Seorang wanita dengan busana khas perkantoran terlihat sedang terburu-buru untuk memasuki ruangan direktur. Suara sepatu hak tingginya terdengar menggema memecah kesunyian. Berkas-berkas yang ada di tangannya, menambah beban wanita berambut sebahu itu.
Saat berada di depan ruangan sang pemimpin, gadis itu terlihat mengatur napas, kemudian dia mengetuk pintu dan masuk ke ruangan tersebut, setelah mendengar suara dari dalam yang mempersilakannya untuk masuk.
"Udah kamu selesaikan semua, Dara?" tanya Adrian Geraldo--sang direktur.
"Sudah, Pak. Ini semua berkasnya. Bapak bisa periksa dulu satu persatu." Dara meletakkan beberapa tumpukan map ke atas meja.
"Duduk dulu, Dara. Kita bisa mengobrol sebelum saya benar-benar meninggalkan kantor ini." Adrian menyilakan Dara. Kemudian gadis itu tersenyum dan duduk di kursi depan meja sang direktur.
Terdengar Dara mengembuskan napasnya. "Bapak benar mau pensiun?" Muka Dara terlihat kecewa. Padahal, dia sudah nyaman menjadi sekretaris dari Tuan Adrian Geraldo selama dua tahun ini.
Tuan Adrian terkekeh. "Sudah waktunya saya memantau saja dari rumah. Anak saya yang akan menggantikan posisi saya sekarang, Dara. Mudah-mudahan kamu betah bekerja sama dengannya."
Dara tersenyum. Dia tidak mengetahui dengan pasti, seperti apa anak dari pimpinannya tersebut, karena anak dari Adrian menempuh pendidikan di Amerika.
Dara belum pernah melihatnya atau pun keluarga Adrian sama sekali selama bekerja di perusahaan ini. Dia berharap jika anak dari Adrian Geraldo adalah direktur yang dapat bekerja sama dengan baik.
"Sudah waktunya Gerald Corp berpindah tangan, Dara. Kita harus memiliki terobosan baru demi kemajuan bisnis ke depan. Saya sudah membangun perusahaan ini dari bawah. Sekarang giliran anak-anak saya." Lelaki yang telah memutih rambutnya itu mengitari sekitar. Terpajang di dinding ruangan tersebut beberapa prestasi yang Gerald Corp torehkan.
Perusahaan retail ini telah merajai bisnis di Indonesia. Tidak hanya swalayan yang telah tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Ada juga restoran dan beberapa hotel. Sekarang Adrian mengembangkan bisnis retailnya lewat situs online.
"Kamu sudah persiapkan semua berkas yang anak saya nanti pelajari?" Suara Tuan Adrian mengagetkan Dara. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum.
Setelah selesai dengan bosnya, Dara bergegas menuju kantin yang terletak di lantai bawah. Saat ini, waktu istirahat telah tiba. Di sana terlihat Kila, sahabat Dara selama bekerja di perusahaan elite tersebut telah menanti bersama staf yang lainnya.
"Ra, gosipnya direktur baru kita ganteng kayak Crist Evan. Lo beruntung, deh, jadi sekretarisnya." Suara Kila menambah berisik suasana kantin yang tengah ramai.
"Sok tau lo!" Dara mematahkan pendapat Kila.
"Pak Adrian aja masih ganteng gitu meskipun udah tua. Gue jadi nggak sabar nunggu besok." Kila semakin menggila dan itu membuat Dara muak.
"Nggak usah berharap lebih, taunya direktur baru kita mukanya udik, beda jauh sama Pak Adrian." Dara terbahak-bahak.
"Lo aja yang kurang pergaulan. Jadi sekretaris emang jauh dari keramaian. Taunya duduk aja di samping bos. Dari divisi gue rame banget ngomongin direktur baru. Lo nggak simak gosip di grup kantor?" cerocos Kila.
Dara mengedikkan bahu. Dia mungkin satu-satunya karyawan yang tidak terlalu suka dengan gosip kantor.
Kila menjabat sebagai salah satu staf divisi marketing. Dara tahu jika divisi yang Kila naungi paling update tentang informasi kantor. Mungkin karena jangkauan anak marketing yang luas, sehingga berita apa pun di kantor, mereka yang pertama kali mengetahui.
Setelah menyelesaikan makannya, Dara berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Perempuan cantik itu tidak memedulikan lagi obrolan teman-temannya yang sedang bergosip saat ini.
***
Keesokan harinya, seluruh jajaran staf Gerald Corp telah berkumpul di aula perkantoran tersebut. Tujuannya adalah menyambut sang direktur baru. Dara yang tidak terlalu antusias dengan direktur baru tersebut, hanya duduk di pojok ruangan sambil memainkan ponsel.
Sebenarnya, Dara lebih memilih Adrian sebagai atasannya. Jika dia boleh berunjuk rasa, maka dia akan menuntut Adrian untuk mencabut keputusannya pensiun saat ini.
Sepuluh menit berlalu, suasana yang tadinya riuh berubah menjadi sepi saat Tuan Adrian Geraldo memasuki ruangan tersebut. Di belakang lelaki bertubuh tegap itu, terdapat sosok sang direktur baru yang dinantikan.
Terdengar suara berbisik sesama karyawan membicarakan calon atasan mereka. Hal itu membuat Dara beralih dari ponselnya untuk melihat sosok yang menggantikan bos lamanya itu.
Dara mengerjapkan mata. Pandangannya fokus melihat sosok jangkung yang baru saja duduk di samping mantan atasannya itu. Berkali-kali Dara meyakinkan diri jika yang dilihatnya bukanlah sosok yang telah lama dia kenal dulu. Namun, wajah itu sama sekali tidak berubah. Mata tajam dengan iris kelabu dan hidung mancung yang menghiasi wajah itu. Hanya bulu tipis di dagu yang membuatnya berbeda dan dia terlihat lebih berotot dibanding tujuh tahun yang lalu.
"Untuk semuanya. Maaf telah menyita waktunya. Di sini saya akan memperkenalkan direktur baru di perusahaan kita. Alexander Geraldo. Mulai hari ini, anak saya yang akan memimpin perusahaan ini dan semoga ada terobosan baru setelah dia menjabat."
Jantung Dara seperti genderang yang tidak teratur berirama. Nama yang disebutkan tadi membuatnya semakin yakin jika sosok di depan itu adalah orang yang sangat ingin dia hindari tetapi juga sangat dirindukan.
Dara memegang dadanya yang berdetak kencang, mengatur napas untuk menetralkan suasana hati yang tidak menentu saat ini.
Setelah perkenalan tadi, Dara kembali ke ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan direktur. Dia duduk menerawang, memikirkan pekerjaannya ke depan.
Sesaat dia menyesali telah memasukkan lowongan pekerjaan ke perusahaan ini. Lulusan strata dua manajemen seperti dirinya, bisa mendapatkan posisi yang lebih dibandingkan hanya seorang sekretaris. Namun, mencari pekerjaan di zaman sekarang sangat sulit. Jadi, ketika Dara dipanggil untuk wawancara kerja, dia menyanggupinya. Apalagi gaji sekretaris di perusahaan ini cukup tinggi.
Dara dikagetkan oleh sosok jangkung yang melintas di depan ruangannya bersama sang ayah. Ruangan sekretaris yang hanya bersekat kaca, membuat Dara memalingkan wajah supaya sang direktur baru tidak melihat.
Dara tahu yang dilakukannya adalah konyol, karena tidak lama lagi, dia akan menghadapi kenyataan bertemu sang direktur baru, meskipun enggan.
Sepuluh menit kemudian, interkom di ruangan Dara berbunyi. Tuan Adrian memerintahkan gadis itu untuk masuk ke ruangannya. Dara mengacak rambut panjangnya dan memaki diri sendiri karena tidak siap menghadapi kenyataan di depan sana.
Setelah mengatur napas dan merapikan penampilannya, Dara bangkit dan berjalan perlahan sambil membawa berkas yang dimaksud oleh Tuan Adrian. Dara dipersilakan masuk, wanita itu melihat Tuan Adrian duduk di kursi kebesarannya, sedangkan sang anak duduk di kursi depan meja tersebut sambil membaca beberapa tumpukan berkas di depannya.
Meja itu semakin dekat. Dara memperhatikan penampilannya dan berjalan dengan tegak menuju bidang datar tersebut. Saat sampai di meja, perempuan dua puluh lima tahun itu tersenyum dan mengangguk pada sang direktur.
"Alex, kenalkan ini Dara Prameswari sekretaris terbaik yang Papa miliki. Kamu akan betah bekerja dengannya."
Alex mengalihkan perhatiannya dari tumpukan berkas yang dia pegang. Matanya beralih pada sosok perempuan cantik di belakangnya. Pemuda itu tersenyum pada Dara sesaat, kemudian dia melanjutkan kembali aktivitasnya.
Dara tercengang. Apakah Alex telah melupakannya? Sambutannya tadi menandakan bahwa dia telah lupa. Dara lega, juga kecewa. Dengan tangan gemetar, dia meletakkan berkas-berkas yang Adrian maksud di atas meja.
"Oke, Al. Papa tinggal dulu. Kalau kamu ada sesuatu yang ditanyakan bisa menghubungi Dara. Ini berkas-berkas yang Papa maksud. Kamu bisa mempelajarinya. Papa permisi."
Setelah kepergian Adrian, Dara tidak tahu akan melakukan apa. Dia hanya berdiri di belakang Alex, sedangkan lelaki itu masih sibuk dengan berkas-berkasnya. Untuk memulai percakapan, Dara terlihat canggung. Jadi, dia hanya menunggu perintah saja saat ini.
"Jangan kamu pikir, setelah pakai softlens, saya lupa sama kamu."
Kekesalan gadis itu semakin bertambah. "Kalau gitu, saya boleh duduk?" Dara bertanya. Alex mengangguk kemudian menepuk kursi di sampingnya.
Dara mematung. Perempuan itu tidak yakin untuk duduk di samping bosnya. Dia merasa tidak pantas jika harus berdekatan dengan sang direktur.
Alex melihat Dara yang diam saja, menarik tangan gadis itu untuk duduk di sisinya. Sesaat Dara terkejut dengan tindakan bosnya. Namun, semua terjadi begitu cepat sehingga dia menurut.
"Kaca mata kamu ke mana?" Pertanyaan Alex memecah kesunyian antara keduanya.
"Su-sudah dimuseumkan, Pak."
Alex terkekeh. Dia melihat wanita di sampingnya itu dengan teliti, sedangkan Dara terdiam tidak dapat melakukan apa pun. Dia menunduk pasrah dengan apa yang terjadi setelah ini.
Setelah puas melihat Dara. Alex bangkit dari duduknya. "Buatkan saya kopi sekarang! Saya juga minta jadwal ketemu klien seminggu ke depan!" perintah Alex membuat Dara bangkit dan segera berlalu dari ruangan menegangkan itu.
Setelah keluar ruangan, Dara mengatur napasnya yang tidak menentu. Baru beberapa menit bersama sang direktur, jantungnya sangat sulit dikondisikan. Apalagi di hari-hari selanjutnya, dia akan bekerja sama dalam kurun waktu yang tidak dapat ditentukan.
Dara tidak dapat membayangkan yang terjadi setelah ini. Apakah dia akan bertahan atau akan menghindar seperti yang dilakukannya di masa lalu.
***
Setelah pulang dari bekerja, Dara selalu menunggu angkutan umum di depan kantor. Dengan menggunakan kendaraan tersebut, membuat Dara akan sampai dengan cepat ke indekosnya yang hanya membutuhkan waktu lima belas menit dari kantor.
Gerimis menemani Dara yang sedang duduk di halte sore itu. Sudah lima belas menit gadis itu menunggu angkutan tujuannya. Namun, kendaraan berpenumpang itu tidak kunjung tiba. Ini tidak seperti biasanya, Dara mulai terlihat panik karena senja sebentar lagi akan menyapa.
Seorang pemilik Range Rover melintas di depan halte tersebut. Dia melihat sosok yang sangat dikenal, kemudian lelaki itu berhenti sejenak untuk memandang gadis yang duduk di halte itu sendirian. "Penampilan aja yang berubah. Namun, kebiasaan masih sama seperti rakyat jelata," gumam Alex. Kemudian dia memutar kendaraannya menuju halte.
Bunyi klakson membuyarkan lamunan Dara. Perempuan itu memperhatikan mobil besar di depannya. Dara tidak mengetahui siapa yang berada di dalam mobil tersebut. Jadi, dia tetap duduk di tempatnya tanpa beranjak sedikit pun.
Kaca mobil terbuka dan menampakkan wajah sang atasan. Dara terkejut dengan kedatangan lelaki berambut cokelat itu. Ketika Alex menawarkan untuk menumpang, angkutan umum tujuan Dara melintas. Tanpa berpikir panjang, gadis itu menghentikan angkutan dan meminta maaf pada Alex jika dia tidak dapat ikut dengannya.
Alex mencebik, "Masih sok jual mahal!" Kemudian lelaki itu menutup kembali kaca mobilnya dan berlalu dari tempat itu.
Di dalam angkutan umum, Dara mengatur napasnya yang memburu.
Kalau tiap hari gini, jantung gue bisa nggak baik-baik aja, batin gadis itu sambil menepuk-nepuk kepalanya. Dara tidak memedulikan pandangan orang yang sedari awal selalu memperhatikan tingkah bodohnya.
Setibanya di indekos, Dara merebahkan dirinya di ranjang. Ingatannya menerawang tujuh tahun yang lalu. Saat dia masih duduk di bangku SMA.
Dara, seorang gadis cupu yang sangat mengidolakan kapten basket di sekolahnya. Diam-diam gadis cupu tersebut mencari tahu tentang semua hal yang kapten basket tersebut sukai dan dibenci.
Dara terkekeh. Dia menyadari jika dulu sangat mengagumi Alex hingga mengesampingkan logikanya. Gadis itu juga mengingat ketika dirinya mencuri gambar Alex saat bermain basket. Kemudian dirinya mencetak foto Alex dengan ukuran poster dan ditempelkan di kamar kosnya. Saat sekolah menengah dulu, betapa pesona Alex sangat menyihirnya kala itu.
Senyum Dara pudar tatkala mengingat kejadian yang membuat dirinya terpisah jauh dengan Alex. Gadis itu sadar diri jika pemuda itu sangat jauh untuk dijangkau.
Alex tidaklah pantas untuk dirinya. Lelaki itu hanya akan menjadi bagian terindah dalam hidup Dara dan akan menjadi masa lalu yang menghiasi goresan takdirnya.
***
Esok pagi, Dara berangkat ke kantor seperti biasa. Kemeja biru laut dipadu dengan blazer warna hitam dan rok selutut yang berwarna senada dengan blazer, membuat Dara semakin memesona.
Saat akan memakai softlens-nya, Dara teringat dengan perkataan Alex tentang kaca matanya. Gadis itu tersenyum, sudah lama dia menanggalkan benda itu untuk menunjang penampilannya, kemudian dia bersiap untuk berangkat menggunakan angkutan umum.
Sesampainya di lobi kantor, Dara melihat Alex yang datang dari basemen tempat parkir mobil direktur. Lelaki itu bersiap untuk menaiki lift menuju lantai teratas, yaitu lantai para direksi.
Dara tersadar jika harus sampai terlebih dahulu sebelum sang bos besar datang. Gadis itu melihat jam yang melingkar di tangannya. Belum jam tujuh udah datang! Rajin banget! batinnya.
Saat berada dekat dengan lift, Dara ragu untuk mendekatinya karena Alex berada di tempat itu. Gadis itu berjalan perlahan sambil menundukkan kepala. Tidak ada pilihan lain jika dia terlambat datang, maka pekerjaannya menjadi taruhan.
Ketika berada di samping Alex, lelaki itu hanya melihat Dara sekilas, kemudian dia berpaling pada pintu lift. Raut wajah lelaki itu terlihat biasa saja.
Alex berdiri tegap, tidak memedulikan Dara yang berdiri di dekatnya. Hal itu membuat Dara takut karena gadis itu tidak dapat menebak apa yang akan dilakukan sang direktur padanya.
Setelah pintu lift terbuka, Alex masuk begitu saja ke dalam, sedangkan Dara masih mematung. Dia ragu untuk masuk ke dalam lift tersebut. Alex menautkan alisnya. Lelaki itu heran dengan perempuan di depannya.
"Masuk cepat!" Suara tegas Alex membuat Dara tersadar. Perempuan itu segera menyusul ke dalam.
"Seharusnya bawahan itu datang duluan!" Alex bersuara setelah mereka terdiam lama.
Dara yang merasa bersalah segera meminta maaf. "Ta-tadi nunggu angkot lama, Pak. Maaf."
Alex melihat perempuan di sampingnya dan tersenyum sinis. "Penampilan aja yang berubah, kebiasaan masih sama!"
"Maksud, Bapak? Kebiasaan saya, kan, bukan urusan Bapak," jawab Dara datar tanpa melihat Alex.
"Rakyat jelata!"
Dara tidak terima dengan sebutan yang Alex lontarkan. Saat akan membela diri, pintu lift terbuka dan Alex keluar begitu saja. Membuat Dara mengurungkan niatnya mengucapkan sesuatu.
"Kamu buatkan saya kopi! Jangan lupa jadwal saya hari ini!" Alex membuat perintah sebelum masuk ke ruangannya.
Dara yang merasa heran dengan kebiasaan baru Alex membuatnya bertanya, "Sejak kapan Bapak suka kopi?"
Pertanyaan Dara membuat Alex berbalik dan melihat gadis itu.
"Kebiasaan saya bukan urusan kamu!"
Dara mematung. Perkataannya di lift tadi berbalik padanya. Suara bantingan pintu membuatnya tersadar.
Dara berjalan menuju pantry yang ada di ujung lorong untuk membuatkan kopi sang direktur. Setelah kopi siap, Dara mengambil jadwal sang direktur di mejanya.
Dia masuk ke ruangan yang menegangkan itu. Dilihatnya sang bos yang telah melepas jasnya. Kemeja berwarna hitam yang pas di badan Alex, membuat otot lelaki itu terlihat sangat jelas. Hal itu membuat Dara semakin terpesona.
Kenapa dia makin keren gini. Bisa gila gue kalau tiap hari liat ginian, batin Dara.
Gadis itu hanya berdiri di ambang pintu. Hal itu membuat Alex mengalihkan perhatiannya dari laptop yang berisi laporan perusahaan.
"Sampai kapan kamu berdiri di situ? Saya butuh kopinya sekarang!" Suara tegas Alex membuat Dara tersadar dan dia segera beranjak dari tempatnya berdiri.
Dara meletakkan segelas kopi dan sebuah map biru yang berisi jadwal bosnya di atas meja. Saat Alex menyeruput kopi buatan Dara, alisnya terlihat berkerut. "Ini kopi manis, Dara. Saya nggak suka kopi manis. Sekarang buatkan saya kopi hitam tanpa gula!"
"Kopi yang saya buat kemarin manis juga dan Bapak nggak protes!" Kali ini Dara terlihat kesal dengan bosnya itu.
"Kamu berani membantah saya!"
"Minum kopi itu kebiasaan baru Bapak. Saya juga baru tau seka ...." Dara menutup mulutnya. Dia tersadar jika ucapannya memancing sesuatu.
Alex tersenyum mendengar ucapan Dara. "Ternyata kamu nggak lupa dengan kebiasaan saya."
"Kenapa muka mirip Zombi gitu? Harusnya deket sama bos ganteng itu, muka tambah fress." Kila menyambut kedatangan Dara di kantin siang ini.
"Fress muka lo! Bos baru kita rese banget tau nggak! Kalau boleh demo, gue pengen nuntut Pak Adrian balik lagi ke kantor." Dara bersungut-sungut, sedangkan Kila terkekeh.
Beberapa saat kemudian makanan yang mereka pesan datang. Namun, Baru beberapa suap Dara makan, Alex menghubungi ponsel Dara. Gadis itu mencebik setelah membaca pesan dari bosnya itu.
"Kenapa?" Kila menghentikan suapannya karena melihat muka masam temannya.
"Baru mau makan udah disuruh-suruh. Apa dia nggak punya kaki? Tinggal ke resto aja apa susahnya!" Dara mengomel dan itu membuat Kila semakin bingung karena dia tidak tahu siapa yang dimaksud Dara.
"Lo ngomongin siapa?"
"Ya, siapa lagi kalau bukan bos baru. Tau resto western sekitar kantor?" Dara berbicara dengan Kila sambil melihat-lihat restoran di aplikasi online.
"Jauh. Nggak ada yang dekat. Paling dekat dua puluh menitan. Pesenin online ajalah!" Dara mengangguk. Setelah memesan pesanan sang direktur, Dara melanjutkan makannya.
Selesai menyantap siang, Dara beranjak menuju lobi. Dia menunggu pesanan yang tadi dia pesan melalui aplikasi online. Berkali-kali gadis itu melihat jam yang melingkar di tangannya. Istirahat siang tinggal sepuluh menit lagi berakhir. Namun, pesanannya belum juga datang.
Dara menunggu dengan cemas. Sudah pasti sang direktur akan marah dengan keterlambatan ini. Dia tahu kebiasaan Alex yang tepat waktu.
Setelah mendapat makanan yang dipesan, Dara segera ke atas. Dia mengambil keperluan makan di pantry. Kemudian berlari menuju ruangan Alex. Saat membuka pintu, Dara disambut oleh tatapan tajam sang bos. Kata-kata maaf yang telah disusun beberapa menit tadi menguap begitu saja.
"Kamu tahu istirahat makan siang telah berakhir?" Alex marah.
Dara menunduk sambil menyiapkan makanan sang bos di atas meja.
"Bawa semua makanan ini di sofa depan sana!" perintah Alex.
Dara mengangguk dan membawa makanan sang bos di sofa.
Alex telah bersiap duduk di sofa. Saat akan menyantap makanannya, lelaki beriris kelabu itu melihat sang sekretaris. "Saya tidak ada toleransi untuk keterlambatan. Lain kali usahakan semua tepat waktu!"
"Maaf, Pak. Resto American jauh dari kantor." Dara berbicara sambil menunduk.
Alex menatap tajam ke arah gadis itu. "Kamu bisa pesankan makanan apa saja yang dekat dengan kantor. Jangan beralasan!"
"Tapi, sekitar sini hanya ada makanan lokal. Bapak, kan, nggak suka makanan lokal."
"Siapa bilang? Saya bisa makan apa saja!" Suara Alex tegas dan Dara tercengang.
"Sejak kapan Bapak suka makanan lokal?" Rasa penasaran memenuhi kepala Dara.
"Itu bukan urusan kamu!"
Mulut Dara tertutup. Setelah memastikan sang direktur menyantap makanannya dengan tenang, Dara beranjak dari tempat itu. Baru beberapa langkah, Alex menghentikan Dara.
"Kerjaan saya banyak, Pak. Proposal yang Bapak minta baru setengah saya kerjakan. Jadi, saya mohon undur diri." Dara memohon.
"No! Temani saya makan! Bukannya kamu juga yang akan bereskan semua? Ya, kamu tunggu saya makan."
Dara semakin kesal. Jika saja yang di depannya bukan bos yang menggajinya, sudah pasti sepatu hak tingginya akan melayang di kepala lelaki itu.
Dengan sabar, Dara menunggu sang bos besar menyantap makannya. Gadis itu duduk di samping Alex dengan muka masam. Permainan di ponselnya tidak membuat perempuan itu senang. Setiap dia berpaling dan melihat wajah Alex, kekesalannya semakin bertambah.
"Bereskan semua!" Alex berlalu begitu saja ke mejanya. Meninggalkan Dara yang masih bengong karena perintah Alex.
Di luar ruangan, Dara terus mengomel. "Astaga! Sebenarnya gue ini sekretaris apa babu, sih? Kenapa gue harus berhadapan sama monster itu?" Gumaman Dara terdengar oleh Banu sang Office Boy kantor.
"Mbak Dara ngomong sama siapa?" Dara terkejut dengan suara Banu, kemudian berbalik ke belakang. Terlihat Banu baru keluar dari ruangan direksi lain.
"Gue ngomong sama elo! Bawa ni nampan ke belakang!" Muka jutek Dara membuat Banu menebak-nebak apa yang terjadi. Kemudian dia membawa nampan yang disodorkan Dara dan berlalu begitu saja.
Di ruangannya, Dara masih terus mengomel. Setelah mereda, dia menghidupkan komputer yang tadi dimatikan dan mengerjakan semua tugasnya. Sesaat dia melupakan wajah menyebalkan sang bos besar. Namun, ketenangan Dara tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Alex masuk ke ruangan kecil itu. Siapkan semua berkas, kita ketemu Mr. Swan sekarang!"
"Hah! Mr. Swan! Astaga, Bapak! Itu, kan, besok sore. Saya belum nge-print berkasnya!" Dara panik. Dia mengobrak-abrik apa saja yang ada di atas meja.
"Itu urusan kamu! Saya tunggu sekarang!"
Dengan sigap, Dara meng-copy paste semua berkas ke flashdisk dan membawa serta laptopnya. Dia teringat, di mobil kantor ada printer yang dia tinggal jika sewaktu-waktu ada keperluan.
Dara berlari mengejar Alex yang telah sampai di depan lift. Setelah berada di dalam lift, perdebatan terjadi.
"Seharusnya kamu persiapkan semua keperluan sebelum hari H, kenapa kamu sekarang jadi malas sekali?" Alex tidak terima.
Dara geram dengan ucapan sang bos. "Maaf, Pak. Selama saya bekerja dengan Pak Adrian, beliau selalu tepat waktu, tidak pernah mengubah jadwal yang sudah ditentukan. Jadi, saya bisa mengerjakan pekerjaan sesuai waktunya." Dara berbicara tanpa melihat Alex.
"Kamu berani membantah saya! Ingat! Saya dengan Papa sangat berbeda!" Alex berbicara tegas, tetapi itu membuat Dara semakin kesal.
"Mungkin saya butuh beradaptasi dengan Bapak!" Dara mengepalkan tangannya menahan amarah.
Alex melihat wajah Dara yang kesal. Lelaki itu terus memperhatikan mimik wajah itu. Namun, Dara tidak melihat Alex sedikit pun saat berbicara karena dia sibuk dengan ponselnya dan itu membuat Alex dapat menebak semua isi hati Dara. Diam-diam lelaki itu selalu tersenyum.
"Saya tau, ketika bicara sama saya, kamu membawa-bawa masa lalu. Jadi, setiap apa yang saya lakukan selalu salah!" Suara Alex terdengar seperti ejekan untuk Dara.
Gadis itu berpaling dari ponselnya dan melihat Alex, dilihatnya sang bos menyunggingkan senyum kemenangan. "Saya sudah lupa dengan masa lalu! Ingat itu, Pak!" tegas Dara.
Alex terkekeh dan itu membuat Dara semakin kesal. "Kita lihat saja ke depan. Siapa yang belum melupakan masa lalu!" Pintu lift terbuka dan Alex keluar begitu saja meninggalkan Dara.
Dara berlari untuk menyejajarkan dirinya dengan Alex. Namun, langkah lelaki itu sangat cepat dan membuat Dara kewalahan. Apalagi gadis itu membawa tas laptop yang dia jinjing, ditambah stelletto yang dia kenakan. Hal itu semakin membuatnya kesulitan berjalan.
Sesampainya di tempat parkir, Dara masuk ke kursi penumpang. Saat Alex mengikutinya untuk duduk di belakang, Dara melarangnya. "Maaf, Pak. Kursi samping sudah ditempati printer kesayangan saya."
Alex mendengkus kesal. Kemudian lelaki itu membuka pintu depan dan duduk di samping sopir.
Dara tersenyum penuh kemenangan. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan bosnya. Gadis itu sudah berjanji akan menjaga jarak dengan sang direktur jika tidak ingin masa lalu terulang kembali.
Sesampainya di restoran, Tuan Swan sudah menunggu kedatangan Alex. Mereka saling menyambut dan sepertinya Alex telah kenal sebelumnya. Keduanya terlihat sangat akrab.
Dara menundukkan kepala dan tersenyum ketika Alex memperkenalkannya dengan Tuan Swan. Setelah itu mereka terlihat berbincang dan menikmati santapan yang telah dipesan sebelumnya.
Dara selalu mengamati wajah sang bos ketika berbincang dengan tamunya. Wajah berahang tegas itu, selalu menyunggingkan senyum. Telah lama Dara merindukan wajah tampan itu. Diam-diam Dara tersenyum melihat lelaki yang ada di sampingnya.
Dua jam berlalu, kedua bos besar itu hanya mengobrol santai. Mereka sama sekali tidak membicarakan pekerjaan. Hal itu membuat Dara bertanya-tanya. Untuk apa dia tergesa-gesa menyiapkan semua berkas jika mereka tidak membahas pekerjaan sama sekali.
"Pak, proposalnya nggak dibahas?" Dara bertanya pada Alex setelah tamunya kembali ke hotel.
"Dia cuma mau ngobrol santai. Kamu lihat tadi." Alex menjawab dengan tenang seakan-akan tidak terjadi apa pun.
"Terus ... kerjaan saya sia-sia? Ngapain tadi saya buru-buru?" Kekaguman Dara pada sang bos sirna. Berganti kekesalan yang mencokol di hatinya.
"Kamu ngapain marah?" Alex berjalan santai ke mobil dan Dara mengikutinya di belakang.
"Bapak nggak punya perasaan! Saya panik tadi, Pak!" Alex berhenti sejenak ketika sampai di samping mobil. Dilihatnya sang sekretaris yang kesulitan membawa barang di tangannya. Namun, kesulitan Dara merupakan kesenangan untuknya, terlihat lelaki itu hanya melihatnya saja, tidak ada niat untuk membantu.
"Kamu cantik kalau lagi marah!" Alex masuk ke mobil begitu saja. Tidak memedulikan Dara yang mematung di luar.