"Gemes banget, pengen tak cubit," gumamku seraya senyum-senyum sendiri setelah bertukar pesan dengan Alma--teman virtual ku dari le*ma*ch.
Nama yang indah juga bagus. Oh iya, nama lengkapnya Haiba Zia Almahyra, panggilannya Alma. Dia berasal dari Cilacap. Itu loh sedaerah dengan masjid perahu yang pernah viral sampai masuk stasiun televisi. Sudah lima hari aku selalu bertukar pesan dengan Alma. Orangnya asik dan harus kalian ketahui, cewek itu tidak bisa ngomong bahasa Jawa--melainkan Sunda. Aneh 'kan ya? Tinggal di Jawa Tengah kenapa tidak mengerti Jawa? Tapi, lucu kok. Baru pertama kali aku mempunyai temen cewek virtual berbahasa Sunda.
Hari ini pula terakhir tes ulangan akhir semester. Selesai jam sebelas. Aku balik aja lah ke pondok, mau telepon Alma soale, aku membatin sambil cengengesan gak jelas. Yang lihat tingkahku pasti mengira aku stress. Untungnya koridor fakultas ku tengah lenggang--tidak ada satu orang pun. Mengambil motor di parkiran, aku mampir lebih dulu ke cafe yang jaraknya tidak jauh dari kampus. Haus sekali. Cuaca amat terik oleh sinar matahari.
Menunggu pesanan tiba, aku cek kembali benda persegi milikku. Takutnya Alma membalas pesan karena dia bilang mau pergi ke BANK ditemani oleh Mama nya.
Menekan tombol memanggil, eumm berdering sih. Kok gak di angkat ya? Lah, kok? Kenapa dimatiin? Apa salah dan dosa hambamu Ya Allah.
Tring
[Lagi banyak orang, Mas. Aku malu.]
Aku tertawa dalam batin. Alma ini .... aku tidak bisa berkata-kata lagi. Semisal ada di depanku, dia langsung aku cubit aja pipinya.
Membalas pesannya, lalu mengirimkan foto suasana di cafe.
"Lagi panas enaknya minum yang seger-seger tau, Ay," eja ku sambil mengetikkan kalimat tersebut. Geli ya, aku panggil Alma dengan sebutan Ay? Bingung tau harus panggil cewek itu apa. Sama mantanku sebelumnya ada berbagai panggilan yakni sayang, beb, dan honey. Stop, gak usah meledekku. Aku hanya memiliki tiga mantan saja. Pertama, sewaktu aku masih SMP kelas dua. Masih polos-polos, dan baru mengenal akan cinta mon*et. Masa itu aku belum mempunyai ponsel juga sekolah madrasah memberi peraturan agar tidak membawa benda persegi tersebut ke area lingkup nya. Yah, akhirnya kirim surat secara diam-diam.
Kedua, ketika aku kelas tiga SMK. Mau mepet hari kelulusan ceritanya itu. Sebab mau pindah kota melanjutkan kuliah serta mantan ku tidak kuat LDR, jadilah dia yang memutuskan duluan hubungan kami. It's okay, masih banyak cewek yang lain, bercanda.
Last, memasuki bangku perkuliahan aku tidak kepikiran memiliki pacar. Sampai di semester lima barulah menembak cewek cerewet tapi, cantik. Realistis dong, cowok pun pengen punya pasangan good looking. Berjalan ke tiga bulan, hubungan kami kandas dikarenakan mantan ku yang memutuskan duluan.
Hari-hari telah berlalu, aku terbiasa jomblo sampai semester tujuh. Namun, setelah mengenal Alma lewat virtual, hidupku seakan berseri kembali. Tunggu, hanya teman, oke? Katanya teman, kok panggilannya Ayang? Alma juga, kenapa cewek itu enggak marah ya, aku panggil dia Ay. Di singkat, biar tidak kepanjangan.
Arif mengatakan hubunganku dengan Alma yaitu HTS. Kalian mungkin tau dong singkatan HTS? Masa iya gak tau? Aku yakin hampir semua cewek pernah merasakan hubungan tanpa status tetapi layaknya pacaran. You know lah, hubungan seperti ini memang manis-manis, saling memberi perhatian, teleponan tiap malem, dan aku melakukan sleep call bareng Alma di waktu pertama aku mengajaknya telepon. Kalau gak salah sampai subuh deh, kami sleep call an itu. Gila? Emang. Aku mengakuinya kok.
***
Jam dua belas siang, aku kembali menelepon Alma. Alhamdulillah, di angkat sama dia. Memberi salam, kemudian menanyakan keseharian Alma pada hari ini.
"Udah makan, Ay?" aku bahkan tidak malu mengatakannya kalimat tersebut di depan Arif serta Haikal.
"Minta pesenin go food, Mbak ke pacarnya. Bisanya cuma nawarin tok," melempar guling ke arah Arif, aku sampai melotot--kode untuk diam, tidak boleh ikut nimbrung.
Menit ke dua belas, temanku alias si Arif mulai berulah. Dia menghampiriku, lalu mendekatkan mulutnya pada ponsel yang ku tempel di telinga sebelah kanan. Sialan, Arif. Telingaku risih saat cowok itu menyuarakan de*ah*n hingga ku lupa membisukan panggilanku dengan Alma.
"Astagfirullah, Rif. Koe sanaan lah. Ora usah ganggu aku," menyingkirkan kepalanya namun, Arif tetaplah Arif. Terkenal jahil. Sukanya bikin aku dan lainnya geram saat tengah teleponan sama lawan jenis.
"Lanjut nanti malem aja ya, Ay. Temenku rusuh-- "
Arif sengaja mengambil ponselku. Aku kecolongan cok.
"Nanti malem sleep call ya, Ay. Babay, emuach,"
"Bocah gemblung," semburku kemudian memiting lehernya. Ya, begitulah pertengkaran kami. Nanti juga baikan kok, tenang saja.
"Lehan?!" aku pura-pura tidur usai teleponan dengan Alma.
"Jan*u*, elo malah turu," suara Arif kek toa, anjir. Kedua telingaku amat sensitif oleh suara cemprengnya. Lama-lama aku bisa budeg ... eh, naudzubillahimindzalik, jangan sampe deh. Belum juga ketemu sama ayang Alma, masa budeg.
"Kecapean dia, habis kerja bakti bantuin Gus Zaenal," Widi emang the best.
"Halah, ora percaya," hardik Arif. Sedetik kemudian aku merasakan seluruh tubuhku di guncang hebat sama Arif.
"Wafa Lehandra, gue tau ya elo cuma pura-pura tidur?! Kuping gue juga gak salah denger, elo habis teleponan sama cewek HTS--siapa tuh ya namanya. Gue lupa,"
"Berisik woy," sahut Widi. Cowok itu membanting sendok logam ke atas lantai.
Terpaksa dah aku harus bangun.
"Kenapa lu?? Mau minjem motor?" anjir, pake lo-gue berasa anak Jakarta. Sok asik, batinku menertawakan diri sendiri.
Arif tersedak ludah, "Ora pantes sumpah," tuh 'kan, aku di ketawain.
"Awas, aku mau ke air," kebelet BAB. Pas teleponan dengan Alma, aku bela-belain gak ke air. Masih kangen suaranya. Apa sih yang enggak aku lakuin sama ayang Alma.
"Minjem sarung, Han. Punya gue masih basah,"
Aku menatap Arif sebentar. Iya lah, takutnya cowok itu naksir aku, astaghfirullah.
Menggetuk dahinya dua kali, aku pun berkata, "Kalau udah kotor, langsung di cuci makanya. Ribet sendiri 'kan?" ocehku kepadanya. Beranjak berdiri, aku berjalan menuju lemari pakaianku.
"Noh, ambil," ku lempar benda tersebut. Bukannya ditangkap dengan baik, sarung milikku melesat dan mendarat tidak aesthethic nya. Kena jidat lebarnya Arif. Kabur oy, sebelum kena amuk.
"Bang-- " masih ku dengar Widi mengomeli Arif karena mau berkata kasar.
***
"Astagfirullah, susah banget koh dapetin nomor whatsapp kamu, Ay," keluhku sambil meringis, menahan tangis. Ini beneran tau. Aku frustrasi karena ulah Alma.
Mau sebulan namun, kami berdua masih chattingan di aplikasi yaa ... kalian tau lah. Masih mandet ini. Padahal aku greget ingin beralih ke ke aplikasi hijau.
"Aku kasih nih, kosong delapan dua-- " ada jeda sebentar dari seberang sana. Aku menunggu penuh kesabaran, "yahh, tapi itu nomor telepon sedot WC," Alma tertawa puas, aku mengelus dada seraya memejamkan kedua mata. Beruntung kesabaranku setebal kamus bahasa Inggris. Kalau tidak, aku samperin dah ke rumahnya Alma. Modal nekat.
"Ay??" rengek ku kepadanya.
"Han?" ups, ada Mas Aiden. Aku emang lagi jongkok di halaman asrama. Mencabuti rumput liar di malam hari. Soalnya dalam kamar ada Arif--si cowok biang jahilnya minta ampun.
"Nggih, Mas, kenapa?"
Ku masukkan ponsel pada saku kemeja, lalu berdiri tegak di depan Mas Aiden.
"Lagi ngapain to? Malem-malem nyabutin rumput,"
"Ya Allah, Mas ngapain nyabutin rumput-- " aku gelagapan saat suara Alma terdengar. Gawat, apa aku tidak sengaja menekan tombol loudspeaker? Terburu-buru mengecek ponsel, dan benar saja.
Mas Aiden terkekeh pelan, "Lagi teleponan rupanya," matanya melirik sekilas pada ponsel yang aku kantongi lagi ke dalam saku kemeja.
Hanya cengiran polos sebagai jawabanku, "Ya begitu deh, Mas,"
Asli, malu sumpah.
"Ya udah, nanti kalian ke dapur pondok. Belum pada makan juga 'kan,"
"Nggih siap, Mas," semangatku membara ketika mendengar makanan.
Mas Aiden melenggang pergi, dan aku lanjut teleponan. Kali ini aku duduk di teras asrama. Belum siap masuk kamar. Gak enak hati sama Alma. Merasa bersalah pula, punya modelan temen kayak Arif. Takut Alma nya Lehan risih.
Fyi, kenapa di pondok aku dan temanku lainnya membawa ponsel, ya alasannya aku butuh informasi mengenai kampus. Makanya diperbolehkan membawa ponsel juga asrama anak kuliahan, SD, SMP serta SMA dipisah alias beda komplek.
"Hallo, Ay? Udah tidur apa?"
"Belum," alhamdulillah, kirain aku ditinggal tidur, "mau ke kamar mandi tapi, takut," cicitnya dibalas tawa pelanku.
"Takut kenapa sih? Wong gak ada apa-apa,"
"Han, skuy lah ke dapur pondok," ajak Bastara di ikuti lainnya.
"Ya udah makan gih, aku pun mau ke kamar mandi dan ngantuk,"
"Belum dapet nomor whatsapp kamu tau, Ay," idih, ini bukan Lehan yang aku kenal. Kenapa aku bisa semanja ... ah, tau lah.
"In Sya Allah besok aku kasih nomornya,"
Wajahku berbinar seperti menemukan harta karun di hamparan padang pasir.
"Janji, Ay?"
"Hem, iya," yes, akhirnya.