Bab 2

Akira berjalan lunglai masuk ke dalam rumahnya. Kedatangannya langsung disambut dengan celoteh kekhawatiran dari sang ibu, Sofia. Ibu mana yang tak khawatir jika putri tunggalnya sudah semalaman tidak pulang ke rumah. Apalagi selama ini Sofia memang selalu menjaga Akira dengan baik sebab baginya Akira adalah hartanya yang paling berharga.

“Sayang, kamu dari mana saja?” tanya Sofia langsung menghambur ke hadapan Akira setelah melihat kedatangan putrinya itu. Tak lupa memperhatikan kondisi putrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan semua baik-baik saja.

“Maafkan, Akira. Semalam Akira tidak pulang ke rumah dan tidak sempat mengabari mama,” ujar Akira merasa bersalah. Ia tidak bisa membayangkan jika sang ibu mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya. Akira tidak ingin membuat Sofia kecewa dan bersedih.

“Memangnya semalam kamu ke mana? Mama hubungi berkali-kali juga tidak terjawab.”

“Semalam Akira masih ada rapat penting di tempat les. Akhirnya Akira memutuskan untuk menginap di rumah teman karena sudah terlalu larut malam. Akira juga tidak sempat melihat ponsel karena terlalu kelelahan dan langsung tidur di sana,” jawab Akira mengarang cerita.

“Tapi kenapa sepertinya kamu terlihat sangat kelelahan dan penampilanmu…,” ujar Sofia terhenti dan kembali memperhatikan penampilan putrinya. Ia seperti melihat ada yang berbeda dengan Akira.

“Ma, aku hanya lelah saja. Aku pamit istirahat dulu ya,” pamit Akira sengaja memotong dan menghindari ibunya. Dia tidak ingin Sofia semakin curiga apalagi genangan air di kelopak matanya belum sepenuhnya surut.

“Ya sudah kalau begitu. Mama sudah lebih tenang karena kamu sudah di rumah sekarang. Istirahat saja dulu. Nanti kalau sudah bangun langsung makan ya. Mama sudah siapkan masakan untuk kamu,” ujar Sofia penuh pengertian.

“Aku memang sudah pulang ke rumah, tapi dalam keadaan tidak utuh, Ma” ujar Akira membatin. Tak sanggup rasanya mengingat kejadian naas yang menimpanya semalam.

Setelah berpamitan pada sang ibu, Akira langsung berlalu ke kamarnya. Dia menghempaskan tubuh kotornya di tempat tidur dan kembali menangisi nasibnya. Sesekali gadis itu juga merutuki takdir yang membuatnya mengalami kejadian buruk itu. Apalagi Akira bahkan tidak tahu siapa laki-laki yang sudah merenggut kehormatannya.

Belum surut air mata, belum tenang jiwa, dering telepon kembali mengalihkan perhatian Akira. Sebuah panggilan masuk dari Daffa, kekasih yang sudah empat tahun menjalin hubungan dengan Akira. Gadis itu berusaha menghentikan isaknya sebelum menjawab panggilan dari Daffa.

“Halo, Ra. Bagaimana kabarmu?” tanya Daffa setelah panggilan telepon tersambung.

“Aku baik, Daffa” jawab Akira berbohong.

“Kamu sedang ada kegiatan nggak?” tanya Daffa lagi.

“Memangnya kenapa?”

“Rencananya aku ingin mengajakmu bertemu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Apa kamu bisa? Ya itu pun kalau kamu sedang tidak sibuk.”

“Kapan?”

“Kalau nanti sore bagaimana?” tawar Daffa.

“Oke. Aku bisa menyempatkan waktu untuk menemuimu nanti.”

“Kalau begitu, kita bertemu di kafe biasa ya. Sampai jumpa,” ujar Daffa menutup panggilan dengan nada gembira. Akira tidak tahu apa sebabnya.

Teringat Daffa membuatnya semakin merasa bersalah pada lebih banyak orang. Tidak hanya ibu, secara tidak langsung Akira juga sudah mengkhianati Daffa. Dia berpikir apakah kiranya Daffa masih bisa menerima dirinya jika tahu apa yang sudah terjadi semalam. Rasanya Akira tidak kuat memikirkan hal itu.

Setelah cukup lama menumpahkan air mata kesedihannya, Akira beranjak untuk membersihkan diri. Ia menatap dirinya dalam cermin. Menyibak rambut yang menutupi memar di wajah bekas tamparan laki-laki bertopeng. Tidak hanya itu, bekas tanda kepemilikan di beberapa bagian tubuh kembali menggores batin Akira.

Seandainya dia tahu siapa pelakunya, mungkin dia bisa melaporkan kejadian yang dia alami pada polisi atas tuduhan pemerkosaan. Tapi bagaimana bisa semua itu ia lakukan sedangkan dia sendiri tidak tahu identitas asli si laki-laki bertopeng. Akira hanya bisa menyesali diri semata.

Sore harinya, Akira berusaha keras untuk menenangkan diri dan mulai bersiap untuk menemui Daffa. Ia sudah berjanji akan menemui kekasihnya meski sebenarnya masih tersisa sedikit trauma untuk keluar rumah. Akira mendatangi kafe tempat biasa mereka bertemu. Ternyata Daffa sudah lebih dulu tiba di sana.

“Sudah lama menunggu?” tanya Akira.

“Tidak juga. Silahkan duduk. Aku sangat merindukanmu,” ujar Daffa sembari tersenyum dengan begitu manisnya. “Oh ya, aku juga sudah memesan minuman kesukaan kamu,” imbuh Daffa perhatian.

“Terima kasih, Daffa. Kamu memang selalu tahu apa yang aku suka. Oh ya, memangnya ada apa kamu mengajakku bertemu di sini?” tanya Akira.

“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu,” ujar Daffa sembari meraih tangan Akira dan menggenggamnya.

“Hubungan kita sudah berjalan selama empat tahun, Ra. Selama itu pula aku merasa kita memiliki banyak kecocokan. Aku merasa nyaman bersamamu. Aku pikir sudah saatnya kita membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Apalagi kita juga sudah sama-sama lulus. Jika kamu bersedia, aku akan segera melamarmu kepada keluarga,” ujar Daffa benar-benar membuat Akira terkejut.

“Apa yang kamu bicarakan ini, Daffa?” tanya Akira dengan gelisah. Tak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Akira Callista, bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku?” tanya Daffin menegaskan niat tulusnya sembari menatap lekat wajah sang pujaan hati.

“Tidak, Daf. Ini tidak mungkin,” ucap Akira merasa sesak dada. Dia sontak melepas genggaman tangan Daffa.

“Apa yang tidak mungkin, Ra? Bukankah kamu juga sangat mencintaiku. Apa kamu tidak mau hubungan kita diresmikan ke jenjang yang lebih serius? Aku pikir kamu akan bahagia mendengar hal ini.”

“Semua sudah berubah, Daf. Sepertinya aku tidak bisa menikah denganmu,” ucap Akira sembari memejamkan mata berusaha menguatkan dirinya.

“Tapi kenapa? Apa perasaanmu sudah berubah padaku?” tanya Daffa menuntut jawaban.

“Tidak begitu. Aku masih sangat mencintaimu. Tapi maaf aku tidak bisa menerima lamaran itu,” tolak Akira dan langsung beranjak dari kursinya. Dia berlari keluar dari kafe dan langsung diikuti oleh Daffa. Daffa berusaha menghentikan Akira dan meminta penjelasan.

“Kamu tidak bisa pergi sebelum menjelaskan semuanya, Ra. Kenapa kamu menolak lamaranku?” tagih Daffa sembari menahan tangan Akira.

Akira hanya bisa menangis. Seharusnya dia bahagia hendak dilamar oleh laki-laki yang ia cintai. Tapi setelah kembali mengingat apa yang terjadi pada dirinya semalam, rasanya tidak mungkin dia bisa bersatu dengan Daffa. Belum tentu Daffa mau menerima Akira sebagai istri jika mengetahui dirinya sudah tidak suci lagi.

“Aku tidak bisa menjadi istrimu, Daffa. Aku sudah tidak virgin,” ucap Akira dengan nada bergetar. Menjelma petir yang menggelegar bagi Daffa yang mendengar. Seketika genggaman laki-laki itu lepas dari tangan Akira.

“Jadi selama ini kamu sudah mengkhianatiku, Akira?” tanya Daffa tak percaya.

“Aku tidak pernah mengkhianatimu, Daffa. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak pernah menjalin hubungan dengan orang lain. Aku selalu setia kepadamu,” jawab Akira sembari terisak.

“Kalau memang kamu setia lantas mengapa semua itu bisa terjadi?” ujar Daffa mulai emosi.

“Aku diperkosa,” jawab singkat Akira kembali meluruhkan air mata.

“Apa? Siapa yang berani melakukannya padamu, Akira? Jawab aku!”

“Aku tidak tahu, Daf. Aku sungguh tidak mengenali pelakunya.”

“Ini konyol, Akira. Bagaimana aku bisa percaya bahwa kamu diperkosa oleh orang tak dikenal dan bukan melakukannya atas dasar suka sama suka? Apa pun alasannya, aku kecewa padamu. Mulai hari ini hubungan kita sudah berakhir. Aku tidak bisa menerima bekas orang lain,” ucap Daffa serta merta meninggalkan Akira yang menangis seorang diri.

Perkataan terakhir Daffa benar-benar seperti duri yang menusuk hati. Akira sadar dirinya memang sudah kotor dan belum tentu seseorang dapat menerimanya. Dia memang tidak pantas untuk Daffa. Setelah kehilangan kehormatan, Akira juga harus menanggung rasa sakit kehilangan seorang laki-laki yang sangat dicintai.

Akira meratap diri. Seharusnya hari itu dia bisa berbahagia dan menerima lamaran Daffa dengan suka cita. Mereka kemudian menggelar pernikahan dan hidup berdua sebagai suami istri untuk selamanya. Itu adalah impian yang sudah lama mereka rangkai bersama. Tapi semua itu kini hancur hanya karena musibah satu malam yang tak diinginkan.

Bab 3

Meratap tidak akan bisa merubah keadaan atau mengembalikan sesuatu yang sudah hilang. Hari demi hari Akira berusaha menyingkirkan belenggu trauma yang mendera diri. Dia berusaha untuk kembali bangkit demi keluarganya. Mencoba berdamai dengan kenyataan hidup dan mengikhlaskan segala yang sudah terjadi termasuk perihal Daffa yang sudah pergi.

Semakin hari kebutuhan hidup terasa semakin menumpuk. Mengandalkan gaji sebagai guru les dan hasil usaha catering yang dilakukan Sofia juga tidak cukup. Terlebih setelah lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana, Akira merasa tertuntut untuk memiliki pekerjaan yang lebih layak serta keuangan yang stabil. Oleh karena itu dia berusaha bangkit dari semua kesedihannya dengan cara menyibukkan diri mencari pekerjaan baru.

Akira mulai mencari berbagai lowongan pekerjaan. Tak sekali dua kali pula ia mengirimkan berkas lamaran ke beberapa perusahaan. Sampai suatu hari saat bercerita pada Clarissa di tempat les, temannya itu menyarankan Akira untuk melamar kerja pada perusahaan Lexie Company.

“Jadi kemarin aku sempat dapat info dari temanku bahwa CEO perusahaan itu sedang mencari asisten baru untuk menggantikan asisten lama yang resign karena melahirkan dan memilih untuk fokus menjadi ibu rumah tangga. Mungkin kamu tertarik untuk melamar kerja di sana. Bekerja sebagai asisten aku rasa gajinya lumayan lho. Apalagi kamu butuh uang untuk hidupmu dan Tante Sofia kan,” ujar Clarissa memberikan tawaran.

“Tapi apa aku bisa bekerja di perusahaan sebesar itu?” ungkap Akira ragu.

“Ya ampun, Ra. Kamu itu perempuan yang cerdas. Yakin pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa menjalani pekerjaan itu. Apalagi skill Bahasa Inggrismu juga bagus. Aku rasa itu bisa jadi nilai tambah agar kamu dipertimbangkan.”

“Baiklah kalau begitu nanti aku coba dulu,” ujar Akira.

“Oke. Kamu langsung saja hubungi orang ini ya,” kata Clarissa sembari memberikan sebuah kartu nama. Akira menerima dengan senang hati dan menyimpannya di dalam tas.

Sepulang dari tempat les, Akira meraih kembali kartu nama yang sempat diberikan Clarissa. Dia berniat menghubungi nomor yang tertera di sana. Ternyata panggilan langsung tersambung dengan sekretaris perusahaan yang bernama Levin.

Sekretaris itu mengatakan bahwa memang atasan mereka sedang mencari seorang asisten. Akira diminta datang langsung untuk wawancara kerja dengan membawa berkas sesuai yang disyaratkan dalam ketentuan pendaftaran.

Keesokan harinya, Akira tak menunda waktu untuk mendatangi panggilan wawancara. Sebelum pergi dia sempat berpamitan dan meminta doa pada sang ibu agar semuanya dilancarkan. Akira pergi dengan menggunakan jasa ojek online. Sesampainya di kantor, Akira langsung menemui resepsionis dan mengatakan keperluannya.

Gadis cantik bernama Melisa itu pun mengarahkan Akira menuju ruangan sekretaris Levin. Baru setelah itu, Levin yang kemudian mengantar ke ruangan bosnya. Akira dipersilahkan masuk dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan meja sang CEO.

“Bos, ini Nona Akira yang akan menjalani wawancara untuk lowongan asisten menggantikan posisi Tiara,” tutur Levin pada laki-laki yang masih serius menatap layar laptopnya.

“Nona Akira, perkenalkan ini adalah Pak Albert, pemilik perusahaan Lexie Company. Dia yang akan mewawancarai anda secara langsung. Anda akan bekerja untuknya jika nanti diterima,” lanjut Levin.

“Selamat pagi, Pak Albert” sapa Akira mengalihkan perhatian laki-laki itu.

“Pagi. Jadi kamu yang ingin menggantikan Tiara menjadi asisten saya? Bisa apa kamu?” tanya Albert sembari memandang Akira dengan tatapan sinis.

Akira sempat merasa terintimidasi dengan tatapan itu. Akira kemudian menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya. Untuk beberapa saat Albert tampak membolak-balik kertas itu.

“Jadi kamu fresh graduate?” tanya Albert.

“Iya, Pak. Saya baru lulus sebagai sarjana ilmu komunikasi.”

“Belum memiliki pengalaman kerja sebelumnya?”

“Saya belum pernah bekerja pada sebuah perusahaan. Tapi sebelumnya saya menjadi guru les Bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus.”

“Bagaimana menurutmu, Levin? Apakah dia pantas mengisi posisi itu?” tanya Albert meminta pertimbangan pada sekretarisnya.

“Kalau menurut saya sih tidak ada salahnya, Pak. Penguasaan dalam bidang ilmu komunikasi dan kemampuan berbahasa asing bisa menjadi pertimbangan yang cukup untuk menerimanya,” jawab Levin.

“Baiklah kalau begitu. Ambilkan kontraknya sekarang,” perintah Albert yang langsung dipatuhi oleh Levin. Albert kemudian menyodorkan berkas kontrak itu kepada Akira.

“Ini adalah kontrak kerja sama yang harus kamu tanda tangani. Saya beri kamu waktu lima menit untuk membaca kontrak itu dan tanda tangan jika memang kamu ingin bekerja di sini,” titah Albert langsung membuat Akira menelan ludah kasar.

“Membaca kontrak kerja sebanyak dua puluh lebih halaman dalam waktu lima menit? Mana cukup?” gerutu Akira dalam batinnya. Meski begitu dia tidak ingin terlihat mengeluh untuk tugas pertama yang sederhana.

Tak sempat membaca secara detail, Akira hanya membolak-balik kontrak itu sekilas dan langsung tanda tangan. Sama sekali tak terlintas kemungkinan buruk tentang ketentuan dalam kontrak itu. Akira percaya perusahaan besar seperti Lexie Company pasti sangat profesional.

“Ini, Pak. Saya sudah tanda tangan kontraknya,” ujar Akira sembari menyerahkan kembali berkas itu.

“Baiklah. Kontrak ini akan saya simpan. Kalau begitu saya ucapkan selamat bergabung dengan perusahaan kami. Kamu bisa masuk bekerja mulai besok,” ucap Albert sembari menjabat tangan Akira.

Akira tersenyum gembira berhasil mendapatkan pekerjaan itu. Tidak hanya Albert, Levin pun mengucapkan selamat pada Akira dan mengantar gadis itu keluar dari ruangan atasannya. Sebelum meninggalkan kantor, Levin sempat memberikan arahan agar Akira tidak datang terlambat esok hari sebab Albert tidak suka orang yang tidak tepat waktu.

Akira mengangguk mengerti dan berlalu setelah mengucapkan permisi. Perasaannya terlalu didominasi bahagia hingga ia tak merasakan keanehannya. Bukankah terlalu mudah baginya bisa diterima bekerja di perusahaan sebesar itu.

Sementara dalam ruangannya, Albert tersenyum puas merasa meraih kemenangan. Levin yang kembali menemuinya juga mengerti apa yang sedang dirasakan Albert. Levin juga salah satu orang yang terlibat dalam rencana laki-laki itu.

“Selamat datang, Akira. Kamu sudah terjebak lebih jauh dalam permainanku,” ucap Albert sembari menyeringai licik.

“Kau sungguh serius menjalankan semua rencana ini hingga melibatkan gadis itu dalam urusan pekerjaan,” komentar Levin.

“Aku akan melakukan apa pun untuk memenuhi hasratku, Levin. Sekarang kamu simpan dengan baik kontrak yang sudah dia tanda tangani. Kontrak itu akan menjadi senjata untuk menekannya agar menuruti segala perintahku,” kata Albert.

“Aku akan mengikuti semua yang kamu perintahkan. Tapi aku hanya ingin berpesan satu hal. Jangan sampai membawa Akira terlibat lebih jauh dalam hidupmu justru akan membuatmu jatuh. Aku harap pekerjaan kita tetap berjalan secara profesional meski di balik alasanmu mempekerjakan gadis itu adalah bagian dari upaya balas dendam,” pesan Levin.

Albert hanya tersenyum mendengar nasihat dari Levin. Baginya Levin bukan sekedar sekretaris tapi juga seorang sahabat. Levin tahu tentang rencana balas dendam Albert pada Akira. Termasuk perbuatan bejat sang atasan yang sudah menodai kesucian gadis polos itu.

Levin tahu motif balas dendam Albert karena ibunya Akira yang bernama Sofia sudah merebut ayah Albert dari Tiana hingga menyebabkan ibu temannya itu depresi dan bunuh diri. Meski begitu Levin tetap kasihan pada Akira. Gadis itu menjadi sasaran balas dendam teman sekaligus atasannya meski tidak tahu apa-apa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED