Bab 2

Tiga tahun lalu, ayah Kirana gagal dalam bisnisnya dan akhirnya terkubur di dalam tumpukan utang. Banyak kreditur yang datang menghampiri mereka untuk meminta uang mereka kembali. Untuk melunasi utang mereka sesegera mungkin, Keluarga Tjandra tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan dari Keluarga Hendrawan, karena kedua keluarga telah membuat kesepakatan bertahun-tahun yang lalu untuk menikahkan anak-anak mereka. Mereka berharap Kirana akan menikah dengan Reza, dan Keluarga Hendrawan akan memberi mereka sejumlah besar uang untuk membantu mereka melewati krisis ini.

Keluarga Hendrawan adalah keluarga yang kaya dan berkuasa, tetapi Reza Hendrawan adalah seorang playboy terkenal.

Kirana belum pernah bertemu dengan Reza sebelumnya, dan ada pria lain yang sedang disukainya saat itu. Awalnya, dia menolak ketika ayahnya memintanya untuk menikah dengan Reza. Tapi kemudian, ayahnya mengancamnya menggunakan ibunya yang sakit jiwa. Pada akhirnya, Kirana tidak punya pilihan lain selain menyetujui perintah ayahnya.

Sebelum pernikahan itu berlangsung, Keluarga Hendrawan dan Keluarga Tjandra telah mengatur pertemuan agar Kirana dan Reza bertemu.

Kirana merasa sangat enggan saat datang ke rumah Keluarga Hendrawan.

Hari itu, matahari bersinar begitu terik. Ketika Kirana melihat Reza untuk pertama kalinya, mata pria itu dipenuhi dengan ketidaksabaran. Namun, pria itu tetap terlihat sangat menarik. Pria itu mengingatkannya pada Romeo dari kisah cinta klasik.

Kirana merasakan jantungnya berdebar begitu kencang dan telapak tangannya menjadi basah saat Reza berjalan mendekatinya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa calon suaminya adalah pria yang sama dengan pria yang telah dia sukai selama bertahun-tahun lamanya.

Dia masih bisa mengingat dengan jelas percakapan pertama di antara mereka selama sore yang tenang itu. Dia menyapa Reza dengan nada gembira, "Halo. Perkenalkan aku adalah Kirana Tjandra, calon istrimu."

Reza mendengus saat menanggapi perkenalannya. Dia duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya yang panjang dan berkata dengan nada dingin, "Kirana Tjandra? Terserah kamu saja. Sejujurnya, kakekku sedang sakit parah dan hanya bisa terbaring di atas ranjang. Kakekku ingin memiliki cicit sebelum dia meninggal. Aku tidak akan menikah denganmu jika kakekku dalam keadaan sehat. Keluargaku akan memberi keluargamu sejumlah uang untuk menyelesaikan masalahmu. Tapi setelah kita menikah, kita hanya akan menjadi suami dan istri yang sah secara hukum. Jangan harap aku akan mencintaimu atau peduli padamu. Tugasmu hanya untuk menghasilkan ahli waris untuk Keluarga Hendrawan. Apakah semua itu jelas untukmu?"

Kirana menatap matanya yang dingin dan tanpa emosi dan tahu bahwa pria itu sama sekali tidak menyukainya.

Tapi dia tetaplah Reza Hendrawan, pria yang dicintainya selama ini.

Ini adalah satu-satunya cara untuk dia bisa mendekati pria itu.

Dia akhirnya menikah dengan pria itu dengan penuh harapan. Dia mencoba yang terbaik dalam rumah tangganya. Dia bersikap baik padanya dan mencintainya. Selalu berharap bahwa mungkin suatu hari nanti pria itu akan memiliki perasaan untuknya.

Namun, ternyata dia salah besar.

Dalam tiga tahun terakhir, dia telah mengabdikan seluruh hatinya untuk pria ini. Dia bangun pagi-pagi setiap harinya untuk menyiapkan sarapan untuknya. Dia melakukan segalanya untuk pria itu, tetapi pria itu memperlakukannya seperti setitik debu sebagai imbalannya.

Pria itu sama sekali tidak ingat hari ulang tahunnya ataupun ulang tahun pernikahan mereka. Dia tidak pernah datang ke acara keluarga ketika para tetua merayakan ulang tahun mereka dan mereka seharusnya muncul di pesta itu bersama. Ada saat ketika dia mengalami sakit perut yang sangat parah sampai-sampai dia hanya bisa menggigil dan meringis. Ketika dia menelepon Reza, pria itu hanya memberitahunya melalui telepon, "Aku sangat sibuk sekarang. Jangan hubungi aku jika tidak ada hal yang mendesak."

Kemudian dia menutup telepon.

Pada saat itu, dia berjuang setengah mati untuk bisa sampai ke rumah sakit sendirian. Dia menandatangani dokumen-dokumen rumah sakitnya sendiri dan menyewa seorang perawat untuk merawatnya. Dia kembali ke rumah sendirian setelah dia keluar dari rumah sakit. Reza tidak pernah repot-repot bertanya di mana dia berada saat itu. Dia bahkan tidak yakin pria itu menyadari bahwa dia tidak pulang selama berhari-hari.

Namun, Reza sangat peduli pada Nita Setiadi.

Dia mengatur setiap masalah sepele untuk wanita itu.

Ketika Kirana menikah dengan Reza, dia bertemu dengan Nita, kakak ipar Reza.

Reza, kakak laki-lakinya, dan Nita adalah teman masa kecil dan mereka tumbuh besar bersama. Baik Reza dan kakaknya jatuh cinta pada Nita, tetapi Nita memilih kakak Reza untuk menjadi suaminya. Kemudian, kakaknya mengalami kecelakaan dan terluka parah. Sejak saat itu, kesehatannya memburuk. Setelah kakaknya dan Nita menikah, mereka berdua memilih untuk tinggal di luar negeri.

Sayangnya, kakak Reza akhirnya meninggal. Reza pergi ke luar negeri untuk membawa pulang abu kakaknya. Dia juga membawa Nita kembali ke kota itu bersamanya dan memberinya salah satu apartemennya untuk ditinggali.

Setiap kali sesuatu terjadi pada Nita, Reza akan langsung menemuinya.

Mereka berdua selalu bersama seolah-olah mereka adalah pasangan nyata, sementara Kirana, istri sah Reza, seakan-akan seperti orang asing baginya.

Kirana telah menghibur dirinya sendiri bahwa Nita hanyalah kakak ipar Reza. Reza tidak akan pernah berselingkuh dengan wanita itu.

Namun, suatu hari, dia menerima sebuah foto dari Nita. Di dalam foto itu, Reza mengenakan celemek dan sedang memasak di dapur. Kirana telah menikah dengan Reza selama tiga tahun, dan tidak sekali pun pria itu menyiapkan makanan untuknya.

Kirana tidak ingin memercayainya, jadi dia memutuskan untuk pergi mengunjungi Nita.

Reza yang membukakan pintu untuknya. Dia berdiri di pintu dengan mengenakan kemeja putih sederhana. Dia menatapnya dan bertanya dengan nada dingin, "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"

Nada suaranya terdengar penuh dengan rasa jijik. Dia berbicara padanya seolah-olah kehadirannya saja telah merusak seluruh harinya.

Nita berdiri di belakangnya, dan wanita itu hanya mengenakan handuk mandi yang melilit tubuhnya. Nita mengedipkan mata pada Kirana dengan sebuah seringai nakal.

Kirana menatap pemandangan yang ada di depannya. Dia tidak bisa memercayai matanya.

Nita adalah kakak ipar Reza. Bagaimana dia bisa berada di ruangan yang sama dengannya dengan mengenakan pakaian seperti itu?

Kirana menunggu sampai air matanya keluar, tapi dia sama sekali tidak merasakan apa-apa saat melihat mereka. Dia pikir dia akan marah saat melihat Reza dan Nita dalam situasi seperti itu, tapi dia bersikap tenang.

Mungkin karena Reza telah mengecewakannya berkali-kali sehingga dia telah kehilangan semua harapan. Semuanya sudah berakhir. Dia membalikkan badannya dan berjalan pulang.

Bab 3

Kirana membuka matanya saat sinar matahari pagi pertama masuk ke dalam kamar melalui tirai gorden. Saat itu fajar sudah menyingsing. Sudah waktunya untuk memulai hari baru, dan kehidupan baru baginya.

Seperti yang telah dia lakukan setiap pagi sejak menjadi istri Reza, dia mengambil pakaian yang akan dipakai oleh Reza untuk hari itu, menyetrikanya, dan meletakkannya di sofa. Kemudian, dia turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan untuk pria itu.

Secangkir kopi panas, sebutir telur goreng, dan sepotong roti panggang dengan mentega. Semua makanan itu adalah favorit Reza.

Setelah itu, dia berjalan naik ke atas. Reza sudah bangun saat itu. Dia sedang memakai celananya. Sabuknya yang belum diikat tergantung di pinggangnya. Kirana tersipu saat memikirkan apa yang terjadi kemarin malam.

"Kamu kelelahan kemarin malam, dan kamu bangun pagi-pagi sekali. Kamu harus kembali tidur setelah aku pergi nanti." Reza berbicara sambil membelakanginya dengan suara lembut tapi terasa jauh seperti biasa.

Kirana menundukkan kepalanya dan mencengkeram ujung renda celemeknya. Dia menggosokkan jarinya ke celemeknya berulang-ulang. Telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat dan dia merasa semakin gugup.

Dia mengambil napas dalam-dalam dan akhirnya memutuskan untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.

"Ayo kita bercerai," gumamnya. Mengeluarkan tiga kata itu dari mulutnya sepertinya telah menghabiskan seluruh kekuatannya.

Setelah jeda singkat, Reza terus memasang setiap kancing kemejanya. Kemudian dia memakai kancing mansetnya dan arlojinya.

"Reza, kamu tidur denganku agar aku bisa melahirkan ahli waris untuk Keluarga Hendrawan, yang merupakan keinginan kakekmu, 'kan?"

Kirana bahkan masih belum mau menyerah saat ini. Seks kemarin malam itu nyata dan begitu juga kenikmatan yang dirasakannya. Mungkin satu-satunya yang salah di sana adalah perasaannya pada Reza. Dia mulai membayangkan bahwa bahkan hanya untuk sesaat, mungkin Reza benar-benar mencintainya.

Reza berdiri kaku untuk beberapa saat, dan kemudian dia mengerutkan kening.

"Bukankah kamu sudah mengetahui semuanya dengan jelas?"

Detik berikutnya, dia melihat Kirana menganggukkan kepalanya sambil memasang senyum pahit di wajahnya.

Di dalam ingatannya, Kirana adalah wanita yang selalu patuh dan ramah. Namun hari ini, wanita ini sepertinya telah berubah menjadi orang lain.

Kirana menurunkan pandangannya dan menjawab, "Ya, aku mengetahui segalanya dengan sangat baik. Aku tahu kamu tidak pernah menyukaiku. Kamu membenciku. Setiap detik bersamaku adalah siksaan bagimu."

Sinar matahari menyinari wajahnya yang pucat.

Reza melihat sikap dingin dan tegas di wajahnya.

"Jadi mulai sekarang, kamu tidak perlu menoleransiku lagi. Mari kita akhiri saja pernikahan ini. Aku akan meninggalkanmu seperti yang kamu inginkan."

Dia memilih untuk pergi agar Reza dan Nita akhirnya bisa bersama.

Kirana tidak lagi ingin menjadi orang ketiga di antara mereka. Dia lelah merasa seperti badut yang tidak dihargai di wilayah suaminya sendiri. Dia merasa sudah cukup mengemis untuk cinta yang pantas dia dapatkan.

Dia akan membiarkan Reza pergi darinya. Pria itu tidak lagi perlu tidur dengannya sambil memikirkan wanita lain pada saat yang bersamaan.

Terkadang, ketika dia mabuk, dia bahkan akan memanggilnya dengan nama wanita lain.

Tiga tahun terakhir ini terasa seperti mimpi. Namun, sekarang saatnya bagi Kirana untuk bangun. Dia tidak ingin menipu dirinya sendiri lagi lebih jauh dari pada sekarang.

Reza merasa terkejut pada awalnya, dan kemudian, dia memandang Kirana dengan tatapan jijik.

Sejak mereka menikah, wanita ini telah berusaha untuk menyenangkannya dan berharap dirinya akan jatuh cinta padanya. Akan tetapi, dia juga telah membuat segalanya menjadi sangat jelas bagi wanita itu sejak hari pertama.

"Jangan bermimpi tentang hal-hal yang bukan milikmu." Itulah hal yang dia katakan pada wanita itu sejak awal.

Dia menyipitkan mata pada wanita itu, merasa bahwa dia bersikap semakin tidak masuk akal.

Dia mencibir padanya, "Ayo kita bercerai? Apakah kamu benar-benar sudah membulatkan tekadmu dan memutuskan hal ini?"

"Ya."

Kirana menganggukkan kepalanya, mengeluarkan perjanjian perceraian yang sudah dibubuhkan tanda tangannya, dan menyerahkannya kepada pria itu. "Aku sudah menandatangani perjanjian ini. Tolong tanda tangani juga perjanjian ini dan beri tahu aku kapan kita harus pergi ke catatan sipil."

Kemudian, dia mengambil kopernya dan berjalan turun ke bawah.

Reza sama sekali tidak menyangka Kirana serius melakukan hal ini. Dia menatap sosok kurus wanita itu dan kemudian berbicara padanya dengan nada tanpa emosi.

"Tidak ada jalan untuk kembali begitu kamu berjalan melewati pintu itu."

Kembali katanya?

Kirana telah mencoba sebaik mungkin untuk menunjukkan kepada Reza cintanya yang tulus dan nyata, hanya untuk disakiti dan dimanfaatkan begitu saja. Dia sudah cukup mengalaminya sekali saja.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED