Tara merasakan berat sekali kepalanya sewaktu memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidurnya. Yang diingat olehnya, ketika ia bersama teman-teman sekolahnya, menghadiri pesta ulang tahun dari teman sekelasnya. Ia pun tidak tahu siapa yang mengantarkan dirinya sampai ke rumah. Ia melihat sekeliling kamarnya dan dilihatnya seisi kamar seperti terbalik. Kembali ia menutup matanya dan mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya malam itu. Masih terasa hingar bingar musik di rumah temannya saat pesta berlangsung. Membuat mereka menggoyangkan badan mengikuti irama. Lalu, Tara pun mengingat satu persatu kejadian yang telah terjadi di tempat pesta itu. Ia teringat ketika beberapa temannya mengajak untuk mencoba minuman “mushroom” yang ia dengar saat itu. Mereka mencoba minuman itu, beberapa saat kemudian, ia merasa semua yang dilihatnya terbalik. Ia ingat bagaimana dirinya tertawa terpingkal-pingkal karena melihat semuanya terbalik akibat dari minuman yang dicoba bersama teman-temannya.
“Sialan sekali minuman itu,” umpat Tara setelah tahu penyebab dari sakit kepalanya adalah minuman itu.
Beberapa lama kemudian masuklah seorang wanita paruh baya ke kamar Tara.
“Apa yang terjadi dengan dirimu Nak?” tanya wanita paruh baya itu.
Yang bisa Tara lakukan adalah hanya mendengarkan wanita paruh baya itu berbicara padanya tanpa melihatnya. Apalagi berbicara padanya. Wanita paruh baya itu adalah mamanya, seorang wanita tegar yang selalu menyayanginya dan selalu memberikan kata maaf ketika Tara melakukan kesalahan apa pun. Tara sangat mengerti sekali dengan sifat dan watak mamanya yang tidak bisa marah, separah apa pun Tara membuat kesal hatinya.
“Sayang.... Ayoo bangun dulu untuk makan,” ucap mamanya berusaha membangunkan dari tidur. Padahal Tara hanya berpura-pura tertidur.
“Nanti saja Mam... Masih berat ini kepala Tara,” sahut Tara menjawab ajakan mamanya.
Setelah mendengarkan jawaban dari putri semata wayangnya, wanita paruh baya itu meninggalkan kamar dan berlalu dari hadapannya. Sering kali Tara merasa kasihan dengan mamanya. Karena harus menghadapi kenakalan dirinya. Dan sudah sering kali juga Tara berjanji pada dirinya untuk memperbaiki diri, mencoba meninggalkan kebiasaan buruknya. Tetapi, semakin lama ia ingin menghindari dan mencoba meninggalkan kebiasaan buruk itu, semakin keras juga ia mengarah ke arah yang berlawanan dengan niatnya.
Sekitar pukul empat, Tara merasa kondisinya telah pulih dari pengaruh minuman itu. Ia pun berjalan keluar kamar menuju tempat makan. Karena saat ini rasa lapar sudah menghampiri lambungnya. Sesampai di sana, dilihat mamanya sedang duduk dengan segelas kopi di hadapan.
“Sore mam....” ucap Tara memberikan salam pada mamanya.
Tara lalu duduk di meja makan dan mulai makan. Sedangkan mamanya tetap menikmati kopi yang ada di hadapannya. Selesai makan, ia beranjak dari tempat duduk. Tidak berapa lama sewaktu Tara ingin meninggalkan meja makan, mamanya menahan dirinya.
“Tara... Cobalah untuk menghindari beberapa teman yang memberikan dampak negatif pada dirimu,” ucap mamanya memberikan nasehat padanya. “Kamu sudah cukup dewasa untuk bisa memilah hal yang baik dan buruk untuk hidupmu,” lanjut mama meneruskan ucapannya. “Sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian akhir, jadi Mama harap kamu bisa lulus Tara,” kembali mamanya memberikan nasehat lagi padanya.
Mama mengingatkan Tara akan tugas dan kewajibannya sebagai siswa sekolah menengah atas kelas akhir. Karena setelah ini diharapkan Tara mampu masuk ke perguruan tinggi negeri. Dan itu harapan besar bagi mamanya. Setidaknya, bila Tara bisa masuk ke perguruan tinggi negeri, mamanya tidak perlu mengeluarkan biaya yang sangat besar.
Setelah kebangkrutan yang dialami oleh usaha papanya, Tara diajarkan oleh mamanya untuk belajar hidup lebih prihatin. Mamanya juga mengajarkan Tara untuk bisa menghargai uang dan waktu. Mungkin mamanya terlambat memberikan pembelajaran ini pada Tara, tetapi setidaknya dengan berjalannya waktu serta melihat kenyataan yang ada saat ini, diharapkan Tara mampu mengubah sikap dan kebiasaannya menjadi lebih baik.
Papanya kini ada di Rumah Tahanan karena tersangkut dengan kasus penipuan yang menyebabkan pailit perusahaan. Memang terkadang hidup tidak bisa diprediksi. Kita hanya bisa berencana tapi segala sesuatu itu mengikuti apa yang menjadi takdir dari diri kita masing-masing. Kehidupan yang awalnya bak seorang putri berubah drastis ketika musibah menimpa papanya. Memang sejak papanya masuk ke Rumah Tahanan, beberapa aset diambil oleh pihak Pengadilan. Keadaan ekonomi keluarga Tara menjadi sangat sulit.
“Mama... Boleh aku bekerja part time?” tanya Tara mengemukakan keinginannya.
“Untuk saat ini lebih baik kamu fokus untuk belajar karena ujian kelulusanmu sudah dekat,” jawab mamanya.
Beberapa saat kemudian, ada seseorang mengetuk pintu rumah mereka. Sehingga mereka bergegas ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Dilihatnya seorang lelaki, sahabat dari papanya bertandang ke rumah mereka. Setelah mamanya mempersilakan masuk, akhirnya mereka pun duduk di ruang tamu.
“Maaf, Ibu... Maksud kedatangan saya kemari untuk menyampaikan kepada ibu kalau sebenarnya rumah ini sudah dijadikan jaminan sama Bapak.”
Seketika Tara dan mamanya terdiam mendengarkan kejelasan dari sahabat papanya. Lelaki itu pun memperlihatkan surat perjanjian yang telah di tanda tangani di depan notaris antara papanya dan teman papanya.
“Maaf, Pak... Kalau bisa kami minta waktu untuk mengosongkan rumah ini. Sampai kami mendapatkan tempat tinggal yang lain.”
Mamanya Tara menyampaikan keinginannya untuk mengosongkan rumah itu sampai mereka mendapatkan rumah yang baru. Lalu sahabat dari papanya Tara menyetujui permintaan mamanya Tara dan pamit untuk meninggalkan rumah mereka. Setelah tamu itu pergi, terlihat mamanya Tara pergi ke kamarnya dan mengunci diri dikamar. Terlihat kesedihan yang teramat sangat di wajahnya. Dan, kesedihan itu tidak dapat disembunyikan dari putri semata wayangnya.
“Mama... Tolong buka pintu Ma,” pinta Tara sambil mengetuk pintu kamar mamanya.
Hanya terdengar isak tangis mamanya di balik pintu yang diketuk Tara. Tidak ada jawaban dari balik kamar itu. Membuat Tara semakin kuatir dengan keadaan mamanya.
“Mama... Tolong bukakan pintunya Ma..” Pinta Tara untuk kedua kalinya sambil mengetuk berulang kali kamar mamanya.
Akhirnya mamanya membukakan pintu dan mengizinkan Tara masuk. Mama kembali duduk di sisi tempat tidurnya. Lalu Tara memegang tangan mamanya dan berkata.
“Ma... Besok kita akan mencari bersama rumah kontrakan untuk kita ya,” ucap Tara sambil memeluk tubuh mamanya yang membelakangi dirinya.
Mamanya pun berbalik dan kini memeluk Tara. Kini mereka pun menangis bersama sambil berpelukan. Terkadang Tara terlihat lebih dewasa ketika sedang menghadapi sebuah masalah. Tetapi, terkadang ia masih seperti seorang remaja putri yang manja dan sulit diatur. Rasa cinta Tara terhadap mamanya yang membuat dirinya bertindak melindungi dan memberikan rasa nyaman pada saat mamanya sudah tidak bisa lagi menahan kesedihannya.
Ketika dilihat mamanya telah tertidur karena terlalu lelah memikirkan kehidupan mereka. Tara mencoba menghubungi temannya yang memberitahukan perihal kerja part time. Tara ingin bekerja part time, keadaannya saat ini sudah terasa sangat sulit. Memang mamanya tidak memberikan izin untuk hal ini. Tetapi jalan ini adalah jalan terbaik untuk kelangsungan hidup mereka saat ini. Setelah temannya Tara memberikan alamat dan nomor telepon perusahaan yang membutuhkan tenaga part time, Tara pun menghubungi perusahaan tersebut dan berjanji untuk bisa ke sana esok hari.
***
Pagi ini Tara bangun lebih awal dari mamanya. Dan, Tara telah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Tara membuat nasi goreng untuk sarapan pagi. Mamanya sangat terkejut melihat Tara telah bangun dan telah menyiapkan nasi goreng untuk sarapan mereka.
“Pagi Ma..” sapa Tara ketika mamanya menghampiri dirinya di dapur.
“Wow... Putri kesayangan Mama sudah berubah drastis. Terima kasih, Tuhan.”
Mama bersyukur mendapati sedikit perubahan dari diri Tara. Setidaknya sebuah perubahan kecil biasanya akan diikuti oleh kebiasaan besar lainnya.
“Ayo kita makan Ma,” ajak Tara pada mamanya untuk bersama-sama menikmati sarapan pagi.
Mereka pun sarapan pagi bersama. Dalam hati mamanya Tara, sungguh suatu berkah melihat perubahan pada putri kesayangannya. Dirinya terus mengucapkan rasa syukur. Setidaknya Tara bisa menerima kenyataan hidup saat ini dan lebih dewasa dalam segala tindakannya, sesuai dengan doa mamanya selama ini.
Selesai mereka sarapan pagi, Tara pun pamit untuk berangkat ke sekolah. Dan, tidak lupa mamanya berpesan pada Tara untuk langsung pulang ke rumah. Karena mereka akan mencari rumah kontrakan. Tara pun menyetujui dan tersenyum sebagai tanda setuju dengan apa yang diperintahkan mamanya.
***
Di rumah, mamanya Tara sedang mengemasi barang-barang yang harus disiapkan untuk kepindahan mereka ke rumah kontrakan yang nanti sore akan mereka cari. Ada beberapa barang yang harusnya dijual dikarenakan tidak semua barang akan cukup diletakan pada rumah kontrakan mereka. Oleh karena itu, mamanya Tara mencoba untuk mengiklankan beberapa barang yang sekiranya bisa dijual oleh mereka. Setidaknya selain bisa menjadi penghasilan bagi mereka, juga akan lebih mudah untuk ketika pindah ke rumah kontrakan.
Setelah mamanya Tara mengiklankan beberapa barang yang harus dijual lewat online, dirinya langsung memposting beberapa barang tersebut dengan harga yang tidak terlalu mahal. Yang terpenting bagi mamanya Tara, barang-barang itu cepat terjual. Sehingga, mereka akan lebih cepat keluar dari rumah yang saat ini sudah bukan miliknya lagi. Mamanya Tara kembali teringat akan beberapa peristiwa yang membuatnya bersedih. Tetapi segera saja kesedihan itu dihalaunya dalam pikiran.
“Ma... Tara sudah pulang.”
Suara Tara membuat kaget mamanya. Karena tidak terasa sudah hampir jam dua siang. Tara pun melihat mamanya sedang merapikan barang-barang yang akan mereka bawa, ketika mereka sudah menemukan rumah kontrakan. Lalu, mamanya juga menjelaskan pada Tara, bahwa ada beberapa barang yang sudah di iklankan secara online untuk dijual. Tara hanya mengangguk ketika mama bercerita atas beberapa barang yang akan dijual.
Setelah makan siang, mereka keluar untuk mencari kontrakan yang sesuai dengan sisa dari simpanan yang mereka punya saat ini. Setelah dua jam berada di luar, ada beberapa rumah kontrakan yang mereka dapati, tetapi tidak sesuai dengan sisa uang yang mereka punya. Lalu, ada pula rumah kontrakan yang lebih murah, tetapi untuk lingkungan dan rumahnya tidak sesuai dengan harga yang seharusnya. Setelah beberapa rumah mereka jumpai, akhirnya mereka mendapat rumah kontrakan yang cukup bersih dengan lingkungan yang terlihat lebih nyaman. Serta harga yang cocok dengan uang yang mereka punya. Setelah membayar tanda jadi dari rumah kontrakan itu, mereka pun pamit. Dan meminta pada pemilik rumah untuk mengecat ulang rumah tersebut, serta membersihkannya. Sehingga pada saat mereka pindah rumah tersebut telah rapi.
Sesampai di rumah, jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. Mamanya langsung pergi ke kamar mandinya dan Tara juga melakukan hal yang sama. Selesai mereka membersihkan diri, akhirnya mereka bertemu di ruang makan. Beberapa kali mamanya Tara menanyakan perihal sekolahnya dan menanyakan perihal kapan ujian akhir sekolahnya dilakukan. Serta mamanya juga memberikan nasihat kembali padanya agar lebih rajin belajar. Dan, mendoakan agar Tara bisa lulus dengan nilai terbaik serta diterima di Perguruan Tinggi Negeri.
Selesai mereka makan malam dan berbincang-bincang, Tara pun pergi ke kamarnya, begitu pun dengan mamanya. Ketika di dalam kamar, Tara menerima panggilan telepon dari perusahaan yang menawarkan pekerjaan part time padanya. Hari ini Tara lupa sudah janji ke perusahaan itu, sehingga ia meminta maaf. Besok Tara berjanji akan ke perusahaan tersebut.
***
Pagi pun telah tiba, kebiasaan bermalas-malasan Tara yang dulu sering dilakukan, kini telah berubah sejak kedatangan sahabat papanya. Saat ini Tara telah menjadi seorang anak perempuan yang mengerti keadaan keluarganya. Dirinya kini telah sepenuhnya menyadari hal yang seharusnya ia lakukan. Apalagi sejak melihat mamanya menangis karena rumah yang mereka tempati ternyata sudah menjadi milik orang lain. Tara berjanji dalam hatinya, suatu saat ia bisa membelikan mamanya sebuah rumah. Dan, ia pun berusaha untuk mengubah kebiasaan buruknya untuk menjadi lebih baik. Diawali dengan bangun pagi untuk membantu mamanya di dapur atau pun membersihkan rumah.
Selesai sarapan bersama mamanya, Tara pun pamit untuk pergi ke sekolah. Tetapi, sesampainya di sekolah, Tara meminta izin kepada wali kelasnya untuk tidak mengikuti pelajaran hari ini. Karena memang seluruh materi pelajaran di masa pembelajaran kelas akhir telah habis, maka wali kelasnya pun memberikan izin pada Tara untuk tidak mengikuti pengulangan pelajaran.
Tara mengganti pakaian sekolah yang ia kenakan di kamar ganti sekolahnya dengan pakaian casual. Sebuah kaos berwarna biru muda dan celana jins, serta sepasang sepatu kets. Karena hari ini ia telah membuat janji pada perusahaan yang akan memberikan pekerjaan part time padanya. Tara memoleskan sedikit lipstik dengan warna lembut pada bibirnya dan menambah sedikit bedak pada wajahnya. Saat ini wajah Tara terlihat lebih dewasa dari usianya yang baru menginjak delapan belas tahun. Dengan postur tubuh yang tinggi, langsing dan berisi, penampilan Tara saat ini sudah seperti seorang wanita dewasa. Ia terlihat cantik dengan kulitnya yang kuning langsat, dengan bibir yang sedikit tebal, bentuk hidung yang mancung, rambut hitam bergelombangnya yang tebal serta lesung pipitnya membuat dirinya semakin terlihat cantik ketika tersenyum.
Tara ke tempat perusahaan itu dengan menggunakan taksi, karena ia belum pernah ke lokasi tersebut. Sesampai di perusahaan itu, Tara diterima bagian resepsionis. Setelah itu ia di antar untuk menghadap ke bagian HRD (bagian penerimaan karyawan). Sesampai di bagian penerimaan pegawai, Tara pun diberitahu tentang pekerjaannya. Ia baru tahu kalau pekerjaannya adalah sebagai sales / marketing yang menawarkan produk dari sebuah showroom. Ia pun tidak bekerja di kantor, tetapi ditempatkan pada beberapa mall atau di beberapa event ketika ada pameran mobil pada tempat yang berbeda nantinya. Melihat hasil yang didapatnya lumayan dan jam kerja sesuai dengan jadwal pulang sekolahnya, maka Tara pun menyetujuinya. Walaupun ia belum berbicara pada mamanya perihal ini. Tetapi ia yakin mamanya akan setuju dengan keputusan dirinya. Tara pun undur diri dan meminta waktu dua hari ini untuk bisa bekerja. Dan ia pun akan memberikan alasan tentang keputusannya menerima tawaran pekerjaan itu dua hari lagi.
Sesampai di rumah, Tara mendapati beberapa barang telah terjual. Lalu, ia pun melihat mamanya masih mengemas beberapa barang pecah belah.
“Kamu sudah pulang?” tanya mamanya sewaktu melihat Tara mendekati dirinya. “Ayo kita makan dulu.”
Mama mengajak Tara langsung menuju meja makan. Tidak ada kata-kata atau pembicaraan apa pun ketika mereka di meja makan. Tara sedang menikmati makan siangnya hari ini. Ia pun menikmati makan siangnya sambil memikirkan cara untuk memberitahu mamanya perihal keputusannya menerima pekerjaan part time yang telah ia setujui pada sebuah perusahaan showroom besar itu. Selesai mereka makan siang, Tara langsung membantu mamanya untuk mengemasi beberapa barang lagi.
“Tara, tadi beberapa barang yang Mama iklankan telah diborong oleh orang yang kebetulan memerlukan semua barang yang kita jual,” ucap mama pada Tara.
Tara hanya mendengarkan cerita mama tentang beberapa barang yang telah terjual dan berapa uang yang mereka dapat dengan menjual barang-barang mereka. Sambil terus membantu mamanya merapikan sisa dari barang-barang yang belum dikemas. Setelah seluruh barang telah di kemas, Tara pun memberanikan diri untuk bisa memberitahu pada mamanya perihal pekerjaan part time yang telah diterimanya.
“Ma... Tadi Tara ke perusahaan yang menerima pekerjaan part time,” ucap Tara singkat.
Sejenak Tara terdiam sambil menunggu respon dari mamanya. Ketika itu mamanya terdiam serta hanya mendengarkan dirinya dan melihat ke arahnya. Lalu, Tara pun menjelaskan mengenai perusahaan itu dan jenis pekerjaan yang akan di kerjakannya. Tara pun memberitahu mamanya tentang gaji yang akan diterimanya. Tara juga mengatakan pada mamanya perihal bonus yang akan diterimanya, ketika penjualan atas mobil yang di pamerkan itu terjual olehnya. Atas bujuk rayu dan janji dari Tara untuk lebih giat belajar, maka mamanya pun memberikan izin pada putri semata wayangnya untuk bekerja.
“Terima kasih, Mama sayang...” ucap Tara sambil mencium kedua pipi mamanya.
Mereka pun tersenyum dan tertawa bersama. Sungguh pemandangan yang mengharukan ketika seorang anak perempuan seusia Tara yang sejak kecil hidup bagai seorang putri yang selalu dalam kemewahan, saat ini harus bekerja dan harus mampu menjadi tulang punggung keluarga. Ditambah sekarang ini papa yang ia sayangi masih berada di Rumah Tahanan.
Sebenarnya tekanan secara mental Tara telah terjadi dua tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya ia mendengar papanya harus masuk Rumah Tahanan. Dan beberapa aset harus diambil oleh pihak Pengadilan. Beberapa teman yang dulu sering ke rumah dan menghabiskan waktu bersama dengan berhura-hura semakin hari semakin berkurang. Karena teman-temannya tahu kalau keluarga Tara mengalami kebangkrutan. Tetapi karena Tara mempunyai jiwa yang supel dan terkesan tidak peduli dengan perubahan dari sikap teman-temannya maka di tanggapi santai olehnya, walaupun dihati yang dalam ia merasakan luka yang teramat sangat. Terlebih sebagian dari mereka adalah sahabat karibnya.
Sore ini mamanya berencana untuk pindah ke rumah kontrakan. Memang seharusnya dua atau tiga hari lagi. Karena seluruh barang-barang yang tidak dibutuhkan telah terjual. Maka hari ini mereka putuskan untuk ke rumah kontrakan. Setelah menunggu mobil pengangkut barang tiba, mereka pun menuju rumah kontrakan itu. Sesampai di sana mereka langsung menata dan merapikan rumah kontrakan mereka. Karena di sana hanya ada dua kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang tamu dan satu dapur berikut ruang makannya, maka diputuskan kalau Tara tidur bersama mamanya. Satu kamar lainnya dipakai untuk menaruh pakaian dan beberapa sepatu serta beberapa buku milik Tara serta beberapa barang lainnya. Mereka merapikan seluruh barang-barang hingga larut malam. Hari ini sangat terasa melelahkan bagi Tara dan mamanya. Mereka akhirnya pun tertidur setelah semuanya telah selesai.
Keesokan harinya, seperti biasa Tara berangkat sekolah sedangkan mamanya berada di rumah. Sesampai di sekolah Tara mendapatkan kabar kalau ujian sekolah akan diadakan dua minggu lagi. Dan seluruh murid diliburkan selama dua minggu sebagai hari minggu tenang. Dengan tujuan seluruh murid bisa belajar di rumah untuk bisa mengikuti ujian nasional kelulusan sekolah menengah atas. Setelah mendapat pengumuman sekolah, Tara pun pulang ke rumah dengan hati riang. Ia merasa memang jalan dirinya untuk bekerja sudah menjadi jalan hidupnya. Untuk masalah belajar menghadapi ujian akhir sekolah bukan suatu hal yang sulit bagi Tara. Karena ia sangat terkenal cerdas di sekolahnya. Jadi masalah ujian akhir sekolah bukan suatu hal yang berat bagi dirinya.
Sesampai di rumah, ia langsung memberitahukan perihal pengumuman sekolah serta jadwal ujian akhir sekolah pada mamanya. Lalu, Tara masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Setelah selesai Tara langsung menuju ruangan bukunya, untuk bisa mengambil beberapa buku yang harus di ulangi pembelajarannya. Setelah dua jam berada di ruang baca tersebut, Tara menghubungi perusahaan yang menerima dirinya bekerja. Ia memberitahu perihal keinginannya bekerja part time untuk hari ini. Karena kepindahan dirinya ke rumah kontrakannya lebih cepat dari jadwal sebelumnya. Perusahaan tempat dirinya bekerja pun, menerima keputusan Tara untuk bekerja hari ini.
Selesai Tara mandi, ia pun mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke perusahaan yang memperkerjakannya. Selesai pamit pada mamanya, Tara pun berangkat bekerja dengan kendaraan umum. Karena ia sekarang sudah tahu kendaraan umum yang bisa membawanya menuju perusahaan itu. Satu jam kemudian, ia sampai ke perusahaan tersebut. Lalu, menunggu di lobby sesuai petunjuk dari bagian resepsionis. Dilihatnya ada beberapa wanita seusianya, bahkan yang lebih tua darinya telah berada di lobby untuk menunggu mobil jemputan yang akan membawa mereka ke tempat pemasaran mobil. Beberapa lama kemudian mobil jemputan pun tiba, dan mengantar mereka untuk mulai bekerja.
Mereka sampai pada sebuah mall besar di kota tersebut. Dan, mereka mulai belajar dari senior mereka untuk bisa menawarkan mobil-mobil terbaru yang dipamerkan di sana. Begitu juga dengan Tara. Ia sangat antusias dalam mempelajari cara menawarkan mobil ataupun merayu calon pembeli dari senior yang ia ikuti persis di belakangnya. Ia mempelajari cara berbicara, cara menawarkan dan cara merayu beberapa orang yang melihat pameran mobil tersebut. Hingga tidak terasa jam telah menunjukkan pukul sembilan. Dan, mereka pun bergegas pulang dengan diantar ke rumah masing-masing oleh mobil jemputan.
Sesampai di rumah telah menunjukkan pukul sebelas malam. Karena rumah Tara adalah rumah terakhir yang dituju oleh mobil jemputan mereka. Mamanya membukakan pintu dan meminta Tara untuk langsung makan malam. Tetapi, Tara menyampaikan pada mamanya kalau dirinya sudah dapat makan malam dari perusahaan. Dan, hal itu membuat lega perasaan mamanya. Karena selama di rumah, yang dipikirkan oleh mamanya Tara adalah waktu jam makannya.
“Ma... Tara mandi dulu ya. Sudah terasa lengket ini badan,” ucap Tara pada mamanya.
Mamanya hanya bisa mengangguk dan tersenyum padanya. Lalu, mamanya ke dapur untuk membuatkan teh manis hangat untuk Tara, karena mamanya pikir Tara membutuhkan lebih banyak energi ketika bekerja dan harus pulang selarut ini. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Tara telah selesai mandi dan lebih terlihat segar.
“Sayang... Diminum teh hangatnya,” ucap mamanya sambil membawakan teh hangat itu kepada Tara.
“Terima kasih, Ma.”
Tara tersenyum manis memperlihatkan lesung pipitnya.
Lalu di minumnya teh hangat buatan mamanya. Dan, ia pun mencium kedua pipi mamanya sambil bercerita tentang pekerjaannya di hari pertama. Dari beberapa teman barunya dan ilmu yang didapatkan dalam memasarkan mobil yang saat itu sedang di pasarkan. Terlihat wajah mamanya bahagia melihat antusias putri kesayangannya menyukai pekerjaannya. Mamanya selalu bersyukur atas segala perubahan sikap dari Tara. Setelah mereka selesai berbincang-bincang dengan banyak topik, akhirnya mereka pun memutuskan untuk beristirahat.
***
Pagi ini Tara akan berangkat ke perusahaan lebih pagi, karena Tara sudah memberitahu bagian personalia dan pemasaran kalau dirinya bisa bekerja penuh selama dua minggu ini. Lalu, setelah Tara pamit pada mamanya, ia pun pergi berangkat ke tempat kerjanya. Sesampai di tempat kerja, seperti biasa ia pun menunggu di lobby perusahaan itu bersama beberapa teman untuk menunggu mobil jemputan. Bagi karyawan yang bisa bekerja di pagi hari. Jadwal mereka bekerja dari jam sembilan pagi sampai jam enam sore. Jadi, hari ini Tara akan bekerja hingga pukul enam sore.
Setelah mobil jemputan datang dan mengantar mereka ke tempat bekerja mereka, lalu mereka pun mulai bekerja. Dan hari ini adalah hari keberuntungan bagi Tara. Bagaimana tidak, hari ini dirinya bisa menjual satu unit mobil. Seniornya memberikan selamat padanya, dan meminta rekan-rekan yang lain untuk bisa lebih giat dan lebih luwes seperti Tara.
“Selamat Tara atas kerja kerasmu. Dan, saya berharap rekan-rekan yang lain bisa lebih semangat serta mampu melakukan hal sama seperti Tara,” ucap senior Tara sambil menyalami dirinya.
“Terima kasih banyak untuk supportnya, Bu’’ jawab Tara.
Seluruh teman-temannya pun menyalami Tara. Sungguh sangat membahagiakan bagi hati Tara, karena di hari kedua dirinya mampu menjual satu unit mobil. Ingin sekali dirinya secepatnya bertemu dengan mamanya perihal berita bahagia ini. Ia sudah bisa menghitung berapa banyak bonus yang akan diterimanya. Dalam angannya ingin sekali membuat bangga mamanya atas pekerjaannya ini. Tara tersenyum sendiri membayangkan angan-angannya saat ini.
“Tara, ada customer yang minta nomor teleponmu,’’ ucap seniornya memberitahukan Tara perihal seorang customer yang ingin meminta nomor teleponnya.
“Baik, Bu... Saya akan menemui customernya,” jawab Tara.
Tara pergi meninggalkan seniornya untuk menemui seorang customer yang sedang duduk di area pameran tersebut. Di sana ada beberapa kursi bulat yang di depannya ada sebuah meja bulat pula. Di sanalah beberapa customer vip mendapatkan pelayanan spesial. Sesampai di sana, Tara mencari seorang customer dengan ciri-ciri yang telah disebutkan oleh seniornya. Seorang lelaki usia sekitar empat puluh lima tahun dengan kaos berwarna hijau muda dan celana jins, memakai topi berwarna hitam. Setelah mencarinya, Tara melihat lelaki itu duduk di kursi bundar pojok sedang menikmati sebatang rokok di bibirnya.
“Maaf Pak... Saya Tara, ada yang bisa saya bantu?’’ tanya Tara pada customer itu.
Dilihatnya secara jelas oleh Tara. Customer itu seorang lelaki tampan dengan kulit bersih. Memakai kaca mata minus, memiliki kumis dan jambang yang tipis, dengan tubuh yang terbilang atletis.
“Oh ya, Tara. Nama saya Donny,” jawab lelaki itu menyebutkan namanya sambil menyalami Tara.
Mereka akhirnya duduk saling berhadapan satu sama lain. Dan pada kesempatan ini pak Donny secara langsung menawarkan pekerjaan untuk Tara di perusahaannya. Tetapi, Tara menjelaskan pada pak Donny kalau saat ini dirinya masih bersekolah dan sedang menunggu ujian akhir sekolahnya. Ditambah pada perusahaan ini, Tara pun baru bekerja selama dua hari. Tara memberikan penjelasan pada pak Donny. Lalu, pak Donny pun meminta nomor telepon Tara, dan mengatakan pada Tara jika suatu saat dirinya memerlukan pekerjaan pada perusahaannya, maka dirinya diminta untuk tidak sungkan menghubunginya. Setelah itu seniornya meminta Tara bertemu dengannya.
“Sore Bu... Ada yang bisa saya bantu?” tanya Tara pada senior / team leadernya, ketika sudah duduk di hadapan seniornya.
“Tara... Ibu hanya ingin menyampaikan. Tadi itu pak Donny customer VIP kita. Jadi ibu harap kamu bisa membujuk dirinya untuk bisa membeli beberapa mobil kita untuk keperluan operasional perusahaannya. Apalagi ibu lihat pak Donny bersimpati pada kamu,” ucap senior Tara menjelaskan harapannya padanya.
“Siap Bu, akan saya usahakan,” jawab Tara.
Akhirnya jam telah menunjukkan pukul enam sore, maka Tara pun bergegas pulang bersama teman-teman satu teamnya. Dalam perjalanan pulang, mereka bersenda gurau dan berbahagia atas pencapaian team mereka hari ini. Mereka bersuka cita atas pencapaian penjualan yang telah dicapai oleh Tara dan satu teman Tara lainnya. Tidak lama kemudian akhirnya Tara pun sampai rumahnya. Setelah dirinya memberikan salam kepada satu temannya yang tersisa, Tara pun keluar dari mobil tersebut menuju pintu rumahnya yang telah dibuka oleh mamanya.
“Malam Ma...” ucap Tara mencium kedua pipi mamanya.
Sambil menutup pintu rumah mereka, mamanya Tara melihat kegembiraan di wajah putri cantiknya. Dan bertanya-tanya dalam hatinya. Kira-kira apa gerangan yang membuat wajah anaknya terlihat sangat bahagia? Setelah mereka sampai di meja makan, mamanya bertanya pada Tara perihal kebahagiaan yang dilihatnya.
“Ada kabar baik apalagi sayang?” tanya mamanya kepada Tara.
“Ma... Berkat doa mama, hari ini Tara berhasil menjual satu unit mobil,” ucap Tara dengan tersenyum lebar.
Dirinya sangat menggebu-gebu bercerita tentang caranya menawarkan customer mobil yang ditawarkan. Sampai akhirnya customer itu jadi membeli mobil. Dan, ia pun bercerita bagaimana senior dan rekan-rekan kerjanya memberikan selamat atas keberhasilannya.
“Tara senang sekali Ma...” ucap Tara pada mamanya yang mengelus kepalanya dan mencium keningnya.
Mamanya tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar pada wajah cantik anaknya. Mamanya tidak menyangka kalau putri semata wayangnya telah membuat bangga hatinya. Memang hidup demikian adanya. Dalam setiap kesulitan akan ada kebahagiaan yang menyertainya. Mungkin jalan yang dilaluinya kali ini untuk mengajari dirinya dan putrinya supaya bisa menghargai segala sesuatu yang telah diraihnya dengan perjuangan. Demikian kata hati sang mama.
Setelah kelulusan dengan nilai terbaik, Tara tidak berpikir untuk mencari Universitas Negeri ataupun Swasta. Saat ini dirinya sangat menikmati pekerjaannya setelah dilakoni selama satu tahun ini. Tara sangat menikmati dan mencintai pekerjaan sebagai sales dari perusahaan ini. Selain gaji yang diterima cukup untuk dirinya dan mamanya. Bonusnya yang terbilang sangat lumayan dapat membuat dirinya mengumpulkan pundi-pundi penghasilannya yang kelak akan ia gunakan untuk mencari sebuah rumah kecil untuk mamanya.
“Tara... Apa kabar?” tegur seseorang dari belakang. Seseorang lelaki tampan menyapa dirinya pada acara pameran mobil keluaran terbaru saat itu.
Sambil membalikkan tubuhnya, Tara berusaha mengingat seseorang yang saat ini tepat di hadapannya. Seorang lelaki dewasa dengan usia berkisar empat puluh lima tahun dengan wajah tampan dan kulitnya yang terlihat bersih.
“Pak Donny ya? Baik Pak.. Bapak sendiri gimana kabarnya?” tanya Tara dengan menjabat tangan lelaki yang ada di hadapannya.
“Kabar bapak baik. Apa kamu melanjutkan kuliah?” tanya pak Donny setelah menyalami Tara.
“Belum ada minat Pak. Lagi senang cari duit ini,’’ sambil berkelakar Tara menjawab atas pertanyaan yang ditanyakan oleh pak Donny.
Sebagai seorang sales, jelas saja kesempatan ini digunakan untuk menawarkan mobil keluaran baru. Waktu yang tepat tidak disia-siakan sama sekali. Maka ia pun merayu pak Donny untuk membeli satu dari beberapa jenis mobil yang saat itu sedang dipasarkan. Dengan kepiawaiannya sebagai seorang sales yang sudah bekerja selama satu tahun ini, membuat ia bertambah mahir dalam merayu calon pembeli. Banyak pembelajaran yang telah ia ambil dari senior-seniornya dalam melakukan penawaran pada customer yang datang. Dan memang dari beberapa seniornya ada yang mengajari cara kotor dengan mau kencan dengan customer tersebut. Tapi selama ini Tara tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu. Ia cukup berkata-kata manis dengan paras wajahnya yang cantik telah membuat beberapa customer yang memang sedang membutuhkan mobil terpikat untuk membelinya.
“Gimana pak Donny? Jadi membeli satu unit?’’ rayu Tara setelah mengajak pak Donny mencoba beberapa mobil keluaran baru saat itu.
‘’Hm, Gimana yaa... Bingung milihnya. Coba kamu yang pilihkan Bapak ya,’’ ucap pak Donny meminta Tara memilih satu dari beberapa mobil keluaran baru saat itu.
Sebagai seorang sales, Ia akan memilihkan satu unit mobil yang memang menurut ia bagus dalam interior, sesuai dengan budget dan yang utama bagi Tara mobil itu mempunyai suspensi yang handal tentunya.
“Serius ya Pak. Saya yang memilihkannya. Tapi nanti sesuai selera saya pak,’’ ucap Tara untuk meyakinkan pak Donny atas pilihan mobil untuk Pak Donny.
“Iya serius Tara... Pokoknya bapak percaya dengan pilihan kamu,’’ jawab pak Donny atas pertanyaan Tara sambil tersenyum.
Tara hanya mengangguk sambil tersenyum kepada pak Donny. Terlihat kecantikan Tara terpancar lewat lesung pipinya ketika ia tersenyum pada pak Donny. Seketika membuat pak Donny yang melihat diri Tara semakin terpikat dengan kecantikan dan keluguan diri Tara. Pertemuan pak Donny dengan Tara satu tahun lalu jelas terasa beda dengan penampilan Tara yang sudah semakin dewasa dengan usia yang hampir menginjak dua puluh tahun. Dimana Tara terlihat bertambah cantik, karena dirinya telah pandai dalam menghias dirinya.
Setelah menyetujui pilihan Tara, akhirnya pak Donny pun melakukan transaksi di depan kasir penjualan dengan di dampingi Tara sebagai salesnya. Sesekali pak Donny mencuri pandang pada Tara. Dan sempat pula pandangan mereka beradu, Tara hanya tersenyum manis saja melihat pak Donny melihat ke arahnya.
“Baik pak Donny... Satu unit mobil ini akan segera dikirimkan ke rumah bapak sekitar dua hari lagi. Dan untuk penyerahannya akan diserahkan ke Tara selaku sales. Karena kami akan mendokumentasikan penyerahan tersebut,” ucap senior Tara menjelaskan tentang SOP penyerahan unit baru bagi customer saat ini.
“Baiklah kalau begitu... Saya akan tunggu dua hari lagi,” ucap pak Donny sambil menuliskan alamat pengiriman atas satu unit mobil tersebut.
“Terima kasih banyak pak Donny,” ucap Tara menjabat tangan dari Pak Donny sambil membungkukkan tubuhnya.
Saat ini Tara sangat bahagia dengan pencapaian penjualannya saat ini, karena mobil yang dibeli oleh pak Donny adalah mobil kelas satu dengan harga yang cukup lumayan besar. Hingga Tara pun telah menghitung-hitung komisi yang akan diterima dengan tersenyum bahagia. Dalam hatinya saat ini, mamanya pasti akan bahagia dengan pencapaiannya saat ini. Untuk bulan ini baru dua unit mobil yang dijual oleh Tara, itu pun belum mencapai target yang telah di tetapkan oleh perusahaan untuknya. Dengan adanya penjualan satu unit lagi dari pembelian yang dilakukan pak Donny saat ini membuat targetnya terpenuhi bahkan lebih.
***
Dua hari kemudian tiba saatnya team dari perusahaan untuk menyerahkan satu unit mobil yang telah dibeli oleh Pak Donny. Tara bersama seniornya tiba di rumah pak Donny sekitar pukul tiga sore. Sesuai dengan keinginan pak Donny via hubungan telepon ketika pagi hari di hubungi oleh bagian customer service. Tara sangat takjub dengan rumah yang ditempati oleh pak Donny. Karena rumah tersebut lebih tinggi sekitar satu setengah meter dari jalan. Jadi ketika mereka memasuki rumah tersebut seperti berada dalam jalan yang menuju ke sebuah bukit. Pada bagian depan sebelum mereka masuk ke rumah pak Donny, pintu gerbang yang mereka masuki telah dijaga oleh dua orang satpam dengan pos penjagaan yang ketat.
“Mari silakan masuk,” ucap pak Donny mengajak kedua orang tamunya memasuki rumahnya.
Mereka memasuki ruang tamu yang cukup besar dengan bangku-bangku ukiran sehingga membuat lebih megah dan terkesan lebih mewah. Mereka pun duduk dan bersalaman dengan pak Donny yang kala itu memakai setelan kaos dan celana dari kesebelasan sepak bola terkenal. Terlihat lebih muda dari usianya. Pada rumah itu terlihat ada dua orang asisten rumah tangga, satu sopir yang menunggu di luar teras dan seorang tukang kebun yang saat mereka memasuki rumah pak Donny sedang menyiram tanaman yang tertata rapi di bagian kanan kiri rumah besar tersebut.
“Silakan di minum dulu,’’ucap Pak Donny.
Mempersilakan mereka minum setelah asisten rumah tangganya menyuguhi minuman di ruangan tamunya. Mereka pun berbincang-bincang pada pak Donny. Satu jam kemudian mereka meminta pak Donny untuk melakukan serah terima kunci yang akan dilakukan oleh Tara sebagai seorang sales dengan melakukan foto bersama pak Donny di hadapan mobil yang akan diserahkan sambil memberikan kunci mobil tersebut sebagai dokumentasi perusahaan. Selesai acara penyerahan, mereka pun pamit pada pak Donny untuk bisa kembali ke kantor. Tetapi tiba-tiba pak Donny berkata, “Maaf, kira-kira apa bisa saya mengajak kalian berdua untuk makan malam?’’ tanya pak Donny sambil mengatakan pada Tara dan seniornya.
Karena seniornya ada acara keluarga, maka seniornya pun meminta maaf tidak bisa menemani pak Donny makan malam saat ini. Tara yang tidak memiliki kepentingan keluarga akhirnya menemani pak Donny untuk makan malam. Tara pun meminta izin pada pak Donny agar dirinya bisa menghubungi mamanya, kalau dirinya pulang terlambat. Setelah itu Tara menuju ruangan lain yang telah ditunjukan oleh pak Donny. Sebuah ruangan besar dan terlihat seperti ruangan menonton film. Sebuah layar lebar ada di dinding ruangan tersebut dengan peralatan menonton berserta beberapa DVD yang tertata rapi. Dengan sofa-sofa besar di sisi kiri, kanan dan sebuah permadani yang terhampar di tengah sofa-sofa tersebut.
Tara merasakan kelembutan dari permadani yang terhampar di sana ketika kakinya menyentuh hamparan permadani tersebut. Tara duduk di sofa sisi kanan sambil menunggu meja makan yang sedang disiapkan oleh asisten rumah tangga pak Donny. Bunyi denting jam mengejutkan Tara, dilihat pada sisi pojok dari pintu menuju ruangan menonton itu ada sebuah jam besar. Dilihat jam telah menunjukkan pukul tujuh malam.
“Mari Tara... Kita menuju meja makan,’’ ucap pak Donny.
Tiba-tiba pak Donny telah sampai pada ruangan itu, lalu mengajak Tara mengikutinya menuju ruang makan. Sesampai di ruang makan, Tara di persilakan duduk oleh pak Donny. Dilihat oleh Tara sekeliling ruangan makan tersebut. Hanya ada satu meja berbentuk kotak dengan empat buah kursi. Di sisi kanan ada sebuah lemari es berukuran sedang dan sebuah mini bar yang terletak di depan meja makan ini. Pada sisi pintu ruang makan ini terlihat sebuah dapur cukup besar.
Seorang asisten rumah tangga masuk ke ruang makan sambil membawakan satu buah kue ulang tahun. Sebuah kue ulang tahun yang berwarna cokelat dengan hiasan buah ceri merah dan di sana ada dua buah lilin. Dilihat dari lilin yang ada di kue ulang tahun yang berwarna cokelat tersebut itu ada angka empat puluh lima. Terpikir oleh Tara kalau hari itu adalah hari ulang tahun pak Donny.
“Selamat ulang Tahun pak Donny,” ucap Tara sambil menyalami pak Donny dan mencium kedua pipi pak Donny.
“Terima kasih, Tara,” jawab pak Donny ketika menerima ucapan Tara yang telah mencium pipi kanan dan kirinya.
“Maaf yaa pak... Saya tidak tahu kalau hari ini bapak berulang tahun,” ucap Tara bersungguh-sungguh meminta maaf pada pak Donny.
“Tidak apa-apa kok Tara....” jawab pak Donny atas permohonan maafnya.
Lalu, pak Donny pun mengatakan pada Tara, kalau dirinya sangat berterima kasih karena saat ini Tara mau menemani perayaan ulang tahunnya. Lalu, mereka pun makan malam bersama dan bercerita tentang banyak hal dari masalah politik serta masalah yang sedang terjadi saat itu. Tapi tidak sekali pun Tara atau pun pak Donny bercerita tentang keluarga mereka. Mereka masing-masing menjaga privasi. Setelah mereka makan malam dan makan sepotong kue ulang tahun, pak Donny mengajak ke ruang lain.
Pak Donny mengajak Tara pergi ke ruangan menonton yang tadi sempat Tara sambangi sebelum menuju ruang makan. Pak Donny menjelaskan pada Tara kalau dirinya senang menonton film romance, tetapi karena kesibukannya maka tidak ada waktu untuk menonton di bioskop jadi diputuskan oleh pak Donny untuk membuat ruangan sendiri walaupun kecil yang terpenting dirinya bisa menonton film tanpa harus ke bioskop.
“Tara ingin nonton film apa?” tanya pak Donny pada Tara.
“Apa saja boleh pak, “ jawab Tara ketika dilihatnya pak Donny memilih beberapa DVD yang tertata rapi di sana.
Tidak lama kemudian, seorang asisten datang ke ruangan menonton kami sambil membawa minuman softdrink dan camilan atas perintah dari pak Donny. Asisten rumah tangga itupun berlalu dari hadapan Tara setelah menaruh beberapa minuman softdrink dan camilan di meja bundar di samping sofa yang ada di sana.
Pak Donny kemudian menutup pintu ruangan menonton itu dan meredupkan lampu yang ada di ruangan tersebut agar terlihat seperti bioskop pada umumnya. Setelah menyalakan video yang berisikan film romance, terlihat pak Donny duduk di bagian tengah dari sofa itu yang diikuti oleh Tara yang waktu itu duduk di sofa. Mereka pun duduk bersama di permadani yang terasa lembut pada saat pertama kali Tara ke ruangan tersebut. Terlihat pak Donny mengambilkan minuman softdrink untuk Tara. Mereka menonton film romance itu dengan sesekali menghela nafas bersama karena ada beberapa adegan dewasa yang dipertontonkan di sana. Tanpa disadari pak Donny tiba-tiba telah memegang tangan Tara. Karena suasana romance dari film tersebut ditambah ada beberapa adegan dewasa pada film tersebut membuat Tara yang belum satu kalipun melihat film dengan adegan dewasa itu terbawa suasana.
Tara membiarkan pak Donny memegang tangan dan mencium tangannya. Dibiarkan hal itu terjadi karena suasana yang ada di dalam ruangan itu membuat mereka terhanyut dalam nuansa ruangan dan film yang mereka tonton. Sampai akhirnya sebuah ciuman mendarat di bibir Tara yang ketika itu tidak bisa menolak ciuman lembut dari pak Donny. Lalu oleh Tara, ciuman itu pun dibalasnya. Ketika adegan yang ada di film itu semakin menjadi dengan adegan dewasa membuat Tara sudah tidak bisa lagi menahan gejolaknya.
Selama ini Tara hanya mendengar dari cerita teman-temannya yang sudah menikah. Dan, ia tidak pernah sekalipun melakukan hal itu. hanya sesekali membayangkannya. Maka ketika Pak Donny berusaha meraba bagian atasnya, Tara pun hanya terdiam mencoba merasakan apa yang bisa dirasakan. Sampai akhirnya pak Donny memberikan sentuhan hangat dari bibirnya pada bagian atas tubuh Tara. Ia hanya dapat menahan napasnya. Dan, menahan gejolaknya yang selama ini tidak pernah dirasakan. Akhirnya, Tara merasakan area sensitifnya telah basah.
Tetapi saat ini Tara masih malu-malu untuk mengungkapkan gejolak yang dirasakan. Maka ketika pak Donny semakin berhasrat atas dirinya. Ia pun pasrah ketika tangan dari pak Donny menjalar ke bagian sensitifnya.
“Jangan lakukan itu Pak... Saya takut, saya tidak pernah sekali pun melakukannya. Cukup sampai di sini aja Pak,” ucap Tara mengingatkan pak Donny atas hasratnya yang semakin menjadi-jadi.
Lalu, Tara pun segera menarik dirinya dari pelukan pak Donny dan berusaha merapikan bajunya yang telah terbuka bagian atasnya. Tara mencoba menghalau hasrat itu. Ditambah usianya yang telah memasuki dua puluh tahun membuat hormon yang ada dalam dirinya bergejolak keras ketika menonton film adegan dewasa seperti itu.
“Tara aku tidak akan merusak kehormatan dirimu, hanya saja aku ingin dirimu melepaskan gejolak itu, aku bisa membuat dirimu melayang jauh tanpa harus kehilangan kehormatanmu,” ucap pak Donny pada Tara yang berusaha melepas pelukan pak Donny.
Tara akhirnya hanya terdiam ketika pak Donny dengan kelembutannya meraba area sensitifnya dan melepaskan pakaian dalamnya. Lalu dengan posisi Tara yang masih terduduk di hadapan pak Donny. Tara hanya bisa pasrah dan ingin tahu dengan apa yang akan dilakukan pak Donny. Masih dalam posisi terduduk dan tanpa pakaian dalamnya, pak Donny membuka kedua kaki Tara. Saat ini kedua kakinya telah terbuka dengan posisi masih terduduk persis di hadapan pak Donny.
Tara hanya terdiam ketika pak Donny berusaha menyentuh bagian sensitifnya. Pak Donny melihat bagian senstif dari Tara yang agak basah. Pak Donny tahu hal itu dikarenakan sentuhannya tadi. Dengan pengalamannya, pak Donny mendekati area sensitif Tara. Pak Donny pun menghisapnya. Ketika hal itu dilakukan oleh Pak Donny, tubuh Tara serasa bergetar serta terasa hangat dirasakan seluruh tubuhnya. Tanpa disadari Tara menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri hingga tanpa disadarinya ia mengangkat tubuhnya lebih tinggi dan lebih menekan ke arah bibir dari pak Donny yang terus menghisap area sensitifnya.
“Mmmh, Pak..” gumam Tara mencoba menahan hasratnya.
Pak Donny menghentikan permainan itu. Sesekali dilihatnya kedua mata Tara masih terpejam seperti sedang mencari kenikmatan yang tiba-tiba menghilang.
“Tara... Sudah jam sebelas malam, sudah seharusnya kamu pulang,” ucap pak Donny.
Dengan malu-malu Tara membuka kedua matanya. Lalu merapikan penampilannya yang sedikit acak-acakan. Setelah lampu di ruangan itu dinyalakan Tara merasakan rasa malu yang teramat sangat. Tetapi dengan sikap kedewasaan dan pengalaman yang dimiliki oleh pak Donny, suasana yang terasa kaku pun menghilang. Rasa malu Tara akhirnya mencair.
“Tara... Sekarang ini panggil aku dengan panggilan Mas ya...” ucap pak Donny saat itu sambil mencium kening Tara.
Tara saat itu hanya bisa mengangguk. Lalu, pak Donny mengatakan pada Tara kalau hal itu adalah hal yang wajar ketika kita mempunyai hasrat. Dan itu yang membuat Tara merasa lebih baik. Dari awalnya sangat malu sekali dengan yang terjadi sampai akhirnya bisa merasa lega ketika pak Donny menyatakan hal itu.
“Terima kasih ya Mas. Telah menjaga kehormatanku,” ucap Tara pada pak Donny yang saat ini telah dipanggil dengan panggilan Mas.
Saat itu pak Donny hanya tersenyum dan kembali memeluk tubuh Tara sambil mengatakan untuk tetap menjadi kehormatan tersebut sampai pada pilihan yang tepat untuk hatinya. Lalu dengan rasa tanggung jawab yang tinggi pak Donny pun memerintahkan sopir pribadinya untuk mengantarkan Tara ke rumahnya.