Bab 1

Patah hati berat yang dirasakan oleh Dasha, membuatnya sudah tidak bisa berpikir baik lagi. Sepertinya seluruh hidupnya sudah hampir hancur tidak bersisa. Patah hati yang dibuat oleh Bintang, mantan suaminya telah menciptakan luka yang cukup dalam di hati Dasha.

Dia ditalak oleh Bintang di hadapan kedua anaknya. Ditambah dengan keberadaan dari Irina yang merupakan perempuan simpanan dari Bintang. Semakin menambah rasa sakit yang ada di hati seorang Dasha. Dia merasa ini adalah titik paling rendah dalam hidupnya. Sepertinya Dasha ingin mengakhiri seluruh hidupnya di malam ini.

"Apa aku masih layak hidup. Sementara semua yang aku cintai telah hancur tidak bersisa. Suami yang ku banggakan itu. Kini benar-benar telah menghancurkan seluruh rasa cintaku. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untukku akhiri semuanya."

Dasha mulai mencari tempat yang cukup aman untuk melakukan kegiatan yang mungkin akan mengakhiri hidupnya. Dia melihat sebuah jembatan, mungkin dia bisa mencoba melakukan percobaan di jembatan tersebut. Sepertinya itu adalah ide yaah baik untuk Dasha mengakhiri semuanya.

Kondisi jembatan yang sepi, semakin membuat Dasha yakin untuk melakukan percobaan bunuh diri. Tidak akan ada orang yang melarang dirinya untuk terjun dari jembatan itu. Sehingga Dasha bisa dengan bebas terjun dari jembatan besar tersebut.

Air mata mulai membasahi kedua bola mata Dasha. Dasha mengingat akan kedua anaknya, bagaimana ia pernah berjanji untuk selalu berada di samping kedua anaknya tersebut. Hingga Dasha merasakan penyesalan, jika sampai ia melakukan bunuh diri saat itu.

Keteguhan dari dalam hati Dasha, perlahan mulai terkikis akan ingatan seorang Dasha pada kedua anaknya. Sepertinya ini akan menjadi hari yang paling buruk untuk Dasha. Hidup yang selama ini telah ia bentuk dengan begitu rapi. Kini harus dihancurkan oleh dirinya sendiri. Ketidakmampuan Dasha akan penerimaan takdir yang telah di jalani olehnya, sama sekali membuat ia terpukul hebat.

Dasha bersimpuh, menyesali semua yang akan dia lakukan. Bunuh diri, keputusasaan dan sebagainya. Cara-cara bodoh yang seharusnya tidak dilakukan oleh Dasha.

"Aku masih bisa hidup dengan kedua anakku. Mereka jauh lebih berharga dari Mas Bintang. Seharusnya aku bisa lebih bijak lagi dalam menentukan semuanya. Tidak hanya menuruti ego semata. Ini rasanya begitu berat, tapi aku harus segera bangkit dari kenyataan pahit ini."

Dasha kembali berdiri, dia mulai berjalan mundur untuk segera menjauh dari jembatan yang mulai rapuh itu. Sepertinya Dasha harus segera pergi, pikirannya harus segera jernih kembali.

Baru beberapa langkah menjauh dari jembatan itu. Dasha melihat Bintang yang begitu mesra bersama dengan Irina di depan mobilnya. Perempuan itu terlihat begitu baik dalam melakukan tugasnya dalam membuat Bintang terangsang. Dia mengelus lembut bagian tubuh Bintang. Memberikan sentuhan yang membuat mantan suami Dasha itu menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Irina.

Air mata Dasha yang sudah mulai kering, kembali berjatuhan dengan hebat. Dia tidak bisa menahan rasa cemburunya pada Irina. Mulutnya mungkin bisa berkata benci pada Bintang. Namun hatinya terasa sulit untuk bisa membenci pria yang telah menikahinya selama 8 tahun tersebut.

Dasha mengusap air matanya, sebelum dia segera berlari pergi. Dasha benar-benar kecewa dengan apa yang dilihatnya malam ini. Rasa benci, kecewa, marah dan sedih. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana ia benar-benar kecewa akan hidupnya yang begitu malang.

Dasha yang berlari cukup kencang, tanpa disadari menabrak seorang Oscar. Pria berusia 29 tahun itu pun jatuh dengan sedikit kesakitan ditabrak oleh tubuh Dasha. Dasha juga tersungkur jatuh.

Dasha yang merasa bersalah, segera menghampiri Oscar. "Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Aku harap tidak terjadi apa-apa denganmu."

Oscar kesal, dia perlahan mulai berdiri sembari membersihkan pakaiannya yang mulai kotor. "Kalau kamu lari, bisa hati-hati tidak. Kamu punya matakan. Seharusnya kamu pakai mata kamu untuk melihat. Bukan cuman kaki buat berjalan saja!"

Dasha terdiam mendengar ocehan Oscar. Wajahnya memelas, berharap Oscar akan segera memaafkan dirinya.

Oscar tentu tidak tega melihat wajah melas yang di tunjukkan oleh Dasha. Dengan sangat terpaksa, Oscar akhirnya memaafkan Dasha. "Baiklah, aku maafkan kamu. Namun dengan satu syarat."

"Syarat apa?" tanya Dasha penuh harap.

Oscar mulai memperhatikan tubuh Dasha. Dia sama sekali tidak melihat hal menarik dari tubuh Dasha itu. Hanya ada lemak bergelambir di sisi perutnya. Begitu juga dengan wajah Dasha yang sudah terlihat seperti ibu-ibu.

"Berapa usiamu?" tanya Oscar dengan tegasnya.

"Aku 28 tahun."

"Aku pikir kamu sudah 35 tahun. Jauh berbeda dari usia aslimu." ucap Oscar.

Dasha mulai menyentuh bagian wajahnya. Dia merasakan beberapa bagian di wajahnya yang memang sudah mulai tidak kencang. Dasha pun mulai berpikir kata-kata Bintang akan rasa cintanya yang pudar padanya, sebab Dasha yang sudah mulai tidak menarik lagi bagi Bintang.

"Apa kamu tidak ingin melakukan perawatan, atau bahkan operasi plastik. Aku pikir kamu tidak akan percaya untuk bisa tampil di muka umum dengan penampilan wajah kamu yang seperti ini." ucap Oscar dengan begitu santainya.

Dasha hanya bisa terdiam. Dia hanya menatap wajah Oscar dengan penuh lirih. Apa yang disampaikan oleh Oscar sama sekali tidak salah. Dasha memang sudah terlihat tidak menarik lagi. Mungkin itu yang menjadi alasan bagi Bintang untuk pergi meninggalkan Dasha.

"Namaku Oscar, aku adalah seorang ahli bedah. Jika kamu ingin melakukan perombakan pada wajah. Kamu bisa segera hubungiku." Oscar menyodorkan tangan kanannya.

Tangan kanan Dasha perlahan mulai mengangkat untuk menyambut perkenalan yang dilakukan oleh Oscar. "Nama saya Dasha."

Dasha mengusap air matanya yang secara spontan mengucur begitu saja. Tentu itu menjadi pertanyaan besar bagi seorang Oscar. Ia sama sekali tidak menyangka apa yang terjadi pada Dasha. Mengapa perempuan itu menangis. Apa mungkin ucapan dari Oscar telah menyakiti Dasha, hingga ia menangis seperti itu.

"Ada yang salah dengan ucapanku! Apakah kamu menangis dengan ucapkanku. Aku harap tidak seperti itu."

Dasha mulai mengeringkan air matanya. Dia mencoba membuat dirinya menjadi kuat, sehingga ia tidak akan terlihat menangis lagi.

"Tidak, sama sekali tidak."

"Lantas mengapa kamu menangis seperti itu?"

"Suami saya telah berselingkuh dengan seorang perempuan muda. Dia meninggalkan saya begitu saja. Itu yang membuat saya menangis seperti ini." Dasha semakin kuat menangis.

"Saya pun akan pergi dengan perempuan lain saat melihat kamu saat ini. Kamu sama sekali tidak menarik. Itu yang membuat suami kamu pergi." ucap Oscar dengan begitu santainya..

Dasha hanya terdiam menahan sakit dengan ucapan dari Oscar. Disebut salah tidak, namun benar pun masih cukup abu-abu. Dasha pun hanya bisa terdiam menahan sakit atas apa yang disampaikan oleh Oscar.

"Apa kamu ingin melakukan operasi plastik?" tanya Oscar dengan wajah menantang.

"Bagaimana caranya, aku tidak memiliki uang untuk melakukan semua itu."

"Gampang, asal kamu mau menuruti apa yang aku perintahkan."

"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Dasha.

"Kamu harus mau menjadi teman tidurku. Maka kamu akan mendapatkan metode operasi secara gratis." jawab Oscar dengan penuh keyakinan.

Bola mata dari Dasha hampir keluar saat mengetahui syarat yang diberikan oleh Oscar. Ini terdengar gila bagi dirinya. Namun Dasha sendiri ingin membalas semua perbuatan dari mantan suaminya tersebut. Ini adalah dilema besar yang harus di hadapi oleh Dasha.

Oscar memberikan kartu nama dirinya pada Dasha. Jika Dasha bersedia, maka dia bisa datang ke rumah Oscar. Jika tidak, maka tawaran itu diacuhkan saja oleh Dasha. Tidak harus datang atau apapun.

Bab 2

Dasha masih berharap mendapatkan kesempatan kedua yang akan dia dapat dari Bintang. Mungkin saja Bintang akan berubah pikiran, sebelum mereka akan bertemu di meja sidang perceraian. Masih ada keinginan dari Dasha untuk kembali bersama dengan Bintang.

Dasha mendatangi rumah Bintang dengan penampilan yang begitu cantik. Baju berwarna putih semakin membuat Dasha terlihat lebih elegan. Dia juga menenteng sebuah rantang berisi makanan untuk sarapan Bintang dan kedua anaknya.

Dasha menghela napas sebelum mengetuk pintu rumah Bintang. Menenangkan pikirannya sejenak, mungkin akan membuat Dasha merasa lebih rileks lagi. Apalagi Dasha akan bertemu Bintang dengan Irina. Perlu tenaga ekstra untuk bertemu dengan kedua orang yang menyakiti dirinya tersebut.

Tiga ketukan cukup untuk membuat Bintang keluar dari dalam rumahnya. Menggandeng Irina, Bintang terlihat begitu bahagia bisa bersama dengan selingkuhannya tersebut. Apalagi di hadapan Bintang ada seorang Dasha yang merupakan mantan istrinya.

"Ada apa kamu datang ke rumahku?" tanya Bintang dengan membentak.

"Perempuan yang sudah dibuang, seharusnya kamu lebih tahu diri." lanjut Irina dengan wajah kesalnya.

"Aku hanya ingin memberikan sarapan ini pada anak-anak." jawab Dasha menyodorkan rantang yang di bawanya.

Irina yang kurang suka dengan kedatangan dari Dasha dengan makanan yang di bawanya. Langsung melempar rantang itu di hadapan Dasha. "Jangan pura-pura baik, apalagi aku tahu. Pasti isi makanan ini ada racun dan sebagainya."

Dasha terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Irina. Bisa-bisanya dia memfitnah Dasha dengan begitu kejamnya. Padahal Dasha tidak mungkin melakukan hal itu pada kedua anak.

"Aku tidak mungkin melakukan itu pada kedua anakku. Aku juga tidak akan melakukan hal sama pada orang lain. Jadi aku harap, kamu tidak akan melakukan fitnah seperti itu!" tegas Dasha sedikit mengeluarkan air mata.

Irina tidak peduli dengan kesedihan yang mulai dirasakan oleh Dasha. Irina justru semakin melakukan provokasi pada Bintang untuk melakukan tindakan yang sama pada Dasha. Irina berharap Bintang akan melakukan hal yang sama dengan dirinya pada Dasha.

Provokasi dari Irina benar-benar membuat Bintang terpengaruh. Dia yang terlihat sedikit tenang, tiba-tiba mulai terpancing emosi melihat keberadaan dari Dasha. Rantang berisi makanan yang dibawa oleh Dasha. Ditendang dengan begitu kerasnya oleh Bintang. Padahal Dasha sedang membersihkan sisa makanan yang berceceran ke dalam rantang.

"Buruan, lama banget bersihin gituan juga. Lagi pula, kenapa kamu bawa sampah ke rumahku. Buat kotor saja." ucap Bintang dengan begitu marahnya.

Air mata Dasha semakin berjatuhan dengan tindakan yang di lakukan oleh Bintang pada dirinya. Ia sama sekali tidak menyangka Bintang akan berlaku kasar pada dirinya. Padahal Bintang tidak pernah melakukan hal itu pada Dasha selama pernikahan dengan Dasha.

Irina yang masih belum puas melakukan tindakan kejahatan pada Dasha. Kembali membuat Dasha merasakan sebuah kepahitan yang begitu terasa. Dia mengambil salah satu wadah dari rantang itu. Wadah berisi sayur wortel, langsung ditumpahkan ke atas rambut Dasha. Sontak rambut Dasha pun basah terkena kuah sayur wortel tersebut.

Bukannya merasa iba dengan apa yang di alami oleh Dasha. Bintang justru tertawa melihat kepala Dasha yang basah oleh sayur wortel. Itu adalah ide yang gila, tapi Bintang menyukai apa yang di lakukan oleh Irina pada Dasha. Sehingga Bintang tidak berhenti tertawa melihat Dasha yang basah kuyup oleh kuah sayur wortel.

"Aku pikir kamu lebih cocok pakai kuah itu, sehingga tidak harus pakai sampo lagi." ucap Bintang sambil tertawa lepas.

"Putri wortel aku pikir." lanjut Irina.

Dasha yang tidak bisa melakukan perlawanan terhadap Bintang dan Irina. Hanya bisa menangis dengan apa yang mereka lakukan. Dasha menumpahkan semuanya ke dalam sebuah tangisan yang lepas. Dia benar-benar sakit hati, tapi tidak mampu marah oleh ulah kedua orang tersebut. Sakit hati Dasha hanya bisa dilampiaskan dengan menangis saja.

Bintang yang merasa sudah muak dengan keberadaan dari Dasha. Meminta mantan istrinya itu untuk segera pergi dari rumahnya. Bintang juga melarang Dasha untuk kembali ke rumahnya. Walaupun hanya untuk menemui kedua anaknya. Bintang sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan Dasha.

Melihat respon Bintang yang begitu tegas menolak dirinya. Sepertinya kesempatan kedua yang di harapkan oleh Dasha adalah hal yang sia-sia. Bintang sudah tidak memiliki kesempatan kedua untuk Dasha. Dia tidak ingin lagi memberikan Dasha kesempatan kedua. Sudah seharusnya Dasha sadar akan Bintang yang sama sekali tidak memiliki rasa lagi pada dirinya.

Mungkin Dasha hanya perlu membalas semua perbuatan Bintang pada dirinya. Bagaimana perselingkuhan yang dilakukan oleh Bintang harus dibayar tuntas. Begitu juga dengan perlakuan Irina yang begitu tega pada Dasha. Harus segera mendapatkan balasan yang setimpal. Itu harus segera dilakukan oleh Dasha untuk membalas semuanya.

Bab 3

Dasha menceritakan semua yang di alami oleh dirinya pada sahabatnya yang bernama Risma. Bagaimana Dasha merasa telah dicampakkan begitu saja oleh Bintang. Dasha pun meras Bintang adalah sosok pria brengsek yang telah membuat hidupnya hancur.

Risma tidak henti mengelus pundak Dasha. Dia mencoba membuat Dasha untuk tenang. Memberikan sedikit rasa percaya akan dirinya yang mampu tanpa Bintang.

"Kamu adalah seorang yang jauh lebih berharga dari perempuan itu. Bagaimana dirimu adalah seorang yang luar biasa. Kamu harus tetap merasa menjadi dirimu sendiri. Jangan pernah merasa kurang percaya diri. Apalagi harus kalah oleh perempuan murahan itu." ucap Risma dengan penuh keyakinan.

Dasha melepaskan pelukannya dari Risma. Dia kini menggenggam kedua tangan dari Risma. "Rasanya ingin sekali untuk membalas semua perbuatan yang telah dilakukan oleh Mas Bintang dan selingkuhannya itu. Mereka benar-benar telah membuat hatiku tergores. Itu cukup membuatku merasakan kehilangan paling besar dalam hidupku."

Risma kembali memeluk Dasha dengan begitu eratnya. Dia ingin sahabatnya itu bisa bangkit. Jika perlu, Dasha harus segera melupakan apa yang telah dilakukan oleh Bintang dan selingkuhannya. Mungkin saja karma akan segera datang pada mereka.

Dasha melepaskan kembali pelukan dari Risma. Tidak ada karma, jika Dasha tidak membalas perbuatan dari mereka berdua.

"Aku akan membalas semua perbuatan mereka. Aku akan menjadi karma untuk keduanya. Mungkin saja mereka akan merasakan karma dari diriku sendiri. Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Semuanya akan aku balaskan pada mereka berdua. Ini adalah pembalasan yang akan aku berikan pada keduanya." ucap Dasha penuh amarah.

"Aku pikir kamu tidak perlu melakukan itu. Kamu harus bisa memaafkan semuanya. Tapi, jika memang kamu rasa apa yang dilakukan oleh keduanya sudah tidak bisa dimaafkan. Itu menjadi keputusanmu." ujar Risma.

Dasha kembali mengingat bagaimana dirinya yang di perlakukan begitu kejam oleh Bintang dan Irina. Rantang yang dia bawa dilempar dengan begitu keras. Satu wadah sayur wortel juga disiramkan pada kepalanya. Dasha benar-benar merasakan sebuah kepahitan yang dibuat oleh Bintang dan Irina. Mungkin pembalasan yang setimpal sudah menjadi keharusan bagi Dasha. Sebab itu adalah cara satu-satunya bagi Dasha untuk melawan semua ketidakadilan yang dibuat oleh Bintang akan dirinya.

Risma mengelus pundak dari Dasha. Dia sadar Dasha masih cukup marah dengan perbuatan dari Bintang dan Irina. Tetapi Risma berharap Dasha tidak akan menyimpan dendam yang besar akan keduanya. Dia harus lebih bisa legowo dengan semuanya.

"Aku yakin kamu bisa Dasha. Kamu akan menjadi seorang pemenang, tanpa harus melakukan balas dendam pada keduanya. Aku pikir kamu tetap menjadi Dasha yang mendapatkan segalanya. Itu yang aku rasa saat ini."

"Tidak! Aku akan jadi pemenang saat aku bisa membalas apa yang mereka lakukan padaku. Aku benar-benar sakit hati dengan apa yang mereka perbuat. Sepertinya ini sudah tidak bisa dimaafkan kembali. Mereka harus merasakan sakit yang saat ini aku rasakan. Mati rasa secara perlahan dengan tindakan yang mereka lakukan. itu yang inginku berikan pada keduanya."

Risma melihat bagaimana saran dari dirinya yang tidak mampu ditangkap dengan baik oleh Dasha. Dasha begitu marah pada Bintang dan Irina. Sehingga sebuah saran yang baik darinya ditolak mentah-mentah oleh Dasha. Mungkin saja hal buruk akan dilakukan oleh Dasha untuk membalas semua perbuatan dari Bintang dan Irina.

Padahal saran dari Risma cukup baik pada Dasha. Risma tidak ingin sahabatnya itu akan larut dalam sebuah dendam kesumat yang justru membahayakan hidupnya sendiri. Bagaimana pun dendam adalah hal yang tidak baik. Itu yang dirasakan oleh Risma. Namun jika Dasha merasa itu adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. Risma tidak bisa melakukan apapun lagi. Dia hanya berharap suatu hari nanti Dasha bisa memaafkan kesalahan dari Bintang dan Irina pada dirinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED