Bab 1

"Jaket punya siapa? Gue nggak pernah lihat lo pakai itu." Samuel yang dari tadi diam akhirnya melayangkan pertanyaan.

"Ada lah, udah lama kok." Tian lupa, para member sudah hafal dengan pakaian yang dimilikinya.

"Tumben juga lo pakai iWatch, kemana Rolex nya?" Jimmy ikut menimpali karena melihat style Tian yang tak seperti biasanya.

Elang mendekati Tian dan mengendus jaket yang dikenakannya.

"Wah baunya bukan bau Tian ini. Lembut sekali wanginya," ujar Elang dan membuat member yang lain ikut mencium bau dari jaket yang Tian kenakan.

"Bau siapa, Tian ngaku, ini bukan bau lo." Septa mencolek dagu Tian diikuti yang lain juga.

"Apa sih, bukan bau siapa-siapa."

"Muka Tian merah guys, mukanya merah." Septa senang sekali menggoda Tian kali ini.

Tawa kembali mengudara di ruangan tersebut. Ruangan yang penuh canda tawa ya, GMC memang terbaik di kelasnya.

Pukul 11 malam, semua urusan GMC di hotel Santika sudah selesai. Member dan para staf bersiap untuk pulang. Ada yang menuju apartemen milik kantor, ada yang kembali ke apartemen masing-masing dan tentu saja ada yang tak kembali di antara kedua tempat tersebut.

"Gue capek banget hari ini." Tian memijat kepalanya yang terasa sangat berat.

"Iya, semua juga cape, Yan, kan kita tour nya barengan." Jimmy yang satu mobil dengan Tian menimpali dan menyandarkan kepalanya pada pundak Tian.

"Lo pulang kemana?" Jimmy kembali bersuara.

"Apartemen Rajawali tower 3, Pak." Tian memberitahu supir mereka.

"Lo baru beli apartemen di Rajawali? Gue ikut nginap tempat lo aja deh."

"Bukan punya gue, dan gak bisa ikut nginap," terang Tian tak mau dibantah dan tak mau disanggah.

"Aduh gue lupa bawa kartu akses nya." Tian menepuk dahinya begitu ingat bahwa ia lupa membawa kartu akses yang ia tinggalkan di meja resepsionis.

"Yaudah lo pulang ke apartemen kantor aja bareng gue." Jimmy sudah makin mengantuk terdengar dari suaranya yang mulai melemah.

"Gak bisa, gue takut dia nungguin." Tian teringat Ria yang kemungkinan akan menunggunya pulang.

"Hah? Dia siapa?" Jimmy sudah menuju alam mimpi dan tidak peduli lagi dengan jawaban Tian.

"Terima kasih, Pak. Saya titip Jimmy, tolong antar sampai kamarnya." Tian pamit pada supir dan bodyguard yang memang disediakan oleh perusahaan untuk mereka.

Tian berjalan menuju resepsionis dan menyerahkan KTP miliknya sebagai tanda ia memang salah satu pengunjung yang diberikan akses menuju kamar di lantai atas.

"Bisa tolong dibuka dulu masker, kacamata dan topinya, Mas? Untuk memvalidasi KTP dengan pemiliknya," ujar resepsionis tersebut.

"Aduh, topinya gak usah ya, Mbak. Lagi ramai lobinya." Tian melakukan penawaran demi keamanan privasinya.

Resepsionis tersebut mengiyakan dan mencocokan wajah yang berada di KTP dengan Christian Hartanto yang berdiri di depannya saat ini.

"Baik, sudah sesuai semuanya. Mas Christian akan diantar oleh security sampai depan kamar yang dituju. Selamat malam, have a nice dream." Resepsionis tadi menelepon security dan meminta untuk mengantar Tian menuju kamar unit di lantai atas.

Keamanan pada apartemen ini memang tidak diragukan lagi. Apartemen ini juga mendapat berbagai penghargaan dalam segi keamanan dan kenyamanan penghuni.

Pemilik unit sendiri, tentu saja tidak memiliki akses yang sulit dan rumit seperti pengunjung. Mereka cukup mendaftarkan wajah dan iris mata untuk dapat mengakses lift dengan mudah.

Harga yang ditawarkan pihak manajemen apartemen memang sebanding dengan fasilitas dan pemeliharaan yang dilakukan mereka. Tidak sembarang orang yang dapat memiliki satu unit di sini. Mereka dengan pendapatan bersih mendekati tiga digit yang biasanya mampu tinggal di apartemen ini dan memiliki satu unit. Tak jarang, Rajawali ini menjadi incaran para crazy rich untuk ditempati.

"Sudah sampai, Mas," ujar security tersebut begitu mereka tiba di depan kamar Ria.

"Terima kasih, Pak." Satpam tersebut pamit undur diri.

Tian memasukkan sandi untuk membuka pintu tersebut.

Klik..

Beruntung Ria hanya mengunci satu lapis. Mungkin ia tahu bahwa Tian pasti akan kembali lagi.

Biasanya Ria mengunci hingga tiga lapis, dengan kata sandi, iris mata, dan kartu akses. Dan itu semua bisa di custom sesuai keinginan pemilik unit.

Tian langsung menuju dapur untuk mengambil minum. Sepanjang perjalanan ia menahan haus.

Setelah mengambil minum, ia menuju meja makan dan melihat sudah tersedia makan malam yang sepertinya dimasak sendiri oleh Ria, karena itu makanan kesukaannya.

Tian merasa bersalah karena ia sudah makan banyak di ballroom tadi. Tian beranjak menuju ruang keluarga untuk sekedar merebahkan tubuhnya di sofabed. Ia kembali dikejutkan dengan sosok Ria yang masih mengenakan pakaian kantornya dan sedang terlelap di sofabed tersebut.

Rasa bersalah kian menggebu tatkala melihat Ria yang baru pulang kerja dan masih menyempatkan diri untuk memasak. Terlihat dari makanan yang masih hangat dan perabotan yang belum kering sempurna.

Tian mengangkat tubuh Ria dan membawanya menuju kamar milik Ria. Ia melakukan rutinitas sebelum tidur yang biasa dilakukan Ria. Membersihkan wajah Ria menggunakan micelar water, memberikan toner pada wajahnya, beberapa serum wajah yang diketahuinya, dan sentuhan terakhir yaitu vitamin rambut. Rambut berkilau, hitam legam dan tebal milik Ria tentu saja didapat dari hasil merawat dirinya selama ini.

Megapa Christian tahu? Karena mereka sering video call ketika malam hari sebelum tidur dan Tian akan bercerita tentang hari yang dilaluinya. Tentu saja Ria hanya mendengarkan dan diam sepanjang mereka video call. Dan Tian yang memperhatikan Ria melakukan night routine ala Ria Ananta. 

Ria hanya punya waktu ketika malam hari sepulangnya bekerja, dan tak jarang mereka sulit untuk menghubungi satu sama lain karena Tian yang sering keliling dunia untuk pekerjaannya. Perbedaan waktu dan jam kerja tersebut lah yang membuat Tian sangat mencari momen yang tepat untuk mereka berkomunikasi.

Tian mengatur suhu ruangan melalui AC dan dibuat sesuai nyaman versi Ria. Memandang sang pujaan hati, tersenyum dibuatnya.

"Good night, have a nice dream Ri. You know that I'm still loving you. I hope you too." Tian mengecup kening Ria cukup lama dan mengucapkan doa-doa di hadapannya. Segala doa ia panjatkan demi bisa terus bersama dengan orang terkasihnya.

Begitu dirasa cukup, Tian keluar dari kamar Ria dan melanjutkan aktivitasnya yang belum terselesaikan.

"Me too, Tian," ujar Ria menahan tangis begitu Tian keluar dari kamarnya.

#################

Bab 2

"Good morning, Ri. Aku udah buat sarapan untuk kamu," ujar Tian yang baru memasuki apartemen.

Ria menuju ruang makan tanpa membalas sapaan Tian. Ia duduk dan memperhatikan Tian dengan seksama, menunggu pengakuan darinya.

Tian yang ditatap seperti itu hanya melongo. Ia tak paham maksud tatapan Ria.

Ria yang malas menjelaskan, memilih untuk menyantap sarapannya.

Tian yang diperlakukan seperti itu, menggaruk belakang kepalanya. Apa yang salah dengannya? Ikut sarapan bersama Ria dan terus mencuri pandang ke arahnya.

"Kenapa sih? What's wrong?" tanya Tian karena ia terganggu dengan keterdiaman Ria.

Ria hanya menggelengkan kepala dan mengabaikan pertanyaan Tian.

"Dari mana?" akhirnya Ria buka suara.

"Gym."

"Aaaaa, I see. Iyaa aku pakai kartu akses kamu." Tian akhirnya sadar apa yang dipertanyakan Ria.

Kartu akses ini bisa mengakses segala fasilitas yang ada di tower 3. Mulai dari sport center like gymnasium, bar and cafe, rooftop, casino, swimming pool, botanical garden, green house, pujasera dan lainnya.

Segala biaya pemeliharaan fasilitas tersebut sudah masuk ke dalam iuran bulanan tower 3. Kartu akses tersebut dapat juga digunakan untuk mengutang, jika lupa membawa dompet ataupun uang, bisa digunakan hanya pada tower 3. Tagihan biasanya akan langsung masuk ke rekening pemilik kartu akses setelah pembayaran selesai. Karena dapat juga digunakan untuk akses lift maupun pintu kamar, maka kartu ini sangat berharga dan tidak boleh sampai hilang atau jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab.

"Aku suka deh Ri fasilitas tower ini." Tian mengungkapkan kepuasannya terhadap kualitas apartemen ini.

"Yaudah beli unit di sini satu," ujar Ria dengan mudahnya seolah menyuruh membeli kacang goreng.

"Pengennya sih."

"Kemarin di lantai bawah kosong, dijual." Ria memberitahu informasi yang diketahuinya dari marketing tower 3.

"Aku nunggu unit yang satu lantai sama kamu kosong. Kalau ada yang kosong langsung ku beli detik itu juga," ujar Tian dengan bersemangat. Ia sangat menginginkan bisa satu lantai dengan Ria.

"Terserah." Ria bangkit untuk mencuci piringnya.

"Liburan yuk. Aku off seminggu nih," ajak Tian tanpa pikir panjang.

"Gak bisa. Lagi ada big project dan gak boleh ada yang cuti," tolak Ria detik itu juga.

"Tapi kamu kan gak pernah ambil cuti. Masa gak boleh?" Tian memulai perdebatan.

"Kalau kamu lagi tour dan aku off emangnya boleh kamu ambil cuti?" balas Ria dengan pertanyaan.

"Gak boleh, kan aku lagi kerja dan harus menjalankan yang udah disiapkan jauh-jauh hari sama staf aku," jawab Tian yang sepertinya masih belum mengerti arah pembicaraan ini.

"Lalu bedanya sama aku apa? Big project ini sudah disiapkan jauh-jauh hari dan harus dilakukan!" Ria menekankan jawabannya.

"Tapi kan-"

"Jangan mengeksklusifkan suatu pekerjaan kalau di dalamnya sama-sama terlibat banyak orang dan perencanaan yang tidak mudah. Bukan berarti pekerjaan aku yang kelihatannya bisa disambil sambil dan itu bisa dikesampingkan gitu aja," ujar Ria dengan berusaha merendahkan intonasinya agar tak berujung jadi pertengkaran hebat.

"Ya mungkin HRD akan nerima pengajuan cuti aku, tapi apakah itu worth it? Di tengah kesibukan perusahaan yang sedang melakukan big project?" tanya Ria kembali.

"Worth it kok. Terus kalau gini kapan quality time kita nya Ri?" Tian kembali mengajukan pertanyaan diiringi sedikit paksaan.

"Kenapa harus aku yang ngalah untuk ambil cuti? Bahkan kamu sehari pun untuk quality time sama aku di tengah shooting variety show kamu gak pernah bisa!!!" Emosi Ria mulai terpancing, terlihat dari cengkramannya pada gelas yang mulai kencang.

Tian tertohok mendengar perkataan Ria. Dia memang tak pernah sadar selama ini jika banyak menuntut ini itu, padahal ia sendiri pun sulit untuk berkorban.

"Okay kita sudahi perihal cuti ini. Kita keliling sekitar sini aja gimana?" Akhirnya Tian mengalah dan menawarkan opsi lain.

"Yakin boleh pergi sama agensi kamu?" Ria sudah tahu betapa ribetnya pihak agensi GMC.

"Boleh. Kan lagi libur seminggu." Tian menjawab dengan yakin.

"Yaudah."

Ria keluar dari kamar setelah mengambil peralatan tempurnya.

"Loh kok gak jadi siap-siap?" Tian bingung dibuatnya, ia pikir Ria akan langsung bersiap.

"Banyak yang harus di follow up dulu," jawabnya sambil tetap fokus pada laptop dan kertas-kertas yang ada di hadapannya. Ria melakukan zoom meeting bersama timnya untuk memastikan semua persiapan proyek mereka berjalan sesuai rencana.

"Rangga tolong cek lagi ke tim legal sudah siap belum terkait kepastian hukum ini, Dita tanya finance dana nya sudah turun belum dari big boss, minta anak marketing pending dulu ributnya sama produksi dan finance selama proyek ini jalan," dan lainnya yang tidak dipahami oleh Tian.

"Aku siap-siap duluan ya" Tian dengan sengaja malah mengecup kening dan pipi Ria dan membuat meeting mereka terhenti.

"Wah siapa tuh Mbak Ri?"

"Ternyata selama ini Mbak Ria gak jomblo."

"Otw go public nih Ria."

"Anjir." Menutupi wajah dengan kedua tangannya, Ria sangat malu. Suka tidak tahu diri memang Christian Hartanto ini.

"Yuk fokus lagi yuk." Ria menyudahi intermezzo yang baru terjadi. Rapat pun dilanjutkan dengan tenang dan lancar.

"Btw mbak, lo hari ini gak ke kantor mau nge-date ya? Segala ditungguin Mas Pacar tuh." Dita kembali mengangkat topik mas pacar. Yang lain ikut heboh kembali.

"Gak juga," sanggah Ria dengan wajah yang mulai memerah karena terus digoda oleh teman satu tim nya.

"Eciee Mbak Ria mukanya merah."

"HAHAHAHA." Mereka semua menertawakan Ria, tak terkecuali Christian-si biang kerok yang sudah berada di sampingnya saat ini.

"Udah lah. Udah selesai kan. Bhayyy maksimal." Ria langsung meninggalkan zoom meeting karena mereka yang terus menggodanya.

"Kamu jangan begitu dong. Aku gak pernah dengan sengaja masuk frame kalau kamu lagi live di depan penggemar kamu." Ria memprotes tindakan Tian barusan.

Yang benar saja, jantungnya hampir copot jika teman-temannya tahu bahwa tadi adalah seorang Christian Hartanto-salah seorang anggota boys group yang sedang santer dibicarakan seluruh penjuru dunia.

"Kamu lucu soalnya kalau lagi rapat serius begitu." Tian menanggapinya dengan terkekeh.

Ria mengabaikan perkataan tersebut dan membawa masuk peralatannya ke kamar kemudian pergi bersiap.

30 menit kemudian, Ria sudah siap dengan outfit yang akan menemaninya berkeliling sekitaran ibukota.

Christian dibuat melongo dengan apa yang digunakan Ria saat ini. "Kamu gak takut menggelap Ri? Di luar panas banget." Tian mencoba peruntungan dengan mengajukan pertanyaan tersebut.

Sumpah. Tian tidak terima jika Ria harus memperlihatkan kaki jenjangnya pada khalayak ramai. Ria mengenakan jumpsuit bewarna kuning setinggi paha. Kulit putihnya semakin bersinar dengan perpaduan kuning pisang seperti itu. 

"Justru karena panas, pakai ini biar gak gerah," balas Ria sambil menggunakan jam tangan. iWatch nya belum dipulangkan oleh Tian.

"Bawa kartu apa aja?" Ria sedang memilih kartu untuk dibawa. Ia memiliki cukup banyak kartu yang semuanya memiliki isi yang tak sedikit.

"KTP, ATM satu, e-money, kartu akses, hmm udah kali ya." Bertanya sendiri menjawab sendiri.

"Kita naik mobil kan?" tanya Tian begitu mereka sudah siap berangkat.

"Siapa yang bilang?" Alis Ria mengernyit.

"Loh? Terus?"

"Transportasi umum. Merakyat lah kau sedikit. Mentang-mentang sedang jadi boyband go international ndak mau kau merakyat?" tanya Ria dengan sedikit sewot.

"Yaa gak gitu maksud ku Ri. Penyamaran dong kita?"

"Kau aja lah. Kan kamu doang yang punya penggemar garis keras." Ria masa bodo dengan kondisi Tian saat ini. Siapa suruh mengganggunya tadi ketika rapat. Pembalasannya tak kira-kira.

Mereka keluar dari apartemen Ria dan menuju lift.

"Hai Ri, mau turun juga?" Salah seorang tetangga bertegur sapa dengannya.

"Iya, Mba. Sekalian aja ya pakai lensa Mba." Ria menyengir setelahnya karena ia malas membuka kacamatanya.

"Hahaha okay."

"Mau kemana nih rapi gini?" Mba tersebut kembali bertanya.

"Keliling sekitar sini aja kali ya. Kulineran yang enak dekat sini di mana mba?"

"Dekat kampung Cina banyak makanan enak-enak tuh Ri. Bisa dicoba," balas Mba tersebut dengan semangat.

"Eh tapi mobil gak bisa masuk. Paling naik motor atau jalan kaki."

"Oh gak masalah mba, kita mau naik transportasi umum." Ria tersenyum dengan semangat.

"Kamu yakin Ri? Hati-hati yaa orang secantik kamu bisa jadi pusat perhatian ntar." Entah Mba tersebut memuji atau menakutinya.

"Bisa aja Mba. Duluan yaa," pamit Ria begitu mereka sudah tiba di lobby. 

Benar saja. Begitu tiba di lobby semua mata tertuju pada Ria dan Christian yang memang memiliki daya tarik luar biasa. Bak intan permata yang berkilauan dan tak bisa dilewatkan begitu saja.

"Emang aku secantik itu Yan?" tanya Ria dengan terheran-heran.

"Sepertinya karena aku yang terlalu ganteng deh," balas Tian dengan percaya diri yang tinggi.

"Dahlah."

###############

Bab 3

"MRT or Commuter line?" tanya Ria begitu mereka sudah berada di pinggir jalan.

"Gak tahu. Ikut mau kamu aja." Tian minim sekali pergerakan sedari tadi.

"Kamu jangan diam-diam aja dong Yan. Tau gitu mending di apartemen aja." Ria menghentikan langkahnya. Ia kesal dengan Tian yang tidak responsif.

"Aku bingung, Ri. Yaudah cari yang nggak ramai aja biar aku nggak ketahuan fans deh." Tian mengusulkan menghindari kerumunan agar keberadaannya tidak terdeteksi. Nasib superstar yang sulit untuk kemanapun.

"MRT aja kalau begitu." Ria berjalan menuju stasiun MRT yang letaknya tak jauh dari kawasan Rajawali. Memang benar-benar pusat perekonomian negara, karena segala fasilitas transportasi umum sudah sangat terjamin di wilayah ini.

"Nanti kita berhenti di stasiun secara acak aja ya. Aku nggak punya tujuan." Mereka berjalan tanpa perencanaan. Bukan tipikal Ria yang hidupnya selalu tersusun dengan baik.

"Okay. Aku yang tentukan ya." Tian bersemangat sekali, karena sejauh ini tak ada orang yang mengenalinya.

"Tumben mau lepas masker," ujar Ria kala melihat Tian melepas maskernya.

"Pengap juga. Enakan kita jalan ke tempat terpencil gitu deh Ri yang nggak ramai," ujar Tian dengan nada merengek di hadapan Ria.

"Sabar, ya. Ini kan pilihan hidup kamu yang mau jadi artis." Menggenggam tangan Tian untuk menenangkan. Ria tahu betapa beratnya hidup penuh dengan frame.

"Kenapa artis nggak diperlakukan selayaknya manusia normal si? Kita kan tetap manusia biasa yang ingin kebebasan." Tian kembali melayangkan keluhan.

"Ada harga yang harus dibayar untuk semua yang didapat saat ini, right?" Ria tersenyum menenangkan.

'Dan sudah begitu banyak yang aku korbankan untuk terus bisa bersamamu hingga detik ini,' gumam Ria dalam hati.

"Turun di sini aja. Hatiku memilih berhenti di sini." Sisi melankolis Tian mulai muncul. Ria memutar bola matanya malas. Jangan sampai jadi alay nih orang.

Cukup banyak orang yang ikut turun di stasiun yang sama. Ria melihat sekeliling melalui sudut matanya.

"Kenapa?" Tian merasakan genggaman di tangannya semakin erat.

"Nothing." Mereka melanjutkan perjalanan mengeksplor daerah yang dipilih secara random oleh Tian.

'Apa Ria sadar ya diikuti,' ujar Tian dalam hati begitu menyadari pengawalnya mengikuti terlalu dekat. Tian memutuskan untuk membawa pengawal pribadinya. Ia merasa tak aman jika hanya berdua Ria di luar. Takut jika ada penggemar yang bertindak anarkis dan ia tak bisa melindungi Ria karena fokusnya akan terbagi. Keselamatan dan keamanan Ria adalah nomor satu. Begitu pikirnya.

"Aku mau beli kentang sama cimol itu, Yan." Menarik tangan Tian menuju penjual yang terlihat di depan sana.

"Mau satu bungkus yang besar ya Mas, campur cimol dan kentangnya, jangan pakai bumbu pedas," ujar Ria dengan semangat begitu tiba di depan penjual tersebut.

"Siap Mba." Penjual tersebut menyiapkan pesanan Ria, dan Ria kembali melihat sekeliling mencari jajanan yang sekiranya enak untuk dilalui.

"Jadi sepuluh ribu Mba," ujar penjual tersebut dan memberi pesanan Ria yang sudah jadi.

"Ambil aja kembaliannya. Semoga laris dan berkah, Mas. Salam untuk keluarga di rumah." Ria memberi uang 100 ribu dan beberapa patah kata seraya tersenyum hangat.

"Terima kasih banyak Mba, sehat selalu bersama Mas nya."

"Kenapa kamu kasih semua uangnya?" protes Tian ketika mereka sudah berjalan menjauh dari penjual tersebut.

"Hatiku mengatakan untuk memberi," balas Ria mengikuti bahasa Tian. Ria sangat senang melihat cimol dan kentang di tangannya. Menusuk dengan lidi dan bersiap untuk memasukkan ke dalam mulut.

Bbbrrrukkk.

Seseorang menabrak nya dari belakang, menyebabkan cimol dan kentang miliknya jatuh berhamburan. Ria terkejut dibuatnya hingga sekedar mau marah pun tak kuasa.

"Ya Tuhan, Ria." Tian bergegas membantu Ria untuk bangun dan mengecek kondisi Ria apakah ada yang terluka.

"Mohon maaf, Kak. Maaf saya nggak sengaja. Saya sedang buru-buru tadi." Seorang pemuda yang tadi menabraknya tengah membungkuk di hadapannya. Ria mencoba mengatur emosinya agar tidak meledak. Cimol seratus ribunya hilang dalam sekejap.

"Iya gapapa. Lain kali hati-hati, kalau saya nyusruk terus luka bagaimana?" tanya Ria setelah berhasil mengendalikan emosinya.

"Baik, Kak, aku akan hati-hati. Pamit dulu ya, Kak. Semoga tetap dilindungi Tuhan." Pemuda tersebut menyelipkan doa untuk Ria. Ria hanya tersenyum menanggapinya. Ia mulai merasa ada kejanggalan.

"Masuk ke kampung situ, yuk. Katanya kamu mau jalan ke daerah terpencil." Ria bangkit dan mengajak Tian yang masih setia menunggunya siap dari tadi.

"Kamu yakin udah baik-baik aja?" Nampaknya Tian masih khawatir atas insiden tadi.

"I'm fine." Ria menampilkan senyuman terbaiknya.

Mereka melanjutkan perjalanan dan melewati gang kecil yang hanya muat satu motor untuk lewat. Sempit. Sumpek. Penuh oleh tembok-tembok bangunan rumah. Ria salah memilih jalan sepertinya. Ia mulai merasa kehabisan nafas.

Menggenggam tangan Christian dan bertumpu padanya. Bahkan untuk mengatakan lebih cepat jalannya ia tak sanggup. Ria menancapkan kukunya pada lengan Tian, menggoyangkan lengannya untuk mempercepat langkah. Tapi sepertinya Tian tidak menangkap sinyal tersebut.

"Mas, Mba cepetan dong jalannya. Ada motor di belakang gak muat nih," ujar seseorang yang sedari tadi berada di belakang Ria. Tian mempercepat langkah di sepanjang gang sempit tadi. Ia merasakan pengap juga.

"Selamatkan Ria, Tuhan. Selamatkan Ria," ujar Ria begitu sudah keluar dari gang tersebut. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil merapalkan doa. Mengapa fobianya tak kunjung hilang?

Ria masih berusaha mengatur pernapasannya dan segala ketakutan yang melanda. Belum ada setengah hari mereka berjalan, harinya sudah seperti roller coaster. Memang tempat paling aman dan nyaman adalah apartemennya sendiri.

"Kenapa aku capek banget ya Ri?" pertanyaan yang sama yang ingin dilontarkan oleh Ria.

"Sepertinya karena safe place kita itu di dalam ruangan deh Yan." Ria memberi jawaban yang terlintas di otaknya.

"CHRISTIANNNN"

"AAAAAAAA ADA CHRIST"

"CHRIST CAN I TAKE PICTURE WITH YOU?"

"CHRIST SIAPA PEREMPUAN DI SAMPING KAMU??!!"

"CHRIST, CHRIST, CHRISTTTTT!!!" Dan begitu seterusnya ketika keberadaan Tian terdeteksi oleh penggemar garis kerasnya.

"Lari Ri, ayo!" Tian tidak melihat kondisi Ria yang masih kesulitan mengatur nafas, dan langsung menariknya. Mereka berlari tak tentu arah. Penggemarnya semakin menggila dan menciptakan kehebohan luar biasa. Ria menurunkan penutup wajah yang memang tersedia satu paket dengan topinya. Ia sudah persiapan jika hal ini akan terjadi, demi keamanan identitasnya.

Mereka semakin dalam masuk ke perkampungan warga. Rumah-rumah yang mereka lewati semakin penuh sesak. Ria menghentikan larinya secara tiba-tiba. Ia sudah tak sanggup jika harus dipaksa berlari. Benar-benar indoor adalah tempat ternyaman baginya.

"Ayoo Ri, kita masih belum aman. Jangan berhenti di sini!" Tian terus menarik tangan Ria.

"Aku udah lama gak olahraga. Gak bisa mengimbangi stamina kamu. Kalau kamu masih mau lari silakan aja," ungkap Ria mengenai kondisinya. Tian memang suka lupa diri.

"Yaudah ayok kita mampir ke kafe itu dulu," ujar Tian begitu melihat kafe di depannya.

"Kalau sampai kamu ketahuan lagi, udah ya aku tinggalin kamu sendiri. Aku pulang," putus Ria yang sudah sangat kelelahan.

"I'm sorry. Ini alasan aku ngajak kamu liburan keluar kota atau luar negeri terus ke daerah terpencil, biar makin dikit yang ngenalin aku."

Wajah memelas Tian sedang tidak berlaku bagi Ria saat ini. Dirinya benar-benar lelah, marah, kesal, tapi tak tahu sama siapa.

"Es coklat," ujar Ria begitu pelayan menghampirinya.

"Ri, maaf yaa. Minta jemput sama supir aku aja ya." Tian menelepon supir pribadinya. Kondisi sudah tidak kondusif.

Ria mengabaikan ucapan Tian dan menelungkupkan kedua tangannya untuk berdoa. Hari ini trauma dan fobianya muncul secara bertubi-tubi dan ini hal yang aneh. Kenapa seolah kejadian ini disengaja dan ada skenarionya? Ria mengingat kejadian apa saja hari ini.

'Tunggu dulu. Kenapa ada banyak banget yang ngikutin gue?' 

"Kamu bawa berapa orang pengawal? Dan itu dari perusahaan atau pribadi?" tanya Ria begitu merasakan keanehan. Tian ragu untuk menjawabnya. Sebenarnya ia juga sadar bahwa ada pengawal di luar yang ia sewa secara pribadi.

"Aku bawa lima dan pengawal pribadi, bukan dari perusahaan atau mana pun," jawabnya begitu yakin tak salah ingat.

Ria kembali memejamkan mata dan seolah melanjutkan doanya. Ria memang lebih suka menggunakan posisi berdoa ketika akan berfikir fokus, agar orang sungkan untuk mengganggunya.

'Kalau cuma lima orang, terus yang nabrak gue di tukang kentang siapa? Yang mengarahkan gue masuk ke gang sempit siapa? Yang dorong gue di gang sempit siapa?' tanya Ria dalam hati. Ia sedang berdialog dengan dirinya dan Tuhan.

'Satu, dua, tiga, empat (?) masa sampai empat pihak yang ngikutin gue? Memang gue siapa? Memang gue kenapa?' Ria merasa ketakutan saat ini.

'Tuhan, tolong aku. Aku takut. Lindungi aku dari orang yang ingin mencelakakan ku Tuhan' kali ini Ria benar-benar berdoa. Ia sungguh hanya bergantung pada Yang Maha Kuasa.

"Riaaa, Ria, RIA ANANTA!" Tian panik melihat sekujur tubuh Ria yang gemetar kencang. Tian terus berusaha mengembalikan kesadaran Ria yang masih gemetar, hingga menjadi pusat perhatian.

###################

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED