Bab 1

Alenya Seraphina Veyra menatap hujan yang membasahi kota dari balik jendela apartemennya. Suara tetesan air yang menimpa kaca terasa seperti irama kesedihan yang tak henti. Setiap tetesnya mengingatkannya pada malam itu-malam ketika hidupnya berubah drastis hanya dalam hitungan jam. Semua rencana, semua impian yang ia rajut dengan hati-hati, tiba-tiba hancur seketika oleh ulah orang-orang yang selama ini ia percayai.

Pernikahannya dengan Darian Keaton, pria yang telah menjadi satu-satunya sumber kebahagiaannya selama lima tahun terakhir, dibatalkan sepihak oleh keluarga Darian. Tanpa peringatan, tanpa penjelasan yang masuk akal. Hanya pesan dingin dari ibunya yang tersimpan di inbox ponselnya: "Pernikahan kalian tidak akan terjadi. Darian harus fokus pada keluarganya."

Alenya masih bisa mengingat rasa hampa yang menganga dalam dadanya saat membaca pesan itu. Ia ingin menangis, berteriak, memukul benda terdekat. Tapi yang keluar hanyalah air mata yang menetes tanpa suara, dan hati yang hancur berkeping-keping. Ia merasa dikhianati bukan hanya oleh keluarga Darian, tapi juga oleh dunia yang tiba-tiba berubah menjadi kejam.

Malam itu, ketika semua logika dan kesadaran mulai pudar, adik sepupunya, Selina Veyra, muncul dengan senyum manis yang tampak terlalu polos untuk diterima. "Aley, aku tahu kamu sedih. Tapi aku punya cara supaya Darian menjemputmu. Kau cuma perlu sedikit... melepaskan kendali," kata Selina sambil menatap matanya dengan penuh tipu daya.

Alenya ragu. Ia mengenal Selina sejak kecil, dan selalu tahu bahwa sepupunya itu cenderung manipulatif. Tapi di saat hatinya begitu lemah, di saat ia ingin menegaskan kembali cintanya pada Darian, logika itu menguap begitu saja. Aleyna menuruti rencana Selina. Ia menenggak minuman yang disiapkan, biarkan dirinya mabuk cukup untuk membuat Darian merasa khawatir dan menjemputnya.

Namun, yang terjadi malam itu jauh lebih buruk daripada yang bisa dibayangkan Aleyna. Selina, dengan senyum licik yang sama sekali tak tersamarkan, mengarahkan Aleyna ke sebuah hotel mewah. Aleyna tidak sadar bahwa malamnya telah dijebak untuk bermalam dengan seorang pria asing-seorang gigolo profesional yang telah diatur oleh Selina.

Alenya baru menyadari kenyataan itu ketika aroma parfum maskulin menyergap hidungnya, dan tangan yang dingin menepuk bahunya dengan terlalu akrab. "Hei, kau harus tenang... ini hanya permainan," kata pria itu sambil tersenyum tipis. Tapi matanya yang tajam menandakan bahwa ini lebih dari sekadar permainan. Rasa panik mulai menguasai Aleyna, tapi tubuhnya terlalu lelah, pikirannya terlalu kacau, dan alkohol dalam darahnya membuatnya lumpuh.

Malam itu terasa seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Setiap detik menegaskan bahwa ia telah dikhianati bukan hanya oleh Selina, tapi juga oleh orang-orang yang selama ini ia anggap sahabat. Fitnah yang selama ini disebarkan Selina mulai muncul di hadapannya dalam bentuk tatapan meremehkan orang-orang yang ia kenal, bisik-bisik yang ia dengar, hingga kabar-kabar palsu yang menjelek-jelekkan nama baiknya. Semua itu membuat Aleyna merasa ingin lenyap dari dunia ini.

Akhirnya, dengan keberanian yang tersisa sedikit demi sedikit, Aleyna memutuskan untuk pergi dari kota itu. Ia meninggalkan apartemen yang penuh kenangan, meninggalkan Darian yang belum sempat ia jelaskan segalanya, dan meninggalkan Selina yang tampaknya selalu satu langkah di depannya. Hatinya hancur, tapi ada satu hal yang tetap ia simpan: tekad untuk bangkit kembali, suatu hari nanti.

Empat tahun berlalu. Aleyna kembali ke kota, tapi kali ini bukan sebagai gadis yang lemah dan mudah dimanfaatkan. Ia kembali dengan nama yang sama, tapi dengan keberanian dan pengalaman yang jauh lebih matang. Ia mulai bekerja di sebuah perusahaan raksasa yang dikuasai oleh Rowan Sinclair, seorang pria yang sejak awal sudah tampak misterius, karismatik, dan penuh rahasia.

Hari pertama Aleyna di perusahaan itu dipenuhi dengan perasaan campur aduk. Ia berjalan di lorong megah kantor pusat yang dipenuhi kaca reflektif, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Setiap langkah terasa berat, tapi ia menahan diri untuk tidak terlihat cemas. Ia tahu, tujuan utamanya bukan hanya karier-tetapi juga, secara diam-diam, menelusuri masa lalunya yang terkait dengan Rowan.

Tak lama setelah Aleyna menempati ruangannya, seorang asisten muda menghampirinya. "Bu Aleyna, Bos ingin menemui Anda di kantornya," katanya dengan nada sopan. Aleyna menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, pertemuan pertama dengan Rowan bukan sekadar formalitas. Ada sesuatu di balik tatapan dingin dan aura misterius pria itu yang selalu membuatnya penasaran-dan takut.

Saat ia membuka pintu kantor Rowan, ia terdiam. Rowan duduk di balik meja besar, mengenakan jas hitam rapi, matanya menatap lurus ke arahnya. Ada sesuatu yang familiar, sesuatu yang tak bisa ia tempatkan. Aleyna merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. "Selamat datang kembali, Aleyna," ucap Rowan dengan suara rendah, tenang, tapi menimbulkan getaran yang aneh di dalam dada Aleyna.

Pertemuan itu terasa singkat, tapi meninggalkan kesan mendalam. Rowan memperkenalkan dirinya secara profesional, membicarakan proyek-proyek perusahaan, strategi bisnis, dan rencana ekspansi. Tapi di balik tutur kata formal itu, Aleyna bisa menangkap sinyal bahwa Rowan tahu lebih banyak tentang masa lalunya daripada yang ia biarkan terlihat.

Hari-hari berikutnya Aleyna mulai menyadari fakta yang mengejutkan: pria yang pernah bermalam dengannya malam itu empat tahun silam, pria yang wajahnya samar tapi membekas dalam ingatannya, ternyata adalah Rowan Sinclair, bosnya sendiri sekarang. Gelombang emosi mengalir deras-marah, terkejut, takut, dan... sedikit penasaran.

Ia mencoba menahan diri untuk tidak menunjukkannya. Di kantor, Aleyna tetap profesional, menjaga jarak, fokus pada pekerjaan. Tapi setiap kali Rowan lewat, setiap kali ia mendengar suaranya, ingatan itu kembali-malam itu, jebakan Selina, rasa malu, dan rasa sakit yang pernah ia alami.

Rowan sendiri tampak tetap misterius. Kadang ia menatap Aleyna dengan intens, seakan membaca pikirannya, tapi tidak pernah mengungkapkan terlalu banyak. Aleyna tidak tahu apakah itu dendam, penyesalan, atau hanya strategi untuk mengamati reaksi Aleyna. Semua menjadi permainan psikologis yang membuat Aleyna tetap waspada setiap saat.

Seiring waktu, Aleyna mulai menata kembali hidupnya. Ia berlatih untuk tidak terguncang oleh masa lalu, menekuni kariernya, dan memperkuat mentalnya. Namun, tidak ada yang bisa menghilangkan rasa penasaran tentang Rowan. Bagaimana bisa pria yang pernah menjadi bagian paling rumit dan memalukan dari hidupnya, kini menjadi orang yang menentukan masa depannya?

Sementara itu, Selina, adik sepupunya yang licik, terus bergerak di balik layar. Aleyna mengetahui bahwa Selina masih menyebarkan rumor-rumor, menjejali kehidupan sosialnya dengan gosip, dan berusaha merusak reputasi Aleyna di setiap kesempatan. Tapi kali ini, Aleyna siap. Kali ini, ia tidak akan menjadi korban.

Pertemuan demi pertemuan dengan Rowan semakin menegangkan. Ada kalanya Rowan memberikan pujian yang membuat Aleyna tersipu malu, ada kalanya ia memberikan kritik tajam yang membuat Aleyna ingin menentangnya. Dinamika itu menciptakan ketegangan yang sulit dihindari-antara marah, penasaran, dan, entah mengapa, perasaan yang tak bisa sepenuhnya ia kendalikan.

Dalam hatinya, Aleyna tahu satu hal: malam itu empat tahun silam telah mengubah hidupnya selamanya. Tapi sekarang, ia memiliki kendali. Ia tidak lagi menjadi gadis yang mudah dimanfaatkan. Ia adalah wanita yang siap menghadapi masa lalu, menghadapi Rowan, dan menghadapi dunia-dengan segala risiko yang akan muncul.

Dan malam itu, ketika ia pulang ke apartemennya setelah hari yang panjang, Aleyna menatap langit kota yang diterangi lampu-lampu neon. Hujan mulai turun lagi. Tapi kali ini, ia tidak merasa sedih. Kali ini, hujan terasa seperti awal baru. Ia tersenyum tipis, menggenggam tekadnya, dan berkata dalam hati: "Empat tahun lalu kau mencoba menjatuhkanku... tapi sekarang, aku akan bangkit dan menentukan jalanku sendiri."

Malam itu menandai permulaan babak baru. Aleyna tahu, perjalanan ini tidak akan mudah. Ada masa lalu yang menunggu untuk dibuka, ada Rowan yang misterius dan menantang, dan ada Selina yang selalu siap mengacaukan segalanya. Tapi satu hal yang pasti: Aleyna tidak akan menyerah.

Di luar jendela, hujan terus turun, membasahi kota yang sama yang dulu membuatnya hancur. Tapi Aleyna berbeda sekarang. Kali ini, ia siap menghadapi dunia.

Bab 2

Aleyna Seraphina Veyra menutup pintu lift dengan desahan berat. Pagi itu udara di dalam gedung kantor terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun AC belum menyala. Tangannya menggenggam tas kerja dengan erat, bukan karena takut, tapi karena ia mencoba menenangkan detak jantung yang masih berdegup cepat. Pertemuan pertama dengan Rowan kemarin meninggalkan rasa campur aduk-antara penasaran, marah, dan rasa takut yang tak bisa dijelaskan.

Ia berjalan menuruni lorong panjang yang dipenuhi panel kaca dan foto-foto prestasi perusahaan. Setiap langkahnya terdengar seperti gema di ruang kosong, mengingatkan Aleyna pada rasa kesepian yang selalu ia rasakan di tengah hiruk-pikuk dunia bisnis. Meski telah kembali ke kota dan memulai hidup baru, ada satu hal yang tetap membekap pikirannya: masa lalu.

Pagi itu, Aleyna tidak menyangka akan menghadapi kejutan yang lebih besar daripada sekadar tatapan Rowan yang menembus hati. Saat ia memasuki ruang kerjanya, meja kerja sudah dipenuhi tumpukan dokumen dan sebuah amplop berwarna merah marun. Di atasnya, tertulis dengan huruf emas: "Untuk Aleyna. Baca sebelum jam 10 pagi."

Hati Aleyna berdebar. Ia tidak suka kejutan, apalagi dari orang yang menyimpan begitu banyak rahasia seperti Rowan. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto, semua memperlihatkan Aleyna empat tahun lalu, di malam yang ia anggap sebagai titik terendah dalam hidupnya-malam ketika jebakan Selina terjadi.

Kamera yang menangkap momen itu tidak jelas siapa pemiliknya, tapi satu hal pasti: Rowan tahu segalanya. Aleyna menatap foto-foto itu dengan campuran marah dan takut. Ia ingin membuangnya, merobeknya, bahkan berteriak. Tapi di dalam dada, ada perasaan aneh yang membuatnya tidak bisa langsung menyingkirkannya. Foto-foto itu bukan sekadar bukti masa lalunya; mereka adalah pengingat bahwa ia tidak bisa lagi menutup mata terhadap Rowan.

Tak lama kemudian, seorang asisten datang menghampirinya. "Bu Aleyna, Bos ingin bicara sebentar," ucapnya dengan sopan. Aleyna menelan ludah, mengambil napas panjang, dan mengikuti asisten itu menuju ruang Rowan. Setiap langkah terasa seperti menapaki medan ranjau; setiap detik membuat detak jantungnya semakin cepat.

Rowan Sinclair duduk di kursi kulitnya, matanya menatap lurus ke Aleyna. "Sudah melihat sesuatu yang mengejutkan, bukan?" Suaranya tenang, hampir tanpa emosi, tapi ada nada tegas yang membuat Aleyna merasa seperti diperiksa hingga ke tulang.

Aleyna mengangguk pelan, menahan kemarahan yang ingin meledak. "Foto-foto ini... bagaimana bisa kau punya ini?" suaranya nyaris berbisik.

Rowan tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak menenangkan. "Aku punya cara untuk mengetahui segala sesuatu, Aleyna. Dan aku perlu memastikan bahwa masa lalu kita... tidak akan mengganggu pekerjaan di masa depan."

Aleyna menelan ludah. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuatnya waspada. Apakah ini sekadar peringatan profesional, atau ada maksud lain yang lebih pribadi?

Hari itu menjadi awal dari ketegangan baru antara Aleyna dan Rowan. Setiap interaksi terasa seperti permainan psikologis. Rowan selalu muncul di tempat yang tak terduga, kadang dengan senyum tipis yang membuat Aleyna sulit menebak maksudnya, kadang dengan komentar kritis yang tajam, menekan Aleyna untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Di sisi lain, Aleyna juga tidak mau kalah. Ia mulai meneliti segala kebiasaan Rowan, setiap kebocoran kecil dari asistennya, setiap jadwal rapat yang bisa dimanfaatkan untuk menghindari atau menghadapi Rowan secara strategis. Ia belajar membaca ekspresi, nada suara, bahkan cara Rowan menatap dokumen, untuk mencari celah atau petunjuk tentang niat sebenarnya.

Suatu sore, Aleyna memutuskan untuk menghadiri rapat penting yang membahas ekspansi perusahaan ke Asia Tenggara. Ia berdiri di depan layar presentasi, menjelaskan proyeksi keuangan, strategi marketing, dan analisis risiko. Semua berjalan lancar hingga Rowan muncul di pintu ruang rapat, matanya menyorot setiap gerakannya. Aleyna merasakan tekanan yang tidak biasa, seolah semua orang di ruangan ini menunggu kegagalannya, padahal ia tahu mereka semua hanya mengikuti arahan Rowan.

Namun Aleyna tidak goyah. Ia menarik napas dalam, menatap layar, dan melanjutkan presentasinya dengan suara mantap. Ketika ia selesai, Rowan berdiri perlahan, menatapnya tanpa berkata sepatah kata pun, kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan. Semua orang di rapat menatap Aleyna dengan kagum, tapi Aleyna hanya tersenyum tipis. Ia tahu, permainan baru ini baru saja dimulai.

Malam itu, Aleyna kembali ke apartemennya, menaruh tas kerja di kursi, dan menatap langit kota yang diterangi lampu-lampu jalan. Hatinya kacau. Ia merasa seperti sedang berada di garis depan perang psikologis, tapi di sisi lain, ada rasa penasaran yang tak bisa ia hapus: siapa sebenarnya Rowan Sinclair? Dan mengapa pria ini begitu penting dalam hidupnya, bahkan setelah malam yang menghancurkan itu empat tahun lalu?

Keheranan Aleyna semakin bertambah ketika ia menemukan pesan misterius di ponselnya: "Kau lebih kuat dari yang kau kira. Tapi jangan anggap aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan." Pesan itu tidak ada pengirimnya, tapi Aleyna bisa menebak. Hatinya berdetak kencang. Rowan. Tidak ada orang lain yang bisa menulis hal seperti itu dengan nada setegas dan setajam itu.

Hari-hari berikutnya Aleyna mulai menerima undangan rapat rahasia yang hanya diikuti oleh eksekutif inti perusahaan. Setiap pertemuan menjadi medan pertempuran intelektual. Aleyna harus berpikir cepat, membuat keputusan tepat, dan tetap menjaga emosi agar tidak tergelincir. Rowan selalu ada di dekatnya, menatap, menilai, kadang memberikan komentar yang tampak netral tapi penuh makna tersembunyi.

Suatu sore, setelah rapat panjang, Aleyna memutuskan untuk berjalan-jalan di taman perusahaan. Ia perlu menenangkan pikiran yang penuh dengan intrik, gosip, dan masa lalu yang terus menghantui. Saat ia duduk di bangku kayu, menikmati angin sore, sebuah kenangan lama muncul begitu saja: malam ketika ia terjebak oleh Selina, rasa malu, rasa sakit, dan rasa takut yang pernah menjeratnya.

Aleyna menutup mata, menarik napas panjang, mencoba menghapus semua kenangan itu. Tapi tidak mudah. Selina, dengan semua tipu daya dan kejahatannya, masih ada di luar sana, menunggu untuk merusak hidup Aleyna lagi. Dan Rowan, bosnya yang misterius, selalu menjadi bayangan yang tak bisa ia lupakan.

Saat Aleyna membuka mata, ia melihat Rowan berdiri di ujung jalan setapak, tangannya menyilangkan tubuh, menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Aleyna menahan napas. Apakah ini kebetulan, atau bagian dari permainan yang lebih besar? Rowan tersenyum tipis, menatapnya sejenak, kemudian berjalan pergi tanpa sepatah kata pun.

Rasa penasaran Aleyna semakin menjadi-jadi. Ia mulai menyadari satu hal: bukan hanya masa lalu yang harus ia hadapi, tapi juga perasaan yang mulai muncul lagi-perasaan yang seharusnya ia kubur bersama kenangan malam itu. Rowan, dengan semua misteri dan aura berbahayanya, telah memaksa Aleyna untuk menghadapi dirinya sendiri, kekuatannya, dan rasa yang tidak ia mengerti sepenuhnya.

Hari demi hari, Aleyna semakin terjerat dalam dunia perusahaan yang penuh intrik, di mana setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap tatapan bisa menjadi senjata. Ia belajar untuk bertahan, untuk menggunakan kecerdasan dan instingnya, dan yang paling penting, untuk menjaga rahasia masa lalunya agar tidak menjadi alat bagi Selina atau siapa pun yang ingin menghancurkannya.

Namun, di balik semua itu, Aleyna mulai menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus menggairahkan: Rowan Sinclair bukan hanya bosnya, bukan hanya pria misterius dari masa lalunya, tetapi juga seseorang yang memiliki kekuatan untuk mengubah hidupnya, entah menjadi penyelamat atau musuh yang paling berbahaya.

Dan malam itu, saat Aleyna menatap kota dari jendela apartemennya, ia tahu satu hal pasti: permainan baru ini baru saja dimulai. Tidak ada yang akan sama lagi, tidak ada yang bisa Aleyna prediksi. Setiap langkah, setiap kata, setiap tatapan akan menentukan siapa yang akan menang dalam permainan ini-Aleyna dengan tekad dan keberaniannya, atau Rowan dengan misteri dan kekuatannya.

Dan di tengah malam yang hening, Aleyna tersenyum tipis. Ia siap. Kali ini, ia tidak akan menjadi korban. Kali ini, ia akan menentukan jalannya sendiri-dengan segala risiko yang harus ia hadapi.

Aleyna Seraphina Veyra menatap layar laptop di ruang kerjanya dengan mata yang mulai lelah. Suara ketukan keyboard yang terdengar berulang-ulang terasa seperti ritme monoton, tapi pikirannya bergerak begitu cepat, menelusuri strategi baru untuk proyek perusahaan yang ia tangani. Hari itu kantor terasa berbeda—lebih tegang dari biasanya. Ada aura yang sulit dijelaskan, seolah semua orang menahan napas menunggu sesuatu terjadi.

Pagi tadi, seorang kolega dari divisi lain memberitahu bahwa Rowan Sinclair akan memimpin rapat tertutup untuk membahas proyek baru yang sangat rahasia. Tidak ada yang tahu detilnya, kecuali tim inti. Tapi yang membuat Aleyna merasa canggung adalah kenyataan bahwa ia termasuk satu-satunya anggota tim yang tidak familiar dengan proyek tersebut. Ini jelas jebakan untuk menguji kemampuannya—atau setidaknya itulah perasaan yang ia rasakan.

Ketika Aleyna melangkah ke ruang rapat, suasana langsung berubah. Lampu terang menyoroti meja panjang dari kayu mahoni, dan semua eksekutif inti duduk rapi di kursi mereka. Di ujung meja, Rowan Sinclair duduk dengan ekspresi tenang yang hampir membuatnya merasa takut sekaligus tertarik. Matanya yang tajam seperti bisa menembus pikiran Aleyna. Ia duduk, menyesuaikan posisi di kursi, dan menatap Aleyna seakan menilai setiap gerakan tubuhnya.

“Selamat pagi, Aleyna,” suara Rowan rendah, tapi jelas terdengar di seluruh ruangan. “Kau tahu alasan kau dipanggil ke sini, bukan?”

Aleyna menelan ludah, mengangguk pelan. “Ya, Pak. Saya siap.”

Rowan tersenyum tipis. “Baik. Aku ingin kau memimpin presentasi awal untuk proyek baru ini. Kau akan menunjukkan rencana strategis, proyeksi, dan semua langkah operasional. Jangan takut untuk membuat keputusan sendiri.”

Aleyna mengangguk lagi, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu ini bukan sekadar uji kemampuan profesional, tapi juga ujian terhadap integritas, keberanian, dan kepintaran emosionalnya. Ia menatap layar laptop, menyusun kata-kata dalam pikirannya sebelum berbicara di depan seluruh eksekutif.

Rapat dimulai, dan Aleyna mempresentasikan rencana dengan mantap. Suara dan gesturnya jelas, logis, dan terstruktur. Setiap pertanyaan dari anggota rapat ia jawab dengan tenang, meski beberapa di antaranya terasa seperti ujian menyamar. Rowan duduk di kursi, tangannya menyilangkan lengan, menatap dengan ekspresi datar. Namun, ada satu momen ketika matanya beralih ke Aleyna dan… sesuatu bergetar di dadanya.

Seusai rapat, Aleyna kembali ke ruangannya, berusaha menenangkan diri dari ketegangan yang masih menempel. Ia duduk, menaruh kepala di tangan, dan membiarkan pikirannya melayang sejenak ke masa lalu. Ia teringat pada malam-malam kelam yang membuatnya meninggalkan kota empat tahun lalu, terjebak dalam tipu muslihat Selina, dan dihantui rasa malu.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal: “Jangan terlalu percaya pada semua yang terlihat. Ada yang diam-diam mengawasi langkahmu.”

Aleyna menyipitkan mata. Siapa yang mengirim pesan itu? Apakah ini peringatan dari Rowan, atau sesuatu yang lebih gelap, lebih licik—Selina? Hatinya berdebar. Ia tidak bisa lagi menganggap masa lalunya aman atau terlupakan.

Hari itu berlanjut dengan berbagai rapat internal, pengambilan keputusan mendadak, dan koordinasi tim yang menuntut ketelitian. Aleyna mulai menyadari pola di perusahaan: setiap langkahnya diawasi, setiap ide dinilai secara ketat, dan setiap kesalahan kecil bisa dimanfaatkan sebagai kelemahan. Rowan Sinclair tidak hanya mengawasinya, tapi juga memberikan tekanan yang membuat Aleyna belajar untuk selalu siap dengan strategi, plan B, bahkan plan C.

Saat jeda makan siang, Aleyna duduk di teras gedung, menatap kota yang panas oleh sinar matahari. Ia menutup mata sejenak, mencoba menarik napas panjang, tapi perasaan campur aduk tetap ada. Ia merasa tertantang, tapi sekaligus waspada. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran sekaligus takut terhadap Rowan. Ia bukan lagi gadis yang lemah empat tahun lalu, tapi ia masih belum mengerti sepenuhnya siapa pria di hadapannya ini.

Ketika ia kembali ke ruang kerjanya, sebuah kejutan lain menunggu. Sebuah dokumen penting tergeletak di mejanya, bersegel dengan tinta emas, bertuliskan: “Rahasia perusahaan. Hanya untuk Aleyna.”

Di dalamnya terdapat data strategis yang sensitif, catatan tentang persaingan bisnis, dan beberapa analisis mendalam tentang risiko yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Aleyna menatap dokumen itu, sadar bahwa ini adalah kesempatan sekaligus ujian. Ia harus menunjukkan kemampuan terbaiknya, tapi juga harus menjaga rahasia itu dari orang-orang yang bisa memanfaatkannya—dan kemungkinan besar, salah satu pengintai itu adalah Selina.

Malam hari, Aleyna duduk di apartemennya, mempelajari dokumen itu dengan seksama. Ia menandai poin-poin penting, membuat catatan di buku pribadinya, dan merancang strategi untuk hari-hari berikutnya. Pikiran tentang Rowan Sinclair selalu muncul. Ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa bosnya ini memiliki pengetahuan tentang masa lalunya yang tidak bisa dijelaskan. Rowan adalah misteri terbesar dalam hidupnya saat ini, dan Aleyna tahu ia harus berhati-hati.

Beberapa hari kemudian, perusahaan mengadakan acara sosial tertutup bagi eksekutif dan klien penting. Aleyna hadir dengan gaun formal berwarna navy, rambutnya disisir rapi, dan wajahnya menampilkan senyum profesional. Tapi di dalam, ia waspada. Aleyna tahu bahwa di acara seperti ini, gosip dan strategi bisnis sering bercampur dengan manipulasi personal.

Saat berdiri di sudut ruangan, Aleyna menyadari sosok familiar yang masuk ke ruangan: Rowan Sinclair. Pria itu mengenakan jas hitam rapi, ekspresinya tetap tenang, tapi aura yang memancar membuat seluruh ruangan terasa berbeda. Matanya menemukan Aleyna, dan seketika udara di sekitarnya terasa lebih berat.

Rowan mendekat, tanpa mengatakan sepatah kata pun, hanya menatapnya. Aleyna menahan napas, tapi berusaha tetap profesional. Ia tahu ini bukan hanya tentang pekerjaan. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang seolah membaca pikirannya, mengukur kemampuannya, bahkan menilai hatinya.

“Bagaimana progres proyekmu?” suara Rowan akhirnya terdengar, rendah dan tenang, tapi penuh tekanan terselubung.

Aleyna menatapnya, menahan diri dari rasa gugup. “Semua berjalan lancar, Pak. Saya sudah menyiapkan strategi tambahan untuk menghadapi risiko yang mungkin muncul.”

Rowan mengangguk, matanya tidak beranjak dari wajah Aleyna. “Bagus. Tapi ingat, tidak semua orang bisa dipercaya di sini. Beberapa bisa berpura-pura mendukungmu, tapi diam-diam mengincar kelemahanmu.”

Aleyna menelan ludah. Ia tahu peringatan itu tidak hanya untuk strategi perusahaan. Ada pesan tersembunyi yang lebih personal di balik kata-kata Rowan. Sesuatu yang membuat Aleyna merasa ada tarikan halus ke dalam permainan misterius yang lebih besar daripada sekadar pekerjaan.

Malam itu, saat ia pulang ke apartemen, Aleyna merenung panjang. Ia menyadari satu hal: dunia baru yang ia masuki penuh dengan intrik, rahasia, dan konflik yang tidak bisa dihindari. Selina, dengan semua tipu daya dan rencananya, masih ada di luar sana. Rowan, dengan aura misteriusnya, selalu hadir di setiap sudut kehidupan Aleyna.

Aleyna menarik napas panjang, menatap langit kota yang gelap diterangi cahaya lampu jalan. Hatinya bergejolak—antara takut, penasaran, dan sesuatu yang tidak ingin ia akui: rasa yang mulai muncul kembali untuk Rowan.

Ia tersenyum tipis, menggenggam tekadnya. “Aku tidak akan membiarkan masa laluku menghancurkanku lagi,” bisiknya dalam hati. “Aku akan menghadapinya. Aku akan bertahan. Dan aku akan menemukan siapa yang sebenarnya Rowan Sinclair—bosku, misteri dalam hidupku, atau sesuatu yang lebih berbahaya dari yang pernah kubayangkan.”

Malam itu, Aleyna menatap kota yang luas dan penuh misteri. Ia tahu perjalanan ini baru dimulai. Dan kali ini, ia siap menghadapi segalanya—masa lalu, rahasia, intrik, dan perasaan yang tak bisa dihindari lagi.

Bab 3

Aleyna Seraphina Veyra menatap deretan gedung tinggi dari jendela kantornya yang menghadap ke pusat kota. Sinar matahari sore menembus kaca, memantulkan kilau emas di lantai marmer, tapi keindahan itu tidak bisa menghapus ketegangan yang menyelimuti hatinya. Hari ini adalah hari yang berbeda. Ia bisa merasakannya. Ada sesuatu yang bergerak di balik layar-suatu skema, tipu muslihat, atau rahasia yang menunggu untuk terbongkar.

Ia menutup laptopnya dengan pelan dan menghirup udara panjang. Pikiran Aleyna kembali ke pesan misterius yang ia terima beberapa hari lalu: "Tidak semua orang yang tampak mendukungmu benar-benar di pihakmu." Pesan itu bukan sekadar peringatan, tapi juga pengingat bahwa dunia yang ia masuki penuh dengan jebakan tersembunyi.

Langkah kakinya membawa Aleyna ke lounge eksekutif, tempat beberapa rekan kerja berkumpul santai setelah rapat panjang. Di sudut ruangan, sebuah meja dipenuhi laporan-laporan proyek baru, dan beberapa orang terlihat berdiskusi serius. Aleyna mencoba menyusup tanpa menarik perhatian, tapi matanya segera tertuju pada sosok yang membuatnya selalu waspada: Selina Veyra.

Selina, adik sepupunya, berdiri dengan senyum menawan yang selalu tampak terlalu sempurna. Seolah dunia ada di genggamannya. Aleyna menelan ludah. Sudah empat tahun berlalu, tapi aura Selina tidak berubah-masih licik, manipulatif, dan selalu satu langkah lebih cepat dari kebanyakan orang.

Selina mendekat, menyapa dengan nada manis. "Aleyna! Aku senang melihatmu kembali. Kota ini tentu terasa berbeda, ya?"

Aleyna membalas senyum tipis, menahan perasaan curiga yang terus mengalir. "Ya, cukup banyak yang berubah."

Selina tertawa kecil, mata tajamnya menyapu ruangan. "Kau tahu, aku selalu ingin melihatmu berhasil. Tapi... jangan terlalu percaya pada semua orang di sini. Ada yang suka berpura-pura mendukungmu."

Kata-kata itu seperti getaran halus yang menegaskan ketegangan yang Aleyna rasakan sejak awal. Ia tahu, Selina tidak pernah bicara tanpa maksud tersembunyi. Ada rencana, ada jebakan, dan kemungkinan besar Aleyna sudah menjadi target.

Aleyna memutuskan untuk menjawab dengan hati-hati. "Terima kasih atas peringatannya. Aku akan tetap waspada."

Selina tersenyum, menepuk bahu Aleyna dengan lembut, tapi Aleyna merasakan ada tekanan tersembunyi di balik gerakan itu. Sesaat kemudian, Selina pergi, meninggalkan Aleyna dengan perasaan campur aduk-antara waspada, marah, dan penasaran.

Sore itu Aleyna kembali ke mejanya dan membuka dokumen baru yang diterimanya dari Rowan Sinclair. Ada proyek rahasia yang menuntut perhatian penuh, bukan hanya tentang strategi bisnis, tapi juga tentang risiko tersembunyi yang bisa mengguncang perusahaan jika tidak ditangani dengan tepat. Aleyna tahu, ini adalah ujian yang tidak hanya mengukur kemampuan profesional, tapi juga kemampuan psikologis dan emosionalnya.

Ia mulai menyusun rencana, menandai setiap risiko, merinci strategi cadangan, dan memikirkan skenario terburuk. Tapi di sela-sela pekerjaannya, pikirannya tetap kembali ke Rowan. Bagaimana mungkin pria yang selalu tampak dingin dan misterius itu bisa membuatnya merasa tegang sekaligus penasaran hanya dengan tatapan? Ada sesuatu yang menariknya ke dalam lingkaran misteri itu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa.

Ketika malam menjelang, Aleyna memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan strategi menghadapi Selina yang semakin aktif. Namun di lorong gedung, ia bertemu dengan Rowan secara tak sengaja. Pria itu berdiri dengan postur tegap, menatap Aleyna dengan intens.

"Kau pulang lebih awal?" tanya Rowan, suaranya rendah tapi jelas terdengar di lorong sepi.

Aleyna menelan ludah. "Ya... ada beberapa hal yang harus kupikirkan sendiri."

Rowan melangkah lebih dekat, wajahnya sedikit menyipit. "Jangan biarkan tekanan menguasaimu. Tapi kau harus tahu, beberapa orang di sekitarmu mungkin tidak seperti yang terlihat."

Kalimat itu terasa familiar, tapi kali ini ada nada yang berbeda-tegas, sekaligus... pribadi. Aleyna menatapnya, mencoba menebak maksudnya. "Siapa maksudmu?"

Rowan tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Kau akan tahu sendiri." Kemudian ia berbalik dan meninggalkan Aleyna dengan perasaan campur aduk.

Di apartemennya malam itu, Aleyna membuka ponselnya dan menatap layar kosong. Ia merasa ada permainan yang jauh lebih besar sedang berlangsung, dengan Rowan dan Selina sebagai pusatnya. Ia menutup mata, menarik napas panjang, dan berbisik pada diri sendiri: "Aku tidak bisa terus bermain di ruang gelap ini tanpa strategi. Aku harus tahu siapa yang benar-benar ada di pihakku."

Keesokan harinya, Aleyna memutuskan untuk mengumpulkan informasi. Ia mulai memperhatikan perilaku rekan-rekannya, mencatat setiap komentar, setiap ekspresi, dan setiap gerak-gerik yang tampak aneh. Ia ingin memahami pola, menemukan siapa yang mungkin menjadi sekutu dan siapa yang menjadi ancaman.

Di tengah pengamatannya, ia mendengar gosip tentang proyek rahasia yang sedang dikerjakan Rowan dan tim inti. Beberapa orang berbisik, menyebutkan nama Aleyna dengan nada penasaran dan sedikit meremehkan. Ia tahu, gosip ini bisa dimanfaatkan Selina untuk menjatuhkannya. Aleyna menatap jendela kantor, menghela napas, dan memutuskan untuk menghadapi semuanya dengan kepala dingin.

Hari itu berakhir dengan sebuah undangan rapat pribadi dari Rowan. Aleyna berjalan menuju kantornya dengan hati berdebar. Apa maksud pria itu memanggilnya secara pribadi? Apakah ini tentang proyek, masa lalu, atau sesuatu yang lebih rumit?

Saat masuk ke kantor Rowan, ia menemukan pria itu sedang menatap layar komputer, namun matanya segera mengalihkan pandangan ke Aleyna. "Tutup pintu," katanya.

Aleyna menutup pintu dan berdiri di depan meja. Rowan menunjuk kursi di depannya. "Duduk."

Ia menelan ludah dan duduk, mencoba menenangkan diri. "Ada apa, Pak?"

Rowan menghela napas panjang. "Aku ingin memberimu informasi yang mungkin berguna, tapi juga peringatan. Ada orang di sekitar kita yang tidak jujur, yang bisa membahayakan proyek ini... bahkan mungkin membahayakanmu."

Aleyna menatapnya tajam. "Siapa, Pak?"

Rowan tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Aleyna, kemudian menaruh dokumen di depannya. "Ini akan menunjukkan arah dan risiko proyek. Pelajari dengan seksama. Dan ingat, kepercayaan itu mahal. Jangan berikan kepada siapa pun yang tidak layak."

Aleyna menatap dokumen itu dengan campuran rasa penasaran dan waspada. Ia tahu ini bukan sekadar informasi proyek; ini juga ujian psikologis, tes kesetiaan, dan permainan kekuatan yang rumit.

Hari-hari berikutnya Aleyna mulai bekerja dengan ritme baru. Ia semakin lihai membaca orang, memahami dinamika internal perusahaan, dan menjaga jarak dengan mereka yang tampak terlalu ramah. Tapi Rowan selalu ada di sekitarnya, entah memberi petunjuk samar, entah sekadar menatap dengan ekspresi misterius yang membuatnya penasaran dan sekaligus waspada.

Suatu sore, ketika Aleyna sedang meninjau dokumen di ruang konferensi, seorang staf muda mengetuk pintu. "Bu Aleyna, ada tamu yang ingin berbicara. Dia mengatakan penting."

Aleyna mengerutkan dahi. "Siapa?"

Staf itu menatapnya sebentar, lalu menatap pintu belakang ruang konferensi. Aleyna mengikuti pandangan itu, dan jantungnya seketika berdetak lebih cepat. Rowan Sinclair berdiri di sana, tanpa pemberitahuan, dengan tatapan intens yang langsung menundukkan suasana.

"Kau selalu berada di tempat yang tepat, Pak," ucap Aleyna dengan nada datar, mencoba menyembunyikan kegugupannya.

Rowan tersenyum tipis. "Kau juga selalu melakukan hal yang tepat, Aleyna. Tapi aku ingin melihat bagaimana kau menghadapi sesuatu yang tidak bisa diprediksi."

Aleyna menatapnya, mencoba membaca maksudnya. "Apa maksudmu?"

Rowan berjalan masuk, menutup pintu di belakangnya, dan menaruh dokumen lain di meja. "Ini tentang strategi baru, tapi juga tentang siapa yang bisa kau percayai. Dan ini bukan hanya tentang proyek... ini tentang hidupmu di sini. Aku ingin kau siap untuk hal-hal yang tidak kau duga."

Aleyna menelan ludah, menyadari bahwa permainan ini semakin kompleks. Rowan bukan hanya bos, bukan hanya misteri masa lalunya, tapi juga katalisator yang memaksa Aleyna menghadapi ketakutan, ambisi, dan perasaan yang selama ini ia kubur.

Malam itu, Aleyna duduk di apartemennya, menatap kota yang terang oleh lampu jalan. Hatinya campur aduk-antara waspada, penasaran, dan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan: rasa yang mulai tumbuh kembali untuk Rowan. Ia tersenyum tipis, menggenggam tekadnya, dan berkata dalam hati: "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengendalikan hidupku, termasuk Selina atau bahkan Rowan. Tapi aku juga harus jujur pada diriku sendiri... aku mulai ingin tahu siapa sebenarnya pria ini."

Di luar jendela, hujan tipis mulai turun, menciptakan ritme menenangkan yang kontras dengan ketegangan di dalam hatinya. Aleyna tahu satu hal pasti: permainan baru ini jauh dari selesai. Dan kali ini, ia tidak akan mundur.

Aleyna Seraphina Veyra menutup pintu lift di lantai atas dengan perlahan, tapi langkah kakinya masih terasa berat. Pagi itu suasana kantor lebih tegang dari biasanya. Telepon berdering tiada henti, email masuk berseliweran, dan rekan-rekan kerja tampak sibuk dengan ekspresi serius. Tapi Aleyna merasa ada sesuatu yang berbeda—bukan soal pekerjaan, melainkan sensasi bahwa sesuatu akan berubah hari ini, sesuatu yang lebih pribadi dan berisiko.

Ia melangkah ke mejanya, menaruh tas kerja, dan menatap dokumen proyek yang menumpuk. Matanya beralih ke jam dinding—delapan tiga puluh pagi. Masih ada waktu sebelum rapat besar dengan para eksekutif senior. Tapi perasaannya menegaskan bahwa detik-detik berikutnya akan menentukan jalannya permainan baru ini.

Saat Aleyna menyalakan laptopnya, layar menyala dengan notifikasi yang membuat hatinya berdegup lebih cepat. Sebuah pesan singkat muncul: “Aku ingin bicara. Ruang konferensi 9:30. Jangan terlambat.”

Tidak ada pengirim yang tercantum, tapi Aleyna tahu siapa itu. Rowan Sinclair. Pria itu selalu berhasil meninggalkan jejak misteri di setiap langkahnya, dan kini ia mengundang Aleyna ke arena permainan baru.

Ketika Aleyna memasuki ruang konferensi tepat pukul 9:30, Rowan sudah berdiri di sana, dengan pandangan yang menembus dan aura yang selalu membuatnya sulit bernapas. Ia menutup pintu di belakang Aleyna, lalu berkata tanpa basa-basi, “Aku ingin kau menilai sebuah situasi—bukan hanya proyek, tapi juga orang-orang yang terlibat.”

Aleyna mengernyit, mencoba menafsirkan maksudnya. “Apa maksud Bapak?”

Rowan berjalan perlahan mengelilingi meja, matanya tetap menatap Aleyna. “Ada individu di sekitar kita yang bukan sekadar ancaman profesional. Mereka memiliki agenda pribadi, dan bisa memanfaatkan situasi untuk keuntungan mereka sendiri. Aku ingin kau menemukan siapa.”

Aleyna menarik napas panjang. Ia tahu maksud Rowan lebih dari sekadar permainan profesional. Ini adalah ujian intelektual, emosional, dan psikologis. “Bagaimana caranya saya menilai orang-orang itu?”

Rowan tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Amati. Catat. Dengarkan. Setiap kata, ekspresi, dan gerak-gerik bisa menjadi petunjuk. Jangan tergesa-gesa, tapi juga jangan lengah.”

Rapat pribadi itu berakhir, meninggalkan Aleyna dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, permainan ini jauh lebih kompleks daripada jebakan Selina empat tahun lalu. Bukan hanya tipu daya yang jelas, tapi manipulasi halus yang bisa menjerat siapa pun tanpa sadar.

Selama hari itu, Aleyna mulai memperhatikan rekan-rekannya dengan intens. Ia menandai pola perilaku, mendengarkan percakapan yang tampak sepele, dan mencatat setiap kejanggalan. Ada perasaan baru yang muncul—rasa takut, rasa penasaran, dan rasa ingin tahu tentang siapa yang benar-benar bisa dipercaya.

Saat jeda makan siang, Aleyna memutuskan untuk berjalan ke taman gedung. Ia butuh udara segar untuk menenangkan pikiran yang terlalu penuh. Di bangku kayu, ia duduk, menatap pepohonan dan dedaunan yang mulai berguguran. Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Seorang wanita mendekat, mengenakan pakaian formal, rambutnya diikat rapi, dan senyum yang tampak terlalu manis untuk dipercayai. “Aleyna, ya? Aku Selina,” ucap wanita itu.

Aleyna menegakkan tubuh, menatap Selina dengan mata waspada. “Apa yang kau mau, Selina?”

Selina duduk di bangku sebelahnya tanpa izin. “Hanya ingin mengobrol. Sudah lama kita tidak berbicara, kan? Aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja di kantor ini… untukmu.”

Aleyna menahan napas. Ia tahu Selina selalu menyelipkan maksud tersembunyi di balik kata-kata manis. “Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat.

Selina tersenyum, tapi ada kilatan di matanya yang membuat Aleyna tidak nyaman. “Aku senang mendengarnya. Tapi ingat, Aleyna… dunia ini tidak selalu ramah, bahkan untuk orang sekuatmu.”

Aleyna menatap Selina diam-diam. Kata-kata itu terdengar seperti peringatan, tapi juga ancaman terselubung. Ia tahu, setiap interaksi dengan Selina adalah permainan psikologis yang harus ia menangkan.

Hari itu berlanjut dengan proyek yang semakin menantang. Aleyna harus menyesuaikan strategi, menilai risiko, dan tetap menjaga sikap profesional. Tapi di balik semua itu, pikirannya tetap terjerat pada Rowan. Setiap kali ia menatap pria itu, ada sensasi aneh—antara tegang, penasaran, dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Sore menjelang malam, Rowan memanggil Aleyna ke ruang kantornya lagi. Kali ini, suasananya berbeda. Lampu ruangan lebih redup, dan jendela menampilkan pemandangan kota yang berkilau. “Kau mulai memahami permainan ini, Aleyna?” tanyanya.

Aleyna mengangguk. “Sedikit, Pak. Tapi masih banyak yang harus kupelajari.”

Rowan melangkah lebih dekat, tatapannya intens. “Permainan ini bukan hanya soal pekerjaan. Ini tentang siapa yang bisa bertahan, siapa yang bisa menahan diri, dan siapa yang bisa menghadapi masa lalu tanpa terjebak di dalamnya.”

Aleyna menelan ludah. Hatinya berdegup lebih cepat. Ada sesuatu dalam kata-kata Rowan yang terasa pribadi, seolah ia tidak sekadar berbicara tentang proyek, tapi juga tentang mereka—masa lalu mereka, rahasia yang tersembunyi, dan hubungan yang rumit.

“Maksud Bapak…” suara Aleyna nyaris berbisik, “apakah ini juga tentang masa lalu saya?”

Rowan menatapnya lama. Kemudian ia tersenyum tipis, hampir tak terlihat. “Kau akan tahu, Aleyna. Waktu yang tepat akan datang. Tapi untuk saat ini, fokus pada permainan ini. Jangan biarkan emosi menguasaimu. Kau harus tetap tajam.”

Aleyna mengangguk, meskipun hatinya bergejolak. Ia tahu Rowan bukan hanya bos, bukan hanya misteri dari masa lalu, tapi juga kekuatan yang bisa mengubah hidupnya—baik sebagai ancaman maupun penyelamat.

Malam itu, Aleyna duduk di apartemen, menatap dokumen proyek, catatan observasinya, dan ponsel yang tetap diam. Ia tahu satu hal: Selina semakin aktif, Rowan semakin misterius, dan permainan ini jauh lebih kompleks daripada yang pernah ia bayangkan.

Ia menarik napas panjang, menatap lampu kota yang berkilau. “Aku harus tetap kuat. Aku harus tetap cerdas. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengendalikan hidupku—tidak Selina, tidak Rowan, dan tidak masa laluku sendiri.”

Sementara itu, di sisi lain kota, Rowan Sinclair menatap gedung tinggi dari kantornya, matanya menelusuri setiap jendela. Ia tahu Aleyna mulai memahami permainan yang ia ciptakan, dan itu membuatnya tertarik. Ada rasa kagum terselubung, sekaligus… sesuatu yang lebih personal.

Rowan menyalakan ponselnya dan mengetik pesan singkat: “Aleyna, kau sudah membuat langkah pertama. Tapi langkah berikutnya akan menentukan segalanya. Siapkah kau menghadapi risiko sebenarnya?”

Di apartemennya, Aleyna menerima pesan itu dan menatap layar dengan hati berdebar. Pesan itu bukan sekadar pengingat profesional; ada tantangan pribadi di baliknya. Dan kali ini, ia tahu, permainan ini tidak akan berhenti hingga rahasia, perasaan, dan kekuatan mereka diuji sepenuhnya.

Malam itu berakhir dengan hujan tipis yang menyelimuti kota, menciptakan ritme menenangkan namun juga misterius. Aleyna menatap hujan dari jendela apartemennya, menyadari satu hal: permainan ini baru saja dimulai, dan kali ini, ia harus menghadapi semuanya—masa lalu, rahasia, intrik, dan perasaan yang tidak bisa ia abaikan lagi.

Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Aleyna merasa hidupnya benar-benar berada di persimpangan—antara kemenangan, kekalahan, dan sesuatu yang tak terduga: perasaan yang perlahan muncul kembali untuk Rowan Sinclair, pria misterius yang selalu membuatnya penasaran dan waspada sekaligus.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED