Joan Hendra Setiawan, lelaki kelahiran 2001 yang kini sedang menempuh pendidikan kuliah di fakultas Brawijaya dengan jurusan hukum dan sudah di semester 7, semester yang lagi sibuk-sibuknya untuk mempersiapkan skripsi dan melakukan KKN.
Sehari-hari ia memang tinggal sendirian di rumah yang cukup besar itu, kedua orang tuanya berada di luar kota untuk mengurus perusahaan dan hanya pulang di hari-hari tertentu seperti saat lebaran atau libur di akhir tahun.
Joan memilih tinggal di rumah peninggalan neneknya itu karena di rumah orang tuanya ia hanya di temani oleh bibi dan supir yang sering kali mengaturnya karena suruhan dari ayahnya. Ia ingin hidup bebas dengan aturannya sendiri, melakukan segala hal tanpa perizinan dari siapapun.
Sementara itu, Joan kini kelabakan karena bayi itu menangis sangat keras. Ia bingung harus berbuat apa, di kardus itu hanya terdapat secarik kertas dan sebuah gelang polos berwarna hitam. mana bisa lelaki dengan keseharian bersama alkohol merawat seorang bayi?
"Shut … dedek bayi diam dulu, kita tunggu kakak Kiana datang ya … astaga! Kiana kenapa belum datang juga," Joan masih berusaha menenangkan bayi itu. namun hasilnya nihil, entah apa yang harus ia lakukan di rumah yang sepi itu.
Selang beberapa menit Sebuah ide pun muncul di otak Joan, ia kembali meletakkan bayi itu di sofa lalu melepas kaos putih polosnya, Memperlihatkan otot sixpacknya dengan beberapa tatto kecil di tubuhnya.
Perlahan Joan kembali mengangkat tubuh mungil bayi itu lalu menyandarkan kepalanya tepat di dada kanan dan anehnya bayi itu perlahan-lahan diam, Tangan kecilnya memeluk dada bidang milik Joan.
"Diam? Bayi kecil, apa kau suka tubuh hangat ku? Apa sekarang aku adalah seorang ayah? Ayah …," Joan salting sendiri mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya, bagaimana bisa seorang mahasiswa semester 7 tiba-tiba menjadi seorang ayah muda.
Suara motor matic terdengar berhenti di halaman rumah, Joan segera keluar masih menggendong bayi kecil itu tanpa menggunakan baju.
Kiana segera menghampiri Joan, melihat bayi kecil yang di gendong oleh tangan kekar sahabatnya itu. "Joan!? Kau benar-benar tak bercanda tentang bayi ini? Siapalah orang tua yang membuangnya? Kasihan sekali kamu dek, padahal kamu tidak minta untuk dilahirkan ke dunia ini," Kiana dengan suara serak dan mata berkaca-kaca menatap dalam bayi kecil yang tak berdosa itu, Jiwa keibuannya tiba-tiba muncul begitu saja.
"Kau menangis? Ada apa denganmu, Kiana? Kenapa tiba-tiba menangis, ayo masuk. Jangan seperti ini,"Joan segera menuntun Kiana untuk masuk ke dalam rumah, ia takut ada orang yang salah paham melihat mereka.
Didalam Kiana sedikit menyapu air matanya dengan lengan Hoodienya yang kepanjangan.
"Ingin coba menggendong bayinya?" Joan perlahan memindahkan posisi bayi itu ke tangan Kiana. gadis itu tersenyum bahagia sembari menatap wajah imut bayi itu.
"Kenapa kau tak memakai bajumu? Kau pikir aku ini seorang laki-laki?" Pekik Kiana menatap Joan yang hanya menggunakan celana pendek berwarna hitam dengan ekspresi datar. Apa dia pikir Kiana gadis yang tak normal?
"Aku melepaskan baju ku karena bayi itu, sepertinya dia kedinginan. Saat ku letakkan di dadaku, suara tangisannya langsung hilang, luar biasa bukan?" Joan dengan bangganya mengucapkan kalimat itu pada Kiana.
"Kalau begitu pergi sana, kau pasti belum mandi, kan?" Pekik Kiana sembari mengelus-elus lembut kepala bayi itu.
"Tepat sekali! Jaga bayi itu untukku, boleh?" Pinta Joan dengan wajah memelas.
"Jangan lama ya? Aku takut dia menangis lagi, aku tidak tahu terlalu tahu cara menjaga seorang bayi," Kiana dengan nada ketus mengingatkan Joan. Lelaki itu jika sedang mandi sangat lama, entah apa saja yang ia lakukan di ruangan kecil itu.
"Tak perlu khawatir, kau hanya perlu melepas bajumu untuk memberikannya kehangatan," kata-kata Joan terdengar sangat mesum di telinga Kiana, Gadis itu bergidik ngeri.
"Joan, jaga kata-kata mu! Sudah, sana pergi!"pekik Kiana dengan suara berbisik, ia tak ingin bayi itu terbangun karena suara teriakannya pada Joan.
"Hahaha … iya, iya bunda. Ayah mandi dulu ya," ujar Joan lalu mengambil handuk yang ada di dekat sofa beralih mengelus-elus kepala Kiana membuat gadis itu risih.
"Idih, aku gak akan mau nikah sama cowok kayak kamu," dengan lantang Kiana mengatakan hal itu, tapi Joan santai saja. Ia tau betul Kiana, dari dulu gadis itu tak pernah terpikat dengan ketampanannya.
20 menit berlalu, Joan baru saja keluar dari kamar mandi masih memakai jubah mandi dan handuk kecil yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Lelaki itu lalu menatap Kiana yang sedang melakukan hal konyol untuk membuat bayi itu berhenti menangis.
"Apa yang ia lakukan? Melakukan hal konyol adalah ide yang ada dalam pikirannya?" Batin Joan, ia terkekeh pelan melihat tingkah Kiana.
Sebenarnya ia sudah lama menyimpan perasaan suka pada gadis itu, hanya saja ia takut mengungkapkannya karena tak mau persahabatan yang sudah lama mereka bina hancur begitu saja. jika Kiana sampai tau Joan menyayanginya lebih dari seorang sahabat, mungkin gadis itu akan menjauh perlahan-lahan.
"Wah, kau sudah sangat cocok menjadi seorang ibu,"goda Joan membuat Kiana menatap lelaki tampan itu dengan tatapan sinis.
"Semua perempuan memang akan menjadi seorang ibu, Joan,"jelas Kiana dengan nada ketus.
"Kau akan merawatnya? Apa kau sanggup merawat bayi ini sendirian? Lihat saja rumah ini, banyak botol alkohol. Berantakan," kata-kata Kiana terdengar sangat nyelekit di telinga Joan, lelaki itu hanya bisa menatap Kiana dengan ekspresi kesal sekaligus malu.
"Kau menghinaku? Lagi pula aku tidak punya waktu untuk membersihkan semuanya, Kiana …," Joan berusaha membela dirinya di lautan fakta. Tidak punya banyak waktu untuk membersihkan? Lalu bagaimana ia merawat bayi kecil itu, menyuruhnya Menganti popok sendiri?
"Kau akan membiarkan bayi ini hidup dalam hunian mu yang jorok?" Kiana masih dengan kata-kata nyelekitnya, gadis itu sepertinya punya dendam kesumat pada Joan.
"Sejujurnya aku bingung, bagaimana kalau bunda dan ayah tau aku merawat seorang bayi yang tak ku ketahui orang tuanya. Bisa habis diriku di omeli bunda, dan siap-siap saja ayah menendangku dari rumah," ujar Joan menghela nafas panjang lalu menjatuhkan dirinya ke sofa.
Lama mereka diam untuk berpikir, sebelum Kiana akhirnya melontarkan ide yang terdengar cukup cemerlang.
"Katakan saja pada mereka, kau mengasuh bayi ini dari panti asuhan. Kurasa itu sudah cukup untuk meyakinkan mereka," enteng sekali Kiana mengucapkan kalimat seperti itu pada Joan, padahal ia sendiri tau sifat keras yang di miliki ayah sahabatnya itu.
"Kiana … apa kau tidak tahu bagaimana sifay ayahku? Dia akan menanyakan dokumen hak asuh dan minta untuk diperlihatkan panti asuhan tempat bayi itu ku asuh, tidak semudah yang ada dalam bayanganmu," perbedaan pendapat membuat mereka kebingungan mencari jalan keluar dari masalah itu. Apa solusi dari Kiana akan berjalan lancar?
"Bagaimana kalau kita Katakan saja sudah menikah secara siri?" Ide gila mulai muncul dalam pikiran Joan, saat ini hanya itu salah satu solusi yang menurutnya aman.
"Tidak, aku tidak mau!" Dengan lantang Kiana menolak ide gila sahabatnya itu, ini tidak hanya menyangkut tentang ayah Joan. tetapi kedua orang tua Kiana juga, Belum lagi orang-orang yang mungkin mengecap mereka berhubungan di luar nikah, pikiran buruk mulai terlintas di benak Kiana. Gadis itu memijat-mijat pelipisnya sembari terus menatap bayi kecil yang ada di hadapannya.
"Lalu harus bagaimana? Apa kau ingin menitipkan bayi ini ke panti asuhan?" Joan semakin membuat Kiana bingung, lelaki tampan itu terus saja mengoceh di depannya.
"Nama!" celetuk Kiana membuat Joan kebingungan, apa maksudnya menyebut kata itu? Nama apa?
"Ayo kita rawat dia, Joan! Yeah … sekarang aku memilih merawatnya!" Pekik Kiana menatap Joan dengan mata berbinar membuat lelaki tampan itu tambah keheranan.
"Kau akan menerima segala resiko yang ada?" Joan balik menatap Kiana dengan serius, Bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa Senti saja.
Mendengar itu Kiana pun mengangguk dengan wajah sumringah, entah apa yang membuatnya bersemangat seperti itu. Apa karena ocehan Joan yang membuka pikirannya?
"Sekarang ayo beri dia nama," pinta Kiana pada Joan, ia lalu beralih menatap bayi itu dengan senyum bahagia.
"Hm … aku bingung, nama apa yang cocok untuknya? Bagaimana kalau Dena?" Joan memutar otaknya, memikirkan nama apa yang cocok untuk seorang bayi perempuan.
"Sudah banyak yang memakai nama itu, di kampus saja ada lebih 50 orang yang menyelipkan kata Dena pada namanya," tepis Kiana dengan nada ketus masih berusaha memikirkan sebuah nama yang bagus.
"Agustin?" Joan kembali menyarankan nama lain, namun lagi-lagi di tolak oleh Kiana. Membuat Joan kebingungan nama seperti apa yang gadis itu akan berikan pada bayi yang ada di depannya.
"Jangan, nanti pas sekolah namanya malah jadi bahan ejekan, pasti bakalan sering di panggil Agus atau enggak Tin, kayak bunyi klakson mobil yang ada di novel-novel," Kiana dengan nada ketus nya. membuat Joan pasrah menyerahkan keputusan sepenuhnya pada sahabatnya itu.
"Lalu nama apa yang menurutmu bagus? Terserahlah, aku lelah," Joan kembali menyandarkan kepalanya ke sofa lalu memegang tangan mungil bayi itu.
"Bagaimana kalau … Jona!?" Celetuk Kiana membuat Joan tersentak.
"Jona?" Joan masih bingung, berusaha mencerna apa nama Jona bagus untuk bayi imut itu.
"Iya! Itu singkatan dari nama kita, Jo-an dan Kia-na," Kiana lalu mendekati Joan menatap lelaki itu dengan mata berbinar, kedua tangannya mengunci tubuh kekar Joan.
"Kiana? Kau sehat?" Joan terkejut dengan sikap Kiana kepadanya, gaya mereka saat itu membuat pikiran Joan kemana-mana.
"Maaf, aku hanya sangat bahagia," Kiana menjauhkan tubuhnya dari Joan dengan rasa malu, walau mereka sudah bersahabat cukup lama. Jarang sekali Kiana berinteraksi lebih dulu pada Joan sedekat itu.
"Tumben sekali otakmu encer," Joan berusaha menghilangkan pikiran kotornya karena sikap Kiana tadi, hampir saja ia bersikap terlalu jauh.
"Halo Jona, nama kamu Jona … dia senyum Joan!" Pekik Kiana saat melihat ekspresi bayi Jona berubah, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Jona, anaknya ayah Joan dan bunda Kiana," Joan pun ikut mengajak bayi Jona berbicara.
"Apa sih, jangan ngelunjak!Masih untung aku mau bantu jaga bayi Jona," celetuk Kiana dengan nada ketus dan tatapan sinis.
"Iya, iya. Thanks honey," suara berat Joan membuat Kiana salah tingkah.
"Sudah, sana pakai bajumu. aku ini masih normal," pekik Kiana hanya sesekali menatap Joan, ia takut lelaki itu tiba-tiba berbuat gila.
"Benarkah? Kau tak ingin melihatnya?" Joan tambah membuat Kiana gelisah, tatapan dan senyum miring pria itu terlihat menyeramkan Dimata Kiana.
"Apa!?" Kiana berteriak dengan lantang karena terkejut sekali lagi mendengar ucapan mesum Joan.
"Tatto baruku, sayang …," Joan dengan wajah gembira berjalan menuju kamarnya namun suara tawa kecil Joan bahkan terdengar oleh Kiana saking sunyinya rumah besar itu.
"Joan! Jangan pikir aku tak mendengarnya!" Teriak Kiana.
"Ampun sayang … ampun," Joan memohon dengan nada bercanda.
"Sekali lagi kau menyebut kalimat seperti itu, ku tinggalkan kau sendiri bersama Jona," ancaman Kiana membuat Joan bungkam, lelaki itu segera keluar dari kamarnya lalu berjongkok memohon pada Kiana.
"Jangan! Jangan ya, Kiana Agung Triwahyuni," Joan berusaha membujuk Kiana dengan wajah memelasnya.
"Eh, maaf ya Jona. Soalnya kak Joan berisik," Kiana terkejut karena tiba-tiba bayi Jona terbangun dari tidurnya dan menangis.
"Ayah Joan, bunda …," Joan masih sempat-sempatnya bercanda di situsi genting itu.
"Iya ayah Joan! Sudah puas?," Pekik Kiana, menatap Joan dengan wajah kesal.
"Sangat puas,"Joan lalu tersenyum miring menatap Kiana intens. Kekaguman lelaki tampan itu tak teralihkan oleh apapun. Sikap cekatan Kiana membuat Joan terpesona.
"Pantas saja, lihatlah. popoknya penuh," ujar Kiana saat memeriksa popok bayi Jona yang sudah penuh, bahkan rembes mengenai sofa.
"Lalu bagaimana?" Tanya Joan dengan nada santai. Lelaki tampan itu sama sekali tak tahu jika seorang bayi memiliki keperluan yang sangat banyak.
"Beli popok untuk bayi Jona," tegas Kiana membuat Joan malah tambah heran, mana bisa ia membeli sebuah popok.
Memegangnya saja ia tak pernah.
"Kau ingin aku keluar untuk membeli popok? aku tidak tahu benda apa itu Kiana … kenapa bukan kau saja yang keluar membelinya?" Joan dengan nada ketus, menatap Kiana yang berusaha menenangkan Jona.
"Jika aku meninggalkanmu berdua dengan Jona, kau hanya akan membuatnya menangis," kalimat ketus kembali terlontar dari mulut Kiana, gadis itu menggeleng kepalanya membayangkan jika Joan yang akan menjaga Jona walau hanya sebentar.
"Baiklah, cepat tulis apa yang perlu ku beli untuknya,"pinta Joan, mendengar itu Kiana pun langsung menyerahkan jona pada Joan untuk sementara. Setelah itu mengambil secarik kertas dan pulpen di meja.