Bab 1

"Tidak peduli apa pun keadaan kamu, aku janji akan menerima kamu apa adanya, Karina."

"Loe gila, tau nggak, Le! Emang loe udah tahu siapa dia sebenarnya? Keluarganya? Pekerjaannya? statusnya?"

"Kenapa loe lakuin ini ke gue?"

"Karena kamu bermarga Ferdinand. Ha ha ha! Kamulah penyebab mereka semua mati, Bule!"

Satu persatu kematian mereka mulai bermunculan di hadapannya. Baju tidur William sudah basah oleh keringat, sementara tubuhnya mengejang kesakitan.

"Apakah kamu masih merasa pantas hidup di dunia ini, Bule! Kamu penyebab kematian mereka!"

Kamu penyebab kematian mereka!

Kamu penyebab kematian mereka!

Pemuda blesteran itu menjerit, terbangun di tengah malam dengan kepala kesakitan. Perutnya bergejolak karena rasa mual. Dengan tubuh lemah dan tertatih dia pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.

***

Jika saja nyawa dapat dibeli setiap kesalahan pasti akan mudah untuk diperbaiki, hingga tiada lagi yang namanya penyesalan. Dan jika setiap orang mau berpikir berulang kali dalam melakukan sebuah tindakan, mungkin penyesalan itu tak akan pernah datang untuk menghantui. Namun, memang seperti itulah hakikatnya hidup di dunia ini. Kesalahan serta penyesalan sudah menjadi hal yang lumrah untuk terjadi.

William Ferdinand tak pernah lagi merasakan ketenangan itu setelah kesalahan yang terjadi tiga tahun lalu. Untuk yang kesekian kalinya selama tiga tahun terakhir, pemuda tampan berdarah Indo-Jerman tersebut tak pernah bisa tertidur dengan lelap. Dia selalu terbangun di tengah malam dengan napas tersengal-sengal dan keringat membasahi tubuh, karena mimpi buruk yang berkepanjangan. Rasa bersalah itu tak kunjung pergi meski berulang kali dia mencoba untuk berlapang dada dan menganggap semuanya sebagai takdir dari yang Mahakuasa.

William berdiri terpaku memandangi sebuah nisan bertuliskan nama 'Ananta Permana Ridho'. Satu-satunya teman serta orang terdekat yang terakhir kali dia miliki, tetapi juga harus pergi meninggalkannya, membuat William hidup sebatang kara. Ini adalah makam keempat yang dikunjunginya hari ini, setelah makan mamanya, saudara kandungnya dan mantan teman kerjanya.

William sebenarnya sudah lelah menyalahkan diri sendiri atas setiap kejadian yang telah merenggut nyawa mereka. Meski begitu perasaan bersalah itu rasanya tak mungkin bisa pergi. Dia merutuki kebodohannya yang terlalu impulsif dalam menjalin sebuah hubungan, hingga pada akhirnya harus berujung kehilangan.

Jika saja waktu dapat diputar kembali, jika saja dia tidak tergesa-gesa dan menyelidiki terlebih dahulu status dari wanita yang telah membuatnya jatuh cinta, mungkin saja saat ini Anan dan Algo masih berdiri dan tertawa bersamanya.

"Maaf."

Entah sudah berapa banyak kata yang berkecamuk dan ingin dia tumpahkan dari dalam kepalanya. Namun nyatanya hanya satu kata tersebut yang berhasil terucap dan memecah keheningan.

William meletakkan sebuket bunga di atas makam Anan, lalu mengusap batu nisan itu dengan lembut.

"Aku berjanji akan lebih sering menjengukmu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Tak ada yang pernah lebih disesalinya dari kehilangan seorang sahabat akibat ulahnya sendiri.

William berdiri dengan berat hati berbalik dan meninggalkan makam yang pagi itu terlihat sangat sepi.

Di sepanjang jalan pemakaman, ingatan William meraba-raba kembali pada kejadian tiga tahun lalu. Kejadian ceroboh karena keputusannya yang terlalu impulsif. Di mana dia jatuh cinta pada seorang wanita tanpa mengetahui jati dirinya, yang pada akhirnya menyeretnya pada sebuah petaka.

"Jika saja saat itu aku dapat mengontrol diri, apakah kehidupanku saat ini akan berbeda?" gumamnya dalam hati.

Mata biru jernih pemuda tampan itu menengadah pada langit-langit, menerawang kembali ke masa lalu.

***

🔪Tiga Tahun yang Lalu🔪

Kemerlip lampu ibukota menambah indahnya suasana jalanan kota K. Binar sang rembulan menyinari angkuhnya kegelapan malam. Seorang pemuda berdarah campuran tengah mengamati wanita cantik bertubuh mungil yang terlihat berjalan tergesa menuju sebuah ruang apartemen di mana dirinya berada. Pemuda itu bersembunyi di balik tembok, mengintip wanita yang saat ini sedang terpaku menatap sebuah kertas merah muda yang dilipat dengan rapi dan ditempel pada pintu apartemen tersebut.

Wanita bermata sayu itu tersenyum geli. Di jaman yang sudah secanggih ini, masih ada juga orang yang mau repot-repot menulis pada selembar kertas. Setengah ragu, jemari lentik itu terulur untuk mengambil dan membukanya secara perlahan. Mata sayu itu berbinar kala membaca setiap rangkaian aksara yang tersusun dengan begitu rapi dan juga indah. Sesekali dia tersenyum kecil, pancaran rasa haru terselip jelas dari sorot matanya.

Kata-kata puitis yang sudah bisa dia tebak siapa pemiliknya itu mampu menggetarkan lubuk hatinya. Dia terpejam, antara percaya dan tak percaya jika kata-kata itu memang sengaja dirangkai untuknya.

"Bolehkah aku terlalu berharap?" batinnya.

Wanita berparas sunda tersebut menggeleng pelan, lalu berdecak dengan kesal." Tidak mungkin kata-kata ini dirangkai untukku, bukan? Kamu hanya terlalu naif, Karina," lirihnya.

Sudut bibir William melengkung mendengar kalimat tersebut. Dengan langkah pelan dia berjalan mendekat, lalu berdehem padanya.

"Ekheem!"

Deheman itu dalam sekejap membuyarkan lamunan wanita bermata sayu tersebut. Dia berbalik dan tertegun saat melihat pemuda tampan yang sudah setahun ini dekat dengannya, dia tengah tersenyum manis padanya.

Karina menatapnya dengan sedikit linglung. Belum sepenuhnya percaya jika orang yang beberapa hari ini sering mengantarnya pulang, benar-benar tengah berdiri di hadapannya. Penulis aksara indah yang sedari tadi dipikirkannya itu berada tepat di depan mata.

"Will, kamu ...." Karina menghentikan ucapannya. Dia menggigit bibir bawahnya, menatap dengan canggung pada pemuda bertubuh tinggi tegap yang kini tengah berjalan menghampirinya.

Pemuda yang akrab disapa Bule oleh teman satu kostnya itu terkekeh melihat sikap canggung wanita yang baru saja membaca puisi miliknya. Puisi yang sebenarnya memang sengaja dia tempel di sana, hanya untuk mengejutkan wanita yang diam-diam menjadi dambaan hatinya.

Karina Larasati. Dialah satu-satunya wanita yang berhasil masuk dan mengusik kehidupan seorang William, hingga selalu hadir dalam mimpi indahnya dan merenggut semua ketenangan yang dia miliki.

Pertemuan yang cukup intens di restoran tempat William bekerja membuat keduanya tanpa sadar saling menyapa, saling memperhatikan hingga terlibat dalam keakraban dan akhirnya terjerumus dalam sebuah kata bernama asmara.

"Apakah ini yang dinamakan cinta sejati?" Karina berpikir.

"Itu memang untukmu, Karina," tegas William seakan telah memahami isi pikiran Karina.

Wanita itu tersenyum haru. Tak perlu bertanya kembali, dengan membaca dan menghayati setiap aksara yang telah dituliskan William untuknya, dia tentu paham sedalam mana perasaan pemuda tersebut terhadapnya.

"Tapi ... kenapa, Will? Kenapa harus aku?"

Dia penasaran. Dari sekian banyak wanita, kenapa bule tampan itu justru memilih dirinya?

"Semesta yang telah menjunjung rasa ini untukmu, Karina. Sang Hyang Widhi yang menuntun hatiku padamu."

Ada setetes embun yang tiba-tiba hadir dan tertahan di kedua pelupuk mata sayu Karina ketika mendengar jawaban dari William. Kata-kata asisten chef dari salah satu resto terkenal ibukota K itu berhasil membuat dadanya berdetak, seakan ada bunga-bunga yang tengah bermekaran di dalam sana.

Katakan bahwa saat ini dia tengah serakah. Meski ada rasa tak pantas yang seringkali hadir dalam diri Karina, nyatanya, untuk pertama kalinya dia benar-benar merasa sangat bahagia. Binar matanya tak mampu berbohong, ia menunjukkan itu semua.

William benar. Cinta bisa datang dan pergi tanpa permisi, pun hadir secara tiba-tiba tanpa pernah diminta. Seperti saat ini, seperti apa yang telah terjadi padanya meski dia tahu itu salah. Cinta mereka hadir di waktu yang tidak tepat.

Sayangnya, William tak menyadari itu semua.

"Aku harap, semua rasa ini dapat terbalas, Karina. Aku harap, perasaan rindu ini datang di waktu yang tepat."

Deg!

Sebuah rasa tak kasat mata yang seketika mencubit hati Karina kala menangkap kata-kata terakhir yang diucapkan oleh William.

Sekali lagi, pemuda itu benar. Cinta mereka datang di waktu yang kurang tepat.

Namun, melihat pemuda itu yang tiba-tiba membungkuk lalu menyerahkan sebuket bunga padanya layaknya seorang pangeran, Karina memilih untuk mengingkari logikanya.

Dia menginginkannya, sesuatu yang mungkin tak akan pernah datang untuk yang kedua kalinya.

"Will, kamu ...."

"Karina. Kita jadian, ya."

Bab 2

"Karina, kita jadian, ya," pinta William.

Karina tertegun tak mempercayai pendengarannya. Bibir merah itu terperangah tak mampu berkata-kata. Untuk pertama kali dalam dua puluh lima tahun kehidupannya, dia mendapatkan perlakuan yang baginya terbilang romantis nan istimewa dari seorang laki-laki selain daddy-nya.

Sikap romantis serta perhatian-perhatian kecil yang selama ini selalu diberikan William padanya memang mampu membuat hari-hari Karina yang awalnya kelabu itu berubah menjadi lebih berwarna. Belum lagi ketika dia menyadari bahwa dirinya memang membutuhkan sosok lembut dan penyayang seperti William Ferdinand, mengingat kondisinya yang tidak pernah baik-baik saja.

Karina merasa sangat beruntung telah mengenal serta menjadi satu-satunya wanita yang mampu menggoyahkan hati seorang William Ferdinand. Dia tentu cukup bersyukur untuk semua itu. Akan tetapi ... keraguan lagi-lagi membelenggu hatinya.

"Will .... Jujur, ini memang pertama kalinya aku diperlakukan begitu istimewa oleh seseorang. Selain ayahku, tentu saja. Dan kamu juga satu-satunya lelaki yang mampu membuat aku merasa sangat spesial. Tapi, Will ...."

Karina meraup udara dengan serakah, keraguan membuat tenggorokannya terasa tercekat. Dia tak mampu melanjutkan kata-katanya.

Pandangan Karina beralih pada sebuket bunga yang kini tengah terulur padanya. Dia terus menimbang antara harus menerima atau menolaknya. Dia memang haus akan pengertian dan juga kasih sayang, tetapi dia juga tidak yakin jika keputusan yang diambilnya akan menjadi benar.

William menyipitkan mata. Dia dapat melihat dengan jelas keraguan itu dari mata sayu Karina.

"Apakah kalimat seperti itu yang akhirnya kamu ucapkan untuk membalas orang sepertiku, Karina?" sindirnya tak suka. "Lelaki biasa ini hanya ingin mengungkapkan perasaannya padamu, Tuan Putri," ungkapnya, menjadi lebih lembut dan juga puitis.

William kini mendekat tanpa keraguan. Dia mencoba memangkas jarak di antara mereka. Tangannya meraih jemari lembut Karina lalu meletakkan sebuket bunga tersebut dalam genggaman wanita itu.

"Kau tahu, Karina? Getaran di dalam dada ini tak akan pernah bisa untuk berbohong."

Ditempelkannya jemari tangan Karina yang lain pada dada bidangnya.

"Detaknya pun tak akan mungkin dapat untuk dimanipulasi. Karena ... ungkapan ini tulus dari dalam sanubariku. Aku mencintaimu, Karina. Sungguh." Akunya dengan tulus.

Karina mendongak, dia terperangah. Netra hitamnya menatap sepasang netra biru William dengan berkaca-kaca. Dalam haru, dia mencoba menyelami sepasang netra teduh itu untuk mencari kebohongan dari sana. Akan tetapi, yang dapat dia lihat hanyalah kehangatan dan ketulusan. Dia melihat di dalam sana ada begitu banyak cinta untuknya. Sesuatu yang selama ini selalu dia impikan, sesuatu yang selama ini hampir tak pernah dapat untuk dia miliki. Dia beruntung akhirnya bertemu dengan William yang dengan sukarela memberikan itu semua untuknya.

'Ini terlihat sangat sempurna bukan? Ini sama persis seperti apa yang selama ini selalu kuinginkan. Namun ....' Karina mendesah, perasaannya terasa berat.

"Will. Kamu nggak akan pernah ngerti. Aku bukanlah wanita yang pantas untuk kamu cintai. Aku, keadaanku ...."

Karina menggigit bibir bawahnya, mencoba menarik genggaman tangan William. Namun, William justru menggenggam jemarinya semakin erat.

William tak tahu apa yang membuat wanita di depannya itu terlihat begitu khawatir. Lebih tepatnya, apa pun itu, dia sebenarnya tak mau tahu. Dia hanya tahu bahwa dia mencintai Karina, bahwa dia ingin bersamanya dan juga menghabiskan sisa hidup mereka bersama-sama.

Dia tahu tindakannya itu sangatlah impulsif. Namun, sejauh ini hanya Karina-lah satu-satunya wanita yang mampu merobohkan pertahanan dirinya, selama dua puluh empat tahun hidupnya.

Pemuda itu menarik tubuh Karina, membawanya ke dalam pelukannya yang hangat. Dia bisa merasakan detak jantung yang sama, sama berdebar dengan kencang seperti yang dirasakannya. Hal itu sudah cukup membuat William yakin bahwa Karina juga memiliki perasaan yang serupa, perasaan yang bernama cinta.

"Percayalah pada setiap detak jantung kita yang selalu berdebar seirama ini, Karina. Semua ini bersumber dari ketulusan hati yang kita miliki."

William merenggangkan dekapannya, menatap meyakinkan sepasang netra yang selama ini selalu dirindukannya tersebut.

"Kamu harus tahu tentang setiap siksa merindu yang selama ini harus kutanggung, di saat kita tak mampu untuk bertemu," bisiknya lembut, membuat tubuh Karina meremang.

"Itu menyakitkan, Karina," keluh William.

"Will, aku--"

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana," potong William lagi.

"Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada," lanjutnya, menirukan sepenggal puisi indah milik almarhumah penulis terkenal 'Sapardi Djoko Damono'.

"Will--" Karina menitikkan bulir air mata.

"Aku belajar banyak dari puisi itu, Karina. Dan akhirnya aku paham tentang apa arti mencintaimu dengan sederhana. Tidak peduli apa pun dan kapanpun itu, aku berjanji akan menerimamu apa adanya, Karina. Dan kuharap kamu juga memiliki keinginan yang serupa," harapnya.

Andai William tahu jika kata-katanya itu suatu hari akan menjadi sebuah boomerang yang menghancurkan kehidupannya dan juga kehidupan sekitarnya, dia pasti akan memilih untuk berpikir berulang kali sebelum berjanji.

Untuk kesungguhan William, Karina hanya mampu termangu. Air bening itu kini luruh semakin deras dari pelupuk matanya. Dia menatap haru pada sepasang manik mata biru yang membuat hatinya semakin jungkir balik tak menentu.

Ada banyak sekali keraguan yang berkecamuk dalam pikiran Karina. Dia tahu dia tak pantas, dia tahu tak seharusnya melibatkan pemuda dengan pemikiran sederhana seperti William dalam kehidupannya yang begitu rumit. Meski begitu, dia juga tak bisa memungkiri jika dirinya telah mendamba setiap sentuhan lembut serta kehangatan sikapnya.

Dia menginginkan pemuda yang saat ini tengah melingkarkan tangan kekar di pinggangnya itu, meski sadar itu sebenarnya sangat egois. Dia mendamba semua sikap serta kelembutan hati yang selama ini William miliki, sesuatu yang sebelumnya tak pernah bisa dia dapatkan, dan hanya untuk dirinya sendiri.

William melepas dekapannya dari pinggang Karina. Telapak besar itu terulur dan dengan lembut mengusap tumpahan air mata yang baginya sangat berharga.

Dia menatap wanitanya dengan penuh cinta lalu menempelkan keningnya pada kening Karina.

William memejamkan mata, bibir tipisnya kembali mengajukan tanya," jadi, Karina Larasati. Maukah kamu menerimaku dan menjadi bagian terpenting dari hidupku?"

Bab 3

Karina berada dalam pelukan hangat William dengan air mata yang tak henti membasahi dada bidang pemuda tersebut. Dia menghidu aroma tubuh maskulin itu, menikmati setiap rasa nyaman yang didapatinya. Terasa begitu menenangkan ketika aroma tersebut menelusup hingga indera penciumannya.

Karina ingin sekali tenggelam di sana, berpikir agar suatu saat tak akan pernah ada yang namanya kata perpisahan di antara mereka.

Tidak! Karina tak ingin berpisah dengan William. Dia ingin menghabiskan setiap sisa hidup yang dimilikinya hanya bersamanya. Berada di sisinya dalam suka maupun duka, jika saja itu bisa.

Egois? Ya. Itulah yang saat ini berada dalam pikirannya. Dia ingin egois, tak peduli jika itu hanya sebentar saja.

William memeluk erat tubuh mungil itu ketika sebuah lengkungan terukir dari kedua sudut bibirnya. Dia belum sepenuhnya percaya jika perasaan menggebu yang sudah setahun ini dipendamnya kini benar-benar sudah terbalas. Wanita yang senantiasa dia sebut di setiap penghujung malam, wanita yang untuk pertama kalinya mengubah pandangannya tentang cinta, kini telah menerima cinta William. Dia merasa lega meski Karina belum sepenuhnya menjadi miliknya.

"Ya, Will. Aku ingin bersamamu."

Jawaban tegas dari Karina beberapa saat lalu itu benar-benar membuat hatinya meluap bahagia. Dia tersenyum puas sambil membawa wanita itu dalam dekapannya. Diusapnya dengan lembut punggung wanita yang baru saja berstatus sebagai kekasihnya itu. Wanita yang telah berhasil menjungkirbalikkan dunianya, wanita yang selalu membuat jantungnya berdetak kencang, hingga menepis setiap anggapan yang sebelumnya William kira hanya akan ada dalam sebuah hikayat atau dalam film semata.

Jatuh cinta pada pandangan pertama!

Hal mustahil yang selama ini selalu dia anggap tabu, sebelum akhirnya benar-benar merasakannya.

William mendekap tubuh mungil itu semakin erat, lalu mendaratkan kecupan lembut pada kening Karina.

"Will ...," rengek Karina, terdengar merdu di telinga William. "Aku, enggak bisa napas," imbuhnya sambil tersengal.

William meregangkan pelukannya, terkekeh menatap tubuh mungil yang kini tengah terengah mengatur napasnya.

"Sorry," ucapnya merasa kasihan.

Karina cemberut, menatap William dengan kesal.

"Aku terlalu bahagia, Baby. Bisa memilikimu rasanya seperti mimpi," katanya.

Mimpi, yang suatu hari tanpa William sadari akan berubah menjadi petaka dan menghancurkan dirinya sendiri!

Wajah sembab Karina kini bersemu karena kata-kata kekasihnya. Dia mendongak menatap sepasang mata yang akhir-akhir ini selalu terlihat menawan di matanya.

William membalas tatapannya dengan mesra.

Semburat merah di pipi Karina terlihat menggemaskan, hingga membuat William merasa semakin tergoda. Tanpa sadar kedua telapak besarnya terangkat dan membelai kedua pipi lembut Karina. Itu terasa menyenangkan sekaligus membingungkan bagi William. Untuk pertama kalinya dia memiliki keinginan untuk menyentuh lebih pada lawan jenis. Keinginan itu semakin membara hingga dia kehilangan kendali dirinya.

"Uuuhh." Karina melenguh.

Dia memejamkan mata, menikmati setiap jengkal sentuhan dari William yang dia rasakan untuk pertama kalinya. Tangan yang sedikit kasap itu perlahan mulai bergerilya pada mata, hidung, dan kedua daun telinganya.

"Will ...," rengeknya.

Dia bisa melihat hasrat membara itu dari mata William. Karina menyukai itu, dan membiarkan kekasihnya bergerilya sesuka hati. Hingga deru napas hangat itu menerpa wajahnya, lalu kedua hidung mereka bertemu dan bibir mereka saling menyatu. Karina seketika tersadar dan langsung membuka mata.

"Will ...." cegahnya kemudian, menyadari di mana mereka tengah berada.

William menatap bibir menggoda yang baru saja dirasainya itu dengan tidak rela.

"Why?" tanyanya tak mengerti.

Karina terkekeh melihat tampang murung dari William. Dia tahu William pasti berpikir bahwa dirinya tak menginginkannya. "Kita masuk, ya."

Kalimat itu seketika menyadarkan William dari kebodohannya. Dia menatap sekeliling, lalu terkekeh pelan menyadari ketidak telitiannya. Dia lupa jika saat ini mereka masih berada di luar pintu apartemen.

William mencubit gemas pipi kekasihnya. Dia merebut kunci apartemen itu dari tangan Karina dan bergegas untuk membuka pintu.

Bunyi klik membuat William bernapas lega. Dia membawa masuk Karina ke dalam ruangan yang hanya beberapa kali dikunjunginya itu. Pintu kembali tertutup rapat. William menjebak tubuh mungil Karina di antara pintu dan tubuhnya, tak membiarkan wanita itu kembali beralasan lalu memadamkan hasrat membaranya.

William menarik pinggang ramping Karina, tak ada sedikitpun jarak di antara mereka. Satu tangannya memegang tengkuk Karina untuk memudahkan dirinya mengecap bibir merah yang sedari tadi sudah sangat menggoda. Meski untuk pertama kali, William berusaha bersikap mendominasi dengan mengakses seluruh mulut Karina dan sesekali menggigit bibir itu dengan pelan.

"Aahhh," lenguhan Karina kembali terdengar.

Ciuman itu perlahan semakin liar hingga berubah menjadi lumatan dan menimbulkan letupan-letupan aneh dalam diri William yang selama ini belum pernah dirasakannya. Sementara itu tangannya yang lain tanpa sadar bergerilya di dada Karina, membuat remasan-remasan lembut hingga membuat wanita itu mengerang tak berdaya.

"I Will, Honey," bisiknya Karina yang dibalas William dengan lenguhan serta lumatan menggoda pada telinganya, yang sedari tadi terlihat sudah memerah.

Karina yang sudah memiliki lebih banyak pengalaman tak mau kalah darinya. Dia membalas setiap sentuhan William yang masih terasa sedikit kaku dan tidak berpengalaman itu. Dia melakukannya dengan lebih agresif lagi. Dia tahu hal itu adalah yang pertama kali untuk kekasihnya, dan tidak keberatan untuk membimbingnya. Karina ingin membuat William semakin ketagihan hingga tak mampu berpaling darinya.

Namun, perlakuan Karina diam-diam sedikit mengejutkan William. Akan tetapi dia tak peduli, dia hanya ingin menikmati perasaan-perasaan asing yang baru saja dirasakannya.

Semakin lama keduanya pun semakin liar. Kedua sejoli itu semakin tak terkendali hingga membawa mereka pada puncak hasrat yang kian membara.

"Mau di sini?" tanya Karina dengan hati-hati.

William menghentikan aktivitasnya, lalu berpikir sejenak. Dia tak ingin menyia-nyiakan pengalaman pertamanya di tempat yang kurang leluasa.

"Ke kamar," putusnya tanpa basa-basi sembari mengangkat tubuh Karina.

***

Malam kian larut membelai kedua insan yang semakin dimabuk asmara. Udaranya membuat sepasang anak manusia yang tengah bercumbu mesra tersebut semakin menuntut untuk melakukan lebih dan lebih lagi. Pakaian keduanya telah porak poranda, terlempar di sana-sini. Malam itu mereka benar-benar melampiaskan semua hasrat serta rasa rindu yang selama ini telah terpendam hingga menggebu-gebu.

"I love you, Will ...." desah Karina.

"Love you too, Baby," balas William dengan sedikit mengerang.

Semilir angin disertai rintik-rintik hujan semakin mendukung indahnya romansa malam. Semakin membuai, hingga membuat keduanya benar-benar lupa diri. Mereka saling menyatu, mengecap rasa untuk pertama kalinya. Ruangan apartemen itu telah menjadi saksi bisu betapa panas dan menggilanya sepasang kekasih tersebut malam itu.

William bahkan sampai lupa jika dia telah melalaikan sesuatu, seseorang yang dia sudah berjanji akan selalu ada untuknya.

Mengingat hal itu hanya membuat dirinya semakin merasa bersalah juga lebih berdosa. Dia memandang rendah pada dirinya sendiri, pada lemahnya pertahanan dirinya untuk persahabatan mereka.

"Gue pulang, Nan."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED