"Jangan sisakan satupun nyawa. Bunuh semuanya!"
Angin malam membawa aroma kematian ke seluruh sudut kediaman keluarga Moretti. Jeritan dari para penjaga yang tumbang satu per satu terdengar seperti simfoni suram, mengiringi bayang-bayang kematian yang semakin mendekat.
Api mulai menjilat pintu utama rumah megah itu, sementara Lorenzo Ricciardi berdiri dengan tatapan dingin di halaman depan. Wajahnya seperti diukir dari batu, tanpa emosi, meskipun tangannya baru saja menodai nyawa.
"Pastikan tidak ada yang tersisa!" perintah Lorenzo kepada anak buahnya dengan suara tegas.
Anak buahnya bergegas memborbardir, suara tembakan menggema, diikuti oleh jeritan kesakitan yang segera lenyap menjadi keheningan. Lorenzo mengayunkan kakinya ke arah pintu utama yang kini terbuka.
"Mereka pasti bersembunyi di dalam. Temukan mereka!"
Di lantai atas rumah, Isabella Moretti gemetar di balik lemari besar di kamar tidurnya. Hatinya berdetak seperti genderang perang, menenggelamkan suara apa pun di sekitarnya.
Namun, ia tahu ia tahu siapa yang datang malam ini. Lorenzo Ricciardi, pria yang sering disebut 'Malaikat Maut' oleh dunia bawah tanah.
"Orang tuaku salah apa? Sampai dibunuh dan rumahku dihancurkan begini," gumamnya pelan, tangannya erat memegang salib kecil di lehernya.
Ia mendengar langkah berat mendekat ke kamar. Isabella menggigit bibirnya, mencoba menahan napas. Ketika pintu kamar terbuka dengan keras, detik waktu terasa kian melambat.
"Periksa semua tempat." Terdengar suara salah satu anak buah Lorenzo. "Gadis itu harusnya ada di sini."
Isabella tahu ia tak punya banyak waktu. Diam-diam, ia merangkak keluar dari balik lemari, mencoba mencapai jendela untuk melarikan diri.
Namun saat ia hampir membuka kaca, suara bariton menghentikannya. "Jangan bergerak!"
Isabella berbalik dengan perlahan. Lorenzo berdiri di sana, tubuhnya menjulang tinggi dengan mantel hitam panjang yang berkibar tertiup angin dari jendela. Kilatan matanya tajam menusuk ke dalam iris Isabella.
"Jadi, kau putri Moretti?" Lorenzo berjalan mendekat, sepatu hitamnya berderap di lantai marmer. "Yang selalu dipuja-puja itu?"
Isabella mencoba menegakkan tubuhnya meskipun kakinya gemetar. "Kalau kau datang untuk membunuhku, lakukan saja sekarang."
"Berani sekali," gumam Lorenzo dengan senyum sinis. "Seperti ayahmu."
"DON'T!" Isabella berteriak, matanya berkaca-kaca. "Jangan sebut namanya dari mulutmu yang kotor itu!"
Lorenzo menghentikan langkahnya. Sejenak, ada kilatan emosi di matanya. "Kau memang berbeda," katanya dingin. "Kebanyakan akan memohon untuk hidup mereka. Tapi kau ... malah ingin mati seperti ini?"
"Lebih baik mati daripada menyerah pada iblis sepertimu!"
Mendengar itu, Lorenzo mengangkat sebelah alisnya, seolah terhibur. "Menarik. Tapi aku tidak akan memberimu kematian secepat ini."
Isabella menatapnya dengan bingung. "Apa maksudmu?"
Lorenzo mendekat, jaraknya kini hanya beberapa inci dari Isabella. "Aku ingin kau menderita. Kehilangan segalanya, termasuk harga dirimu." Suaranya seperti bisikan iblis yang merasuk ke dalam pikirannya. "Tapi aku tidak akan membunuhmu. Ah, maksudku ... belum."
"Lakukan apa saja padaku, tapi aku bersumpah, aku akan membalas dendam untuk keluargaku," ujar Isabella dengan tegas, meskipun air mata mulai mengalir di pipinya.
Lorenzo mendekatkan wajahnya, begitu dekat hingga Isabella bisa merasakan napas hangatnya. "Kau akan mencoba, tapi aku pastikan kau tidak akan berhasil." Ia menoleh pada anak buahnya yang menunggu di ambang pintu. "Bawa dia ke mobil."
Isabella mencoba melawan saat dua pria kekar mencengkeram lengannya, tapi tenaganya tidak sebanding. Ia diseret keluar dari kamar, meninggalkan rumah yang kini hampir rata dengan tanah.
Di perjalanan menuju markas Lorenzo, Isabella duduk di kursi belakang mobil, tangan dan kakinya terikat. Matanya memandang kosong ke jendela, menyaksikan nyala api dari kejauhan yang menandakan akhir hidupnya yang dulu.
"Kau menang hari ini, Lorenzo," katanya dengan suara rendah. "Tapi aku akan kembali untuk menghancurkanmu."
Lorenzo, yang duduk di kursi depan, mendengar setiap kata itu. Ia hanya menoleh sebentar dan memberikan senyuman kecil. "Kita lihat saja. Atau malah pada akhirnya ... kau akan tunduk padaku."
Isabella memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan air matanya. Di dalam hatinya, dendam membara, tetapi di sudut kecil yang tak mau ia akui, ada rasa takut yang mulai menjalar.
•
Mobil berhenti di depan sebuah mansion besar yang dikelilingi tembok tinggi dan pagar besi hitam. Cahaya lampu menerangi gerbang yang tampak seperti penjara, tempat Isabella tahu dia tidak akan keluar dengan mudah.
Lorenzo turun dari mobil lebih dulu, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa Isabella masuk. Dengan tangan terikat, Isabella diseret menuju pintu depan. Ia melawan sekuat tenaga, tetapi genggaman pria-pria itu terlalu kuat.
"Jangan sentuh aku!" Isabella berteriak, matanya menyala penuh kemarahan.
"Kau ini memang penuh perlawanan, ya," Lorenzo berkata santai sambil berjalan di depannya. "Tapi percuma saja. Tidak ada yang mendengar teriakanmu di sini."
"Aku akan membunuhmu, Lorenzo. Apa pun caranya," desis Isabella, berusaha menyembunyikan ketakutannya.
Lorenzo berhenti di depan pintu besar mansion, menoleh dengan tatapan tajam. "Kau bisa mencoba, tapi aku ingin melihat bagaimana kau melakukannya saat kau bahkan tidak bisa kabur dari rumah ini."
Di dalam mansion, Isabella dilemparkan ke sebuah kamar besar. Tempat tidur dengan sprei hitam tampak mencolok di tengah ruangan, sementara sudut lainnya dihiasi dengan rak buku dan meja kerja yang penuh dokumen.
"Ini akan menjadi kamarmu," kata Lorenzo dengan nada dingin, sambil membuka jasnya dan meletakkannya di kursi. "Aku akan memastikan kau memiliki segala yang kau butuhkan, kecuali kebebasanmu."
Isabella berdiri di sudut ruangan, menatapnya penuh kebencian. "Aku bukan mainanmu, Lorenzo."
Lorenzo melangkah mendekat, sorot matanya penuh dominasi. "Kau adalah milikku sekarang, Isabella. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau."
"Tidak ada yang bisa membuatku tunduk padamu," jawab Isabella dengan nada tegas.
Lorenzo tersenyum kecil, matanya menelusuri wajah Isabella. "Kita lihat nanti," katanya, suaranya rendah. "Bukan hanya tunduk, Bella. Bahkan, aku akan membuatmu menanggalkan semua bajumu di hadapanku."
Isabella meronta sekuat tenaga saat tiba-tiba Lorenzo mencengkeram lengannya dan menyeretnya tubuhnya ke dekat ranjang.
Napasnya terengah, campuran antara rasa takut dan kemarahan menyelubungi dirinya. Namun, Lorenzo seolah tak peduli. Sorot matanya mengintimidasi tajam, memancarkan ketegasan bahwa dia adalah penguasa malam itu.
"Berhenti melawan, Isabella," desis Lorenzo, nadanya datar. "Semakin kau melawan, semakin sulit malam ini untukmu."
"Persetan dengan ancamanmu!" Isabella meludah ke arah Lorenzo, matanya berkobar dengan kemarahan yang tak terhingga.
Lorenzo berhenti sejenak, menyeka pipinya dengan tenang, sebelum menarik Isabella lebih keras hingga tubuhnya terhempas ke kasur. Isabella mencoba bangkit, tapi Lorenzo lebih cepat. Dalam sekejap, tubuhnya sudah berada di atasnya, menindihnya dengan satu tangan yang kuat menahan kedua pergelangan tangannya di atas kepala.
"Jika aku mau, kau tidak akan punya kesempatan untuk bicara lagi," bisiknya, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Isabella. Suara rendahnya mengalir seperti racun, menusuk ke dalam ketakutan Isabella. "Tapi aku ingin kau mengerti sesuatu, Isabella. Kau tidak bisa lari. Tidak malam ini, dan tidak selamanya."
Tubuh Isabella, tapi ia tidak ingin menyerah. "Kau pikir aku akan takut pada ancamanmu? Kau salah besar, Lorenzo!"
Senyum dingin Lorenzo terukir di wajahnya. "Aku suka perlawananmu. Tapi aku akan lebih suka melihatnya hancur perlahan."
Lorenzo menarik Isabella lebih dekat, meskipun suasana hening, hawa di sekitar mereka terasa semakin panas. Isabella bisa merasakan ketegangan dalam tubuhnya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Keduanya hanya saling menatap, seolah-olah kata-kata tidak diperlukan lagi.
Lorenzo mendekatkan wajahnya, hampir bisa merasakan napas Isabella yang terburu-buru. Ia tidak berkata apa-apa, tapi gerakan tubuhnya mengisyaratkan bahwa ia sudah tidak sabar lagi. Tangannya bergerak ke belakang tubuh Isabella, memeluknya dengan kasar dan menariknya lebih rapat ke tubuhnya.
Isabella menahan napas saat Lorenzo mengalihkan pandangannya ke bibirnya. Dirasakan tubuhnya seolah terperangkap dalam tarikan yang tak bisa ditolak.
"Kau akan tahu apa yang aku inginkan, Bella," ujar Lorenzo pelan, suaranya dalam dan penuh tekanan.
Isabella menggigit bibirnya, berusaha mengendalikan diri. Ia tahu perlawanan tidak akan berhasil kali ini, namun ia tak bisa begitu saja menyerah.
"Kau kira aku akan begitu saja menyerah pada permainanmu?" gumamnya, meskipun suaranya agak bergetar.
Lorenzo mengangkat alisnya dengan sikap dingin, lalu bibirnya tergerak lagi mendekati telinga Isabella, ia berbisik, "Aku tak ingin perlawanan, Bella. Aku hanya ingin kau tunduk."
Seketika itu, tangan Lorenzo bergerak lebih rendah, meremas pinggang Isabella, menariknya lebih erat. Isabella mencoba bergerak, tetapi Lorenzo terlalu kuat, tubuhnya terlalu besar dan tegap.
"Diam!" perintahnya, tegas, dan tanpa kompromi. "Ikuti saja, tidak ada gunanya melawan."
Ketegangan itu semakin meningkat, dan tubuh Isabella seakan merespons tanpa bisa dihentikan. Ketika bibir Lorenzo kembali menyentuh bibirnya, Isabella tak bisa menahan diri lagi.
Ini bukan sekadar ciuman, ini lebih seperti pernyataan kekuasaan, dan Isabella bisa merasakannya di setiap jengkal tubuhnya. Tanpa kata-kata lagi, Lorenzo terus membawa mereka pada arah yang lebih jauh, lebih dalam. Isabella hanya bisa pasrah, tubuhnya terjerat dalam permainan yang sudah terlalu dalam.
Lorenzo mengangkat kepalanya, menatap Isabella dengan tajam, memastikan bahwa ia tidak bisa lari dari situasi ini.
"Aku akan menunjukkan siapa yang memegang kendali di sini," katanya, bibirnya menyentuh telinga Isabella lagi, membuat tubuhnya bergetar.
Isabella menundukkan kepala, menutup mata untuk menghindari tatapan tajam Lorenzo. "Aku ... tidak bisa," ucapnya pelan, mencoba melawan meski tubuhnya terasa mati rasa.
"Diam, Bella," kata Lorenzo, suaranya tetap rendah dan penuh kekuatan. "Jangan buat aku mengulang perintah."
Dengan sekali sentuhan, segala perlawanan Isabella pun terkikis. Lorenzo tak membiarkan ruang untuk kebebasan, tubuhnya kini menekan lebih dalam, menuntut kepatuhan. Isabella tahu, apapun yang terjadi, ia tak bisa berhenti sekarang.
Lorenzo tetap memegang Isabella dalam pelukannya, tubuhnya tegap dan tak tergoyahkan. Ada sesuatu yang tajam dalam tatapannya, seperti predator yang mengincar mangsanya, dan Isabella tahu ia tak bisa melawan.
Dalam diam, Lorenzo menggeser tubuhnya sedikit, menggesekkan tubuh mereka dengan lebih dekat. Tangan kanannya bergerak lincah, meremas bahu Isabella, mengunci tubuhnya dalam pelukan yang tak memberi ruang untuk bergerak.
Isabella menggigit bibirnya, berusaha menahan rasa yang menyerbu tubuhnya. Setiap gerakan Lorenzo seperti membawa gelombang panas yang tak bisa ia hindari.
"Lorenzo," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
Lorenzo menatapnya, matanya tetap tajam dan penuh dominasi. "Kau pikir bisa menghindar dariku?" tanyanya, suaranya datar, tanpa emosi, seperti seorang bos yang sedang berbicara dengan bawahannya.
Ia menarik tubuh Isabella lebih rapat lagi, membuat mereka semakin dekat. Ada udara tegang yang memancar dari setiap inci tubuh mereka.
Isabella mengerang pelan, merasa hatinya berdetak lebih cepat, meskipun di dalam dirinya, perlawanan dan ketakutan masih ada. Namun, tubuhnya mulai merespons, tak bisa lagi memungkiri daya tarik yang membakar setiap pori kulitnya.
"Apa yang kau inginkan dariku?" ucapnya lirih, seolah hanya untuk dirinya sendiri.
Lorenzo hanya tersenyum tipis, senyum yang penuh arti, penuh teka-teki. "Kau tahu apa yang aku inginkan, Bella," jawabnya, suaranya penuh ketegasan. "Dan sekarang, aku akan mengambilnya."
Tangan Lorenzo mulai bergerak lagi, kali ini lebih agresif melepaskan setiap helai kain yang melekat di tubuh sintal itu, meraba setiap lekuk tubuh Isabella dengan cara yang tidak bisa lagi disangkal. Isabella menggigit bibirnya lebih keras, berusaha tetap tegar meskipun tubuhnya menggeliat, merespon setiap gerakan dengan sensasi yang mulai membakar gairahnya.
"Jangan-" Isabella berusaha berkata, namun Lorenzo sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya, menutup mulutnya dengan ciuman yang panas.
Ciuman itu seolah menenggelamkan semuanya, perasaan, keraguan, dan bahkan waktu. Ada tekanan dalam ciuman itu, keinginan yang begitu kuat, yang tak memberi ruang bagi penolakan.
Pria itu memisahkan bibir mereka sejenak, menatap Isabella dengan penuh perhatian. "Aku tak akan menunggu lama," ujarnya dengan dingin, seolah-olah ia sedang memberi peringatan.
Isabella menundukkan kepalanya, berusaha menahan diri, meskipun tubuhnya terasa terikat dengan kenyataan yang tak bisa ia hindari. "Tolong, jangan lakukan ini," suaranya hampir seperti sebuah permohonan, meski ia tahu itu tak akan mengubah apa pun.
Namun, Lorenzo tidak peduli. Dia sudah terlalu dalam dengan permainannya sendiri. Dengan sekali gerakan, ia menggeser Isabella ke tangah ranjang, menindih tubuhnya dengan sempurna. Ia tidak memberi kesempatan untuk menghindar.
"Jangan buat aku mengulang perintah, Bella," katanya dengan suara yang lebih dalam, lebih berat. "Aku menginginkan tubuhmu malam ini."
Isabella tak bisa lagi menahan diri. Dengan gairah yang memuncak, tubuhnya tak mampu lagi melawan, dan ia akhirnya membiarkan segala perasaan itu mengalir begitu saja.
Ia tak berbohong, sentuhan Lorenzo membawanya melayang ke nirwana. Meski, batin dan pikirannya terus menolak. Sayangnya, ia benar-benar dibuat tunduk.
Lorenzo terus bergerak, dominan dan penuh kekuasaan, setiap gerakannya seperti membawa mereka lebih jauh ke dalam permainan yang lebih besar dari sekadar fisik.
"Kau masih perawan?" tanya Lorenzo dengan seringai senyum mematikan, tapi tak ada jawaban dari Isabella. Wanita itu malah memalingkan wajah, seakan enggan menatap Lorenzo. "Tapi itu tidak penting, yang penting ... kau berada di bawah kendaliku malam ini, dan untuk selamanya."
Lorenzo menatap Isabella, matanya yang tajam semakin gelap, dan dengan tegas ia berkata, "Kau milikku malam ini."
Kata-kata itu terasa seperti pernyataan yang menyegel takdir mereka. Isabella merasa dorongan yang datang begitu kuat. Semua perlawanan yang tersisa lenyap dalam sekejap. Ia tahu bahwa Lorenzo tidak akan memberi maaf, tidak akan memberi ruang untuk dirinya melawan.
Di saat itu, Isabella tak tahu lagi apa yang ia rasakan. Perasaan bersalah, takut, atau justru terbuai dalam arus yang sudah terlalu dalam. Semua perasaan itu berbaur menjadi satu, menghancurkan batas-batas yang selama ini ia pertahankan.
Lorenzo menegakkan tubuhnya, dengan cepat menarik tangan Isabella dan mengikatkannya pada tali yang tersambung pada pilar ranjang. Tak ada satupun perlawanan, hanya air mata yang menitik sebagai tanda penolakan.
"Jangan menangis, Bella. Malam ini, aku akan memuaskanmu," bisik Lorenzo, sambil mengulum daun telinga wanita itu.
Isabella terbangun dengan rasa ngilu yang menjalar di seluruh tubuhnya. Cahaya matahari pagi yang menerobos melalui celah tirai membuat matanya menyipit, dan sejenak ia lupa di mana dirinya berada.
Namun, begitu kesadaran perlahan kembali, ia merasakan sesuatu yang berat menghantam dadanya.
Ia mencoba bangkit, tapi rasa sakit itu begitu nyata, membuatnya mengerang pelan. Di sekujur tubuhnya, setiap inci terdapat bercak merah bekas kissmark, bukti nyata dari kelakuan Lorenzo semalam.
Isabella mengigit bibirnya, menahan air mata yang hampir tumpah saat pikirannya memutar kembali setiap detail yang ingin ia lupakan.
Mengumpulkan kekuatan, Isabella beranjak dari ranjang. Namun, ketika matanya menangkap bercak merah samar di seprai, tubuhnya membeku. Seketika itu juga, jantungnya berdebar kencang, bukan karena rasa sakit fisik, melainkan rasa perih di dalam hatinya.
"Bajingan kejam itu ...," gumamnya lirih, penuh amarah yang tertahan.
Ia menunduk, menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. Dalam hati, ia mengutuk pria itu. Mahkotanya, sesuatu yang selalu ia selama dua puluh tahun lebih, direnggut dengan paksa oleh pria yang bahkan tak mengenal arti belas kasih.
Dengan langkah gemetar, Isabella menuju kamar mandi. Air dingin yang mengalir dari pancuran tak mampu menghapus rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Tubuhnya memar, tapi ada luka yang lebih dalam tak terlihat di hatinya.
Di cermin, ia melihat wajahnya sendiri-pucat, matanya menyimpan kemarahan dan kehancuran.
Setelah selesai, ia mengenakan gaun sutra yang tergantung di kamar. Di luar kamar, suara langkah berat Lorenzo terdengar semakin dekat. Isabella mengangkat wajahnya, mencoba memasang ekspresi datar meskipun hatinya berkecamuk.
Pintu terbuka dengan tiba-tiba, dan sosok Lorenzo muncul, membawa secangkir kopi di tangannya. Pria itu tampak sama sekali tidak terganggu, bahkan ada senyum kecil yang menghiasi wajahnya.
"Kau sudah bangun," katanya dengan nada dingin, seperti biasa.
Isabella memutar bola matanya, menatap Lorenzo tanpa ekspresi. "Tentu saja. Kau mau apa sekarang!?" balasnya tajam.
Lorenzo mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan nada bicara Isabella. "Aku tak suka mendengar nada itu, Bella," ujarnya sambil mendekat, meletakkan cangkir kopi di meja kecil di samping ranjang.
"Dan aku tak suka diperlakukan seperti mainan," balas Isabella, suaranya mulai bergetar. "Apa yang kau lakukan semalam ... itu kejam."
Lorenzo hanya menatapnya, ekspresinya sulit ditebak. "Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Kau tahu apa yang akan terjadi, Bella. Jangan bertingkah seolah ini mengejutkanmu."
Isabella tersentak mendengar kata-kata itu. Ia mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak menyerang pria itu. "Kau benar-benar monster, Lorenzo. Kau mengambil sesuatu yang penting dariku tanpa sedikitpun rasa peduli."
Lorenzo mendekat lagi, hingga hanya ada beberapa inci yang memisahkan mereka. Tatapan tajamnya menelusuri wajah Isabella. "Aku tidak peduli pada moral, Bella. Aku hanya peduli pada apa yang menjadi milikku."
"Milikku?" ulang Isabella dengan nada sinis. "Aku bukan barang yang bisa kau miliki, Lorenzo."
Lorenzo tertawa kecil, tapi tanpa humor. "Kau berada di rumahku, di bawah perlindunganku. Aku menentukan apa yang terjadi di sini."
Isabella menatapnya dengan penuh kebencian. Namun, jauh di dalam hatinya, ia merasa takut. Lorenzo bukan pria biasa, dan ia tahu melawan pria seperti Lorenzo bukan hal yang bijak.
"Kalau begitu, aku tidak punya alasan untuk tinggal di sini," ucap Isabella sambil berbalik, mencoba berjalan keluar dari kamar.
Namun, sebelum ia sempat membuka pintu, Lorenzo menarik lengannya dengan kuat. Isabella terkejut, tapi ia tetap berusaha menjaga tubuh agar tidak limbung.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Bella," ujar Lorenzo dengan nada dingin, tapi ada intensitas dalam matanya yang membuat Isabella terdiam. "Kau milikku sekarang, dan aku takkan membiarkanmu lari."
Isabella menghempaskan tangannya, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Lorenzo. "Aku bukan tawananmu, Lorenzo. Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini."
Lorenzo mendekat lagi, hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. "Aku bisa, dan aku akan melakukannya. Kau akan belajar menerima itu, cepat atau lambat."
Isabella ingin berteriak, ingin melawan, tapi tubuhnya masih terlalu lemah. Ia memutuskan untuk menahan diri, setidaknya untuk saat ini. Ia menatap Lorenzo dengan mata yang penuh dendam. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Lorenzo."
Lorenzo tidak menjawab. Sebaliknya, ia hanya menatap Isabella dengan ekspresi yang sulit diartikan. Setelah beberapa detik, ia melangkah mundur. "Istirahatlah. Kita akan membicarakan ini lagi nanti."
Lorenzo berbalik dan meninggalkan kamar, meninggalkan Isabella sendirian dengan pikirannya yang berantakan. Isabella duduk di tepi ranjang, menatap bercak merah di seprai yang seolah menjadi pengingat abadi dari malam itu.
"Aku akan membalasmu, Lorenzo," bisiknya pelan, suaranya penuh tekad. "Aku akan menemukan cara untuk bebas dari neraka ini."
Ia memutuskan untuk berdiam diri sejenak, meledakkan tangisnya di atas kasur hingga matanya berat dan kepalanya pusing. Tanpa sadar, ia terlelap dengan wajah yang masih basah oleh air mata.
Beberapa jam berlalu ....
Isabella terbangun dengan tubuh yang terasa remuk, setiap langkahnya seperti mengiris kulit. Nyeri di pangkal pahanya mengingatkannya pada apa yang terjadi malam sebelumnya, dan rasa sakit itu seolah tidak pernah berhenti.
Meski begitu, ia tidak bisa menyerah. Pikirannya terus berputar, dipenuhi oleh satu tujuan-lari dari tempat yang kini terasa seperti penjara besar ini.
Dengan langkah tertatih-tatih, ia berusaha bergerak menuju pintu, berusaha secepat mungkin keluar dari mansion yang menakutkan itu.
Tak peduli betapa sulitnya, Isabella tahu ia harus pergi. Tempat ini tidak lagi terasa seperti rumah, melainkan lebih seperti perangkap yang mempermainkan hidupnya.
Ia menatap pagar yang tinggi, dengan hati berdebar. Meskipun tubuhnya terasa lemah, ia tetap bertekad untuk melompat dan melarikan diri sejauh mungkin. Rasa takut yang menggelora tetap ada, tapi dorongan untuk bebas lebih kuat.
Dengan hati-hati, ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, kemudian melompat dari pagar, tubuhnya terjatuh dengan sedikit lecet di lutut, tetapi ia lega karena berhasil.
Saat ia mulai berlari menjauh, mendengar detak jantungnya sendiri yang keras dan cepat, sebuah suara yang berat dan dalam menghentikan langkahnya.
"Isabella."
Suara itu datang dengan begitu tegas dan penuh tekanan. Jantung Isabella hampir copot, dan tubuhnya langsung membeku di tempat.
Isabella menoleh, dan apa yang dilihatnya membuat darahnya seperti berhenti mengalir. Lorenzo, dengan pakaian hitamnya yang rapi, berdiri dengan tenang di luar pagar, memegang sebatang rokok yang mengepul di tangannya. Matanya tajam, menatapnya seakan ia adalah mangsa yang tak bisa melarikan diri.
Bagaimana bisa dia di sini?
Bukankah pria kejam itu seharusnya ada di dalam mansion?
"Bagaimana bisa kamu ada di sini?" Isabella berbisik, suaranya terbata, tercengang.
Lorenzo mengangkat satu alis, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. "Apakah kau pikir aku tidak bisa mengawasi setiap gerakanmu?" jawabnya, suaranya rendah, seolah-olah ia sedang berbicara dengan seseorang yang tak layak untuk diberi penjelasan panjang. "Aku selalu mengawasimu, Bella. Bahkan ... lebih dari yang kau tahu!"