###
Dada ini mendadak terasa panas. Seluruh badan terasa bergetar tatkala suara desahan teratur terdengar dari sebuah kamar dengan pintu berwarna putih. Stela Wen yang merasa penasaran mulai melangkahkan kaki lebih dekat.
Pikiran kacau tangan gemetaran, Stela Wen memutar knop pintu.
"Ah! Teruskan, sayang!"
Desahan itu kini terdengar seperti racauan. Dua bola mata Stela berkedut dan badannya terasa kaku. Sang suami yang sangat ia cintai, kini tengah beradu kekuatan bersama seorang wanita yang sangat tidak asing untuk Stela. Emma, yang tak lain adalah sahabat Stela.
Di balik pintu yang terbuka beberapa senti saja, mereka tidak tahu kalau sedang ada sosok mata tajam yang menatap ke arah mereka. Sosok mata yang kini mulai menitikkan air mata tapi lemah untuk berbuat.
Di dalam sana, sungguh pemandangan membuat raga perih seolah di hantam ombak beberapa kali layaknya karang yang hancur. Suami tercinta tengah bermain cinta begitu nikmatnya dengan wanita lain.
Tidak tahan lagi, Stela berbalik badan lalu berlari menyusuri lorong yang sepi. Matanya yang terus menitikkan air mata, ia usap dengan kasar.
"Tega sekali kau padaku!" maki Stela sambil terus melangkah menjauh.
Bugh!
Tubuh Stela terpental hingga menabrak dinding. Seorang bertubuh kekar sepertinya baru saja menabrak tubuh Stela yang sedang lemah.
"Maaf." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Stela. Tanpa menoleh, ia langsung berjalan begitu cepat.
Pria berbadan tinggi itu mendecih, lalu melengos. "Dasar wanita, selalu saja tidak hati-hati."
Sampai di lantai dasar, Stela terus saja berjalan dengan cepat hingga dua kakinya menjauh dari kawasan apartemen elit tersebut. Matanya yang semula terus menangis, kini hanya menyisakan ruang sembab dan memerah. Hatinya benar-benar hancur seperti tersayat-sayat benda tajam.
Karena bingung harus pergi ke mana untuk saat ini, Stela memutar langkah lalu melambai pada taksi yang melintas di seberang jalan.
"Antar aku ke kelab terdekat." Begitu kata Stela ketika sudah duduk di jok belakang.
Sampai di tempat yang diinginkan, Stela buru-buru masuk ke dalam sana. Stela menyusuri kerumunan orang-orang yang tengah berjoget ria hingga akhirnya sampai di depan meja bartender.
Stela duduk di kursi berpapan bundar dengan menyilang kaki. "Berikan aku wine," pinta Stela.
Begitu satu gelas wine mengguyur seluruh tenggorokannya, Stela tertunduk sambil mendesah berat. Gelas ia sodorkan, meminta untuk di isi kembali.
Otaknya saat ini tengah terngiang-ngiang membayangkan apa yang sudah suaminya perbuat dengan wanita lain.
Malam yang lalu, Stela masih teringat saat bercinta dengan sang suami, Alex. Percintaan malam yang begitu nikmat sampai Stela Wen bermandikan keringat. Siapa yang sangka ternyata kenikmatan itu dibagi dengan wanita lain.
Malam ini, dengan bola matanya sendiri, Stela menangkap basah Alex bermain cinta dengan Emma yang tak lain adalah sahabat dekatnya. Bagaimana mereka beradu racauan nikmat, kini mulai menusuk ke dalam telinga hingga terasa seperti ada benda yang menyumbat.
"Kalian memang brengsek!" Stela membanting gelas di atas meja, membuat seorang pria yang berada di dekatnya melirik dengan seringaian.
"Halo, Nona." Pria itu menyapa sambil mengamati lekuk tubuh Stela.
Perlu diketahui, hari ini adalah Anniversary pernikahan Stela dan Alex yang ke satu. Stela semula hendak memberi kejutan untuk sang suami di rumah. Namun, sebuah pesan singkat dari nomor tak di kenal membuat acara makan malam romantis batal. Sebuah pesan singkat yang mendorong Stela meninggalkan tempat romantis menuju sebuah alamat yang tertulis pada ponselnya.
(Datang ke apartemen, dan lihat apa yang suamimu tengah perbuat.)
Begitu bunyi pesan yang masuk. Stela mulanya tidak peduli, tapi setelah satu jam menunggu dan Alex tak kunjung datang, Stela mulai gelisah. Pada akhirnya ia memutuskan untuk datang ke apartemen.
Paras cantik dan gaun malam berwarna merah yang melekat di tubuhnya saat ini, pasti akan membuat pria berhidung belang datang menghampiri. Ditambah lagi pengaruh alkohol yang membuat Stela mulai tidak bisa mengontrol diri.
"Pria sialan!" maki Stela di depan pria tak di kenal itu. "Semua pria memang sama saja!"
Riuh suara musik semakin bergema, membuat suasana hati Stela semakin kacau. Sosok pria yang mendapat bentakan, sepertinya tidak tersinggung sama sekali. Dengan berani, ia justru mulai mendaratkan telapak tangan di atas paha Stela yang putih mulus.
"Jangan kurang ajar!" Stela menepis tangan itu dan kemudian melotot.
"Aku tahu kau sedang kesepian. Biar aku menemanimu." Pria itu maju dan ingin merangkul Stela.
Saat Stela Wen hendak menepis lagi, seorang pria lain datang dan langsung mendorong pria hidung belang tersebut. Pria tersebut jatuh tersungkur di hadapan Stela, hingga membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.
"Berani mengganggunya, mati kau!" ancam pria itu sebelum kemudian membawa Stela Wen pergi dari kelab tersebut.
"Siapa kau?" tanya Stela Wen saat dalam gendongan pria yang baru saja menolongnya. "Apa kau Alex?" Stela mendongak lebih tinggi.
Pengaruh alkohol terus menguasai tubuh Stela. Matanya mulai kabur dan sosok pria itu tidak bisa Stela pandang dengan jelas.
Stela Wen kini sudah duduk bersandar pada jok mobil depan sebelah kanan. Meracau tidak jelas, sosok pria tersebut tidak peduli. Di luar mobil ia tengah menelpon seseorang.
"Sudah aku katakan, aku tidak bisa datang. Kalau kau mau, ambil saja."
Sambungan telpon terputus begitu saja. Ponselnya pun ia masukkan kembali ke dalam saku lalu menyusul Stela yang masih meracau di dalam mobil.
"Kenapa kau tega padaku?" Stela menarik lengan kemeja pria itu. "Kau sangat jahat!" Tak lagi menarik kini sudah berubah menjadi sebuah pukulan.
"Tenanglah!" Dia mendorong tubuh Stela hingga ambruk bersandar lagi. "Aku bukan suamimu yang brengsek itu."
Tidak ada racauan yang keluar dari mulut Stela. Wanita itu kini sudah ambruk tertidur, bersandar pada jok yang sudah diturunkan lebih rendah.
"Kenapa kau cantik sekali?" gumam pria yang kini baru saja meletakkan tubuh molek Stela Wen di atas ranjang.
Peter Alinadro begitu terpesona melihat keindahan wanita yang saat ini tergeletak tidak berdaya. Gaunnya yang tinggi hanya di atas lutut, tersingkap begitu saja menampilkan paha mulus tanpa luka.
"Kau membuatku tergoda." Peter pelan-pelan merangkak di atas Stela yang terlelap.
Bertumpu pada kedua lutut yang mengunci tubuh Stela, satu tangan Peter merambat membelai pipi mulus itu. Wajah cantik, membuat pria mana pun pasti akan terpesona.
Tiba-tiba Peter mendecih lalu ambruk terjatuh di samping Stela Wen. "Bagaimana bisa kau mencintai pria brengsek seperti Alex Anderson"
Peter merubah posisi tubuhnya menjadi miring. Tangannya kini menjulur merengkuh tubuh Stela. Selama wanita itu masih terpejam, tidak akan ada yang tahu apa yang akan atau sudah diperbuat oleh Peter.
***
Terbangun dari tidurnya, Stela Wen berteriak sangat kencang hingga bergema ke seluruh ruangan. Stela Wen nampak panik saat mendapati dirinya tengah bertelanjang di balik selimut. Dalam keadaan panik, Stela menarik selimut dan meremas dengan kuat bagian tepiannya. Pandangannya menoleh ke kanan dan kiri memastikan sedang berada di mana saat ini.
"Kenapa aku ada di sini?" Stela Wen menggigit bibir dan beberapa kali mengintip ke balik selimut--memastikan dirinya benar-benar telanjang atau tidak.
Stela Wen mendadak ketakutan. "Di mana bajuku?"
Stela Wen merangkak turun dari atas ranjang dengan melingkarkan kuat selimut besar tersebut. Pandangannya tengah berkeliling mencari keberadaan bajunya.
Tidak ada. Gaun berwana merah yang semalam membalut tubuhnya raib entah di mana. Masih dalam keadaan panik, Stela Wen sampai mengobrak-abrik kamar besar nan luas yang sama sekali tidak ia kenali.
"SIAL!" maki Stela Wen. "Ini pasti karena aku mabok!" Stela Wen menggeram sambil mengentak-hentakkan kakinya dengan frustrasi.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" Stela Wen mulai menangis. Ia terjatuh terduduk di atas lantai sambil mencengkeram kuat selimut yang masih menutupi tubuhnya.
Setelah semalam hatinya hancur karena ditinggal suami berselingkuh, kini Stela Wen harus dibuat gelisah dan bingung karena tidak tahu apa yang sudah terjadi semalam usai dirinya dalam pengaruh alkohol.
"Sebaiknya aku segera pergi!" Stela Wen bangkit lalu mengusap wajah dengan satu tangannya.
Karena sudah bingung harus bagaimana, pada akhirnya Stela Wen memberanikan diri membuka sebuah lemari besar dengan ukiran klasik di setiap tepiannya. Saat dua pintu lemari itu terbuka, dua bola mata Stela spontan membelalak sempurna sampai tidak sadar selimut yang menutupi tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Dua tangan Stela Wen kini tengah mendarat menutup bibirnya yang terbuka lebar.
"I-ini ... ini pakaian pria se-semua?" Stela Wen terbata-bata.
"Oh astaga!" Stela kemudian tersadar lalu segera menarik selimut tersebut kembali.
Stela mulai panik lagi. Ia semakin takut dan bingung. Seluruh lemari berisi pakaian pria, itu tandanya semalam ia bersama pria asing di kamar ini.
"Aaaaaa!!" Stela Wen spontan berteriak lalu mengatup kembali bibirnya rapat-rapat.
"Aku harus bagaimana?" Stela menggigit bibir bawah. "Siapa pria yang bersamaku semalam?"
"Tidak, aku tidak boleh diam saja." Stela buru-buru menarik satu kemeja berwarna putih, lalu memakainya dengan cepat.
Kemeja yang kini sudah ia pakai, menutup tubuhnya hingga sampai di bawah lutut. Itu menandakan kalau pemilik kemeja tersebut pastinya berpawakan tinggi tegap.
"Aish, apa yang sudah aku pikirkan!" Stela Wen menjitak kepalanya yang tiba-tiba malah memikirkan sosok pria pemilik kemeja tersebut.
Selesai merapikan rambut dan penampilannya yang sempat kacau, kini Stela Wen buru-buru keluar dari kamar. Sesampainya di luar, Stela Wen baru menyadari kalau tempat yang sedang ia pijak adalah sebuah rumah mewah. Dan Stela dibuat terkejut lagi saat tiba-tiba ada dua orang pelayan wanita mendekat ke arahnya.
"Nona sudah bangun?" salah satu dari mereka bertanya.
Stela Wen yang bingung nampak mengerutkan dahi. Dua pelayan itu semakin membuat pikiran Stela Wen kacau.
"Si-siapa kalian?" tanya Stela Wen.
"Kami pelayan di rumah ini," jawab mereka bersamaan.
Rumah siapa ini? Stela Wen kian bingung. Rumahnya begitu besar dan mewah. Interiornya sangat megah dan riasan di dalamnya begitu modern. Tidak sadar, Stela Wen sampai menyapu pandangan ke seluruh ruangan.
"Maaf, Nona. Apa Nona mau sarapan?" tawar pelayan tersebut membuyarkan lamunan Stela Wen.
Stela Wen buru-buru menggeleng. "Aku mau pergi saja dari sini. Di mana pintu ke luarnya?"
Dua pelayan tersebut saling pandang untuk sesaat sebelum kemudian mempersilahkan Stela Wen pergi.
Stela Wen ingin berhenti mengingat-ingat kejadian semalam yang membuat dirinya sampai bisa berada di kamar asing tanpa busana. Stela yang kini sama sekali tidak memiliki uang, hanya bisa berjalan menyusuri trotoar tanpa alas kaki. Busa dikatakan, nasib Stela Wen benar-benar sial.
Meski sudah berjalan sejauh mungkin, tidak ada satu orang pun yang berinisiatif menolongnya. Kehidupan di kota ini memang lebih banyak orang memilih acuh dari pada ikut campur urusan orang lain.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Peter sesampainya di rumah.
"Sudah, Tuan. Nona Stela Wen saya biarkan pergi sesuai perintah Tuan," jawab pelayan tersebut.
Tidak bertanya lagi, Peter berjalan menaiki anak tangga. Ia berjalan sambil melonggarkan dasi yang masih melingkar di lehernya. Kemudian Peter merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.
"Apa kau mengikutinya?" tanya Peter pada seseorang di balik ponsel. "Ikuti sampai dia benar-benar sudah aman."
Tut! Ponsel terputus dan Peter melemparnya ke atas kasur.
"Hanya karena wanita itu, aku sampai merasa cemas." Peter menjatuhkan diri di atas sofa.
Perasaan kadang tidak bisa ditebak. Pun dengan perasaan Peter pada Stela Wen. Cih! Wanita bodoh yang memiliki pria brengsek!
Peter duduk setengah membungkuk sambil memijat kepalanya yang terasa pening.
"Apa aku terlalu bodoh?" gumam Peter sambil menatap ranjang yang semalam ada seorang wanita terbaring di atasnya. "Dia wanita bersuami, bagaimana aku bisa tertarik padanya?"
Tidak ingin larut dalam pikirannya yang kacau, Peter kemudian memutuskan untuk berendam di bak mandi.
Di sisi lain, kini Stela Wen sudah sampai di rumah ke dua orang tuanya. Melihat tampilan Stela Wen, tentunya membuat sang ibu bertanya-bertanya.
"Ada apa dengan bajumu?" tanya Janete. "Kenapa kau terlihat kacau?" Ia mulai curiga.
Stela Wen acuh dan masuk ke dalam rumah begitu saja. "Tidak ada apa-apa."
Janete menutup pintu lalu menyusul Stela Wen. "Apa kau bertengkar dengan suamimu?" tanya Janete.
"Tidak, Ibu," desah Stela Wen. "Aku hanya salah pakai baju tadi. Aku buru-buru kesini karena ingin mengambil baju lamaku untuk pergi diner bersama suamiku."
Meski jawaban Stela Wen sangat melenceng jauh dari kenyataannya, tapi Janete tetap percaya.
"Stela, kau di sini?" Ayah muncul dari dalam kamar. "Ada apa dengan tampilanmu?" Bukan hanya Janete yang heran melihat tampilan Stela Wen tapi Bowen juga.
"Tidak ada apa-apa, ayah," jawab Stela Wen yang kemudian melangkah menuju kamarnya yang sudah berbulan-bulan tidak ia kunjungi.
"Ada apa dengan dia?" tanya Bowen Wen pada istrinya. "Aneh sekali."
Janete duduk di sofa. "Mungkin semalam dia habis bercinta dengan suaminya lalu paginya datang kesini lupa berganti pakaian."
Bowen Wen tertawa kecil. "Benar juga kau."
"Sungguh pikiran yang kacau!" cerocos Stela Wen setelah mendengar percakapan kedua orang tuanya itu.
Sambil berganti pakaian, Stela Wen masih saja nyerocos hal macam-macam.
"Memang baru saja bercinta, tapi bukan denganku. Melainkan dengan wanita jalang yang gila!" Stela Wen melempar kemeja putih itu ke sembarang tempat.
"Mereka dengab tega bermain cinta di belakangku. Sementara aku ... hiks."
***
"Kenapa baru pulang?" tanya Alex bernada jengkel.
Sedari pagi Alex sudah menahan rasa lapar, tapi sang istri justru menghilang entah kemana
Stela Wen masuk ke dalam rumah. "Maaf, aku dari rumah ayah," jawabnya acuh.
Alex brdecak lalu menysul. "Aku kelaparan, sementara kau baru pulang. Dasar istri tidak berguna!"
Stela Wen menarik napas sesaat sebelum menoleh. Ingin rasanya menonjok pria tersebut dengan kepalan tangan lalu berteriak dengan kencang. Namun, tidak Stela Wen lakukan dan hanya desahan pelan yang keluar dari mulutnya
"Aku baru sekali ini tidak menyiapkanmu sarapan, dan kau langsung marah-marah." Stela Wen menatap Alex dengan sesal.
Tidak mau disalahkan, Alex kembali berkata, "Tugas istri adalah melayani suami. Akan sangat tidak sopan kalau kau sampai tidak memasakkanuntukku, meski hanya sekali."
Stela Wen tersenyum getir. Dia meminta dilayani, tapi dia sendiri malah melayani wanita lain. Dan untuk soal memasak, kenapa tidak cari pembantu saja kalau memang tidak sabaran? Stela Wen baru menyadari kalau memang selama ini Alex selalu menuntut segala hal.
Cih! Kebusukan itu tertutup rapi karena rasa cinta Stela Wen yang begitu besar.
Meski enggan, tapi Stela Wen tetap melakukan tugasnya. Ia beranjak menuju dapur dan membuatkan sang suami sarapan. Sejujurnya, Stela Wen sedang menghindar. Ia tidak sanggup lama-lama berdiri di hadapan Alex. Kejadian malam itu, sungguh sangat menyayat hati.
Masih dalam kesedihan yang tersembunyi, kakak iparnya yang bernama Angela datang.
"Semalam kau tidak pulang, kemana kau pergi?" tanya Angela dengan ketus.
Angela kemudian duduk usai mengambil gelas. Ia menuang air putih sambil memandangi Stela Wen yang sedang mengambil beberapa sayuran di dalam kulkas
Angela meneguk habis minumannya lalu meletakkan gelas di atas meja cukup keras. "Kau tuli ya!" seloroh Angela. "Aku tanya, kenapa kau diam saja."
"Untuk apa aku menjawab?" Stela Wen berdiri lalu meletakkan beberapa sayur dan lauk mentah di atas meja dapur.
Angela mendecih. "Sombong sekali kau! Aku hanya tidak suka istri adikku tidak tahu aturan."
Dengan enteng, Stela Wen menyahut. "Siapa yang kau maksud tidak tahu aturan? Aku?" Stela balas mendecih.
"Istri mana yang tidak pulang ke rumah tanpa berpamitan?" kata Angela. "Kupikir kau memang wanita jalang!"
"Jaga ucapanmu!" spontan Stela Wen meloyot dan mengacungkan pisau yang sedang ia gunakan untuk memotong sayur.
Angela memutar bola mata seolah tak mengidahkan perkataan Stela Wen. Setelah meneguk satu gelas air putih lagi, Angela kemudian beranjak.
"Dasar wanita jalang!"
Merasa kesal, Stela Wen mencengkeram kuat gagang pisau hingga tak terasa sudah membuat potongan sayur menjadi hancur. Napasnya yang berderu, coba Stela Wen atur ambil menarik napas beberapa kali.
"Sabar Stela Wen. Kau harus tenang. Siapkan saja dirimu untuk membongkar kebusukan suamimu." Stela Wen menyemangati diri.
Kalimat lirih itu hanya sebatas semangat saja. Stela Wen tak sekuat itu untuk mengungkap perlakuan suami di belakangnya selama ini. Selain masih ada rasa, Stela Wen juga tidak ada pilihan untuk melawan. Toh selama ini Alex selalu memenuhi kebutuhannya. Sejujurnya ia juga perhatian meski terkadang ada bentakan karena hal sepele.
Mungkin terima saja untuk sesaat.
Satu jam kemudian, makanan pun sudah tersaji di atas meja. Semua sudah lengkap seperti biasanya. Ada sop dan juga ayam panggang.
"Istriku memang pandai memasak," puji Alex sambil menatap bergantian menu makanan yang tersaji di atas meja.
Sebatas pujian begitu saja, Stela Wen sudah merasa bahagia. Namun, senyum tipis saat ini seketika senyap saat Stela Wen kembali teringat sosok sahabatnya yang dengan tega menusuknya dari belakang.
Tidak lama kemudian, Angela ikut bergabung. Wanita itu memang selalu acuh di hadapan Stela Wen. Tidak lama kemudian munculah May, ibu mertua Stela Wen.
Ini sudah jam sembilan, Stela Wen baru sadar kalau ternyata seisi rumah ini memang hanya memanfaatkannya. Kenapa Stela Wen baru menyadarinya?
"Apa mereka semua menganggapku budak di rumah ini?" batin Stela Wen. "Cih, jika bukan karena kejadian semalam, mungkin aku masih akan tetap mengangguk iya saat mereka menyuruhku." Stela Wen masih bergumam di dalam hati sambil melirik ke arah mereka bergantian.
"Semalam kau tidak pulang, dari mana saja kau?" tanya May.
Alex yang baru saja menelan sesuap nasi ikut menyahut, "Iya, aku sampai lupa bertanya hal ini. Kau dari mana?"
Stela Wen mendongak dan menatap ke arah sang suami. "Kau ingin tahu semalam aku di mana?" Ia balik bertanya.
"Hei! Dia itu suamimu, tentu saja dia harus tahu," ketus Angela
"Pelankan suaramu, Angela," pinta Alex. "Stela Wen, kau tidak apa-apa kan?" tanya Alex saat mendapati Stela Wen termenung.
Stela Wen tersenyum. Ia kembali menatap Alex. "Aku berdandan cantik semalam. Aku menyewa sebuah restoran untuk memperingati aniversary pernikahan kita yang ke satu tahun."
Degh! Alex spontan menjatuhkan sendok ke atas piring. Pria itu tertegun menatap ke arah Stela Wen dengan bingung. Angela Dan May hanya diam tidak mau ikut campur.
"Ma-maaf, aku tidak ingat," sesal Alex.
Jika saja Stela Wen tidak tahu apa yang dilakukan Alex bersama Emma, mungkin hatinya saat ini tidak terlalu dongkol. Makan pun rasanya tidak selera lagi.
"Aku sudah kenyang. Aku masuk ke kamar dulu." Stela Wen mengusap bibirnya dengan tisu lalu bangkit.
Alex yang merasa bersalah, segera pergi menyusul sang istri.
"Mereka itu kenapa?" tanya May acuh.
"Biarlah, namanya juga orang labil," sahut Angela enteng.
Angela kembali menikmati makanannya. Ia terlihat tersenyum tipis seperti telah mengetahui sesuatu.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya May.
"Siapa? Aku tidak senyum-senyum sendiri." Angela mengelak.
Beralih ke kamar, Stela Wen sedang berada di kamar mandi. Alex yang merasa bersalah, duduk di tepi ranjang menunggu sang istri.
"Bagaimana aku bisa lupa?" batin Alex. "Kalau saja bukan karena dirayu Emma, mungkin aku tidak lupa. Sial!"
Beberapa kali Stela Wen membasuh wajahnya. Ia sedang mencoba menyembunyikan matanya yang merah dengan alasan terkena air terlalu banyak. Sambil mengelap wajahnya, Stela Wen kemudian beranjak ke luar.
"Maafkan aku," kata Alex
Ia sudah berdiri dan menghampiri Stela Wen. "Aku sungguh lupa."
Stela Wen memaki dalam hati. "Tentu saja kau lupa. Kau sedang bercinta dengan Emma."
Masih sibuk mengelap wajah di depan cermin, kini Alex sudah memeluk Stela Wen dari arah belakang. Ia mendaratkan dagu di atas pundak Stela Wen. Sesaat mata keduanya saling pandang dari pantulan cermin.
"Sebagai permintamaafanku, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Bagaimana?"
Setidaknya, wajah masam yang mucul pada diri Stela kini mulai berubah menjadi senyuman.
***