Jas dokter,check!!.
Alat alat periksa gigi, check!!.
Hand sanitizer, check!!.
Peralatan lenong, check!!.
Wait, tapi jangan pikir aku pemain lenong ya!!. Aku mahasiswi kedokteran gigi yang sedang mempersiapkan skripsi, tapi masih harus berjuang supaya mendapatkan izin praktek. Usiaku masih muda, baru juga mau 21 tahun, karena aku sekolah cukup cepat waktu masih kecil dulu. Jadi di usia 17 tahun lebih dikit, aku sudah lulus SMA, lalu masuk universitas kedokteran gigi sebuah universitas negeri ternama almamater mami papiku.
Mamiku seorang dokter gigi juga, bahkan sudah doctoral, karena sempat jadi direktur sebuah rumah sakit swasta rasa rumah sakit negeri, karena konsen memberikan pelayanan kesehatan pada warga tidak mampu yang membutuhkan bantuan kesehatan. Sekarang pun mamiku masih buka praktek gigi di ruko dekat rumahku, dan masih jadi dosen di universitas swasta ternama, karena mulai merasa bosan di rumah saja di saat anak anaknya semakin besar. Papiku pengusaha dalam bidang advertising dan juga pengusaha beberapa pom bensin, karena mamiku adalah putri seorang mantan pejabat perusahaan minyak negara. Jadi papi dan mamiku bisa dengan mudah terjun di bidang usaha pom bensin tadi.
Jadi kehidupan keluarga cukup kayalah ya, walaupun tidak bisa di sebut keluarga konglomerat. Aku punya satu orang adik lelaki, yang masih kelas 2 SMA, namanya Irash Tian Atmadja. Namaku sendiri lupa aku beritahu ya?. Namaku Karra Bella Atmadja. Nanti kalo aku sudah lulus dan dapat surat izin praktek dokter gigi, baru deh bisa di tambah drg, di depan namaku. Mimpiku itu, heheheh.
Nama mamiku, dr. Karina Dwi Mahardika Atmadja, karena nama papiku Toby Surya Atmadja. Tapi papi lebih suka di panggil Obi, karena papi bilang huruf T dari namanya sudah di berikan pada mamiku, yang selalu di panggil Tayang Tayang. Lucu ya?, lucu memang, dan itu romantisme receh ala mami papiku, yang sampai sekarang masih saja berlaku. Jadi jangan kaget kalo papi memanggil mami dengan panggilan Tayang, sampai sekarang dari aku kecil sampai aku sebesar sekarang, masih saja memanggil mami dengan Tayang. Nanti aku cerita lagi deh, sekarang aku harus bersiap ke yayasan rumah singgah untk anak anak jalanan, dan sekaligus panti asuhan yang hanya khusus menampung anak anak bayi yang di buang di jalanan oleh orang tuanya yang tidak bertanggung jawab. Nanti sambil berjalan aku cerita lagi juga.
Sekarang aku harus buru buru keluar kamarku supaya aku tidak terlambat datang ke yayasan tadi untuk melakukan kegiatan rutin bulanan yang di adakan pemilik yayasan. Apalagi kalo bukan pelayanan kesehatan untuk anak anak jalanan dan anak anak panti asuhan tadi. Akan ada tim dokter umum dan anak yang akan bertugas mengecek kesehatan anak anak dan masyarakat sekitar yayasan di setiap inggu pertama setiap bulannya. Aku selalu mengambil bagian karena aku dokter juga, walaupun masih calon. Dan karena rumah sakit yang jadi rekanan yayasan itu juga, merupakan rumah sakit tempat aku kerja part time di poli gigi sebelum nanti aku jadi koas dokter gigi. Ya bisa di bilang sebagai ucapan terima kasihku, juga karena aku suka melakukan kegiatan itu. Seru aja menemukan anak anak yang antusias berceletoh dan bertanya saat aku jelaskan cara menyikat gigi yang baik, atau cara gimana menjaga dan merawat kesehatan gigi. Lalu ada papiku yang setiap bulan selalu menyumbangkan sikat gigi dan pasta gigi pada anak anak yang datang untuk memeriksa gigi mereka di yayasan.
Tapi orang tuaku tidak selalu ikut, mereka punya kesibukan sendiri, jadi terkadang hanya aku yang terlibat dalam kegiatan ini. Tidak masalah, untukku.
“Hai semua…morning…” sapaku pada papi mami yang sudah duduk manis di meja makan untuk menungguku sarapan bersama.
“Morning sayang” jawab mami lalu menanggapi ciuman pipiku begitu pun papiku yang duduk di puncak meja makan.
Lalu aku duduk di kursi di hadapan mami.
“Jagoan belum bangun pih?” tanyaku pada papi yang selalu tau apa yang di lakukan anak anaknya.
“Biasa kalo hari minggu seperti apa kegiatan adikmu. Selepas subuh pasti tidur lagi” jawab papi.
“Harusnya mulai kamu tegur Yang, sudah mau kelas 3 SMA, jangan kamu biarkan nongkrong trus dengan teman temannya kalo malam minggu” kata mami bersuara.
Papi berdecak.
“Sudah biar saja Tayang, masih masanya dia bersenang senang di luar dengan teman temannya. Toh aku atau kamu tau, dimana dia menghabiskan waktu. Jangan terlalu bawel kamunya” jawab papiku.
Gantian mami berdecak.
“Kamu sih dari dulu selalu santai menghadapi anak anak. Nanti aja kalo urusan sekolah mereka jeblok, aku yang repot” keluh mami yang memang lebih serius dari papi kalo urusan sekolah anak anak mereka.
Tapi aku suka mami dan papiku yang seperti ini. Mami keras untuk urusan pendidikan sekolah, sementara papi cukup keras urusan pendidikan agama yang menjurus pada urusan moral dan akhirat. Mamiku aja pakai hijab dan gamis panjang semenjak aku SD. Sempat kaget sih dengan keputusan mami yang menurutku dulu terlalu tiba tiba dan tidak bertahap. Langsung aja gitu pakai gamis gombrong dan hijab panjang dan lebar, di saat dua sahabat mami masih pakai baju mengikuti trend fashion kekinian. Tapi ya siapa yang bisa menebak kapan hidayah datang pada diri seseorang. Dari keraguan sekarang malah aku kagum pada keteguhan mami yang tetap istoqomah dengan pakaian muslim syar’i dan urusan ritual keagamaan mami pun sangat disiplin sekali juga mengikuti papiku, walaupun terkadang mulut mami tetap saja terkadang sembarangan. Mamiku tipe yang ceplas ceplos dan blak blakan. Suka gak suka, dia akan tunjukkan dengan jelas dan terang terangan dan bukan di belakang.
“Kalo kamu lihat mami suka bicara keras dan cenderung tidak pakai rem, sadarinyalah hal it umami lakukan karena mami tidak suka bersikap munafik, dimana di depan orangnya bermanis manis, tapi di belakang menusuk. Ketahui jugalah, sekalipun mami hilang respeck pada seseorang, bukan berarti mami membenci orang tersebut. Yang mami tidak suka pasti etitude atau kelakuannya yang tidak baik. Pada orangnya mah mami tidak akan pernah benci kak. Toh mami manusia juga yang punya kekurangan. Hanya berusaha mengingatkan kalo yang di lakukan tidak baik, selebihnya urusan dia dengan Tuhan. Kalo mami benci pada orangnya, mana mungkin mami menjadi dokter yang mengharuskan mami memperlakukan setiap manusia dengan baik, tanpa alasan apa pun. Mau orang kaya atau miskin, mau orang baik atau gembong teroris, mami harus melihat setiap orang dengan kacamata kemanusiaan” kata mami waktu itu.
Mungkin mami takut aku berpikir, mami jahat sekali pada orang, atau takut aku berpikir mami arogan, egosi atau sok paling benar sendiri. Padahal aku tau kok, mamiku orang baik, sekalipun mulutnya itu loh.
“Mukenamu di bawakan sayang?” tegur mami menjeda lamunanku yang jadi berhenti makan karena melamun tadi.
“Pasti dong mih” jawabku buru buru.
“Good, jangan pintar godain bujang saja kerjamu” ejek mami kemudian.
Aku tertawa menanggapi.
“Mami gak masalah soal kamu yang selalu pecicilan ke bujang teman temanmu, kamu tau hal itu dari dulu. Tapi kamu tetap harus punya pakem rem gimana caranya bersikap sebagai anak perawan baik. Ya caranya gimana?, ya dengan kamu disiplin melakukan ritual agamamu, jadi kamu faham ilmu malu, kalo kamu tau kapan waktunya kamu menutup auratmu saat kamu melakukan kewajibanmu sebagai umat Tuhan. Bukan untuk harga diri papi dan mami nak, tapi untuk harga dirimu. Kamu tetap harus bisa membuat batasan mana sikap murahan dan mana sikap ramah tamah” nasihat mami selalu sebenarnya.
Dan aku selalu mengangguk.
“Mami gak lagi bicara dan mengacu pada satu namakan?” gurauku.
Mami tertawa.
“Memang masih belum move on?” ejek mami mengerti siapa yang aku maksud.
Gantian aku tertawa.
“Konsep move on itu kalo tuh bujang pernah jadi pacarku mih, kan mami tau, sampai sekarang kami hanya tetap berteman saja, seperti mami yang juga berteman baik dengan mamanya” balasku.
Mami tertawa lagi.
“Kita sedangkan siapa sih?” jeda papi sudah selesai sarapan karena sudah minum teh hangat miliknya.
“Jangan pura pura Yang, kamu tau siapa yang perawanmu maksud” protes mami.
Papi tertawa juga.
“Bujang Gladis, teman kamu gibah” ejek papi.
Mami tertawa lagi, dan aku ikutan.
“Memangnya kamu masih ngefans sama bujang teman mamimu?, papi pikir kamu sudah punya beralih pada bujang lain, mungkin calon dokter teman kuliahmu” komen papi.
Aku menghela nafas.
“Papi kaya pernah muda aja. Aku faham banget loh gimana papi yang tetap ngefans sama mami sekali pun dulu mami cuekin dan galakin trus. Tante Risda cerita terus sama aku” protesku.
Tante Risda itu adik bontot papiku, dan sering jadi teman curhatku, orangnya menyenangkan dan seru, begitu juga suaminya yang suka aku panggil cing Mamat karena asli orang betawi.
Kali ini papi terbahak dan mami cengar cengir.
“Kayanya purtimu harus belajar darimu gimana caranya menaklukan orang jutek yang sebenarnya baik dan penyayang, macam aku gini, yang mulutnya doang galak tapi hatinya baik” komen mami.
Aku jadi tertawa.
“Air laut siapa yang garamin” ejekku.
Mami sampai terbahak mendengar komentarku. Hanya papi yang akhirnya menghela nafas.
“Anak kita perempuan, bukan dia yang harus berjuang menaklukan lelaki. Tapi kalo berdoa supaya dapat jodoh dan imam yang baik, baru papi dukung nak. Usoli yang tekun pada Tuhan, minta pada Tuhan apa pun, termasuk lelaki yang jadi impianmu atau harapan untuk masa depanmu nanti. Biar nanti Tuhan yang memutuskan apa yang terbaik untukmu, kamu gak usah takut tidak dapat lelaki baik di masa depan. Papi yakin, karena kamu putri papi yang baik, pasti akan punya pasangan baik juga. Hanya entah kapan, pasrahkan semua pada Tuhan” kata papi sambil menatapku.
Aku balas tersenyum menatap papi. Papiku memang sebaik ini kok.
“Yang, bukan berarti kamu tidak suka bujang Gladiskan?” tanya mami malahan.
Papi menghela nafas lagi. Kalo sudah bicara soal bujang dan aku putrinya, papi suka berhenti konyol, dan selalu tampak serius. Itu yang kadang buat aku merasa kehilangan papi yang sebenarnya suka sekali bercanda.
“Bukan begitu, baik anak itu. Tapi baik menurut kita belum tentu baik untuk Bella atau baik menurut Tuhan. Pasrahkan saja semua pada Tuhan Tayang. Jangan karena kamu berteman baik dengan orang tuanya, lalu memaksakan kehendakmu. Atau kalo pun menurutmu anak itu baik untuk Bella, sebagai seorang ibu, lebih baik doakan yang baik untuk putrimu. Ridho Ilahi sama saja ridho orang tua. Kamu orang tua Bella, kalo kamu ridho Bella dengan bujang temanmu, ya sampaikan pada Tuhan lewat doa. Biar Tuhan yang memutuskan. Kamu sudah banyak belajar bukan?, kalo ada kuasa di atas kuasa manusia?. Jadi sekali lagi, pasrahkan semua pada kuasa itu” jawab papi.
Mami akhirnya mengangguk.
“Well, sayang apih, ayo kita berangkat, sudah jam 8 sementara acaranya jam 9 pagi. Apih yang drop kamu di sana, nanti kamu bisa telpon apih kalo kamu sudah mau pulang dan butuh jemputan” kata papi menjeda.
Aku mengangguk lalu buru buru meminum tehku sebelum ikutan bangkit untuk pamit pada mami yang ikutan bangkit juga untuk mencium tangan papi dan menanggapi cium tanganku. Papi dan mami memang ada acara, jadi kali ini tidak ikutan membantu di yayasan, tapi kalo menyumbang sikat gigi dan odol untuk anak anak, setiap bulan pasti mereka lakukan. Itu cara mereka berbagi antara sesama. Tidak melulu harus berupa uang bukan?. Dalam bentuk barang bermanfaat juga bisa. Lalu kenapa nyumbangnya sikat gigi dan odol?. Terkadangkan orang banyak abai untuk kebutuhan yang sebenarnya murah dan sepele tapi bermanfaat untuk kesehatan. Jangan macam macam loh, sikap gigi dan odol itu bermanfaat sekali.
“Om, bawa sikat gigi sama odol lagi?” tegur bujang yang tadi di rumah jadi bahan pembicaraanku dan mami papiku.
“Iya nih No, belum mulaikan acaranya?” jawab papi sambil menanggapi cium tangan bang Noah lalu membuka bagasi mobil papi begitu kami berhenti di loby yayasan yang sebenarnya milik keluarga besar bang Noah.
Iya namanya Noah, tepatnya Darayan Noah Sumarin Tedja. Cucu konglomerat ternama di tanah air. Kalo aku panggil tambah abang, karena memang dia lebih tua setahun lebih dari aku, untuk menghormati aja sih. Soal keceh jangan di tanya lagi. Badai pokoknya deh, pakai banget. Tapi bukan semata mata karena dia ganteng dan kaya aja yang buat aku suka padanya. Dan entah kapan aku suka bang Noah yang dari dulu jutek sekali padaku. Pokoknya tukang ngomel deh. Dan aku selalu suka menggodanya, atau memancing amarahnya. Lucu aja, soalnya laki tuh gak pentas banget galak, kalo kelihatan cool harus. Tapi bang Noah itu jauh dari kesan cowok cowok cool, kalo dia itu sulit sekali untuk menahan emosi. Dimana aja marah marah kalo dia kesal pada sesuatu, termasuk padaku, kalo aku mulai pecicilan atau susah di bilangin. Jadi kalo kalian tanya kapan aku mulai suka dengan nih bujang jutek dan emosian, aku gak tau.
Dari kecil, karena kami besar bersama, dan sepupu kembarnya adalah teman baik aku, aku memang sering sekali menye menye padanya, atau terang terangan bilang suka pada bang Noah. Habisnya walaupun dia jutek terus, ngomel ngomel trus, aslinya dia baik dan perhatian. Laki soleh banget juga, kalo dari semenjak kecil, udah disiplin ibadah usoli. Sayang banget juga pada mamanya, kemana aja mamanya di kawal, begitu juga adik perempuannya. Papanya kadang terlalu sibuk mengurus perusahan milik keluarga yang setauku akan di wariskan pada bang Noah nantinya, juga adik lelakinya yang bernama Aiden.
“Minggir apa Bel, elo kaya plang perboden di jalan aja, berat nih gue bawa kardus sikat gigi” protesnya karena aku bertahan berdiri dan menghalangi jalanya membawa kardus berisi sikat gigi dan odol sumbangan papi mamiku ke dalam yayasan.
Aku tertawa.
“Tadi ada papi gue, abang gak berani ngomel gini sama gue. Takut ya di tabok papi gue, karena ngomel sama incess kesayangan dia?” gurauku.
Dia memutar matanya.
“Bawel lo sih, gak bisa ya gak bawel?, bukan masuk trus siap siap latihan buka praktek gigi. Nyokap gue udah cari elo juga. Jangan jangan elo dukunin ya, biar nyokap sama ade gue ngefans sama elo?” omelnya.
Apa aku bilang, pasti ngomel, kalo gak ngomel bukan bang Noah namanya.
“Kalo air dukun manjur buat naklukin hati nyokap sama ade elo, ngapain gue malah kasih air itu sama nyokap dan ade lo bang, mending gue kasih elo langsung supaya elo naksir gue juga” jawabku.
Dia memutar matanya malas.
“Ngarep banget ya jadi mantu nyokap gue ya?” ejeknya.
Aku tertawa.
“Serah elo dah, minggir ah gue bawa kardus ini ke dalam, tar papi elo pikir gue sibuk rayu elo” usirnya kemudian dengan mode galak.
Aku tertawa lagi lalu bergeser supaya dia bisa jalan masuk gedung yayasan. Bujang mana yang mau angkat angkat kardus berisi sumbangan untuk yayasan, di saat dia bisa memerintahkan satpam yang berdiri tidak jauh dari kami, atau menyuruh siapa pun pekerja yayasan, ini malah dia yang bolak balik membantu papiku mengangkat kardus berisi odol dan sikat gigi sumbangan papi.
“Sudah ya, papi pulang dulu, baik baik ya nak, bantu yang benar. Jangan lupa usoli dan kabarin papi kalo kamu mau minta jemput pulang” pesan papi begitu kembali dan selesai dengan urusan kardus kardus.
Aku mengangguk lalu mencium tangan papiku lalu membiarkan papi beranjak sebelum aku masuk gedung yayasan.
“BELLA!!, tunggu!!” jeda suara.
Dan aku temukanlah kak Naya, masih temanku, setidaknya karena orang tuanya teman baik papi dan mamiku juga. Pada akhirnya karena orang tua kami akrab, anak anaknya pun jadi berteman baik. Aku jadi menunggu kak Naya turun dari mobil di antar papanya juga yang melambai dari dalam mobil menyapaku.
“Dari tadi Bel?” tegurnya begitu dia mendekat.
Aku mengangguk. Kak Naya itu calon arsitek dan sedang bersiap maju sidang kelulusannya, jadi dia sudah mulai kerja full time di perusahaan kontraktor yang di pimpin papanya sendiri. Persis bang Noah sih, hanya bang Noah lebih santai, jadi skripsinya belum rapi rapi. Dan bang Noah juga sudah mulai kerja full time di perusahaan yang papanya pimpin. Kami dulu satu kampus dengan bang Noah juga, tapi sekarang sudah semakin jarang ke kampus, karena aku mulai kerja parttime juga di rumah sakit juga.
Dan aku harus cerita, kalo bang Noah itu suka pada kak Naya dari dulu. Entah rasa suka seperti apa, pokoknya perhatian banget deh, dan jarang banget ngomel kalo sama kak Naya. Kadang aku iri sih, soalnya aku seringan di marahi bang Noah di banding dia bersikap lemah lembut.
“NAY!!!” tuhkan antusias banget bang Noah mendapati kak Naya datang.
Perlahan aku mundur saat bang Noah semakin dekat.
“Datang di antar siapa?, kenapa gak minta jemput gue aja?” tanya bang Noah antusias sekali bukan?.
Aku sudah diam, takut mengganggu obrolan akrab mereka. Sudah biasa aku begitu. Dari dulu juga begitu.
“Bokap No” jawabnya.
“Oh…kirain di antar yang lain, nanti gue sakit hati” komen bang Noah.
Kak Naya tertawa.
“Ayo ah, ayo Bel, udah waktunya kita mulai tugas” ajak kak Naya memang selalu mengabaikan bang Noah kalo bahas soal seperti tadi, entah karena ada aku, atau memang karena memamg kak Naya tidak perduli dengan bahasan itu dengan bang Noah. Aku juga gak berani tanya, karena aku yakin kalo kak Naya pasti tau, kalo aku sebenarnya suka bang Noah, sekalipun terkamuflase dengan candaan. Gak enak aja, soalnya kak Naya tidak pernah jahat sama aku, malah care banget juga.
“Bel!!, kok bengong, ayo dong semangat, biar cepat jadi dokter gigi” ajak kak Naya sampai mengulurkan tangannya padaku.
Aku tersenyum juga menanggapi, lalu kami jalan beriringan dengan bang Noah di sisi kak Naya, dan mereka trus mengobrol. Kayanya aku harus mulai berpikir untuk mengikhlaskan perasaanku untuk bang Noah deh. Kak Naya kasihan, kalo beneran suka sama bang Noah, terus tau aku suka, jadi dia tidak sama aku. Aku sepertinya harus mulai belajar mengikuti saran papiku untuk mengikhlaskan masalah jodohku pada Tuhan, di banding aku trus menerus harus menahan perasaan untuk harapan yang tidak pernah bisa aku gapai. Rasanya hati bang Noah terlalu sulit aku genggam.
Noah POV.
Panasnya!!, poll banget padahal sudah berada di bawah tenda karena aku sedang melakukan kegiatan rutin bulanan di yayasan anak jalanan dan panti asuhan milih keluargaku. Mama dari tadi bahkan sudah sibuk kipas kipas saking cuaca panas sekali. Bagusnya papa ikut jadi aku tidak harus mengurus mama yang kadang masih bertingkah seperti anak kecil saat dirinya tidak merasa nyaman. Dan bagus juga adikku yang bungsu tidak ikut karena menginap di rumah eyangku dari pihak mama, bersama sepupu perempuanku yang lain. Jadi aku tidak perlu juga merasa repot mengurus adik bungsu perempuanku yang sama manjanya seperti mamaku.
Kenalkan, aku Darayan Noah Sumarin Tedja, usiaku masih muda, baru 22 tahun, dan aku masih kuliah tingkat akhir jurusan aritektur di sebuah universitas negeri ternama. Sumarin itu nama keluarga mama, dan Tedja nama keluarga papaku. Aku tiga bersaudara. Adik keduaku lelaki Aiden, berusia 4 atau 5 tahun di bawahku, dan dia baru masuk kuliah jurusan manageman bisnis. Dia tidak tertarik mengambil jurusan arsitektur sepertiku atau papa. Dia lebih tertarik mengambil jurusan itu karena akan focus mengurus bisnis papa dalam bidang sport center, karena kecintaan Aiden pada olah raga juga. Lalu si bontot adik perempuanku. Namanya Putri, kami biasa memanggilnya Puput. Lebih jauh lagi beda umurnya denganku, sekitar 7 atau 8 tahun, jadi masih kelar 1 SMA. Manjanya pool karena anak bontot dan satu satunya perempuan. Puput itu pusat perhatian semua keluargaku.
Okey nanti kita cerita soal aku sambil berjalan saja ya?, terlalu banyak soalnya kalo aku ceritakan sekarang, mengingat aku sedang melakukan kegiatan atas nama kemanusiaan. Ceritanya begitu, padahal ada tujuan lain dari keikut sertaanku dalam kegiatan rutin bulanan yang di pimpin langsung oleh mamaku di bantu papaku. Juga para donatur yayasan yang sebagai besar dari keluarga mamaku, maklum keluarga mamaku termasuk keluarga orang kaya, atau konglomerat, kalo semuanya punya kerajaan bisnis masing masing. Dari mulai abang lelaki mamaku satu satunya, yang punya usaha kontruksi bangunan, design interior, jaringan hotel sampai coffee shop. Jangan di tanya eyangku. Siapa tidak kenal eyangku, PRASETYA SUMARIN, walaupun sekarang sudah total pensiun karena semakin tua, tetap aja semua orang di negeri ini tau, kalo eyangku itu konglomerat, sampai punya anak anak, baik kandung atau angkat yang kesemuanya sukses dalam bidang bisnis yang mereka geluti. Setidaknya eyang kung punya dua anak kandung, dan 3 orang anak angkat, putra putri dari almarhum abang eyang uti. Ada mama Sella, mami Misel, dan papa Reno. Jangan heran, dalam keluarga kami tidak mengenal om tante, tapi papa mama, ayah bunda, mami papi, lalu di ikuti namanya, walaupun bukan orang tua kandung.
Kenapa begitu?, karena semenjak opa Narez meninggal, para orang tua tidak mau ada anak yang merasa yatim atau piatu sekali pun orang tua meninggal. Semua jadi anak dari orang tua lain. Aku suka sih jadi membuat keluarga jadi semakin dekat dan saling sayang trus satu sama lain. Hal baik yang selalu di ajarkan kedua eyangku dan juga opa Narez saat masih ada.
Well. lupa kasih tau, alasan lain sampai aku mau ikutan acara untuk amal dan kemanusiaan ini. Tentu saja karena ada Naya, gadis yang diam diam aku kagumi, karena aku takut juga kalo aku bilang, aku jatuh cinta pada Naya. Kanaya Natalegawa, gadis temanku dari kecil, dari SD bahkan sampai akhirnya kami berdua duduk di bangku kuliah. Naya itu…apa ya?. Aku bingung juga kenapa aku suka dengan sosok gadis pendiam yang kadang berubah galak kalo di ganggu oleh lelaki yang tidak dia suka atau tidak buat dia nyaman. Jujur aku suka tipe gadis yang seperti Naya ini. Pendiam, tidak banyak gaya, kalem banget deh. Jadi terkesan elegance gimana gitu. Berkelas. Dan aku sangat tidak suka dengan tipe gadis gadis cerewet apalagi berisik sekali. Mungkin karena mama dan Puput adikku begitu kali ya?. Jadi aku cukup kewalahan kalo menghadapi tipe gadis yang berisik dan cerewet. Apalagi kalo tingkahnya centil gitu, yang pada siapa aja tertawa, seperti tidak punya etitude perempuan baik baik. Menurutku ya?, terserah kalo kalian tidak setuju. Itu urusan kalian dengan diri kalian sendiri.
Lalu tentu saja karena Naya itu cantik kerena kesederhanaannya, dan kedewasaan sikapnya. Tenang banget jadi cewek cewek. Tidak pernah tertawa yang berlebihan, tidak pernah berteriak teriak, dan jauh sekali dari kesan cewek cewek kekinian, dari sisi fashion atau make up. Wajahnya hampir flawless, dan gaya pakaiannya hampir tertutup walaupun terkadang dia pakai dress selutut, tapi tentu saja bukan model dress ketat apa lagi terbuka. Kalo pergi ke kampus selalu pakai kemeja dan celana jeans juga flat shoes atau sepatu kets dan bukan sepatu sepatu hak tinggi atau model sepatu bots ala ala korea yang banyak di sukai gadis gadis fashionista yang wara wari di mall atau medsos. Gadis gadis seperti itu, menurutku tidak punya jati diri sendiri, dan cenderung mengekor gaya artis ternama atau selebritis supaya kelihatan hits atau eksis. Buat kepalaku pening, kalo sudah melihat gadis gadis model begini berkumpul dengan pemandangan udel yang ngintip ngintip dari balik kaos ketat sebatas pusar yang semakin banyak di pakai gadis gadis tipe ini di mana saja. Bagian bawahannya sebenarnya bagus, kalo mereka pakai celana celana kulot gombrong, tapi bagian atasnya outdoor, kalo mama Zia bilang, itu istri papa Eno, anak angkat eyangku.
Pokoknya aku suka sekali pada Naya. Walaupun aku tidak pernah berani terang terangan bilang itu sekalipun kami sering sama sama, karena kan satu kampus dan satu jurusan, kami punya minat yang sama. Dari sekolah sebenarnya kami sekelas dengan satu orang temanku yang akhirnya jadi pacar sepupuku. Namanya Biyan, sayang dia harus kuliah di Amrik. Padahal bersama Naya, kami pernah merencanakan kuliah bareng. Biyan terlalu penurut, dan tidak berani membantah orang tua. Padahal gara gara itu, dia harus LDRan dengan salah satu sepupu kembarku, anak dari abang kandung mamaku. Nantilah aku cerita, karena keluargaku. Aku sekarang harus menegur Naya untuk menghentikan kegiatannya mendata siapa siapa saja orang yang hari ini dapat pelayananan kesehatan, baik umum atau kesehatan gigi.
“Nay udahan yuk, udah sore, kita absen asar dulu, trus gue antar elo pulang” jedaku pada Naya yang serius sekali pada laptop miliknya yang tetap terbuka.
Yang lain saja sudah beres beres. Acaranya sudah selesai dari jam 2 tadi, semenjak di mulai dari jam 9 pagi. Rehat jam 12 siang untuk sholat dan makan, di lanjut sisa antriannya lalu selesai jam 2 tadi. Tapi ya butuh waktu untuk beres beres sih.
“Wait No, om Rey butuh data ini, mampung gue masih sempat” jawabnya tanpa menatapku.
Aku menghela nafas pelan. Sudah mau jam 4 sore. Mamaku pun sudah pulang dengan papaku. Aku terpaksa bertahan ya karena ingat Naya belum selesai dengan urusannya. Padahal aku cape sekali mengatur anak anak yang mengantri untuk di periksa gigi dan mendapat odol dan sikat gigi gratis dari teman mama dan papaku, yang putrinya ada di sini, tapi kemana ya Bella?. Namanya Bella, mahasiswi kedokteran gigi yang sudah magang di rumah sakit milik keluargaku juga, sekalipun dia masih kuliah. Mungkin sudah pulang, karena tadi aku lihat dia udah beres beres dan masuk masjid di lingkungan yayasan saat azan Asar terdengar, sekitar jam 3 lebih tadi.
“Yap selesai, waktunya absen trus go home” kata Naya menjeda diamku.
Paling riangnya Naya ya hanya segitu itu, lalu dia akan diam lagi membereskan barang barang bawaannya berupa tas laptop dan tas ransel model cewek. Rambutnya di kepang jadi kelihatan rapi walaupun wajahnya berkeringat, tapi tetap cantik, karena tanpa make up. Coba kalo pakai make up, apa gak meleleh alas bedak yang di pakai mirip dempul mobil, selalu buat aku malas tuh kalo lihat muka cewek cewek full make up terus keringetan. Hadeh, illfeel aslinya.
“Yuk No, gue cape banget” ajaknya padaku.
Aku mengangguk. Aku pun jadi lelaki yangt tenang kalo dekat Naya, karena dia diam saja juga. Paling senyum menanggapi sapaan petugas panti yang mengenalnya atau dadah dadah ke arah anak anak yang masih bertahan untuk membantu bersih bersih. Sampai kami tiba di masjid lalu berpisah untuk absen asar masing masing. Setelah selesai, aku chat Naya untuk bilang kalo aku menunggunya di depan masjid.
“Ayo pulang” ajaknya bersuara.
Jalan beriringan lagi kami, dan tetap tanpa kata. Kalo orang lain mungkin bosan ya?, kalo aku malah suka, karena terasa sekali tenang. Sampai kami di loby yayasan.
“Lah bokap elo jemput?” tanyaku melihat papanya mendekat setelah menyadari kehadiran kami saat mengobrol dengan satpam yayasan.
“Gue bilang sih minta di jemput jam 4, tepat waktu juga bokap gue, kayanya takut gue ngambek” jawabnya santai sekali lalu mencium tangan papanya lalu memeluknya.
Rasanya aku mau protes kalo aku bersedia mengantarnya pulang, tapi bisa apa aku, selain mendekat untuk menyapa papanya Naya.
“Kirain om gak jemput” komenku setelah menegur om Saga papa Naya, CEO Generel World perusahan kontruksi bangunan milik abang kandung mamaku tadi, ayah Nino namanya.
Dia tertawa sambil melirik Naya yang memeluk pinggangnya posesif dan dia merangkul bahu Naya.
“Om telat datang jemput aja gak berani No, putri om tukang ngambek kalo kecapean” ledeknya pada Naya.
Aku tertawa mengikuti Naya.
“Pah…jangan bongkar aib putri papa sendiri. Gak baik itu” protes Naya.
Om Saga tertawa lalu sebuah ciuman mendarat di kepala Naya. Aku tersenyum menatapnya dan happy melihatnya. Dulu aku soalnya tau benar gimana sedihnya Naya waktu papa mamanya sempat cerai lalu menikah dengan orang lain sebelum akhirnya menikah lagi, setelah pasangan masing masing meninggal. Papa tiri Naya karena kecelakaan pesawat, kalo mama tirinya karena sakit kanker, dan mama tiri Naya itu sempat jadi kepala yayasan menggantikan mamaku yang baper karena eyang buyut meninggal waktu aku kecil dulu.
“Sudahkan, waktunya pulang” jeda om Saga.
Naya mengangguk.
“Gue balik dulu ya No, asalamualaikum” pamit Naya padaku.
“Walaikumsalam” jawabku lalu mengawasi gimana ayah dan anak itu kelihatan akur dan dekat sekali satu sama lain sambil bergerak menuju parkiran mobil.
Aku menghela nafas setelahnya. Hilang lagi kesempatanku berduaan Naya, tapi bisa apa aku. Hanya bisa menerima semua. Yang penting aku tau, dia akan selamat sampai rumah lagi dengan papanya. Lalu baru mau aku beranjak mengambil kunci di meja resepsionis supaya aku tidak lupa dengan kunci mobilku, aku malah menemukan Bella yang berjalan lambat menuju loby sambil focus pada handphonenya. Belum pulang ternyata Bella. Semoga di jemput papinya seperti tadi dia di antar ke yayasan. Jadi aku santai saja meminta kunci mobilku lalu bergerak ke loby luar yayasan. Ternyata Bella masih di situ. Aku awasi sebentar dia yang masih focus pada handphone dengan tas selampeng dan jas dokter putih yang dia sampirkan di lengan tangan kanannya.
Cantik Bella juga, kalo dia setenang sekarang. Apalagi kalo dia sedang pakai jas dokternya dan melakukan pekerjaan sebagai asisten dokter gigi baik di acara tadi atau di rumah sakit keluargaku tempat dia magang. Tapi kalo dia sedang tidak dengan kegiatan kedokterannya, ampun deh, bawel sekali, mulutnya tidak bisa diam. Apa aja dia bicarakan, belum dia yang suka meledekku dan bersikap menye menye. Iya kalo melakukan hal itu sama aku doang, tapi cowok cowok teman kami yang lain juga. Dandanannya pun kekinian sekali, mengikuti trend sama seperti bestienya yang juga anak seorang designer baju ternama yang aku juga kenal baik, karena jadi bestie sepupu kembarku, anak ayah Nino. Ampun pasar aja kalah kalo mereka berempat berkumpul.
Dan harus jujur aku akui, kalo Bella cukup pantas mengikuti trend fashion seperti sepupu kembarku tadi, mungkin karena di bawah arahan anak designer baju tadi itu kali ya. Pantas aja gitu yang mereka pakai, walaupun tampilan mereka berempat kekinian sekali. Soalnya mungkin juga kali ya, mereka tidak memakai make up berlebih. Cukup hanya bedak dan lip teen atau lip bam sih, pokoknya bukan lipstick, aku lupa namanya, mama suka biarkan Puput pakai juga supaya bibirnya tidak kering. Adeku tuh susah sekali makan dan minum, jadi bibirnya suka kering seperti orang puasa. Itu yang buat Puput adikku gampang sekali sakit. Ya karena susah makan banget.
Bagian mulutnya yang berisik yang kadang tidak bisa aku telorir aja. Sisanya aku bisa terima karena dia pintar, sopan dan solehah banget kalo absennya disiplin juga seperti sepupu perempuanku. Dan sekarang aku harus terjebak di keadaan yang tidak mungkin untukku mengabaikan Bella, aku tidak melihat papinya ada seperti om Saga tadi. Trus dia akan pulang dengan siapa?, kalo sudah sore begini?. Aku mendekat juga jadinya.
“Elo belum pulang?” tanyaku.
Baru dia mengangkat wajahnya menatapku.
“Nunggu taksi online” jawabnya lalu menatap handphonenya lagi.
Tumben banget pendiam banget. Biasanya berisik. Mungkin cape kali.
“Bokap elo. Irash?” tanyaku pada papi dan adik lelakinya.
Dia menghela nafas.
“Bokap gue masih temanin nyokap gue, trus ade gue sibuk kali, kalo gue telpon gak di angkat, apa masih molor” jawabnya masih tidak menatapku.
Aku gantian menghela nafas.
“Ayo gue antar pulang, batalin aja taksi onlinenya” perintahku.
“Ogah, udah dekat, kasihan” tolaknya.
Ini yang buat aku kadang kesal terus pada Bella, sudah banget di bilangin. Udah sore gini, menjelang magrib pula, kalo ada orang yang lebih bisa dia percaya untuk mengantarnya pulang kenapa dia malah mau naik taksi online?. Kadang kadang batu banget di bilangin dan di khawatirin.
“BANG!!” jeritnya saat aku merebut handphonenya lalu membatalkan pesanan taksi onlinenya.
Bodo amat dia cemberut menatapku, aku sudah terbiasa menghadapi wajahnya yang cemberut atau ngambek gak jelas, karena kalah berdebat denganku. Lagian semenjak kuliah memang Bella cenderung lebih tenang, apa karena semakin dewasa atau karena pisah dengan genk kuartet mulut lancip yang kuliah mengambil jurusan seni music dan seni lukis untuk sepupu kembarku, lalu seni design pakaian untuk satu bestienya tadi yang anak designer terkenal. Jauh dari genknya buat Bella jadi lebih tenang menurutku.
“Aku ikut gue ke parkiran, manja amat mesti gue jemput elo kesini” ajakku memaksa.
“Dih siapa yang mau di antar elo sih bang, elo yang mau, ngapa bilang gue manja” protesnya cemberut.
Buat emosi yang kaya gini tuh. Sampai aku mesti tarik tangannya untuk ikut aku ke parkiran. Mesti banget juga seperti Puput kalo ngambek karena aku suruh pulang dari acara mainnya di rumah temannya, pasti langkah kakinya di buat berat sebagai aksi protesnya padaku. Nah Bella begitu, kalo aku tidak takut jas dokternya jatuh lalu kotor, pasti aku tarik lebih kencang supaya lebih cepat masuk mobilku lalu aku antar pulang.
“Masuk!!” perintahku begitu sampai di mobilku dengan susah payah.
“ABANG NYEBELIN!!!” semprotnya tapi menurut masuk mobilku lalu membanting pintunya.
Kalo aku minta ganti pintu mobilku, akan lebih ngamuk gak ya?. Jadi aku tertawa sendiri sebelum aku menyusulnya masuk mobil. Masih bertahan cemberut dong, sampai belum pakai sabuk pengaman.
“Pakai gak sabuk pengamannya, elo mau gue di tilang polisi ya?” omelku bercanda sebenarnya.
Suka aja melihat dia lebih kesal lagi menatapku yang menatapnya menunggu menjalankan perintahku.
“APAAN LAGI TUAN MUDA TEDJA?” jeritnya dengan nada mengejek.
Sontak aku tertawa lalu dia memutar matanya.
“Enough Incesss Bella Tayang Tayang” jawabku membalasnya sebelum aku menyalahkan mesin mobilku lalu membawanya berlalu dari gedung yayasan menuju rumahnya.
Anteng sekali, tumben, hanya menatap kaca luar jendela mobil, dan mengabaikanku. Jadi aneh kalo Bella begini. Kalo Naya yang begini baru biasa.
“Gak mungkinkan dokter gigi walaupun baru calon trus sakit gigi?” ejekku menjeda diamnya.
Jalanan macet buat suntuk kalo diam diaman juga.
“Gak lucu bang, garing” komennya malas setelah menatapku sekilas lalu menatap keluar jendela mobil lagi.
Aku tertawa.
“Gue gak niat ngelawak, elo yang lebih jago ngalawak” jawabku.
Tapi dia diam saja.
“Ngapa sih Bel, tumben banget?” tanyaku tanpa becanda kali ini.
“Cape!!” jawabnya jutek dan tanpa menoleh.
Aku menghela nafas.
“Gue berusaha baik loh sama elo, gue antarin elo pulang, tapi kenapa elo jutekin gue?” keluhku.
Baru dia menoleh menatapku dengan wajah galak yang sebenarnya tidak pantas. Imut banget muka Bella tuh, macam anak kecil, beda dengan Naya. Dan karena jalanan macet jadi aku bisa balas tatapannya.
“Yang mau antar gue, elo kan?. Dan gue gak minta. Trus elo pikir gak kesal tangan gue di tarik kenceng banget, udah tau gue lagi cape, jalan dari loby ke parkiran doang aja, kaya orang kebelet boker. Malu kali sama titel tuan muda, tapi kelakuan kaya tukang sagon” jawabnya.
Astaga…ngakak dong aku. Dan dia memutar matanya lagi dengan malas lalu mengabaikanku, jadi aku hentikan tawaku, sekaligus jalanan lancar lagi.
“Lagi elo bandel trus, jadi mesti banget gue ngomel trus sama elo. Yang nurut apa jadi cewek” bantahku sambil menyetir.
Tetap diam saja dong. Jadi malas akunya mengajaknya ngomong lagi. Ternyata bisa suntuk juga seorang Bella yang aku kenal ceria trus. Sampai suara dering handphonenya menjeda diam kami. Mau tidak mau aku jadi nguping.
“Bisa?, sekarang?, kebetulan gue laper, tapi elo bawa laptopkan?” katanya pada lawan bicaranya.
Aku bertahan diam mendengarkan diam diam.
“Okey gue kesana, tunggu ya, bye” tutupnya lalu mengantungkan handphonenya lagi.
“Siapa?” tanyaku.
“Kepo lo bang” jawabnya lalu beres beres tas selempangnya yang sebelumnya dia pangku.
“Elo mau kemana?, rumah elo masih jauh” tanyaku lagi sambil bertahan menyetir mobil.
“Berhenti halte depan bang, gue janjian sama teman gue, makasih tumpangannya” jawabnya sambil menunjuk halte tak jauh dari kami.
Tentu aku tolak.
“GAK!!!, elo belum izin mami papi elo” tolakku.
Dia menggeram.
“Bukan urusan abang, lagian mami sama papi tinggal gue telpon. Gak usah lebay deh kaya elo gak kenal handphone” tolaknya.
“Gue bilang gak ya gak” jawabku bersikeras.
Dia diam menatapku kesal.
“Udah sore Bel, trus elo bilang tadi cape, mending pulang trus elo istirahat, ketemu teman elonya besok aja” lanjutku.
“Ya udah sih gak usah ngomel, gampang urusan gue mah, gue bisa langsung pergi lagi kalo elo udah antar gue ke rumah” jawabnya lalu melengos menghindari tatapanku.
Aku langsung menggeram kesal lalu menghentikan mobil serampangan sampai dia menjerit.
“BANG!!” jeritnya protes.
Aku langsung menatapnya galak, segalak tatapannya padaku.
“Tadi apa elo bilang?, bakalan tetap jalan setelah gue antar elo pulang?” tanyaku memastikan.
“Lah serah guelah” jawabnya.
“Dan gak akan gue biarin, gak akan gue antar elo pulang” jawabku.
“Bagus, gue jadi bisa turun di sini” ancamnya sambil berusaha membuka pintu mobilku.
Tapi tangannya kalah cepat dengan tanganku mengunci semua pintu mobil, untung aku pakai mobil papa yang cukup mewah, jadi punya smart lock door nya berfungsi baik dan hanya bisa aku buka dari pintu samping dari sisiku.
“Mau elo apa sih bang?, nyebelin banget” omelnya galak.
“Gue antar elo ketemu teman elo, atau gue tongkrongin elo di rumah elo setelah gue antar pulang sampai bokap nyokap elo pulang” jawabku final.
Gak ngerti banget di khawatirin jadi anak perempuan.
“Lebih nyebelin lagi jadi laki” keluhnya lalu menghempaskan punggungnya di kursi tempat dia duduk.
Aku tertawa dalam hati, memang mesti di galakin baru ngerti.
“Cepat pilih incess Bella Tayang Tayang, atau malah mau mobil kita di derek DLLAJL, karena parkir di bahu jalan protocol” kataku mengingatkan.
“Bagus” jawabnya.
“Dengan elo dan gue yang gak keluar mobil walaupun mobil derek udah bawa mobil ini ke kantor polisi” tambahku.
Baru aku denger geraman tertahannya lalu aku menahan tawaku.
“FINE!!, kalo memang elo mau banget jadi hamba sahaya gue. Kapan lagi jadiin laki turunan kompeni kaya elo buat jadi budak inlander kaya gue. BURUAN JALAN, GAK USAH KEBAYAKKAN GAYA” bentaknya di akhir.
Aku ngakak dong merasa menang.
“As your command Belle…” jawabku lebih ke mengingat gimana eyang buyut Esa berkata pada eyang buyut Fey kesayanganku saat aku kecil.
Dan Belle itu panggilan eyang buyut esa pada eyang buyut Fey, yang jadi kesayangannya. Belle ya, bukan BELLA. Beda tentu saja.
Bella POV
Kalo ada makhluk menyebalkan di muka bumi ini, pasti itu bang Noah. Gimana gak nyebelin, kalo selama hampir seharian di yayasan, dia sedikit pun tidak melihat ke arahku. Segitu aku bolak balik di depan dia, ikut membagikan pasta gigi dan sikat gigi pada anak anak yang selesai di periksa giginya oleh dokter gigi dari Twins Hospital. Sampai aku kesal sendiri. Bagusnya ada tante Adis, mamanya bang Noah dan om Radit papanya yang masih berbaik hati menyapaku dan menemaniku. Kalo gak, sudah pasti aku merasa sendirian. Dokter gigi yang jadi bosku di rumah sakit langsung pamit pulang setelah selesai melakukan tugasnya. Tadinya aku pikir masih ada dokter gigi Rayan, yang akan aku jadikan teman selama aku menjalankan tugasku sebagai relawan di yayasan. Eh dia bilang ada acara undangan pernikahan keluarganya jadi dia harus buru buru pulang. Kalo acara di adakan hari weekend memang buat orang punya acara lain di luar rumah sih, itu yang tidak aku perhitungkan.
Kalo tau aku bakalan tidak punya teman, mending aku gak usah ikutan acara ini terus di rumah aja atau pergi dengan bestuy bestuyku. Tadinya aku pikir ada bang Noah, anak muda yang ikutan, ternyata aku lupa, kalo kak Naya ikutan juga. Dan kalo ada kak Naya, pasti bang Noah akan anggap aku tidak kasat mata. Itu yang aku lupa. Makanya saat kegiatan berlangsung, bukan bang Noah focus pada anak anak yang mau buru buru dapat paket bingkisan snack yang di bawa mamanya, atau tante Adis, malah sibuk mengawasi kak Naya yang punya tugas menginput data orang orang yang berobat. Kak Naya aja gak perhatikan dia kok, terlalu sibuk melayani pasien yang mendaftar karena pasti om Rey, kepala rumah sakit yang menggantikan mamiku dulu, dan jadi penanggung jawab acara pengobatan gratis ini, butuh data pasien itu dari kak Naya. Intinya hari ini tuh jadi bad day sekali untukku.
Tadinya aku membayangkan, aku dan bang Noah seperti di adegan drama romantis neflix yang saling bekerja sama dalam acara ini. Kenyataannya di luar ekspektasiku. Tapi ya mau gimana lagi, selain aku harus pasrah menerima semua.
“Sayang!!, sini nak, duduk sama tante” undang tante Adis menjeda tatapanku pada deretan meja dan bangku di ruang makan yayasan untuk mencari tempat duduk.
Gara gara bang Noah juga yang ribut kepanasan lalu meninggalkan aku begitu saja dengan anak anak yang semakin berteriak tidak sabar menunggu jatah snack dan paket odol juga sikat gigi, aku telat bergabung untuk makan siang. Aku selesaikan dulu tugasku membagikan jatah anak anak lalu usoli zuhur untuk menghilangkan penatku baru aku bergerak untuk makan siang. Trus buat aku tidak kebagian bangku untuk duduk karena sudah penuh. Resek banget bang Noah tuh, apalagi pas aku tau, dia tinggalkan aku karena melihat kak Naya beranjak untuk usoli dan makan siang dulu. Sekarang aja mereka sudah duduk berhadapan untuk makan bersama. Mau tidak mau aku menghampiri tante Adis dan om Radit, tidak ada lagi bangku yang tersisa.
“Duduk sini nak, om mau temani om Rey” pamit om Radit malah bangkit memberikan bangkunya padaku.
“Makasih om” jawabku lalu duduk di bangku om Radit.
Dia tersenyum lembut lalu beralih pada tante Adis.
“Kamu sama Bella sebentar ya, aku gerah juga” kata om Radit sebelum merunduk mencium kepala tante Adis yang memakai hijab panjang seperti mamiku.
“Okey…kesini lagi ya Yang, nanti aku lindu” rengek tante Adis.
Om Radit tertawa lalu mengangguk sebelum akhirnya beranjak mendekat pada om Rey yang sedang mengobrol dengan kepala yayasan, tante Nuning dan suaminya. Mereka sudah selesai makan. Bahkan setiap orang punya teman, aku doang yang gak punya teman.
“Tante cari kamu dari tadi, mamimu telpon tante, karena kamu tidak jawab telpon mamimu” kata tante Adis.
Kadang aku heran sikap jutek dan galak bang Noah darimana ya?, kalo papa dan mamanya manis, baik dan simpatik sekali pada banyak orang.
“Aku silence tante, jadi gak kedengaran, takut ganggu fokusku” jawabku dan benar adanya.
Tapi aku sudah balas pesan mami dan bilang aku bersiap makan siang, dan minta maaf tidak angkat telponnya. Tante Adis mengangguk maklum.
“Ayo kalo gitu makan yang banyak, kamu sudah kerja keras sekali hari ini. Kamu tuh persis Kimmy susah sekali makan, mau buat tubuhmu sekurus apa lagi?” kata tante Adis kemudian.
Aku tertawa pelan.
“Tante bukannya susah makan juga” ejekku.
Tante Adis tertawa.
“Itu dulu Bell, waktu tante muda. Kalo sekarang gak bisa lagi, om Radit semakin tua semakin bawel suruh tante makan banyak, soalnya kalo tante sakit dia yang paling repot” jawabnya lalu tawanya berderai sebelum dia tutup mulutnya dengan tangan.
“Astagfirullah, masih aja lupa tante tuh kalo ketawa juga termasuk aurat perempuan” keluhnya kemudian.
Aku yang jadi tertawa lepas menanggapi dan tante Adis hanya cengar cengir. Selucu mamiku kalo habis tertawa terbahak lalu istigfar bilang lupa kalo tertawa termasuk aurat perempuan. Tapi anehnya di ulangi lagi, termasuk kalo mami ngomel sampai pembendaharaan kata kata lucunya keluar semua. Pasti setelah itu istigfar seakan beneran ketelepasan kalo sudah khilaf melakukan kesalahan. Padahal memang dasarnya karakter mami memang tidak bisa tinggal diam kalo melihat sesuatu yang menarik perhatiannya untuk berkomentar.
“Nanti kamu pulang sama siapa Bel?” tanya tante Adis setelah tawaku reda.
“Papi sih bilang mau jemput aku” jawabku mulai makan lagi.
Tante Adis manggut manggut.
“Papimu persis om Nino yang gak bolehin Kimmy belajar nyetir mobil, jadi gak bisa bawa mobil sendiri. Bagus Ara berontak dengan memaksa belajar nyetir mobil diam diam” komennya.
“Tapi malah berujung masuk rumah sakit trus kecelakaan fatal tante” jawabku.
Tante Adis mengangguk.
“Iya sih…” desisnya lesu.
Aku jadi ingat waktu kami masih SMA, lalu gara gara ada kakak kelas yang iri dan cemburu dengan Maura salah satu bestuyku yang juga sepupu bang Noah, dan keponakan tante Adis, dia tantang Maura balap mobil, sementara Maura belum lancar benar menyetir mobil, jadilah kecelakaan. Aku, dan Kimmy kembaran Maura yang sejak awal melarang, jadi panik, karena Kiera bestuyku satu lagi juga berada di dalam mobil dengan Maura. Dan andai tidak ada Kiera yang merebut kendali setir mobil dari Maura, pasti terjadi kecelakaan beruntun waktu itu, kalo mobil yang di kendalikan Maura oleng karena di pepet mobil lawan lalu slip dan mengarah pada kumpulan penonton balapan itu. Tapi kecelakan tunggal itu tetap terjadi kalo akhirnya mobil Kiera menabrak trotoar jalan lalu menabrak pohon besar di situ juga. Maura yang tidak sadarkan diri karena terkena benturan stir mobil, sementara Kiera masih sadar walaupun tubuhnya juga luka luka karena terkena pecahan kaca depan mobil. Parah deh waktu itu, sampai semua orang tua kami semua panik menyusul ke rumah sakit.
Alhamdulilah semua sudah baik baik saja, walaupun Maura harus berada hampir sebulan di rumah sakit karena lengan kirinya patah. Kiera pun baik baik saja. Kalo aku dan Kimmy kompak tidak mau belajar menyetir mobil karena itu, Maura malah tetap bersikeras belajar menyetir mobil. Dia itu sama nekatnya dengan Kiera, mereka berdua memang cocok sekali, sama sama nekatan.
“Masa lalu tante, bagusnya semau bisa di lewati” komenku.
Tante Adis tersenyum dan mengangguk.
“Jujur dulu tante syok sekali mendapati kalian berempat cewek cewek bangor bangor. Dulu tante sama tante Risdamu mana bangor begitu. Kenakalan kami hanya bolos kuliah lalu kelayapan di mall untuk nyalon, kamu boleh tanya tantemu. Makanya suaminya sayang sekali, soalnya tantemu jauh sekali dari kata nakal” kata tante Adis mengundang tawaku lagi.
Lumayan aku jadi tidak suntuk lagi.
“Tante Risda mah gak usah di tanya, sampai sekarang kalo di ajak kemana mana mager banget. Kalo cing Mamat ikut baru mau. Heran, emak emak tante Risda doang yang betah banget di rumah” komenku pada adik papiku yang memang ibu rumah tangga sejati.
Tante Adis tertawa.
“Makanya tante sama mamimu buat acara arisan supaya tantemu mau keluar rumah” jawab tante Adis.
Nah benar memang mami, tante Risda, tante Adis, memang buat acara arisan gak jelas karena waktunya sesuka mereka. Aku menyebutnya trio ukhti, karena tante Risda juga pakai gamis dan hijab panjang macam mami dan tante Adis. Kumpulnya pun bergantian di rumah salah satunya, dan tidak di mall. Gitu deh tante Risda, istri solehah banget yang lebih suka urus suami, anak dan emak mertuanya. Soalnya babeh suaminya sudah meninggal. Kenapa jadi bicara tanteku ya?.
“Tante Risda memang gitu” komenku apa lagi.
Lalu kami diam karena aku menyelesaikan makanku dulu.
“Tante aku pamit ya, mau lanjut input data pasien yang berobat gigi” pamitku setelah selesai makan.
“Okey sayang, sini cium dulu, kangen tante cium kamu yang udah perawan” rengeknya mengulurkan kedua tangannya.
Tentu aku kabulkan karena tante Adis memang selalu baik kok. Setelah itu aku tinggalkan tante Adis untuk menyelesaikan tugasku di masjid yayasan dengan laptop yang aku bawa. Om Rey minta juga untuk data pasien yang berobat di yayasan ini. Sampai tidak terasa azan Asar terdengar. Aku usoli dulu lalu tiduran sebentar sambil menunggu pesan dari papiku karena aku minta jemput. Eh malah papi bilang tidak bisa jemput karena tanggung mau meninggalkan acara yang dia hadiri dengan mamiku. Aku hubungi adikku tidak di jawab juga, pasti molor deh, kalo semalam dia pulang lewat tengah malam. Namanya anak bujang, papi juga agak longgar pada adik lelakiku, yang penting tetap disiplin usoli. Mami sejak dulu longgar juga, asal nilai sekolah anak anaknya aman, ya sudah.
“Bel, belum pulang?” tegur kak Naya yang usoli asar juga di saat aku sudah selesai.
“Belum kak” jawabku.
“Okey, mau bareng gak, gue di jemput bokap” katanya lagi sambil memakai mukena.
“Gak deh, gue di jemput juga kok” dustaku supaya kak Naya berhenti bertanya.
“Oh, okey. Soalnya udah sepi, tante Adis sama om Rey aja udah pulang. Gak tau tante Nuning udah pulang juga kayanya” lapornya sebelum mulai usoli sendirian.
Ya sudah, taksi online banyak, aku bisa naik taksi online pikirku setelah kak Naya pamit pulang duluan. Dan aku tidak pernah menyangka kalo bang Noah ternyata masih ada di yayasan. Lalu ujungnya maksa aku untuk ikut dia pulang, maksudnya di antar dia pulang. Kesal gak sih?, cuekin aku trus selama acara lalu sok perhatian, sampai maksa juga nemanin aku bertemu teman kampusku di mall. Aku tolak terus, dia bertahan maksa trus. Gimana aku gak eneg. Jadi aku diam saja sekalipun akhirnya kami berdebat panjang sebelumnya.
“Elo janjian ketemu di mana sama teman elo yang gak seberapa itu?” tegurnya setelah masuk pelataran mall yang aku tuju.
Aku menatap kesal padanya, walaupun di konsen mengambil tiket parkir.
“Janjian di mana?” tanyanya lagi setelah kami masuk area mall.
“MCD” jawabku.
“Elo dokter, hobi amat makan junk food” omelnya gak jelas.
Memang ada larangan dokter makan junk food?, untuk itu aku tidak tanggapi lagi omongannya sampai kami tipe di loby mall.
“Harus banget ya Valet Parkir?” protesku.
“Lah yang bayar gue, kenapa elo ribet” jawabnya lalu keluar mobil mewah yang dia bawa lalu menyerahkan kuncinya pada petugas.
Dasar anak sultan manja.
“Astaga…elo jalan cepat banget sih!!” omelnya kemudian karena aku mendahuluinya masuk mall.
Aku menggeram kesal.
“Yang elo temui siapa sih?, laki apa cewek?” cecarnya kemudian.
“LAKI!!, emang kenapa?” jawabku kesal karena dia cekal lagi tanganku dengan mode kencang.
Malah terbelalak lagi.
“Mulai deh elo kecentilan” komennya konyol.
Aku tarik paksa dong tanganku yang dia cekal, lalu menatapnya galak.
“Heh, emangnya gue apaan dengan bilang gue kecentilan karena gue ketemu teman cowok gue?” omelku kesal.
“Ya lagian tadi elo nolak gue temanin, ternyata mau ketemu laki sendirian, apa gak kecentilan itu namanya?” jawabnya semakin buat kepalaku ngebul.
Kalo tidak mikir di tonton orang, sudah aku cakar wajah gantengnya sampai berdarah darah.
“BEL!!” kejarnya lagi mengejarku.
Bodo amat, aku layani malah aku yang jadi gila.
“Gue panggil juga, gak makasih banget gue temanin sampai gue kawal elo” katanya lagi.
“Gue gak minta, abang yang mau, sampai maksa” jawabku malas.
Malah tertawa menyebalkan.
“Gue gentleman jadi laki, mana mungkin biarin perempuan susah dan butuh bantuan” jawabnya.
“WHAT!!!” jeritku sampai menghentikan langkahku untuk menatap segalak yang aku bisa padanya.
Tapi lalu aku urungkan, nanti malah dia pikir aku baper, kalo aku ngamuk lalu bilang kalo dia tidak pantas di bilang lelaki gentleman.
“Apa?, elo mau ngomong apa?” tantangnya padaku.
Aku menggeleng lalu melanjutkan langkahku. Mana mungkin aku bilang kalo laki gentelaman tuh gak mungkin PHP in anak perawan orang, jadi ngertikan kalo aku akhirnya gak mau bilang?. Bakalan makin besar kepala kalo aku bilang begitu di pikirnya aku kegeeran. Padahal kalo dia menilik sikapnya padaku yang selalu galak tapi selalu perhatian sama aku, itukan namanya sikap PHP. Atau dia yang selalu dekatin kak Naya, tapi bersamaan dengan sikapnya yang suka mengantarku pulang juga sekalipun jadi buat dia jadi seperti supir taksi online karena harus antar kak Naya dan aku sekaligus. Belum dia yang selalu kesal gak jelas kalo aku dekat dengan lelaki teman kampusku waktu kami masih satu kampus dulu. Alasannya takut aku di modusin. Bang Timmy aja nih, pacar Kimmy, walaupun suka kawal aku dan bestuy bestuy aku sekalian waktu belum jadian dengan Kimmy, tetap punya batasan sikap kok. Kalo tegur ya sopan, kalo tidak suka dengan teman lelaki kami ya dia akan bilang begitu teman lelaki kami gak ada, bukan macam bang Noah, yang langsung tarik aku pulang atau menjauh tanpa bisa di bantah. Dan anehnya sama aku doang. Sama Kiera yang lebih banyak teman laki, gak gitu, padahal tampang teman laki, teman dia latihan jujitsu kurang garang apa coba?.
“Mana teman elo Bel?” tanyaku waktu aku celingukan mencari keberadaan temanku di meja restoran Mcd.
“Tuh dia” jawabku menunjuk teman kampusku, dan lelaki. Tapi dia sopan dan baik, pinter juga, jadi aku nyaman berteman dengannya.
“Dia lagi, elo gak punya teman laki lain apa?” komennya karena memang kenal.
Aku hanya geleng geleng menatapnya.
“Gue pisah meja ah, males duduk sama dia, mukanya kaya minta gue tampol, cupu banget gitu” jawabnya lalu menuju counter untuk memesan.
Bodo amat bang, serah elo. Tiap kali lihat laki pakai kacamata pasti bilangnya cupu, dan muka tampolan. Kan sok banget keren jadi orang. Jadi aku yang mendekat sendirian.
“Elo kok sama Noah, emang dari mana?” tanya Dani.
“Abis ada acara di yayasan. Tenang aja dia gak akan gabung duduk” jawabku saat Dani mengawasi bang Noah yang antri pesan makanan dan orang orang mendadak menatapnya yang malah cuek menatap handphone.
Sialan emang, keceh sih jadi laki, jadi banyak yang merasa perlu melihatnya. Udah tinggi, bule, tampang bajingan, kelihatan banget tajir dari apa yang dia pakai, paket komplit untuk buat orang tertarik menatapnya lama lama.
“Yakin lo?, gue males ribut ribut ah, tau sendiri Noah sumbunya pendek” komennya lagi.
“Yakin, udah buruan, gue mau buru buru nih ajuin judul skripsi gue” kataku sambil membuka laptopku di tas laptopku.
Dani menurut juga setelah menawariku pesan makanan dan aku tolak. Aku mau buru buru pulang biar terlepas dari tuan muda resek dan sombong. Mulailah aku dan Dani berdiskusi dan aku sempat abai pada bang Noah. Sampai kemudian dia menjeda kami.
“Makan!!, tar elo kelaparan, jangan kaya orang susah” jedanya dengan meletakkan nampan khas restoran cepat saji di mejaku dan Dani.
Tadinya aku mau ngamuk, tapi waktu melihat dua ayam goreng dada besar hot spicy kesukaanku juga segelas mc float yang ada di nampan tanpa nasi, aku jadi batal ngamuk. Aku malah tersenyum menatap tuan muda sombong dan manja dengan burger di tangan dan cola di tangan lain beranjak begitu saja, lalu duduk seorang diri di bangku kosong tak jauh dari aku. Tuhkan manis sebenarnya kalo dia mau usaha bersikap manis.
“Bikin kaget aja” komen Dani menjeda tatapanku pada bang Noah yang mulai mengeluarkan handphonenya sambil makan burger.
Aku tertawa,
“Sampai mana tadi?” tanyaku pada Dani supaya dia tidak tanya soal sikap bang Noah yang tiba tiba tadi.
Dani hanya menghela nafas lalu melanjutkan obrolan kami. Aku jelas makan habis makananku, walaupun jadi berhenti mengetik di laptop, karena memang gak harus juga. Aku cukup mendengarkan apa yang Dani sampaikan terkait urusan skripsiku. Dani asisten dosen jadi aku minta masukan supaya skripsiku gampang di terima.
“Bisa lanjut besok gak?, udah waktunya Bella pulang” jeda bang Noah lagi setelah sekian lama.
Dani menatapku dulu sebelum aku menatap bang Noah.
“Kamu gak dengar azan magrib?, apa mau duluin urusan ini dulu trus lupa urusan sama Tuhan?” jawabnya pada tatapanku.
Waduh tidak terasa udah magrib aja.
“Udahan dulu deh Dan, besok besok lagi kita ngobrol lagi” kataku buru buru membereskan barang barangku.
Bagus makananku sudah aku habiskan saat bang Noah melirik nampan yang tadi dia berikan.
“Okey, kabarin aja kalo elo mau ngobrol lagi” kata Dani ikutan bangkit berdiri.
Kalo aku menyalami Dani, dengan tanganku yang aku cuci dulu dengan handsanitizer yang selalu aku bawa, bang Noah mana mungkin. Dengan cueknya dia beranjak mendahuluiku begitu saja keluar restoran Mcd. Aku sampai tergesa mengimbangi langkah panjangnya karena dia trus menerus melihat jam tangan yang dia pakai. Dari sekian banyak keburukan bang Noah, bagian dia yang soleh ini yang gak bisa aku skip.
“Lelet banget sih Bel” omelnya tapi mengambil alih tas selempang yang sekaligus tas laptopku.
Aku hanya meringis lalu buru buru mengekornya lagi. Hadeh…kok ya bikin cape banget. Aku baru menghela nafas lega saat kami tiba di mussola di parkiran mobil.
“Kalo duluan rapi, tunggu gue” perintahnya galak sambil menyerahkan tas laptopku.
Aku buru buru mengangguk, lalu buru buru menitip tasku pada security sebelum aku wudhu, ternyata bang Noah mengejar sholat magrib berjamaah kalo aku lihat dia tergesa masuk mussola setelah dia wudhu. Bakalan duluan dia yang rapi kalo aku tidak buru buru wudhu. Astaga, melakukan apa pun kalo dengan tuan muda Sumarin tuh bikin cape, gak cuma cape badan, tapi juga cape hati. Yakan aku jadi sering sport jantung trus. Entah karena aku baper, senang, atau kesal. Menguras emosi deh.
Setelah selesai dan kami bertemu pun sudah cemberut menungguku.
“Telpon mami elo, bilang elo OTW pulang di antar gue, nyokap gue telpon nanyain soal ini” perintahnya galak.
Pantas cemberut, pasti habis di tegur mamanya.
“Di pikir nyokap gue, gue minat apa nyulik elo, malesin banget. Padahal elonya yang susah di bilangin, di suruh pulang dulu, malah ketemu teman” lanjutnya menggerutu khasnya.
Mending aku abaikan dengan mengirim pesan pada mamiku di bawah pengawasannya.
“Ayo bang pulang” ajakku.
Tanpa kata dia beranjak juga lalu aku mengekor. Pasti satpam yayasan yang laporan kalo aku pulang dengan bang Noah. Aku sudah tidak berani bersuara lagi, apalagi raut wajah bang Noah suntuk banget, jadi aku diam aja menuruti apa pun yang dia perintahkan sampai kami masuk mobil lalu beranjak dari mall.
“Macet lagi!!” omelnya kesal tepat keluar mall lalu jalanan macet parah.
Aku meringis dulu sebelum menatap ke arah jendela mobil. Bang Noah juga lalu diam, jadi lebih baik aku diam. Eh malah aku ketiduran. Efek perut kenyang dan rasa cape karena kegiatan di yayasan juga penyebabnya.
“Bel…Bella…” panggilan lembut itu yang membuatku membuka mataku yang terasa lengket.
Astaga!!!, kenapa wajah bang Noah dekat banget dengan wajahku, sampai aku gelagapan.
“Ngantukkan lo?, susah sih di bilangin, mending pulang malah ngayap” katanya masih pelan.
Astaga…wangi banget gini…langsung sport jantung dong aku.
“Buruan masuk, istirahat” katanya lalu dengan santai membantu membuka sabuk pengamanku.
Ya Rob…kalo ini cobaan karena tubuh kami jadi rapat sekali, tolong luruskan niatku jadi perawan baik baik, kencangkan usahaku untuk menahan diri, juga pertebal Imanku supaya tidak tergoda oleh bujang yang pinter banget buat hati aku meleyot. Ya salam…cobaan hidupku ini termasuk enak atau gak sih??.