“Apa kamu sudah menemukan gadis itu?” tanya Albert saat berbicara dengan seseorang di telepon.
“Sudah, Bos. Kami sudah menemukan gadis yang selama ini anda cari,” jawab anak buahnya.
“Sudah pastikan bahwa kalian tidak salah orang?”
“Kami tidak mungkin salah orang, Bos. Kami sudah menyelidiki latar belakang gadis itu dan sesuai dengan apa yang sudah bos informasikan.”
“Baiklah kalau begitu. Aku tidak mau tahu dengan cara apa, intinya aku ingin gadis itu ada di ranjangku malam ini juga,” perintah Albert dengan tegas dan langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.
“Kali ini aku akan mendapatkanmu, Akira” ujar Albert sembari tersenyum licik di ruang kerjanya sendiri. Dia sudah membayangkan bagaimana rencana-rencana selanjutnya akan dia lakukan untuk menghancurkan kehidupan seorang gadis bernama Akira.
Albert Kenzi Erdinata adalah seorang pengusaha muda sukses pemilik perusahaan Lexie Company, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti. Kekayaan berlimpah yang dimilikinya adalah hasil dari keringatnya sendiri dan bukan semata warisan dari keluarga.
Meski sudah hidup bergelimang kemewahan, namun laki-laki itu kerapkali merasa hampa karena hanya hidup sebatang kara. Orang tuanya sudah lama meninggal. Ayahnya mengalami kecelakaan sementara ibunya meninggal karena bunuh diri.
Sejak kecil Albert sangat menyayangi ibunya yang bernama Tiana. Baginya, sang ibu adalah segalanya. Oleh sebab itu dia sangat terpukul dan kehilangan ketika Tiana sempat depresi hingga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai tiga rumah mereka.
Bahkan kematian sang ibu telah merubah Albert menjadi seorang laki-laki yang keras. Hidupnya diliputi dendam. Hasratnya begitu menggebu untuk membalas penderitaan yang pernah dirasakan ibunya.
Sebenarnya Albert hanya meraba-raba masa lalu dari pernyataan terakhir ibunya. Dia masih ingat betul kata-kata itu sekalipun sudah bertahun-tahun berlalu.
“Sofia tidak boleh hidup bahagia. Dia sudah menghancurkan kehidupanku dengan Mas Adi. Aku tidak akan pernah rela dia dan putrinya bersenang-senang di atas penderitaanku.”
Kalimat itu terus menghantu menjadi mimpi buruk yang datang hampir setiap malam dalam kehidupan Albert. Bahkan lengkap dengan suara benturan keras saat tubuh ibunya melayang dan berakhir di halaman depan rumahnya. Mimpi-mimpi itu selalu menguatkan niat Albert untuk membalas dendam pada perempuan bernama Sofia dan putrinya.
Balas dendam itulah yang membuat Albert bekerja keras membangun bisnisnya. Dia berpikir dengan banyak harta maka dia akan lebih mudah menyewa jasa untuk melacak informasi tentang keluarga Sofia dan menjalankan balas dendamnya. Berdasarkan informasi dari orang suruhannya, Albert mengetahui bahwa Sofia memiliki seorang putri bernama Akira yang kini turut menjadi sasaran balas dendam Albert.
Dahulu, Albert hidup bahagia bersama Tiana dan Adi. Meski baru bertemu Adi setelah usianya sepuluh tahun, tapi Tiana mengatakan bahwa Adi adalah ayahnya yang selama ini baru kembali dari bekerja di luar negeri. Albert begitu bahagia dan merasa menjadi anak yang beruntung memiliki keluarga yang lengkap.
Namun semua kebahagiaan itu mulai surut ketika Tiana dan Adi menjadi sering bertengkar. Adu mulut menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari. Albert juga sering menyaksikan setiap kali ibunya menangis setelah bertengkar dengan sang ayah. Tiana juga pernah mengatakan bahwa Adi menjadi jarang mengunjungi mereka karena sibuk dengan Sofia dan bayinya.
Sampai suatu hari, ayah dan ibunya bertengkar hebat dan beberapa hari kemudian ayahnya mengalami kecelakaan. Tidak sampai di situ, perempuan bernama Sofia juga melaporkan ibunya kepada polisi sebagai pelaku pembunuhan berencana atas kecelakaan yang menimpa Adi. Ancaman hukuman penjara membuat Tiana depresi hingga nekat bunuh diri.
Hari kematian Tiana menjadi hari ketika Albert bersumpah akan membalas dendam pada keluarga Sofia. Sejak saat itu Albert hidup sebatang kara. Sejak saat itu pula hatinya dipenuhi amarah. Dia bertekad untuk melakukan segala cara demi membalaskan kematian ibunya. Termasuk dengan menyasar Akira, putrinya Sofia.
Sudah cukup lama dia mengintai sang gadis melalui orang suruhannya. Malam nanti dia akan melancarkan rencana pertamanya untuk menghancurkan Akira. Dia tak segan-segan untuk merenggut sesuatu yang paling berharga dari diri gadis itu. Bahkan menurut Albert, rasa kehilangan kehormatan tidak akan lebih sakit daripada kehilangan yang dia derita saat kematian Tiana.
***
Malam itu Akira sedang berjalan berdua dengan temannya yang bernama Clarissa. Mereka baru saja pulang dari mengajar les Bahasa Inggris di sebuah lembaga English Course. Akira adalah seorang fresh graduate yang baru saja lulus beberapa bulan yang lalu dari kuliah jenjang sarjana.
Sementara mencari pekerjaan yang lebih mumpuni sesuai latar belakang pendidikannya, Akira memilih mengisi waktu dengan menjadi guru les bahasa. Kebetulan kemampuan Bahasa Inggris yang dimilikinya bisa dia manfaatkan untuk mendapatkan penghasilan sementara.
Sebenarnya kelas dimulai pada sore hari mulai dari jam tiga sampai jam setengah lima . Tapi hari itu mereka terpaksa harus pulang lebih akhir karena masih ada rapat antar tutor yang membahas pembukaan pendaftaran peserta les untuk periode baru.
“Ra, aku pamit duluan ya. Soalnya aku sudah ada janji dengan Garen. Dia akan menjemputku untuk makan malam bersama,” ujar Clarissa saat mereka sedang menapaki jalan raya tak jauh dari tempat les. Tepat saat sebuah motor berhenti di samping mereka. Akira tahu temannya itu sudah cukup lama berpacaran dengan Garen, teman kuliah mereka saat di kampus.
“Cie…enaknya ada yang perhatian,” goda Akira pada Clarissa.
“Makanya kamu suruh Daffa jemput juga dong,” kata Clarissa. Daffa adalah kekasih Akira.
“Tidak usah. Aku tidak mau merepotkannya.”
“Kamu terlalu sungkan sama pacar sendiri. Ya sudah kalau begitu aku duluan ya. Take care,” pamit Clarissa.
Malam itu terpaksa Akira menyusuri jalanan malam seorang diri setelah Clarissa dijemput oleh sang kekasih. Jarak tempuh dari tempat les ke rumah memakan waktu sekitar lima belas menit dengan menggunakan angkutan umum. Akira berniat untuk menunggu bus kota di halte terdekat saat tiba-tiba sebuah tangan kekar membekapnya dari arah belakang.
Gadis itu berusaha melawan saat dua orang berbaju serba hitam menyeret dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tidak sampai disitu, mereka kemudian mengikat kedua tangan dan kaki Akira serta menutup mulutnya dengan kain. Akira sempat memandangi orang-orang bertopeng itu namun tak dapat mengenali mereka.
Kegaduhan dan rasa takut mulai memenuhi batin Akira. Siapakah orang yang memiliki niat jahat seperti itu padanya. Selama ini dia merasa tidak memiliki musuh. Tidak tahu pasti apa yang akan dilakukan orang-orang berbaju hitam pada dirinya. Berpikir positif pun sudah tidak bisa membantu dalam keadaan seperti itu.
Mobil berhenti di sebuah rumah kosong. Dua orang laki-laki berbadan kekar menyeret Akira ke sebuah kamar lalu menguncinya dari luar. Akira tidak mengenali di mana tepatnya dia berada. Tak lama setelah kepergian dua orang itu, tampak seorang pria bertopeng datang menemui Akira.
Akira sendiri tidak bisa menebak siapa laki-laki itu. Tapi dari penampilannya, dia bisa menyimpulkan bahwa mungkin dia adalah bos dari para penculik tadi. Hal itu terlihat dari setelan jas yang digunakan sang lelaki meski Akira tak dapat melihat jelas karena wajahnya tertutup topeng.
Laki-laki itu kemudian mendekat ke arah Akira dan membuka tali serta kain yang membekap mulut. Sementara Akira semakin merasa takut.
“Siapa kamu? Apakah kamu yang sudah menyuruh orang-orang itu untuk menculikku?” tanya Akira memberanikan diri. Akira semakin takut saat pertanyaannya justru disambut tawa keras laki-laki itu.
“Kamu tidak perlu tahu siapa aku,” jawab laki-laki bertopeng dengan sinis.
“Apa kita saling mengenal? Apa alasanmu melakukan semua ini padaku?” cecar Akira. Laki-laki itu justru mendekat dan mengangkat dagu Akira dengan satu tangannya.
“Aku tidak suka pada orang yang terlalu banyak bertanya, Manis. Lebih baik nikmati saja malam ini. Aku jamin kamu pasti tidak akan pernah melupakannya untuk seumur hidup,” ujar laki-laki itu dengan sedikit tawa yang menyiratkan kelicikan.
“Jangan macam-macam padaku,” ungkap Akira mulai gemetar dan merasa terdesak. Ikatan yang sudah terlepas membuat Akira berinisiatif untuk melarikan diri namun sayang pintu itu terkunci rapat.
“Kau tidak akan bisa lari dariku, Akira” ucap laki-laki bertopeng kembali membuat Akira tercengang karena orang itu mengetahui namanya.
Laki-laki itu semakin berjalan mendekat ke arah Akira yang merasa terdesak dan semakin merapatkan tubuhnya pada pintu kayu. Meski berkali-kali bergumam agar tak mendekat, nyatanya laki-laki itu tidak sedikit pun menghentikan langkahnya. Bahkan Akira mulai dapat mendengar deru napas sang lelaki menyentuh kulitnya.
Akira berusaha berontak saat laki-laki itu ingin memaksakan kehendaknya. Namun sekeras apa pun berusaha tetap saja si laki-laki bertopeng lebih kuat. Bahkan Akira hanya bisa meringis saat laki-laki itu menampar dan menyeret Akira ke tempat tidur.
Laki-laki itu terus melakukan segala yang diinginkannya meski hanya menikmati secara sepihak. Sementara Akira hanya menangis pilu melihat harga dirinya dirusak sedemikian rupa. Begitu menyayangkan hal beharga yang selama ini ia jaga harus jatuh pada laki-laki bertopeng yang bahkan tidak ia ketahui dengan jelas identitasnya. Akira merasa jijik setiap kali mendengar suara kenikmatan yang dilantunkan sang lelaki. Setiap itu pula batinnya terasa teriris.
Laki-laki itu menghentikan aktivitasnya saat merasa puas dengan dirinya sendiri. Entah jam berapa laki-laki bertopeng pergi, Akira tidak tahu pasti. Perempuan itu langsung tertidur setelah merasa kesakitan di sekujur tubuhnya.
Akira baru terbangun saat sinar mentari menerobos masuk dari celah jendela kamar yang tertutup tirai tipis. Ia kembali menangis dan meratapi nasib saat melihat tubuh polosnya hanya tertutup selimut. Kembali teringat bayang-bayang kejadian menyeramkan yang terjadi semalam.
Akira merasa dirinya begitu hina. Ia hanya bisa memeluk lutut dan mendekap dirinya sendiri yang merasa begitu rapuh tak berdaya. Ia merasa menjadi gadis bodoh yang tidak bisa menjaga diri dan kehormatannya sendiri, itulah penyesalan terdalamnya.
Akira berusaha bangkit perlahan meski rasa sakit masih terasa di beberapa bagian tubuhnya. Ia memunguti kembali pakaiannya yang sudah tercecer di lantai dan memakainya. Setelah sedikit merapikan penampilannya yang cukup berantakan, Akira tak sengaja melihat secarik kertas bersama beberapa lembar uang di atas nakas samping tempat tidur.
“Terima kasih untuk semalam. Aku sangat menikmatinya,” tulis lelaki bertopeng itu.
Akira hanya bisa berteriak dan meremas kertas itu sebagai pelampiasannya. Melihat beberapa lembar uang kertas itu semakin mengiris hati Akira. Dia merasa tak berharga sebab kehormatannya ditukar dengan sejumlah uang. Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Kesuciannya sudah hilang dalam waktu semalam.
Akira berjalan lunglai masuk ke dalam rumahnya. Kedatangannya langsung disambut dengan celoteh kekhawatiran dari sang ibu, Sofia. Ibu mana yang tak khawatir jika putri tunggalnya sudah semalaman tidak pulang ke rumah. Apalagi selama ini Sofia memang selalu menjaga Akira dengan baik sebab baginya Akira adalah hartanya yang paling berharga.
“Sayang, kamu dari mana saja?” tanya Sofia langsung menghambur ke hadapan Akira setelah melihat kedatangan putrinya itu. Tak lupa memperhatikan kondisi putrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan semua baik-baik saja.
“Maafkan, Akira. Semalam Akira tidak pulang ke rumah dan tidak sempat mengabari mama,” ujar Akira merasa bersalah. Ia tidak bisa membayangkan jika sang ibu mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya. Akira tidak ingin membuat Sofia kecewa dan bersedih.
“Memangnya semalam kamu ke mana? Mama hubungi berkali-kali juga tidak terjawab.”
“Semalam Akira masih ada rapat penting di tempat les. Akhirnya Akira memutuskan untuk menginap di rumah teman karena sudah terlalu larut malam. Akira juga tidak sempat melihat ponsel karena terlalu kelelahan dan langsung tidur di sana,” jawab Akira mengarang cerita.
“Tapi kenapa sepertinya kamu terlihat sangat kelelahan dan penampilanmu…,” ujar Sofia terhenti dan kembali memperhatikan penampilan putrinya. Ia seperti melihat ada yang berbeda dengan Akira.
“Ma, aku hanya lelah saja. Aku pamit istirahat dulu ya,” pamit Akira sengaja memotong dan menghindari ibunya. Dia tidak ingin Sofia semakin curiga apalagi genangan air di kelopak matanya belum sepenuhnya surut.
“Ya sudah kalau begitu. Mama sudah lebih tenang karena kamu sudah di rumah sekarang. Istirahat saja dulu. Nanti kalau sudah bangun langsung makan ya. Mama sudah siapkan masakan untuk kamu,” ujar Sofia penuh pengertian.
“Aku memang sudah pulang ke rumah, tapi dalam keadaan tidak utuh, Ma” ujar Akira membatin. Tak sanggup rasanya mengingat kejadian naas yang menimpanya semalam.
Setelah berpamitan pada sang ibu, Akira langsung berlalu ke kamarnya. Dia menghempaskan tubuh kotornya di tempat tidur dan kembali menangisi nasibnya. Sesekali gadis itu juga merutuki takdir yang membuatnya mengalami kejadian buruk itu. Apalagi Akira bahkan tidak tahu siapa laki-laki yang sudah merenggut kehormatannya.
Belum surut air mata, belum tenang jiwa, dering telepon kembali mengalihkan perhatian Akira. Sebuah panggilan masuk dari Daffa, kekasih yang sudah empat tahun menjalin hubungan dengan Akira. Gadis itu berusaha menghentikan isaknya sebelum menjawab panggilan dari Daffa.
“Halo, Ra. Bagaimana kabarmu?” tanya Daffa setelah panggilan telepon tersambung.
“Aku baik, Daffa” jawab Akira berbohong.
“Kamu sedang ada kegiatan nggak?” tanya Daffa lagi.
“Memangnya kenapa?”
“Rencananya aku ingin mengajakmu bertemu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Apa kamu bisa? Ya itu pun kalau kamu sedang tidak sibuk.”
“Kapan?”
“Kalau nanti sore bagaimana?” tawar Daffa.
“Oke. Aku bisa menyempatkan waktu untuk menemuimu nanti.”
“Kalau begitu, kita bertemu di kafe biasa ya. Sampai jumpa,” ujar Daffa menutup panggilan dengan nada gembira. Akira tidak tahu apa sebabnya.
Teringat Daffa membuatnya semakin merasa bersalah pada lebih banyak orang. Tidak hanya ibu, secara tidak langsung Akira juga sudah mengkhianati Daffa. Dia berpikir apakah kiranya Daffa masih bisa menerima dirinya jika tahu apa yang sudah terjadi semalam. Rasanya Akira tidak kuat memikirkan hal itu.
Setelah cukup lama menumpahkan air mata kesedihannya, Akira beranjak untuk membersihkan diri. Ia menatap dirinya dalam cermin. Menyibak rambut yang menutupi memar di wajah bekas tamparan laki-laki bertopeng. Tidak hanya itu, bekas tanda kepemilikan di beberapa bagian tubuh kembali menggores batin Akira.
Seandainya dia tahu siapa pelakunya, mungkin dia bisa melaporkan kejadian yang dia alami pada polisi atas tuduhan pemerkosaan. Tapi bagaimana bisa semua itu ia lakukan sedangkan dia sendiri tidak tahu identitas asli si laki-laki bertopeng. Akira hanya bisa menyesali diri semata.
Sore harinya, Akira berusaha keras untuk menenangkan diri dan mulai bersiap untuk menemui Daffa. Ia sudah berjanji akan menemui kekasihnya meski sebenarnya masih tersisa sedikit trauma untuk keluar rumah. Akira mendatangi kafe tempat biasa mereka bertemu. Ternyata Daffa sudah lebih dulu tiba di sana.
“Sudah lama menunggu?” tanya Akira.
“Tidak juga. Silahkan duduk. Aku sangat merindukanmu,” ujar Daffa sembari tersenyum dengan begitu manisnya. “Oh ya, aku juga sudah memesan minuman kesukaan kamu,” imbuh Daffa perhatian.
“Terima kasih, Daffa. Kamu memang selalu tahu apa yang aku suka. Oh ya, memangnya ada apa kamu mengajakku bertemu di sini?” tanya Akira.
“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu,” ujar Daffa sembari meraih tangan Akira dan menggenggamnya.
“Hubungan kita sudah berjalan selama empat tahun, Ra. Selama itu pula aku merasa kita memiliki banyak kecocokan. Aku merasa nyaman bersamamu. Aku pikir sudah saatnya kita membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Apalagi kita juga sudah sama-sama lulus. Jika kamu bersedia, aku akan segera melamarmu kepada keluarga,” ujar Daffa benar-benar membuat Akira terkejut.
“Apa yang kamu bicarakan ini, Daffa?” tanya Akira dengan gelisah. Tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Akira Callista, bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku?” tanya Daffin menegaskan niat tulusnya sembari menatap lekat wajah sang pujaan hati.
“Tidak, Daf. Ini tidak mungkin,” ucap Akira merasa sesak dada. Dia sontak melepas genggaman tangan Daffa.
“Apa yang tidak mungkin, Ra? Bukankah kamu juga sangat mencintaiku. Apa kamu tidak mau hubungan kita diresmikan ke jenjang yang lebih serius? Aku pikir kamu akan bahagia mendengar hal ini.”
“Semua sudah berubah, Daf. Sepertinya aku tidak bisa menikah denganmu,” ucap Akira sembari memejamkan mata berusaha menguatkan dirinya.
“Tapi kenapa? Apa perasaanmu sudah berubah padaku?” tanya Daffa menuntut jawaban.
“Tidak begitu. Aku masih sangat mencintaimu. Tapi maaf aku tidak bisa menerima lamaran itu,” tolak Akira dan langsung beranjak dari kursinya. Dia berlari keluar dari kafe dan langsung diikuti oleh Daffa. Daffa berusaha menghentikan Akira dan meminta penjelasan.
“Kamu tidak bisa pergi sebelum menjelaskan semuanya, Ra. Kenapa kamu menolak lamaranku?” tagih Daffa sembari menahan tangan Akira.
Akira hanya bisa menangis. Seharusnya dia bahagia hendak dilamar oleh laki-laki yang ia cintai. Tapi setelah kembali mengingat apa yang terjadi pada dirinya semalam, rasanya tidak mungkin dia bisa bersatu dengan Daffa. Belum tentu Daffa mau menerima Akira sebagai istri jika mengetahui dirinya sudah tidak suci lagi.
“Aku tidak bisa menjadi istrimu, Daffa. Aku sudah tidak virgin,” ucap Akira dengan nada bergetar. Menjelma petir yang menggelegar bagi Daffa yang mendengar. Seketika genggaman laki-laki itu lepas dari tangan Akira.
“Jadi selama ini kamu sudah mengkhianatiku, Akira?” tanya Daffa tak percaya.
“Aku tidak pernah mengkhianatimu, Daffa. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak pernah menjalin hubungan dengan orang lain. Aku selalu setia kepadamu,” jawab Akira sembari terisak.
“Kalau memang kamu setia lantas mengapa semua itu bisa terjadi?” ujar Daffa mulai emosi.
“Aku diperkosa,” jawab singkat Akira kembali meluruhkan air mata.
“Apa? Siapa yang berani melakukannya padamu, Akira? Jawab aku!”
“Aku tidak tahu, Daf. Aku sungguh tidak mengenali pelakunya.”
“Ini konyol, Akira. Bagaimana aku bisa percaya bahwa kamu diperkosa oleh orang tak dikenal dan bukan melakukannya atas dasar suka sama suka? Apa pun alasannya, aku kecewa padamu. Mulai hari ini hubungan kita sudah berakhir. Aku tidak bisa menerima bekas orang lain,” ucap Daffa serta merta meninggalkan Akira yang menangis seorang diri.
Perkataan terakhir Daffa benar-benar seperti duri yang menusuk hati. Akira sadar dirinya memang sudah kotor dan belum tentu seseorang dapat menerimanya. Dia memang tidak pantas untuk Daffa. Setelah kehilangan kehormatan, Akira juga harus menanggung rasa sakit kehilangan seorang laki-laki yang sangat dicintai.
Akira meratap diri. Seharusnya hari itu dia bisa berbahagia dan menerima lamaran Daffa dengan suka cita. Mereka kemudian menggelar pernikahan dan hidup berdua sebagai suami istri untuk selamanya. Itu adalah impian yang sudah lama mereka rangkai bersama. Tapi semua itu kini hancur hanya karena musibah satu malam yang tak diinginkan.
Meratap tidak akan bisa merubah keadaan atau mengembalikan sesuatu yang sudah hilang. Hari demi hari Akira berusaha menyingkirkan belenggu trauma yang mendera diri. Dia berusaha untuk kembali bangkit demi keluarganya. Mencoba berdamai dengan kenyataan hidup dan mengikhlaskan segala yang sudah terjadi termasuk perihal Daffa yang sudah pergi.
Semakin hari kebutuhan hidup terasa semakin menumpuk. Mengandalkan gaji sebagai guru les dan hasil usaha catering yang dilakukan Sofia juga tidak cukup. Terlebih setelah lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana, Akira merasa tertuntut untuk memiliki pekerjaan yang lebih layak serta keuangan yang stabil. Oleh karena itu dia berusaha bangkit dari semua kesedihannya dengan cara menyibukkan diri mencari pekerjaan baru.
Akira mulai mencari berbagai lowongan pekerjaan. Tak sekali dua kali pula ia mengirimkan berkas lamaran ke beberapa perusahaan. Sampai suatu hari saat bercerita pada Clarissa di tempat les, temannya itu menyarankan Akira untuk melamar kerja pada perusahaan Lexie Company.
“Jadi kemarin aku sempat dapat info dari temanku bahwa CEO perusahaan itu sedang mencari asisten baru untuk menggantikan asisten lama yang resign karena melahirkan dan memilih untuk fokus menjadi ibu rumah tangga. Mungkin kamu tertarik untuk melamar kerja di sana. Bekerja sebagai asisten aku rasa gajinya lumayan lho. Apalagi kamu butuh uang untuk hidupmu dan Tante Sofia kan,” ujar Clarissa memberikan tawaran.
“Tapi apa aku bisa bekerja di perusahaan sebesar itu?” ungkap Akira ragu.
“Ya ampun, Ra. Kamu itu perempuan yang cerdas. Yakin pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa menjalani pekerjaan itu. Apalagi skill Bahasa Inggrismu juga bagus. Aku rasa itu bisa jadi nilai tambah agar kamu dipertimbangkan.”
“Baiklah kalau begitu nanti aku coba dulu,” ujar Akira.
“Oke. Kamu langsung saja hubungi orang ini ya,” kata Clarissa sembari memberikan sebuah kartu nama. Akira menerima dengan senang hati dan menyimpannya di dalam tas.
Sepulang dari tempat les, Akira meraih kembali kartu nama yang sempat diberikan Clarissa. Dia berniat menghubungi nomor yang tertera di sana. Ternyata panggilan langsung tersambung dengan sekretaris perusahaan yang bernama Levin.
Sekretaris itu mengatakan bahwa memang atasan mereka sedang mencari seorang asisten. Akira diminta datang langsung untuk wawancara kerja dengan membawa berkas sesuai yang disyaratkan dalam ketentuan pendaftaran.
Keesokan harinya, Akira tak menunda waktu untuk mendatangi panggilan wawancara. Sebelum pergi dia sempat berpamitan dan meminta doa pada sang ibu agar semuanya dilancarkan. Akira pergi dengan menggunakan jasa ojek online. Sesampainya di kantor, Akira langsung menemui resepsionis dan mengatakan keperluannya.
Gadis cantik bernama Melisa itu pun mengarahkan Akira menuju ruangan sekretaris Levin. Baru setelah itu, Levin yang kemudian mengantar ke ruangan bosnya. Akira dipersilahkan masuk dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan meja sang CEO.
“Bos, ini Nona Akira yang akan menjalani wawancara untuk lowongan asisten menggantikan posisi Tiara,” tutur Levin pada laki-laki yang masih serius menatap layar laptopnya.
“Nona Akira, perkenalkan ini adalah Pak Albert, pemilik perusahaan Lexie Company. Dia yang akan mewawancarai anda secara langsung. Anda akan bekerja untuknya jika nanti diterima,” lanjut Levin.
“Selamat pagi, Pak Albert” sapa Akira mengalihkan perhatian laki-laki itu.
“Pagi. Jadi kamu yang ingin menggantikan Tiara menjadi asisten saya? Bisa apa kamu?” tanya Albert sembari memandang Akira dengan tatapan sinis.
Akira sempat merasa terintimidasi dengan tatapan itu. Akira kemudian menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya. Untuk beberapa saat Albert tampak membolak-balik kertas itu.
“Jadi kamu fresh graduate?” tanya Albert.
“Iya, Pak. Saya baru lulus sebagai sarjana ilmu komunikasi.”
“Belum memiliki pengalaman kerja sebelumnya?”
“Saya belum pernah bekerja pada sebuah perusahaan. Tapi sebelumnya saya menjadi guru les Bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus.”
“Bagaimana menurutmu, Levin? Apakah dia pantas mengisi posisi itu?” tanya Albert meminta pertimbangan pada sekretarisnya.
“Kalau menurut saya sih tidak ada salahnya, Pak. Penguasaan dalam bidang ilmu komunikasi dan kemampuan berbahasa asing bisa menjadi pertimbangan yang cukup untuk menerimanya,” jawab Levin.
“Baiklah kalau begitu. Ambilkan kontraknya sekarang,” perintah Albert yang langsung dipatuhi oleh Levin. Albert kemudian menyodorkan berkas kontrak itu kepada Akira.
“Ini adalah kontrak kerja sama yang harus kamu tanda tangani. Saya beri kamu waktu lima menit untuk membaca kontrak itu dan tanda tangan jika memang kamu ingin bekerja di sini,” titah Albert langsung membuat Akira menelan ludah kasar.
“Membaca kontrak kerja sebanyak dua puluh lebih halaman dalam waktu lima menit? Mana cukup?” gerutu Akira dalam batinnya. Meski begitu dia tidak ingin terlihat mengeluh untuk tugas pertama yang sederhana.
Tak sempat membaca secara detail, Akira hanya membolak-balik kontrak itu sekilas dan langsung tanda tangan. Sama sekali tak terlintas kemungkinan buruk tentang ketentuan dalam kontrak itu. Akira percaya perusahaan besar seperti Lexie Company pasti sangat profesional.
“Ini, Pak. Saya sudah tanda tangan kontraknya,” ujar Akira sembari menyerahkan kembali berkas itu.
“Baiklah. Kontrak ini akan saya simpan. Kalau begitu saya ucapkan selamat bergabung dengan perusahaan kami. Kamu bisa masuk bekerja mulai besok,” ucap Albert sembari menjabat tangan Akira.
Akira tersenyum gembira berhasil mendapatkan pekerjaan itu. Tidak hanya Albert, Levin pun mengucapkan selamat pada Akira dan mengantar gadis itu keluar dari ruangan atasannya. Sebelum meninggalkan kantor, Levin sempat memberikan arahan agar Akira tidak datang terlambat esok hari sebab Albert tidak suka orang yang tidak tepat waktu.
Akira mengangguk mengerti dan berlalu setelah mengucapkan permisi. Perasaannya terlalu didominasi bahagia hingga ia tak merasakan keanehannya. Bukankah terlalu mudah baginya bisa diterima bekerja di perusahaan sebesar itu.
Sementara dalam ruangannya, Albert tersenyum puas merasa meraih kemenangan. Levin yang kembali menemuinya juga mengerti apa yang sedang dirasakan Albert. Levin juga salah satu orang yang terlibat dalam rencana laki-laki itu.
“Selamat datang, Akira. Kamu sudah terjebak lebih jauh dalam permainanku,” ucap Albert sembari menyeringai licik.
“Kau sungguh serius menjalankan semua rencana ini hingga melibatkan gadis itu dalam urusan pekerjaan,” komentar Levin.
“Aku akan melakukan apa pun untuk memenuhi hasratku, Levin. Sekarang kamu simpan dengan baik kontrak yang sudah dia tanda tangani. Kontrak itu akan menjadi senjata untuk menekannya agar menuruti segala perintahku,” kata Albert.
“Aku akan mengikuti semua yang kamu perintahkan. Tapi aku hanya ingin berpesan satu hal. Jangan sampai membawa Akira terlibat lebih jauh dalam hidupmu justru akan membuatmu jatuh. Aku harap pekerjaan kita tetap berjalan secara profesional meski di balik alasanmu mempekerjakan gadis itu adalah bagian dari upaya balas dendam,” pesan Levin.
Albert hanya tersenyum mendengar nasihat dari Levin. Baginya Levin bukan sekedar sekretaris tapi juga seorang sahabat. Levin tahu tentang rencana balas dendam Albert pada Akira. Termasuk perbuatan bejat sang atasan yang sudah menodai kesucian gadis polos itu.
Levin tahu motif balas dendam Albert karena ibunya Akira yang bernama Sofia sudah merebut ayah Albert dari Tiana hingga menyebabkan ibu temannya itu depresi dan bunuh diri. Meski begitu Levin tetap kasihan pada Akira. Gadis itu menjadi sasaran balas dendam teman sekaligus atasannya meski tidak tahu apa-apa.