“Lilis, sudah jam delapan pagi! Mau sampai jam berapa kau tidur?! Sudah berkali-kali ibu katakan untuk tidak lembur, kenapa kau tidak menurut juga?!” teriak Salsa dari arah dapur, suaranya bergema di seluruh rumahnya.
Rambutnya yang hitam dan panjang, diikat ke belakang dengan gaya sederhana. Sementara celemek merah muda bermotif kelinci yang terlihat imut dipakainya.
Tangan kanannya memegang spatula dan tangan kirinya mengatur api kompor, Salsa tampak sangat sempurna bagi seorang ibu rumah tangga yang sibuk.
Meski dirinya agak kikuk.
Dia menghela napas panjang sambil menggoreng telur dadar. “Kenapa putriku itu sering sekali pulang larut malam? Sebenarnya lembur atau apa?” gumamnya pelan, seolah berbicara pada diri sendiri.
Tiba-tiba, spatula panas di tangan kanannya tak sengaja menempel pada dagunya saat sedang memikirkan Lilis.
Cess!
“Aduh, Panas! Panas!” teriaknya, melompat mundur sambil mengusap dagunya yang mulai memerah akibat tindakannya yang ceroboh.
Salsa memang terkenal dengan kekikukannya, bahkan Lilis, putri semata wayangnya sering menyamakan ibunya dengan kakak remaja yang lucu dan ceroboh.
Salsa menikah muda setelah lulus dari SMA. Dia dijual oleh keluarganya demi melunasi hutang-hutang ayahnya. Suaminya jarang sekali pulang ke rumah untuk hidup dengannya, pada akhirnya dia diceraikan sesaat setelah Lilis terlahir ke dunia.
Karena itu, Salsa harus belajar menjadi ibu, ayah dan sekaligus teman bagi putri semata wayangnya hingga dia tumbuh dewasa tanpa kehadiran sosok ayah.
“Haa!” teriak Salsa lagi, kali ini dengan ekspresi terkejut yang sangat berlebihan ketika dirinya menyadari sesuatu. “Tidak mungkin! Jangan-jangan Lilis sudah memiliki kekasih dan berkencan dengannya dengan alasan lembur!”
Pikiran Salsa mulai berkelana dan menciptakan skenario-skenario liar mengenai putrinya sendiri.
Sambil mengusap dagunya yang masih terasa perih, Salsa melanjutkan memasak. Telur dadar yang hampir gosong karena didiamkannya, kini dibaliknya dengan penuh semangat dan seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Sementara itu, di kamarnya yang masih gelap karena tirai masih tertutup rapat, Lilis masih meringkuk di bawah selimut yang melindungi dirinya dari nyamuk malam, mendengar kegaduhan dari arah dapur.
“Astaga, Ibu ... pagi-pagi sudah berisik sekali, pasti Ibu tengah beraksi lagi dengan skenario-skenario di otaknya,” gumam Lilis sambil mengusap matanya. Dia mengenal betul tingkah lucu dan berlebihan ibunya.
Dengan malas, Lilis bangkit dari tempat tidur dan mengenakan kacamata dan sandal rumahnya lalu berjalan menuruni tangga menuju ke dapur.
“Ibu, selamat pagi,” sapa Lilis sambil menguap dengan lebar.
“Lilis! Akhirnya bangun juga!” Salsa berbalik dengan ekspresi lega dan mematikan kompor, namun ketika berjalan ke arah Lilis kakinya tanpa sengaja tersandung kakinya sendiri dan hampir terjatuh. “Aduh, dasar lantai licin!” keluhnya, mencoba menutupi kekikukannya dengan berpura-pura marah pada lantai.
Lilis tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangannya yang melihat ibunya masih memegang spatula dengan semangat berapi-api.
“Ibu, apa yang Ibu lakukan tadi? Terdengar seperti ada pertempuran di dapur ini?”
Salsa mendelik, mencoba terlihat serius tapi gagal karena ekspresinya yang terlalu lucu jika disebut dengan ekspresi marah.
“Ibu hanya sedang memasak sarapan pagi untukmu. Dan, Lilis ... jangan berpikir kalau ibu tidak tahu, ya!”
“Eh?”
“Ibu tahu kau sering pulang malam itu bukan karena lembur, apa kau sudah punya kekasih?”
Lilis tersentak kaget lalu tertawa dengan sangat keras, membuat Salsa keheranan.
“Astaga, Ibu. Aku benar-benar lembur, pimpinan di kantor pusat sangat menuntut dan aku harus menyelesaikan semua pekerjaan di cabang itu.”
Salsa menyipitkan matanya karena tidak sepenuhnya yakin pada penjelasan putrinya. “Jangan mencoba berbohong pada ibu, Lilis. Ibu juga dulu pernah muda, tahu! Ibu bisa mencium bau asmara dari jauh!”
Lilis menggelengkan kepalanya, dia masih tertawa. “Ibu, aku serius. Kenapa Ibu berpikir kalau aku memiliki kekasih? Jika aku memilikinya, Ibu pasti orang pertama yang akan tahu.”
Salsa mendengus lalu meletakkan spatulanya dan menatap Lilis dengan mata penuh kasih. “Baiklah, Ibu percaya. Tapi kalau ada sesuatu, jangan ragu untuk bertanya, ya.”
Lilis mengangguk lalu memeluk ibunya. “Terima kasih, Ibu. Sekarang, ayo kita makan sarapan yang telah Ibu buat dengan susah payah dan perjuangan.”
Salsa tertawa, dia merasakan kasih sayang dari pelukan putrinya. “Ya, mari kita makan. Dan kali ini, ibu janji tidak akan ada insiden spatula lagi.”
Keduanya tertawa bersama, menikmati momen hangat dan penuh tawa di pagi yang cerah itu meski diawali dengan kekacauan kecil. Di rumah itu, cinta dan keceriaan selalu menjadi bumbu utama bagi keluarga mereka, tak peduli seberapa kikuk atau cerobohnya Salsa.
“Eits!” Salsa secara tiba-tiba menahan tubuh Lilis yang hendak akan duduk di kursi meja makan, ekspresi wajahnya serius namun lucu. “Kau harus mandi dulu atau tak ada sarapan untukmu, Lilis!”
“Eh, Ibu serius?” keluh Lilis, merasa seperti anak kecil yang sedang dimarahi.
“Ya, sangat serius! Cepat mandi dulu sana, ibu tidak mengajarkanmu untuk menjadi seorang gadis yang jorok, ya!”
“Baiklah!” Lilis mendesah sambil berjalan gontai menuju kamar mandi.
Salsa menyiapkan sarapan yang tadi dimasaknya selagi menunggu putrinya selesai mandi, sesekali Salsa bergumam sendiri dengan nada ceria.
Beberapa menit kemudian, Lilis kembali dengan rambut yang basah dan wajah yang segar.
“Sudah selesai mandi, Ibu,” ucap Lilis sambil memegangi kacamatanya.
Salsa tersenyum lebar. “Bagus! Sini, ibu tata rambutmu.”
“Eh? Apa itu harus?”
Salsa mulai menata rambut tanpa persetujuan dari Lilis dengan penuh cinta.
“Aku tidak percaya sama sekali, seorang bayi yang terlahir sebesar botol kecap, bayi yang kurawat sendirian kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, hahaha.”
“Astaga, Ibu! Aku sudah bukan anak kecil lagi, berhenti menata rambutku dan berhenti juga menganggapku seperti anak kecil yang bau kencur!” protes Lilis sambil merengut saat ibunya terlanjur menata rambutnya.
Salsa tertawa keras. “Hahaha! Kau itu lucu sekali, Lilis!”
“Yang lucu itu kau, Ibu!” gumam Lilis dalam hatinya.
“Ya sudah, ayo makan.” Salsa menuntun Lilis ke meja makan setelah menata rambutnya.
Mereka mulai menyantap sarapan dengan diselingi canda tawa khas keluarga mereka.
“Jadi, apa ada hal yang menarik di minimarket tempatmu bekerja?” tanya Salsa dengan nada penasaran.
“Tidak ada. Hanya hari-hari biasa saja seperti menata barang di rak dan melayani berbagai macam pelanggan saja.”
“Hmm, apa benar kau tidak ingin melanjutkan pendidikan ke universitas? Mungkin saja kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sekarang.”
Lilis menggeleng. “Aku tidak ingin membebani, Ibu lebih dari ini.”
Brak!
Salsa menggebrak meja makan. “Astaga, Lilis! Kau itu bukan beban dan tak membebani ibu sama sekali, ya! Kau adalah harta karun dan jiwa ibu, berhenti berkata seperti itu!”
Lilis tersenyum paham, karena dialah satu-satunya keluarga yang dimiliki ibunya, setelah apa yang telah terjadi di masa lalunya yang kelam. Lilis tahu, kisah ibunya dijual oleh keluarga sendiri untuk melunasi hutang.
Lilis juga memahami betapa berharga dirinya bagi ibunya yang telah berjuang sendirian membesarkannya sejak ayahnya yang tak bertanggung jawab menceraikan dan meninggalkannya tanpa nafkah.
Usai sarapan, Lilis membantu ibunya membersihkan peralatan makan dan masaknya.
“Hari ini lembur lagi?” tanya Salsa.
“Entah, tidak tahu juga. Biasanya informasi lembur itu datangnya dadakan dan tak pernah terduga.”
“Mau bawa bekal?”
“Astaga, Ibu! Aku sudah bukan anak kecil lagi.”
“Hehe,” tawa Salsa.
Setelah membersihkan peralatan makan, Lilis membiarkan ibunya untuk beristirahat sementara dirinya membersihkan rumah hingga pukul sepuluh nanti.
Selesai membersihkan rumah, Lilis pun kembali ke kamar untuk berganti pakaian dengan seragam minimarketnya.
Dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 10:30, Lilis berpamitan dengan Salsa dengan mencium punggung tangannya yang halus.
“Aku berangkat bekerja dulu, Ibu. Dan pastikan, Ibu cukup beristirahat, jangan melakukan hal-hal yang membuatmu kelelahan!”
Salsa mengangguk dengan mata berkaca-kaca, dia merasa bangga pada putri semata wayangnya yang tumbuh menjadi gadis yang baik.
“Hati-hati di jalan, Lilis!” serunya, tangannya melambai pada putrinya yang berjalan meninggalkan rumah mereka.
“Selamat pagi, Nina!” sapa Lilis. Gadis cantik berkacamata itu, rambutnya hitam panjang, dia biarkan tergerai.
Lilis masuk ke dalam minimarket tempatnya bekerja dengan langkah ringan.
“Ya, Lilis. Selamat pagi juga,” balas Nina, temannya. Gadis cantik dengan rambut perak pendek yang poninya menutupi wajah sebelah kanannya.
Pagi hari, Nina datang lebih dulu dan dia sibuk menghitung uang di meja kasir. Raut wajahnya dingin tapi dia sangat fokus dengan yang dikerjakannya.
Sesaat kemudian, seorang gadis keluar dari ruangan karyawan minimarket. Ia terlihat dewasa dengan wajah cantiknya, rambut panjang warna biru model curtain bangs miliknya, membuatnya terlihat anggun.
Gadis itu pemimpin di minimarket mereka, seragamnya sedikit berbeda dengan Lilis dan Nina.
“Lilis, semalam kerjamu mendapatkan apresiasi dari atasan. Mereka berkata kamu telah mendapatkan rekor ‘pembersihan’ tercepat dari semua orang, yaitu kurang dari tujuh menit,” puji gadis itu.
“Hoo!” Nina bertepuk tangan. “Kau memang panutan bagi lembaga, Lilis!”
Lilis tersipu malu. “Ayolah kawan-kawan, aku hanya menjalankan tugas dari lembaga saja, tidak lebih.”
“Tidak, Lilis!” tegas gadis itu. “Kau sekarang adalah panutan dan salah satu yang terbaik di lembaga!”
“Astaga, Kapten Lisa! Tolong jangan berkata seperti itu!” Pipi Lilis memerah mendengar pujian dari gadis yang dipanggilnya kapten.
“Benarkan, Nina?” tanya Lisa pada Nina yang sedang menghitung uang di mesin kasirnya.
Nina mengangguk. “Benar itu, Lilis! Dan lagi, kata Direktur, kau akan mendapatkan bonus karena ‘membersihkan’ tikus berdasi dari dinas pariwisata semalam tadi dengan waktu yang kurang dari tujuh menit saja. Jadi, nanti malam kau harus mentraktir kami makan ayam geprek, ya!”
“Hah?” Lilis terkejut, matanya melebar. “Ayam geprek?”
Lisa dan Nina seketika tertawa melihat ekspresi Lilis yang bingung.
“Ya, kau tidak salah dengar, Lilis. Ayam geprek!” Lisa membenarkan dengan senyum lebar.
“Ah, astaga. Kalian benar-benar, ya?” Lilis tertawa kecil. “Baiklah, aku akan mentraktir kalian, tapi jangan terlalu banyak, ya!”
Ketiganya tertawa bersama, suasana di minimarket pagi hari itu kian hangat dan ceria.
Mereka memang anggota agen rahasia yang ditugaskan untuk ‘membersihkan’ tikus berdasi. Namun, disisi lain, mereka adalah gadis biasa yang juga senang menikmati kebersamaan dan persahabatan.
Lisa, pemimpin kelompok itu berpenampilan tegas dan rapi. Dia berhasil memimpin timnya dengan baik. Gadis yang terkadang terlihat serius, namun juga memiliki sisi humor sehingga mampu mencairkan suasana.
Dia selalu memastikan setiap anggota timnya merasa dihargai dan termotivasi.
Nina, gadis dingin ini memiliki warna rambut perak yang mencolok. Meskipun begitu, dia sangat fokus dengan apa yang dikerjakannya.
Nina lebih sering berperan dibalik mesin kasir, dia mampu menganalisa dengan baik. Kemampuannya diandalkan dalam situasi yang sangat krisis.
Lilis, gadis sederhana ini akan selalu menjadi yang paling diandalkan. Kecantikan alaminya terpancar dari wajahnya. Gadis berkacamata bundar, hal ini membuatnya terlihat cerdas dan tangguh. Dia sering merendah, tetapi hasil kerja dan prestasinya tak bisa dipungkiri.
Mereka sudah menjadi tim yang kompak dan saling melengkapi dalam setiap tugas. Pekerjaan mereka di minimarket hanyalah kedok, karena dibalik semua itu mereka adalah pahlawan yang berjuang untuk keadilan rakyat.
Mentari cerah di pagi hari, tak luput dari canda tawa. Hal yang menjadi sebuah tambahan semangat untuk mereka menghadapi hari yang penuh tantangan.
Sambil menyantap camilan ringan yang disiapkan oleh Lisa, mereka merencanakan strategi untuk tugas selanjutnya. Setiap detail dibahas dengan serius.
“Ayo, cepat selesaikan memakan camilanmu, Lilis, kita harus segera membuka toko hari ini,” kata Lisa sambil tersenyum.
“Benar itu, Lilis. Tapi nanti malam, jangan lupa ... ayam geprek, ya!” Nina menambahkan, wajahnya yang dingin menatap ke arah Lilis.
Lilis menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. “Iya, iya. Ayam geprek untuk semuanya!”
Beberapa menit kemudian, ketika Lilis baru saja mengeluarkan papan pajangan serta papan iklan harga diskon beberapa barang untuk membuka toko, suasana mendadak sepi dan mencekam.
Pintu minimarket yang biasanya ramai dengan pelanggan pagi yang berbelanja kebutuhan pokok dan sayuran tiba-tiba sepi.
Seketika, dari gang kecil muncul tiga pemuda bertato yang mengerikan. Wajah mereka tersembunyi di balik masker hitam dan topi di kepala.
Mereka bergerak dengan cepat, mengelilingi Lilis lalu menariknya ke dalam minimarket.
Lilis terkejut, matanya membesar saat dua dari pemuda itu mendorongnya dengan kasar hingga tersandar di depan lemari pendingin yang berisi minuman dan makanan beku.
Lisa dan Nina yang sibuk di area kasir terpaku di tempat mereka, tidak tahu harus berbuat apa.
Mereka hanya bisa memandang dengan cemas saja saat pemuda yang tampaknya menjadi pemimpin kelompoknya yang mengenakan jaket kulit hitam dengan tato naga yang menjalar di lengannya, mendekati Lilis dengan tatapan tajam.
Wajah pemuda itu semakin mendekat ke wajah Lilis, menambah ketegangan yang terasa di udara.
Tiba-tiba, tangan pemuda yang bertampang berandalan itu mulai merogoh sesuatu dari kantong jaketnya.
Glek!
Lilis menelan ludah, rasa takut segera menjalar menyelimutinya, detak jantungnya berdetak cukup kencang, dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan ketakutannya dihadapan tiga pemuda.
Namun, suasana mendadak berubah drastis ketika para pemuda itu mengeluarkan sebuah benda dari kantong jaketnya.
Dar!
Suara ledakan party popper memecah keheningan di minimarket itu. Confetti berwarna-warni berhamburan ke udara dan suara tawa riuh langsung memenuhi minimarket.
Lilis, yang awalnya tegang dan gemetar kini merasa bingung juga kesal. Dia melihat ketiga pemuda itu tertawa terbahak-bahak sambil merayakan sesuatu yang tidak jelas.
“Selamat, Lilis!” teriak pemuda dengan tato naga itu yang bernama Orlan sambil memegang party popper yang berkilauan.
Lisa dan Nina saling tatap, merasa bingung dan kesal karena para pemuda itu.
“Bisakah kalian merayakan ini dengan biasa saja?” tanya Lisa dengan nada frustasi.
“Gila memang kelompok Orlan ini!” timpal Nina, yang juga merasa kesal dan heran.
Lilis memejamkan matanya sejenak, dia mencoba untuk menenangkan diri.
Kelompok Orlan memang terkenal dengan caranya yang aneh dalam merayakan sesuatu. Mereka selalu tampil heboh dan tak pernah gagal dalam mengejutkan orang.
“Yah, pasalnya tak kusangka, bahwa junior kami ini dapat memecahkan rekor tercepat dalam ‘pembersihan’ semalam.” Orlan berkata sambil melepas masker dan topinya, dia juga melepas tato palsu di tangannya.
Di balik tatapan menakutkan dengan tato palsu yang menutupi tubuhnya, ada wajah tampan dengan rambut pirang yang sengaja dia panjangkan.
“Dan satu lagi.” Dinan, salah satu anggota kelompok yang tak kalah seram dengan penyamaranya menambahkan. “Kau adalah gadis yang mengerikan di balik wajah cantik khas gadis berkacamata, Lilis!”
Zack, anggota ketiga kelompok tertawa keras di hadapan Lisa dan Nina. Dia berjalan ke arah Lilis lalu memberikan sebuah amplop tebal warna hitam pada Lilis.
“Ini hadiah dari Direktur yang dititipkan pada kami untukmu, Lilis. Bersenang-senanglah sebelum semua dilarang!”
Setelah memberikan amplop tersebut, ketiganya mulai meninggalkan minimarket dengan cepat dan meninggalkan kekacauan di belakang mereka.
Lilis yang masih terkejut dan bingung membuka amplop yang diberikan oleh ketiga pemuda itu.
“Astaga, ini sangat banyak sekali!” Lilis sangat terkejut melihat isi di dalam amplop itu yang berisi uang tunai yang cukup banyak.
“Mereka ini sangat gila!” Lisa menggelengkan kepalanya, merasa campur aduk antara kesal dan heran. “Dalam satu hari bisa membuat perayaan dadakan seperti ini hanya karena rekor ‘pembersihan’!”
Lisa dan Nina akhirnya bisa bernapas lega. Mereka berdua menatap Lilis yang masih berdiri dengan Confetti yang masih berserakan di sekelilingnya.
“Ya ampun, Lilis. Ternyata kau bukan hanya ahli dalam ‘pembersihan’ saja, tapi juga kau ahli dalam mengundang pesta dadakan yang paling gila,” kata Lisa sambil tertawa.
Nina juga ikut tertawa, namun terlihat kaku dengan wajahnya yang dingin. “Kita juga harus merayakannya dengan gaya kita sendiri. Ayam geprek nanti malam jadi, ‘kan?”
Lilis tersenyum lelah namun bahagia. “Yah, sudah pasti itu. Tapi kali ini, aku rasa aku akan meminta para senior itu untuk tidak membuat pesta dadakan lagi.”