Bab 1

Maid gila dengan sejuta pesona berhasil mengusik hidup Jerrald Nathaniel Mendez.

Gadis muda bernama Jolicia Floy itu adalah manusia paling ceroboh yang pernah Jerrald kenal.

Benarkah gadis itu adalah maid profesional seperti apa yang dikatakan sang ibu? Mengapa maid profesional justru melakukan kesalahan berkali-kali saat bekerja?

Bagi Jerrald, Jolicia Floy tak lebih dari seorang gadis manja yang ceroboh.

Siapakah gadis itu sebenarnya?

Jerrald tak tahu saja, jika maid barunya adalah gadis kaya raya yang sedang menjalani misi dari sang daddy demi mendapat jet pribadi. Gadis itu, Felicity Jolicia Addison, si gadis manja dari keluarga Addison.

- CRAZY MAID -

***

"Di mana Sally?"

Gadis berambut cokelat terang berlari tergesa mencari keberadaan sahabat karibnya, Sally.

Ada hal penting yang harus ia beritahukan pada sahabatnya itu. Menyangkut hidup dan m4ti mereka berdua.

"Lihatlah, Queen kampus sedang berlari."

"Pasti ia sedang mencari keberadaan kembarannya."

"Mengapa Feli selalu terlihat bersinar walau dengan keringat seperti itu?"

Feli, gadis berambut cokelat terang itu memutar bola mata malas di sela langkah kakinya saat mendengar bisik-bisik beberapa mahasiswa kampus yang ia lewati.

Ia dan Sally memang dijuluki kembar karena selalu bersama. Disamping itu, kecantikan dan barang-barang mewah yang selalu melekat di tubuh mereka, menjadikan mereka sebagai Queen di kampus ini.

Kedua bola mata cokelat terang Feli akhirnya menangkap sosok Sally yang sedang duduk sendirian dengan airpod di telinga dan ponsel di tangan.

Feli menghela napas lega. Sambil menormalkan napasnya yang terengah, gadis ini menghampiri sang sahabat. Segera saja ia menepuk pundak Sally setelah berada di belakang gadis itu.

"Astaga! Feli, kau kebiasaan sekali, datang mengejutkanku. Bagaimana nanti jika aku mati jantungan? Kau akan kehilangan sahabat sepertiku," omel Sally. Matanya melotot garang.

Feli meringis karena tak menyangka Sally akan seterkejut ini. "Maaf, aku tidak sengaja. Aku hanya ingin segera memberitahumu beberapa hal penting."

"Hal penting apa yang kau maksud, Fel?" tanya Sally penasaran.

Feli menarik napas dalam-dalam. Ia membenahi rambut panjangnya yang berantakan akibat berlari tadi. "Kau tahu. Ini berita Hot! Zena, si wanita ular membeli sebuah pulau!" kata Feli menggebu.

Sally melotot. Mulutnya menganga lalu menggeram kesal. "Sh1t!" umpat Sally.

"Apa-apaan ini? Dia membeli pulau? PULAU? Dia menguping pembicaraan kita? Oh si4lan! Bagaimana mungkin aku kalah cepat dengan wanita ular itu," gerutu Sally sambil berjalan bolak-balik di hadapan Feli.

Feli mengangguk sambil memutar bola mata malas. "Sepertinya begitu. Dasar ular! Selalu saja mengikuti apa yang kita inginkan," kesal Feli dengan wajah memerah karena amarah.

"Dengar, Feli, ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak ingin berada satu level di bawahnya. Bukankah kau tahu jika aku yang lebih dulu menginginkan untuk membeli sebuah pulau pribadi? Aku yakin, dia sudah menguping pembicaraan kita minggu lalu. Aku harus segera meminta pada Daddy ku untuk dibelikan pulau di salah satu Kepulauan Maladewa," jelas Sally dengan emosi memburu.

"WHAT! Kau mau pulau di Maladewa??" Feli melotot tak percaya. Ia menatap sang sahabat dari atas sampai bawah. "Itu pasti sangat mahal sekali, Sally. Kau yakin Daddy mu akan mengabulkan permintaanmu yang satu ini?" tanya Feli sanksi.

Sally mengedikkan bahu tak acuh. "Aku tidak tahu. Aku belum belum membicarakan semua ini pada Daddy ku, tapi aku yakin, ia akan mengabulkan permintaanku, tanpa kecuali," balas Sally.

Sekilas, nada bicara Sally setengah tidak yakin. Namun Feli berharap keinginan sahabatnya itu terpenuhi. Toh selama ini kedua orang tua Sally selalu mengabulkan permintaan sahabatnya itu.

Feli menepuk pundak Sally sebagai dukungan semangat. "Aku doakan, Daddy Peter mengabulkan lagi permintaanmu ini setelah kau menghabiskan jutaan dollar demi mobil Bugatti Veyron by Mansory Vivere dua bulan lalu, serta party kita tiga hari yang lalu," ringis Feli.

Sally mengangguk lemah dan mendesah pasrah.

Beberapa detik berselang, Sally mendadak membalikkan tubuh Feli menghadapnya.

"Tidak hanya aku yang ditikung, Feli. Kau juga!" histeris Sally.

Feli menggaruk dagunya. Ia menatap Sally tak mengerti.

"Apa maksudmu?" tanya Feli pol0s.

"Selena baru saja membeli private jet limited edition yang kau incar beberapa waktu lalu. Aku mendengarnya saat wanita si4lan itu memamerkannya di kelas tadi," terang Sally.

Kini, berganti Feli yang memekik histeris. "WHAT! SELENA MEMBELI PRIVATE JET??" Napas Feli memburu karena emosi setelah mengatakan itu. Emosinya semakin memuncak saat melihat Sally mengangguk. Kepalanya tiba-tiba saja memanas.

"Astaga! Ber3ngsek, berani-beraninya dia mendahuluiku! Aku tidak rela. Aku harus memilikinya juga!" geram Feli.

Private jet yang ia inginkan hanya dapat dimiliki sepuluh orang di dunia, dan Selena sudah membelinya?? Si4lan sekali!

Sally mengangguk antusias. "Well, kita memang tidak boleh berdiam diri. Kita harus segera bertindak, Fel. Aku tdk ingin kalah saing dari mereka."

"Benar. Tidak ada yang boleh berada satu level di atas kita di kampus ini. Apalagi dua wanita si4lan itu, si ular Zena dan si b1tch Selena, wanita fotocopy kehidupan kita. Aku tidak rela mereka memiliki apa yang tidak aku miliki!" geram Feli.

"Aku setuju. Queen di kampus ini hanya dua, Sally Beatrice dan Felicity Jolicia. Yang lain hanya dayang-dayang yang tidak penting," ucap Sally menimpali dengan sombong.

"Tentu saja! Hanya Kita yang boleh menjadi QUEEN di kampus ini, Sally!"

***

Felicity Jolicia Addison, gadis berusia hampir dua puluh satu tahun. Dia adalah anak tunggal Leonel Sean Addison, pemilik Hotel Addison yang sangat terkenal di negara ini. Namun statusnya tak banyak diketahui masyarakat. Sebagian orang di kampusnya hanya mengetahui jika Feli adalah anak salah satu orang terkaya.

“Oh si4lan sekali si B1tch itu! Dia pikir siapa dia?!”

Feli berjalan heboh masuk ke dalam mansion mewah milik keluarga Addison sambil menggerutu. Mansion ini sudah ditinggalinya sejak gadis cantik berambut cokelat terang ini terlahir ke dunia.

Gadis ini terlihat geram mengingat percakapannya dengan sang sahabat, Sally Beatrice James di kampus tadi.

"Dasar Selena sialan! Berani-beraninya dia mendahuluiku membeli sebuah private jet! Ini tidak bisa dibiarkan!!!"

"Nona Feli, Anda ingin makan seka—"

"Diam dulu, Winnie! Aku sedang tidak lapar sekarang. Di mana Dad?"

"Tuan Addison baru saja masuk ruang kerjanya, Nona. No-Nona—” Winnie, salah satu maid di mansion ini, yang mana adalah maid pribadi untuk Feli, mengikuti langkah nona mudanya yang melangkah lebar menuju ke sebuah ruangan di mansion ini. "Nona Feli, Tuan—Nona Feli, Tuan Addison sedang ada ta—"

Brak!!

“—mu..." Wanita berusia dua puluh enam tahun itu hanya bisa pasrah saat sang nona sudah membuka pintu ruang kerja Leonel Sean Addison dengan kasar, sampai dua orang yang berada di ruangan itu terkejut luar biasa.

"Dad! Belikan aku jet pribadi!" seru Feri di ambang pintu yang sudah dibukanya. Wajah gadis ini terlihat merajuk dengan kedua pipi tembam memerah. Persis seperti anak kecil yang minta dibelikan permen oleh ibunya.

Leonel dan seseorang yang berada di ruangan itu terdiam beberapa saat sambil menatap Feli dengan tatapan terkejut. Tak berapa lama, Leonel berdiri dari duduknya, lalu menatap Feli tajam.

"Di mana letak kesopananmu, Baby Girl?" tanya Leonel galak.

Bukannya ketakutan, Feli justru mendatangi sang daddy, lalu menggoyang lengan kiri Leonel dengan manja. "Dad~ apa Dad tahu, aku telah kalah dari Selena tidak pakai Gomes itu, Dad! Wanita b1tch itu sudah membeli private jet yang aku inginkan karena Dad terlalu lama mengabulkan permintaanku!"

"Baby Girl, daddy tidak pernah mengajarimu mengatai orang seperti itu!"

"Ya Tuhan, Dad, jika orang sedang kesal, apa saja bisa keluar dari mulutnya. Maafkan aku, aku tidak akan mengatai wanita itu lagi di depan Dad. Tapi aku tidak janji kalau di belakang Dad,” cerocos Feli panjang lebar. “Ah sudahlah... bukan hal itu yang penting, Dad.” Feli menggeleng. Pipinya mengembung lucu. “Sekarang aku ingin Dad membelikanku private jet yang lain! Aku tidak ingin lagi private jet seperti wanita itu! Pokoknya aku ingin yang harganya lebih mahal dari private jet punya si Selena! Aku lihat ada sebuah perusahaan di Spanyol yang akan mengeluarkan private jet yang hanya bisa dimiliki tiga orang di dunia ini. Aku mau yang itu, Dad!"

Leonal membelalak tak percaya. Ia memijat pangkal hidungnya frustasi. Anak semata wayangnya ini selalu membuatnya pusing. Baru kemarin Leonel dan sang istri membelikan anak mereka liontin mewah yang hanya dimiliki sepuluh orang di dunia. Sekarang sang anak meminta private jet?

Ya Tuhan, seingat Leonel, saat sang istri mengandung Feli, wanita itu tak pernah meminta hal yang aneh-aneh. Kenapa setelah lahir sang anak jadi seperti ini? Apa mungkin karena Leonel selalu memanjakan anak imutnya ini? Leonel tidak masalah jika sang anak meminta apa pun darinya. Tapi jika dibiarkan seperti ini terus, bagaimana jika suatu saat hidup mereka tidak sejaya sekarang? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, dan Leonel tidak ingin sang anak terus menghabiskan uang untuk hal yang sia-sia. Sepertinya mulai sekarang, Leonel harus tegas menghadapi Feli.

"Tidak lagi, Baby Girl."

"What??" Feli terkejut saat sang ayah mengatakan hal itu. "Dad, apa Dad sedang bercanda?"

"Tidak, Dad serius kali ini."

Feli ternganga tak percaya. Apakah pria di depannya ini adalah sang daddy? Selama Feli hidup di dunia ini selama hampir dua puluh satu tahun, sang daddy tidak pernah menolak permintaannya. Lalu mengapa sekarang seperti ini?

Di mana daddynya yang baik hati?

"Dad, apakah Daddy salah makan?"

"Felicity Jolicia Addison, Dad tidak salah makan."

"Dad! Daddy yakin tidak akan membelikanku private jet?"

"Tidak!" tegas Leonel.

Mata Feli langsung berkaca-kaca mendengar hal itu. "Dad tidak sayang lagi padaku?"

"Oh... Baby Girl, bukan itu maksud Daddy, tapi kau harus tahu, bahwa tidak semua yang kita inginkan di dunia ini bisa kita dapatk—Feli! Baby Girl!" Leonel bergegas mengikuti langkah Feli yang tiba-tiba saja pergi meninggalkan ruang kerjanya. Pria berusia empat puluh enam tahun ini seperti kebakaran jenggot saat sang anak merajuk. Langkah Leonel terhenti saat mengingat ada orang lain di ruang kerjanya. Pria ini menatap Winnie yang masih berdiri di ambang pintu sambil menunduk.

"Tolong kau temani Feli, Winnie. Jangan sampai gadis nakal itu melewati makan siangnya."

"Baik, Tuan Addison. Saya permisi." Winnie membungkuk sebentar, lalu berbalik untuk mencari sosok Feli.

Leonel menghela napas berat setelah kepergian Winnie. Pria itu kembali membalikkan tubuh ke arah seseorang yang berada di ruang kerjanya. "Maafkan aku, Niguel. Aku sampai melupakan keberadaanmu."

Pria bernama Niguel yang berusia lebih tua beberapa tahun dari Leonel itu terkekeh geli. "Kau terlihat lucu saat panik seperti tadi, Leon."

"Oh diam kau! Dan jangan panggil aku Leon! Aku merasa seperti singa."

"Ya, aku menyadari jika namamu tidak sesuai dengan karaktermu, Leon. Kau terlihat menyedihkan saat anakmu merajuk. Tidak terlihat ganas sama sekali. Dasar pria ini."

"Diam kau, Niguel!"

Pria bernama Niguel itu tertawa terbahak karena kemarahan sang sahabat. Sementara itu, Leonel terlihat benar-benar frustasi. Ini pertama kalinya Leonel membuat Feli-nya menangis.

***

Catatan Penulis cantik jelita, baik hati dan tydac sombong :

Hola-hola, salam kenal buat yang baru mengikuti karyaku <3

Biar tambah akrab, kalian bisa panggil aku Ncheet ( Encit ) atau Nca ( Enca ). Suka-suka kalian aja lah mau panggilnya yang mana. Wkwwkkwk…

Semoga kalian suka dengan jalan cerita CRAZY MAID yes.

Oia, Sally punya kisah sendiri ya, yang ditulis otor super kedjeh si BEBBYSHIN. Kisah Sally berjudul PLAYMATE. Cuz lah mampir ke lapak Mami Shin :*

Buat yang udah kenal sama emak super seksoy, bahenol + cantix luar binasa ini… apa kabar kalian? Rindu ya? Sampai ngikutin ke mana Feli pindah. Huehehehe… Kabooorrrr….

Bab 2

"Anak nakal itu masih tidak ingin membuka pintunya?"

"Yes, dan ini salahmu, Leon! Kau apakan anakku?!" pekik Charlotte Addison pada sang suami sambil berkacak pinggang. Sejak Charlotte pulang berbelanja, anak mereka satu-satunya belum keluar dari kamar. Hal itu benar-benar membuat Charlotte khawatir. Feli-nya yang imut tidak pernah seperti ini sebelumnya.

"Dengar, Sayang, anak kita ingin membeli private jet."

"Lalu apa masalahnya? Tinggal kau belikan saja, Daddy. Apa susahnya?"

"Sayang, mulai sekarang kita tidak bisa memanjakan Feli terus menerus."

"What?” Mata Charlotte membulat. Ia menatap suaminya seolah Leonel adalah makhluk asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya. “Memangnya kenapa? Uangmu habis?" tanya Charlotte sambil mengernyitkan dahi tak mengerti.

Leon menepuk keningnya frustrasi karena ucapan istrinya yang polos ini.

"Bukan seperti itu, Sayang, tapi sepertinya kita harus tegas pada Baby Girl kita mulai saat ini. Gadis itu tidak bisa terus-terusan kita manjakan. Jika dia ingin sesuatu, maka dia harus melakukan sesuatu lebih dulu untuk mendapat imbalannya, agar dia tahu bagaimana rasanya berjuang—"

"Tidak!” potong Charlotte. “Anakku tidak boleh merasakan apa itu yang namanya ‘berjuang’, Leon! Enak saja kau main sem—hhmpp..." Charlotte terdiam saat sang suami sudah menyambar bibirnya dengan pagutan kencang.

"Dengar, Charlotte, Cintaku, aku punya rencana untuk anak kita," ucap Leonel setelah menjauhkan bibirnya dari bibir sang istri.

"Rencana apa? Tolong kau jangan macam-macam pada Feli-ku!"

Leonel terkekeh geli, lalu mengecup singkat dahi sang istri. "Lihat saja nanti, Sayang. Yang pasti aku tidak mungkin memiliki rencana buruk untuk anak kita."

"Awas saja kalau sampai rencanamu itu aneh-aneh! Aku tidak akan segan-segan memotong sosis jumbomu itu!" desis Charlotte tajam.

"Ugh! Mommy, jangan kejam-kejam padaku. Kalau kau memotong sosis jumboku, kau mau menikmati apa?"

"Aku bisa menikmati sosis yang lain—"

"Jangan coba-coba, Charlotte!" desis Leonel tak suka.

"Lihatlah dirimu, Leon, kau masih saja posesif."

"Sampai mati aku akan terus seperti ini padamu! Lihat saja, kalau kau berani macam-macam walau hanya melirik sosis-sosis pria lain, aku tidak akan segan-segan menguliti dan membakar sosis-sosis mereka!"

Charlotte ternganga tak percaya. Wanita cantik berusia empat puluh tiga tahun ini memutar bola mata malas. “Terdengar menyeramkan,” ejek Charlotte. Sang suami melotot tak terima.

“Aku serius dengan ucapanku—”

“Jangan buang waktu dengan omong kosongmu. Lebih baik sekarang, kau bujuk Feli-ku untuk makan, Leon! Aku tidak mau tahu!" Wanita ini langsung berjalan meninggalkan sang suami. Namun tak berapa lama, langkahnya terhenti, lalu kembali membalikkan tubuh ke arah Leonel. "Aku tunggu kau dan anak kita di ruang makan. Kalau sampai kau tidak berhasil membujuk Feli-ku, jangan harap aku mau menikmati sosis jumbo-mu lagi, Sayangku!" ucap Charlotte sambil tersenyum. Namun tatapannya tajam menusuk. Wanita cantik ini berbalik pergi tanpa menunggu sang suami menjawab ucapannya.

Sementara itu, Leonel menatap pintu kamar Feli dengan sendu.

"Jangan buat mommy-mu tidak ingin menikmati sosis jumbo daddy, Baby Girl," monolog Leonel tersiksa.

***

"Feli, Baby Girl... apa kau tidak lapar?" tanya Leonel pada sang anak yang saat ini meringkuk di atas ranjang queen sizenya.

Feli langsung terduduk. Ia menatap sang ayah murka. "KENAPA DAD MASUK KAMARKU TANPA IZIN?!"

"Daddy tidak tahu kapan kau akan membukakan pintu untuk daddy."

Feli mendengus kesal. Ia memalingkan wajah ke arah lain. Gadis ini mengawasi pergerakan sang daddy yang mendekatinya dari ekor mata. Kedua tangan gadis ini terkepal kuat mengingat penolakan Leonel tadi siang.

Leonel menatap sang anak dari samping. Wajah Feli terlihat sembab. Ada rasa bersalah di hatinya, karena membuat Feli-nya menangis sampai sembab seperti itu. "Makanlah, Sayang. Kau tidak lapar? Mommy-mu sudah menunggu kita di meja ma—"

"Tidak perlu pedulikan aku! Bukankah Daddy tidak sayang lagi padaku? Untuk apa Daddy peduli aku lapar atau tidak!" sinis Feli. Gadis ini menggeser tubuhnya menjauh saat Leonel yang sudah duduk di atas ranjang hendak menggapai tubuhnya.

"Sayang..."

"JANGAN GANGGU AKU, DADDY!" teriak Feli kesal.

"Apakah Daddy mengajarimu untuk berteriak seperti ini pada orang tua, Feli?"

Feli langsung terdiam, lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah lain. Di dalam hati kecilnya, gadis ini menyesal telah membentak Leonel seperti tadi. Tapi mau bagaimana lagi, rasa kesalnya terhadap Leonel masih segar, jadi jangan salahkan dia kalau kelepasan seperti itu.

"Dengarkan daddy, Baby Girl... daddy akan mengabulkan keinginanmu, asal—"

"APA???" Wajah Feli terlihat semringah. Gadis ini langsung mendekati Leonel, merangkul manja lengan kiri pria itu. "Oh Daddy, aku tahu kalau kau tidak akan menolak keinginanku. Aku sayang Daddy!" Pegangan tangan Feli di lengan sang ayah mengerat, lalu gadis ini menyandarkan kepalanya pada bahu bidang Leonel.

"Daddy juga sayang padamu, Nak. Tapi dengarkan Daddy dulu sampai selesai berbicara."

"Baiklah. Aku akan menjadi anakmu yang baik."

Feli melepaskan rangkulan tangannya, lalu menatap Leonel seperti anak kecil yang menanti dengan antusias dogeng terbaik di dunia ini. Kedua mata gadis ini berkedip lucu. Pipi tembamnya membuat Feli benar-benar seperti boneka hidup.

Leonel tersenyum lembut, lalu mengusap sayang puncak kepala sang anak. "Kau boleh memiliki semua private jet terbaik di dunia ini, asal kau mau menjalankan misi yang Daddy berikan."

Dahi Feli mengernyit. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Pertanda apa ini?

"Apa… maksud Daddy? Misi? Memangnya kita sedang bermain game?"

"Anggap saja seperti itu, Sayang..."

Feli mengerjap polos. "Dad, kita tidak sedang syuting Mission Imposible yang diperankan pacarku yang tampan itu. Kenapa harus ada misi?"

"Karena daddy ingin tahu, seberapa hebat usaha anak daddy ini untuk mencapai keinginannya. Daddy ingin melihat Baby Girl daddy yang cantik ini berusaha lebih dulu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."

"Ya Tuhan..." Feli memutar bola mata malas. Hal itu terdengar aneh, tapi dia akan berusaha mendengar apa yang diinginkan Leonel. "Misi apa?"

"Jadilah Maid di tem—"

"Tunggu-tunggu-tunggu!” Feli memotong ucapan Leonel secepat kilat. "Apa aku tidak salah dengar?" Feli menatap Leonel. “Aku mendengar kata MAID. MAID? Dad, aku harus jadi Maid? Yang benar saja, Daddy?! Aku tidak mau!"

"Hanya satu bulan, Baby Gi—"

"Satu detikpun aku tidak mau!" potong Feli lagi.

"Maka tidak akan ada private jet."

Tubuh Feli langsung menegang saat Leonel mengatakan itu.

"Kalau kau berhasil menjalankan misi yang daddy berikan, bukan hanya private jet yang kau dapatkan, tapi apa pun yang kau inginkan akan terwujud. Bagaimana, Baby Girl?"

Feli terdiam. Gadis ini terlihat bimbang. Di kepalanya, begitu banyak barang-barang mewah yang dia inginkan. Salah satunya adalah cincin berlian termahal di dunia yang akan launching beberapa bulan lagi. Belum lagi tas branded yang akan launching satu bulan lagi, tas yang hanya diproduksi lima buah di dunia.

Dan Feli, harus menjadi salah satu pemilik dari lima buah tas itu!

"Haruskah misinya menjadi Maid, Dad?" tanya Feli lemah.

"Hanya satu bulan, Baby Girl. Daddy yakin kau bisa melakukannya."

Feli menggigit bibir, lalu memilin jemari tangannya. “Tapi ini ‘Maid’, Dad… Daddy tahu aku tidak bisa melakukan apa pun sendiri.”

“Daddy akan mengirimmu ke tempat di mana kau tidak akan terlalu kesusahan untuk melakukan misi itu, Baby. Apa kau percaya pada daddy?” seru Leonel meyakinkan.

Feli menatap Leonel ragu. "Apa pun yang aku inginkan, akan Daddy kabulkan setelah aku berhasil menjalani misi itu?"

“Apa pun yang kau inginkan!”

“Daddy berjanji?”

"Hu um... Daddy berjanji, Sayang. Kau sangat tahu, kalau daddy tidak pernah ingkar janji."

Feli kembali terdiam.

Menjadi Maid?

Dalam mimpi saja dia tidak pernah membayangkan kalau dia harus jadi Maid.

MAID? Ya Tuhan... Pekerja bersih-bersih? Bagaimana kondisi tangannya yang halus nanti? Lalu cat kuku mahal yang biasa dia gunakan pasti akan rusak.

Tapi... kalau dia tidak mengorbankan tangan halusnya, private jet dan semua barang-barang mewah hanya akan jadi angan-angan saja.

Feli tidak tahu mengapa sang daddy menjadi tegas seperti ini. Ia menatap Leonel penuh pertimbangan.

“Bagaimana, Sayang?”

Feli menghela napas pasrah. "Baiklah, Dad... aku... aku mau," ucap Feli ogah-ogahan. "Tapi ingat janji Daddy!" lanjut Feli dengan nada mengancam.

Leonel tertawa renyah karena ancaman anak polosnya ini. "Daddy janji, Kekasih Kecilku...”

Feli tersenyum geli. Jika Leonel sudah memanggilnya seperti itu, tandanya sang daddy sedang berusaha merayunya agar mereka tidak lagi seperti musuh.

“Sekarang sebaiknya kita turun makan. Perut mommy-mu pasti sudah berisik karena menunggu kita terlalu lama," ucap Leonel jenaka.

"Gendong aku, Dad!" perintah Feli.

Leonel langsung berdiri, lalu membalikkan tubuh. Refleks saja Feli menerjang punggung Leonel, lalu memposisikan tangannya memeluk erat leher pria itu.

"Kau sudah besar, tapi masih saja minta gendong."

"Daddy selalu bilang kalau aku akan selalu terlihat seperti bayi di matamu, jadi jangan protes, Daddy!"

Leonel hanya menggelengkan kepala pasrah. Lalu pria ini melangkah meninggalkan kamar sang anak setelah dirasa posisi Feli di punggungnya sudah benar.

***

Bab 3

Feli berjalan gontai menyusuri taman kampus. Setelah dua hari tidak masuk kuliah karena gadis ini tak enak badan, lebih tepatnya terlalu shock oleh misi yang Daddy-nya berikan, kini Feli sudah merasa lebih baik walaupun hatinya tak baik sama sekali.

“Kenapa aku harus setuju dengan syarat yang Dad berikan?! Si4l! Menjadi maid? Ini benar-benar di luar akal sehat! Apakah Daddy sedang kerasukan arwah jahat, sampai meminta anaknya yang cantik ini menjadi maid?!” gerutu Feli. “Kulitku yang halus dan lembut ini pasti akan berubah sekasar kerikil!” Feli terus saja menggerutu di sela langkah kakinya menuju kelasnya yang tiga puluh menit lagi akan dimulai. “Percuma aku bersekolah tinggi-tinggi kalau hanya jadi seorang maid. Demi Tuhan! MAID?! Argh! Kalau tidak ingin menandingi Selena b1tch tanpa Gomes itu, aku tidak akan sudi menjalani misi ini!”

“Dude, kau seperti Superman yang tidak makan seribu tahun.”

Terdengar kalimat mengejek dari seorang pria diiringi tawa beberapa pria lainnya. Hal itu berhasil membuat Feli menghentikan langkah. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Feli melihat seorang pemuda berkacamata tebal sedang dikelilingi enam pemuda lain.

“Kau tidak punya kemeja yang lebih besar lagi dari ini? Kemejamu sudah seperti tirai jendela di rumahku, Dude.”

Terdengar lagi tawa menghina yang keluar dari enam pemuda itu.

Feli memutar bola mata malas. Para pemuda itu menurut Feli adalah samp4h di kampus ini, karena selalu menindas orang-orang lemah. Dan Feli, selalu tidak suka melihat hal itu. Gadis ini walaupun sombong, tapi tak pernah menghina orang-orang lemah. Feli lebih suka berhadapan dengan orang yang dia rasa memiliki kekuatan yang sama dengannya. Bukankah itu terdengar adil?

Feli melangkah ke arah para pemuda itu. Lalu setelah sampai, gadis ini menepuk bahu salah satu pemuda yang mengelilingi pemuda berkacamata dengan pakaian kebesaran yang sepertinya sedang dibully habis-habisan.

“Apa-apaan—ah… Felicity! Hei, Cantik! Ada yang bisa aku bantu?” antusias sang pemuda saat membalikkan tubuh karena merasakan tepukan di belakangnya. Ternyata, pelakunya adalah salah satu gadis popular di kampus ini.

Lima orang pemuda lainnya langsung terbengong karena terlalu terpesona melihat wajah Feli dari dekat.

Selama ini, mereka semua hanya mampu melihat Feli dari jauh, karena Feli tidak terlalu suka berdekatan dengan orang-orang yang tidak dia kenal dengan baik. Jadi saat Feli kali ini menghampiri mereka, mereka seakan mendapat bonus dari Tuhan.

Feli bersedekap, lalu melirik sekilas pemuda berkacamata yang saat ini juga menatapnya. Pandangan Feli kembali beralih ke arah pemuda di depannya. “Ya, aku sangat butuh bantuanmu, Willie.” Feli tersenyum manis.

“Apa, Sayang?” tanya Willie semakin antusias. Kapan lagi gadis popular yang terkenal tak suka didekati pria ini butuh bantuannya. Willie harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Senyum Feli hilang tak berbekas. Tergantikan dengan tatapan dingin meremehkan. “Berhentilah tertawa! Kau tahu, suara tawamu hampir saja merusak telingaku.” Feli menunjuk telinganya dengan sebelah tangan. Matanya menatap tajam pemuda bernama Willie itu.

Kelima teman Willie melebarkan mulut mereka tak percaya. Sementara Willie tersedak salivanya sendiri.

“Sorry, Baby, a-apa maksudmu?”

“Apa kau tidak malu main keroyokan seperti itu?” tanya Feli sambil melirik pria berkacamata yang berada di belakang Willie.

“Aku—”

“Memalukan sekali! Apa kau tidak punya keberanian melawan ‘superman yang kau bilang tidak makan seribu tahun’ itu? Hahaha… Kasian sekali kau, Willie! Tapi aku tidak heran. Tubuhmu terlihat kecil seperti cacing kelaparan, maka dari itu kau bisanya hanya main keroyokan,” seru Feli sambil menatap Willie merendahkan.

Tubuh Willie menegang. Kedua tangannya mengepal kuat. “Hei! Dasar jal4ng! Jangan ikut campur!”

“Apa kau bilang?! Aku jal4ng?! Kalau aku jal4ng, lalu kau itu apa?! Pria pengecut! Aku sangsi kalau ‘senjata’mu itu bisa berdiri!” ejek Feli sambil menatap area bawah perut Willie, yang semakin memancing amarah pemuda itu.

Willie mengangkat tangannya hendak meninju Feli. Namun tiba-tiba tubuhnya terjatuh mengenaskan karena tinjuan seseorang.

Feli mengalihkan pandangan ke arah seseorang yang sudah berdiri di sampingnya.

“Jangan coba-coba menyentuh Nona-ku, Ber3ngsek!” ucap datar seseorang itu.

“Kau… kenapa kau keluar dari persembunyianmu, Eric?!” seru Feli tak suka.

“Maaf, Nona, sudah menjadi tugas saya melindungi Anda dengan nyawa saya.”

“Tapi aku tidak apa-apa!”

“Pria itu hampir meninju Anda, apakah itu bisa dikatakan ‘tidak apa-apa’?” tanya pria tampan bernama Eric yang saat ini menggunakan pakaian formal berwarna hitam. Tak lupa kacamata hitam bertengger indah menutupi matanya. Ekspresi wajahnya datar terkesan dingin.

Feli mendengus kesal. Ia tak dapat membalikkan kata. Ucapan bodyguard setia sang daddy benar adanya.

Sial!

Sebenarnya Feli sangat tidak suka jika pergerakannya selalu diawasi sang daddy melalui bodyguard yang diperintahkan menjaganya dari jauh sejak Feli berusia tiga belas tahun.

Demi Tuhan, gadis ini merasa seperti bayi yang diawasi babby sitter. Namun Feli tidak dapat berbuat apa-apa, karena dia tahu semua ini demi kebaikannya sendiri. Saingan bisnis sang daddy menyebar di negara ini, dan tak jarang ada saja yang bermain jalur kotor dengan cara mencelakakan anggota keluarga saingan bisnisnya.

Pandangan Feli kembali beralih ke arah Willie. “Sakit, tidak? Aku sebenarnya tidak suka jika bodyguard Daddy-ku ikut campur. Tapi sepertinya kau pantas mendapatkannya karena luka yang didapat Andrew.” Feli menunjuk pria berkacamata yang tadi dibully Willie dan kawan-kawan pria itu.

Memang ada luka di sudut bibir pemuda bernama Andrew itu. Belum lagi rambut klimisnya yang biasa tertata rapi, terlihat sangat berantakan. Sepertinya Willie sudah melakukan kekerasan fisik pada pemuda malang itu.

Willie hanya mampu meringis nyeri sambil menatap kesal ke arah Feli. Sementara kelima pria yang lain langsung pergi ketakutan meninggalkan tempat itu. Siapa yang berani melawan anak dari Leonel Addison. Belum lagi bodyguard wanita itu yang memiliki tubuh atletis. Tidak sebanding dengan tubuh mereka semua.

“Lihatlah, para sahabatmu bahkan lebih pengecut daripada dirimu, Willie. Sebaiknya kau pergi, dan berhentilah bersikap sok jagoan di kampus ini.”

Willie terdiam sesaat, lalu segera bangkit dan langsung melangkah pergi meninggalkan Feli. Tentu saja masih dengan wajah kesal.

Sial4n! Berharap dekat dengan Feli, pria itu justru mendapat tinjuan maut.

Setelah kepergian Willie, Feli beralih ke arah Eric. “Pergilah. Aku ingin masuk kelas.”

Eric terdiam sesaat. Menatap Feli dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu mengangguk kaku setelahnya. Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu kembali bersembunyi untuk mengawasi Feli dari jauh.

“Fe-Feli…”

Feli berbalik. Tatapannya bertemu dengan tatapan pria bermata biru di balik kacamata pria itu.

“Te-terima kasih telah… telah menolongku,” ucap pria itu gugup.

Feli tertawa kecil, lalu menepuk bahu Andrew. Hal itu membuat Andrew semakin gugup. Apalagi aroma parfum dan shampoo feminin Feli, menggoda indera penciumannya.

“Kau, sebaiknya kau belajarlah seni bela diri, Andrew. Dan ubahlah penampilanmu, agar kau tidak lagi diremehkan oleh orang lain. Ayo masuk. Sebentar lagi kelas kita akan dimulai.” Feli berjalan lebih dulu tanpa menanti jawaban Andrew.

Andrew tak langsung melangkah. Ia menatap punggung Feli yang menjauh dari pandangan dengan tatapan memuja yang tidak ditutupi. Gadis itu adalah gadis satu kelas dengannya sejak mereka duduk di bangku senior high school, dan mereka kembali dipertemukan di kampus dengan jurusan yang sama dan beberapa kali berada di kelas yang sama. Mereka memang tidak pernah terlibat percakapan selama ini. Namun Andrew diam-diam sudah menaruh hati pada gadis itu, gadis yang terkenal sering adu mulut dengan Selena.

Dan pembelaan Feli tadi, membuat perasaan Andrew pada gadis itu semakin bertambah.

“Kalau aku mengubah penampilan, akankah kau melihat ke arahku, Felicity Addison?” monolog Andrew.

***

"Feli, kau ke mana saja? Aku terus menghubungimu, tapi kau seperti hilang ditelan bumi," ucap Sally saat ia bertemu Feli di parkiran kampus mereka.

Feli melihat sang sahabat memperhatikannya. Pasti Sally melihat kantung matanya yang mengerikan. Sudah tiga hari mereka tak bertemu. Kemarin, saat Feli ke kampus, gadis ini tak menemukan keberadaan Sally. Mungkin karena kemarin suasana hatinya masih tak baik-baik saja, jadi Feli memang sengaja tidak mencari Sally.

"Aku sedang stress memikirkan sesuatu," ucap Feli lesu.

Sally menatap ekspresi lelah sahabatnya itu dan mencoba mengorek informasi lebih dalam. Biasanya Feli selalu ceria dan blak-blakan dalam berbicara. Namun, kali ini ia terlihat sedang memikul beban berat.

"Kita harus bicara empat mata, Feli," seru Sally.

Feli hanya mampu mengikuti langkah sahabatnya itu saat Sally menarik lengannya menuju tempat rahasia mereka berdua, yaitu di atap gedung kampus yang hanya beberapa orang saja yang bisa menaikinya sampai benar-benar ke atap.

Mereka berdua memilih untuk bolos di mata kuliah pertama. Karena bercerita satu sama lain adalah hal yang jauh lebih penting ketimbang menumpuk beban sendirian lagi.

"Katakan padaku, apa yang terjadi padamu?" tanya Sally langsung. Matanya terlihat menyelidiki Feli.

Feli menghela napas panjang. Ia merasakan rambut panjangnya yang tergerai melambai-lambai akibat tiupan angin. Tak ada bedanya dengan rambut Sally.

Feli menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Demi mendapatkan private jet limited edition, aku menerima tantangan yang diberikan oleh Daddy ku untuk menjadi seorang maid," cerita Feli. "Benar-benar tidak masuk akal," gumam Feli.

Semakin dipikirkan, Feli jadi merasa jika sang daddy memang sedang kerasukan arwah jahat.

"WHAT!! MAID? SERIOUSLY?" pekik Sally dan Feli mengangguk malas.

"Kenapa kita senasib? WHAT THE FVCK!" Sally menjambak rambutnya sendiri frustasi. Gadis ini berjalan mondar mandir di depan Feli, membuat Feli tak mengerti dengan reaksi sahabatnya ini.

"Apa maksudmu?"

Sally berhenti berjalan mondar mandir, lalu duduk di samping Feli. "Daddy ku juga memberiku misi sial4n itu untuk aku lewati. Jika aku menginginkan sebuah pulau beserta fasilitasnya, aku harus menjadi maid di tempat yang tidak aku ketahui nantinya," cerita Sally pada Feli.

Feli melotot. "H3ll! Apa mereka semua bersekutu untuk mengerjai kita berdua?!" tuding Feli tak suka.

Atau, Daddy dari sahabatnya ini juga kerasukan arwah jahat?

Sally mengedikkan bahunya. "Uang jajanku pun mulai minggu ini sudah dikurangi dan kartu kredit limited edition ku juga ditarik," keluh Sally.

"Hah? Kau serius tentang ini?" kaget Feli. Gadis ini tidak percaya jika Daddy Sally akan melakukan hal sejauh itu pada anak semata wayang kesayangannya. Untung saja Daddynya tidak melakukan hal yang sama.

Poor Sally…

Sally mengangguk lesu. "Daddy ku menjadi kejam sekali padaku. Setiap hari aku diminta untuk mengawasi kinerja semua maid di rumahku. Kau tahu, aku bahkan disuruh mempelajarinya. M3njijikan sekali, bukan?" ucap Sally frustasi.

Feli menepuk pundak Sally. "Demi meraih apa yang kita inginkan, aku yakin, kita bisa melewati semuanya," kata Feli menyemangati Sally dan dirinya sendiri.

"Ya. Aku tidak ingin dipecundangi oleh kedua jal4ng sialan itu. Bisa-bisanya mereka berdua mengklaim sudah menggeser posisi kita berdua," kata Sally geram.

Feli mengangguk antusias. "Tidak ada yang bisa menggeser Twins Queen di kampus ini!"

Sally dan Feli berhighfive ria.

"Malam ini aku akan mentraktirmu untuk minum sepuasnya. Sudah lama kita tidak bersenang-senang," ucap Feli girang. Feli benar-benar merasa prihatin pada Sally.

"Kau memang sahabat terbaikku, Feli. I love you so much," kata Sally dan mereka berdua terkekeh.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED