Bab 1

Lautan telah terombang ambing karena badai, perahu yang di naiki sekitar lima orang begitu panik. Salah satu dari mereka berteriak begitu keras kepada para bawahanya untuk membuang barang bawaan mereka yang begitu berat. 

"Buang semua barang yang berat sekarang, agar perahu kita tidak tengelam!" teriak sang kapten. Mereka semua segera menuruti perintah sang kapten. 

Bukan hanya mereka saja yang berada di perahu itu, tapi ada dua orang anak kecil yang sedang bersembunyi di balik tong untuk menyimpan ikan. 

Dua anak kecil itu membuka penutup tong, karena penasaran dengan suara-suara yang begitu keras. 

Dua anak kecil berbeda genre itu segera keluar dari tempat persembunyian yang selama dua jam mereka tempati. 

"Aya pegang baju belakang aku erat-erat. Sutttt, jangan nangis kita akan selamat." Anak laki-laki itu menenangkan anak perempuan yang sedari tadi menangis ketakutan. 

Dengan langkah kaki yang begitu kecil keduanya segera mengendap-endap, sesekali mereka berdua terombang-ambing oleh kapal. 

Badai bergejolak, petir bergemuruh seakan lautan murka. 

"Kapten semua barang-barang berharga berharga sudah kami buang, tapi air laut semakin naik kapten!"

Terdengar suara yang membuat telinga kedua anak itu merasa kesakitan. 

Sirine pertanda bahaya terdengar. 

Sang kapten kapal berpikir dengan frustrasi, tiba-tiba matanya melihat anak buahnya yang berdiam diri menunggu perintah darinya. Dengan otak yang begitu licik sang kapten mendorong satu persatu anak buahnya ke lautan yang begitu dasyat. Asalkan dirinya selamat cara apapun dia akan lakukan. 

"Pria itu jahat Kak," ucap anak perempuan yang dipanggil Aya tadi. 

Samudra juga takut, dia takut mati melihat pria yang berada tak jauh di depan mereka mendorong orang-orang begitu kejamnya. 

Samudra harus segera menyelamatkan diri dan sahabatnya sebelum pria itu berbuat yang sama.

"Akhhhh! Sa-kit."

Tapi...

Sebelum dirinya akan berlari ia dicegat oleh pria iblis itu dengan segera dirinya melindungi sahabatnya. Dirinya terlambat karena Aya, sahabatnya telah didorong oleh pria iblis itu. 

Samudra segera berlari kesisi kapal. Sial! Aya sudah terjatuh!

Bugh! 

"Dasar iblis!"

Samudra mengigit pria iblis itu dengan kencang. Tiba-tiba gelombang air laut bergerumuh ke arah mer—

"Sial! Mimpi itu lagi!" geram Pria yang berhasil bangun dari mimpinya. Dengan napas memburu. Kenapa mimpi itu kembali lagi! Pria itu membantingkan vas yang berada di nakas.

Pyarr! 

"Aya siapa sebenarnya kamu?"

*****

Bunyi suara knalpot terdengar begitu nyaring membuat seorang yang sedang duduk di halte Bus sedari tadi berdecak kesal. 

"Woy setan!" Dia sudah kesal karena kedua orang tuanya menyita motor dan menyuruh dirinya untuk pergi ke sekolah menaiki Bus, sekarang ada lagi kesialan karena telinganya kesakitan mendengar suara knalpot yang terdengar sangat membagongkan. Dia ingin tenang sejenak malah di ganggu dengan suara bising knalpot.

Mungkin teriakannya terdengar begitu keras sampai para geng yang berpakaian serba hitam berhenti lalu berjalan ke arahnya. 

"Bilang apa lo barusan?!"

Dewa berdecih, kenapa hari ini dirinya selalu sial?! Oke, mungkin sekarang dirinya lah yang salah karena meneriaki mereka. 

"Lo ganteng, mirip Set*n," ucap Dewa dengan santai. 

Sekitar dua orang yang yang berada di belakang tertawa dengan keras.

"Wah bos hajar tuh cowok belagu amat sama kita." Satu anggota dari The felix menimpal. 

Dewa tau mereka bertiga yang berada di depannya. The Felix, orang-orang yang selalu menyiksa para korban di sekolah yang 2 bulan ia tempati.

"Lo ... Dewa kan? Cowok yang terkenal sombong dan suka menyendiri. Ck, kasihan banget idup lo."

Kemarahan Dewa tersulut, selama satu jam dua puluh menit ia sudah tahan kemarahannya dan sekarang ia bisa melampiaskan amarahnya kepada mereka. 

Bugh!

Bugh!

Pertempuran pun tak terlelakan, Dewa dan ketika geng The Felix berkelahi. Oke, untuk pertamakalinya dirinya berkelahi setelah kejadian dua bulan lalu di sekolah lamanya.

Mungkin setelah ini Dewa akan mendapatkan ceramah yang sangat panjang lagi oleh Ayahnya. 

"Bagus juga bela diri lo. Mau gabung ke geng kita?"

Dasar bajingan tengik ini, tadi lima menit lalu marah-marah sekarang malah menawarkan dirinya untuk bergabung ke geng mereka. Sorry gak mina ia sudah mempunyai geng lebih berkelas dari pada geng rendahan seperti mereka. 

"Gak minat," ucap Dewa lalu pergi begitu saja. Ah, ia akan jalan kaki hari ini karena Bus yang sedari tadi ia tunggu sudah lewat saat dirinya berkelahi.

******

Di Draft High Scool atau sering orang bilang DHS, Sma ini penuh dengan misterius, banyak orang-orang yang sekolah disini selalu mengatakan jika banyak sekali korban yang bunuh diri. Sudah hal yang lumrah setiap sekolah pasti selalu ada yang bunuh diri kan? Tapi Aliya tau jika para korban yang bunuh diri itu bukan kemauan mereka tapi, ada suatu alasan Aliya yakin itu. Karena itulah dirinya berada di sekolah ini, sekolah yang penuh dengan teka-teki didalamnya. 

Bruk!

Ini yang ke delapan dalam satu minggu dirinya selalu di tabrak oleh geng Wilona. Jika saja dirinya tidak berpura-pura menjadi Nerd dan bersikap menjadi orang yang baik, mungkin geng Wilona akan merasa ketakutan. Sial! Jika saja Bosnya tidak memerintahkan untuk bertugas di sini mungkin ia sekarang berada di Amerika untuk bersenang-senang bersama teman-teman setimnya. 

"Ma-af," ucap Aliya dengan wajah menunduk sambil meremas Rok panjangnya. 

"Mata lo ada 4 kan?! kenapa gak bisa liat gue!" bentak Wilona. Para ciclenya berada di belakang tersenyum sinis melihat Aliya.

Aliya semakin meremas roknya dengan kuat. Itukan cara orang yang ketakutan, meremas rok serta memasang wajah ketakutan? 

Plak! 

Tamparan dari Wilona membuat pipi kirinya berdenyut nyeri. 

Saat Wilona akan menampar Aliya lagi, tiba-tiba datang gerombolan The Felix yang berjalan dengan wajah angkuhnya. 

Aliya semakin tersiksa saja karena sudah datang lagi The Felix yang selalu membullynya. Sebelum The Felix memgetahui keberadaanya ia dengan segera berlari. Untung Wilona lengah Aliya bisa kabur dengan aman ke arah gudang. 

Aliya mengendap-endap masuk ke dalam gudang.

"Lo telat." Gumaman dari suara dingin Regan begitu terdengar sangat dekat di telinga Aliya saat masuk kedalam gudang, padahal Regan sangat jauh berada di depanya tapi telinga Aliya yang tajam membuatnya bisa mendengar gumaman Regan. 

"Ada kendala tadi," ucap Aliya. Aliya tau Regan juga mengetahui apa yang diucapkannya.

Regan menangguk lalu menyuruh Aliya untuk duduk di kursi yang berada di depannya. 

"Gimana?" 

Sial! Sudah satu minggu dan sekarang Regan pasti ingin mengetahui informasi yang ia dapatkan. Aliya menyengir lalu berdehem memasamg ekpresi serius. 

"Lo tau kan kasus di sekolah ini belum menemukan titik terang? Jadi gue juga belum mengetahui orang itu bunuh diri atau di bunuh," ucap Aliya dengan serius, kacamata yang di pakainya ia lepaskan. "Tapi ... Gue nemu ini di rooftrop kemarin." Aliya menyerahkan gelang berwarna merah kepada Regan. 

Regan menangguk dengan segera meneliti gelang yang di temukan Aliya. 

"Oke lo inggat Tuan kita hanya kasih lo 5 bulan untuk mengusut kasus ini. 5 bulan sudah waktu yang terlama di tetapkan oleh Tuan. Mengerti?"

"Mengerti!"

"Lo boleh keluar dan ini tugas dari Tuan lagi untuk lo," ucap Regan sambil tersenyum miring. 

Ya Tuhan apalagi ini?!

Aliya mengumpat dalam hati Tuannya sangat menyusahkan.

"Dua jam."

Aliya sangat mengerti kata 'dua jam' dari Regan, dirinya harus selesai dalam waktu dua jam untuk menyelesaikan tugas yang baru saja dalam tangannya. 

"Rey siala-"

"Awas loh Tuan Reynaldo bakalan tau, diakan ada mata-mata dimana-mana."

Aliya segera pergi dari gudang meninggalkan Regan seorang diri.

"Ck, anak tak tau diri."

Suara dari telinga yang sedari tadi terdengar dari headset Regan disusul tawa yang begitu bahagia. 

"Anda seharusnya tidak memberikan tugas yang baru kepada Aliya Tuan Rey," ucap Regan dengan wajah yang masih tetap sama, Datar. 

"Tugas itu mungkin akan membawa dirinya untuk mengetahui keluarganya."

******

Posisi Aliya sekarang berada di rooftrop sedang mencari data tentang perusahaan Delton Cross, perusahaan yang terkaya di indonesia.

Aliya meregangkan jari-jarinya yamg pegal akibat kelelahan. Jadi Delton Cross di miliki oleh Nagama Mahendra, dalam data yang ia cari Keluarga Mahendra memiliki dunia gelap yang selalu di sembunyikan kepada khalayak. Keluarga Mahendra adalah keluarga yang tersembunyi mereka selalu menyembunyikan data-data dalam dunia gelap mereka, tapi semua data itu telah bocor oleh Aliya jadi apakah dirinya harus menyebarkan data ini? 

Drett drett!

"Haloo Tuan Rey ada apa gerangan?" 

"Sudah mencari data tentang keluarga Mahendra? Kalo sudah simpan baik-baik data itu tidak boleh jatuh ketangan orang lain. Mengerti?"

"Mengerti."

Tapi Sebenarnya untuk apa Tuan Reynold memerintahkan dirinya agar menyimpan data dunia gelap keluarga Mahendra? Apa ada hubungan dengan masalalu dirinya? 

"Untuk apa aku harus menyimpan data ini?" Aliya mendengar decakan dari sebrang sana. Mungkin Tuan Rey kesal karena ia belum juga mengerti. 

"Dasar gadis bodoh! Keluargamu yang hancur masih ada hubungan dengan keluarga Mahendra."

Degh! 

Jantunya berdetak dengan kencang, benarkan apa yang ia pikirkan tadi. 

"Apakah Keluarga Mahendra dalang dibalik kematian kedua orang tua ku Tuan?"

"Belum ada bukti, masih kemungkinan. Sekarang kamu fokus menemukan siapa pelaku pembunuhan di sekolah kamu Aliya."

"Siap Tuan Rey."

"Tetap waspadalah."

Setelah mendengar perkataan Tuan Reynold, sambungan telepon langsung terputus. Aliya menghela napas dalam-dalam wajahnya menengadah ke atas langit, dengan perlahan sudut bibirnya tertarik ke samping. 

"Sedikit lagi akan aku balaskan dendam kedua orang tuaku."

"Balas dendam untuk apa."

Degh!

Aliya tersentak kaget sampai menjatuhkan sesuatu. Ia berbalik badan lalu dengan perlahan wajahnya memucat. 

Mata pria itu... 

Jantungnya seolah berhenti, udara disekitarnya seakan menghilang, ia tidak bisa menghirup udara. Dengan perlahan bibirnya mengucapkan dua kata yang begitu pelan. 

"K-ak Sam."

Bruk! 

Aliya terjatuh pingsan setelah mengucapkan kalimat itu. 

Bersambung

____________

Bab 2

"Menyusahkan," Dewa dengan kesal. Ia sudah menunggu gadis itu yang sekarang sedang berbaring di brangka selama dua puluh menit. 

Jika saja ia tadi tidak ke rooftrop mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Ini yang keempat kalinya dalam sehari ia sial. Hari selasa ia akan cap sebagai hari tersial dalam hidupnya. 

Jika tidak mengingat perkataan Ayahnya untuk selalu bertanggung jawab, mungkin ia akan membiarkan gadis itu. 

"Weh, mati kali nih orang," gumamnya dengan kesal. Dewa memamdang perempuan itu dengan intens, ia merasa pernah melihat gadis ini. Yah! Ini kan gadis yang satu minggu ini menjadi korban bully geng The Felix. 

"Awsss, aku dimana?" tanya Aliya dengan penglihatan memburam. Mungkin dia terlalu lama pingsan. 

"Di neraka," sahut Dewa dengan kejam. 

Aliya melotot horor lalu melihat sekeliling, seketika dia berdecak kecil.

Dewa mendengus kesal lali berbalik ia berniat pergi karena gadis itu sudah sadar, tapi bajunya ditahan oleh gadis itu. "Gak usah tarik baju belakang gue! Mau modus lo kan?!"

Aliya menggeleng kepalanya masih sakit tapi dia tahan. "Mata Kakak bagus."

"Heh, cewe cupu, gue gak bakal mempan sama rayuan loh," ucap Dewa sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya. Setelah itu menepis kasar tangan gadis itu, lalu pergi dengan bantingan pintu yang sangat kencang. 

"Bodoh lo Dewa! Kenapa lensa mata harus hilang segala!" Dewa mengerutuhi kebodohannya yang menghilangkan lensa berwarna coklat yang selalu ia pakai. Gara-gara ia bersembunyi di Rooftrop tadi lensan matanya hilang. Ia kira tidak ada orang di Rooftrop tapi ada gadis cupu yang membebani dirinya karena harus membawa gadis itu ke UKS. 

Dewa berjalan menunduk sambil menutupi matanya agar mata berwarna biru itu tidak terlihat oleh murid-murid. Ia melirik sekilas Alorji di tangannya, sudah jam sepuluh siamg, masih ada waktu empat jam lagi untuk jam pulang sekolah. 

Ia akan menyuruh bawahannya untuk membelikan kontak lensa yang baru sekarang. 

******

"Kerjakan tugas dari ibu sesuai kelompok yang kamarin ibu tentukan. Ibu ada rapat dengan pak kepala sekolah dan guru-guru lain."

Setelah kepergian Bu Guru Luma, murid-murid yang sedari tadi hening seketika bersorak ria tapi tidak dengan Aliya. 

Setelah ia pingsan di Rooftrp dan di bawa ke UKS oleh pria bermata biru tadi, ia dengan panik berlari ke kelas XII-A, kelasnya. Keberuntungan berpihaknya karena Bu Guru yang mengajar dua mata pelajar tadi tidak menghukumnya. 

Aliya tidak senang dalam hati karena guru akan rapat yang pasti sebentar lagi terhitung dari 3 detik dari seka--

"Cupu kerjain semua tugas kelompok kita dan ini, ini kerjain juga," ucap Wilona dengan seenaknya. 

Benarkan apa yang sudah di prediksinya. 

Ia mengangguk pasrah lalu menerima buku-buku dari Wilona. Kesialan dalam hidupnya kenapa Regan mendapatkan dirinya di kelas yang di tempati oleh geng Wilona!! Sudahlah udah terlanjur terjadi juga ia harus banyak bersabar, kata temannya juga sekalian ia belajar bersabar jangan emosi karena dengan emosi dapat menghancurkan segalanya. 

Murid-murid yang berjumlah 25 di kelas XII-A segera pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka, tapi tidak dengan Aliya karena ia harus menyelesaikam tugas yamh di berikan Wilona sekarang juga. Aliya tau masih banyak waktu untuk mengerjakan tugas kelompok ini selama satu minggu tapi ia harus mengerjakannya sekarang karena tidak punya waktu, di mension ia harus belajar bela diri dengan Regan. 

Terhitung dua puluh lima menit Aliya sudah menyelesaikan tugas itu. Ia meregangkan jari-jari tangannya lalu beranjak dari tempat duduknya pergi meninggalkan kelas. 

Arah jalannya tidak akan mengarah kekantin tapi ke taman untuk melihat sesuatu yang menyenangkan. 

Penasaran? Mari tunggu saja. 

Sampai di taman Aliya segera bersembunyi saat objek yang ia cari berada tak jauh darinya. 

Aliya terkiki geli melihat Regan yang sedang duduk di kursi panjang sedang membaca buku. Aliya tau Regan tidak benar-benar membawa buku dia hanya formalitas saja, fokus Regan yang pasti sedang melihat ke arah jendela perpustakaan, melihat seorang gadis yang sedang duduk di dekat jendela sambil membaca buku. 

Aliya sangat kenal gadis itu, namanya Hanna Sekararum, gadis yang telah membuat Regan terpikat. 

"Gue tau lo disini, Aliya."

Sial! Apa bau parfumnya begitu tercium sampai Regan mengetahui keberadaanya? Regan sangat ahli dengan penciuman yang tajam. 

"Rambut lo keliatan Aliya," ucap Regan lagi dengan wajah yang masih tetap sama yaitu datar. 

Aliya meringis lalu duduk di sebelah Regan. 

"Kenapa gak lo tembak aja?" tanya Aliya dengan penasaran. 

"Nanti mati."

Aliya mengumpat mendengar jawaban dark Regan. "Maksudnya tuh ngatain kalo lo suka sama si Hanna," greget Aliya. 

Aliya jika di hadapan orang lain ia harus selalu memakai kata 'Aku Kamu' karena sedang menyamar jadi cupu, tapi jika di hadapan Regan atau teman-temannya ia akan berkata 'Lo Gue.'

"Nanti dianya nolak karena dia belum kenal gue."

Aliya menepuk jidatnya lalu berkata dengan frustasi. "Yah sekarang lo kenalan atuh sama si Hanna."

Regan menggeleng lemas. "Gue jelek," ucap Regan.

Jelek? 

JELEK?! 

Jelek katanya, jelek dari mananya! Wajah tampan Regan begitu sempurna jika di saingkan dengan Banu, orang yang selalu membullynya. Apa yang kurang dari Regan, dia memilik pahatan wajah yang tampan serta badan kekar yamg begitu mempesona. Mungkin itu definisi jelek Regan. Jadi yang tampan itu kaya gimana?

Sudahlah ia semakin pusing memikirkannya, lebih baik ia pergi dari sini sebelum ketauan orang lain. 

***

Bell sekolah sudah lima menit lalu berbunyi, semua orang-orang pasti sudah pulang. Ia masih punya waktu dua puluh menit untuk mencari benda yang sangat penting yang ia jatuhkan saat sebelum pingsan dua jam lalu.

"Mana mahal lagi tuh benda," ucapnya dengan frustasi. 

Drett! Drett!!

"Astaga, ganggu orang aja. Hallo ada apa Regan? "

"Cepat pulang ke mansion, Tuan Rey ingin berbicara serius dengan lo."

"Ta-"

Kebiasaan Regan jika ia akan membantah pasti ucapannya selalu terputus. 

Aliya segera merapihkan bajunya yang terkena kotoran debu lalu ia pergi meninggalkan Rooftrop. Lain kali ia akan mencarinya lagi pasti ketemu. 

***

Gerbang terbuka lebar, saat mobil Aliya sudah berada di dekat gerbang. Sebelum pulang sekolah ka berjalan kaki selama sepuluh menit lalu sopir pribadi menjemputnya. 

Aliya keluar dari mobil lalu berjalan ke taman. Ia tau jam segini Tuan Reynold sedang berada di taman meminum kopi dengan bersantai. 

"Akhirnya kamu datang juga."

Aliya segera berlutut sambil menunduk pertanda hormat. Jika saja pria tua di depannya bukan orang yang menyelamatkan nyawanya ia tidak sudi berlutut seperti ini. 

"Saya cukup terkejut dengan kesopananmu," ucap Renold lalu memerintahkan kepada Aliya supaya duduk di kursi sebelahnya. 

Ia tau pria tua itu tidak benar-benar memujinya malah sebalik menyindirnya karena selalu tidak menghormati pria tua itu. Oke mari kita berpura-pura membuat pria tua ini agar merasa jengkel. 

"Terimakasih. Tuan. Tampan." Aliya menekankan setiap ucapan dari mulutnya. 

"Cek anak ini." Reynold memukul tangan Aliya menggunakan tongkatnya. 

Tiba-tiba Tuan Reynold masamg wajah serius, dia berkata dengan suara pelan. "Saya sudah mendapatkan informasi jika perusahaan Ardamedra telah di ambil alih oleh perusahaan yang 8 tahun lalu diganti dengan nama Dramdama Crof."

"Itukan perusahaan yang masih terhubung dengan perusahaan Mahendra?"

"Dan kamu pasti tau perusahaan yang dulu bernama Ardamedra itu adalah perusahaan Ayah mu Aliya. Orang tau perusahaan Ardamedra mengalami kebangkrutan dan perusahaan itu telah dijual ke perusahaan yang sekarang bernama Dramdama Crof nyatanya saya telah mengetahui jika perusahaan Ardamedra tidak pernah bangkrut dan tidak akan pernah bangkrut, seseorang sudah mengambil alih perusahaan itu dengan paksa." Jelas Tuan Reynold lalu menyerahkan dokumen yang selama 3 bulan ia cari. "Saya curiga sejak awal mengapa perusahaan keluarga Ardamedra bisa bangkrut, mustahil kan jika perusahaan Ayahmu bangkrut? Karena itulah ada seseorang di balik ini yang membalikan fakta jika perusahaan iti bangkrut."

"Siapa sebenarnya pria iblis itu! Apa dia juga yang membunuh ayah serta bunda ku?!" Ada secercah harapan untuk ia menemukan pelakunya agar pembalasan untuk kematian orang tuanya akan segera terwujud. 

"Kemungkinan orang yang sama. Pria itu membunuh kedua orang tuamu karena kekayaan dan kekuasaan."

Brak!

"Tenangkan dirimu Aliya! Sekarang kamu boleh pergi, Regan sudah menunggumu di ruang pelatihan."

Bersambung

_____________

Bab 3

Aliya berada di ruang pelatihan bersama Regan. Ia sudah menggantikan baju sekolahnya dengan celana hitam serta hotpans, rambutnya ia kuncir keatas. Aliya terlihat begitu mempesona karena ia tidak lagi memakai pakaian yang terbilang cupu.

Selama delapan tahun ia berlatih bela diri untuk membalaskan dendam kedua orang tuannya dan seseorang yang entah masih hidup atau tidak sekarang.

“Aliya lo harus fokus!!” bentak Regan.

Aliya tersentak ia sedang melamun memikirkan masa lalunya.

Tidak ada lagi tatapan yang lemah lembut, hanya ada tatapan dingin dari kedua matanya. Aliya sekarang begitu tangguh.

‘Ayara.’

Suara yamg begitu lembut terdengar dari telinganya. Otaknya memutar masa lalu yang begitu menyakitkan sekaligus membahagiakan.

‘Dewa Lima permintaan untuk Aya, yah?’

“Aliya, are you okey?”

Aliya menangguk lalu bangkit menuju Ring. Aliya menyuruh Regan untuk segera memulai pertandingan, ia sudah siap.

‘Permintaan pertama, Aya pengen jika udah besar nanti Kak Sam inget dengan Aya, jangan pergi jika udah ada teman baru.’

Aliya mengeram kesakitan, kepalanya seakan pecah karena mendengar setiap perkataan dari otaknya.

Bugh!

Bugh!

Ia lengah oleh pukulan Regan dirinya tidak sempat menangkis tangan Regan. Ia memuntahkan seteguk darah lalu bangkit kembali.

Si*l! Peraturan dalam pertarungan ini tidak boleh berhenti sampai si pemenang di tentukan.

Jika Aliya mengatakan kata 'menyerah' pertandingan harus tetap berlangsung sebelum si petarung harus pingsan.

‘Kalo permintaan kedua?’

Krekk!

Bugh!

‘Jangan buat Aya nangis.’

Brak!

Aliya terjaruh pingsan dengan air mata perlahan jatuh ke pipinya.

“Wake up Aliya!”

*****

Seorang anak perempuan berlari ke arah anak laki-laki yang sedang berjongkok di dekat pohon. Anak perempuan itu menepuk bahu anal laki-laki itu, sambil berlakata. “Kak Sam sedang apa?” tanyanya.

Anak laki-laki yang di panggil Samudra itu mendongak lalu menunjukan jari telunjuknya ke arah laut. Dia sedang melihat ombak.

“Ayo kita lihat laut lebih dekat.” Ajak anak perempuan yang bernama Ayara.

“Kata bunda jangan terlalu dekat ke arah laut bahaya,” ucap Samudra yang masih sama dalam posisinya yaitu berjongkok.

Ayara cemberut dengan perlahan bibirnya bergetar lalu menangis dengan kencang. “Bunda! Kak Sam Jahat!”

Samudra pasrah lalu menangguk menyuruh Ayara jalan terlebih dahulu.

“Ayo kita cari kerang, Kak Sam,” ajaknya lagi dengan gembira.

Mereka berdua mencari kepingan kerang dengan segera. Setelah cukup mencari kerang yang indah, Ayara mengajak Samudra untuk mengikutinya ke arah pohon besar.

“Aya kita mau apain semua kerang ini? ” tanya Samudra dengan penasaran.

“Aya pengen buat gelang buat Kak Sam sebagai tanda kita udah jadi teman,” ucap Ayara lalu duduk di batang pohon yang cukup pendek. “tunggu lima menit aku mau buatim kamu gelang dari kerang-kerang ini.” Perintahnya lagi.

Ayara merogoh saku celananya mengambil tali dan peralatan yang selalu ia bawa.

Ayara di usia sepuluh tahun ini dia selalu membuat sesuatu yang unik contohnya gelang yang sekarang dia buat.

“Hore selesai!” teriak Aliya lalu memberikam gelang buatanya kearah Samudra. “Aya buat satu khusus untuk Kak Sam. Jaga baik-baik yah, jangan sampai hilang.”

Samudra menangguk lalu memakai gelang dari kerang itu ke tangannya, Sam meringis gelang ini terlalu besar.

“Yahhh, aku lupa ukur pergelangan Kak Sam,” ringis Aliya.

“Gak papah gelang ini muat kok di kaki aku. Lihat.” Samudra menunjukan kaki kananya. Aliya tersenyum cerah lalu menepuk celananya, hari semakin sore pasti kedua orang tuanya mencarinya.

“Ini. Aku juga buatin buat kakimu agar kita samaan.”

“Wah! Kapan Kak Sam bikinnya?”

“Tadi saat kamu asik bikin gelang juga.”

****

Aliya merasakan badanya kesakitan, dengan perlahan matanya terbuka. Penglihatan yang pertama ia lihat adalah dokter pribadi dari Tuan Reynold yang tersenyum kearahnya.

“Syukurlah kamu akhirnya sadar juga,” ucap Reno–dokter pribadi Tuan Reynolad itu menghela napas lega.

“Berapa lama saya pingsan Om?”

Aliya memang selalu berkata formal terhadap orang-orang di mansion ini tapi tidak ke Regan dan teman-teman setimnya.

“Enam Jam.”

“Regan dimana?” tanyanya lagi melihat kesekeliling tidak ada laki-laki yang ia cari.

“Satu jam lalu dia pergi karena ada pekerjaan yang menunggunya.”

Aliya menangguk, ia tau pekerjaan apa yang dilakukan Regan, apalagi kalau bukan balap motor untuk mendapatkan uang. Seharusnya dirinya juga ikut sekarang tapi badanya masih lemah, ia tidak bisa melihat Regan balapan untuk saat ini.

“Saya di perintahkan oleh Tuan untuk menyampaikan pesan kepada kamu agar kamu mengurus White dan Black selama Tuan Reynold pergi ke Rusia.” Setelah menyampaikan perkataan dari Tuannya Reno segera pergi dengan cepat. Dia tidak ingin terkena ambukan Aliya.

Brakk!

“Bang*at! Aku doakan pria tua itu cepat mati!”

***

Pagi menyapa begitu cerah, tapi tidak secerah wajah Aliya yang sekarang terlihat muram. Ia pagi-pagi bangun membuat makanan untuk peliharaan Tuan Reynold. Ia tau Tuan Reynold sengaja agar dirinya mengurus kedua anging yang sekarang berada di depannya sebagai hukuman karena kalah dalam pertandingan melawan Regan kemarin.

Lebih baik ia dihukum bertahan napas di air yang dingin selama 20 menit yang pernah dilakulan Regan pagi-pagi buta, dari pada harus mengurus kedua anjing kesayangan Tuannya yang bernama Black dan White.

“Dasar pria tua itu, licik sekali.”

Ia tak tau kapan Tuan Reynold akan balik ke indonesia karena pria itu tidak pernah memberitahu dirinya ataupun orang lain.

Tuan Reynold sudah tau kelemahannya yang takut dengan anjing, dia pasti ingin membuat dirinya menderita.

“White makan yang banyak buruan! Gue mau sekolah!” geram Aliya, ia sudah menunggu anjing bernama White untuk makan sedari tadi tapi anjing itu tidak mau makan, beda halnya dengan Black dia makan dengan lahap.

Aliya menghela napas pasrah saat melihat White memasang wajah murung. Mungkin dia mau agar tali yang mengikat lehernya dilepaskan. Aliya memang mengurung kedua anjing itu menggunakan tali agar kedua anjing itu tidak biasa mendekat kearahnya.

“Pak Gama! Nanti setelah saya keluar mansion lepaskan white dan Black yah!” teriak Aliya lalu pergi meninggalkan White dan Black yang mengongong.

Cepat-cepat Aliya berlari sebelum kekangan pada kedua anjing itu terlepas.

Sebenarnya ia tidak takut anjing tapi khususnya pada kedua anjing peliharaan Tuan Reynold saja, karena kedua anjing itu selalu menjilati wajahnya saat bertemu dengannya, oleh karena itulah mengapa ia tidak melepaskan kekangan pada kedua anjing itu.

“Pak hari ini saya tidak akan menaiki mobil, karena saya akan menaiki Bis saja.”

Aliya melambaikan tangannya lalu pergi dengan berjalan kaki.

Tak butuh waktu lama Aliya sampai di tempat halte, ia menunggu sekitar lima menit lagi agar Bis datang.

Aliya duduk di bangku penunggu, ia melihat sekitar lima orang yang duduk di bangku itu, matanya melihat pria berpakaian sama sepertinya duduk di sebelahnya. Aliya tersenyum lalu menyapa pria itu. “Kamu sekolah di Draft High School, kan?” tanya Aliya sambil tersenyum. Dia pura-pura baik untuk menyapa.

Pria yang sedang membaca buku sedari tadi mendongak dan terkejut lalu bergeser menjauh.

Eh?

Ia cuma menyapa saja kenapa reksi pria itu kaya risih. Apakah pakaian serta dandananya yang terbilang kampungan?

“Biasa aja kali, aku cuma ingin bertanya saja,” ucap Aliya mencairkan suasana yang canggung.

Aliya melihat pria itu menangguk sebagai jawaban.

“Aku bersekolah di Draft High School, kamu juga bersekolah di sana, kan?”

“Iya.”

Aliya beroh sambil menangguk. Ia sudah 1 minggu lebih berada di sekolah DHS dan belum cukup bisa mengenal semua siswa-siswi di sana.

“Kamu anak baru?” tanya pria berkacamata itu yang tidak lagi fokus ke bukunya. Mungkin dia senang karena sudah sekian lama tidak ada yang mau berteman atau pun berbicara dengannya, dan ini baru pertama kalinya melihat seorang  gadis menyapanya. Dia senang.

“Iya, satu minggu lalu aku baru pindah ke sekolah DHS. Astaga! Sampai lupa aku kenalin nama. Perkenalkan nama aku Aliya, kamu?”

“Aku Davin Drama. Kamu tidak punya nama panjang?”

Aliya meringis salah tingkah, sebenarnya ia punya tapi harus dirahasiakan.

“Gak ada, cuma Aliya doang.”

Tiba-tiba Bis datang dengan segera Aliya berdiri, saat ia akan naik ke Bis Davin menarik tasnya. “Terimakasih sudah mau ajak bicara. Hati-hati di jalan.”

“Kamu gak naik?”

“Nunggu seseorang.”

Aliya menangguk lalu naik Bis dengan  segera. Ia kira Davin menunggu Bis sama seperti dirinya.

“Dah, sampai jumpa kembali,” ucap Aliya dibalik jendela.

Bersambung

____________

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED