Rindu kembali menatap tubuhnya di depan kaca sambil tersenyum-senyum kecil sesekali nampak ia memutar-mutar tubuhnya dan berlenggok ke kanan-ke kiri. Betapa bahagia rasa dalam hatinya sebuah hari yang sangat iya tunggu dan di idam-idamkan akhirnya datang jua.
Dengan gaun indah berwarna putih bermotif batik bergaya sarimpit yang iya kenakan nampak sangat cocok melekat ayu di tubuhnya. Tak lupa sanggul terpasang di atas mahkota rambut panjangnya yang biasa tergerai kini tertata rapi bak permaisuri sebuah kerajaan.
"Hem, anak Ibu jadi begitu cantik ya hari ini. Bahagianya yang mau menikah," kata sang ibu menggoda Rindu.
Rindu terus menatap cermin sambil meneliti tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambut, barangkali ada kekurangan agar bisa langsung ia benahi. Hari ini adalah hari spesial sekali seumur hidup bagi Rindu, iya tak mau ada kesalahan sekecil apa pun. Iya ingin tampil begitu cantik dan perfek di depan calon suaminya Rudi.
"Sudah-sudah, wes ayu (Sudah cantik), ayo Ndok (Sebutan untuk anak cewek dari ibunya dalam bahasa Jawa dari kata Genduk) orang-orang di luar sudah menunggu. Para tamu undangan Halimatul Arsy sudah pada hadir, penghulu pun sudah datang. Jangan biarkan Mas Rudimu menunggu terlalu lama," kata Sang Ibu menuntunnya keluar kamar menuju tempat akad yang terletak di ruang tamu rumahnya.
Disana ter gelar rapi tikar rajutan pandan dengan berbagai macam hidangan di atasnya. Di samping hidangan duduklah beberapa tamu undangan.
Di tengah ruangan terdapat meja kecil tempat surat-surat pernikahan dan buku nikah yang masih kosong diletakkan.
Pak Naip dan Pak Penghulu telah hadir duduk di satu sisinya. Sedangkan sisi yang lain duduklah seorang lelaki gagah nan rupawan bernama Rudi Antoko calon suami Rindu yang sangat terpukau melihat kecantikan alami calon istrinya. Saat Rindu keluar dari kamarnya seraya memakai gaun pengantin serba putih bergaya khas suku Jawa dengan sanggul di kepala.
Rindu berjalan perlahan menghampiri Rudi lalu duduk bersimpuh di sampingnya. Membuat mata Rudi begitu takjub dan tak kunjung berkedip melihat Rindu. Seakan Rindu adalah Bidadari turun dari kahyangan mampir ke bumi untuk iya cintai.
"Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh," ucap Pak Penghulu mulai membuka acara.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi wabarakatuh," jawab para saksi dan undangan yang hadir
"Baik mari kita mulai acara akad nikah ini," kata Pak penghulu seraya mengulurkan tangan pada Rudi. Rudi pun menyambut jabat tangan Pak Penghulu dengan rasa mantap dan tekad bulat.
"Bismillahirahmanirahim, Saya nikahkan dan kawinkan Rudi Antoko Bin Kasturi dengan Rindu Antika Binti Ahmadi dengan seperangkat alat Shalat dan uang sebesar sepuluh ribu dibayar tunai," kata Pak Penghulu mendeklarasikan akad nikah Rudi dan Rindu.
"Saya terima nikah dan kawinya Rindu Antika Binti Ahmadi dengan seperangkat alat Shalat dan uang sebesar sepuluh ribu dibayar tunai," jawab Rudi menerima ikrar sumpah setia sehidup semati bersama.
"Sah...," teriak Pak Penghulu pada seluruh saksi dan para undangan yang hadir.
Sah, Sah, Sah,
“Alhamdulillah,” teriak para undangan mengakhiri acara ijab kabul. Menandai awal baru bagi Rudi dan Rindu yang telah sah sebagai pasangan suami istri. Untuk berbagi suka dan duka bersama berbagi keluh-kesah bersama dalam mengarungi ombak samudra hidup di atas biduk perahu yang bernama rumah tangga.
Karena Indonesia masih tengah berada dalam masa pandemi jadi acara hanya diadakan sehari untuk akad sekalian syukuran tumpengan dalam bahasa Jawa. Itu pun tamu undangan dibatasi. Hanya tetangga sekitar rumah Rindu dan beberapa saudara saja dari pihak pengantin pria dan pihak pengantin wanita dengan melaksanakan protokol kesehatan yang ketat.
Nampak tamu yang hadir masih bercakap-cakap ditemani Rudi dan Pak Ahmadi ayah mertuanya, suasana begitu riuh kadang diselingi canda tawa di dalamnya. Tiada lupa hidangan serta bergelas-gelas kopi terhidang di hadapan para tamu undangan.
"Alhamdulillah acara berjalan lancar ya Pak Ahmadi. Cuaca pun sepertinya bersahabat terang-benderang Pak," ucap Pak RT sambil menikmati jajanan yang tersedia di sebuah piring kecil yang terletak di hadapannya.
"Ia Pak RT, Alhamdulillah Gusti Allah memberi rahmatnya sehingga acara berlangsung lancar tanpa kendala sesuatu yang berarti lagi pula ini berkat doa bapak-bapak semua," sahut Pak Ahmad juga tengah menikmati hidangan yang telah iya suguhkan untuk para tamu.
"Nak Rudi sekarang kerja dimanah?" tanya Pak RT pada Rudi yang sedari tadi hanya diam menyimak percakapan Pak RT dan Sang Mertua Pak Ahmadi.
"Saya sekarang sedang menggarap sawah Pak RT," jawab Rudi dengan penuh santun.
"Oh iya di desa Nak Rudi sedang tanam apa, sawahnya milik sendiri apa milik orang tua atau Nak Rudi menyewa?" tanya Pak RT sangat antusias dengan memberondong beberapa pertanyaan.
Iya selalu berapi-api jikalau ada anak muda yang mau bekerja sebagai petani meneruskan pekerjaan para orang tuanya terdahulu.
"Pak RT ini loh kalau bertanya suka diborong semua mbok ya satu-satu," kata Pak Ahmadi.
"Hahaha, habis saya sangat senang kalau ada pemuda yang mau bekerja di sawah melestarikan tradisi kita dahulu," ujar Pak RT.
"Sawah yang saya kerjakan milik saya sendiri kok Pak RT. Alhamdulillah tahun lalu ada rezeki untuk saya belikan sawah ya tidak luas Pak tapi saya bersyukur," kata Rudi tersenyum santun pada Pak RT.
"Bohong itu Pak sawah Nak Rudi sangat luas dua hektar," celetuk salah satu undangan yang hadir yang kebetulan pernah ikut membantu menjadi kuli disawah Rudi.
"Wah, wah, wah, ini, ini, berarti sampean (Anda) sangat beruntung Pak Ahmadi. Mendapatkan menantu yang sangat sopan dan santun serta rendah hati seperti Nak Rudi," kata Pak RT.
"Ah bukan saya yang beruntung Pak RT tapi Rindu yang beruntung mendapatkan suami seperti Nak Rudi sudah ganteng, sopan, rendah hati, sarjana pula," kata Pak Ahmadi memuji menantunya.
"Ah tidak Pak justru saya yang sangat beruntung mendapatkan istri Rindu.
Yang sangat ayu dan sangat patuh pada orang tuanya," kata Rudi kembali merendah dengan sopannya.
"Bisa saja kamu Nak Rudi," kata Pak RT sambil tertawa memukul pundak Rudi dengan niat bercanda.
"Aduh...," Rudi sontak berteriak kesakitan.
"Eh sakit ya maaf, maaf, masak juragan tidak tahan sakit, hahaha...," kata Pak RT menggoda Rudi.
Di dalam kamar Rindu tengah berganti pakaian di temani adik perempuannya Sekar yang tengah mematung memandangi kakaknya dengan tak henti-hentinya memuji kecantikan Rindu.
"Memang cantik," celetuk Sekar.
"Apa sih Dek?" sahut Rindu.
"Hehehe..., Duh senangnya Nyonya Rudi," ujar Sekar menggoda Rindu.
"Adek! kok julid ya sekarang," kata Rindu dengan gaya tolak pinggang melihat ke arah Sekar.
"Sebentar-sebentar kak," Sekar memutar-mutar tubuh Rindu.
"Memang Cantik kakakku ini pantas Mas Rudi termehek-mehek," kata Sekar terus menggoda Rindu.
"Adik....!" teriak Rensi dengan wajah cemberut karena terus di goda oleh Sekar.
"Kenapa, Ada apa Rindu?" kata Ibu Wulan yang baru masuk dari dapur.
"Ini Bu, Sekar menggoda aku terus," kata Rindu mengadu pada Ibu Wulan.
""Sekar!" kata ibu melirik pada Sekar pertanda bahwa Sekar harus menghentikan jailnya pada Rindu.
"Ia Ibu," jawab Sekar terdiam menyun.
"Sekar dengarkan Ibu Nak, Kakakmu sekarang sudah memiliki suami. Jadi kebiasaanmu yang sering merecoki Kakak kamu, yaitu sering keluar masuk kamar Kakakmu harus dihentikan sekarang. Sudah ada Mas Rudi kan takutnya nanti Masmu itu risi atau tidak enak hati," ujar Bu Wulan.
"Ah tidak Asyik ah Mas Rudi!" ujar Sekar seraya pergi mengeloyor begitu saja.
"Loh Dek, Sekar," panggil Rindu namun tidak di gubris oleh Sekar tetap pergi keluar kamar.
"Sudah-sudah, Adikmu satu itu memang begitu nanti biar Ibu yang menasihati. Sekar hanya belum dapat menerima kalau Kakak kesayangannya yang cantik satu ini di ambil Mas Rudi," kata Ibu Wulan menenangkan Rindu yang khawatir dengan Sekar yang tengah mengambek.
"Sekarang kalau Rindu sudah selesai berganti baju keluar ya Ndok temani suamimu menemui para tamu," ujar Ibu Wulan.
"Inggeh Ibu..," kata Rindu mulai melepas gaun pernikahannya untuk berganti memakai busana muslim yang telah di belikan Rudi sebagai hadiah pengantin pria terhadap pengantin wanita tadi pagi.
Rindu tampak gelisah di dalam kamar. Wajahnya semakin cemberut ditekuk layaknya cucian kucel. Terkadang ia merebahkan tubuhnya lalu bangun kembali duduk di depan meja rias. Sebentar-sebentar mengaca meneliti apakah masih ada yang kurang di dalam riasan dan dandanan baju yang ia pakai.
Rindu ingin terlihat teramat cantik dan sempurna di hadapan sang suami, karena malam ini adalah malam pertama mereka. Tapi seketika wajahnya tampak cemberut kembali. Sesekali ia melihat jam dinding yang terus berdetak tertempel di atas kepala ranjang agak ke atas.
Sudah pukul 23.00 rupanya, tapi Rudi belum jua masuk ke kamar untuk menemuinya. Satu hal yang membuatnya kesal ketika menunggu akan hadirnya malam pertama. Rudi tampaknya masih asyik mengobrol di ruang tamu dengan beberapa tetangga dan juga mertua lelakinya.
"Huh, jengkel-jengkel jadinya kenapa Mas Rudi tidak cepat masuk ke kamar. Apa iya lupa kalau malam ini malam pertama kita?" gerutu Rindu tampak tengah mengucek-ngucek ujung seprei dengan mulut tengah menyun agak jengkel.
Toktok,
Suara pintu kamar Rindu diketuk dari luar, "Rindu, Ibu masuk ya Nak?" kata Ibu Wulan minta ijin masuk kamar karena sedari tadi tengah mendengar Rindu yang sedang menggerutu.
"Masuk saja Bu," teriak Rindu.
Kriek, Kriek, Bek,
Pintu kamar Rindu terbuka dan Ibu Wulan mulai masuk kamar. Melihat anak gadisnya yang siang tadi baru melangsungkan pernikahan dalam posisi tengah cemberut di ujung ranjang pengantinnya. Ibu Wulan langsung menghampiri Rindu duduk di sampingnya memandangi Rindu dengan saksama.
"Ada apa Rindu kok cemberut begitu?" tanya Ibu Wulan.
"Mas Rudi Bu, masak tidak selesai-selesai mengobrol di depan?" celetuk Rindu dan Ibu Wulan hanya tersenyum geli melihat tingkah lucu anaknya tersebut.
"Kok ibu malah ketawa?" tanya Rindu heran melihat ibunya yang malah tertawa.
"Ya kamu aneh Rin, kayak baru kenal Masmu Rudi saja dari dulu kan kalau iya ketemu Bapakmu dan mengobrol bersama Sampek subuh juga betah," kata Ibu Wulan mengingatkan Rindu.
"Ya itu kan kalau hari biasa Bu," celetuk Rindu.
"Memang hari ini hari apa, hari apa ya?" ucap Ibu Wulan sambil melihat ke langit-langit berpura-pura lupa menggoda Rindu.
"Hem, Ibu jahatnya, Malam ini malam...," kata Rindu tidak melanjutkan kata-katanya karena malu pada ibunya takut ketahuan kalau iya sudah tidak tahan lagi ingin bermesraan berdua di atas ranjang bersama Rudi.
"Hayo, Ketahuan sudah tidak sabar ya Neng?" kata Ibu Wulan lagi-lagi menggoda Rindu.
"Ibu jahat loh dari tadi kok mengejek Rindu terus," kata Rindu wajahnya tampak memerah tersipu malu.
"Assalamualaikum Dik, Eh ada Ibu," kata Rudi yang baru datang masuk ke dalam kamar.
"Nah ini Masmu Rudi sudah datang. Masak istrimu ini dari tadi uring-uringan terus Rud,'' kata Ibu Wulan mengadu pada Rudi.
"Loh kenapa Dik?" tanya Rudi sembari ikut duduk di ranjang samping Rindu dan membelai kepala Rindu yang masih tertutup kain hijab warna merah jambu.
"Tahu tuh Nak Rudi katanya sudah kebelet," celetuk Ibu Wulan kembali menggoda Rindu sambil mengedipkan mata pada Rudi.
"Ibu...! Kan, kan dari dulu selalu mengadu sama Mas Rudi, Rindu kan malu Ibu," teriak Rindu sambil menutup muka.
"Ya sudah Ibu tak keluar dulu nanti malah tidak mulai-mulai lagi adegan penuh sensornya kalau Ibu masih di sini," kata Ibu Wulan menutup bibirnya tertawa geli mengejek Rindu.
"Ibu kok bicaranya begitu, malu ada Mas Rudi," kata Rindu.
"Hahaha, kalian serasa baru kemarin bermain di pelataran rumah ini begitu riang yang masih begitu kecil tidak ibu sangka kalian berjodoh. Kau Rudi yang sedari kecil sudah anggap anak ibu sendiri. Nyatanya memang saat ini menjadi anak ibu juga, ya sudah ibu keluar jangan lupa kunci pintu. Nanti adikmu Sekar itu suka lupa kalau kakaknya sudah menikah main selonong masuk lagi kan bahaya," kata Ibu Wulan lalu pergi keluar kamar seraya di ikuti Rudi untuk menutup pintu.
"Ada apa sih istriku yang cantik ini kok cemberut begitu?" kata Rudi sambil memegang dagu Rindu melihatnya kanan dan kiri.
"Habisnya Mas Rudi tidak masuk-masuk kamar Rindu kan kesel. Sekarang malam pertama kita Mas masak lupa. Malah mengobrol sama bapak lama sekali tidak selesai-selesai, sampai berlumut Adek menunggu Mas," kata Rindu masih dengan wajah yang ditekuk seperti kain basah.
"Hahaha, Dik, Dik, Mas tidak enak kalau langsung ke dalam karena Bapak belum tidur dan tadi juga ada Pak Lurah Adi teman Mas. Alhasil Mas harus menemani
sampai mereka berpamitan. Masak ya Mas harus menyuruh mereka pulang kan tidak enak nanti disangka Mas mengusir mereka lagi," kata Rudi menjelaskan.
"Sudah jangan di tekuk begitu ah, Mas tinggal tidur ini," kata Rudi menggoda Rindu.
"Ah, Ah, Jangan loh," kata Rindu tampak manja.
"Sekarang Mas ajari Adik melaksanakan kewajiban sebagai istri di malam pertama yang baik dan benar. Seperti yang pernah Mas bilang secara syariat agama yang dianjurkan Rasullah SAW," kata Rudi sambil mengelus bibir tipis Rindu.
"Iya Mas, Adik manut saja apa kata Mas," kata Rindu tersipu-sipu malu.
"Sekarang yuk kita ambil wudu dahulu terus kita laksanakan dua rakaat Shalat sunat. Habis itu Mas mau khatamkan surat Yusuf dahulu. Adik khatamkan surat Mariyam ya, agar bakal anak kita kelak bila laki-laki setampan Nabi Yusuf. Bila perempuan secantik Siti Mariam begitu pun akhlaknya baru kita lakukan untuk hubungan suami istri Dik," ujar Rudi menerangkan.
"Iya Mas, maaf ya Mas tadi Adik sempat uring-uringan," kata Rindu.
"Halah Mas loh tidak marah Dik. Buat apa marah Mas memaklumi memang hasrat dan Nafsu wanita memanglah lebih besar dari laki-laki, tapi rasa malu yang baik yang dapat menutupinya sehingga lelaki yang tidak memiliki rasa malu jadi seakan lelakilah yang berhasrat melebihi kaum wanita," kata Rudi memberi pengertian pada Rindu.
"Ye, Rindu punya suami yang cerdas, hehe..," celetuk Rindu tertawa manis.
"Mengejek-mengejek! Membalas Mas ini ceritanya," kata Rudi.
"Loh, loh enggak Mas jangan marah loh sayang, kamu kalau marah seram Adek takut," kata Rindu merayu Rudi.
"Sudah yuk cepat bergantian mengambil wudu," kata Rudi seraya Rindu berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi yang menjadi satu di dalam kamarnya.
Seusai Shalat sunat dua rakaat dan surat Maryam serta surat Yunus telah dikhatamkan. Rindu duduk di tepian ranjang pengantin melepas hijab yang menutupi mahkota rambunya yang tampak panjang mulai tergerai sedangkan Rudi tengah memperhatikan Rindu duduk di sampingnya.
"Mas tolong buka reseleting belakang baju Adik," pinta Rindu karena Rindu tengah masih memakai baju gamis kesukaannya.
Serit,
Suara reseleting terbuka dan aktivitas malam pertama di mulai dengan harmoni dan indahnya secara islami dan syariat yang dianjurkan Rasullah. Malam itu pun Rindu dan Rudi tengah tenggelam dalam madu cinta mereka menyelami lautan asmara manisnya malam pertama.
Enam tahun yang lalu,
"Rindu, bangun!" teriak Ibu Wulan dari arah dapur membangunkan Rindu yang masih tidur di kamarnya.
"Ia Bu," sahut Rindu masih dengan bermalas-malasan terbaring di kasur menggerakkan badanya sambil menguap.
"Kamu itu anak gadis kok bangunnya siang bagaimana nanti kalau sudah jadi istri orang. Apa kata mertuamu nanti melihat kamu yang ogah-ogahan," teriak Ibu Wulan mengomel sambil memotong sayuran untuk dimasak pagi ini.
"Cerewet ah Ibu ini kalau aku nikah nanti ya aku rubah enggak bangun siang lagi" gerutu Rindu dengan rasa yang masih mengantuk mulai turun dari kasur berjalan ke arah kamar mandi. Kebetulan kamar mandi tepat di sebelah dapur tempat Ibu Wulan memasak.
"Apa hari ini kamu tidak kuliah cepat mandi?" kata Ibu Wulan yang melihat Rindu berjalan gontai ke arah kamar mandi.
"Ia ibu," sahut Rindu mengambil handuknya yang berada di sampiran pas di belakang ibunya lalu menuju kamar mandi.
"Kalau mandi jangan lama-lama kayak putri keraton saja. Itu sudah ada Nak Rudi di depan menjemputmu," kata Ibu Wulan.
Dalam hati Rindu terkejut kenapa Rudi menjemputnya pagi-pagi tidak biasanya, "Loh Bu, kenapa Mas Rudi kesini. Dia kan tidak ada kelas hari ini?" kata Rindu.
"Kemarin Bapakmu yang meminta tolong. Kalian kan kuliah di kampus yang sama, apa lagi kemarin kamu digodai anak berandal yang suka nongkrong di depan pertigaan ujung desa jadi bapakmu khawatir. Terus mintak tolong Nak Rudi supaya kamu ada yang jagai," ujar Ibu Wulan.
"Kan jadi merepotkan Mas Rudi Bu," teriak Rindu dari dalam kamar mandi.
Byur, Byur, Byur,
Terdengar suara Rindu tengah mengguyurkan air dari gayung yang terbentuk dari batok kelapa.
"Sudahlah kamu menurut saja sekali-kali kenapa sih, ini semua demi kebaikanmu juga. Nanti kalau kamu diapa-apain para berandal itu bagaimana? kalau ada Nak Rudi kan bapak dan ibu jadi tidak khawatir. Lagian kamu kan jadi tidak menggoes sepeda lagi bareng Nak Rudi dibonceng naik motor," teriak Ibu Wulan yang mulai menumis sayuran yang ia potong.
"Ibu ini jadi merepotkan anak orang kan," kata Rindu keluar kamar kecil dengan masih memakai handuk yang dipakai menutupi badanya dibuat kembeng lalu bergegas menuju kamarnya kembali.
"Punya anak gadis satu cerewet amat. Yang satunya lagi adiknya apa lagi waduh pusing," kata Ibu Wulan menepuk jidat.
Diluar rumah Rudi tengah menunggu Rindu di teras sedang duduk di atas kursi panjang dari kayu sambil menikmati kopi yang dibuatkan Ibu Wulan beberapa saat yang lalu.
Sedangkan Pak Ahmadi tengah menjemur gabah atau padi hasil panen sawahnya yang tak seberapa luas tapi cukup untuk makan sekeluarga.
Nampak Pak Ahmadi sedang mengurai padi di atas terpal di pekarangan depan pas di depan Bagus yang tengah duduk. Terdengar sayup-sayup Pak Ahmadi riang menyanyikan syair Jawa kuno peninggalan para sunan atau wali Songgo dengan wajah nampak semringah, karena pagi yang begitu cerah dan mulai panas.
"Turi putih Turi putih
Ditandur Ning Kebon Agung
Ono Cleret Tibo Nyemplong
Tibo Nyemplong
Mbok Iro Kembange Opo
Mbok Iro Kembange Opo,"
"Lagu apa Pak itu kok saya belum pernah dengar?" kata Rudi memperhatikan Pak Ahmadi mengurai padi di atas terpal.
"Loh Nak Rudi belum pernah dengar syair-syair Jawa kuno toh," kata Pak Ahmadi masih dengan memegang sorok dan masih mengurai-urai padi yang ia jemur.
"Belum Pak, lagu apa itu Pak?" kata Rudi tak mengerti.
"Oalah anak jaman sekarang memang tidak mengenal lagi syair peninggalan para wali Songgo ya," kata Pak Ahmadi.
"Ceritakan Pak tolong beritahu saya syair itu bercerita tentang apa dan siapa penciptanya. Agar saya sebagai anak muda zaman sekarang tidak melupakan para pendahulu," jawab Rudi tersenyum hormat.
"Oh iya, iya sebentar Bapak mau menyeruput kopi dulu," kata Pak Ahmadi ikut duduk di samping Rudi mengambil segelas kopi yang terletak di atas meja depan mereka lalu meneguknya.
"Syair Turi Putih adalah syair Jawa kuno Nak Rudi peninggalan Kanjeng Sunan Giri dan Kanjeng Sunan Ampel. Dimanah syair ini berisi tentang petuah bijak akan kematian," kata Pak Ahmadi.
"Loh kok bisa tentang kematian pak, apa hubungannya bunga turi putih sama kematian?" tanya Rudi nampak penasaran.
"Begini Nak Rudi Turi Putih di sini diartikan Turi berarti tak aturi yang berarti dalam bahasa Indonesia sini aku beri tahu. Putih yang berarti kain putih ya kain kafan untuk orang meninggal," kata Pak Ahmadi menjelaskan.
"Terus-terus pak," kata Rudi semakin berminat menyimak dengan rasa penuh keingintahuan.
"Di tandur ning Kebon agung artinya ditanam di kebun besar ya pemakaman itu Nak Rudi," kata Pak Ahmadi.
"Maksudnya bagaimana Pak?" kata Rudi tak begitu mengerti.
"Maksudnya kuburan atau pemakaman di sini di umpamakan seperti kebun tanamannya ya si mayat itu. Bagaimana tidak dalam ayat Alquran kan sudah di jelaskan saat kiamat nanti di Padang Maksar semua yang mati akan dihidupkan lagi layaknya tumbuhan yang baru bertunas," kata Pak Ahmadi.
"Oh iya, ya Pak," kata Rudi mengangguk tanda setuju.
"Lalu Pak, lalu apa lagi arti selanjutnya?" tanya Rudi semakin antusias mendengarkan petuah dari arti Turi Putih.
"Ono cleret tibo nyemplong yang artinya ada kilat jatuh nyemplong atau dalam bahasa Indonesia begini. Hidup ini sementara seperti datangnya kilat cepat sekali tahu-tahu sudah jatuh di liang kubur begitu Nak Rudi," kata Pak Ahmadi menuturkan pada Rudi.
Sementara Rindu masih di dapur tengah menikmati sarapan sepiring nasi dan telur ceplok kesukaannya.
"Rindu Nak Rudi itu ganteng ya," celetuk Ibu Wulan sambil mengulek sambal di atas cobek atau layah kecil tempat membuat sambal dengan cara tradisional.
"Uhuk... Uhuk...," suara Rindu tersedak mendengar perkataan Ibunya.
"Pelan-pelan sayang jangan buru-buru makanya ini minum dulu," kata Ibu Wulan menyodorkan air putih satu gelas pada Rindu lantas Rindu meminumnya.
"Apa tidak sebaiknya kamu pacari saja itu Nak Rudi," kata Ibu Wulan sambil menyenggol-nyenggol bahu Rindu dan mengedip-ngedipkan mata menggodanya.
"Ibu....," teriak Rindu namun mukanya nampak jadi memerah karena malu.
"Halah, kamu pasti juga demen kan, ia kan?" kata Ibu Wulan masih menggoda anak gadisnya itu.
"Tahu ah Bu," kata Rindu menyelesaikan sarapan pergi ke tempat cucian piring hendak mencuci piring bekas ia gunakan sarapan.
"Mbak Rindu," kata Sekar yang tiba-tiba ada di depan Rindu.
"Eh kamu Dik jangan mengageti Mbak begitu ah Kamu ini sudah kayak hantu saja tiba-tiba ada," kata Rindu menaruh piring di rak Piring yang telah ia cuci.
"Kata Bapak Mbak Rindu di suruh buru-buru sudah ditunggu Mas Rudi," kata Sekar.
"Iya, ia," sahut Rindu bergegas pergi ke depan menemui Rudi.
"Mbak Rindu...!" belum beberapa lama Rindu berjalan Sekar memanggilnya lagi.
"Apa sih Dek...!" jawab Rindu menoleh.
"Kalau Mbak Rindu tidak mau biar Mas Rudi buat Sekar saja ya hehehe," ucap Sekar tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Waduh ganjennya Adik Mbak," kata Rindu bergegas kembali pergi ke depan rumah sambil mengambil tas yang ditaruh di atas meja ruang tengah.
"Nah itu Rindunya Nak Rudi," celetuk Pak Ahmadi melihat Rindu keluar dari pintu depan.
"Mas Sudah lama ya, maaf ya Rindu tadi sarapan dulu, Mas Rudi sudah sarapan?" kata Rindu seraya menyalami tangan Rudi.
"Belum lama kok Dik, terima kasih ya Mas sudah sarapan kok," kata Rudi bosa-basi.
"Bohong itu Rindu sudah sejam Nak Rudi di sini kamu kelamaan Ndok (Sebutan anak perempuan oleh orang tuanya)," kata Pak Ahmadi.
"Tidak apa-apa Pak lagian aku juga lagi tidak ada kelas," sahut Rudi.
"Maaf ya Mas jadi merepotkan Mas Rudi," kata Rindu.
"Tidak apa-apa Dik kita kan teman sedari kecil. Apa lagi Pak Ahmadi teman Bapakku juga," kata Rudi.
"Ya sudah ayo berangkat Mas?" kata Rindu berpamitan pada Pak Ahmadi menyalami tangannya lalu mencium punggung tangan Pak Ahmadi di ikuti Rudi melakukan hal yang sama.
"Pak Rindu berangkat kuliah dulu," kata Rindu berpamitan.
"Ia Ndok, Nak Rudi pelan-pelan bawa motornya?" kata Pak Ahmadi pada Rudi yang sudah berada di atas Motor lalu Rindu naik di belakang membonceng duduk menyamping.
"Tidak berpamitan sama Ibu Dik," kata Rudi.
"Bu..., Rindu berangkat," teriak Rindu.
"Ia hati-hati," terdengar Ibu Wulan menyahut dari dalam dengan berteriak.
"Eh Dik jangan begitu dong tidak baik masak teriak-teriak," kata Rudi.
"Hehehe, lain kali tidak eh, Adik sudah hampir telat Mas ayo berangkat," kata Rindu.
Rudi pun mulai menyalakan motornya lalu roda-roda motor Rudi mulai bergerak maju meninggalkan pelataran depan rumah Rindu menyusuri jalanan utama kampung menuju kampus yang berada di tengah kota Jombang.