Bab 1

Kondisi negara semakin gawat di tahun 2050, karena korupsi kembali menjadi perbincangan hangat di media selama beberapa tahun terakhir.

Semakin banyak pejabat yang menguras, mencuri kekayaan negara, tanpa malu. Mereka melakukannya hanya untuk kepentingannya pribadi.

Banyak pula pembangunan di sudut kota yang terhenti, mangkrak tanpa kejelasan. Kota besar dulu selalu diterangi oleh lampu gemerlap, kini tinggal kenangan.

Banyak jalanan rusak, tidak terawat. Berbagai macam fasilitas publik pun ikut terbengkalai dan tak terurus.

Trend baru di tahun 2050, “Korupsi”. Hal ini menjadi suatu kebutuhan pokok bagi para penguasa.

Hukum tidak lagi bisa dipakai. Para tikus berdasi kian bebas berkeliaran. Tugas mereka berganti menjadi menghamburkan uang rakyat, mereka juga berlindung dibalik kekuasaan serta kekayaan yang telah diraup.

Padq masa itu, semua kehilangan fungsinya. Seperti Lembaga keadilan, seharusnya menjadi benteng terakhir untuk rakyat bernaung, kini tidak berguna. 

Berbagai keputusan pengadilan semakin mudah dibeli dengan harga yang sangat murah, seperti tersangka pembunuhan, ia bisa bebas hanya dengan menyuap para penegak hukum dan para hakim. 

Banyak rakyat yang berpenghasilan menengah ke bawah, kini mereka seperti sapi perah, bekerja keras hanya untuk memenuhi kantong pejabat yang haus kekayaan.

Negara seakan kembali pada ke masa penjajahan. Tenaga rakyat dipakai tanpa upah, hasil dari kerja keras mereka disedot habis oleh para penguasa.

Fasilitas umum banyak tidak bisa pakai, meskipun mereka selalu membayarkan uang pajak pada pemerintah.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, namun jalanan utama ibu kota terasa sunyi.

Hujan rintik, membasahi aspal. Banyak orang lebih memilih untuk tetap berdiam diri di dalam rumah masing-masing.

Lampu jalan yang temaram, berhasil menciptakan suasana yang sangat kelam, ditambah keadaan jalanan yang rusak, memunculkan kesan misterius di malam itu.

Seorang gadis muda berkacamata sibuk menyusun makanan ringan di rak. Ia bekerja di sebuah minimarket yang berada di gang terpencil, di dekat perbatasan ibu kota. 

Parasnya cantik mempesona dan ceria, seolah tidak ada hal buruk terjadi di negaranya. Padahal, negaranya tengah dalam situasi genting. 

Seorang nenek tua menghampirinya dengan membawa sebungkus makanan ringan berbentuk lonjong, dari arah samping tempatnya berdiri.

“Nak, apakah ada rasa lain dari makanan ringan ini, seperti rasa asin?” tanyanya sambil menunjukkan makanan ringan kepada gadis itu.

Gadis itu tersenyum ramah. “Maaf, Nek. Untuk sementara kami kehabisan stok, sehingga hanya ada rasa original saja.”

Nenek itu mengangguk dengan pelan. “Kalau begitu, aku beli satu saja.”

Rintik gerimis di malam itu, tak membuat penguasa bermanja di bawah selimut kemudian menutup mata. Mereka melewati malam dengan berpesta pora di balik tembok besar rumah mewah.

Pesta pora digelar meriah dan megah, pesta yang tak pernah berhenti selama mereka berkuasa karena semua dibiayai oleh uang rakyat yang dicuri. 

Presiden yang berkuasa adalah seorang yang idealis. Pria yang bermimpi besar, membawa negara kembali ke masa jayanya puluhan tahun lalu.

Sayangnya, kini negara yang dipimpinnya tengah terjebak di dalam lingkaran setan.

Ia dilantik beberapa tahun lalu. Sejak menjabat, ia telah menyatakan perang pada korupsi. Namun, semua hanyalah omong kosong belaka.

Karena nahas, semua jajarannya terjerat dalam lingkaran setan, termasuk ajudannya sendiri.

Berbagai upaya dilakukan untuk kembali menegakkan keadilan dan hukum yang berlaku seperti di benaknya, tapi semuanya selalu gagal dan kandas.

Sayangnya, kenyataan berkata bahwa korupsi telah benar-benar mengakar kuat hingga menyusup ke setiap lapisan pemerintahan.

Dalam situasi yang kacau, ia hampir putus asa. Namun, ia harus tetap mengambil keputusan. Dengan berbagai pertimbangan berat, ia dengan tegas memberikan tanggapannya. Sebuah keputusan yang amat drastis dan tak bisa ditebak siapapun.

Presiden melakukan pertemuan rahasia, merumuskan rencana yang hanya bisa diketahui oleh segelintir orang. Pertemuan yang dihadiri oleh para penasehat terdekat dan orang terpercaya saja. 

Akhirnya, terciptalah sebuah ide gila. Ide yang terlintas di kepalanya. Ia pun tak lupa memberikan titahnya pada penasehatnya untuk mendirikan sebuah lembaga rahasia yang bertugas membasmi para koruptor tanpa ampun.

Lembaga yang dibuat bernama sandi ‘Lembaga Pemuda dan Pemudi’. Lembaga yang berfungsi untuk menyamarkan tujuan pemerintah dari siapapun.

Lembaga ini merekrut para anak muda yang baru lulus dari SMA dan SMK. Mereka yang sudah memiliki kartu identitas resmi dari negara.

Anggota lembaga ini dipilih bukan hanya karena mempunyai kecerdasan atau keterampilan fisik, namun karena tingginya rasa setia dan cinta mereka terhadap negara dan kerinduan atas tindakan keadilan.

Rekrutmen anggota ‘Lembaga Pemuda dan Pemudi’ dilakukan secara tertutup dan melalui berbagai macam saluran yang tidak mencurigakan. Agar tidak menarik perhatian para setan-setan dari pemerintahannya.

Salah satu anggota rekrutmen lembaga ini adalah seorang gadis yang juga bekerja di minimarket pinggiran kota.

Ia telah selesai menata barang di rak, ia pun berjalan menuju ke kasir.

"Nak, aku ingin membayar semua barang belanjaanku,” ucap nenek tadi. “Dan sepertinya pekerjaanmu akan segera datang malam ini, Code Name Amaryllis.”

Gadis muda berkacamata itu terkejut, namun dengan cepat ia merubah wajahnya dengan tersenyum. “Code Name Amaryllis, siap melaksanakan tugas,” balasnya dengan nada tegas.

Dengan langkah sangat cepat, gadis itu meninggalkan meja kasir sambil memberi sebuah isyarat pada temannya yang tengah menata minuman di lemari pendingin. Temannya itu pun langsung mengangguk, memahami situasi.

Setelah memastikan tak ada yang memperhatikan, gadis berkacamata itu masuk ke dalam ruangan khusus karyawan.

Di sana gadis itu dengan cepat membuka pintu rahasia bersandi. Pintu bersandi yang hanya diketahui oleh beberapa orang terpilih.

Tanpa lama menunggu, dibalik pintu pun terbuka ruangan kecil yang penuh dengan loker-loker yang berjejer rapi. Ia juga membuka salah satu loker dengan label nama sandinya.

Dengan cermat, ia mengambil perlengkapan seperti kacamata canggih, sepatu berteknologi khusus, seragam dinas serta yang paling penting baginya, yakni sebuah pistol berdesain elegan namun sangat mematikan. 

Dengan cepat, ia mengenakan seragam dinas berwarna hitamnya, mengganti kacamatanya dengan kacamata khusus yang telah disiapkan dan mengganti magasin di pistolnya.

“... sasaran berada di sekitarmu. Jaraknya kira-kira seratus meter, menaiki mobil sedan berwarna hitam dengan pengawalan ketat dari kepolisian.”

Suara di earpiece-nya memberikan informasi terbaru padanya.

"Dimengerti, code name Amaryllis, siap melaksanakan tugas,” jawabnya tegas.

Ia keluar dari ruangan rahasia itu dengan perlahan. Melalui pintu belakang minimarket, ia melangkah dengan cepat dibalik bayang-bayang malam.

Langkahnya amat cepat dan tanpa terendus, ia menuju gedung yang berada seberang jalan. Dengan membawa kartu identitas khusus, ia bisa bebas keluar masuk ke dalam gedung.

Diam-diam, ia memperhatikan situasi di dalam gedung yang sudah lama kosong, lalu masuk ke lift dan menekan tombol bergambar atap. Begitu tiba, ia bergerak ke pinggir gedung dan memeriksa area sekitar dengan teliti.

Di gelapnya malam, ia telah menemukan sasarannya. Kacamata canggih itu membantunya, meskipun malam hanya diterangi oleh cahaya lampu jalan yang redup. 

Sementara, sebuah mobil sedan berwarna hitam yang dikawal ketat oleh dua motor polisi melintas di sekitar gedung itu.

Ia memperhatikan dari jauh, lalu mundur beberapa langkah, melakukan peregangan ringan sambil melompat kecil. Seragamnya berwarna hitam, cepat menyatu dengan gelapnya malam. Hingga dirinya nyaris tidak terlihat.

Ia mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya, kemudian menekan tombol kecil pada kacamata canggihnya, guna mengunci sasaran yang sudah dilacak sebelumnya.

Ketika sedan itu berada di jalan dekat gedung, ia mulai berlari. Perlahan namun pasti, langkahnya semakin cepat hingga tiba waktunya ia melompat dari atap gedung.

Sepatu berteknologi tingginya mampu membantu menyeimbangkan tubuhnya di udara. 

Ketika mendarat, sebuah efek es keluar dari sepatunya, lalu mengarah ke kedua polisi yang tengah mengawal sasarannya hingga membuat mereka terjatuh dari motor dan tidak sadarkan diri.

Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan pistol.

Dor!

Dor!

Dua tembakan melesat cepat mengarah ke arah mobil sedan yang kini tengah berhenti di depan matanya.

Kedua tembakan berhasil memecahkan kaca depan mobil dan menyebabkan teriakan histeris wanita dari dalam mobil.

Ia perlahan mendekat, memastikan jika sasarannya telah dibersihkan.

“Code name Amaryllis, telah menyelesaikan tugas.”

Bab 2

“Lilis, sudah jam delapan pagi! Mau sampai jam berapa kau tidur?! Sudah berkali-kali ibu katakan untuk tidak lembur, kenapa kau tidak menurut juga?!” teriak Salsa dari arah dapur, suaranya bergema di seluruh rumahnya.

Rambutnya yang hitam dan panjang, diikat ke belakang dengan gaya sederhana. Sementara celemek merah muda bermotif kelinci yang terlihat imut dipakainya.

Tangan kanannya memegang spatula dan tangan kirinya mengatur api kompor, Salsa tampak sangat sempurna bagi seorang ibu rumah tangga yang sibuk.

Meski dirinya agak kikuk. 

Dia menghela napas panjang sambil menggoreng telur dadar. “Kenapa putriku itu sering sekali pulang larut malam? Sebenarnya lembur atau apa?” gumamnya pelan, seolah berbicara pada diri sendiri.

Tiba-tiba, spatula panas di tangan kanannya tak sengaja menempel pada dagunya saat sedang memikirkan Lilis.

Cess!

“Aduh, Panas! Panas!” teriaknya, melompat mundur sambil mengusap dagunya yang mulai memerah akibat tindakannya yang ceroboh.

Salsa memang terkenal dengan kekikukannya, bahkan Lilis, putri semata wayangnya sering menyamakan ibunya dengan kakak remaja yang lucu dan ceroboh.

Salsa menikah muda setelah lulus dari SMA. Dia dijual oleh keluarganya demi melunasi hutang-hutang ayahnya. Suaminya jarang sekali pulang ke rumah untuk hidup dengannya, pada akhirnya dia diceraikan sesaat setelah Lilis terlahir ke dunia.

Karena itu, Salsa harus belajar menjadi ibu, ayah dan sekaligus teman bagi putri semata wayangnya hingga dia tumbuh dewasa tanpa kehadiran sosok ayah.

“Haa!” teriak Salsa lagi, kali ini dengan ekspresi terkejut yang sangat berlebihan ketika dirinya menyadari sesuatu. “Tidak mungkin! Jangan-jangan Lilis sudah memiliki kekasih dan berkencan dengannya dengan alasan lembur!”

Pikiran Salsa mulai berkelana dan menciptakan skenario-skenario liar mengenai putrinya sendiri.

Sambil mengusap dagunya yang masih terasa perih, Salsa melanjutkan memasak. Telur dadar yang hampir gosong karena didiamkannya, kini dibaliknya dengan penuh semangat dan seolah-olah tidak terjadi sesuatu.

Sementara itu, di kamarnya yang masih gelap karena tirai masih tertutup rapat, Lilis masih meringkuk di bawah selimut yang melindungi dirinya dari nyamuk malam, mendengar kegaduhan dari arah dapur.

“Astaga, Ibu ... pagi-pagi sudah berisik sekali, pasti Ibu tengah beraksi lagi dengan skenario-skenario di otaknya,” gumam Lilis sambil mengusap matanya. Dia mengenal betul tingkah lucu dan berlebihan ibunya.

Dengan malas, Lilis bangkit dari tempat tidur dan mengenakan kacamata dan sandal rumahnya lalu berjalan menuruni tangga menuju ke dapur.

“Ibu, selamat pagi,” sapa Lilis sambil menguap dengan lebar.

“Lilis! Akhirnya bangun juga!” Salsa berbalik dengan ekspresi lega dan mematikan kompor, namun ketika berjalan ke arah Lilis kakinya tanpa sengaja tersandung kakinya sendiri dan hampir terjatuh. “Aduh, dasar lantai licin!” keluhnya, mencoba menutupi kekikukannya dengan berpura-pura marah pada lantai.

Lilis tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangannya yang melihat ibunya masih memegang spatula dengan semangat berapi-api.

“Ibu, apa yang Ibu lakukan tadi? Terdengar seperti ada pertempuran di dapur ini?”

Salsa mendelik, mencoba terlihat serius tapi gagal karena ekspresinya yang terlalu lucu jika disebut dengan ekspresi marah.

“Ibu hanya sedang memasak sarapan pagi untukmu. Dan, Lilis ... jangan berpikir kalau ibu tidak tahu, ya!”

“Eh?”

“Ibu tahu kau sering pulang malam itu bukan karena lembur, apa kau sudah punya kekasih?”

Lilis tersentak kaget lalu tertawa dengan sangat keras, membuat Salsa keheranan.

“Astaga, Ibu. Aku benar-benar lembur, pimpinan di kantor pusat sangat menuntut dan aku harus menyelesaikan semua pekerjaan di cabang itu.”

Salsa menyipitkan matanya karena tidak sepenuhnya yakin pada penjelasan putrinya. “Jangan mencoba berbohong pada ibu, Lilis. Ibu juga dulu pernah muda, tahu! Ibu bisa mencium bau asmara dari jauh!”

Lilis menggelengkan kepalanya, dia masih tertawa. “Ibu, aku serius. Kenapa Ibu berpikir kalau aku memiliki kekasih? Jika aku memilikinya, Ibu pasti orang pertama yang akan tahu.”

Salsa mendengus lalu meletakkan spatulanya dan menatap Lilis dengan mata penuh kasih. “Baiklah, Ibu percaya. Tapi kalau ada sesuatu, jangan ragu untuk bertanya, ya.”

Lilis mengangguk lalu memeluk ibunya. “Terima kasih, Ibu. Sekarang, ayo kita makan sarapan yang telah Ibu buat dengan susah payah dan perjuangan.”

Salsa tertawa, dia merasakan kasih sayang dari pelukan putrinya. “Ya, mari kita makan. Dan kali ini, ibu janji tidak akan ada insiden spatula lagi.”

Keduanya tertawa bersama, menikmati momen hangat dan penuh tawa di pagi yang cerah itu meski diawali dengan kekacauan kecil. Di rumah itu, cinta dan keceriaan selalu menjadi bumbu utama bagi keluarga mereka, tak peduli seberapa kikuk atau cerobohnya Salsa.

“Eits!” Salsa secara tiba-tiba menahan tubuh Lilis yang hendak akan duduk di kursi meja makan, ekspresi wajahnya serius namun lucu. “Kau harus mandi dulu atau tak ada sarapan untukmu, Lilis!”

“Eh, Ibu serius?” keluh Lilis, merasa seperti anak kecil yang sedang dimarahi.

“Ya, sangat serius! Cepat mandi dulu sana, ibu tidak mengajarkanmu untuk menjadi seorang gadis yang jorok, ya!”

“Baiklah!” Lilis mendesah sambil berjalan gontai menuju kamar mandi.

Salsa menyiapkan sarapan yang tadi dimasaknya selagi menunggu putrinya selesai mandi, sesekali Salsa bergumam sendiri dengan nada ceria.

Beberapa menit kemudian, Lilis kembali dengan rambut yang basah dan wajah yang segar.

“Sudah selesai mandi, Ibu,” ucap Lilis sambil memegangi kacamatanya.

Salsa tersenyum lebar. “Bagus! Sini, ibu tata rambutmu.”

“Eh? Apa itu harus?”

Salsa mulai menata rambut tanpa persetujuan dari Lilis dengan penuh cinta.

“Aku tidak percaya sama sekali, seorang bayi yang terlahir sebesar botol kecap, bayi yang kurawat sendirian kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, hahaha.”

“Astaga, Ibu! Aku sudah bukan anak kecil lagi, berhenti menata rambutku dan berhenti juga menganggapku seperti anak kecil yang bau kencur!” protes Lilis sambil merengut saat ibunya terlanjur menata rambutnya.

Salsa tertawa keras. “Hahaha! Kau itu lucu sekali, Lilis!”

“Yang lucu itu kau, Ibu!” gumam Lilis dalam hatinya.

“Ya sudah, ayo makan.” Salsa menuntun Lilis ke meja makan setelah menata rambutnya.

Mereka mulai menyantap sarapan dengan diselingi canda tawa khas keluarga mereka.

“Jadi, apa ada hal yang menarik di minimarket tempatmu bekerja?” tanya Salsa dengan nada penasaran.

“Tidak ada. Hanya hari-hari biasa saja seperti menata barang di rak dan melayani berbagai macam pelanggan saja.”

“Hmm, apa benar kau tidak ingin melanjutkan pendidikan ke universitas? Mungkin saja kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sekarang.”

Lilis menggeleng. “Aku tidak ingin membebani, Ibu lebih dari ini.”

Brak!

Salsa menggebrak meja makan. “Astaga, Lilis! Kau itu bukan beban dan tak membebani ibu sama sekali, ya! Kau adalah harta karun dan jiwa ibu, berhenti berkata seperti itu!”

Lilis tersenyum paham, karena dialah satu-satunya keluarga yang dimiliki ibunya, setelah apa yang telah terjadi di masa lalunya yang kelam. Lilis tahu, kisah ibunya dijual oleh keluarga sendiri untuk melunasi hutang.

Lilis juga memahami betapa berharga dirinya bagi ibunya yang telah berjuang sendirian membesarkannya sejak ayahnya yang tak bertanggung jawab menceraikan dan meninggalkannya tanpa nafkah.

Usai sarapan, Lilis membantu ibunya membersihkan peralatan makan dan masaknya.

“Hari ini lembur lagi?” tanya Salsa.

“Entah, tidak tahu juga. Biasanya informasi lembur itu datangnya dadakan dan tak pernah terduga.”

“Mau bawa bekal?”

“Astaga, Ibu! Aku sudah bukan anak kecil lagi.”

“Hehe,” tawa Salsa.

Setelah membersihkan peralatan makan, Lilis membiarkan ibunya untuk beristirahat sementara dirinya membersihkan rumah hingga pukul sepuluh nanti.

Selesai membersihkan rumah, Lilis pun kembali ke kamar untuk berganti pakaian dengan seragam minimarketnya.

Dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 10:30, Lilis berpamitan dengan Salsa dengan mencium punggung tangannya yang halus.

“Aku berangkat bekerja dulu, Ibu. Dan pastikan, Ibu cukup beristirahat, jangan melakukan hal-hal yang membuatmu kelelahan!”

Salsa mengangguk dengan mata berkaca-kaca, dia merasa bangga pada putri semata wayangnya yang tumbuh menjadi gadis yang baik.

“Hati-hati di jalan, Lilis!” serunya, tangannya melambai pada putrinya yang berjalan meninggalkan rumah mereka.

Bab 3

“Selamat pagi, Nina!” sapa Lilis. Gadis cantik berkacamata itu, rambutnya hitam panjang, dia biarkan tergerai.

Lilis masuk ke dalam minimarket tempatnya bekerja dengan langkah ringan.

“Ya, Lilis. Selamat pagi juga,” balas Nina, temannya. Gadis cantik dengan rambut perak pendek yang poninya menutupi wajah sebelah kanannya.

Pagi hari, Nina datang lebih dulu dan dia sibuk menghitung uang di meja kasir. Raut wajahnya dingin tapi dia sangat fokus dengan yang dikerjakannya.

Sesaat kemudian, seorang gadis keluar dari ruangan karyawan minimarket. Ia terlihat dewasa dengan wajah cantiknya, rambut panjang warna biru model curtain bangs miliknya, membuatnya terlihat anggun.

Gadis itu pemimpin di minimarket mereka, seragamnya sedikit berbeda dengan Lilis dan Nina.

“Lilis, semalam kerjamu mendapatkan apresiasi dari atasan. Mereka berkata kamu telah mendapatkan rekor ‘pembersihan’ tercepat dari semua orang, yaitu kurang dari tujuh menit,” puji gadis itu.

“Hoo!” Nina bertepuk tangan. “Kau memang panutan bagi lembaga, Lilis!”

Lilis tersipu malu. “Ayolah kawan-kawan, aku hanya menjalankan tugas dari lembaga saja, tidak lebih.”

“Tidak, Lilis!” tegas gadis itu. “Kau sekarang adalah panutan dan salah satu yang terbaik di lembaga!”

“Astaga, Kapten Lisa! Tolong jangan berkata seperti itu!” Pipi Lilis memerah mendengar pujian dari gadis yang dipanggilnya kapten.

“Benarkan, Nina?” tanya Lisa pada Nina yang sedang menghitung uang di mesin kasirnya.

Nina mengangguk. “Benar itu, Lilis! Dan lagi, kata Direktur, kau akan mendapatkan bonus karena ‘membersihkan’ tikus berdasi dari dinas pariwisata semalam tadi dengan waktu yang kurang dari tujuh menit saja. Jadi, nanti malam kau harus mentraktir kami makan ayam geprek, ya!”

“Hah?” Lilis terkejut, matanya melebar. “Ayam geprek?”

Lisa dan Nina seketika tertawa melihat ekspresi Lilis yang bingung.

“Ya, kau tidak salah dengar, Lilis. Ayam geprek!” Lisa membenarkan dengan senyum lebar.

“Ah, astaga. Kalian benar-benar, ya?” Lilis tertawa kecil. “Baiklah, aku akan mentraktir kalian, tapi jangan terlalu banyak, ya!”

Ketiganya tertawa bersama, suasana di minimarket pagi hari itu kian hangat dan ceria.

Mereka memang anggota agen rahasia yang ditugaskan untuk ‘membersihkan’ tikus berdasi. Namun, disisi lain, mereka adalah gadis biasa yang juga senang menikmati kebersamaan dan persahabatan.

Lisa, pemimpin kelompok itu berpenampilan tegas dan rapi. Dia berhasil memimpin timnya dengan baik. Gadis yang terkadang terlihat serius, namun juga memiliki sisi humor sehingga mampu mencairkan suasana.

Dia selalu memastikan setiap anggota timnya merasa dihargai dan termotivasi.

Nina, gadis dingin ini memiliki warna rambut perak yang mencolok. Meskipun begitu, dia sangat fokus dengan apa yang dikerjakannya.

Nina lebih sering berperan dibalik mesin kasir, dia mampu menganalisa dengan baik. Kemampuannya diandalkan dalam situasi yang sangat krisis.

Lilis, gadis sederhana ini akan selalu menjadi yang paling diandalkan. Kecantikan alaminya terpancar dari wajahnya. Gadis berkacamata bundar, hal ini membuatnya terlihat cerdas dan tangguh. Dia sering merendah, tetapi hasil kerja dan prestasinya tak bisa dipungkiri. 

Mereka sudah menjadi tim yang kompak dan saling melengkapi dalam setiap tugas. Pekerjaan mereka di minimarket hanyalah kedok, karena dibalik semua itu mereka adalah pahlawan yang berjuang untuk keadilan rakyat.

Mentari cerah di pagi hari, tak luput dari canda tawa. Hal yang menjadi sebuah tambahan semangat untuk mereka menghadapi hari yang penuh tantangan.

Sambil menyantap camilan ringan yang disiapkan oleh Lisa, mereka merencanakan strategi untuk tugas selanjutnya. Setiap detail dibahas dengan serius.

“Ayo, cepat selesaikan memakan camilanmu, Lilis, kita harus segera membuka toko hari ini,” kata Lisa sambil tersenyum.

“Benar itu, Lilis. Tapi nanti malam, jangan lupa ... ayam geprek, ya!” Nina menambahkan, wajahnya yang dingin menatap ke arah Lilis.

Lilis menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. “Iya, iya. Ayam geprek untuk semuanya!”

Beberapa menit kemudian, ketika Lilis baru saja mengeluarkan papan pajangan serta papan iklan harga diskon beberapa barang untuk membuka toko, suasana mendadak sepi dan mencekam.

Pintu minimarket yang biasanya ramai dengan pelanggan pagi yang berbelanja kebutuhan pokok dan sayuran tiba-tiba sepi.

Seketika, dari gang kecil muncul tiga pemuda bertato yang mengerikan. Wajah mereka tersembunyi di balik masker hitam dan topi di kepala.

Mereka bergerak dengan cepat, mengelilingi Lilis lalu menariknya ke dalam minimarket.

Lilis terkejut, matanya membesar saat dua dari pemuda itu mendorongnya dengan kasar hingga tersandar di depan lemari pendingin yang berisi minuman dan makanan beku.

Lisa dan Nina yang sibuk di area kasir terpaku di tempat mereka, tidak tahu harus berbuat apa.

Mereka hanya bisa memandang dengan cemas saja saat pemuda yang tampaknya menjadi pemimpin kelompoknya yang mengenakan jaket kulit hitam dengan tato naga yang menjalar di lengannya, mendekati Lilis dengan tatapan tajam.

Wajah pemuda itu semakin mendekat ke wajah Lilis, menambah ketegangan yang terasa di udara.

Tiba-tiba, tangan pemuda yang bertampang berandalan itu mulai merogoh sesuatu dari kantong jaketnya.

Glek!

Lilis menelan ludah, rasa takut segera menjalar menyelimutinya, detak jantungnya berdetak cukup kencang, dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan ketakutannya dihadapan tiga pemuda.

Namun, suasana mendadak berubah drastis ketika para pemuda itu mengeluarkan sebuah benda dari kantong jaketnya.

Dar!

Suara ledakan party popper memecah keheningan di minimarket itu. Confetti berwarna-warni berhamburan ke udara dan suara tawa riuh langsung memenuhi minimarket.

Lilis, yang awalnya tegang dan gemetar kini merasa bingung juga kesal. Dia melihat ketiga pemuda itu tertawa terbahak-bahak sambil merayakan sesuatu yang tidak jelas.

“Selamat, Lilis!” teriak pemuda dengan tato naga itu yang bernama Orlan sambil memegang party popper yang berkilauan.

Lisa dan Nina saling tatap, merasa bingung dan kesal karena para pemuda itu.

“Bisakah kalian merayakan ini dengan biasa saja?” tanya Lisa dengan nada frustasi.

“Gila memang kelompok Orlan ini!” timpal Nina, yang juga merasa kesal dan heran.

Lilis memejamkan matanya sejenak, dia mencoba untuk menenangkan diri.

Kelompok Orlan memang terkenal dengan caranya yang aneh dalam merayakan sesuatu. Mereka selalu tampil heboh dan tak pernah gagal dalam mengejutkan orang.

“Yah, pasalnya tak kusangka, bahwa junior kami ini dapat memecahkan rekor tercepat dalam ‘pembersihan’ semalam.” Orlan berkata sambil melepas masker dan topinya, dia juga melepas tato palsu di tangannya.

Di balik tatapan menakutkan dengan tato palsu yang menutupi tubuhnya, ada wajah tampan dengan rambut pirang yang sengaja dia panjangkan.

“Dan satu lagi.” Dinan, salah satu anggota kelompok yang tak kalah seram dengan penyamaranya menambahkan. “Kau adalah gadis yang mengerikan di balik wajah cantik khas gadis berkacamata, Lilis!”

Zack, anggota ketiga kelompok tertawa keras di hadapan Lisa dan Nina. Dia berjalan ke arah Lilis lalu memberikan sebuah amplop tebal warna hitam pada Lilis.

“Ini hadiah dari Direktur yang dititipkan pada kami untukmu, Lilis. Bersenang-senanglah sebelum semua dilarang!”

Setelah memberikan amplop tersebut, ketiganya mulai meninggalkan minimarket dengan cepat dan meninggalkan kekacauan di belakang mereka.

Lilis yang masih terkejut dan bingung membuka amplop yang diberikan oleh ketiga pemuda itu.

“Astaga, ini sangat banyak sekali!” Lilis sangat terkejut melihat isi di dalam amplop itu yang berisi uang tunai yang cukup banyak.

“Mereka ini sangat gila!” Lisa menggelengkan kepalanya, merasa campur aduk antara kesal dan heran. “Dalam satu hari bisa membuat perayaan dadakan seperti ini hanya karena rekor ‘pembersihan’!”

Lisa dan Nina akhirnya bisa bernapas lega. Mereka berdua menatap Lilis yang masih berdiri dengan Confetti yang masih berserakan di sekelilingnya.

“Ya ampun, Lilis. Ternyata kau bukan hanya ahli dalam ‘pembersihan’ saja, tapi juga kau ahli dalam mengundang pesta dadakan yang paling gila,” kata Lisa sambil tertawa.

Nina juga ikut tertawa, namun terlihat kaku dengan wajahnya yang dingin. “Kita juga harus merayakannya dengan gaya kita sendiri. Ayam geprek nanti malam jadi, ‘kan?”

Lilis tersenyum lelah namun bahagia. “Yah, sudah pasti itu. Tapi kali ini, aku rasa aku akan meminta para senior itu untuk tidak membuat pesta dadakan lagi.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED