Bab 1

CUKUP SETAHUN

"Mas ... setega itukah kamu, padaku,hiks ... hiks ...," ucapku parau. Air mata sudah tak terbendung. Aku menghamburkan badanku ke kasur. Menenggelamkan wajah ke bantal.

"Aaa ...," teriakku kencang-kencang. Membuang bantal kamar dengan sekenanya. Bantal kenangan indah, namun pahit di rasa sekarang. Bantal romantis, yang selalu aku dan Mas ardi pakai secara bersama. Satu bantal untuk berdua.

"Gimana para saksi, sah!"

"Sah ... sah,"

Suara dari bawah sana bersahut-sahutan. Membuat hatiku semakin nestapa. Nelangsa. Tak berujung.

Kini, aku sah menjadi Istri tua, Bermadukan sahabatku sendiri.Rasanya sakit. Lebih sakit saat berada di ruang oprasi. Berjuang sendiri melawan kesakitan. Hatiku lebih hancur-sehancurnya, daripada oprasi pengangkatan rahimku.

"Tuhan ... aku tahu. Aku yang telah memilih Wulan sebagai maduku. Tapi, entahlah. Hatiku tetap sakit. Maafkanlah aku. Jikalau ketidak ikhlasanku, aku tak bisa menyentuh surga-Mu,"

"Cukup disini saja, Tuhan. Engkau mengujiku. Aku takut. Diriku bisa binasa. Mencintai makhluk, yang kau letakkan surga dalam ridhonya," tutupku berdoa dalam sujud. Mengadukan nelangsa seorang hamba. Yang baru saja di madu karena tak ada rahim dalam tubuhnya.

******

Kala itu ...

"Mas, aku nggak mau kamu madu, Mas. Aku sangat mencintaimu. Melebihi apapun.Jangan kau bagi cintamu, Mas,"

Mohonku mengiba pada Mas Ardi.

"Fa, aku pingin punya anak," sahutnya tanpa menatapku. Pandangannya ke luar jendela kamar kita. Matanya terus menatap pemandangan bukit di malam hari. Indah.

"Kita bisa adopsi, Mas. Banyak bayi yang bisa kita rawat," kilahku tak setuju.

"Bayi siapa? Bayi panti asuhan? tak jelas asal-usulnya. Aku tak sudi, Fa," ketusnya.

"Lagian, Mama dan aku, ingin anak dari darah dagingku. Bukan orang lain, Safa" imbuhnya.

Aku menghela napas perlahan. Mengatur tangisan, yang sesak sampai ke dada.

"Tidak ada carakah lain, Mas, selain kau membagi cintaku," isakku. Sambil mengusap air mata sekenanya.

"Kita bisa cari wanita lain. Kita program bayi tabung dan sewa rahimnya untuk mengandung anak kita,"

"Tanpa kau menduakanku. Kita bisa punya anak, Mas. Aku trauma dengan poligami, Mas," tutupku penuh harap.

Aku tahu, ideku gila. Tapi aku tak punya pilihan lain. Pun tak tahu harus berbuat apa.

"Nggak ... Ibu nggak setuju dengan idemu. Konyol," sembur ibu mertua di ambang pintu kamar kami. Dari belakang. Sedari tadi pintu tidak tertutup.

"Kamu tahu kan, Ardi. Hukumnya haram, Nak. Kalau kamu sewa rahimnya, berarti kau juga harus menikahinya ... "

"Aku nggak mau, Bu," potongku cepat.

Mata Ibu menatapku lekat. Tatapan tak sukanya padaku, begitu kental terasa.

"Diam, kamu! Ngakunya Islam, tapi nggak tahu hukum agama. Wajarlah, Islam KTP,"

bentaknya padaku. Ujung-ujungnya, selalu islam KTP yang ia gelarkan. Padaku.

Mas Ardi hanya diam menatapku. Tanpa mau, sedikitpun membela.

Aku kecewa dengan sikapnya. Selalu tunduk pada wanita, yang selama sembilan bulan mengandung dirinya.

"Ardi, okelah. Ibu setuju, dengan ide istrimu. Untuk program bayi tabung dan menempatkan pada rahim orang lain. Karna memang istrimu tak punya rahim. Tapi, bukan tanpa menikahi wanita itu, caranya. Haram, Nak"

"Nanti kalau bayi itu lahir, statusnya seperti anak zina. Karena, anak itu lahir dari rahim wanita yang tanpa status pernikahan yang sah, dengan Bapak dari janin itu. Jangan lakukan itu Ardi," imbuhnya menasehati.

"Safa, nggak mau di madu, Bu. Safa ingin cinta seutuhnya," tolakku lirih.

Mendengar penuturannya, membuat hatiku sakit. Seperti tersayat tajamnya sembilu. Sakit sekali mendengar penuturan wanita yang sudah kurawat sepenuh hati, tiga tahun lamanya.

"Kamu apa nggak mau punya anak. Selamanya?" tanyanya memojokkanku.

Aku menggeleng pasrah.

"Kalau mau senang, ya harus berkorban dulu, Safa. Sekarang kamu milih. Anakku nikah lagi, punya anak dari istri baru atau anakku nikah lagi, tapi punya anak dari kamu?"

"Aku setuju sama Ibu," seloroh Mas Ardi tanpa pedulikan diriku yang sudah banjir air mata.

"Ardi, carilah istri kedua. Untuk kau nikahi. Tapi, yang pemahaman agamanya bagus. Nggak islam KTP saja," sindir ibu, melirikku sinis.

Aku menatap lekat Mas Ardi. Seraya menggeleng. Memberi isyarat jangan. Jangan lakukan ini padaku.

"Oke, Bu,"

"Mas ... jangan lakukan ini padaku, aku nggak mau kehilangan kamu," mohonku sambil sujud-sujud menyentuh kakinya.

"Lepasin, Safa," hardik Mas ardi membuang tubuhku kasar.

"Kamu tahu. Surga istri, ada di ridho suami. Kalau kamu buatku marah terus-terusan. Nggak bakalan aku meridhoimu,"

Tangisku semakin pecah. Tanpa bisa kukendalikan. Aku beringsut berdiri. Mencoba menatap mereka dengan berani.

"Contohlah si Wulan, sahabatmu itu. Dulu sama mantan suaminya, selalu ia utamakan ridho suami, padahal selalu di KDRT. Walau sampai punya anakpun dia tetap bertahan. Cari ridho suami. Contohlah, dia," seloroh Mas Ardi. Membanding-bandingkan aku dengan Wulan.

Wulan adalah sahabatku. Baru enam bulan kami bertemu. Aku menampungnya, karena kasihan. Melihatnya dipukul secara membabi buta di depan mata kepalaku. Oleh, suaminya, yang kini sudah menjadi mantan. Semua itu tak lepas dari usaha dan jerih payahku.

Itulah cerita sekilas. Awalku bertemu Wulan. Singkatnya, dia sahabat terbaikku. Wulandari Kartika.

Aku menggeleng. Tak henti-hentinya, air mata mengalir.

"Kalau kamu sepakat. Satu tahun saja pernikahan ini, dan kamu bisa milih, wanita yang kamu suka," imbuh Mas Ardi.

Kulirik sekilas ibu mertua. Nampaknya ia kaget.

"Ardi, itu sama saja nikah kontrak. Haram," nasehat Ibu layaknya ustadzah bohongan.

"Ceraikan saja si Safa, Di. Lagian, dia istri nggak ada guna. Kenapa, sih kamu dulu nikahin wanita tanpa rahim ini?" geram ibu sambil melirikku.

Mas Ardi. Diam tak bersuara. Pun aku. Hanya diam menunduk. Meratapi nasib. Beginikah nasib wanita tanpa rahim? Maju mati, mundur pun juga.

Siapa, yang mau menjadi wanita tanpa rahim. Ku rasa, semua wanita tak mau. Aku juga tak bisa memilih. Antara takdir yang ditetapkan Tuhan padaku.

Lengkaplah sudah. Gelar, yang diberikan mertuaku padaku. Wanita islam KTP tanpa rahim. Penuh luka dan derita. Hiks.

"Aku kaya, Bu," lirihku akhirnya memberanikan diri.

Mas Ardi mengangkat tangan kanan. Hendak menamparku. Spontan, Kututupi wajahku. Ketakutan. Bergidik ngeri. Mengingat tangan kokoh Mas Ardi menggampar wajahku.

Tapi, aneh ...

Kenapa tak ada rasa. Terhentikah?

Mataku mengerjap-ngerjap. Membuka kelopak mata.

Ternyata, Ada tangan yang menghalanginya. Siapa?

Bab 2

CUKUP SATU TAHUN AKU DI SISIMU, MAS

Wulan," pekikku kaget

"Jangan lakukan ini sama mbak Safa, Mas,"

Ujar seseibu muda yang sangat ku kenal. Suaranya halus. Lembut, khas ibu-ibu penyabar. Dia Wulan, sahabatku.

Ibu menarik lengan Wulan, untuk menepi.

"Jangan ikut campur Wulan, biarkan Ardi kasih pengertian sama istrinya. Biar nggak belagu. Dia harus tahu, surga istri, ada di suaminya. Nyesel, aku dulu kasih restu. Kalau tahu istri Ardi kayak gini. Nggak bakalan, kurestui. Udah nggak bisa punya anak, agama cuma di KTP saja. Nggak paham ajaran," ujar Ibu mertua panjang lebar.

Wulan terdiam.

Sepuluh jemariku saling bertautan. Takut. Baru kali ini, Mas Ardi mau menamparku.

"Pilhannya hanya itu, Fa. Kalau kamu nggak mau. Cerai, mungkin lebih baik,"

Duar ....

Perkataan Mas Ardi, serasa guntur di siang bolong.

Cukup setahun. Bagiku itu waktu yang sangat lama.

"Diammu. Kuanggap, iyamu,"

Tes ...

Air mata menetes. Hati remuk. Sakit tak terkira.

"Kalau kamu masuk surga. Ya, turuti suamimu. Atau, sebenarnya, kamu ingin masuk neraka, iya? Belajar agama yang bener. Jangan islam KTP, saja. Sudah ilmunya sedikit. Nggak ada rahim, pula," hardik keras ibu mertua.

'Sesakit itu kah, jalan masuk surga' ujarku hanya dalam hati.

Selama ini aku diam, mendengar cacian dan makian Ibu.

Mengapa? Mengapa harus Wanita islam KTP tanpa rahim, yang ia gelarkan padaku.

Padahal. Aku sangat menghormatinya. Berhak, kah dia mencampuri urusan rumah tanggaku.

Seharusnya, dia juga tidak berhak mencampuri urusanku dengan Allah. Masalah Islam di KTP atau tidak, biarlah menjadi urusanku dengan Tuhanku.

Selama ini. Aku sudah berusaha menjadi hamba yang lebih baik.

Sudah cukup juga, aku merawatnya selama ini. Memberinya tempat untuk berteduh, makanan enak dan bergizi, serta baju branded terupdate, selalu ku hadiahkan padanya. Sebagai bentuk rasa hormat dan sayangku pada mertua.

Tapi, kini saat aku ditimpa masalah. Di mana rahimku terpaksa diangkat. Dia malah memojokkanku, menghina bahkan membuang.

Bahkan, gelar wanita tanpa rahim, yang hanya islam KTP, ia sematkan padaku.

Seolah ibu mertuaku lupa, akan kebaikanku. Dia pikun, dari mana dapatkan kemewahannya selama ini.

Air susu dibalas dengan air tuba.

"Oke. Aku setuju. Tapi, dengan Wulan, dan itu cukup satu tahun. Setelah setahun, dan anakku sudah lahir. Ceraikan Wulan. Secepatnya" ucapku akhirnya.

Wulan di sampingku terperangah. Kaget.

Namun, sepertinya dia tidak bisa berkutik. Dia selalu menggapku sebagai, malaikat penolongnya. Penolong dari mantam suami yang dzolim.

**********

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan.

Program bayi tabung anakku dan Mas Ardi di rahim Wulan, akhirnya berhasil.

Aku sangat senang. Tapi, aku tetap tak bisa menyembunyikan rasa sedih. Sedih atas kenyataan, kalau pada akhirnya pernikahanku, harus mengundang madu.

Sementara hanya bisa bersabar. Aku terus berusaha melayani Wulan dengan baik, dan hati yang lapang.

Pagi ini, kata ibu mertua. Wulan tidak enak badan.

"Kamu antarkan makanannya sama si Wulan. Kasihan, dia. Sedari malam urus anaknya. Belum juga janinmu. Eh, kamunya malah enak-enakan. Tidur ngorok di kamar. Jadi istri tua harus perhatian. Kasih contoh yang baik. Jika, madumu sakit. Kamu yang harus layani. Paham," sungut ibu mertua.

"Ya. Bu," pasrah. Namun, dongkol di hati.

"Nanti Kafa. Anaknya si Wulan. Ajak main. Sekarang, kamu tugasnya, selama Wulan hamil, jagain Kafa. Ganti kan posisi Wulan. Siapin makan, minumnya. Mandikan, juga. Ya, tugasnya nggak jauh beda sama baby sitter,"

Baby sitter. Dari wanita Islam KTP tanpa rahim. Sekarang di tambah baby sitter. Why?

"InsyaAllah. Kalau kamu, turutin apa kata Ibu. Ardi bakalan meridhoimu. Ridho, kalau kamu istri sholikhah. Dapat surga-Nya Allah. Paham? anggap saja. Ibu memberi kamu ilmu. Biar islam KTP mu cepet luntur," Ujarnya. Lagi. Di iringi dengan Lafadz Amin dari bibir keriputnya.

Tes ....

Tak terasa air mataku menetes. Namun, segera ku usap. Takut terlihat Ibu mertua. Nanti, dia akan semakim lebih mengolo-ngolokku.

*********

Tok ... tok ...

Aku mengetuk kamar Wulan.

"Wulan, ini sarapan buat kamu. Kata Mama, kamu sakit," panggilku. Tak ada sahutan.

"Ish ... aku masuk saja. Gimana, ya," lirihku nyaris tanpa suara.

Kakiku melangkah masuk. Pintu kamar mandi tertutup. Mungkin wulan di sana. Pikirku kemudian.

Ku letakkan nampan sarapan. Biasanya ini pekerjaan Mbok Sumi. Namun ia juga sakit.

"Istri kamu memang bodoh Mas, Mau nya kita kibulin,"

Suara Wulan dari kamar mandi. Seperti sedang berbicara dengan sesorang lewat ponsel. Membuat hatiku penasaran. Siapa yang di maksud.

"Padahal kita udah nikah. Udah punya anak pula. Jauh sebelum kau mengenalnya. Memang bodoh banget si Safa," tambahnya lagi.

Astagfirulloh ...

Dia berbicara dengan siapa? Mas Ardi, kah?

"Nggak mungkin banget, aku mau mengandung anaknya. Ogah, Mas. Kalau bukan karena kamu ingin kuasai hartanya, lewat anak yang ku kandung ini. Jelas. Aku sangat malas. Kamu tahu, kan? Aku deketin dia, juga cuman pura-pura. Pura-pura baik. Biar numpang hidup enak, hahaha"

Allah ....

Apa mungkin. Awal bertemu denganku, dia pura-pura di aniaya, untuk menarik simpatiku.

Hening sebentar.

"Sebenernya, aku nggak mau mengandung anak Safa secara gratis, ya sayang ... Keenakan dia nanti kalau punya anak. Apalagi dari suamiku. Sebagai gantinya. Selama aku hamil anaknya. Kujadikan dia, jongosku. Kusuruh dia yang urus Kafa, sama keperluanku. Hebat, kan, istri Mas Ardi!"

Istri Mas Ardi? jadi, suamiku dibalik semua ini? dia ingin kuasai hartaku, lewat anak yang di kandung, wanita murahan itu.

"Wulan, udah sarapan belum?" teriak ibu mertua dari depan kamar.

Aku tersentak. Kaget. Itu suara ibu mertua.

Aku bergegas mengambil sarapan Wulan dan segera bersembunyi, di samping kasur mahal yang kubelikan untuk dia.

Ibu mertua masuk bebarengan keluarnya Wulan.

"Loh ... belum dianterin sarapanmu? kayaknya tadi menantu bodohku mau antarkan, Lan,"

Menantu bodoh. Dia sebut aku, menantu bodoh.

"Haha ... Ibu ada-ada aja. Ada gunanya lho bu, anak menantu ibu itu. Ya, walaupun islamnya KTP dan nggak punya rahim. Setidaknya harta dan tenaganya bisa kita kuras, ya, kan?" mereka tertawa. Tergelak bersama. Menari-nari diatas penderitaanku.

"Mbok Sumi, udah masak, kan, Bu. Anak si safa rakus banget. Buat aku sering lapar. Makan, yuk,"

"Hayuk, ah," sahut Ibu mertua.

Aku masih bersembunyi.

Usai kepergian mereka. Aku terduduk. Masih di samping ranjang Wulan. Tanganku terkepal di samping. Marah melihat orang-orang yang ia sayangi. Tulus. Bermain api di belakangnya.

Ku usap air mata. Agar segera susut dari Netraku.

Aku tak boleh menangis. Mulai hari ini.

Mereka nggak pantas di tangisi.

"Jadi ... kalian mau bermain-main denganku. Oke! aku layani kalian. Tunggu pembalasanku,"

"Cukup setahun aku di sisimu, Mas. Setelah anakku lahir. Ku pastikan kalian kembali ke asal. Orang ndeso, sok agamis nan mlarat,"

"Tunggu permainanku. Banyak kejutan buat kalian," tutupku lirih. Sambil tersenyum licik.

Bab 3

Mereka nggak pantas di tangisi.

"Jadi ... kalian mau bermain-main denganku? Oke! aku layani kalian. Tunggu pembalasanku,"

"Cukup setahun aku di sisimu, Mas. Setelah anakku lahir. Ku pastikan kalian kembali ke asal. Orang ndeso, sok agamis nan mlarat,"

"Tunggu permainanku. Banyak kejutan buat kalian," tutupku lirih. Sambil tersenyum licik.

***********

"Dek ..." panggil Mas Ardi lembut. Sambil mengusap pungungg tanganku. Menatapku romantis.

Tumben dia panggil aku, dek. Pasti, ada udang di balik peyek. Ups, maksudnya ada udang di balik batu.

Keluarga benalu semua berkumpul di sini. Di ruang tamu. Mas Ardi, Ibu mertua yang sok agamis dan Wulan si muka dua.

Anak Wulan sudah tidur, dari tadi. Berkat perjuanganku seharian momong. Seharian sudah layaknya baby sitter. Capek.

Kulirik sebentar Wulan. Wajahnya terlihat di tekuk. Mulut, dia monyong-monyongkan. Uh ... rasa-rasanya, itu mulut ingin kutabok panci gosong.

Cemburu, ya. Suamiku, maksudnya suami kita, mesra pada madumu. Kasihan, deh.

'Yes ... kecoa jantan sudah masuk perangkap," girangku dalam hati.

"Ada apa, Mas?" jawabku di sampingnya. Wulan terus menatapku. Sedangkan Ibu mertua, sibuk dengan acara dangdut di TV. Kesukaannya.

"Katamu dulu, perusahaan sudah jadi milikku? tapi, kata sekretaris baruku. Masih punyamu, usai dia lihat data perusahaan," lembutnya.

"A-apa, Mas. Aku kurang denger. TV nya kekencengen, sih," bohongku. Memang itu tujuanku, agar Ibu mertua mematikan Tv, lalu ikut nimbrung dan akhirnya masuk perangkap.

"Bu, nonton apaan sih. Ini aku mau bicara penting. Sama, dek Safa,"

Ohoy ... dia panggil aku, dek. Lagi.

Kalau dulu. Pasti hatiku udah berbunga-bunga. Sekarang, ya, masih berbunga-bunga, sih. Tapi, bunga bangkai.

"Matiin dulu, Bu," tambah Wulan. Halus.

Ibu mencebikkan bibir sambil melirikku. Kesal.

"Ya, deh. Lagian ngomong apaan, sih. Penting, ya?"

Mas Ardi tak menyahuti cibiran Ibu. Pun aku dan Si muka dua.

"Dek, gimana ceritanya. Perusahaan masih milikmu. Dulu katanya, buat Mas Ardi," ulangnya ke inti.

Enak, saja. Susah payah almarhum papaku bangun. Seenak jidat, buat kamu. Ya Ampun. Mustahil. Tak akan pernah kubiarin.

"Kamu jadi istri, kok suka bohong. Jangan durhaka, kamu. Suami sendiri, kok di bohongin. Mau masuk neraka, kamu," hardik Ibu mertua dongkol. Dia berdiri dari duduk tak santainya.

Ingin sekali ku dorong tubuhnya. Agar terkena stroke sekalian.

Awas. Stroks bu. hihi.

"Dengerkan penjelasanku dulu," mulai diri ini.

"Aku, kan punya satu perusahaan. Nggak mungkin, kan, satu perusahaan buat satu orang saja. Sedangkan, kalian semua sangat berarti bagiku," ujarku bersandiwara.

"Maksud, Mbak?" si muka dua bertanya, heran.

"Aku mau bagi perusahaanku buat kalian bertiga. Sebagai rasa terimakasih. Karna memperjuangkanku untuk miliki keturunan,"

Bersamaan, Ibu mertua dan Wulan melongo. Kemudian senyam-senyum kegirangan. Mungkin, mereka udah bayangin jadi OKB. Dasar mata duitan.

"Beneran?" sontak Ibu.

"Ya. Bener. InsyaAllah kalau tidak ada aral melintang, setelah Wulan melahirkan anakku. Aku pribadi, akan memberikan langsung pada kalian,"

"Beneran?" tanya Mas Ardi. Mengikuti ibunya.

"Apa aku terlihat bercanda, Mas. Atau kalian nggak mau perusahaanku?"

"Mau!" sontak mereka serempak.

Aku mencebikkan mulutku. Tak sengaja.

Dasar. Matre. Mata duitan. Keluarga benalu. Mengaku agamis, tapi kelakuannya bikin hati meringis. Miris.

"Ya. Ya udah, deh," ujarku berdiri. Berlalu pergi sambil mensedekapkan tanganku.

'Permainan segera dimulai. Sekarang dan sampai anakku lahir. Aku yang akan jadi ratunya dan kalian semua, babuku. Wahai jongos-jongosku,' sombongku dalam hati.

******

"Mas ... gimana, sih kamu. Katanya perusahaan si Safa, udah jadi milikmu. Nyatanya?"

Aku tersenyum licik, mendengar suara bernada sangat kecewa, dari Istri tua suamiku. Beruntung, kemaren mereka semua pergi. Jadi, dengan leluasa aku bisa meletakkan alat sadap suara di bawah meja rias si muka dua, itu. Karena aku yakin, kamar Wulan adalah markas besar mereka.

Menyadap kamar Wulan sudah. Selanjutnya, sadap WA Mas Ardi, Suami jahatku.

Mereka jual. Aku beli. Mereka licik. Aku jauh lebih bisa licik.

Istri sholikhah yang taat suami dzolim sudah musnah. Apalagi, menantu yang hanya islam KTP , saja, siap bertempur dengan mertua kejam, sok agamis.

"Iya, nih, Ardi. Kamu kenapa nggak bisa, sih, rebut harta wanita islam KTP itu," suara ibu mertua uring-uringan.

Mendadak membuatku marah. Sangat marah. Sampai panas puncak ubun-ubun, jantung dan ususku. Ups.

"Mulai sekarang. Kalian harus bersikap baik sama Safa. Jangan sampai dia berubah pikiran. Kita sudah sejauh ini. Melangkah menerjang masalah demi masalah. Sampai aku merelakan istriku, Wulan mengandung anak Safa. Jangan sampai kita gagal jadi orang kaya. Paham?"

Astagfirulloh ... ternyata lelaki miskin, yang dulu ku pilih karena kuatnya ilmu agama yang ia miliki, tak ubahnya iblis yang gila harta. Sampai segitunya ingin mejadi kaya. Halal-haram, dia terjang.

"Manusia hina, kau, Mas," geramku. Tanganku terkepal. Menggenggam marah sprei kasurku.

Manusia kelakuan iblis.

"Sampai kapan. Ardi? Masa ibu harus pura-pura baik, sih. Ibu, kan bukan Wulan,"

"Maksudnya?" terdengar Wulan menyahut tak suka. Mungkin merasa tersindir.

"Ayo ... serang Wulan," ujarku mulai menikmati.

"Ya. Kayak kamu. Di depannya aja baik. Di belakang. Menusuk,"

"Enak saja, Ibu bilang begitu. Aku begini, demi siapa coba?" suara Wulan nampak tak mau kalah.

"Mending muka dua. Daripada Wanita tua ngakunya alim. Padahal munafik," imbuh wulan. Untuk yang ini, aku setuju dengan istri tua.

Mampus kau, ibu suri. Jahat, sih, Anda.

"Aw ... tolong ..., sakit bu, rambutku, Mas, tolongin, dong!"

Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi aku yakin. Mereka sedang bertengkar. Pasti Ibu suri menjambak rambut menantu kesayangannya.

"Sudah ... diam. Seharusnya dalam situasi begini. Kita harus kompak. Jangan bertengkar. Kalian, selalu saja kayak anak kecil. Udahan, Bu. Ingat umur. Kamu, juga Wulan!" hardik keras, Mas Ardi.

"Untung. Kamar ini udah ku kasih alat kedap suara. Kalau, nggak? habis kita. Safa nggak bakal kasih perusahaannya ke kita. Gagal semuanya!"

Haa ...,? seriusan? seniat itu, kah suamiku!

"Kafa, udah tidur, kan?" tanya Mas Ardi. Menyakan anak hasil dengan istri tuanya.

Aku geram mengingatnya. Dulu, sebelum menikah. Dia ngakunya, perjaka. Belum kenal wanita. Tidak pernah pacaran. Nyatanya, zonk. Anak aja udah punya. Dimana letak keperjakaan kamu, Mas. Dusta.

Aku mendadak teringat nasihat almarhumah mamaku.

"Kalau kamu bertemu seseorang, yang mana di awal, dia berbohong. Maka, akan ada kebohongan lain, yang harus kamu tahu. Ungkapkan dan buktikan, kalau kamu kuat. Jika, tidak kuat. Maka, pergilah dan mulailah hidup barumu,"

Aku meneteskan air mata. Nasihat mama, sewaktu aku juga mengetahui, skandal perselingkuhan papa dengan sekertarisnya.

"Papa gagal jadi Suami. Tapi, menjadi seorang ayah. Dia berhasil. Tetap hormati dan sayangi dia, Safa," ingatku lagi pada perkataan Mama. Membuatku bersedih.

Tak menyangka, aku dihadapkan kisah perselingkuhan lagi. Tetapi, ini lebih rumit dari pada Mama. Kalau Mama, lebih memilih pergi, tapi aku akan tetap bertahan. Demi anakku.

"Aku Safa Marwadina. Wanita kuat yang akan perang melawan kedzoliman Suami dan Mertua. Doakan aku kuat, Ma," lirihku.

Aku ingin solat. Bermunajat pada Allah. Ingin memgadukan nelangsa hidup ini.

Kelihatannya, diskusi mereka sudah usai. Mungkin, sebentar lagi, Mas Ardi, ke sini. Aku harus ke kamar mandi. Berwudlu lalu solat. Minta kekuatan pada Allah. Menghadapi setan berwujud manusia, itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED