadi area Reina bekerja sehari-hari.

Cukup sudah perasaan kaget gadis itu rasakan ketika bertemu kembali dengan Rian setelah lima tahun tidak bertemu. Area parkir di mana hampir membuat Reina terluka, menjadi saksi bisu saat Rian yang merupakan cinta pertama Reina —yang menjelma menjadi sosok pria yang semakin tampan di tengah kecerdasan otaknya, muncul dengan raut wajah yang sama kaget dengannya.

Terkejut, kaget, dan entah perasaan apalagi yang Reina atau Rian rasakan kala itu. Ditambah informasi yang akhirnya Reina terima ketika mendapatkan kejutan berikutnya di mana Rian adalah manajer divisi kamar yang baru, menggantikan sosok Bu Winda.

Padahal pergantian Eksekutif House Keeper baru saja bagian housekeeping alami. Ternyata pergantian jabatan itu pun bergantian dengan keluarnya Bu Winda yang mendadak, yang tidak diketahui oleh pegawai lain.

Kini sosok Rian hadir di tengah ketentraman hidup Reina. Ketentraman yang sulit ia rasakan setelah lelaki itu menyakiti hatinya saat terakhir kali ia menyatakan perasaan cintanya saat SMA dulu.

"Woy! Rein!" seru Jefry ketika bertemu muka dengan Reina di lantai basement di mana kantin khusus karyawan berada.

Reina yang terlihat melamun sembari membawa gelas thumbler kesayangannya, terlihat tak fokus berjalan meski langkahnya tepat mengarah ke kantin.

"Eh, Jefry! Kenapa?" tanya Reina yang kembali tersadar dari lamunannya.

"Kenapa?" sahut lelaki itu heran. "Kamu tuh yang kenapa!" tukas Jefry seraya mengernyit.

Reina hanya membalas tersenyum canggung. Meski gadis itu tidak berkata lagi, tetapi keduanya tetap melangkah tak berhenti hingga sampai di pintu kantin.

Tampak sudah banyak karyawan yang menempati bangku kayu panjang dengan makanan di atas meja, di depan masing-masing. Ada yang terlihat khusyu makan, ada juga yang sembari tertawa cekakak cekikik dengan tangan yang menyendokkan makanan ke dalam mulut.

"Reina!" panggil Desi salah satu temannya seraya mengangkat tangan dan melambai supaya ia menghampiri.

Gadis itu tentu saja tak membuang kesempatan. Daripada bersusah mencari tempat duduk di tengah banyaknya karyawan terutama laki-laki yang mendominasi, Reina memilih untuk mendekati Desi yang sudah lebih dulu duduk bersama teman perempuannya yang lain.

"Kamu mau ikut gabung sama kami juga, Jef?" tanya Desi ketika sahabat Reina itu terus saja mengekor.

Tak ayal Reina dan teman perempuannya yang lain menengok, menatap satu-satunya lelaki yang berada di tengah mereka.

"Ehm, a-aku cuma mau anter Reina aja kok!" seru Jefry yang tiba-tiba canggung. Beda halnya dengan Reina yang terlihat cuek dan seolah tak peduli dengan keberadaan Jefry yang berdiri di sebelahnya.

Meski semua karyawan tahu mengenai kedekatan antara Reina dan Jefry —sebagai sahabat, tetap saja Jefry kerap malu jika selalu digoda oleh teman-temannya yang lain.

"Jefry!" Suara laki-laki yang pastinya akan Jefry 'sembah' kakinya karena sudah menyelamatkan dirinya dari situasi yang tidak mengenakan.

Ternyata Danu yang memanggil Jefry tadi. Lelaki yang juga bekerja di bagian housekeeping bagian garden atau taman.

"Aku gabung ke sana yah, Rei?" ucap Jefry yang mengetahui ketidaktenteraman sang sahabat setelah munculnya sosok Rian di hadapan mereka.

"Hem!" sahut Reina, sekali lagi cuek.

Lelaki itu pun menghampiri kawannya sesama lelaki, membiarkan Reina duduk bersama dengan kawannya yang lain.

"Kamu kenapa, Rei?" Pertanyaan Desi tiba-tiba yang sempat Jefry curi dengar sebelum ia duduk.

"Ah, enggak kenapa-kenapa. Emang kenapa yah?" Reina bertanya balik.

"Enggak kenapa-kenapa sih, tapi keliatan agak murung aja. Yakin enggak ada apa-apa, kan?" Kembali Desi memastikan dengan didukung temannya yang lain, yang juga memandang Reina serius.

"Yakin-lah! Aku baik-baik aja kok!" Reina berusaha menampilkan wajah ceria seperti biasanya. Ia tentu saja tidak mau kegelisahan yang saat ini ia rasakan, diketahui oleh teman-temannya itu.

"Syukur deh kalo gitu. Terus kamu enggak mau ambil makanan sekarang?"

"Menunya apa hari ini?" tanya Reina sembari melihat ke arah kotak makan Desi yang berisi menu makan siang. Ada nasi, lauk pauk dan buah, ada di dalam kotak makan khusus karyawan.

Ya, hotel di mana Reina bekerja, memang menyiapkan makan siang gratis untuk seluruh karyawan. Ada petugas kantin yang selalu stand by menyediakan makanan untuk para karyawan makan di waktu istirahat siang mereka.

"Kayanya enak. Ya udah aku ambil dulu ke sana!" serunya sambil beranjak berdiri.

Gadis itu pun berjalan menuju meja panjang dan cukup besar, yang menampung banyak kotak makanan bersusun yang sudah terisi makanan di dalamnya. Reina baru akan mengambil satu, tetapi aksinya terhenti ketika Jefry sudah menyodorkan sebuah kotak makan itu kepadanya.

"Makasih, Jef!" ucap Reina tulus sambil tersenyum.

"Rein!" panggil Jefry cepat karena melihat Reina sudah akan berbalik dan kembali ke tempat teman-temannya.

"Ya?"

"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Jefry yang jujur saja mengkhawatirkan sahabatnya tersebut.

"Kenapa sih orang-orang menanyakan pertanyaan yang sama ke aku. Aku baik-baik saja, Jef. Emang kenapa?" Reina sedikit menaikkan intonasi suaranya meski ia tekan supaya tidak terdengar orang lain.

"Rian! Ada Rian yang tiba-tiba muncul, dan aku sangat tahu kalau kamu sudah bertemu dengannya bukan?"

Reina dan Jefry memang beda bagian. Reina bekerja di bagian room attendant sedangkan sang sahabat bekerja di bagian laundry. Tubuh Jefry yang tegap dan besar, menjadi alasan utama manajer personalia dulu menerimanya. Meski terdengar lucu dan tak masuk akal, tetapi kenyataannya memang seperti itu.

"Jika melihat nilai akademis kamu, jujur saja kamu tidak masuk kriteria. Tapi, melihat postur tubuhmu yang terlihat besar dan sepertinya kuat, maka saya memberimu kesempatan untuk bergabung di perusahaan ini untuk bekerja di bagian laundry," ujar sang manajer personalia kala itu.

Percaya atau tidak, hal yang sama pun manajer yang sama itu katakan kepada Reina dulu.

"Saya ingin melihat sejauh mana kinerja kerjamu di sini. Ilmu yang kamu miliki meski tidak dibarengi nilai yang memadai, seharusnya bisa kamu aplikasikan ketika bekerja nanti. Sebagai anak yatim dan kini menjadi tulang punggung keluarga demi menafkahi ibu atau keluargamu, saya harap kamu bersungguh-sungguh dalam memegang kepercayaan yang saya berikan."

Pak Chandra, adalah sang manajer personalia. Lelaki paruh baya yang begitu baik dan pastinya bijaksana, sama sekali tidak menyesal ketika menerima dua sahabat itu bekerja. Keduanya betul-betul bekerja sesuai dengan prosedur pekerjaan di masing-masing bagian.

Kembali pada percakapan Reina dan Jefry di depan meja besar, gadis itu kini terlihat menunduk ketika sang sahabat menanyakan sosok lelaki yang sejatinya sudah ingin ia lupakan tersebut.

"Kamu tidak baik-baik saja bukan, Rein?"

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED