Bab 2

Sesampai di rumah, Tara mendapati beberapa barang telah terjual. Lalu, ia pun melihat mamanya masih mengemas beberapa barang pecah belah.

“Kamu sudah pulang?” tanya mamanya sewaktu melihat Tara mendekati dirinya. “Ayo kita makan dulu.”

Mama mengajak Tara langsung menuju meja makan. Tidak ada kata-kata atau pembicaraan apa pun ketika mereka di meja makan. Tara sedang menikmati makan siangnya hari ini. Ia pun menikmati makan siangnya sambil memikirkan cara untuk memberitahu mamanya perihal keputusannya menerima pekerjaan part time yang telah ia setujui pada sebuah perusahaan showroom besar itu. Selesai mereka makan siang, Tara langsung membantu mamanya untuk mengemasi beberapa barang lagi.

“Tara, tadi beberapa barang yang Mama iklankan telah diborong oleh orang yang kebetulan memerlukan semua barang yang kita jual,” ucap mama pada Tara.

Tara hanya mendengarkan cerita mama tentang beberapa barang yang telah terjual dan berapa uang yang mereka dapat dengan menjual barang-barang mereka. Sambil terus membantu mamanya merapikan sisa dari barang-barang yang belum dikemas. Setelah seluruh barang telah di kemas, Tara pun memberanikan diri untuk bisa memberitahu pada mamanya perihal pekerjaan part time yang telah diterimanya.

“Ma... Tadi Tara ke perusahaan yang menerima pekerjaan part time,” ucap Tara singkat.

Sejenak Tara terdiam sambil menunggu respon dari mamanya. Ketika itu mamanya terdiam serta hanya mendengarkan dirinya dan melihat ke arahnya. Lalu, Tara pun menjelaskan mengenai perusahaan itu dan jenis pekerjaan yang akan di kerjakannya. Tara pun memberitahu mamanya tentang gaji yang akan diterimanya. Tara juga mengatakan pada mamanya perihal bonus yang akan diterimanya, ketika penjualan atas mobil yang di pamerkan itu terjual olehnya. Atas bujuk rayu dan janji dari Tara untuk lebih giat belajar, maka mamanya pun memberikan izin pada putri semata wayangnya untuk bekerja.

“Terima kasih, Mama sayang...” ucap Tara sambil mencium kedua pipi mamanya.

Mereka pun tersenyum dan tertawa bersama. Sungguh pemandangan yang mengharukan ketika seorang anak perempuan seusia Tara yang sejak kecil hidup bagai seorang putri yang selalu dalam kemewahan, saat ini harus bekerja dan harus mampu menjadi tulang punggung keluarga. Ditambah sekarang ini papa yang ia sayangi masih berada di Rumah Tahanan.

Sebenarnya tekanan secara mental Tara telah terjadi dua tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya ia mendengar papanya harus masuk Rumah Tahanan. Dan beberapa aset harus diambil oleh pihak Pengadilan. Beberapa teman yang dulu sering ke rumah dan menghabiskan waktu bersama dengan berhura-hura semakin hari semakin berkurang. Karena teman-temannya tahu kalau keluarga Tara mengalami kebangkrutan. Tetapi karena Tara mempunyai jiwa yang supel dan terkesan tidak peduli dengan perubahan dari sikap teman-temannya maka di tanggapi santai olehnya, walaupun dihati yang dalam ia merasakan luka yang teramat sangat. Terlebih sebagian dari mereka adalah sahabat karibnya.

Sore ini mamanya berencana untuk pindah ke rumah kontrakan. Memang seharusnya dua atau tiga hari lagi. Karena seluruh barang-barang yang tidak dibutuhkan telah terjual. Maka hari ini mereka putuskan untuk ke rumah kontrakan. Setelah menunggu mobil pengangkut barang tiba, mereka pun menuju rumah kontrakan itu. Sesampai di sana mereka langsung menata dan merapikan rumah kontrakan mereka. Karena di sana hanya ada dua kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang tamu dan satu dapur berikut ruang makannya, maka diputuskan kalau Tara tidur bersama mamanya. Satu kamar lainnya dipakai untuk menaruh pakaian dan beberapa sepatu serta beberapa buku milik Tara serta beberapa barang lainnya. Mereka merapikan seluruh barang-barang hingga larut malam. Hari ini sangat terasa melelahkan bagi Tara dan mamanya. Mereka akhirnya pun tertidur setelah semuanya telah selesai.

Keesokan harinya, seperti biasa Tara berangkat sekolah sedangkan mamanya berada di rumah. Sesampai di sekolah Tara mendapatkan kabar kalau ujian sekolah akan diadakan dua minggu lagi. Dan seluruh murid diliburkan selama dua minggu sebagai hari minggu tenang. Dengan tujuan seluruh murid bisa belajar di rumah untuk bisa mengikuti ujian nasional kelulusan sekolah menengah atas. Setelah mendapat pengumuman sekolah, Tara pun pulang ke rumah dengan hati riang. Ia merasa memang jalan dirinya untuk bekerja sudah menjadi jalan hidupnya. Untuk masalah belajar menghadapi ujian akhir sekolah bukan suatu hal yang sulit bagi Tara. Karena ia sangat terkenal cerdas di sekolahnya. Jadi masalah ujian akhir sekolah bukan suatu hal yang berat bagi dirinya.

Sesampai di rumah, ia langsung memberitahukan perihal pengumuman sekolah serta jadwal ujian akhir sekolah pada mamanya. Lalu, Tara masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Setelah selesai Tara langsung menuju ruangan bukunya, untuk bisa mengambil beberapa buku yang harus di ulangi pembelajarannya. Setelah dua jam berada di ruang baca tersebut, Tara menghubungi perusahaan yang menerima dirinya bekerja. Ia memberitahu perihal keinginannya bekerja part time untuk hari ini. Karena kepindahan dirinya ke rumah kontrakannya lebih cepat dari jadwal sebelumnya. Perusahaan tempat dirinya bekerja pun, menerima keputusan Tara untuk bekerja hari ini.

Selesai Tara mandi, ia pun mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke perusahaan yang memperkerjakannya. Selesai pamit pada mamanya, Tara pun berangkat bekerja dengan kendaraan umum. Karena ia sekarang sudah tahu kendaraan umum yang bisa membawanya menuju perusahaan itu. Satu jam kemudian, ia sampai ke perusahaan tersebut. Lalu, menunggu di lobby sesuai petunjuk dari bagian resepsionis. Dilihatnya ada beberapa wanita seusianya, bahkan yang lebih tua darinya telah berada di lobby untuk menunggu mobil jemputan yang akan membawa mereka ke tempat pemasaran mobil. Beberapa lama kemudian mobil jemputan pun tiba, dan mengantar mereka untuk mulai bekerja.

Mereka sampai pada sebuah mall besar di kota tersebut. Dan, mereka mulai belajar dari senior mereka untuk bisa menawarkan mobil-mobil terbaru yang dipamerkan di sana. Begitu juga dengan Tara. Ia sangat antusias dalam mempelajari cara menawarkan mobil ataupun merayu calon pembeli dari senior yang ia ikuti persis di belakangnya. Ia mempelajari cara berbicara, cara menawarkan dan cara merayu beberapa orang yang melihat pameran mobil tersebut. Hingga tidak terasa jam telah menunjukkan pukul sembilan. Dan, mereka pun bergegas pulang dengan diantar ke rumah masing-masing oleh mobil jemputan.

Sesampai di rumah telah menunjukkan pukul sebelas malam. Karena rumah Tara adalah rumah terakhir yang dituju oleh mobil jemputan mereka. Mamanya membukakan pintu dan meminta Tara untuk langsung makan malam. Tetapi, Tara menyampaikan pada mamanya kalau dirinya sudah dapat makan malam dari perusahaan. Dan, hal itu membuat lega perasaan mamanya. Karena selama di rumah, yang dipikirkan oleh mamanya Tara adalah waktu jam makannya.

“Ma... Tara mandi dulu ya. Sudah terasa lengket ini badan,” ucap Tara pada mamanya.

Mamanya hanya bisa mengangguk dan tersenyum padanya. Lalu, mamanya ke dapur untuk membuatkan teh manis hangat untuk Tara, karena mamanya pikir Tara membutuhkan lebih banyak energi ketika bekerja dan harus pulang selarut ini. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Tara telah selesai mandi dan lebih terlihat segar.

“Sayang... Diminum teh hangatnya,” ucap mamanya sambil membawakan teh hangat itu kepada Tara.

“Terima kasih, Ma.”

Tara tersenyum manis memperlihatkan lesung pipitnya.

Lalu di minumnya teh hangat buatan mamanya. Dan, ia pun mencium kedua pipi mamanya sambil bercerita tentang pekerjaannya di hari pertama. Dari beberapa teman barunya dan ilmu yang didapatkan dalam memasarkan mobil yang saat itu sedang di pasarkan. Terlihat wajah mamanya bahagia melihat antusias putri kesayangannya menyukai pekerjaannya. Mamanya selalu bersyukur atas segala perubahan sikap dari Tara. Setelah mereka selesai berbincang-bincang dengan banyak topik, akhirnya mereka pun memutuskan untuk beristirahat.

***

Pagi ini Tara akan berangkat ke perusahaan lebih pagi, karena Tara sudah memberitahu bagian personalia dan pemasaran kalau dirinya bisa bekerja penuh selama dua minggu ini. Lalu, setelah Tara pamit pada mamanya, ia pun pergi berangkat ke tempat kerjanya. Sesampai di tempat kerja, seperti biasa ia pun menunggu di lobby perusahaan itu bersama beberapa teman untuk menunggu mobil jemputan. Bagi karyawan yang bisa bekerja di pagi hari. Jadwal mereka bekerja dari jam sembilan pagi sampai jam enam sore. Jadi, hari ini Tara akan bekerja hingga pukul enam sore.

Setelah mobil jemputan datang dan mengantar mereka ke tempat bekerja mereka, lalu mereka pun mulai bekerja. Dan hari ini adalah hari keberuntungan bagi Tara. Bagaimana tidak, hari ini dirinya bisa menjual satu unit mobil. Seniornya memberikan selamat padanya, dan meminta rekan-rekan yang lain untuk bisa lebih giat dan lebih luwes seperti Tara.

“Selamat Tara atas kerja kerasmu. Dan, saya berharap rekan-rekan yang lain bisa lebih semangat serta mampu melakukan hal sama seperti Tara,” ucap senior Tara sambil menyalami dirinya.

“Terima kasih banyak untuk supportnya, Bu’’ jawab Tara.

Seluruh teman-temannya pun menyalami Tara. Sungguh sangat membahagiakan bagi hati Tara, karena di hari kedua dirinya mampu menjual satu unit mobil. Ingin sekali dirinya secepatnya bertemu dengan mamanya perihal berita bahagia ini. Ia sudah bisa menghitung berapa banyak bonus yang akan diterimanya. Dalam angannya ingin sekali membuat bangga mamanya atas pekerjaannya ini. Tara tersenyum sendiri membayangkan angan-angannya saat ini.

“Tara, ada customer yang minta nomor teleponmu,’’ ucap seniornya memberitahukan Tara perihal seorang customer yang ingin meminta nomor teleponnya.

“Baik, Bu... Saya akan menemui customernya,” jawab Tara.

Tara pergi meninggalkan seniornya untuk menemui seorang customer yang sedang duduk di area pameran tersebut. Di sana ada beberapa kursi bulat yang di depannya ada sebuah meja bulat pula. Di sanalah beberapa customer vip mendapatkan pelayanan spesial. Sesampai di sana, Tara mencari seorang customer dengan ciri-ciri yang telah disebutkan oleh seniornya. Seorang lelaki usia sekitar empat puluh lima tahun dengan kaos berwarna hijau muda dan celana jins, memakai topi berwarna hitam. Setelah mencarinya, Tara melihat lelaki itu duduk di kursi bundar pojok sedang menikmati sebatang rokok di bibirnya.

“Maaf Pak... Saya Tara, ada yang bisa saya bantu?’’ tanya Tara pada customer itu.

Dilihatnya secara jelas oleh Tara. Customer itu seorang lelaki tampan dengan kulit bersih. Memakai kaca mata minus, memiliki kumis dan jambang yang tipis, dengan tubuh yang terbilang atletis.

“Oh ya, Tara. Nama saya Donny,” jawab lelaki itu menyebutkan namanya sambil menyalami Tara.

Mereka akhirnya duduk saling berhadapan satu sama lain. Dan pada kesempatan ini pak Donny secara langsung menawarkan pekerjaan untuk Tara di perusahaannya. Tetapi, Tara menjelaskan pada pak Donny kalau saat ini dirinya masih bersekolah dan sedang menunggu ujian akhir sekolahnya. Ditambah pada perusahaan ini, Tara pun baru bekerja selama dua hari. Tara memberikan penjelasan pada pak Donny. Lalu, pak Donny pun meminta nomor telepon Tara, dan mengatakan pada Tara jika suatu saat dirinya memerlukan pekerjaan pada perusahaannya, maka dirinya diminta untuk tidak sungkan menghubunginya. Setelah itu seniornya meminta Tara bertemu dengannya.

“Sore Bu... Ada yang bisa saya bantu?” tanya Tara pada senior / team leadernya, ketika sudah duduk di hadapan seniornya.

“Tara... Ibu hanya ingin menyampaikan. Tadi itu pak Donny customer VIP kita. Jadi ibu harap kamu bisa membujuk dirinya untuk bisa membeli beberapa mobil kita untuk keperluan operasional perusahaannya. Apalagi ibu lihat pak Donny bersimpati pada kamu,” ucap senior Tara menjelaskan harapannya padanya.

“Siap Bu, akan saya usahakan,” jawab Tara.

Akhirnya jam telah menunjukkan pukul enam sore, maka Tara pun bergegas pulang bersama teman-teman satu teamnya. Dalam perjalanan pulang, mereka bersenda gurau dan berbahagia atas pencapaian team mereka hari ini. Mereka bersuka cita atas pencapaian penjualan yang telah dicapai oleh Tara dan satu teman Tara lainnya. Tidak lama kemudian akhirnya Tara pun sampai rumahnya. Setelah dirinya memberikan salam kepada satu temannya yang tersisa, Tara pun keluar dari mobil tersebut menuju pintu rumahnya yang telah dibuka oleh mamanya.

“Malam Ma...” ucap Tara mencium kedua pipi mamanya.

Sambil menutup pintu rumah mereka, mamanya Tara melihat kegembiraan di wajah putri cantiknya. Dan bertanya-tanya dalam hatinya. Kira-kira apa gerangan yang membuat wajah anaknya terlihat sangat bahagia? Setelah mereka sampai di meja makan, mamanya bertanya pada Tara perihal kebahagiaan yang dilihatnya.

“Ada kabar baik apalagi sayang?” tanya mamanya kepada Tara.

“Ma... Berkat doa mama, hari ini Tara berhasil menjual satu unit mobil,” ucap Tara dengan tersenyum lebar.

Dirinya sangat menggebu-gebu bercerita tentang caranya menawarkan customer mobil yang ditawarkan. Sampai akhirnya customer itu jadi membeli mobil. Dan, ia pun bercerita bagaimana senior dan rekan-rekan kerjanya memberikan selamat atas keberhasilannya.

“Tara senang sekali Ma...” ucap Tara pada mamanya yang mengelus kepalanya dan mencium keningnya.

Mamanya tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar pada wajah cantik anaknya. Mamanya tidak menyangka kalau putri semata wayangnya telah membuat bangga hatinya. Memang hidup demikian adanya. Dalam setiap kesulitan akan ada kebahagiaan yang menyertainya. Mungkin jalan yang dilaluinya kali ini untuk mengajari dirinya dan putrinya supaya bisa menghargai segala sesuatu yang telah diraihnya dengan perjuangan. Demikian kata hati sang mama.

Bab 3

Setelah kelulusan dengan nilai terbaik, Tara tidak berpikir untuk mencari Universitas Negeri ataupun Swasta. Saat ini dirinya sangat menikmati pekerjaannya setelah dilakoni selama satu tahun ini. Tara sangat menikmati dan mencintai pekerjaan sebagai sales dari perusahaan ini. Selain gaji yang diterima cukup untuk dirinya dan mamanya. Bonusnya yang terbilang sangat lumayan dapat membuat dirinya mengumpulkan pundi-pundi penghasilannya yang kelak akan ia gunakan untuk mencari sebuah rumah kecil untuk mamanya.

“Tara... Apa kabar?” tegur seseorang dari belakang. Seseorang lelaki tampan menyapa dirinya pada acara pameran mobil keluaran terbaru saat itu.

Sambil membalikkan tubuhnya, Tara berusaha mengingat seseorang yang saat ini tepat di hadapannya. Seorang lelaki dewasa dengan usia berkisar empat puluh lima tahun dengan wajah tampan dan kulitnya yang terlihat bersih.

“Pak Donny ya? Baik Pak.. Bapak sendiri gimana kabarnya?” tanya Tara dengan menjabat tangan lelaki yang ada di hadapannya.

“Kabar bapak baik. Apa kamu melanjutkan kuliah?” tanya pak Donny setelah menyalami Tara.

“Belum ada minat Pak. Lagi senang cari duit ini,’’ sambil berkelakar Tara menjawab atas pertanyaan yang ditanyakan oleh pak Donny.

Sebagai seorang sales, jelas saja kesempatan ini digunakan untuk menawarkan mobil keluaran baru. Waktu yang tepat tidak disia-siakan sama sekali. Maka ia pun merayu pak Donny untuk membeli satu dari beberapa jenis mobil yang saat itu sedang dipasarkan. Dengan kepiawaiannya sebagai seorang sales yang sudah bekerja selama satu tahun ini, membuat ia bertambah mahir dalam merayu calon pembeli. Banyak pembelajaran yang telah ia ambil dari senior-seniornya dalam melakukan penawaran pada customer yang datang. Dan memang dari beberapa seniornya ada yang mengajari cara kotor dengan mau kencan dengan customer tersebut. Tapi selama ini Tara tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu. Ia cukup berkata-kata manis dengan paras wajahnya yang cantik telah membuat beberapa customer yang memang sedang membutuhkan mobil terpikat untuk membelinya.

“Gimana pak Donny? Jadi membeli satu unit?’’ rayu Tara setelah mengajak pak Donny mencoba beberapa mobil keluaran baru saat itu.

‘’Hm, Gimana yaa... Bingung milihnya. Coba kamu yang pilihkan Bapak ya,’’ ucap pak Donny meminta Tara memilih satu dari beberapa mobil keluaran baru saat itu.

Sebagai seorang sales, Ia akan memilihkan satu unit mobil yang memang menurut ia bagus dalam interior, sesuai dengan budget dan yang utama bagi Tara mobil itu mempunyai suspensi yang handal tentunya.

“Serius ya Pak. Saya yang memilihkannya. Tapi nanti sesuai selera saya pak,’’ ucap Tara untuk meyakinkan pak Donny atas pilihan mobil untuk Pak Donny.

“Iya serius Tara... Pokoknya bapak percaya dengan pilihan kamu,’’ jawab pak Donny atas pertanyaan Tara sambil tersenyum.

Tara hanya mengangguk sambil tersenyum kepada pak Donny. Terlihat kecantikan Tara terpancar lewat lesung pipinya ketika ia tersenyum pada pak Donny. Seketika membuat pak Donny yang melihat diri Tara semakin terpikat dengan kecantikan dan keluguan diri Tara. Pertemuan pak Donny dengan Tara satu tahun lalu jelas terasa beda dengan penampilan Tara yang sudah semakin dewasa dengan usia yang hampir menginjak dua puluh tahun. Dimana Tara terlihat bertambah cantik, karena dirinya telah pandai dalam menghias dirinya.

Setelah menyetujui pilihan Tara, akhirnya pak Donny pun melakukan transaksi di depan kasir penjualan dengan di dampingi Tara sebagai salesnya. Sesekali pak Donny mencuri pandang pada Tara. Dan sempat pula pandangan mereka beradu, Tara hanya tersenyum manis saja melihat pak Donny melihat ke arahnya.

“Baik pak Donny... Satu unit mobil ini akan segera dikirimkan ke rumah bapak sekitar dua hari lagi. Dan untuk penyerahannya akan diserahkan ke Tara selaku sales. Karena kami akan mendokumentasikan penyerahan tersebut,” ucap senior Tara menjelaskan tentang SOP penyerahan unit baru bagi customer saat ini.

“Baiklah kalau begitu... Saya akan tunggu dua hari lagi,” ucap pak Donny sambil menuliskan alamat pengiriman atas satu unit mobil tersebut.

“Terima kasih banyak pak Donny,” ucap Tara menjabat tangan dari Pak Donny sambil membungkukkan tubuhnya.

Saat ini Tara sangat bahagia dengan pencapaian penjualannya saat ini, karena mobil yang dibeli oleh pak Donny adalah mobil kelas satu dengan harga yang cukup lumayan besar. Hingga Tara pun telah menghitung-hitung komisi yang akan diterima dengan tersenyum bahagia. Dalam hatinya saat ini, mamanya pasti akan bahagia dengan pencapaiannya saat ini. Untuk bulan ini baru dua unit mobil yang dijual oleh Tara, itu pun belum mencapai target yang telah di tetapkan oleh perusahaan untuknya. Dengan adanya penjualan satu unit lagi dari pembelian yang dilakukan pak Donny saat ini membuat targetnya terpenuhi bahkan lebih.

***

Dua hari kemudian tiba saatnya team dari perusahaan untuk menyerahkan satu unit mobil yang telah dibeli oleh Pak Donny. Tara bersama seniornya tiba di rumah pak Donny sekitar pukul tiga sore. Sesuai dengan keinginan pak Donny via hubungan telepon ketika pagi hari di hubungi oleh bagian customer service. Tara sangat takjub dengan rumah yang ditempati oleh pak Donny. Karena rumah tersebut lebih tinggi sekitar satu setengah meter dari jalan. Jadi ketika mereka memasuki rumah tersebut seperti berada dalam jalan yang menuju ke sebuah bukit. Pada bagian depan sebelum mereka masuk ke rumah pak Donny, pintu gerbang yang mereka masuki telah dijaga oleh dua orang satpam dengan pos penjagaan yang ketat.

“Mari silakan masuk,” ucap pak Donny mengajak kedua orang tamunya memasuki rumahnya.

Mereka memasuki ruang tamu yang cukup besar dengan bangku-bangku ukiran sehingga membuat lebih megah dan terkesan lebih mewah. Mereka pun duduk dan bersalaman dengan pak Donny yang kala itu memakai setelan kaos dan celana dari kesebelasan sepak bola terkenal. Terlihat lebih muda dari usianya. Pada rumah itu terlihat ada dua orang asisten rumah tangga, satu sopir yang menunggu di luar teras dan seorang tukang kebun yang saat mereka memasuki rumah pak Donny sedang menyiram tanaman yang tertata rapi di bagian kanan kiri rumah besar tersebut.

“Silakan di minum dulu,’’ucap Pak Donny.

Mempersilakan mereka minum setelah asisten rumah tangganya menyuguhi minuman di ruangan tamunya. Mereka pun berbincang-bincang pada pak Donny. Satu jam kemudian mereka meminta pak Donny untuk melakukan serah terima kunci yang akan dilakukan oleh Tara sebagai seorang sales dengan melakukan foto bersama pak Donny di hadapan mobil yang akan diserahkan sambil memberikan kunci mobil tersebut sebagai dokumentasi perusahaan. Selesai acara penyerahan, mereka pun pamit pada pak Donny untuk bisa kembali ke kantor. Tetapi tiba-tiba pak Donny berkata, “Maaf, kira-kira apa bisa saya mengajak kalian berdua untuk makan malam?’’ tanya pak Donny sambil mengatakan pada Tara dan seniornya.

Karena seniornya ada acara keluarga, maka seniornya pun meminta maaf tidak bisa menemani pak Donny makan malam saat ini. Tara yang tidak memiliki kepentingan keluarga akhirnya menemani pak Donny untuk makan malam. Tara pun meminta izin pada pak Donny agar dirinya bisa menghubungi mamanya, kalau dirinya pulang terlambat. Setelah itu Tara menuju ruangan lain yang telah ditunjukan oleh pak Donny. Sebuah ruangan besar dan terlihat seperti ruangan menonton film. Sebuah layar lebar ada di dinding ruangan tersebut dengan peralatan menonton berserta beberapa DVD yang tertata rapi. Dengan sofa-sofa besar di sisi kiri, kanan dan sebuah permadani yang terhampar di tengah sofa-sofa tersebut.

Tara merasakan kelembutan dari permadani yang terhampar di sana ketika kakinya menyentuh hamparan permadani tersebut. Tara duduk di sofa sisi kanan sambil menunggu meja makan yang sedang disiapkan oleh asisten rumah tangga pak Donny. Bunyi denting jam mengejutkan Tara, dilihat pada sisi pojok dari pintu menuju ruangan menonton itu ada sebuah jam besar. Dilihat jam telah menunjukkan pukul tujuh malam.

“Mari Tara... Kita menuju meja makan,’’ ucap pak Donny.

Tiba-tiba pak Donny telah sampai pada ruangan itu, lalu mengajak Tara mengikutinya menuju ruang makan. Sesampai di ruang makan, Tara di persilakan duduk oleh pak Donny. Dilihat oleh Tara sekeliling ruangan makan tersebut. Hanya ada satu meja berbentuk kotak dengan empat buah kursi. Di sisi kanan ada sebuah lemari es berukuran sedang dan sebuah mini bar yang terletak di depan meja makan ini. Pada sisi pintu ruang makan ini terlihat sebuah dapur cukup besar.

Seorang asisten rumah tangga masuk ke ruang makan sambil membawakan satu buah kue ulang tahun. Sebuah kue ulang tahun yang berwarna cokelat dengan hiasan buah ceri merah dan di sana ada dua buah lilin. Dilihat dari lilin yang ada di kue ulang tahun yang berwarna cokelat tersebut itu ada angka empat puluh lima. Terpikir oleh Tara kalau hari itu adalah hari ulang tahun pak Donny.

“Selamat ulang Tahun pak Donny,” ucap Tara sambil menyalami pak Donny dan mencium kedua pipi pak Donny.

“Terima kasih, Tara,” jawab pak Donny ketika menerima ucapan Tara yang telah mencium pipi kanan dan kirinya.

“Maaf yaa pak... Saya tidak tahu kalau hari ini bapak berulang tahun,” ucap Tara bersungguh-sungguh meminta maaf pada pak Donny.

“Tidak apa-apa kok Tara....” jawab pak Donny atas permohonan maafnya.

Lalu, pak Donny pun mengatakan pada Tara, kalau dirinya sangat berterima kasih karena saat ini Tara mau menemani perayaan ulang tahunnya. Lalu, mereka pun makan malam bersama dan bercerita tentang banyak hal dari masalah politik serta masalah yang sedang terjadi saat itu. Tapi tidak sekali pun Tara atau pun pak Donny bercerita tentang keluarga mereka. Mereka masing-masing menjaga privasi. Setelah mereka makan malam dan makan sepotong kue ulang tahun, pak Donny mengajak ke ruang lain.

Pak Donny mengajak Tara pergi ke ruangan menonton yang tadi sempat Tara sambangi sebelum menuju ruang makan. Pak Donny menjelaskan pada Tara kalau dirinya senang menonton film romance, tetapi karena kesibukannya maka tidak ada waktu untuk menonton di bioskop jadi diputuskan oleh pak Donny untuk membuat ruangan sendiri walaupun kecil yang terpenting dirinya bisa menonton film tanpa harus ke bioskop.

“Tara ingin nonton film apa?” tanya pak Donny pada Tara.

“Apa saja boleh pak, “ jawab Tara ketika dilihatnya pak Donny memilih beberapa DVD yang tertata rapi di sana.

Tidak lama kemudian, seorang asisten datang ke ruangan menonton kami sambil membawa minuman softdrink dan camilan atas perintah dari pak Donny. Asisten rumah tangga itupun berlalu dari hadapan Tara setelah menaruh beberapa minuman softdrink dan camilan di meja bundar di samping sofa yang ada di sana.

Pak Donny kemudian menutup pintu ruangan menonton itu dan meredupkan lampu yang ada di ruangan tersebut agar terlihat seperti bioskop pada umumnya. Setelah menyalakan video yang berisikan film romance, terlihat pak Donny duduk di bagian tengah dari sofa itu yang diikuti oleh Tara yang waktu itu duduk di sofa. Mereka pun duduk bersama di permadani yang terasa lembut pada saat pertama kali Tara ke ruangan tersebut. Terlihat pak Donny mengambilkan minuman softdrink untuk Tara. Mereka menonton film romance itu dengan sesekali menghela nafas bersama karena ada beberapa adegan dewasa yang dipertontonkan di sana. Tanpa disadari pak Donny tiba-tiba telah memegang tangan Tara. Karena suasana romance dari film tersebut ditambah ada beberapa adegan dewasa pada film tersebut membuat Tara yang belum satu kalipun melihat film dengan adegan dewasa itu terbawa suasana.

Tara membiarkan pak Donny memegang tangan dan mencium tangannya. Dibiarkan hal itu terjadi karena suasana yang ada di dalam ruangan itu membuat mereka terhanyut dalam nuansa ruangan dan film yang mereka tonton. Sampai akhirnya sebuah ciuman mendarat di bibir Tara yang ketika itu tidak bisa menolak ciuman lembut dari pak Donny. Lalu oleh Tara, ciuman itu pun dibalasnya. Ketika adegan yang ada di film itu semakin menjadi dengan adegan dewasa membuat Tara sudah tidak bisa lagi menahan gejolaknya.

Selama ini Tara hanya mendengar dari cerita teman-temannya yang sudah menikah. Dan, ia tidak pernah sekalipun melakukan hal itu. hanya sesekali membayangkannya. Maka ketika Pak Donny berusaha meraba bagian atasnya, Tara pun hanya terdiam mencoba merasakan apa yang bisa dirasakan. Sampai akhirnya pak Donny memberikan sentuhan hangat dari bibirnya pada bagian atas tubuh Tara. Ia hanya dapat menahan napasnya. Dan, menahan gejolaknya yang selama ini tidak pernah dirasakan. Akhirnya, Tara merasakan area sensitifnya telah basah.

Tetapi saat ini Tara masih malu-malu untuk mengungkapkan gejolak yang dirasakan. Maka ketika pak Donny semakin berhasrat atas dirinya. Ia pun pasrah ketika tangan dari pak Donny menjalar ke bagian sensitifnya.

“Jangan lakukan itu Pak... Saya takut, saya tidak pernah sekali pun melakukannya. Cukup sampai di sini aja Pak,” ucap Tara mengingatkan pak Donny atas hasratnya yang semakin menjadi-jadi.

Lalu, Tara pun segera menarik dirinya dari pelukan pak Donny dan berusaha merapikan bajunya yang telah terbuka bagian atasnya. Tara mencoba menghalau hasrat itu. Ditambah usianya yang telah memasuki dua puluh tahun membuat hormon yang ada dalam dirinya bergejolak keras ketika menonton film adegan dewasa seperti itu.

“Tara aku tidak akan merusak kehormatan dirimu, hanya saja aku ingin dirimu melepaskan gejolak itu, aku bisa membuat dirimu melayang jauh tanpa harus kehilangan kehormatanmu,” ucap pak Donny pada Tara yang berusaha melepas pelukan pak Donny.

Tara akhirnya hanya terdiam ketika pak Donny dengan kelembutannya meraba area sensitifnya dan melepaskan pakaian dalamnya. Lalu dengan posisi Tara yang masih terduduk di hadapan pak Donny. Tara hanya bisa pasrah dan ingin tahu dengan apa yang akan dilakukan pak Donny. Masih dalam posisi terduduk dan tanpa pakaian dalamnya, pak Donny membuka kedua kaki Tara. Saat ini kedua kakinya telah terbuka dengan posisi masih terduduk persis di hadapan pak Donny.

Tara hanya terdiam ketika pak Donny berusaha menyentuh bagian sensitifnya. Pak Donny melihat bagian senstif dari Tara yang agak basah. Pak Donny tahu hal itu dikarenakan sentuhannya tadi. Dengan pengalamannya, pak Donny mendekati area sensitif Tara. Pak Donny pun menghisapnya. Ketika hal itu dilakukan oleh Pak Donny, tubuh Tara serasa bergetar serta terasa hangat dirasakan seluruh tubuhnya. Tanpa disadari Tara menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri hingga tanpa disadarinya ia mengangkat tubuhnya lebih tinggi dan lebih menekan ke arah bibir dari pak Donny yang terus menghisap area sensitifnya.

“Mmmh, Pak..” gumam Tara mencoba menahan hasratnya.

Pak Donny menghentikan permainan itu. Sesekali dilihatnya kedua mata Tara masih terpejam seperti sedang mencari kenikmatan yang tiba-tiba menghilang.

“Tara... Sudah jam sebelas malam, sudah seharusnya kamu pulang,” ucap pak Donny.

Dengan malu-malu Tara membuka kedua matanya. Lalu merapikan penampilannya yang sedikit acak-acakan. Setelah lampu di ruangan itu dinyalakan Tara merasakan rasa malu yang teramat sangat. Tetapi dengan sikap kedewasaan dan pengalaman yang dimiliki oleh pak Donny, suasana yang terasa kaku pun menghilang. Rasa malu Tara akhirnya mencair.

“Tara... Sekarang ini panggil aku dengan panggilan Mas ya...” ucap pak Donny saat itu sambil mencium kening Tara.

Tara saat itu hanya bisa mengangguk. Lalu, pak Donny mengatakan pada Tara kalau hal itu adalah hal yang wajar ketika kita mempunyai hasrat. Dan itu yang membuat Tara merasa lebih baik. Dari awalnya sangat malu sekali dengan yang terjadi sampai akhirnya bisa merasa lega ketika pak Donny menyatakan hal itu.

“Terima kasih ya Mas. Telah menjaga kehormatanku,” ucap Tara pada pak Donny yang saat ini telah dipanggil dengan panggilan Mas.

Saat itu pak Donny hanya tersenyum dan kembali memeluk tubuh Tara sambil mengatakan untuk tetap menjadi kehormatan tersebut sampai pada pilihan yang tepat untuk hatinya. Lalu dengan rasa tanggung jawab yang tinggi pak Donny pun memerintahkan sopir pribadinya untuk mengantarkan Tara ke rumahnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED