Namaku Ayyara, umurku baru genap dua puluh tahun. Aku masih duduk di bangku kuliah.
Aku adalah anak tunggal, dan kedua orang tuaku sangat menyayangiku.
Semula hidupku selalu bahagia, karena tidak kurang suatu apapun, papa dan mama selalu memanjakan ku, segala apa yang kupinta, mereka selalu memberikan padaku. Namun belakangan ini, papa dan mama sering bertengkar, entah apa penyebabnya.
Saat pulang kuliah, sayup-sayup kudengar suara papa berkata, "Sejak kapan kamu selingkuh dengan lelaki itu? aku tak menyangka Rani, kamu tega mengkhianatiku!"
"Pa, semua yang kamu tuduhkan itu tidak benar Pa, tolong percaya Mama," Kudengar mamaku menghiba.
"Semua buktinya sudah jelas. Apa kamu masih mau menyangkal?" kudengar papa kembali membentak mama.
Praaang...!
Entah barang apa lagi yang dibanting papa, karena khawatir dengan mama, akupun menghampiri mereka.
"Ma, Pa, tolong jangan bertengkar lagi, Arra pusing dengernya, apa tidak bisa diselesaikan baik-baik!" Kataku mencoba menasehati mereka.
"Ara, pergilah! tak usah ikut campur urusan orang tua." Ucap papa sedikit marah padaku.
Aku masih berdiri terpaku, aku masih memikirkan mama, aku takut papa akan menyakiti mama nantinya.
"Ara, kamu nggak dengar apa yang papa bilang. Cepat pergi!" teriak papa seraya melotot kepadaku.
Kejadian seperti itu aku rasakan hampir tiap hari, aku selalu mendengar mereka bertengkar dan itu sangat membuat aku tak betah dirumah, hingga suatu hari aku menceritakan semua yang terjadi antara papa dan mamaku pada Andrean pacarku.
"Ndre, aku pusing nih, makin nggak betah aja dirumah," Ucapku saat ketemuan dengan Andre di cafe.
"Pusing kenapa Beb?" Tanyanya.
"Mama papaku tiap hari selalu berantem, aku pusing dengernya, lama-lama nggak tahan rasanya. Aku pengin pergi dari rumah saja," Kataku pada Andre.
"Kamu yang sabar Beb, mungkin mereka sedang ada masalah," balasnya.
"Tapi kan bisa dibicarakan baik-baik, jangan berantem terus kaya gitu," Jawabku lesu.
"Sudahlah sayang, itu urusan mereka, kamu nggak usah ambil pusing, lebih baik kita hapy-hapy yuk!" Ajaknya seraya menggandengku.
"Kita mau kemana Ndre?" Tanyaku setelah menyadari mobil yang kunaiki bersama Andre telah jauh menuju keluar kota.
"Aku akan mengajakmu kesuatu tempat, yang bisa membuat kamu bisa melupakan segala masalah." Ucapnya seraya tersenyum.
"Tapi Ndre, aku takut,"
Jujur aku merasa takut Andre akan berbuat macam-macam padaku.
"Kamu nggak usah takut Ra, aku nggak mungkin macam macam sama kamu." Ujarnya seraya menggengam tanganku.
Aku mengangguk mencoba mempercayainya, semoga saja Andrean tidak membohongiku.
"Ra, sepertinya kamu lelah, minumlah!" Ucapnya seraya menyodorkan sebotol minuman.
Karena kebetulan haus, akupun segera meminumnya, namun tiba-tiba aku merasakan kepalaku sangat pusing, Setelahnya aku tidak ingat apa-apa lagi.
Ketika tersadar, aku merasakan sakit di sekujur tubuhku, terutama di bagian kewanitaanku, dengan kepala yang masih sedikit pusing aku mencoba melihat keadaan sekeliling, dan aku merasa berada, dikamar sebuah hotel.
Kupandangi seluruh tubuhku yang tanpa sehelai benang pun. Andrean dia telah merenggut kesucian ku.
"Andrean bangun! Cepat bangun!" Kataku sembari menggoncang goncangkan tubuhnya.
"Apa yang telah kamu lakukan padaku Ndre?" Tanyaku saat melihat Andrean membuka matanya.
"Ara, kita telah bersenang-senang sayang!" Ucapnya tanpa merasa bersalah.
"Andrean kamu jahat. Kamu tega menodaiku," aku menangis terisak, aku menyesal percaya begitu saja pada Andrean.
"Sudahlah Ara, semua sudah terjadi, kamu nggak usah khawatir, kalau kamu sampai hamil, aku pasti tanggung akan jawab kok," Ucapnya, membuat aku semakin muak dibuatnya.
Aku bergegas hendak keluar, aku ingin pulang saja. Sekalipun itu membuatku malas kalau mengingat papa selalu bertengkar tiap hari dengan mama, tapi setidaknya itulah tempat paling aman sementara untukku.
"Kamu mau kemana Ara?" Tanyanya.
"Pulang!" Jawabku ketus.
"Silahkan pulang! "Tapi ingat, kalau kamu hamil, aku tidak akan bertanggung jawab."
Aku urungkan niatku untuk pulang, aku takut kalau seandainya aku beneran hamil, dan Andrean tak mau bertanggung jawab, apa yang akan terjadi padaku?
"Kemarilah Ara, mulai sekarang hiduplah disini bersamaku, aku akan membuatmu senang terus," Ucapnya.
"Ndre, aku minta kamu nikahin aku segera!" Pintaku.
"Ara, aku pasti nikahin kamu, tapi nanti kalau aku sudah cukup uang, untuk sementara kamu bersabarlah dulu," Katanya.
"Kamu serius kan Ndre?" Tanyaku ragu.
"Iya sayang, aku serius," ujarnya.
Pada akhirnya, aku menuruti Andre, untuk tinggal bersamanya.
***
"Ndre, kok kamu baru pulang?" Tanyaku penasaran, karena akhir-akhir ini Andre jarang pulang kerumah.
"Aku lagi banyak urusan, kamu nggak usah bawel, mending sekarang bikinin aku kopi!" Jawabnya.
Begitulah Andrean kalau ditanya selalu marah-marah, aku selalu mencoba bersabar, walau sebenarnya aku sudah tak tahan hidup dengannya.
"Nanti malam ikut aku Ra. Nih kamu dandan yang cantik!" Ucapnya seraya menyerahkan sebuah paperbag.
"Itu pakaian untuk kamu pakai nanti," Ucapnya.
"Bagus banget Ndre, emang kita mau kemana?" Tanyaku, setelah membuka paperbag, yang berisi sebuah gaun.
"Aku mau ajak kamu, ketemu sama orang tuaku," Jawab Andre.
"Beneran kan Ndre?" Tanyaku dengan antusias.
"Iya benar. Makannya, kamu dandan yang cantik ya," Ucapnya sembari tersenyum.
Ternyata Andrean tak mengingkari janjinya. Dia benar benar, memperkenalkan aku dengan kedua orang tuanya. Sungguh aku merasa, sangat bahagia sekali.
Tiba waktunya Andrean mengajakku pergi menemui orang tuanya, dengan gaun pemberian Andrean, dan memoles wajahku secantik mungkin, aku yakin, orang tua Andrean pasti akan menerimaku.
"Ara, kamu sudah siap?" Tanya Andrean.
"Sudah Ndre, aku udah siap kok," Ucapku seraya tersenyum manis padanya.
"Bagus. Kamu terlihat cantik sekali," Pujinya.
Aku jadi tersipu malu dibuatnya.
"Kita berangkat sekarang!" Ujarnya.
***
"Kok kita kehotel Ndre?"Tanyaku ketika Andrean memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah hotel.
"Mama papaku minta kita ketemu disini, nggak mungkin kan kita ketemu di rumah, nanti mereka curiga kalau kita sudah hidup bersama," Ucapnya.
"Ndre, kenapa kita nggak kerumah orang tuamu saja!" Tanyaku yang merasa janggal dengan jawaban Andrean.
"Mereka sibuk, mereka tak selalu ada di rumah, kalau kamu nggak mau ketemu orangtuaku, ya sudah, kita pulang saja!" Ucap Andrean seraya menyalakan kembali mesin mobilnya.
"Ndre, aku percaya kok, ya udah kita turun," Ucapku.
Aku berjalan mengikuti Andrean, menuju kesebuah kamar hotel.
"Ini kamar papa sama mamaku menginap nanti, lebih baik kita tunggu disini, sekarang aku mau hubungi mereka dulu," Andrean keluar kamar.
Tak lama Andrean kembali masuk dan berkata, "Ara sebentar lagi, mama dan papa datang! "Aku mau beli sesuatu dulu untuk mereka, kamu tunggulah di sini!"
"Iya Ndre."
Baru saja Andrean berlalu, tiba-tiba kudengar seorang mengetuk pintu.
Aku terkejut, melihat dua orang asing yang tiba tiba mencekal lenganku.
"Si.. Siapa kalian...?"
"Si.. Siapa kalian?" Tanyaku gugup, sungguh aku merasa sangat takut sekali.
"Kamu tak perlu tau siapa kami, tugasmu disini hanyalah melayani kami berdua!" Pria itu mendorong tubuhku keranjang.
"Kamu disini di jadikan jaminan oleh Andrean, dia kalah taruhan, jadi kamulah bayarannya," Ujar lelaki yang satunya.
"Apa..!" Itu nggak mungkin, Andrean nggak mungkin seperti itu," Kataku, seraya meraih ponsel yang ada di atas nakas.
"Biarkan dia menelpon, paling mau menghubungi si Andrean." Ucap teman lelaki yang hampir mendekatiku.
Aku mencoba menghubungi Andrean, namun nomornya tidak aktif. Aku jadi yakin, Andrean telah menjebakku.
"Sekarang kamu percaya kan, Andrean telah menyerahkan kamu malam ini untuk kita." Ucap pria itu.
"Bram, kamu duluan saja, biar aku jadi penontonnya!"
"Baiklah Pras!"
"Ayo sayang mari kita bersenang-senang!"
"Jangan! tolong aku, aku mohon jangan lakukan itu," Ucapku mengiba pada mereka.
"Jangan coba-coba menolak, kalau tidak ingin kita berbuat kasar padamu. Aku hanya ingin menikmati tubuhmu, bukan menyiksamu, jadi menurut lah! Kalau tidak, aku akan menyakitimu." ancamnya.
Karena takut akhirnya aku hanya pasrah membiarkan Bram menikmati tubuhku, aku hanya bisa menangis pilu, sungguh aku tak menyangka Andrean bisa sekeji ini padaku.
Aku keluar meninggalkan hotel tempat Andrean membawaku kemarin, entah kemana sekarang aku harus pergi. Aku berjalan tak tentu arah, hingga terdengar suara mobil berhenti di depanku. Rupanya aku hampir tertabrak, karena sedang kalut, aku tak menyadari kalau aku berjalan ditengah jalan.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya seorang wanita yang keluar dari mobil tersebut.
"Aku tidak apa-apa," jawabku.
"Sepertinya kamu sedang ada masalah? "Kalau mau pulang, nanti saya antar, mau kan?" tanya wanita itu.
"Aku nggak tau mau kemana Mbak, aku bingung!" Ucapku.
"Apa kamu mau ikut pulang bersamaku? "Untuk sementara kamu bisa tinggal di rumahku. Kenalin, namaku Mayang, panggil saja Mbak Mayang." Ujarnya.
"Aku Ayyara Mbak." Balasku.
Karena tak punya tujuan akhirnya aku memilih untuk ikut mbak Mayang kerumahnya.
"Ini rumahku Ara, aku hanya tinggal berdua dengan ART, suamiku kerja di luar kota, pulangnya sebulan sekali.
" Ra, kalau Mbak boleh tau, kamu sepertinya sedang ada masalah? Ceritakan sama mbak, siapa tau mbak bisa bantu?" Ucapnya.
Apa mungkin aku harus menceritakan semua kejadian yang kualami sama mbak Mayang.
"Ara sepelik apapun masalahmu, kalau kamu mau bercerita setidaknya itu bisa membuatmu sedikit lega,"
"Mbak benar, Ara akan cerita semua sama Mbak," Ucapku.
Kemudian kuceritakan semua kejadian yang menimpaku, semuanya tanpa terkecuali, aku tak dapat menahan rasa sakitku ketika kuceritakan semua pada mbak Mayang, air mataku jatuh bercucuran.
"Tega sekali pacarmu itu Ra. Orang seperti dia seharusnya di beri pelajaran." ucap Mbak Mayang geram.
"Ara, apa tidak sebaiknya, kamu pulang ke orang tuamu?"
"Tidak Mbak, mereka sudah tidak perduli padaku,"
"Baiklah, untuk sementara, kamu boleh tinggal disini,"
Mendengar perkataan mbak Mayang aku merasa senang, untuk sementara mungkin lebih baik aku tinggal disini, aku tidak mau ketemu Andrean lagi.
Seminggu berlalu, sejak kejadian itu, aku tinggal di rumah mbak Mayang, setiap hari mbak Mayang kerja, aku hanya diam dirumah.
"Mayang belum pulang Mbak?"
Degh.
Jantungku berdetak kencang, suara itu, sepertinya aku tidak asiing. Karena penasaran kucoba menoleh, "Itu kan lelaki yang waktu itu, ya Tuhan kenapa dia ada disini."
"Ara, ini mas Bram, papanya Alvin," ucap Mbak ART itu.
Lelaki itu terkejut melihatku, sama seperti aku juga tadi terkejut melihatnya. Namun aku mencoba bersikap biasa, seolah-olah aku tak mengenalnya.
"Aku Ara mas, sepupunya mbak Mayang,"
Pesan mbak Mayang, kalau nanti papanya Alvin pulang, aku harus mengatakan, kalau aku sepupunya, supaya suaminya tidak melarangku, tinggal di sini.
"Aku Bram. Selamat datang ya, semoga kamu betah tinggal disini." Ucapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, mungkin dia tak suka aku disini atau justru dia malah senang aku disini.
Entahlah, lelaki yang bernama Bram itu, lelaki yang telah menjadikanku pelampiasannya, dan itu ternyata suaminya mbak mayang. Ya Tuhan, orang sebaik mbak Mayang, kenapa harus punya suami brengsek seperti mas Bram, batinku.
Aku segera berlari masuk kekamar, pikiranku kacau, aku takut bila aku terus disini, pasti Bram akan mengulangi perbuatannya, atau kalau tidak dia pasti akan mengatakan pada Andrean kalau aku berada disini. " Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku harus segera pergi dari sini secepatnya," Saat kubuka pintu hendak keluar, aku dikejutkan oleh mas Bram, yang sudah berdiri dibalik pintu, dengan tatapan mata yang tajam.
"Kamu mau kemana?"
"Maaf mas, aku mau keluar sebentar," Ucapku seraya menunduk.
"Kamu jangan coba-coba kabur, kalau tidak mau, aku laporkan pada Andrean!"
Mendengar ucapannya hatiku terasa hancur, baru saja aku merasa aman, sekarang bahaya besar malah mengancamku. Ibarat peribahasa, keluar dari kandang harimau, masuk ke mulut buaya, itulah nasib yang kini menimpaku.
"Mas, biarkan aku pergi, tolong jangan ganggu aku lagi!" Ucapku mengiba.
"Kalau mau aman tetap disini!"
Mas Bram mendorongku masuk kembali kekamar , kemudian dia mengunci pintu.
"Mas, aku mohon tolong biarkan aku pergi," Pintaku.
"Kamu akan lebih aman disini, aku janji aku takan memberitahu pada Andrean, asalkan kamu mau melayaniku!"
Mas Bram kembali melakukan aksinya, sebisa mungkin aku meronta, agar jangan sampai dia menyentuhku. Namun apalah dayaku, kekuatan mas Bram jauh lebih besar, dan dia melakukannya lagi.
Aku hanya bisa menangis, merasa jijik dengan diriku, aku benci dengan keadaanku, aku harus segera pergi dari sini secepatnya.
"Pakai bajumu! rapikan kembali tempat tidurmu! Ingat! bersikaplah biasa saja, aku nggak mau sampai Mayang curiga," Ancam Bram, sebelum keluar dari kamar.
***
"Ara, kamu didalam kan?"
Kudengar suara mbak Mayang memanggilku.
"Iya Mbak, maaf aku ketiduran."
"Kamu sudah bertemu mas Bram kan?" tanyanya.
"Iya Mbak, sudah, tapi sepertinya mas Bram keluar lagi mbak,"
"Iya tadi mas Bram telepon, katanya lagi di rumah temannya, ya udah kamu lanjut istirahat aja, mbak mau mandi dulu!"
"Maafkan aku mbak, karena suamimu aku jadi berbohong padamu." ucapku dalam hati.
Setelah malam tiba, aku menunggu waktu yang tepat, untuk segera pergi dari rumah ini, aku menunggu sampai mbak Mayang dan mas Bram tidur.
"Sepertinya mereka sudah tidur, aku harus secepatnya pergi dari rumah ini," gumamku.
Aku berhasil keluar rumah, tanpa ketahuan. Aku berjalan menyusuri jalan, entah kemana aku harus pergi. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara sepeda motor, berhenti tepat di depanku, dan aku sangat terkejut melihat orang yang kini berada di depanku.
"Akhirnya, kita bertemu lagi,"
"A.. Andre kamu...?"
Aku sangat terkejut ternyata orang di depanku adalah Andre.
"Kemana aja kamu Ara?"
Plak!
"Aku tidak menyangka Ndre, kamu tega menjadikan aku taruhan, dasar laki-laki bia*ab, aku tak sudi ketemu kamu lagi."
Aku berlari pergi meninggalkan Andrean, aku benar-benar muak melihat lelaki itu.
"Ara tunggu!"
Andrean berhasil mengejar ku, dan mencengkeram tanganku.
"Berani kamu pergi dariku, maka aku tak segan untuk mengirim video kamu, bersama kedua temanku waktu itu, ke orangtuamu." ancam Andrean.
Deg.
Mendengar ucapan Andrean, jantungku serasa berhenti.
"Kamu mengancamku Ndre, setelah semua yang kamu lakukan padaku, apa kamu tidak puas!" Bentaku pada Andrean.
"Sudahlah Ara, ikut aku sekarang, atau video ini aku kirim ke orangtuamu!" Ancamnya seraya menunjukan video menjijikan itu.
Terpaksa aku mengikuti kemauan Andre, aku tidak mau kalau Andre benar-benar mengirim video itu ke mama dan papaku, aku tak mau mereka kecewa.
"Aku akan ikut kamu Ndre, tapi kamu harus janji, jangan jadikan aku taruhan lagi, aku mohon," Ucapku memohon pada Andrean.
"Baiklah, ayo naik. Ikut aku sekarang, kita kembali kerumahku!" Ucapnya.
Andre membawaku kembali kerumahnya yang aku tempati sebelumnya.
"Ara, maafkan aku ya, aku mengaku salah, aku janji aku takan mengulanginya lagi,"
Aku tak tahu, harus percaya lagi pada Andrean atau tidak.
"Ara, ini makanlah kamu pasti lapar," Ucap Andre seraya menyerahkan sebungkus nasi.
"Kok cuma satu Ndre, buat kamu mana?" Tanyaku.
"Aku sudah makan tadi. Kamu makan aja, Udah itu istirahat, aku capek aku tidur dulu ya," Ucapnya.
"Iya Ndre."
Karena memang lapar, aku pun segera memakannya, namun baru sesuap nasi masuk ke mulutku, tiba-tiba aku merasakan mual, aku segera berlari kekamar mandi, dan memuntahkannya disana.
"Aku kenapa ya, kok tiba-tiba mual gini, apa jangan-jangan aku hamil? tidak, aku tak mau hamil, ini pasti cuma masuk angin saja, sudahlah lebih baik aku istirahat," gumamku lirih.
"Selamat pagi sayang," Kulihat Andre sudah bersiap entah mau kemana.
"Kamu mau kemana Ndre?" Tanyaku heran, ini kan hari Minggu, apa mungkin Andre mau lembur.
"Aku ada kerjaan penting, kamu beli sarapan sendiri saja ya," Ucapnya sembari menyodorkan sejumlah uang.
"Ingat pesanku, jangan pernah tinggalin aku,kalau tidak video itu...
"Cukup Ndre! Aku mohon kamu hapus video itu ya, aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu!"
Aku merasa pusing, lagi lagi Andre mengancamku, apapun yang terjadi aku harus bisa menghapus video itu, supaya aku bisa terbebas dari Andre.
"Aku percaya sama kamu Ra, aku janji takan ancam kamu lagi, aku pergi dulu ya,"
Aku hanya mengangguk, sebenarnya aku sudah sangat muak dengan Andre, namun aku harus sabar, aku harus memikirkan cara untuk pergi dari Andre.
Aku keluar, mencari makan, sekalian mampir ke apotik, membeli test pack.
Tiba di rumah, aku segera kekamar mandi dan mencoba alat itu, aku tak percaya setelah melihat hasilnya, dua garis merah? itu tandanya aku hamil.
Aku masih tak percaya, kucoba lagi test pack berikutnya, sampai tiga kali aku mencobanya, namun hasilnya sama, dua garis merah. Aku hamil, aku benar-benar hamil, tubuhku terasa lemas, aku menangis sejadinya. Ya Tuhan, apa Andre akan mengakui anak ini, bagaimana kalau Andre tidak mau mengakuinya.
Aku coba menghubungi Andre, namun tak diangkat, bagaimana ini? Bagaimana kalau ternyata Andre meninggalkanku? Siapa yang akan bertanggung jawab dengan bayi yang ada di dalam kandunganku, aku coba bersabar menunggu Andre, namun hingga waktu menunjukkan pukul delapan malam, Andre belum juga kembali.
"Ara, buka pintunya." Kudengar Andre mengetuk pintu, aku segera bergegas keluar membukakan pintu.
"Kamu kenapa Ra, telpon aku berulangkali," Ucapnya dengan raut khawatir.
"Kenapa nggak angkat teleponku Ndre," tanyaku ketus.
"Maaf Ra, tadi Hp aku ketinggalan di mobil!" Ucapnya.
"Ndre,aku hamil!" Ucapku dengan nada gemetaran.
"Apa? kamu hamil?"
Andre nampak terkejut dan tak suka mendengar aku hamil.
"Iya Ndre, kamu mau tanggung jawabkan Ndre?" Tanyaku seraya memegang tangan Andre.
"Ara, aku nggak tau." Ucap Andre seraya melepaskan pegangan tanganku.
"Ndre, waktu itu kamu pernah janji, kalau aku hamil kamu mau tanggung jawab," Ucapku menahan rasa kecewa.
"Ara, bagaimana aku tanggung jawab, kalau kamu itu tidur bukan hanya denganku, tapi juga dengan kedua temanku. Belum tentu itu anakku, bisa saja itu benih dari mereka!" Ucap Andre ketus.
"Ndre, itu semua karena kamu, andai saja kamu tak menjadikan aku barang taruhan, mana mungkin aku tidur dengan mereka!" Ucapku penuh emosi.
"Ara, dengar! Aku ingin kamu gugurkan anak itu."
"Ndre tapi aku yakin banget, kalau ini anak kamu, percayalah Ndre," Ucapku seraya mengusap air mataku yang terus berjatuhan.
"Aku tidak yakin. Pokoknya kamu harus gugurin!" sentaknya, lalu bergegas keluar.
"Ndre tunggu. Andre!"
Aku mencoba mengejar Andre, namun Andre tak menghiraukan aku lagi, dia pergi mengendarai mobilnya entah kemana.
Dengan berjalan tertatih aku kembali masuk kerumah, kuhempaskan tubuhku di kasur, aku bingung apa yang harus kulakukan. Apa aku harus menuruti keinginan Andre, ya kalau ini yang terbaik apapun itu akan kulakukan asalkan Andre tak meninggalkanku.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun Andre belum juga kembali, aku yang merasa lelah mencoba memejamkan mata.
Aku terbangun, ketika kudengar seseorang mengetuk pintu. "Andrean kembali. Syukurlah," gumamku.
Tapi alangkah terkejutnya aku setelah kubuka pintu ternyata bukan Andre yang datang, melainkan seorang wanita berparas cantik.
"Kamu siapa?"tanyaku penasaran.
"Aku Tiara, pacarnya Andre. Kamu siapa?" Tiara menatap sinis ke arahku.
"Aku..."
Aku tak dapat meneruskan kata kataku, saat perempuan itu, mengaku pacar Andre. Hatiku benar benar telah hancur, ternyata Andre seorang penipu, ternyata Andre hanya ingin memanfaatkan aku saja.
"Heh kenapa malah bengong, Andre mana?"
"Andre dari semalam nggak pulang Mbak, maaf memangnya ada apa ya?" Tanyaku penasaran.
"Nih tolong kasih ke Andre, dan bilang kalau dia nggak mau tanggung jawab, aku akan laporin dia ke polisi!" Ucapnya seraya menyerahkan sebuah testpack.
"Jadi Mba Tiara hamil?" Tanyaku terkejut.
"Iya, aku hamil anak Andre, dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Kemudian Tiara berlalu begitu saja.
Aku pun tak lagi memperdulikannya, Andre memang benar benar bajingan.
Aku berlari tak tentu arah, ditengah jalan sengaja ku berdiri. Kulihat sebuah mobil berjalan cepat ke arahku. Aku merasakan hantaman yang sangat keras mengenai tubuhku, setelahnya, aku tidak mengingat apapun.
"Dimana aku?" Batinku, saat ku membuka mata, dan melihat dua orang berpakaian serba putih, berdiri di samping kiri dan kananku.