Aku tidak tahu apa artinya hidup seperti ini lagi...
Seorang pria muda, dengan mata penuh kesedihan dan rasa sakit, menatap langit sore dengan awan gelap bergulung-gulung di atasnya. Pria itu memakai sebuah topeng hitam sederhana yang menutupi wajah dan jas hitam yang terbuka menyambar-nyambar tertarik oleh angin. Seluruh tubuhnya terasa dingin oleh hembusan angin dan hatinya merasakan kehampaan yang teramat dalam hingga terasa menyakitkan.
Matanya menerawang jauh ke ujung langit. Ia berdiri di samping sebuah tiang penangkal petir yang terdapat di atas sebuah gedung tertinggi di kota. Ketinggian tiang penangkal petir itu mencapai ratusan meter dari atas permukaan tanah. Tubuhnya berdiri tegak melawan angin keras yang berhembus mencoba menerbangkannya dan tangannya mencengkram kuat pada tiang logam penangkal listrik yang menjulang tinggi menembus langit.
Angin kencang terus berhembus semakin dingin dan awan gelap beserta petir terus menyambar-nyambar memenuhi langit gelap sejauh yang dapat dipandang oleh mata. Terdengar suara-suara ledakan halilintar yang saling memecah dan berlompatan di dalam awan hitam bergulung-gulung.
Sebuah petir mendadak menyambar di dekat penangkal petir dan meledak di depan wajah pria itu dengan suara yang teramat keras, menggetarkan seluruh tubuhnya. Wajah pria itu seketika menunjukkan kegembiraan yang teramat sangat. Sejak kecil ia selalu menyukai petir dan merasa bergairah setiap kali mendengarkan ledakannya yang mengguncang. Matanya kemudian menatap ke bawah, di mana ribuan orang sedang melihat ke arahnya.
Salah seorang reporter dari puluhan stasiun televisi yang berkumpul di bawah gedung mulai melaporkan untuk para penonton, “Di sini, kita akan menyaksikan langsung pertunjukan terbaru Calvici. Pesulap muda berbakat yang pernah memenangkan kontes raja pesulap seluruh dunia ini, adalah pesulap terkaya dan paling populer dalam dua tahun terakhir.
Pertunjukan-pertunjukannya yang tidak biasa selalu membuat para penonton terperangah dan takjub. Sebagian orang menjulukinya dan bahkan mempercayainya sebagai “Nabi” karena semua yang dilakukannya hampir seperti sebuah mukjizat. Terakhir kali ia melakukan pertunjukan di jalanan, ia memilih dua puluhan orang pejalan kaki, tua dan muda yang kebetulan lewat untuk terbang bersama dirinya menembus langit.”
Reporter itu kemudian memaksa kameramennya menyorot para penonton yang begitu antusias berkerumun di bawah bangunan tempat Calvici berada.
“Calvici, Calvici, Calivici...!!!” teriakan-teriakan keras dari para penonton di bawah gedung terdengar begitu heboh. Beberapa dari mereka membawa spanduk yang bertuliskan nama Calvici dan berbagai kata-kata yang ingin mereka sampaikan pada idola mereka. Ada beberapa wanita cantik yang membawa spanduk bertuliskan ‘Calvici, bawa serta aku.’ ‘Jadikan aku istrimu.’ dan sebagainya.
Sebuah spanduk yang tidak lazim adalah spanduk yang bertuliskan ‘Calvici bagi uangmu untuk masa depan kami.’ yang dibawa oleh anak-anak.
Reporter itu kembali melanjutkan, “Pada pertunjukan kali ini, Calvici akan membiarkan dirinya disambar oleh petir. Dia mengklaim akan dapat merebut senjata Dewa Zeus yang berupa petir dan mengendalikannya. Apakah dia akan berhasil dengan pertunjukannya kali ini?”
Kamera tersembunyi pada bagian atas gedung, segera memperlihatkan Calvici yang sedang berdiri di atas bagian tengah tiang penangkal listrik sambil memegang bagian tiang dari logam itu dan sekitar empat meter dibawahnya, terlihat kolam api yang menyala berkobar dengan bantuan gas. Jika ia tersambar petir dan terjatuh, dapat dipastikan ia akan terbakar hangus.
Petir menyambar lagi begitu dekat dengan Calvici dan ratusan penonton di bawah gedung berlantai empat puluh kembali menjerit-jerit histeris. Calvici segera memandang pada petir yang baru meledakkan cahayanya di dalam awan gelap dan berteriak dengan sekuat tenaganya, “Berikan aku kebebasan!!!”
Calvici merasa marah dan bergerak memanjat tiang penangkal petir itu. Angin di ketinggian berhembus semakin keras menarik-narik pakaiannya dan air hujan mulai turun. Saat itu suara petir menggelegar dan sebuah pilar cahaya terang, terlihat menyambar langsung pada tiang penangkal petir serta Calvici di atasnya. Di dalam petir, terlihat tangan Calvici bergerak ke atas seolah-olah hendak mencuri petir tersebut.
Seluruh penonton berteriak histeris.
“Duarrrr!!!!!!” sebuah suara ledakan keras terdengar dan tubuh Calvici segera terlempar jatuh ke dalam kolam kobaran api dengan cepat. Kamera memperlihatkan tubuh Calvici yang terlihat meronta-ronta di dalam kobaran api. Kedua tangan pesulap muda itu terlihat bergerak liar dengan petir yang masih menyambar-nyambar dari jari-jarinya dan kedua kakinya terlihat berjuang keras untuk keluar dari kolam api yang sedang membakar seluruh tubuhnya.
Puluhan petugas pemadam api yang menunggu di samping kolam api segera berteriak-teriak cemas.
“Matikan gasnya, segera ambil tabung pemadam kebakaran.”
“Kunci katup penutup saluran gasnya rusak,” sahut seorang teknisi sistem pembakaran pada kolam api, wajahnya terlihat pucat dan tangannya tidak dapat memutar katup penutup gas pada kolam api. Katup itu tampak sudah dirusak seseorang.
Dengan terburu-buru, mereka berlarian mengambil tabung gas pemadam kebakaran yang tersusun rapi dan mengarahkan corong pemadam pada kolam api. Jari-jari mereka dengan cepat menekan kunci-kunci tabung pemadam.
Namun, setelah berusaha menekan mati-matian, tidak ada terlihat sepotong gas putih pun yang keluar dari puluhan moncong tabung gas pemadam kebakaran yang terarah pada kobaran api itu. Calvici terlihat meronta-ronta dalam kobaran api yang diikuti dengan teriakan menyayat hati dari mulutnya.
Semua orang dari atas kolam hanya dapat melihat dengan wajah cemas dan tidak mampu melakukan apapun. Sebelum ia berhasil keluar dari kolam api, tubuh itu jatuh dan tak dapat bergerak lagi sama sekali. Terlihat sesosok tubuh yang hitam terpanggang dalam kobaran api.
Jerit ketakutan para penonton terdengar keras.
Pagi harinya, Jaime sedang duduk di dalam sebuah bangunan besar bekas pabrik yang kini sudah kosong melompong. Tempat ini adalah tempat tinggal warisan orang tuanya. Ia sedang menonton televisi yang ramai menayangkan tentang kematian Calvici, sang raja pesulap dunia.
Reporter televisi terlihat sedang mewawancarai asisten Calvici, seorang wanita cantik, yang mengatakan pada reporter itu dengan histeris, “Calvici sebenarnya mengenakan sebuah pakaian khusus anti-petir. Pakaian itu sudah di uji coba pada listrik tekanan tinggi dan seharusnya akan menyelamatkan Calvici saat petir menyambarnya.”
“Selain itu,” lanjut asistennya, “Calvici juga menggunakan sebuah alat pada kedua tangannya yang dapat menghasilkan listirk buatan dan memberikan efek seperti listrik menyambar-nyambar. Rencananya akan digunakan setelah ia bertahan dari serangan petir dan menunjukkan dirinya seolah-olah telah berhasil menangkap petir.”
“Namun pada saat itu, pakaian anti petir yang seharusnya bekerja sama sekali tidak melindunginya. Petir melontarkannya dan membuatnya terjatuh sekitar lima atau enam meter dari tiang penangkal menuju ke dalam kolam api. Kemudian, puluhan para petugas yang sebenarnya sudah bersiap-siap untuk memadamkan api jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, menemukan tabung pemadam kebakaran mereka sama sekali kosong. Katup gas juga tidak dapat dimatikan. Seseorang telah melakukan. Seseorang telah merusak pakaian anti petir, menggosongkan tabung pemadam kebakaran dan merusak katup gas.”
Siaran televisi berpindah untuk menayangkan sebuah rumah sakit dan seorang dokter yang mengatakan bahwa benar Calvici telah meninggal. Sesaat kemudian, terlihat adanya sebuah berita utama yang memperlihatkan seorang wanita menangis sambil membaca sebuah surat.
Jaime mengeraskan suara televisi.
“Calvici sebelum melakukan pertunjukan terakhirnya, meninggalkan sebuah surat yang ditemukan oleh asistennya pada kamar ganti pesulap muda itu.”
Televisi segera menayangkan surat itu dan tulisannya
“Setelah semua ketenaran yang kumiliki dari hasil kerja kerasku, hanya kekosongan yang kumiliki. Aku ingin meninggalkan semua omong kosong ini dan menyambut tanah para Nabi yang sudah merindukanku.”
Jari tangan Jaime mematikan televisi tersebut. Ia tahu setelah kejadian pada Calvici, media akan melahap apa saja dugaan yang diberikan oleh orang-orang sekitar Calvici. Calvici mungkin dibunuh oleh orang-orang yang cemburu atau mendendam padanya. Mungkin oleh pesulap-pesulap yang menjadi miskin karenanya. Mungkin juga pesulap itu bunuh diri. Mungkin saja alat-alat pertunjukannya disabotase oleh para asisten atau teknisinya dan membuatnya seolah-olah seperti bunuh diri. Atau semua itu hanyalah sekedar kesalahan pada pertunjukan yang menewaskan dirinya. Apa pun itu, dirinya sudah tewas. Segala sesuatunya selesai jika kematian sudah tiba.
Jaime keluar dari pabrik kosongnya dengan sebuah sepeda. Ia melajukan sepedanya menuju ke tempat kerjanya di wilayah kota sebagai pelayan dan merangkap pengantar makanan. Ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan orang terkenal itu.
Sebenarnya, cukup banyak orang yang meninggal setiap harinya dan Calvici hanya akan menjadi salah satu dari mereka yang tercatat pada data statistik kematian kemarin. Semasa hidup, mereka mungkin berbeda, ditakuti, disegani, seorang penguasa, seorang raja, seorang kaya dan lain sebagainya. Namun saat mereka mati, mereka semua sama saja.
Sepeda Jaime bergerak melintasi lorong-lorong kecil yang dipenuhi sampah-sampah yang dibuang sembarangan, para imigran gelap, para pengguna obat terlarang dan para pelacur.
Mengapa mereka semua ada di tempat ini?
Alasannya mudah, karena tempat ini adalah wilayah pinggiran kota yang terburuk. Dulunya, wilayah Vista ini adalah kawasan perindustrian dan tempat di mana para buruh industri tinggal. Setelah krisis ekonomi global besar-besaran, beberapa pabrik tutup dan beberapa lainnya mulai pindah ke negara-negara yang gaji buruhnya jauh lebih rendah dari tempat ini. Mereka meninggalkan bangkai pabrik mereka dan ribuan buruh yang kehilangan pekerjaannya. Seluruh wilayah ini menjadi lumpuh. Para buruh yang kehilangan pekerjaannya mulai melakukan apa saja untuk mempertahankan kehidupan mereka dan membuat tingkat kriminalitas tempat ini naik dengan cepat.
Teramat buruknya keamanan di wilayah ini bahkan membuat polisi merasa enggan untuk membuat posnya atau sekedar berpatroli. Mengingat beberapa pos polisi lama terbakar habis dan beberapa polisi yang pernah mencoba patroli di tempat ini terpaksa lari keluar dari wilayah Vista meninggalkan kendaraan mereka yang hancur.
Yang berikutnya semakin banyak buronan dari berbagai sisi kota bersembunyi di tempat ini dan memperburuk keadaan wilayah Vista. Sepeda Jaime terus melaju melewati blok demi blok perumahan yang sudah lama dikenalnya. Dua orang pria mendadak muncul dan menghadang laju sepedanya di tengah jalan. Dengan cepat Jaime menekan pedal rem sepeda.
“Hei, anak muda.” teriak seorang pria dengan mata sayu dan sebelah tangannya masih memegang botol minuman keras. “Kami mau meminjam uang. Besok pasti akan kami kembalikan.”
Jaime yang masih duduk di atas sepedanya menyingkap sebuah jaket tipisnya untuk memperlihatkan sebuah pisau kecil yang tersangkut pada ikat pinggangnya. Kedua pria itu melihat pisau tersebut dan tertawa.
Seorang pria yang tubuhnya agak besar dan botak menyingkap bajunya untuk memperlihatkan perut buncit dan sebuah senjata api terselip di antara celana dan lemak perutnya.
“Jangan menggertak kami, pisaumu tidak akan berguna,” kata pria botak itu. “Serahkan uangmu bocah.”
Jaime tersenyum penuh arti. Ia turun dari sepedanya, menendang tongkat penyangga sepeda di belakang dan mengangkat kedua tangannya dengan tenang sambil berdiri di depan kedua pria itu.
“Anak baik,” kata pria botak itu. “Kini keluarkan uangmu.”
“Kawan, menang kalah bukan terletak pada senjatanya. Tapi cara penggunaannya,” sahut Jaime.
Tangannya mendadak bergerak cepat untuk mengeluarkan pisau dan menusuk perut kedua pria tersebut. Masing-masing sekali. Kedua pria itu belum tersadar akan apa yang terjadi karena gerakan Jaime terlalu cepat. Mereka hanya sadar pada saat melihat pisau kecil berkilat di tangan Jaime sudah memiliki darah dan pistol pada perut pria botak sudah berganti ke tangan Jaime.
“Pegang perut kalian!” bentak Jaime mendadak marah.
Kedua orang itu segera terkejut dan melihat pada perut mereka. Sebuah lubang telah terbuka dan mengalirkan darah merah membasahi baju mereka. Kedua tangan mereka segera mencoba menutupi luka tusuk di perut. Wajah mereka yang sayu mendadak tampak sadar.
“Pegang yang erat,” kata Jaime kali ini dengan tenang dan menyelipkan kembali pisau kecilnya.
“Kalian lihat itu?” tanya Jaime pada kedua pria sambil menunjukkan sebuah rumah mungil putih di kejauhan.
“Itu adalah rumah sakit. Mulailah berjalan ke sana untuk hidup kalian. Jika kalian dapat menempuh perjalanan 100 meter ke sana, kalian akan diobati dan hidup. Jika kalian tidak dapat berjalan ke sana sebelum darah kalian habis. Kalian hanya akan menjadi bangkai di tepi jalan. Tapi tenang saja, akan ada yang akan mengambil mayat kalian. Daging kalian akan dicincang serta digabungkan dengan daging busuk lainnya untuk makanan anjing.”
Mobil jenis hummer dengan kap terbuka terlihat bergerak dari jalan raya mendekati mereka dan akhirnya berhenti.
“Jaime, kamu menusuk orang lagi?” panggil seorang dari atas mobil itu dan beberapa orang di atasnya terlihat memegang senjata api.
“Mereka mencoba meminjam uang dariku,” kata Jaime santai dan menaiki sepedanya.
“Dasar orang baru,” tawa pria itu sambil meludah ke jalan dan membentak kedua orang itu, “Apa yang kalian tunggu? Mulailah berjalan untuk nyawa kalian. Kami akan mengurusi mayat kalian.”
Kedua pria itu dengan wajah pucat mulai bergerak tertatih-tatih. Dapat terlihat darah merah sudah membasahi tangan mereka yang mencoba menutupi luka tersebut. Darah itu mulai menetes pada aspal jalanan.
“Gio, aku berangkat dulu,” kata Jaime yang bergerak meninggalkan tempat itu dengan bersepeda. Ia dapat melihat beberapa orang di atas mobil Gio mulai bertaruh apakah kedua pria itu dapat sampai pada rumah sakit atau tidak. Jaime yakin mereka akan melihat kedua pria itu berjuang atas nyawa mereka dengan senang hati.
Tempat ini bernama Vista, yang diambil dari nama seorang pebisnis yang pertama kali membangun pabrik di tempat ini. Di tempat ini, kelembutan dan kelemahan bukanlah sesuatu untuk ditunjukkan. Semua orang yang tinggal di tempat ini sudah terlahir dengan sebuah taring. Mereka sudah tahu bagaimana harus menghadapi para buronan dan preman kelas teri yang memasuki wilayah mereka. Seorang preman yang ditakuti di kota sebagai serigala hanya akan menemukan sarang naga saat memasuki di tempat ini.
Jaime lahir di sebuah kota kecil yang jauh dari Vista. Pada umurnya yang ke 3, ayahnya memutuskan untuk mencoba membuka pabrik tekstil sendiri. Ayahnya adalah seorang general manajer sebuah perusahaan tekstil yang sudah bekerja selama dua puluhan tahun dan menyukseskan perusahan itu.
Mencoba membangun mimpinya, pria tua itu menjual seluruh harta benda dan rumah mereka di kota untuk membeli sebuah tanah dan membangun pabrik di Vista. Mereka sekeluarga tinggal di lantai dua pabrik tersebut. Pada awalnya, keluarga dari ayah dan ibunya memberikan pinjaman pada ayahnya untuk membeli peralatan-peralatan pabrik yang dibutuhkan. Pabrik itu berjalan lancar selama tujuh tahun dan menghasilkan keuntungan.
Seluruh keluarga besar ayah dan ibunya mulai memuji-muji dan mengelu-elukan ayahnya. Karena pria tua itu memberikan keuntungan yang berlipat-lipat pada mereka. Namun saat terjadi krisis, beberapa perusahaan terpaksa tutup tanpa membayar hutang-hutang mereka pada ayahnya yang segera membuat pabrik ayahnya menjadi kekurangan modal. Pada saat itu beberapa buruh mulai melakukan pemogokan serta meminta gaji yang tinggi, beberapa perusahaan yang menjadi rekanan ayahnya mulai memindahkan perusahaan mereka ke negara-negara dengan sumber daya manusia yang jauh lebih murah.
Dalam sekejap ayahnya menghadapi krisis. Bukan hanya masalah modal, membayar gaji yang tinggi dan menghadapi ongkos pengiriman yang semakin besar berhubungan dengan pabrik rekanan yang sudah pindah keluar negeri, hasil produksinya juga mengalami penurunan dalam penjualan. Tanpa kenal lelah, ayahnya terus berusaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup pabrik.
Sedangkan keadaan keluarganya semakin memburuk. Keluarga ayah dan ibunya mulai meminta kembali uang hasil investasi mereka yang membuat ayahnya terpaksa meminjam uang pada perbankan. Terjadinya krisis moneter dan nilai tukar yang tidak stabil pada pasaran dunia membuat ayahnya beberapa kali mengalami kerugian besar.
Beberapa rekanan bisnis di daerah sekitar Vista yang mencoba bertahan, mulai berjatuhan. Sebagian dari mereka masih memiliki utang pada ayahnya dan tidak mampu membayar sehingga ikut memperburuk keadaan pabrik ayahnya.
Saat itu Jaime dapat melihat raut wajah ayahnya semakin lama semakin buruk. Tidak lagi pernah terlihat senyuman. Jaime pernah sekali mencoba membantu ayahnya, akan tetapi ayahnya segera mengusirnya dan marah-marah meminta agar tidak diganggu. Ayahnya juga menjadi pemarah dan hampir setiap hari bertengkar dengan ibunya. Perlahan namun pasti, ayahnya menemukan peralatan pabriknya mulai dijual satu persatu, buruh yang bekerja semakin sedikit dan seluruh hartanya mulai terjual untuk melunasi hutang bank.
Ibunya yang terpengaruh oleh bujukan dari keluarganya, memilih untuk bercerai dan menikah kembali dengan seorang rekanan perusahaan ayahnya dan pindah keluar negeri. Ibunya hanya menitipkan sebuah pesan, “Jagalah ayahmu baik-baik,” dan pergi begitu saja.
Sejak saat itu ayahnya mulai semakin menenggelamkan diri pada pekerjaannya. Pada suatu hari, Jaime mendengar ayahnya berteriak-teriak melalui telepon setelah mendapati beberapa perusahaan berhenti bekerja sama dengannya dan para penagih hutang terus mengejarnya. Penyakit jantung ayahnya kumat dan terpaksa masuk ke rumah sakit. Namun, setelah menginap tiga hari di rumah sakit, ia melarikan diri untuk kembali bekerja di pabriknya.
Pada malam harinya, ayahnya terjatuh di dalam kantornya dan tidak pernah bangun lagi.
Pada hari pemakaman, pengacara ayahnya, seorang pria berkaca mata bulat dan berwajah sinis, datang dan menyerahkan sebuah tas kerja ayahnya. “Ayahmu adalah seorang pekerja keras, tidak ada yang meragukannya. Cita-citanya adalah mengumpulkan uang hingga ia dapat hidup tenang hanya dengan mengandalkan bunga uangnya.” Pria itu mendorong kaca mata bulatnya. “Akan tetapi kelihatannya cita-citanya tidak pernah terwujud.”
Jaime hanya diam.
“Terimalah harta terakhir ayahmu.”
“Warisan utangkah?” tanya Jaime marah karena tahu ayahnya tidak mungkin memiliki apa pun lagi untuk ditinggalkan.
Pengacara itu menggelengkan kepalanya, “Pada akhir-akhir ini, ia berkerja keras untuk membayar semua utang-utangnya dan yang tersisa adalah surat tanah bangunan ini yang bebas dari semua hutangnya.”
Jaime menarik nafasnya dalam-dalam. Ia tidak tahu harus merasakan apa. Ia tidak pernah dekat dengan ayahnya karena pria tua itu selalu berada di kantornya. Ibunya juga sudah lama pergi. Akhir-akhir ini juga dia lebih sering berada di tempat Jack membantu restoran cepat saji itu. Pengacara itu duduk di sampingnya.
“Ayahmu selalu berkata, ‘seorang ayah harus bisa menyediakan sebuah tempat bagi anaknya untuk pulang dalam keadaan apa pun juga.’ Sampai matinya pun, ia tidak akan membiarkanmu tanpa sebuah tempat untuk berteduh.”
Sejak itu, Jaime hidup sendiri dan menolak untuk tinggal bersama keluarganya.