Bab 1

"Akhirnya sampai juga di asrama," aku membuka sepatu, kemudian menaruhnya di rak yang sudah tersedia. Pulang kuliah siang terik begini, ditambah panas serta gerah, beuh paket komplit pokoknya.

"Turu wae lah, yok?" hampir aku serangan jantung ulah kemunculan Widi yang tiba-tiba. Temanku itu emang asli orang Jawa. Kalau aku ya ... asline suka kamu, bercanda.

"Wis madang urung, Wid?" tanyaku seraya menyimpan tas gendong dekat kasur, "gerah banget koh," sambungku beranjak menuju kipas, dan menyalakannya. Nomor tiga, cok, panase pol soale.

"Ntaran bae lah. Aku abis begadang, pengin turu," ya begitulah interaksi kami berdua. Semalem ya begadang main game, bukan ngaji kitab.

Fyi, aku kuliah sembari mondok di pesantren--deket sih jaraknya, perkiraan dari pesantren ke kampus sekitar lima belas menitan.

"Ponsel aku sih mana ya?" kebiasaanku ialah suka lupa menaruh barang berharga seperti ponsel, dompet dan kunci motor.

"Di gue, Han,"

"A*u, aku cari-cari juga," astaghfirullah, batinku langsung menyebut istighfar tiga kali. Maaf ya, anak pondok pun juga manusia. Suka mengumpat tapi 'kan aku tobat--nyebut asma Allah. Jangan ditiru nggih?

Sebenarnya aku lupa bawa ponsel ke kampus. Mengingat tadi pagi bangun kesiangan, dan sialnya aku malah memakai sandal alih-alih pakai sepatu. Lagi ulangan, ketahuan dosen pakai sandal--alhasil balik kampus maning. Arghh, itu loh, waktu pengerjaan ulangan empat puluh lima menit. Kehabisan waktu buat di jalan doang. Untungnya Abi pinter lho, kids. Do'ain Abi ya kids, biar cepat lulus kuliah, wisuda dan ketemu Umi kamu. Halu buat nyenengin diri sendiri tak apa lah.

"Anjir, Han?! Lu ngapain senyum-senyum kayak ngana tah. Mikirin iya-iya 'kan lu?? Hayoh, ngaku bae,"

"Sembarangan kamu, Bas. Mulutmu itu lho, pengin aku sumpel pake kaus kakinya Haikal??" sorry, Kal. Aku gak sengaja menuduh kamu.

"Kena mulu dah. Perasaan aku gak ngapa-ngapain," waduh, si empunya langsung nongol aja tuh.

"Hampura, Kal. Aku keceplosan,"

"Diem woy, mau tidur ini. Berisik banget elah," aku kicep, Bastara keselek keripik singkong, Haikal terantuk kaki meja saking kagetnya, dan Darren menjatuhkan ponselnya sendiri. Widi ini orangnya pendiem. Tapi, sekalinya marah aku takut cok. Kalian pasti tau lah, marahnya orang pendiem kek gimana? Ngeri-ngeri sedap.

***

Pulang dari masjid, masih menggunakan koko juga sarung, aku melipir sebentar ke dapur pondok. Siapa tau ada makanan. Makan, makan, makan terus kamu deh. Aw, jadi geli sendiri dengernya.

"Han?" asik, ada temenku rupanya.

"Nyari apaan lo?" tanya Mas Aiden--pengurus santri putra--kebetulan satu kamar denganku.

"Makan Mas, laper," ringisku sambil jongkok, samping-sampingan dengannya. Aku sama Mas Aiden seperti saudara sendiri. Makanya aku tidak merasa canggung sama sekali. Namun balik lagi, dia lebih tua tiga tahun dariku sekaligus pengurus. Sudah sepatutnya aku hormati dia.

"Gak ngaji emangnya??" tanyanya seraya mengaduk-ngaduk sayur capcay di dalam wajan.

"Libur dulu, Mas. Ada tugas juga dari kampus," tugasnya belajar. Masih ada lima harian lagi ulangan akhir semesternya.

"Walah, pengin ngising aku," cetusku dibalas geplakan sama Mas Aiden.

"Sana lah ke air. Ntar kecipirit di dapur, satu pondok yang geger," aku terkikik dalam batin. Nanti ada berita yang berjudul 'salah satu santri putra kecipirit di dapur pondok saking tidak tahannya'. Buset, itu cerpen atau judul skripsi? Panjang bener.

Selesai urusanku di air, aku lebih baik ke asrama. Siapa tau temenku ada yang bawa makanan. Setauku, si Arion jam kuliahnya malam dan ... yah, aku berharapnya cowok itu bawa sesuatu dari luar.

Nasi padang. Apa aku bilang tadi?? Harapanku sesuai dengan kenyataan.

Kamarku berisi lima orang yakni aku, Widi, Mas Aiden, Arif, dan Haikal. Untuk kamar sebelah ada Arion, Bastara, Wildan, Darren, Rio juga Radit. Anak pondok yo apa-apa dilakukan bareng-bareng. Punya makanan berbagi sama temen. Tidak untuk satu kamar saja--melainkan teman lainnya juga. Intinya berbagi itu indah. Kalau mau ya gabung, jangan malu-malu. Pasti seru dan tambah rame. Yah, itulah keseruan di ruang lingkup pesantren.

Jam sudah menunjukkan angka sembilan. Dan aku sedang mainan ponsel. Biasa, tengah bertukar kabar dengan orang paling berharga yaitu Ibu tercinta. Di sampingku ada Widi. Dia pun lagi mainan ponsel. Sudah menekan tombol kirim, aku penasaran apa yang tengah Widi mainkan. Dari sudut mata, aku melihat dia menekan tombol love ke setiap foto-foto cewek.

"Aplikasi apaan tuh, Wid?" penasaran dong, aku tengok aja isi layar di ponselnya.

"Le*ma*ch, Han. Tau kagak?" aku menggeleng pelan, tanda tidak tahu.

"Kudet amat kamu," ejek Widi. Ya elah, malah ngejek koh, "seriusan aku tanya, anjir. Kamu malah ngejek,"

"Aplikasi warna biru, Han. Siniin ponsel kamu,"

Patuh. Aku memberikan ponselku kepada Widi. Entah apa yang dia otak-atik.

"Pasang gih foto profilnya. Yang paling ganteng, kalau bisa,"

Mendengus kesal tapi tak urung melakukan titahan Widi.

"Terus gimana lagi, Wid?"

"Tulis umur sama alamatnya,"

"Nggih, terus?" serius dah, aku kayak lagi wawancarain Widi.

"Udah tak post. Tinggal nunggu love dari sananya,"

Hingga beberapa menit kemudian, aku terus pantengin layar ponselku.

"Mana anjir? Gak ada yang suka sama aku ternyata,"

"Nasib-nasib," lanjutku sambil geleng-geleng kepala.

Baru saja mau keluar dari aplikasi tersebut, keajaiban datang kepadaku.

"Anjir, Wid. Ada yang love foto aku," seruku tak sadar menyenggol lengan temanku, "Han?! Untung ponselku gak jatuh," maaf teman. Terlanjur bahagia nih.

"Chat ah, siapa tau berjodoh," batinku mengklik nama cewek--yang sudah memberi love pada fotoku.

Bab 2

"Gemes banget, pengen tak cubit," gumamku seraya senyum-senyum sendiri setelah bertukar pesan dengan Alma--teman virtual ku dari le*ma*ch.

Nama yang indah juga bagus. Oh iya, nama lengkapnya Haiba Zia Almahyra, panggilannya Alma. Dia berasal dari Cilacap. Itu loh sedaerah dengan masjid perahu yang pernah viral sampai masuk stasiun televisi. Sudah lima hari aku selalu bertukar pesan dengan Alma. Orangnya asik dan harus kalian ketahui, cewek itu tidak bisa ngomong bahasa Jawa--melainkan Sunda. Aneh 'kan ya? Tinggal di Jawa Tengah kenapa tidak mengerti Jawa? Tapi, lucu kok. Baru pertama kali aku mempunyai temen cewek virtual berbahasa Sunda.

Hari ini pula terakhir tes ulangan akhir semester. Selesai jam sebelas. Aku balik aja lah ke pondok, mau telepon Alma soale, aku membatin sambil cengengesan gak jelas. Yang lihat tingkahku pasti mengira aku stress. Untungnya koridor fakultas ku tengah lenggang--tidak ada satu orang pun. Mengambil motor di parkiran, aku mampir lebih dulu ke cafe yang jaraknya tidak jauh dari kampus. Haus sekali. Cuaca amat terik oleh sinar matahari.

Menunggu pesanan tiba, aku cek kembali benda persegi milikku. Takutnya Alma membalas pesan karena dia bilang mau pergi ke BANK ditemani oleh Mama nya.

Menekan tombol memanggil, eumm berdering sih. Kok gak di angkat ya? Lah, kok? Kenapa dimatiin? Apa salah dan dosa hambamu Ya Allah.

Tring

[Lagi banyak orang, Mas. Aku malu.]

Aku tertawa dalam batin. Alma ini .... aku tidak bisa berkata-kata lagi. Semisal ada di depanku, dia langsung aku cubit aja pipinya.

Membalas pesannya, lalu mengirimkan foto suasana di cafe. 

"Lagi panas enaknya minum yang seger-seger tau, Ay," eja ku sambil mengetikkan kalimat tersebut. Geli ya, aku panggil Alma dengan sebutan Ay? Bingung tau harus panggil cewek itu apa. Sama mantanku sebelumnya ada berbagai panggilan yakni sayang, beb, dan honey. Stop, gak usah meledekku. Aku hanya memiliki tiga mantan saja. Pertama, sewaktu aku masih SMP kelas dua. Masih polos-polos, dan baru mengenal akan cinta mon*et. Masa itu aku belum mempunyai ponsel juga sekolah madrasah memberi peraturan agar tidak membawa benda persegi tersebut ke area lingkup nya. Yah, akhirnya kirim surat secara diam-diam.

Kedua, ketika aku kelas tiga SMK. Mau mepet hari kelulusan ceritanya itu. Sebab mau pindah kota melanjutkan kuliah serta mantan ku tidak kuat LDR, jadilah dia yang memutuskan duluan hubungan kami. It's okay, masih banyak cewek yang lain, bercanda.

Last, memasuki bangku perkuliahan aku tidak kepikiran memiliki pacar. Sampai di semester lima barulah menembak cewek cerewet tapi, cantik. Realistis dong, cowok pun pengen punya pasangan good looking. Berjalan ke tiga bulan, hubungan kami kandas dikarenakan mantan ku yang memutuskan duluan. 

Hari-hari telah berlalu, aku terbiasa jomblo sampai semester tujuh. Namun, setelah mengenal Alma lewat virtual, hidupku seakan berseri kembali. Tunggu, hanya teman, oke? Katanya teman, kok panggilannya Ayang? Alma juga, kenapa cewek itu enggak marah ya, aku panggil dia Ay. Di singkat, biar tidak kepanjangan.

Arif mengatakan hubunganku dengan Alma yaitu HTS. Kalian mungkin tau dong singkatan HTS? Masa iya gak tau? Aku yakin hampir semua cewek pernah merasakan hubungan tanpa status tetapi layaknya pacaran. You know lah, hubungan seperti ini memang manis-manis, saling memberi perhatian, teleponan tiap malem, dan aku melakukan sleep call bareng Alma di waktu pertama aku mengajaknya telepon. Kalau gak salah sampai subuh deh, kami sleep call an itu. Gila? Emang. Aku mengakuinya kok.

***

Jam dua belas siang, aku kembali menelepon Alma. Alhamdulillah, di angkat sama dia. Memberi salam, kemudian menanyakan keseharian Alma pada hari ini. 

"Udah makan, Ay?" aku bahkan tidak malu mengatakannya kalimat tersebut di depan Arif serta Haikal. 

"Minta pesenin go food, Mbak ke pacarnya. Bisanya cuma nawarin tok," melempar guling ke arah Arif, aku sampai melotot--kode untuk diam, tidak boleh ikut nimbrung.

Menit ke dua belas, temanku alias si Arif mulai berulah. Dia menghampiriku, lalu mendekatkan mulutnya pada ponsel yang ku tempel di telinga sebelah kanan. Sialan, Arif. Telingaku risih saat cowok itu menyuarakan de*ah*n hingga ku lupa membisukan panggilanku dengan Alma. 

"Astagfirullah, Rif. Koe sanaan lah. Ora usah ganggu aku," menyingkirkan kepalanya namun, Arif tetaplah Arif. Terkenal jahil. Sukanya bikin aku dan lainnya geram saat tengah teleponan sama lawan jenis.

"Lanjut nanti malem aja ya, Ay. Temenku rusuh-- "

Arif sengaja mengambil ponselku. Aku kecolongan cok. 

"Nanti malem sleep call ya, Ay. Babay, emuach," 

"Bocah gemblung," semburku kemudian memiting lehernya. Ya, begitulah pertengkaran kami. Nanti juga baikan kok, tenang saja.

Bab 3

"Lehan?!" aku pura-pura tidur usai teleponan dengan Alma.

"Jan*u*, elo malah turu," suara Arif kek toa, anjir. Kedua telingaku amat sensitif oleh suara cemprengnya. Lama-lama aku bisa budeg ... eh, naudzubillahimindzalik, jangan sampe deh. Belum juga ketemu sama ayang Alma, masa budeg.

"Kecapean dia, habis kerja bakti bantuin Gus Zaenal," Widi emang the best.

"Halah, ora percaya," hardik Arif. Sedetik kemudian aku merasakan seluruh tubuhku di guncang hebat sama Arif.

"Wafa Lehandra, gue tau ya elo cuma pura-pura tidur?! Kuping gue juga gak salah denger, elo habis teleponan sama cewek HTS--siapa tuh ya namanya. Gue lupa,"

"Berisik woy," sahut Widi. Cowok itu membanting sendok logam ke atas lantai.

Terpaksa dah aku harus bangun.

"Kenapa lu?? Mau minjem motor?" anjir, pake lo-gue berasa anak Jakarta. Sok asik, batinku menertawakan diri sendiri.

Arif tersedak ludah, "Ora pantes sumpah," tuh 'kan, aku di ketawain.

"Awas, aku mau ke air," kebelet BAB. Pas teleponan dengan Alma, aku bela-belain gak ke air. Masih kangen suaranya. Apa sih yang enggak aku lakuin sama ayang Alma.

"Minjem sarung, Han. Punya gue masih basah,"

Aku menatap Arif sebentar. Iya lah, takutnya cowok itu naksir aku, astaghfirullah.

Menggetuk dahinya dua kali, aku pun berkata, "Kalau udah kotor, langsung di cuci makanya. Ribet sendiri 'kan?" ocehku kepadanya. Beranjak berdiri, aku berjalan menuju lemari pakaianku.

"Noh, ambil," ku lempar benda tersebut. Bukannya ditangkap dengan baik, sarung milikku melesat dan mendarat tidak aesthethic nya. Kena jidat lebarnya Arif. Kabur oy, sebelum kena amuk.

"Bang-- " masih ku dengar Widi mengomeli Arif karena mau berkata kasar.

***

"Astagfirullah, susah banget koh dapetin nomor whatsapp kamu, Ay," keluhku sambil meringis, menahan tangis. Ini beneran tau. Aku frustrasi karena ulah Alma.

Mau sebulan namun, kami berdua masih chattingan di aplikasi yaa ... kalian tau lah. Masih mandet ini. Padahal aku greget ingin beralih ke ke aplikasi hijau.

"Aku kasih nih, kosong delapan dua-- " ada jeda sebentar dari seberang sana. Aku menunggu penuh kesabaran, "yahh, tapi itu nomor telepon sedot WC," Alma tertawa puas, aku mengelus dada seraya memejamkan kedua mata. Beruntung kesabaranku setebal kamus bahasa Inggris. Kalau tidak, aku samperin dah ke rumahnya Alma. Modal nekat.

"Ay??" rengek ku kepadanya.

"Han?" ups, ada Mas Aiden. Aku emang lagi jongkok di halaman asrama. Mencabuti rumput liar di malam hari. Soalnya dalam kamar ada Arif--si cowok biang jahilnya minta ampun.

"Nggih, Mas, kenapa?"

Ku masukkan ponsel pada saku kemeja, lalu berdiri tegak di depan Mas Aiden.

"Lagi ngapain to? Malem-malem nyabutin rumput,"

"Ya Allah, Mas ngapain nyabutin rumput-- " aku gelagapan saat suara Alma terdengar. Gawat, apa aku tidak sengaja menekan tombol loudspeaker? Terburu-buru mengecek ponsel, dan benar saja.

Mas Aiden terkekeh pelan, "Lagi teleponan rupanya," matanya melirik sekilas pada ponsel yang aku kantongi lagi ke dalam saku kemeja.

Hanya cengiran polos sebagai jawabanku, "Ya begitu deh, Mas,"

Asli, malu sumpah.

"Ya udah, nanti kalian ke dapur pondok. Belum pada makan juga 'kan,"

"Nggih siap, Mas," semangatku membara ketika mendengar makanan.

Mas Aiden melenggang pergi, dan aku lanjut teleponan. Kali ini aku duduk di teras asrama. Belum siap masuk kamar. Gak enak hati sama Alma. Merasa bersalah pula, punya modelan temen kayak Arif. Takut Alma nya Lehan risih.

Fyi, kenapa di pondok aku dan temanku lainnya membawa ponsel, ya alasannya aku butuh informasi mengenai kampus. Makanya diperbolehkan membawa ponsel juga asrama anak kuliahan, SD, SMP serta SMA dipisah alias beda komplek.

"Hallo, Ay? Udah tidur apa?"

"Belum," alhamdulillah, kirain aku ditinggal tidur, "mau ke kamar mandi tapi, takut," cicitnya dibalas tawa pelanku.

"Takut kenapa sih? Wong gak ada apa-apa,"

"Han, skuy lah ke dapur pondok," ajak Bastara di ikuti lainnya.

"Ya udah makan gih, aku pun mau ke kamar mandi dan ngantuk,"

"Belum dapet nomor whatsapp kamu tau, Ay," idih, ini bukan Lehan yang aku kenal. Kenapa aku bisa semanja ... ah, tau lah.

"In Sya Allah besok aku kasih nomornya,"

Wajahku berbinar seperti menemukan harta karun di hamparan padang pasir.

"Janji, Ay?"

"Hem, iya," yes, akhirnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED