Bab 1

Kinan menarik napas dalam-dalam. Udara Jakarta, yang bercampur aroma knalpot dan bunga kamboja, terasa asing namun akrab di paru-parunya. Setelah lima tahun tenggelam dalam gemerlap dan kesibukan dunia fesyen di Milan, kembalinya ia ke sini, ke depan rumah sederhana namun asri milik kakak perempuannya, terasa seperti melangkah kembali ke masa lalu yang ia tinggalkan-sebagian karena pilihan, sebagian karena pelarian.

Kinan menyesuaikan gaun mini berwarna merah marun yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan dada rendah dan bahan silk yang berkilauan menjeritkan label "mahal" dan "berani," ciri khas gaya hidup yang baru ia tekuni. Rambut cokelat gelapnya yang bergelombang ditata acak, dan sepasang kacamata hitam berbingkai besar menutupi separuh wajahnya, menyembunyikan kelelahan setelah penerbangan panjang dan juga ekspresi campur aduk yang ia rasakan.

Di belakangnya, taksi online yang membawanya baru saja melesat pergi, meninggalkan koper-koper mewah berlabel internasional di tepi jalan setapak berkerikil. Kinan tak peduli dengan tatapan penasaran tetangga sebelah yang sedang menyiram tanaman. Dunia selalu menatapnya, dan ia sudah terbiasa-bahkan menikmatinya.

Ia melepas kacamata hitamnya. Mata cokelatnya yang tajam menatap ke pagar kayu putih di depannya. Sebuah plakat kecil bertuliskan "Keluarga Arsyad" tergantung di gerbang. Ya, inilah rumah Airin, kakak perempuannya, satu-satunya keluarga inti yang tersisa baginya.

Tangan Kinan terangkat untuk menekan bel, namun sebelum jarinya menyentuh tombol, pintu rumah terbuka dari dalam.

"Kinan! Ya Tuhan, kamu sudah sampai!"

Airin muncul di ambang pintu, mengenakan daster rumahan motif bunga-bunga yang lusuh dan sederhana. Kontrasnya dengan Kinan bagaikan langit dan bumi. Airin tampak lebih tenang, lebih matang, dan raut wajahnya memancarkan kebahagiaan seorang istri dan ibu. Ia berlari kecil menghampiri Kinan, mengabaikan gaun Kinan yang nyaris telanjang.

"Ya ampun, Adikku sayang!" Airin langsung memeluk Kinan erat-erat. Pelukan yang hangat, tulus, dan penuh rasa rindu yang melunturkan semua kepalsuan dan ketegasan Kinan seketika.

"Hai, Kakak," Kinan membalas pelukan itu, suaranya sedikit serak. Aroma Airin adalah aroma rumah-aroma sabun cuci, bedak bayi, dan sedikit minyak kayu putih. Jauh berbeda dari aroma parfum mahal eau de toilette yang ia kenakan.

"Kenapa tidak bilang sudah sampai? Mama... maksudku, Kakak khawatir kamu kesulitan mencari alamatnya. Masuk, Sayang, masuk! Kenapa berdiri di sini?" Airin melepaskan pelukan dan menangkup wajah adiknya dengan kedua tangannya. "Astaga, kamu kurusan! Tapi... wow, kamu benar-benar seperti model dari majalah sekarang. Apa kabar, Nak?"

"Aku baik, Kak. Sangat baik," jawab Kinan, tersenyum kecil. Ia tak ingin Airin tahu bahwa di balik kesuksesannya, ia sering merasa hampa. "Aku bawa banyak hadiah untuk kalian."

Airin menyenggol Kinan dengan siku, matanya berbinar nakal. "Tidak perlu repot-repot, Nona Fesyen. Yang penting kamu pulang. Sini, biar Kakak bantu bawa koper."

Airin memanggil seseorang di dalam untuk membantu mengangkat koper Kinan yang super besar itu. Kinan melangkah masuk. Interior rumah itu didominasi warna krem dan cokelat muda, dengan dekorasi yang berkesan cozy dan didominasi foto-foto keluarga. Airin memimpinnya langsung menuju ruang keluarga.

"Ayo, duduklah dulu. Istirahat. Kamu pasti capek sekali, kan?" kata Airin sambil menunjuk sofa kulit berwarna gading.

Saat Kinan mengikuti langkah kakaknya, matanya langsung menangkap sesosok tubuh mungil yang asyik bermain di atas karpet beludru abu-abu. Seorang anak perempuan dengan rambut ikal sebahu dan wajah bulat sedang sibuk menyusun balok-balok kayu warna-warni.

"Itu dia, Luna," bisik Airin, senyumnya melunak penuh kasih sayang. "Putri kesayangan Kakak, empat tahun, dan sangat cerewet."

Kinan berjongkok perlahan di samping sofa, menyingkirkan tas tangan bermereknya. Luna, yang mengenakan gaun tutu merah muda kusam, mendongak. Mata bulatnya yang besar, hitam, dan jernih menatap Kinan dengan rasa ingin tahu murni seorang anak kecil.

"Hai, Cantik," sapa Kinan dengan suara paling lembut yang bisa ia kumpulkan. Ia jarang berinteraksi dengan anak kecil; dunianya penuh dengan orang dewasa yang ambisius. "Nama Tante Kinan. Siapa namamu?"

Luna tersenyum malu-malu, memperlihatkan gigi depannya yang berjarak. "Luna."

"Luna. Nama yang cantik. Kamu sedang buat apa?"

"Istana!" jawab Luna, penuh semangat.

"Wah, istana? Hebat sekali. Boleh Tante duduk di sini dan melihatmu membuat istana?"

Luna mengangguk antusias. Kinan tersenyum lagi. Senyum yang terasa lebih nyata dan tidak dibuat-buat untuk kamera atau kontrak iklan.

"Syukurlah kamu langsung akrab dengannya," sela Airin lega. Ia menepuk bahu Kinan lembut. "Kinan, kamu pasti haus dan lapar. Kakak akan ke dapur sebentar, buatkan kamu es lemon dan makanan ringan. Tolong jaga Luna sebentar, ya? Jangan biarkan dia dekat stop kontak."

"Siap, Kapten!" Kinan memberi hormat setengah hati, tetapi matanya terpaku pada Luna. "Pergilah, Kak. Aku akan menjaganya. Aku sudah sangat rindu dengan masakannmu."

Airin tersenyum lebar, kelegaan terpancar dari matanya. Ia bergegas menuju dapur, yang terletak di ujung lorong sebelah ruang makan.

Kinan kembali mencondongkan tubuh ke arah Luna. "Baiklah, Putri Luna. Ayo kita lihat seberapa tinggi istana ini bisa kita bangun."

Baru saja Kinan hendak membantu menyusun balok, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba jatuh di atas karpet.

Sebuah suara berat, dalam, dan hangat terdengar di belakang Kinan, memanggil Luna. "Princess Ayah, sudah jamnya minum susu. Sudah lelah main baloknya, Sayang?"

Kinan terkesiap. Suara itu begitu dekat, begitu maskulin, dan ia benar-benar tidak menyadari ada orang lain di rumah ini selain Airin dan Luna.

Ia berbalik, perlahan, dan pandangannya langsung bertabrakan dengan sosok yang berdiri menjulang di belakangnya.

Waktu seolah melambat.

Pria itu.

Ia mengenakan kaus polo abu-abu gelap dan celana jeans yang pas di tubuh, pakaian yang sangat kasual namun entah mengapa tampak seperti dirancang khusus untuk dirinya. Perawakannya atletis, bahunya lebar, dan tinggi badannya pasti jauh di atas rata-rata orang Indonesia. Wajahnya adalah perpaduan pahatan sempurna. Garis rahang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata cokelat keemasan yang kini menatap Kinan dengan ekspresi terkejut yang tertahan. Bibirnya tipis, yang kini sedikit terangkat karena terkejut.

Kinannya menebak, Pasti ini Liam, suami Kakak. Airin tidak pernah mengatakan suaminya setampan ini. Kinan sudah melihat foto Liam di media sosial, tetapi foto-foto itu tidak adil-tidak menangkap aura dan intensitas yang kini terpancar darinya secara langsung. Kinan mendadak merasa panas, dan gaun merah marunnya terasa semakin ketat.

"Ayah!" Luna berteriak riang, melupakan istananya, dan merangkak ke arah pria itu.

Liam membungkuk, dengan gerakan anggun, menggendong Luna. Ia menatap Kinan sekali lagi, kali ini dengan senyum yang lebih ramah dan hangat-namun di bawahnya, ada percikan ketertarikan yang tidak salah lagi.

"Halo. Maaf, saya tidak tahu sudah ada tamu. Anda pasti Kinan, adik ipar Airin," katanya, suaranya yang dalam menggema sedikit di ruang keluarga. Ia mengulurkan tangan kanannya ke Kinan, sambil menopang Luna di pinggul kirinya.

Kinan bangkit berdiri, menyibak rambutnya ke belakang telinga, sebuah gerakan sadar yang dirancang untuk menarik perhatian pada garis lehernya. Ia membalas jabat tangan Liam. Tangan Liam besar, hangat, dan sangat kuat. Sentuhan mereka menciptakan sengatan listrik yang singkat namun jelas di udara.

"Ya, saya Kinan," Kinan menjawab, suaranya kini kembali ke nada yang lebih menggoda dan percaya diri yang ia gunakan di depan kamera. Ia membiarkan kontak mata mereka berlangsung sedikit lebih lama dari seharusnya. "Dan Anda pasti Liam. Kakak tidak pernah bilang suaminya setampan ini. Atau mungkin Kakak sengaja menyembunyikan Anda."

Kinan tahu apa yang ia lakukan. Ia memancarkan pesona, rayuan, dan godaan yang telah ia asah selama bertahun-tahun di panggung dunia. Matanya tersenyum, tetapi bibirnya memancarkan janji yang lebih gelap.

Liam tertawa pelan. Tawa yang membuat Kinan merasa sedikit lemah lutut.

"Airin suka menjaga kejutan, saya rasa," jawab Liam. Matanya menelusuri Kinan dari atas ke bawah, lama, tanpa malu-malu, sebelum kembali menatap mata Kinan. Kinan melihat bayangan dirinya-gaun merah, sepatu hak tinggi, tatapan menggoda-terpantul di mata honey-gold Liam. Ia tertarik. Kinan bisa merasakannya, dan itu memuaskannya.

"Selamat datang kembali. Saya harap penerbangan Anda nyaman, Kinan," tambah Liam, tetapi suaranya terdengar sedikit serak, dan ia berdeham cepat.

Kinan melepaskan jabat tangan itu, yang terasa dingin dan kosong tanpa sentuhan Liam. "Terima kasih, Liam. Cukup nyaman. Saya tidak sabar untuk mengejutkan Kakak lagi. Saya harus melihatnya di dapur sekarang. Saya mau ambil tas, tapi... tunggu, di mana tas saya?"

Kinan menoleh cepat-cepat, mencari tasnya yang ia lempar ke sofa, dan langkahnya terhenti. Ia melihat tasnya ada di atas meja kayu kecil di sebelah sofa. Ia harus memutar sedikit untuk mengambilnya.

Ia mengambil langkah pertama, namun karena terlalu fokus pada tasnya, dan mungkin sedikit terganggu oleh kehadiran Liam, Kinan menginjak karpet yang sedikit terlipat.

Seketika, ia kehilangan keseimbangan.

Kinan menjerit kecil, suaranya berubah menjadi tarikan napas tertahan saat sepatu hak tingginya terpelintir. Ia oleng. Dalam detik-detik mengerikan itu, ia hanya bisa membayangkan dirinya jatuh ke lantai dengan tidak anggun, mempermalukan dirinya di depan pria tampan ini.

Namun, sebelum ia sempat mencium dinginnya lantai, dua lengan yang sangat kuat melingkari pinggangnya.

Liam bergerak secepat kilat.

Ia melepaskan Luna-yang untungnya segera berlari menjauh, terbiasa dengan drama kecil-dan melompat maju, menangkap tubuh Kinan yang sedang jatuh.

Mereka bertabrakan.

Kinan merasakan panas tubuh Liam menembus bahan tipis gaunnya. Kedua tangan Liam mencengkeram Kinan di pinggang dan punggung, menahan tubuhnya. Kinan secara naluriah melingkarkan lengannya di leher Liam untuk menjaga keseimbangan.

Untuk sesaat, mereka berdiam dalam posisi yang sangat intim. Kinan berlutut sedikit, tubuhnya miring, sepenuhnya bersandar pada Liam.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

Kinan bisa melihat setiap detail kecil di wajah Liam: sedikit bayangan janggut yang baru tumbuh, bintik kecil kecokelatan di dekat sudut mata kanannya, dan napasnya yang hangat menerpa bibir Kinan. Aroma aftershave yang maskulin bercampur dengan aroma keringat yang sehat memabukkan indranya.

Detak jantung Kinan berpacu liar. Ia tidak tahu apakah itu karena syok karena hampir jatuh atau karena kedekatan yang berbahaya ini.

Mata Kinan bertemu mata Liam. Tatapan mereka terkunci, intens, mendalam, dan kini tanpa kepura-puraan. Semua pesona dan godaan Kinan telah runtuh, digantikan oleh kerentanan murni. Di mata Liam, Kinan melihat sesuatu yang gelap dan berapi-api, bukan lagi ketertarikan yang sopan, melainkan hasrat yang membara dan dilarang.

Liam menahan napas. Ia tidak bergerak. Ia tidak melepaskan Kinan.

Wajah mereka semakin berdekatan.

Kinan tidak bisa bernapas. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa berpikir. Semua kehati-hatian, semua batas, semua rasa hormat pada kakaknya, menguap dalam asap tebal gairah yang tiba-tiba.

Liam memiringkan kepalanya sedikit.

Dan kemudian, dengan gerakan yang cepat, percaya diri, dan mendominasi, Liam menempelkan bibirnya ke bibir Kinan.

Ciuman itu lembut pada awalnya, hanya sentuhan, seperti pertanyaan. Tapi itu segera menjadi lebih dalam dan lebih mendesak, saat bibir Liam menuntut Kinan. Kinan, tanpa berpikir, tanpa perlawanan, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama. Rasa mint dingin dan maskulin dari napas Liam memenuhi mulutnya.

Ini bukan ciuman yang sopan. Ini adalah ciuman rahasia, ciuman gairah yang dilarang, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa apa yang terjadi di antara mereka dalam waktu kurang dari lima menit ini adalah nyata, berbahaya, dan tidak dapat ditarik kembali.

Ciuman itu berlangsung hanya selama beberapa detik, tetapi terasa seperti satu jam, atau seumur hidup.

Tiba-tiba, Liam menarik diri, terengah-engah, matanya gelap karena hasrat yang kini tercermin di mata Kinan. Ia masih memegang Kinan, menahan tubuhnya yang lemah.

"Kinan..." Suara Liam adalah bisikan serak, sebuah peringatan.

Kinan hanya bisa menatapnya. Bibirnya perih, jantungnya berdenyut.

Dan kemudian, sebuah suara terdengar dari ambang pintu dapur, mengakhiri momen berbahaya itu.

"Kinan? Liam? Kenapa kalian diam di situ? Kinan, ini, Kakak buatkan es lemon yang paling enak!"

Airin berjalan mendekat, ceria, tak menyadari apa pun.

Liam tersentak. Ia dengan cepat melepaskan Kinan, menarik tangannya seolah-olah kulit Kinan membakar. Kinan berdiri tegak dengan terhuyung, mengatupkan bibirnya yang basah.

"Oh, ini! Kami... eh, Kinan hampir jatuh, Sayang. Untung aku di sini," kata Liam, berhasil mengendalikan suaranya, tampak tenang, seolah tidak ada yang terjadi. Ia mengambil langkah mundur, menjauhkan dirinya dari Kinan.

Airin terkesiap. "Ya Tuhan, Kinan! Kamu tidak apa-apa? Kamu pakai sepatu hak setinggi itu di rumahku! Kakak sudah bilang hati-hati!"

Kinan tersenyum paksa, jantungnya masih berdebar kencang. Ia mengusap bibirnya dengan ibu jari, merasakan bekas bibir Liam yang masih hangat.

"Aku baik-baik saja, Kak," kata Kinan, suaranya sedikit bergetar. Ia menatap Liam, yang kini menghindari tatapannya, berpura-pura sibuk memeluk Luna yang baru datang kembali.

Namun, di antara keramaian itu, Kinan dan Liam tahu. Sebuah garis telah terlampaui. Kinan tahu kunjungannya ke Jakarta tidak akan pernah sama lagi.

Bab 2

Kinan menyesap es lemon buatan Airin. Rasa asam segar itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa terbakar di bibirnya atau kekacauan yang mendera benak. Liam telah menghilang ke ruang kerjanya setelah memastikan Airin benar-benar tidak curiga, meninggalkan Kinan dan kakaknya di ruang makan yang kini terasa terlalu terbuka dan cerah.

Airin, seperti biasa, terlalu sibuk mengurusinya untuk memperhatikan bahwa adiknya baru saja melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan dengan suaminya.

"Bagaimana, enak? Sudah lama kan tidak merasakan masakan atau minuman buatan Mama," kata Airin, duduk di seberang Kinan sambil menggenggam tangan adiknya erat-erat.

"Sangat enak, Kak," jawab Kinan, berusaha membuat suaranya terdengar normal. "Hanya Kakak yang bisa membuat rasa lemon seperti ini. Segar sekali."

Mereka berbincang ringan tentang masa lalu, tentang orang tua mereka yang telah tiada, dan tentang kehidupan Airin sebagai ibu rumah tangga. Airin bertanya banyak tentang Milan, Kinan menjawab dengan singkat, hanya menceritakan bagian-bagian yang berkilauan dan menyenangkan, menyembunyikan sisi gelap dan kesepiannya.

Setelah beberapa saat, Kinan tahu ia harus mengangkat topik tempat tinggal. Ini penting untuk menjaga jarak, terutama dari Liam. Jarak fisik mungkin bisa membantu Kinan mengembalikan batas-batas moral yang baru saja ia robohkan.

Kinan meletakkan gelasnya, menatap Airin serius. "Kak, soal kepulanganku..."

"Kenapa? Ada masalah? Kamu tidak jadi cuti panjang?" Airin langsung cemas.

"Tidak, bukan. Aku akan tinggal lama, beberapa bulan. Karena itu, aku harus mencari tempat. Aku sudah mencari beberapa opsi kostan di sekitar sini. Atau mungkin sewa apartemen kecil yang dekat pusat kota."

Airin terdiam, menatap Kinan dengan mata membulat tak percaya. "Kostan? Kinan! Kamu waras? Kamu baru pulang setelah lima tahun, dan kamu mau tinggal di kostan?"

"Kak, aku tidak mau merepotkan kalian. Aku bawa banyak barang. Lagipula, aku... pekerjaanku menuntut aku untuk sering pulang larut malam, atau pergi tiba-tiba. Aku tidak mau mengganggu rutinitas keluarga kecilmu. Rumah ini adalah kuil untuk keluarga Airin, Liam, dan Luna," Kinan menjelaskan, kata-katanya penuh alasan logis yang sesungguhnya hanyalah dalih. Dalih untuk menjauh dari pria yang baru saja menciumnya.

Airin menggeleng keras, seolah Kinan baru saja mengusulkan ide paling gila di dunia. "Kinan, dengarkan Kakak baik-baik. Ini bukan rumah kontrakan. Ini rumah kita. Sampai kapan pun, ini adalah rumahmu juga. Ada kamar kosong, kamar tamu di lantai atas yang bahkan belum pernah dipakai. Siapa bilang kamu merepotkan? Kamu adik Kakak satu-satunya. Kakak tidak akan membiarkanmu tinggal di tempat asing sendirian. Titik."

Airin begitu keras kepala, begitu penuh cinta, hingga Kinan merasa hatinya mencelos karena rasa bersalah. Bagaimana mungkin ia bisa membalas ketulusan ini dengan hasrat terlarang pada suami kakaknya?

"Tapi, Kak..."

"Tidak ada tapi-tapian. Kinan, jangan buat Kakak sedih. Kamu tinggal di sini. Masalah koper? Biar Kakak minta Liam panggil orang untuk mengangkatnya. Kamar itu besar, ada lemari empat pintu yang kosong. Kamu tidak mengganggu siapa pun."

Airin bangkit berdiri, matanya berbinar penuh tekad. "Ayo, kita tanyakan pada tuan rumah. Walaupun aku tahu jawabannya."

Airin melangkah cepat menuju ruang kerja Liam, yang pintunya tertutup rapat. Kinan hanya bisa menghela napas pasrah, mengikuti langkah kakaknya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Airin tidak akan menerima penolakan.

Airin mengetuk pintu tiga kali, lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. Liam sedang duduk di meja kerjanya, menatap layar laptop besar yang menampilkan deretan angka dan grafik yang rumit. Ia terlihat sangat profesional, seolah-olah momen di ruang keluarga tadi hanyalah mimpi buruk yang cepat berlalu.

Airin menghampiri Liam, sementara Kinan berdiri di ambang pintu, menghindari kontak mata.

"Sayang, maaf mengganggu. Aku mau tanya sebentar. Kinan ingin mencari kostan atau apartemen untuk tinggal selama di sini. Tentu saja aku melarangnya," kata Airin, nadanya menuntut persetujuan. "Dia harus tinggal di sini, kan? Kamar tamu di atas kosong. Bagaimana menurutmu?"

Liam mengangkat wajahnya dari layar. Matanya yang cokelat keemasan itu-mata yang beberapa menit lalu dipenuhi gairah gelap-kini tenang, kembali menjadi mata seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab. Ia menatap Kinan sekilas, tatapan yang singkat dan dingin, seolah menampik semua yang pernah terjadi.

"Ya, tentu saja," jawab Liam, suaranya kembali dalam dan normal. "Kinan adalah keluarga. Kamar tamu itu memang sudah disiapkan untuk tamu yang menginap lama. Silakan pakai, Kinan. Kamu tidak merepotkan sama sekali. Justru kami senang ada teman di rumah."

Nada persetujuan Liam begitu mudah, begitu santai, seolah ia benar-benar tidak terpengaruh oleh kehadiran Kinan, apalagi insiden ciuman yang memusingkan itu. Kinan merasa sedikit diremehkan. Apakah ciuman itu tidak berarti apa-apa baginya?

"Terima kasih, Liam," Kinan membalas, memastikan ia terdengar tulus, meskipun amarah kecil mulai timbul. "Aku benar-benar merasa tidak enak. Jadi merepotkan kalian."

"Tidak masalah. Anggap saja rumah sendiri," ujar Liam, tersenyum sopan. Ia kembali menatap layar laptopnya, memberikan sinyal bahwa percakapan telah berakhir.

Airin berseri-seri. Ia memeluk Liam di meja kerjanya. "Terima kasih, Sayang. Kamu memang suami terbaik!"

Airin menarik Kinan keluar dari ruang kerja itu sebelum Kinan sempat membalas tatapan Liam.

"Nah, sudah dengar sendiri, kan? Tuan rumah sudah setuju," kata Airin riang. "Ayo, kita lihat kamarmu!"

Mereka kembali ke ruang tamu. Airin dengan gesit meminta bantuan seorang pekerja untuk mengangkut semua koper Kinan. Lalu, ia memandu Kinan menaiki tangga.

Kamar tamu itu memang luas, dengan jendela besar menghadap taman belakang. Cat dinding berwarna mint lembut, dan perabotan kayu jati yang sederhana namun terawat. Jauh dari kemewahan minimalis modern yang biasa Kinan tinggali di Milan, tetapi terasa damai. Airin menunjukkan kamar mandi dalam, lemari pakaian empat pintu, dan laci meja rias.

"Airin harus kembali ke bawah. Luna harus tidur siang, dan aku harus menyiapkan makan malam. Kamu istirahat saja dulu. Buka koper, susun bajumu. Setelah itu, kamu mandi air hangat dan tidur, ya? Jangan sungkan, kalau perlu apa-apa, kamar Kakak di seberang," Airin berkata, lalu mencium pipi Kinan dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih, Kak. Aku akan beristirahat," balas Kinan.

Begitu Airin meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan lembut, Kinan berdiri di tengah kamar yang asing namun kini menjadi miliknya.

Keheningan melingkupinya. Keheningan yang menakutkan.

Kinan berjalan ke arah koper-kopernya yang berjejer. Ia membuka koper terbesarnya, isinya didominasi gaun-gaun malam, sepatu hak tinggi, lingerie sutra, dan pakaian-pakaian couture yang harganya bisa membeli seluruh perabotan di kamar ini. Kinan mulai menyusun pakaian-pakaian itu ke dalam lemari kayu yang polos. Sebuah kontras yang ironis. Pakaian untuk hidupnya yang serba glamor dan nakal, kini tersimpan di lemari rumah tangga yang tenang dan suci.

Saat tangannya memegang gaun backless hitam, kenangan itu menerjangnya tanpa peringatan.

Wajah Liam yang begitu dekat.

Kinan membiarkan gaun itu jatuh ke lantai. Ia menyentuh bibirnya lagi, seperti yang ia lakukan di ruang makan tadi. Sensasi ciuman Liam masih terasa jelas. Kekuatan tangannya di punggung Kinan, desakan bibirnya, dan yang paling mengerikan-respon liar Kinan sendiri.

Airin, kakaknya, menyambutnya dengan cinta dan kepercayaan penuh, dan ia hampir saja merusak semua itu demi beberapa detik gairah yang tidak terduga.

Aku harus pindah. Aku tidak bisa tinggal di sini.

Kinannya berpikir, namun ia tahu Airin tidak akan mengizinkannya pergi. Ia terjebak dalam perangkap cinta sang kakak, dan kini, dalam jerat rahasia dengan suaminya.

Saat Kinan menarik napas panjang, mencoba memaksakan logika kembali ke dalam kepalanya, ponselnya berdering nyaring di atas meja nakas. Notifikasi pesan masuk dari nomor asing. Kinan segera meraihnya.

Pengirimnya adalah Dion, manajer lamanya di Indonesia yang sempat ia hubungi beberapa minggu lalu.

Dion: Kinan, welcome back! You're the hottest thing in Milan right now. Ada projek besar di sini. Sesuai level kamu. Exclusive cover shoot.

Kinan: (Mengetik) Apa ini, Dion? Aku masih jet lag.

Dion: Majalah 'Noir'. Edisi khusus ulang tahun. Pemotretan konsep 'Forbidden Desire'. Kita butuh kamu. Kamu satu-satunya model di negara ini yang punya aura itu.

Kinan berhenti. Forbidden Desire. Judul yang ironis, mencerminkan persis apa yang baru saja ia alami di rumah ini.

Dion: Syutingnya besok pagi jam 10. Di studio lama. Kau mau? Bayarannya sangat besar, Kinan. Proyek 'coming home' yang sempurna.

Kinan menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Rambut berantakan, make-up sedikit luntur, tapi mata yang tajam dan bibir yang memerah. Di dunia fesyen, terutama di segmen majalah dewasa, Kinan adalah ikon. Ia adalah dewi keseksian yang berani, yang menjual mimpi-mimpi gelap.

Ia menarik napas, menegakkan bahu, mengambil gaun backless yang jatuh tadi, dan kembali memasukkannya ke lemari.

Kinan: Aku ambil.

Kinan: Kirim detailnya. Jam 10 pagi, kan? Aku akan datang.

Ia mematikan layar ponselnya. Kepalanya berdenyut.

Di satu sisi, ia adalah Kinan, model sexy terkenal, bintang majalah dewasa internasional yang akan memulai proyek rahasia besar di negara ini besok. Di sisi lain, ia adalah Adik Airin, tinggal di rumah keluarga yang damai, tempat ia harus berhati-hati agar tidak menabrak Liam di lorong.

Dua kehidupan yang sangat kontras, kini terikat dalam satu atap yang sama. Dan Kinan tahu, api kecil hasrat yang ia rasakan pada Liam akan menjadi ujian terbesar untuk kepulangannya kali ini.

Ia hanya harus memastikan bahwa api itu tidak membakar seluruh rumah.

Bab 3

Kinan tersentak bangun. Matahari pagi yang cerah menerobos tirai tipis kamar tamu, menyinari debu-debu yang menari di udara. Ia mengerjap, menyadari waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dua jam lagi sebelum pemotretan penting dengan majalah Noir.

"Astaga!" Kinan melompat turun dari tempat tidur. Setelah berbulan-bulan bangun pada siang hari di Milan, rutinitas pagi yang normal ini terasa seperti hukuman.

Ia bergegas menuju kamar mandi. Sambil menyalakan air hangat, ia melepaskan piyama sutra mahalnya yang hanya ditutupi sedikit kain. Tubuhnya terpampang telanjang di depan cermin, siluet seorang model profesional yang tajam dan menggoda.

Ia memutar keran shower ke posisi maksimal. Air dingin mengucur sesaat, lalu... tidak ada. Kinan memutar-mutar kepala keran dengan panik. Terdengar suara dengungan, tetapi air panas yang diharapkannya tidak keluar sama sekali. Hanya setetes demi setetes air dingin.

"Tidak, tidak, tidak!" Kinan menggeram frustrasi. Ia butuh mandi air hangat yang cepat untuk menghilangkan sisa jet lag dan mempersiapkan kulitnya sebelum dirias tebal. Tidak mungkin ia pergi ke pemotretan dalam kondisi berantakan seperti ini.

Dengan putus asa, Kinan mengambil handuk mandi besar berwarna putih yang disediakan Airin. Ia melilitkannya erat-erat di tubuhnya, memastikan kain tebal itu menutupi bagian atas payudara dan paha. Meskipun ia seorang model sexy, ia tidak ingin berkeliaran di rumah saudarinya dengan pakaian minimalis-apalagi setelah kejadian semalam.

Kinan membuka pintu kamar dengan hati-hati. Ia berjalan cepat menuruni tangga, berharap bisa menangkap Airin sendirian.

Namun, harapannya pupus.

Di ruang makan, Airin sudah duduk di meja, menyajikan sarapan dengan daster yang rapi. Di sebelahnya, Luna asyik mencoret-coret buku gambarnya. Dan di seberang Airin, ada Liam, rapi dalam kemeja kantor kasual, sedang membaca koran sambil menyesap kopi. Mereka adalah gambaran keluarga yang sempurna.

Kinan mendadak merasa sangat telanjang dan canggung. Ia berdiri di ambang pintu ruang makan.

"Pagi, Kinan! Wah, akhirnya bangun juga. Sini, gabung sarapan!" sapa Airin riang, tanpa menyadari keterkejutan adiknya.

Liam menurunkan korannya. Tatapannya langsung jatuh pada Kinan. Cahaya pagi yang lembut dari jendela memantul pada bahu telanjang Kinan, menonjolkan bentuk tubuh yang hanya tertutup oleh handuk putih itu. Kinan bisa merasakan tatapan Liam menyapu dari wajahnya, turun ke bahu, dan terhenti sebentar di lekukan payudaranya yang besar. Tatapan itu cepat, tetapi penuh pengakuan. Kinan melihat percikan gelap yang sama di mata Liam seperti yang ia lihat semalam. Liam terpesona.

Kinan segera menyilangkan tangan di depan dadanya. "Pagi, Kak, Liam, Luna," sapanya, suaranya agak serak. "Maaf, aku terpaksa mengganggu. Tapi... shower di kamar tamu sepertinya rusak, Kak. Airnya tidak mau mengalir. Padahal aku harus segera mandi."

Airin terkejut. "Ya ampun! Maaf sekali, Kinan. Itu shower baru dipasang, mungkin ada masalah pada pompanya." Airin menatap suaminya. "Sayang, bisa tolong Kinan? Dia harus segera pergi, katanya."

Liam meletakkan koran sepenuhnya. Ia berdiri. Gerakannya lambat, tenang, tetapi Kinan merasakan semua otot di tubuh Liam menegang karena terkejut sekaligus tertarik.

"Tentu saja," jawab Liam, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya. Ia melirik Kinan lagi, sebuah pandangan singkat, penuh hasrat yang tersembunyi. "Aku akan memeriksanya sekarang."

"Aku akan menunggumu di atas, Kakak," kata Kinan cepat, ingin segera mengakhiri adegan di depan Airin dan Luna.

Kinan bergegas kembali ke kamar. Ia berdiri di dekat pintu kamar mandi, menggigit bibir, mendengarkan langkah kaki Liam yang semakin mendekat. Ia harus tetap waspada. Ia harus menjaga batas.

Pintu terbuka. Liam masuk, memegang kotak peralatan kecil. Ia menatap Kinan, yang masih terbungkus handuk, di tengah ruangan.

"Di mana masalahnya, Kinan?" tanya Liam, berusaha keras terdengar profesional.

"Di sini," Kinan menunjuk kamar mandi. "Keran sudah diputar, tapi airnya tidak mau naik."

Liam masuk ke kamar mandi yang sempit. Kinan mengikuti dari belakang. Ruangan itu mendadak terasa sangat kecil dan panas dengan kehadiran mereka berdua. Liam berjongkok, membuka penutup keran dan mulai memeriksa mekanisme di belakangnya.

"Mungkin ada sumbatan kecil," gumam Liam.

Kinan berdiri diam di pintu, handuknya terasa semakin longgar. Keheningan itu sangat tegang. Kinan tahu ini adalah kesempatan berbahaya.

"Ini dia," kata Liam, setelah beberapa saat. Ia memutar kembali katup yang longgar. "Aku coba nyalakan. Kalau airnya menyala, jangan kaget, ya."

Liam memutar tuas shower dengan kuat.

Tiba-tiba, air dingin menyembur keluar dengan deras! Air yang kuat itu tidak hanya mengenai dinding shower, tetapi juga menyemprot tubuh Liam yang sedang berjongkok, dan juga Kinan yang berdiri tepat di sampingnya.

"Aah!" Kinan menjerit kaget.

"Maaf!" seru Liam, kaget dan basah kuyup.

Air dingin membasahi tubuh Kinan. Ia reflex mencoba melompat mundur untuk menghindari air, tetapi kakinya terpeleset pada ubin basah.

"Aduh!" Kinan terhuyung.

Dalam usaha mempertahankan diri, cengkeraman Kinan pada handuknya terlepas.

Handuk putih itu meluncur dari tubuhnya, jatuh ke lantai keramik yang dingin.

Kinan berdiri telanjang di depan Liam. Benar-benar telanjang.

Liam, yang masih basah dan terkejut, mendongak. Pandangannya terpaku. Ia melihat seluruh tubuh Kinan: kulitnya yang mulus, lekuk pinggangnya yang ramping, dan, terutama, payudaranya yang besar dan penuh, menggoda di hadapannya. Kilauan air membasahi tubuh Kinan, membuatnya terlihat seperti patung basah yang erotis.

"Ya Tuhan," bisik Liam, napasnya tercekat. Semua ketenangan yang ia coba pertahankan hancur. Matanya gelap, dipenuhi hasrat liar.

Kinan pura-pura panik, meskipun dalam hati ia tahu ini adalah ulahnya. Ia tahu handuknya memang longgar. "L-Liam... Maaf, aku..."

Liam bangkit berdiri, air menetes dari rambutnya. Ia melangkah maju. Satu langkah. Kinan mundur, terbentur dinding keramik yang dingin di belakangnya.

"Jangan bergerak," perintah Liam, suaranya serak dan nyaris tidak terdengar.

Liam meletakkan kedua tangannya di dinding di samping kepala Kinan. Kinan terperangkap, sepenuhnya, oleh tubuh besar dan basah Liam. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

"Aku tahu kamu sengaja," bisik Liam, matanya menuduh, tetapi bibirnya menolak tuduhan itu.

"Aku tidak... aku hanya kaget," balas Kinan, suaranya gemetar. Jantungnya berdebar kencang, antara rasa takut dan antisipasi.

Liam tidak memberi kesempatan Kinan berbicara lebih lanjut. Ia menundukkan kepalanya, dan bibirnya menyambar bibir Kinan.

Ciuman itu kasar, mendesak, penuh keinginan yang tertahan sejak semalam. Liam mencengkeram rahang Kinan, memiringkan kepala, dan melumat bibir adiknya itu dengan rakus, seolah ingin menghapus rasa bersalah dengan gairah. Kinan merespons liar, bibirnya terbuka lebar, mengundang lidah Liam.

"Mmmh... Sayang..." desah Kinan, memeluk leher Liam.

Ciuman itu panas, lidah mereka berperang, menukarkan rasa kopi dan mint yang bercampur dengan air dan hasrat. Kinan tahu ini gila, Airin ada di bawah, tetapi adrenalin dan gairah membius akal sehatnya.

Liam melepaskan bibirnya sejenak, meninggalkan jejak air liur basah dan memerah. Ciumannya turun, menghujani leher Kinan, meninggalkan jejak basah dan panas di kulit mulusnya.

"Ah, Liam..." Kinan mendongakkan kepala, memberikan akses pada Liam untuk mencumbunya lebih dalam.

Kemudian, dengan gerakan yang tidak terhindarkan, bibir Liam menemukan payudara Kinan. Ia menghisap puting Kinan yang sudah mengeras, seperti bayi yang lapar. Rasa sakit yang bercampur kenikmatan menyengat Kinan. Satu tangan Liam memegang pinggang Kinan, dan tangan lainnya dengan kasar namun terampil meremas payudara Kinan yang besar itu.

"Liam! Aku... Kakak di bawah! Stop!" Kinan memohon, suaranya tercekat antara hasrat dan rasa takut.

"Shhh... tidak ada yang akan tahu, Sayang. Nikmati saja," bisik Liam, suaranya dalam dan bergetar, tanpa menghentikan aksinya.

Ia mengangkat Kinan sedikit, menyesuaikan posisi mereka di dinding yang dingin. Tanpa melepas ciumannya di leher Kinan, tangan Liam yang tadinya meremas payudara, kini bergerak cepat ke bawah, menuju area terlarang.

Jari telunjuk Liam yang basah mencari celah, lalu dengan cepat menusuk lubang vagina Kinan yang sudah basah karena gairah.

"A-ah!" Kinan menjerit kecil, lebih karena kejutan daripada rasa sakit. Keintiman yang cepat ini membuatnya kewalahan.

Liam tersenyum nakal. "Sudah basah, Sayang..."

Kinan yang sudah terbius, mendadak menjadi nakal. Dengan sisa kesadaran yang ia miliki, Kinan menjangkau ke bawah, dan dengan cepat membuka resleting celana kantor Liam yang basah.

"Kalau begitu... kenapa cuma tangan?" Kinan balik menggoda, matanya penuh api.

Liam menggeram rendah, membuang celananya ke lantai. Kinan melihat penis Liam yang sudah tegak dan keras. Tidak ada waktu untuk bicara lagi. Liam mengangkat Kinan sedikit lagi.

"Sayang, tahan aku," perintah Liam.

Dan kemudian, dengan satu dorongan yang tegas dan mendalam, Liam memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Kinan.

"Aaaakh!" Kinan menjerit keras. Meskipun ia model dewasa, keintiman yang tiba-tiba ini terasa menyakitkan dan luar biasa.

"Shhh! Jangan berteriak, Kinan!" Liam memperingatkan.

"Sakit, Liam! Pelan-pelan, Sayang..."

Liam melonggarkan cengkeramannya, menarik napas dalam-dalam, dan mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan, lalu semakin cepat. Kinan melingkarkan kakinya di pinggang Liam, tubuhnya terangkat, punggungnya menempel erat pada dinding kamar mandi yang dingin. Kontras antara dinginnya keramik dan panasnya tubuh mereka menciptakan ledakan sensasi.

"Mmmmh... rasanya sangat sempit... Kinan..." desah Liam, wajahnya merah.

"Lebih cepat, Sayang... Aku akan terlambat!" pinta Kinan, suara gairahnya lebih keras dari ketakutannya.

Liam menggerakkan pinggulnya dengan kuat dan ritmis, menyerang Kinan dengan dorongan yang semakin dalam. Kinan mendesah dan mengerang, tubuhnya bergerak liar melawan Liam. Dinding kamar mandi menjadi saksi bisu keintiman terlarang mereka.

Setelah beberapa dorongan cepat dan brutal, Liam mengerang keras, membenamkan wajahnya di leher Kinan.

"Aku datang, Kinan!"

Liam mengeluarkan cairan spermanya yang panas dan kental, menyembur ke dalam rahim Kinan. Ia menahan tubuh Kinan erat-erat, membiarkan tubuhnya bergetar karena orgasme yang kuat. Kinan juga mengerang, merasakan kepuasan yang brutal dan cepat.

Mereka berdua terengah-engah. Basah oleh keringat, air shower, dan cairan gairah.

"Astaga, Liam..." Kinan berbisik, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Liam memaksakan dirinya untuk menjauh dari Kinan, wajahnya dipenuhi rasa bersalah, tetapi matanya masih gelap oleh hasrat. Ia dengan cepat menarik celananya ke atas.

"Cepat mandi, Kinan. Aku akan bilang Airin showernya sudah benar," kata Liam, suaranya dingin, kembali mengendalikan diri. Ia tidak menoleh lagi.

Kinan berdiri terhuyung, tubuhnya basah, gairah yang kuat masih membekas. Ia mengambil handuk yang jatuh. Air shower kini mengalir deras, seolah mengejek dirinya.

Liam keluar dari kamar, menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Kinan sendirian dengan kekacauan gairah dan rasa bersalah yang kini jauh lebih besar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED