Prakas masih terlelap di atas kasur, berselimut setengah dada, tiba-tiba membuka matanya. Dia heran melihat langit-langit di kamar itu berbeda dengan langit-langit di kamar rumahnya. Prakas mencoba bangkit namun sakit di kepalanya mendadak datang hingga memaksa tangannya untuk memijiti keningnya sendiri. Sekarang dia tidak memakai pakaian sama sekali.
“Apa yang aku lakukan semalam dan kenapa aku berada di sini?” pikirnya dalam hati.
Saat Prakas menoleh ke samping, dia terperanjat ketika mendapati seorang gadis sedang tertidur lelap tanpa busana diselimuti selimut putih. Prakas mengangkat selimut yang masih menyelimuti setengah tubuhnya. Dia semakin terkejut saat mendapati bagian bawah tubuhnya tidak mengenakan pakaian sama sekali. Prakas membangunkan gadis itu dengan heran dan penuh pertanyaan.
“Bangun! Bangun!” ucap Prakas setengah berteriak sambil menggerak-gerakkan tubuh perempuan itu.
Gadis itu menggeliat lalu membuka matanya dengan berat.
“Apaan? Kalo mau pergi pergi aja, gue udah dibayar kok,” ucap gadis itu sedikit kesal.
Prakas terbelalak mendengarnya. Bagaimana pun dia tidak ingat apa-apa kenapa dia bisa berada di sana.
“Dibayar sama siapa? Emangnya kita ngapain semalam?” tanya Prakas heran.
Perempuan itu akhirnya duduk sambil menutupi bagian dadanya dengan selimut dan melihat ke arah Prakas dengan kesal.
“Lo nggak inget apa-apa?” tanya perempuan itu dengan heran.
“Nggak! Jelasin ke gue ada apa semalam dan kenapa gue bisa sama elo di sini?” tanya Prakas dengan bingung bercampur kesal.
Perempuan itu menghela napas sejenak lalu menatap Prakas dengan marah.
“Elo udah merawanin gue! Elo sendiri yang pesen gue sama mami, kenapa elo nggak tau? Jangan pura-pura nggak tau deh!” ucap perempuan itu dengan marah.
Prakas mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Iya, semalam dia hadir di pesta ulang tahun sahabatnya si Niko. Teman kuliahnya dulu. Di sana juga ada Doni dan Marli, teman satu kuliahnya juga. Prakas datang dengan memakai setelan jas karena tak sempat berganti pakaian sepulang dari kantor. Niko menyewa satu club malam dan menyediakan berbagai macam minuman keras untuk tamu yang diundangnya. Saat Prakas mabuk, Niko dan teman-teman satu genk anak-anak konglomerat itu menantangnya untuk melepas keperjakaannya. Prakas yang dalam kondisi mabuk akhirnya tertantang. Saat pesta ulang tahun usai, Niko membawa Prakas ke sebuah hotel dan mendorongnya ke sebuah kamar. Lalu Niko menutup kamar hotel dari luar dan pergi begitu saja meninggalkannya.
Prakas mengernyit mengingat itu. Dia menatap perempuan itu dengan marah.
“Sekarang kamu pergi dari sini!” teriak Prakas.
“Biasa aja dong, udah enak-enak merawanin gue pake ngusir lagi! Gue bisa pergi sendiri!” ucap perempuan itu yang juga marah padanya.
“Pergi!” teriak Prakas lagi.
Perempuan itu buru-buru memakai pakaiannya. Prakas melihat ada bekas darah di tempat tidurnya. Sekilas perempuan itu memang sangat cantik. Kulitnya putih, rambutnya panjang dan sangat sempurna. Saat perempuan itu hendak keluar, Prakas menahannya.
“Tunggu!”
“Apaan?”
“Mana KTP kamu,” pinta Prakas.
Perempuan itu heran, “Buat apaan?”
“Gue pengen lihat! Kalau ada apa-apa gue tahu nama kamu dan alamat rumah kamu!” jawab Prakas yang masih kesal.
Perempuan itu langsung membuka tas kecilnya dan mengeluarkan KTP di dalamnya, kemudian dia langsung memberikannya pada Prakas dengan kesal.
“Nih, buruan!”
Prakas langsung memeriksa KTP perempuan itu. Sekarang dia tahu kalau perempuan itu memiliki nama Miona Salsabila, dia tinggal di kawasan Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Prakas meraih handphonenya lalu memfoto KTP perempuan itu dengan buru-buru. Setelah selesai memfoto Prakas langsung memberikan KTP itu kepadanya lagi.
Perempuan itu langsung mengambil KTP-nya lagi dan menyimpannya ke dalam tas kecilnya, kemudian dia keluar sambil menutup pintu kamar hotel itu dengan kencang.
“Sial!” keluh Prakas.
Prakas langsung buru-buru meraih handphonenya lagi dan langsung menghubungi Niko.
“Halo!” jawab Niko di seberang sana.
Prakas langsung marah mendengar suaranya, “Lo apa-apaan sih pake nyewa perempuan nggak bener buat gue? Lo tahu kan kalo gue mabuk gimana?”
Niko terdengar tertawa di seberang sana.
“Bukannya elo sendiri yang nerima tantangan kita-kita?! Lagian juga yang nyewa perempuan itu bukan gue, si Doni noh,” jawab Niko dan langsung mematikan handphonenya.
Prakas kesal lalu segera menelpon Doni. Namun nomor Doni tidak aktif. Akhirnya Prakas langsung menelpon Supirnya untuk menjemputnya di hotel dan mengantarkannya ke kantor.
Setiba di kantor, Prakas duduk di meja kerjanya yang besar itu dengan kesal. Lelaki tampan itu adalah seorang CEO di perusahaan itu. Prakas terpaksa mengurus perusahaan peninggalan ayahnya itu karena dia anak tertua dari dua bersaudara. Adiknya yang bernama Alek sedang kuliah di Inggris. Prakas mencoba kembali mengingat-ingat kejadian semalam. Dia memukul kepalanya sendiri saat berhasil mengingat kejadian semalam bersama gadis itu. Gadis itu menangis kesakitan, namun dia tak peduli. Terus saja melakukan hal gila yang seharusnya dia tidak lakukan. Ini semua gara-gara mabuk, pikirnya. Sekarang yang muncul di pikirannya adalah merasa bersalah pada gadis itu dan kasihan padanya. Sesaat kemudian Prakas mengangkat gagang telepon di atas meja kerjanya lalu menelpon sekretarisnya.
“Tolong panggilin Pak, Imam. Suruh ke ruangan saya,” pinta Prakas pada sekretarisnya di telepon.
“Baik, Pak,” jawab sekretarisnya di telepon.
Tak lama kemudian Pak Imam datang. Lelaki tua itu memakai pakaian seragam OB lengkap dengan kopiahnya. Dia sudah lama bekerja di sana, sejak almarhum ayahnya dulu memimpin perusahaannya. Sekarang, lelaki tua itulah yang menjadi pengganti ayahnya. Mereka sangat dekat dan akrab. Jika ada masalah, pada Pak Tua lah Prakas mengadu. Sebenarnya Prakas sudah lama ingin menaikkan jabatan Pak Imam, namun Pak Imam tidak mau, dia tetap ingin menjadi OB di kantornya itu. Lelaki Tua yang memiliki prinsip hidup yang kuat. Prakas juga menawarkan rumah dan mobil untuknya, namun Lelaki Tua itu menolak, baginya harta dari keringat sendiri lebih berguna dibanding dari pemberian. Dia tak ingin memiliki hutang budi pada Prakas meskipun Prakas sangat berhutang budi pada lelaki Tua itu. Karena diam-diam lelaki Tua itu telah mengubahnya menjadi lebih dewasa.
“Ada apa?” tanya Pak Imam dengan santai.
Prakas terdiam, dia mendadak mengurungkan niatnya untuk curhat tentang kejadian semalam. Prakas malu kalau sampai cerita itu di dengar oleh orang yang sangat dihormatinya.
“Nggak apa-apa,” jawab Prakas dengan bingung.
Pak Imam heran, “Loh, tadi manggil saya mau apa?”
“Mau minta bikinin kopi sama Bapak,” jawab Prakas tiba-tiba.
Pak Imam tersenyum, “Kalo gitu kenapa nggak tadi aja? Yaudah, bapak bikinin kopi terenak buat kamu ya, tapi...”
Prakas heran melihat Pak Imam berhenti bicara. “Tapi apa, Pak?”
“Kamu kok hari ini kusut banget? Nggak seger kayak biasanya? Ada masalah?”
Deg. Prakas langsung tersenyum dan menyembunyikan kebingungannya pada Pak Imam.
“Nggak ada apa-apa kok, semalem begadang aja gara-gara ke acara ulang tahun temen,” jawab Prakas.
Pak Imam mengangguk lalu langsung pergi dari sana. Saat Pak Imam keluar, Prakas langsung mengambil handphonenya dan membuka foto KTP perempuan tadi.
“Miona Salsabila?” tanyanya dalam hati.
***
Miona menangis sesenggukan di bawah pancuran air di kamar mandinya. Dia merasa menjadi perempuan yang paling hina karena sudah melakukan hal bodoh demi membayar hutang ibunya pada Rentenir. Kalau bukan karena rentenir ingin menyita rumah mereka, Miona tak akan menjual keperawanannya pada lelaki hidung belang. Apalagi saat mengingat dia di usir dari kamar hotel oleh lelaki muda yang menyewanya semalam, Miona merasa seperti sampah.
Miona berteriak histeris. Pintu kamar mandi digedor-gedor ibunya.
"Miona! Miona!"
Miona tak peduli. Dia masih kesal dengan ibunya dan dirinya sendiri. Hasil dari menjual keperawanannya hanya cukup untuk membayar sedikit dari total hutang ibunya yang berjumlah 500 juta. Kemana dia harus mencarinya lagi? Menghubungi mucikarinya lagi kah dan terjun menjadi PSK?
Mobil sedan itu memasuki pekarangan rumah mewah nan megah di kawasan Pondok Indah. Satpam rumah langsung membukakan pintu samping mobil, lalu Prakas turun dari mobil dengan wajah bingung. Tubuhnya yang tinggi itu memasuki rumah. Dia memiliki kulit putih dan rambut agak modis dengan sedikit poni. Prakas sangat tampan dan digilai para perempuan. Bagaimana pun dia harus terlihat sempurna karena perusahaannya adalah perusahaan yang bergerak dibidang kosmetik terkenal yang mulai mendunia. Produk yang dijual perusahaannya bukan saja kosmetik untuk perempuan saja, melainkan produk-produk untuk pria juga seperti parfum dan lainnya.
Tiba-tiba perempuan berumur 45 tahun dengan pakaian modis dan terlihat terawat itu datang menghampiri Prakas dengan cemas.
“Prakas, semalam kamu kemana? Kenapa tidak pulang ke rumah?” tanya perempuan itu. Dia adalah Nyonya Prameswari, ibu kandung Prakas yang menjanda sudah dua tahun lamanya.
“Aku tidur di tempat temen, Mah,” jawab Prakas.
“Lain kali telepon, Mamah.”
Prakas mengangguk lalu pamit ke kamarnya. Di dalam kamar, dia langsung merebahkan diri di atas kasur. Prakas masih memakai setelan jas lengkap dengan dasinya. Bayangan-banyangan semalam terus terngiang di pikirannya. Dia ingat ketika dia hampir terjatuh saat memasuki kamar hotel itu karena terlalu mabuk, tiba-tiba ada tangan yang memegangi tubuhnya. Prakas menoleh padanya dengan terkejut.
“Kamu siapa?” tanya Prakas heran dengan pandangan mata yang agak buram.
“Aku Miona, Mas,” jawab Miona dengan gugup dan takut.
“Jangan panggil Mas, panggil aku Prakas,” protes lelaki itu.
Miona mengangguk.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Prakas lagi.
“Bukannya kamu yang nyewa aku?” jawab Miona.
“Maksudnya?” tanya Prakas heran. Dia masih dalam kondisi mabuk.
“Katanya kamu mau cari perempuan yang masih perawan, dan kamu sudah transfer ke mami buat bayar aku,” jawab Miona dengan polos.
Prakas menatap wajah Miona dengan tatapan serius. Pandangannya yang buram mendadak terang saat melihat kecantikan perempuan di hadapannya itu. Lelaki itu tiba-tiba mendaratkan bibirnya ke bibir gadis itu. Miona kaku dan diam. Tak berapa lama Prakas langsung menarik tangan Miona ke atas kasur. Lelaki perjaka itu melepas pakaiannya satu demi satu lalu melepas pakaian Miona secara perlahan. Miona memejamkan mata. Pasrah.
Lalu...
Prakas berhenti mengingat itu. Dia bangkit dari atas kasurnya. Dia merasa tidak enak hati dan sangat merasa bersalah. Prakas akhirnya keluar dari kamarnya. Mamanya heran melihat anak tertuanya buru-buru berjalan ke arah luar.
“Kamu mau kemana, Prakas? Makan malam dulu, mama udah siapin,” tanya Prameswari heran.
“Aku pergi dulu, Mah,” jawab Prakas, lalu dia segera keluar dari rumah dan menaiki mobilnya. Prakas menyetir mobilnya sendiri tanpa supir.
Mobil itu berhenti di parkiran apartemen. Prakas langsung turun dari mobil dan mencari lift. Saat dia tiba di depan pintu sebuah apartemen di lantai 30, dia memencet bel. Seorang lelaki yang seumuran dengannya keluar dan heran melihat kedatangan Prakas. Dia adalah Doni, dalang dari pemesanan perempuan perawan itu.
“Prakas?”
Prakas menarik kerah baju Doni dan memukuli wajahnya tanpa ampun. Doni mencoba melawan hingga dia pun berhasil meninju pipi Prakas sekali.
“Lo kenapa?” tanya Doni heran sambil menahan sakit di bibirnya yang mulai berdarah.
“Nggak usah tanya kenapa? Lo ngapain nyewa cewek buat gue?” tanya Prakas yang tampak sangat emosi.
“Lo nggak nyadar kalo lo sendiri yang mau?! Harusnya lo seneng, gue udah bayar perempuan itu 60 juta. Kok lo malah mukul gue?” ucap Doni emosi.
“Harusnya lo sebagai sahabat jagain gue di saat gue mabok, bukan jerumusi gue kayak gitu! Gue tahu gue masih perjaka, tapi gue nggak mau nyakitin cewek! Gue maunya ngelepas perjakaan gue sama perempuan yang gue sayang biar gue bisa tanggung jawab,” teriak Prakas.
“Yaudah! Lo tanggung jawab aja ama pelacur itu! Perawannya kan Lo yang ambil? Lagian juga paling dia sibuk jual diri lagi!” teriak Doni.
Satu tinju lagi mendarat ke pipi Doni. Prakas lalu pergi dari sana. Doni mengepalkan tangan dan memilih untuk masuk ke apartemennya.
Prakas menghentikan mobilnya di parkiran pantai Ancol. Dia keluar dari mobil lalu berjalan di jembatan pejalan kaki yang melintasi air lalut. Prakas berhenti lalu memandangi gelapnya lautan di hadapannya. Tiba-tiba dia teringat pesan Pak Imam saat Prakas meminta Pak Imam untuk menemaninya meeting di Bali tahun lalu.
“Lelaki sejati itu nggak pernah nyakitin perempuan, dia sangat menghormati perempuan dan mejaga kesuciannya,” ucap Pak Imam kala itu.
Mereka sedang mengobrol di sebuah cafe yang menghadap pantai Kuta. Prakas hanya diam. Selama ini papahnya selalu sibuk mengurus perusahaan hingga dia kurang mendapat perhatian. Mamahnya juga sama, sibuk berkumpul dengan istri-istri pengusaha dan selebriti terkenal di Indonesia. Pak Imam lah yang peduli padanya sejak kecil. Saat papahnya membawa Prakas kecil ke kantor, papahnya selalu menitipkan Prakas pada Pak Imam. Sejak itulah mereka akrab dan hingga sekarang sampai Prakas mewarisi perusahaan ayahnya.
Saat itu juga, Prakas meraih handphonenya, dia ingin menceritakan semua kebingungannya pada Pak Imam. Bagaimana pun dia harus tenang dan mendapatkan solusi agar tidak merasa bersalah lagi telah melakukan itu semalam.
“Halo,” jawab seorang perempuan tua di seberang sana.
Prakas heran, biasanya Pak Imam tak pernah memberikan handphonenya pada siapapun.
“Saya Prakas, Pak Imamnya ada?” tanya Prakas.
“Prakas siapa?” tanyanya lagi.
Selama ini Pak Imam memang tak pernah mengenalkan keluarganya pada Prakas dan pada almarhum ayahnya. Prakas juga tak pernah tau Pak Imam tinggal di mana? Siapa istrinya dan siapa anak-anaknya?
“Temen kerjanya di kantor, Pak Imamnya kemana?” tanya Prakas heran.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan di seberang sana. Prakas heran.
“Saya istrinya, sekarang Bapak di rumah sakit, dia di ruang ICU,” jawab perempuan itu.
Prakas terkejut mendengarnya. Setelah itu dia menanyakan alamat rumah sakitnya. Setelah tahu, Prakas langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit itu. Sampai di depan rumah sakit, dia melihat seorang ibu-ibu dan seorang anak lelaki yang masih remaja sedang menangis duduk di depan ruangan ICU.
“Pak Imamnya di mana?” tanya Prakas dengan sedih.
Ibu-ibu itu tampak heran melihat Prakas. Dia langsung mempersilakan Prakas masuk ke ruangan ICU itu. Prakas langsung masuk dan matanya langsung berkaca-kaca saat melihat kondisi Pak Imam yang kritis itu. Selang oksigen tersambung ke hidung Pak Imam. Lelaki Tua itu tampak tidak sadarkan diri.
“Pak, Bapak...” panggil Prakas dengan lirih. Prakas memegang tangan Pak Imam. Sekarang dia merasakan hal sama saat melihat kondisi papahnya kritis dulu.
Tiba-tiba tangan Pak Imam bergerak. Prakas lega melihatnya.
“Pak!” ucap Prakas memanggilnya.
Lelaki Tua itu menoleh ke arah Prakas dengan lemah.
“Prakas...” panggilnya lirih.
“Iya, Pak. Bapak kenapa?”
“Umur bapak mungkin nggak akan lama lagi, bapak merasa bersalah sudah menolak niat baik kamu selama ini, maafkan bapak...” ucapnya lemah.
Air mata Prakas mulai deras.
“Nggak apa-apa, Pak. Bapak mau nemenin saya selama ini itu udah cukup. Bapak udah kayak papah aku sendiri selama ini,” ucap Prakas mulai terisak.
“Carilah perempuan yang baik, sekarang mungkin saatnya kamu memiliki pendamping...” pinta Pak Imam, setelah itu dia diam, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat.
Prakas berteriak memanggil dokter. Dokter dan perawat datang bersamaan dengan perempuan tua dan anak lelakinya. Dokter berusaha menggunakan alat pemacu jantung, namun tak lama kemudian nyawanya tak bisa tertolong lagi. Kini, lelaki yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri itu telah pergi untuk selama-lamanya. Prakas menangis sesenggukan, bersamaan dengan tangisan perempuan tua dan anak lelakinya itu.
Tak lama kemudian, seorang perempuan berambut panjang datang lalu langsung berteriak dengan tangisnya.
“Bapaaak! Bapaaak!” teriak perempuan itu.
Prakas langsung menoleh pada perempuan yang masih menangis itu. Prakas kaget saat melihat wajah perempuan itu dengan jelas.
“Miona Salsabila?”
Prakas diam-diam keluar dari ruangan itu saat mendapati Miona ternyata anak gadis Pak Imam. Tubuhnya mendadak lemas. Dia buru-buru melangkah menuju parkiran mobilnya. Prakas tak mau Miona mengetahui keberadaannya di sana. Beruntung gadis itu memang tidak menyadari keberadaannya. Saat sudah berada di dalam mobil lelaki itu tampak tercengang. Dia masih tak percaya. Lelaki itu pun langsung melajukan mobilnya dengan bingung.
Di perjalanan, Prakas teringat lagi akan kejadian malam itu dengan Miona. Saat Prakas sudah melepaskan keperjakaannya, dia terbaring lemas dengan kantuk yang mulai datang. Dia masih bisa mengingat jelas suara tangisan Miona yang sedang memeluk kakinya. Samar, Prakas melihat Miona membuka kulkas lalu mengambil sebotol minuman beralkohol di dalamnya lalu menenggaknya dengan banyak. Lalu Miona mengguncang tubuh Prakas, membangunkannya dari kantuk.
“Apa?” tanya Prakas yang masih dalam kondisi mabuk.
Miona menatap Prakas dengan mata yang masih berkaca-kaca. Gadis itu sudah terpengaruh alkohol juga. Dia menenggak minuman itu langsung dari botolnya dengan banyak.
“Lo tau nggak, kenapa gue rela ngelepas keperawanan gue? Karena gue butuh duit!” teriak Miona pada Prakas yang sudah duduk menyandar di atas kasur. Prakas hanya angguk-angguk. Kondisinya yang masih mabuk belum bisa mengontrol dirinya untuk berlaku waras.
Prakas kembali mengantuk. Miona kembali mengguncang tubuhnya.
“Dengerin gue dulu!” teriak Miona sambil terisak.
“Iya, ini gue dengerin,” ucap Prakas.
“Karena gue harus bayar utang nyokap gue yang suka main judi!” isak Miona, ”tabungan bokap gue udah habis sama dia! Bokap gue nggak bisa bayarnya! Dia cuma OB bukan siapa-siapa! Rumah gue mau disita sama rentenir! Gue nggak mau bokap dan adik gue menderita gara-gara nyokap! Gue harus cicil utang nyokap! Makanya gue jual keperawanan gue!”
Prakas hanya angguk-angguk. Matanya tak kuat lagi untuk tidur. Miona menangis kencang sambil memukul-mukul Prakas. Prakas tidak bereaksi apa-apa, dia hanya diam dan menahan kantuknya.
“Dengerin gue! Jangan tidur!” teriak Miona lagi.
“Iya, ini gue nggak tidur!” teriak Prakas.
Lalu tubuh Miona terjatuh di atas kasur. Gadis itu tertidur. Prakas pun tak bisa menahan kantuknya, dia pun tertidur pulas setelahnya.
Prakas berhenti mengingatnya lagi. Kini mobilnya tiba di pekarangan rumah megahnya. Dia langsung turun lalu memasuki kamarnya dengan sedih.
***
SEMINGGU BERLALU
Prakas meringkuk di atas kasur. Dia lemas dan selama seminggu ini dia dirawat di rumahnya sendiri oleh dokter pribadinya. Pintu kamarnya terbuka, Nyonya Prameswari datang sambil membawa sarapan untuknya.
“Sarapan dulu,” pinta Prameswari sambil meletakkan sarapannya di atas meja kecil dekat ranjang.
“Iya, Mah,” jawab Prakas lalu dia segera duduk menghadap mamahnya yang duduk di atas kasur.
“Udah nggak usah sedih lagi. Kata dokter juga kamu udah bisa kalo mau ke kantor. Kalo lama-lama ninggalin kantor, nanti urusan perusahaan bisa berantakan. Masa mau nyuruh orang lain yang ngurusnya,” ucap mamahnya dengan pelan.
Prakas mengangguk. Dia pun meraih sarapannya dan mulai memakannya. Setelah itu Prakas pergi ke kamar mandi, setelahnya dia bergegas mengganti pakaiannya lalu pergi ke kantor. Saat melewati meja sekretarisnya. Sekretarisnya berdiri senang menyambut kedatangan Prakas.
“Selamat pagi, Pak,” sapa sekretarisnya bernama Vita itu.
Prakas hanya tersenyum lalu dia masuk ke ruangannya. Di atas mejanya sudah menumpuk surat-surat yang harus ditanda tanganinya. Prakas duduk lalu meraih handphonenya. Saat menemukan nama Doni di kontaknya dia langsung menghubunginya.
“Halo,” jawab Doni terdengar kesal di seberang sana.
“Lo di mana?” tanya Prakas.
“Di showroom gue lah,” jawab Doni ketus.
“Gue minta maaf,” ucap Prakas.
“Kagak perlu.”
“Gue serius!”
“Yaudah gue maafin!”
Prakas tersenyum. Bagaimana pun Doni adalah sahabat dekatnya sejak SMA. Sementara Niko dia mengenalnya saat kuliah.
“Lo tau nomor telepon yang bisa nemuin gue sama Miona lagi?” tanya Prakas tiba-tiba.
“Ngapain? Lo mau gituan lagi sama dia?” tanya Doni heran di seberang sana.
“Jawab dulu pertanyaan gue,” desak Prakas.
"Lo jatuh cinta sama dia ya?" selidik Doni dengan heran, "Tumben! Lo itu cowok yang paling dingin sama cewek, ternyata selera Lo kayak dia, padahal artis banyak banget yang ngebet pengen jadi pacar Lo!"
Prakas kesal mendengarnya, "Nggak ada kamusnya gue suka sama itu cewek! Dia bukan tipe gue!"
"Terus ngapain nanyain nomor hapenya dia?"
"Udah buruan kasih nomornya ke gue!" bentak Prakas.
Doni langsung memberitahukan nomor telepon mucikari yang mengirim Miona kepadanya malam itu. Prakas langsung menghubungi mucikari itu, tapi mucikarinya bilang di telepon kalau dia tidak mengurus Miona lagi. Dirinya hanya khusus untuk gadis-gadis perawan saja. Mucikari itu akhirnya memberikan nomor temannya, katanya Miona sekarang di urus sama dia. Prakas langsung kaget mendengar itu. Dia mau meminta nomor telepon mucikari itu hanya untuk memastikan apakah Miona pekerja seks profesional atau bukan. Prakas pun langsung menelepon mucikari lain yang nomornya diberikan oleh mucikari itu.
“Halo,” jawab seorang perempuan di seberang sana.
“Saya mau pesan gadis yang bernama Miona Salsabila, bisa?” ucap Prakas.
“Sebentar, kita lanjut di WA aja, ya. Biar saya kirim fotonya dulu untuk memastikannya,” pinta perempuan itu.
Prakas pun langsung mengiyakan. Akhirnya Prakas melanjutkan obrolannya melalui pesan whatssap pada perempuan itu. Saat perempuan itu mengirim foto Miona, dia kaget mengetahui Miona ternyata memang seorang PSK. Tiba-tiba Prakas berpikir, apa mungkin sekarang Miona menjadi PSK gara-gara hutang ibunya, karena malam itu, Prakas masih ingat kalau gadis itu memang masih perawan. Akhirnya dia buru-buru memesan Miona dan mengirimkan alamat hotel tempat pertemuan mereka nanti. Prakas pun meminta pada perempuan itu agar jangan memberitahu identisanya pada Miona. Perempuan itu mengiyakan setelah meminta transfer 20 juta untuk Miona. Prakas pun mentransfer langsung uangnya.
Dan di malam itu, Prakas duduk di sofa kamar hotel yang luas itu. Tak lama kemudian suara bel kamar berbunyi. Prakas membuka pintu. Miona tercengang saat melihat Prakas kembali.
“Masuk,” pinta Prakas.
Miona tampak marah, dia masih dendam diusir dengan kasar saat itu. Perempuan itu handak pergi namun tangan Prakas keburu menarik Miona ke dalam lalu menutup pintu kamar hotel itu.
“Ngapain mesen gue lagi?” tanya Miona kesal.
“Kamu kayak gini emang udah lama atau baru?” tanya Prakas dengan serius.
“Kenapa? Emang lo perlu tau?”
“Iya,” jawab Prakas.
“Bukan urusan lo. Lagian juga Lo ngerasa sendiri gue masih perawan kan? Itu artinya gue baru terjun di dunia yang begini. Sekarang kalo lo mau gue langsung aja, gue nggak mau basa-basi,” tegas Miona.
“Lo mau lanjut jadi PSK?!” teriak Prakas.
Miona heran.
“Kok lo bentak gue?! Emang lo siapa?! Lo nggak ada hak bentak gue!” protes Miona dengan kesal.
“Kalo emang lo butuh duit buat bayar utang-utang lo, biar gue yang bayarin berapapun itu jumlahnya! Asal lo berhenti kerja kayak gini,” pinta Prakas dengan tegas.
Miona terbelalak mendengarnya,”Siapa lo?! Meski gue butuh duit, gue nggak butuh dari hasil dikasihani sama orang lain! Biar gue cari sendiri meskipun hasil kayak gini!" tegas Miona, "Oh! Lo suka sama gue? Mau jadi gadun gue ya?” tanya Miona menyelidik.
Prakas kesal mendengar itu, "Lo bukan tipe gue! Selera gue bukan gadis murahan kayak Lo!"
Miona bertambah kesal mendengarnya. "Yang lebih murahan itu Lo! Ganteng-ganteng nyarinya pelacur! Dan perlu Lo tahu, gua kayak gini terpaksa!" teriak Miona lalu langsung pergi dari situ.
Prakas tampak kesal. Bagaimana pun gadis itu adalah anak dari lelaki tua yang sudah dianggapnya sebagai ayahnya sendiri. Dia tidak mau mendiang Pak Imam kecewa di alam sana melihat anaknya bekerja menjadi PSK. Prakas langsung menghubungi sekretarisnya.
“Tolong cari tahu alamat rumah almarhum Pak Imam, saya mau kesana,” pinta Prakas pada sekretarisnya lalu pergi dari sana.