Bab 1

Aku adalah "Gadisku" milik Raja, seorang CEO dingin yang hanya menunjukkan kehangatannya di penthouse mewah kami. Aku percaya cinta rahasia kami adalah segalanya.

Hingga aku menemukan pesan di ponselnya dari wanita lain: "Sayang, rencana balas dendam kita akan berhasil."

Ternyata, aku hanyalah pion. Dia merekam video intim kami, membiarkan kekasihnya menghancurkan satu-satunya peninggalan ayahku, dan menjebakku hingga masuk penjara.

Di dalam sel yang dingin, aku disiksa tanpa ampun atas perintahnya.

Pria yang dulu kuanggap belahan jiwa, ternyata adalah iblis yang menghancurkanku hingga tak bersisa.

Keluar dari neraka itu, aku tidak lagi menangis. Aku kembali ke penthouse-nya, bukan untuk memohon, tapi untuk membakarnya hingga menjadi abu.

Bab 1

Sarita POV:

Aku tahu ini gila, tapi saat paman memaksaku menikah dengan Irvan, aku masih berpikir Raja akan datang menyelamatkanku. Bodohnya aku, karena saat itu, dia sedang sibuk menyusun skema balas dendamnya, dan aku hanyalah pion dalam permainannya. Setiap sentuhan, setiap bisikan mesra, semua itu hanya bagian dari rencana jahat yang dibangun di atas kehancuranku.

Hubungan kami adalah rahasia, sebuah pulau kecil di tengah badai kehidupan korporat. Raja memanggilku "Gadisku." Itu adalah sebutan yang membuatku merasa istimewa, seolah aku adalah satu-satunya miliknya. Kami bertemu di penthouse miliknya yang mewah, jauh dari mata publik. Sebuah tempat di mana arsitek junior sepertiku bisa melupakan sejenak tentang cetak biru dan deadline.

Raja, CEO konglomerat itu, selalu terlihat dingin di depan orang lain, tapi bersamaku, dia adalah lautan gairah. Mata hitamnya yang tajam bisa melunakkan setiap inci kulitku hanya dengan satu tatapan. Tangannya yang biasanya menggenggam kendali bisnis, di antara helaan napas kami, tahu persis bagaimana membuatku meleleh. Aku mencintainya dengan gila, percaya bahwa di balik topeng CEO yang dingin itu, ada hati yang tulus untukku.

Aku masih ingat malam itu dengan jelas. Aroma tubuhnya yang maskulin bercampur dengan parfum mahal yang selalu dipakainya. Jari-jarinya menyusuri tulang punggungku, menciptakan sensasi panas yang membuatku merinding. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam momen itu, dalam pelukan pria yang kupercaya sebagai belahan jiwaku.

"Kau milikku, Sarita," bisiknya di telingaku, suaranya serak dan dalam, seperti melodi yang hanya bisa kudengar. Kata-kata itu, dulu adalah janjinya untuk kami. Sekarang, aku tahu itu adalah belenggu.

Pagi itu, udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk kulitku. Aku membuka mata perlahan, menemukan Raja sudah duduk di tepi ranjang, mengenakan setelan jasnya yang rapi. Rambut hitamnya yang selalu tertata rapi kini sedikit berantakan, menambahkan pesona liar padanya. Dia tampak seperti baru saja kembali dari medan perang, siap menaklukkan dunia. Tapi aku tahu, dia baru saja menaklukkanku.

Aku mengulurkan tangan, ingin menyentuh pipinya, tapi dia sudah berdiri, bergerak menjauh. Selalu ada jarak antara kami, bahkan setelah malam yang penuh keintiman. "Aku ada rapat penting," katanya, suaranya datar, tanpa emosi yang baru saja kami bagi. "Aku akan pergi setelah kau bangun."

Aku merasa sedikit kecewa. Aku ingin dia tinggal lebih lama, aku ingin sarapan bersamanya, atau setidaknya, aku ingin dia menciumku selamat tinggal. Tapi dia tidak pernah begitu. Dia selalu menjaga jarak, menjaga profesionalitasnya, bahkan dalam momen paling pribadi kami. Aku menghela napas, mencoba memahami. Dia adalah Raja Raden, pria yang hidupnya diatur oleh jadwal dan prioritas. Aku hanyalah… "Gadisku."

"Aku mengerti," kataku, berusaha agar suaraku terdengar normal. Aku tahu dia tidak suka jika aku menunjukkan kelemahan atau ketergantungan. "Hati-hati di jalan."

Dia hanya mengangguk, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum dia menghilang, dia berhenti. "Jangan lupa, kau ada janji makan malam dengan pamanmu malam ini."

"Paman Wibisono?" Aku mengerutkan kening. Paman Wibisono jarang sekali mengundangku makan malam, kecuali ada hal penting. Biasanya, itu berita buruk seputar bisnis keluarga yang sedang sekarat. "Tumben sekali."

Raja tidak menjawab. Dia hanya menoleh sedikit, menatapku dengan tatapan kosong, seolah aku hanyalah sebuah objek yang terdaftar dalam daftar tugasnya. "Jangan terlambat."

Lalu dia pergi.

Aku bangkit dari ranjang, merasakan sisa-sisa kehangatan tubuhnya yang tertinggal di sprei sutra. Aku berjalan ke jendela besar, menatap kota yang baru bangun dari tidurnya. Langit masih kelabu, tapi gedung-gedung pencakar langit mulai memantulkan cahaya matahari yang samar.

Malam itu, di restoran mewah yang terasa pengap, Paman Wibisono dan Bibi Handayani duduk di depanku, menyeruput kopi dengan canggung. Putri mereka, sepupuku, juga ada di sana. Wajah mereka terlihat tegang, tapi ada kilatan antisipasi di mata mereka. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.

"Sarita," Paman Wibisono memulai, suaranya berat, "bisnis kita sedang dalam masalah besar."

Aku sudah menduga ini. Perusahaan arsitektur mendiang ayahku, yang kini dipegang Paman Wibisono, memang sedang kesulitan. Aku telah mencoba menawarkan ide-ide baru, tapi Paman selalu menolak, terlalu sibuk dengan proyek-proyeknya sendiri yang seringkali tidak berhasil.

"Jadi?" tanyaku, mencoba terdengar tenang.

"Ada jalan keluar," Bibi Handayani menyela, matanya berbinar. "Perusahaan Adiningrat, mereka ingin berinvestasi."

Perusahaan Adiningrat? Mereka adalah raksasa teknologi, jauh di luar liga kami. "Apa syaratnya?" tanyaku, tahu bahwa tidak ada makan siang gratis di dunia ini.

Paman Wibisono menghela napas panjang, menatapku seolah aku adalah korban yang harus dia korbankan. "Mereka ingin kau menikahi putra mereka, Irvan Adiningrat."

Mendengar kata-kata itu, duniaku runtuh. Pernikahan bisnis? Aku? Aku yang mencintai Raja, yang memimpikan masa depan bersamanya? Mereka bahkan tidak tahu tentang Raja. Mereka hanya melihatku sebagai aset, sebuah pion yang bisa mereka tukar untuk menyelamatkan bisnis keluarga.

"Tidak," kataku, suaraku nyaris berbisik. "Aku tidak bisa."

Paman Wibisono membanting sendoknya. "Kau tidak punya pilihan, Sarita! Ini demi keluarga! Demi nama baik ayahmu!"

Bibi Handayani menatapku dengan tatapan memohon, tapi aku tahu itu hanya sandiwara. Dia selalu membela putrinya, selalu menganggapku sebagai beban. Mereka tidak pernah benar-benar menyayangiku setelah orang tuaku meninggal. Aku hanya alat bagi mereka.

Aku menatap mereka satu per satu, wajah-wajah yang seharusnya menjadi keluargaku. Mereka rela menjualku demi uang. Kemarahan membuncah dalam diriku. Tapi kemudian, gambaran Raja muncul di benakku. Janjinya, bisikannya, sentuhannya. Dia akan mengerti. Dia akan menyelamatkanku.

Aku menghela napas, menatap Paman Wibisono. "Baiklah," kataku, membuat mereka semua terkejut. "Aku akan melakukannya. Tapi ada syaratnya."

Wajah Paman Wibisono berubah girang. "Apa pun, Sarita! Apa pun!"

"Aku ingin kendali penuh atas proyek-proyek arsitektur yang kumulai," kataku tegas. "Dan aku ingin bagian dari perusahaan, bukan hanya gaji. Aku ingin menjadi pembuat keputusan."

Paman Wibisono ragu sejenak, tapi melihat kilatan di mataku dan urgensi di wajahnya, dia akhirnya mengangguk. "Baiklah. Ini akan jadi milikmu."

Aku tahu ini adalah kesepakatan dengan iblis, tapi aku harus menyelamatkan apa pun yang bisa kuselamatkan. Mungkin ini satu-satunya cara untuk memberdayakan diriku, untuk memiliki sesuatu yang benar-benar menjadi milikku.

Pulang dari pertemuan itu, pikiranku kacau balau. Aku langsung menghubungi Raja. Aku ingin memberitahunya, ingin dia meyakinkanku bahwa dia akan datang, bahwa dia akan menghentikan semua ini. Tapi teleponnya tidak diangkat. Berkali-kali.

Keesokan harinya, saat Raja kembali ke penthouse, aku menatapnya dengan tatapan penuh harapan. Aku ingin mengatakan semuanya, tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokanku. Dia tampak lelah, matanya redup. Dia melemparkan ponselnya ke meja samping tempat tidur. Sebuah notifikasi muncul di layar yang menyala.

Sebuah pesan. Dari Natalie Anggawijaya.

Aku mendekat, jantungku berdebar kencang. Aku tahu Natalie. Dia adalah mantan rekan bisnis Raja, wanita yang selalu disebut-sebut sebagai 'cinta sejati' Raja oleh media, meskipun aku tidak pernah melihat bukti apa pun.

Pesan itu berbunyi: "Jangan khawatir, sayang. Rencana balas dendam kita akan berhasil."

Duniaku berhenti berputar.

Balas dendam?

Air mataku jatuh tanpa kusadari. Semua keintiman, semua bisikan, semua kata-kata manis yang dia katakan padaku… apakah itu semua hanya bagian dari rencana balas dendam? Aku adalah pion, bukan kekasih. Aku adalah alat, bukan cinta. Jari-jariku gemetar saat aku menyentuh layar ponselnya, mencari kebenaran yang mengerikan. Ada foto-foto Natalie, yang dia simpan di folder tersembunyi. Foto-foto mereka berdua, berpelukan, tertawa. Beberapa dari foto-foto itu diambil saat aku bersamanya. Saat dia memanggilku "Gadisku."

Semua kenangan kami, momen-momen yang kuanggap sakral, satu per satu terlintas dalam benakku, berubah menjadi racun yang membakar. Pernikahan ini, perjodohan ini, semua keputusasaan ini, apakah ini yang dia inginkan? Apakah ini bagian dari skemanya?

Aku menatap Raja, yang masih tertidur pulas di ranjang. Wajahnya terlihat damai, tapi di mataku, dia adalah monster. Monster yang telah menghancurkan hatiku, jiwaku, dan segalanya yang kupercayai. Aku merasakan hawa dingin yang menusuk jauh ke dalam tulangku. Bukan hanya karena pendingin ruangan, tapi karena kebenaran yang baru saja kuungkap.

Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku harus tahu lebih banyak. Aku harus tahu sejauh mana kebohongan ini.

Aku mengambil kunci mobilku dan keluar dari penthouse, tanpa suara. Aku harus mencari Natalie. Aku harus melihatnya dengan mataku sendiri.

Aku mengemudi tanpa tujuan, mengikuti instingku. Aku tahu Natalie sering mengunjungi sebuah galeri seni di pusat kota. Aku memarkir mobilku di kejauhan, jantungku berdegup kencang di dadaku. Apakah aku siap untuk apa yang akan kutemukan?

Aku melihatnya. Natalie, berdiri di luar galeri, tertawa riang. Dan di sampingnya, Raja. Dia memegang tangan Natalie, tersenyum padanya dengan senyum yang tidak pernah kutemukan. Senyum yang penuh kelembutan, penuh kasih sayang. Senyum yang kuinginkan untuk diriku sendiri.

Tanganku mengepal erat di kemudi. Semua kenangan manis yang kuanggap nyata, kini berubah menjadi abu. Perasaanku hancur berkeping-keping. Aku merasa ditikam, dihantam, dan diludahi. Rasa sakit itu begitu nyata, begitu membakar, sehingga aku tidak bisa bernapas. Aku hanya bisa duduk di sana, di dalam mobil, menyaksikan pria yang sangat kucintai, pria yang telah menghancurkanku, berbagi tawa dan kelembutan dengan wanita lain. Wanita yang menjadi alasan di balik semua kesakitanku.

Aku ingin berteriak, aku ingin menangis, aku ingin menghancurkan segalanya. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa duduk di sana, di dalam mobil, menyaksikan pria yang sangat kucintai, pria yang telah menghancurkanku, berbagi tawa dan kelembutan dengan wanita lain. Wanita yang menjadi alasan di balik semua kesakitanku.

Aku mengingat kembali pertemuan pertama kami. Aku adalah arsitek muda yang bersemangat, penuh impian. Raja adalah klien besar, konglomerat yang datang dengan aura kekuasaan dan karisma. Dia melihatku, bukan hanya sebagai arsitek, tapi sebagai sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa dia kendalikan.

Awalnya, aku memberontak. Aku menolak pesonanya, aku menolak kekuatannya. Tapi dia gigih. Dia memburuku dengan segala cara, membuatku merasa istimewa, membuatku merasa dicintai. Aku jatuh cinta padanya, dengan semua janji dan rayuannya. Aku menyerahkan hatiku, jiwaku, dan segalanya padanya.

Dan sekarang, semua itu hanyalah kebohongan. Sebuah skema balas dendam. Sebuah permainan yang dia mainkan dengan hatiku sebagai taruhannya. Aku tidak pernah menjadi apa pun selain pion.

Aku menatap Natalie dan Raja sekali lagi. Mereka tampak sempurna bersama. Rasanya seperti seluruh duniaku hancur, dan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya. Aku merasa hampa, kosong, dan mati rasa.

Pernikahan bisnis dengan Irvan Adiningrat? Mungkin itu adalah takdirku. Mungkin ini adalah cara semesta menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak pernah benar-benar memiliki apa pun. Aku harus menerima takdir itu, dan aku harus bertahan. Aku akan menerima pernikahan itu, tapi tidak lagi dengan harapan akan cinta, melainkan dengan tujuan untuk melindungi diriku sendiri.

Aku meninggalkan tempat itu, membiarkan air mataku membasahi pipi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku tahu satu hal: Sarita yang dulu, yang bodoh dan naif, yang mencintai Raja dengan sepenuh hati, telah mati. Dan yang tersisa hanyalah Sarita yang baru. Sarita yang dingin, Sarita yang hampa, Sarita yang akan melakukan apa pun untuk bertahan hidup.

Aku membiarkan mobilku melaju, meninggalkan Raja dan Natalie di belakangku, bersama dengan semua kenangan pahit yang takkan pernah bisa kuhapus. Ini adalah awal dari babak baru dalam hidupku, babak yang penuh dengan rasa sakit, pengkhianatan, dan mungkin, sebuah kesempatan untuk menemukan diriku yang sebenarnya.

"Sudah cukup," bisikku pada diriku sendiri. "Ini sudah cukup."

Bab 2

Sarita POV:

Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan hampa yang menyiksa. Rasa sakit itu masih ada, tapi kini bercampur dengan kemarahan yang membara. Aku menatap langit-langit, berusaha mengumpulkan kekuatan. Tidak ada waktu untuk berduka. Aku harus bertindak.

Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu membuatku tersentak. Aku bangkit dari ranjang, mengenakan jubah mandi sutra, dan berjalan menuju pintu. Ketika kubuka, bibiku, Handayani, berdiri di sana dengan senyum lebar yang terlihat palsu di wajahnya. Di sampingnya, sepupuku, Laras, tersenyum sinis.

"Sarita, sayang," kata Bibi Handayani, suaranya manis seperti madu tapi matanya penuh perhitungan, "kami punya berita bagus!"

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

"Paman Wibisono sudah setuju untuk memindahkanmu ke kamar yang lebih kecil," Laras menyela, senyumnya semakin lebar. "Kamar ini akan digunakan untuk 'tamu penting' yang akan datang."

Aku tahu ini. Mereka tidak pernah menganggapku sebagai bagian dari keluarga. Aku hanyalah beban, dan sekarang aku akan menjadi alat barter. Kamar ini adalah satu-satunya peninggalan dari orang tuaku yang masih tersisa di rumah ini. Dinding-dindingnya adalah saksi bisu dari masa kecil bahagia yang kini terasa begitu jauh.

"Tamu penting?" tanyaku, suaraku datar.

"Tentu saja," Bibi Handayani mengangguk. "Tuan Irvan Adiningrat, calon suamimu. Dia akan tinggal di sini untuk mengenalmu lebih dekat."

Perutku mual. Mereka ingin aku tinggal di bawah satu atap dengan pria yang akan kunikahi demi uang, sementara Raja, pria yang kupercaya mencintaiku, sedang sibuk merencanakan balas dendam dengan Natalie. Ini adalah lelucon yang kejam.

"Aku tidak akan pindah," kataku, suaraku tegas.

Bibi Handayani dan Laras saling pandang. "Apa maksudmu, Sarita? Ini keputusan pamanmu!"

"Paman Wibisono tidak punya hak untuk memindahkan barang-barangku," jawabku, menatap mereka tajam. "Dan kamar ini adalah milikku. Kalian tidak akan menyentuhnya."

"Beraninya kau bicara seperti itu!" Bibi Handayani berteriak, wajahnya memerah. "Kami sudah cukup bersabar denganmu! Kau hanyalah anak yatim piatu yang kami besarkan!"

Kata-kata itu menusuk hatiku, tapi aku tidak bergeming. Aku sudah terbiasa dengan penghinaan mereka. Aku sudah terbiasa dengan fakta bahwa aku hanyalah beban bagi mereka.

"Baiklah," kataku, melangkah mundur dan membuka pintu lebih lebar. "Kalau begitu, aku tidak akan tinggal di sini lagi."

Bibi Handayani dan Laras terkejut. "Apa?!"

"Aku akan pergi," kataku, menatap mereka dengan tatapan dingin. "Aku akan mencari tempat lain untuk tinggal. Kalian bisa memiliki rumah ini, dan semua yang ada di dalamnya."

"Sarita, jangan bodoh!" Bibi Handayani mencoba menahanku. "Kau tidak punya apa-apa! Kau akan pergi ke mana?"

"Itu bukan urusanmu," jawabku, lalu menutup pintu di depan wajah mereka.

Aku mulai mengemasi barang-barangku. Tidak banyak yang kumiliki. Beberapa pakaian, buku-buku sketsa, dan set jangka arsitektur antik yang merupakan peninggalan dari ayahku. Itu adalah satu-satunya barang berharga yang kumiliki, satu-satunya pengingat akan masa lalu yang indah.

Ketika aku keluar dari rumah itu, Paman Wibisono, Bibi Handayani, dan Laras sudah menungguku di ruang tamu. Wajah mereka penuh kemarahan.

"Sarita, kau tidak bisa pergi!" Paman Wibisono mencoba menghentikanku. "Bagaimana dengan pernikahanmu? Bagaimana dengan perusahaan?"

"Pernikahan itu akan tetap berjalan," kataku, menatapnya dengan tatapan dingin. "Tapi aku tidak akan lagi menjadi bagian dari keluarga ini. Aku akan melakukan apa yang kuperlukan untuk melindungi diriku sendiri."

Aku berjalan keluar dari rumah itu, tanpa menoleh ke belakang. Aku mendengar teriakan mereka, tapi aku tidak peduli. Aku sudah muak dengan semua kebohongan dan pengkhianatan. Aku sudah muak menjadi pion dalam permainan mereka.

Aku naik taksi dan meminta sopir untuk mengantarku ke sebuah hotel mewah yang pernah kulihat di majalah. Aku tidak punya banyak uang, tapi aku akan menghabiskan sisa uangku untuk satu malam yang nyaman. Setidaknya, aku akan merasa sedikit lebih baik setelah semua ini.

Di kamarku, aku mengeluarkan laptop. Aku mulai mencari informasi tentang perusahaan Paman Wibisono. Aku tahu dia telah melakukan beberapa kesalahan fatal dalam manajemen, dan aku berencana untuk menggunakan informasi itu untuk keuntunganku. Aku akan menghancurkan mereka, satu per satu.

Beberapa jam kemudian, aku menemukan apa yang kucari. Sebuah cacat besar dalam laporan keuangan mereka, sebuah penipuan pajak yang bisa menjebloskan Paman Wibisono ke penjara. Aku menyeringai. Ini adalah awal dari balas dendamku.

Aku mengirimkan laporan itu ke sebuah saluran investigasi yang terkenal. Kemudian, aku mematikan laptop dan menatap keluar jendela. Aku tahu ini akan memicu badai, tapi aku sudah tidak peduli. Aku sudah kehilangan segalanya. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.

Keesokan paginya, telepon genggamku berdering tanpa henti. Aku melihat nama Paman Wibisono di layar, tapi aku tidak mengangkatnya. Aku hanya membiarkannya berdering, menikmati setiap deringnya. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk dari Paman Wibisono: "Sarita, hentikan ini! Kau menghancurkan keluarga kita!"

Aku tersenyum dingin. "Keluarga kita? Kalianlah yang menghancurkanku."

Aku mengirimkan balasan singkat: "Ini baru permulaan."

Kemudian, aku mulai menerima telepon dari teman-teman dan kolega. Mereka semua bertanya tentang berita yang tersebar di media massa, tentang skandal keuangan perusahaan Paman Wibisono. Aku hanya menjawab dengan singkat, "Aku tidak terlibat."

Aku tahu ini adalah kebohongan, tapi aku tidak peduli. Aku sudah mati rasa. Aku sudah tidak punya hati.

Saat itu, ponselku berdering lagi. Kali ini, itu adalah nomor yang tidak kukenal. Aku ragu sejenak, lalu mengangkatnya. "Halo?"

"Sarita," suara Raja, dingin dan tegas, "apa yang kau lakukan?"

Jantungku berdebar kencang. Aku tidak menyangka dia akan meneleponku. "Aku tidak mengerti maksudmu," kataku, berusaha terdengar tenang.

"Jangan pura-pura bodoh," jawabnya, suaranya penuh kemarahan. "Kau menghancurkan perusahaan pamanmu. Apa yang kau inginkan?"

"Aku hanya ingin keadilan," kataku, suaraku bergetar. "Keadilan untuk diriku sendiri."

Dia terdiam sejenak. "Kita perlu bicara."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan," kataku, lalu menutup telepon.

Aku tahu ini akan menjadi perang, tapi aku sudah siap. Aku akan melawan mereka semua. Aku akan menghancurkan semua orang yang telah menghancurkanku.

Beberapa jam kemudian, aku mengetahui bahwa rekening bankku telah diblokir. Kartu kreditku ditolak. Aku tidak bisa membayar hotel, tidak bisa membeli makanan.

Aku menyadari bahwa Raja telah melakukan sesuatu. Dia telah memblokir semua akses ke uangku. Dia ingin aku kembali padanya, dia ingin aku berlutut di hadapannya.

Aku tersenyum pahit. Dia tidak mengenalku. Aku bukan wanita yang akan menyerah begitu saja.

Aku berjalan keluar dari hotel, membawa koperku. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku tidak punya uang, tidak punya teman, tidak punya keluarga. Aku hanyalah seorang wanita yang sendirian di dunia yang kejam ini.

Malam mulai tiba. Lampu-lampu kota mulai menyala, tapi aku merasa seperti berada dalam kegelapan yang pekat. Aku berjalan tanpa tujuan, merasakan hawa dingin yang menusuk kulitku. Aku merasa ingin menangis, tapi air mataku sudah kering.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti di sampingku. Jantungku berdebar kencang. Aku takut. Aku takut Raja akan datang menjemputku, aku takut dia akan memaksaku kembali padanya.

Pintu mobil terbuka, dan seorang pria bertubuh besar keluar dari sana. Dia menatapku dengan tatapan mengancam. "Nona Sarita?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan waspada.

"Bos ingin bertemu dengan Anda," katanya, suaranya berat.

"Siapa bosmu?" tanyaku, berusaha terdengar berani.

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan kosong, lalu mengulurkan tangannya, mencoba meraihku.

Aku mundur, tapi dia terlalu cepat. Dia mencengkeram lenganku dengan kuat, menarikku ke arah mobil. Aku berteriak, mencoba melepaskan diri, tapi dia terlalu kuat.

Aku panik. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak tahu ke mana mereka akan membawaku. Tanganku gemetar, jantungku berdebar kencang. Aku merasa seperti akan pingsan.

Tiba-tiba, sebuah mobil lain berhenti di samping mobil hitam itu. Sebuah mobil sport mewah, warnanya hitam pekat. Jendela mobil terbuka, dan seorang pria keluar dari sana. Dia tinggi, tampan, dan mengenakan setelan jas yang rapi. Dia menatapku dengan tatatan serius.

Dia adalah Irvan Adiningrat. Calon suamiku.

"Lepaskan dia," kata Irvan, suaranya dingin dan tegas.

Pria bertubuh besar itu menatap Irvan, lalu melepaskan cengkeramannya padaku. Aku terhuyung mundur, merasa lega.

"Irvan?" kataku, suaraku nyaris berbisik. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan intens, seolah membaca setiap pikiranku. "Kau tahu, Sarita, kau selalu mencoba lari dari masalahmu. Tapi kau tidak akan pernah bisa lari dari takdirmu."

Aku menatapnya, bingung. Apa maksudnya? Apakah dia tahu tentang Raja? Apakah dia tahu tentang semua pengkhianatan ini?

"Masuklah," katanya, membuka pintu mobilnya. "Kita perlu bicara."

Aku ragu sejenak, lalu masuk ke dalam mobil. Aku tidak punya pilihan lain. Aku sudah terlalu lelah untuk melawan. Aku hanya ingin istirahat. Aku hanya ingin melarikan diri dari semua kekacauan ini.

Irvan menyalakan mesin mobil, lalu melaju pergi, meninggalkan Raja dan orang-orangnya di belakang kami. Aku menatap keluar jendela, merasakan hawa dingin yang menusuk kulitku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku tahu satu hal: hidupku tidak akan pernah sama lagi.

"Kau tidak bisa terus lari, Sarita," kata Irvan, suaranya tenang tapi tegas. "Kau harus menghadapi kenyataan."

Aku menatapnya. "Kenyataan apa?"

"Kenyataan bahwa kau sendirian," jawabnya, menatapku dengan tatapan serius. "Dan aku di sini untuk melindungimu."

Aku terdiam, bingung. Mengapa dia begitu baik padaku? Apa yang dia inginkan? Apakah dia juga punya agenda tersembunyi? Tapi di matanya, aku hanya melihat ketulusan. Ketulusan yang begitu berbeda dari tatapan Raja.

Aku tidak tahu harus percaya pada siapa lagi. Tapi untuk saat ini, aku harus bertahan. Aku harus menemukan cara untuk melarikan diri dari semua kekacauan ini.

"Kenapa kau membantuku?" tanyaku, suaraku bergetar.

Irvan tersenyum tipis. "Karena aku berjanji akan selalu melindungimu, Sarita. Sejak dulu."

Aku mengernyit. Sejak dulu? Apa maksudnya? Kami tidak pernah bertemu sebelumnya, kecuali dalam beberapa pertemuan bisnis.

Aku menatapnya dengan tatapan bingung. "Aku tidak mengerti."

Dia hanya tersenyum lagi, misterius. "Suatu hari nanti, kau akan mengerti."

Bab 3

Sarita POV:

Aku terbangun di sebuah kamar tidur yang mewah, jauh lebih besar dan lebih indah dari apapun yang pernah kulihat. Dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan abstrak, dan jendela besar menghadap ke pemandangan kota yang berkilauan. Ini adalah rumah Irvan. Dia membawaku ke sini setelah menyelamatkanku dari orang-orang Raja.

Di ranjang, aku merasakan kebingungan dan kepahitan yang bercampur aduk. Aku masih tidak bisa memahami mengapa Irvan begitu baik padaku. Apa motivasinya? Apakah ada udang di balik batu? Aku sudah terlalu sering ditipu, terlalu sering dikhianati. Aku tidak bisa lagi mempercayai siapa pun.

Aku bangkit dari ranjang, mengenakan jubah mandi yang tergantung di lemari. Aku berjalan ke jendela, menatap kota yang baru bangun dari tidurnya. Aku merasa seperti burung yang terkurung dalam sangkar emas. Aku tahu aku aman di sini, tapi aku juga merasa terjebak.

Tiba-tiba, pintu terbuka dan Irvan masuk, membawa nampan berisi sarapan. Dia mengenakan setelan jas yang rapi, rambutnya tertata sempurna. Dia tampak seperti pangeran dari negeri dongeng, tapi aku tahu dunia nyata jauh lebih kejam dari itu.

"Selamat pagi," katanya, suaranya lembut. "Kau tidur nyenyak?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

"Aku tahu ini sulit bagimu," katanya, meletakkan nampan di meja samping ranjang. "Tapi kau aman di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."

Aku berbalik, menatapnya. "Mengapa kau melakukan ini?" tanyaku, suaraku bergetar. "Mengapa kau begitu baik padaku?"

Dia tersenyum tipis. "Karena aku berjanji akan selalu melindungimu, Sarita. Sejak dulu."

"Apa maksudmu?" tanyaku, bingung. "Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, kecuali dalam beberapa pertemuan bisnis."

Irvan terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan intens. "Ada banyak hal yang tidak kau ketahui, Sarita. Tapi suatu hari nanti, kau akan mengerti."

Aku tidak percaya padanya. Aku tidak bisa lagi mempercayai siapa pun. Aku hanya ingin melarikan diri dari semua kekacauan ini.

"Aku tidak bisa tinggal di sini," kataku, suaraku tegas. "Aku harus pergi."

"Ke mana?" tanyanya, menatapku dengan tatapan serius. "Kau tidak punya apa-apa. Rekeningmu diblokir, dan Raja akan melakukan apa pun untuk menemukanmu."

Aku terdiam. Dia benar. Aku tidak punya apa-apa. Aku sendirian di dunia ini.

"Aku akan membantumu," katanya, melangkah mendekat. "Aku akan melindungimu. Kau bisa tinggal di sini selama yang kau mau."

Aku menatapnya, ragu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa bingung, takut, dan putus asa.

"Aku tidak akan memaksamu," katanya, seolah membaca pikiranku. "Tapi pikirkanlah. Aku bisa membantumu melawan Raja."

Kata-kata itu membuatku tertarik. Melawan Raja? Aku tidak pernah berpikir aku bisa melakukannya. Tapi dengan bantuannya, mungkin aku punya kesempatan.

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku, suaraku bergetar.

Irvan tersenyum tipis. "Aku hanya ingin kau aman, Sarita. Dan aku ingin kau tahu bahwa ada orang yang benar-benar peduli padamu."

Aku menatapnya, merasakan sedikit kehangatan menyebar di dadaku. Mungkin, hanya mungkin, dia tulus. Mungkin, hanya mungkin, aku bisa mempercayainya.

"Baiklah," kataku, menghela napas panjang. "Aku akan tinggal. Tapi aku tidak akan pernah menikahimu."

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan serius, lalu mengangguk. "Baiklah. Tapi kita harus tetap menunjukkan pada dunia bahwa kita akan menikah. Ini demi keamananmu."

Aku mengernyit. "Maksudmu, pernikahan ini akan tetap berjalan?"

"Ya," jawabnya. "Tapi itu hanya di atas kertas. Kita akan berpura-pura. Ini satu-satunya cara untuk melindungimu dari Raja."

Aku terdiam, memikirkan kata-katanya. Ini adalah kesepakatan yang aneh, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus bertahan. Aku harus menemukan cara untuk melarikan diri dari semua kekacauan ini.

"Baiklah," kataku, menghela napas panjang. "Aku akan melakukannya. Tapi aku tidak akan pernah mencintaimu."

Dia tersenyum tipis. "Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, Sarita. Aku hanya memintamu untuk mempercayaiku."

Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayainya, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya bisa berharap bahwa dia tidak akan mengkhianatiku seperti Raja.

Beberapa hari berlalu. Aku mulai terbiasa dengan kehidupan di rumah Irvan. Dia sangat baik padaku, terlalu baik, menurutku. Dia selalu memastikan aku makan, beristirahat, dan tidak merasa kesepian. Dia bahkan membelikanku pakaian-pakaian baru, karena semua barang-barangku tertinggal di penthouse Raja.

Setiap pagi, kami sarapan bersama. Dia selalu membicarakan tentang proyek-proyeknya, tentang bagaimana dia ingin mengubah dunia dengan teknologinya. Aku mendengarkan, mencoba memahami, tapi pikiranku selalu kembali pada Raja. Pada pengkhianatannya.

Suatu pagi, saat kami sedang sarapan, aku tidak bisa menahannya lagi. "Irvan," kataku, suaraku bergetar, "apa hubunganmu dengan Natalie?"

Irvan terdiam sejenak, meletakkan garpunya. "Natalie Anggawijaya?"

"Ya," kataku, menatapnya tajam. "Apakah dia kekasihmu juga?"

Dia tersenyum tipis. "Tidak, Sarita. Natalie adalah mantan rekan bisnis Raja. Dia adalah orang yang Raja coba lindungi."

"Lindungi dari apa?" tanyaku.

"Dari kehancuran," jawabnya. "Raja merasa berutang budi padanya. Jadi dia merencanakan semua ini."

"Maksudmu, semua ini adalah bagian dari skema balas dendam Raja untuk Natalie?" tanyaku, merasakan kemarahan membuncah dalam diriku.

"Ya," jawabnya. "Kau adalah pion dalam permainannya, Sarita."

Aku menatapnya, merasakan hatiku hancur berkeping-keping. Aku sudah menduga ini, tapi mendengarnya dari mulut Irvan membuatku semakin sakit.

"Dan Natalie?" tanyaku, suaraku bergetar. "Apakah dia tahu semua ini?"

"Dia adalah dalang di balik semua ini," jawab Irvan, menatapku dengan tatapan serius. "Dia menggunakan Raja untuk membalas dendam padamu."

"Balas dendam padaku?" tanyaku, bingung. "Apa yang kulakukan padanya?"

Irvan menghela napas. "Natalie adalah wanita yang rapuh. Dia merasa terancam olehmu. Dia iri dengan bakatmu, dan dia iri dengan hubunganmu dengan Raja."

Aku tidak bisa mempercayainya. Natalie, wanita yang selalu terlihat lemah dan tidak berdaya di mata Raja, adalah dalang di balik semua ini?

"Tapi Raja mencintainya," kataku, suaraku nyaris berbisik. "Dia selalu melindunginya."

Irvan tersenyum pahit. "Raja tidak pernah benar-benar mencintai Natalie, Sarita. Dia hanya merasa berutang budi padanya. Dan Natalie memanfaatkan itu untuk memanipulasi Raja."

Aku terdiam, merasakan hawa dingin yang menusuk jauh ke dalam tulangku. Semua kebohongan, semua pengkhianatan, semua itu hanyalah bagian dari permainan yang kejam. Aku adalah korban, dan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya.

"Aku akan menghancurkan mereka," kataku, suaraku penuh kemarahan. "Aku akan membalas dendam pada mereka."

Irvan menatapku dengan tatapan serius. "Aku tahu kau marah, Sarita. Tapi kau harus berpikir jernih. Raja adalah pria yang berbahaya. Kau tidak bisa melawannya sendirian."

"Aku tidak sendirian," kataku, menatapnya tajam. "Aku punya kau."

Dia tersenyum tipis. "Ya. Kau punya aku."

Beberapa hari kemudian, Irvan datang kepadaku dengan sebuah undangan. "Aku ingin kau menemaniku ke sebuah acara amal malam ini," katanya. "Ini adalah acara penting. Banyak investor yang akan hadir."

Aku ragu sejenak. Aku tidak ingin bertemu siapa pun. Aku hanya ingin bersembunyi dari dunia.

"Kau harus kuat, Sarita," kata Irvan, seolah membaca pikiranku. "Kau harus menunjukkan pada mereka bahwa kau tidak lemah. Kau harus menunjukkan pada mereka bahwa kau tidak bisa dihancurkan."

Aku mengangguk. Dia benar. Aku harus kuat. Aku harus menunjukkan pada Raja dan Natalie bahwa aku tidak akan menyerah begitu saja.

Malam itu, aku mengenakan gaun hitam panjang yang diberikan Irvan. Gaun itu sederhana, tapi elegan. Aku menatap diriku di cermin, mencoba mencari kekuatan dalam diriku. Aku harus terlihat kuat, meskipun hatiku hancur berkeping-keping.

Ketika kami tiba di acara amal itu, aku terkejut melihat betapa mewahnya. Banyak orang-orang penting yang hadir, para konglomerat, politisi, dan selebriti. Aku merasa tidak nyaman, tapi aku mencoba untuk tetap tenang.

Irvan memegang tanganku, menuntunku melewati kerumunan orang. Dia memperkenalkan aku kepada banyak orang, dan aku mencoba untuk tersenyum, mencoba untuk terlihat ramah. Tapi di dalam hatiku, aku merasa hampa.

Tiba-tiba, aku melihatnya. Raja. Dia berdiri di sudut ruangan, berbicara dengan beberapa orang. Di sampingnya, Natalie. Dia mengenakan gaun merah yang mencolok, dan dia tersenyum lebar, terlihat bahagia.

Jantungku berdebar kencang. Aku merasa ingin bersembunyi, tapi aku tidak bisa. Aku harus kuat. Aku harus menunjukkan pada mereka bahwa aku tidak takut.

Natalie melihatku. Dia tersenyum sinis, lalu berjalan mendekat. "Sarita, sayang," katanya, suaranya manis tapi matanya penuh kebencian. "Kau datang juga?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan dingin.

"Kau terlihat cantik malam ini," katanya, senyumnya semakin lebar. "Tapi gaunmu terlalu sederhana. Raja pasti tidak akan menyukainya."

Kata-kata itu menusuk hatiku, tapi aku tidak bergeming. Aku tidak akan membiarkan dia melihat kelemahanku.

"Aku tidak peduli apa yang Raja suka," kataku, suaraku datar. "Aku hanya peduli pada diriku sendiri."

Natalie tertawa sinis. "Benarkah? Kalau begitu, mengapa kau masih di sini? Kau tahu, Raja tidak pernah benar-benar mencintaimu. Kau hanyalah alat baginya."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk jantungku. Aku merasa ingin menangis, tapi aku tidak akan membiarkan dia melihat air mataku.

"Aku tahu itu," kataku, suaraku bergetar. "Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan melawanmu. Aku akan menghancurkanmu."

Natalie tertawa lagi. "Kau pikir kau bisa melawanku, Sarita? Kau salah. Raja akan selalu melindungiku."

Tiba-tiba, Raja datang. Dia menatap kami berdua dengan tatapan serius. "Ada apa ini?" tanyanya, suaranya dingin.

Natalie langsung bersembunyi di balik punggung Raja, berpura-pura ketakutan. "Raja, dia mengancamku! Dia bilang dia akan menghancurkanku!"

Raja menatapku dengan tatapan marah. "Sarita, hentikan ini! Jangan membuat masalah."

Aku menatapnya, merasakan kemarahan membuncah dalam diriku. Dia selalu melindunginya, selalu membelanya. Aku hanyalah beban baginya.

"Kau membela dia?" tanyaku, suaraku bergetar. "Setelah semua yang dia lakukan padaku?"

"Aku tidak membela siapa pun," jawabnya, suaranya dingin. "Aku hanya ingin kau berhenti membuat masalah."

Air mataku jatuh tanpa kusadari. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku merasa hampa, kosong, dan putus asa.

Irvan maju, berdiri di sampingku. Dia memegang tanganku dengan erat, memberikan kekuatan. "Raja, jangan bicara seperti itu padanya."

"Ini bukan urusanmu, Irvan," kata Raja, menatapnya tajam.

"Ini urusanku," jawab Irvan. "Sarita adalah calon istriku."

Raja terkejut. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya. "Calon istrimu?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan dingin. Aku ingin dia tahu bahwa aku tidak akan pernah kembali padanya.

Raja menatapku dengan tatapan marah, lalu berbalik dan pergi, membawa Natalie bersamanya. Aku menatap punggung mereka, merasakan kesedihan yang mendalam. Aku sudah kehilangan segalanya. Aku sudah kehilangan pria yang kucintai.

Irvan memegang tanganku dengan erat. "Jangan khawatir, Sarita. Aku akan selalu ada untukmu."

Aku menatapnya. Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayainya, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya bisa berharap bahwa dia akan melindungiku dari semua kekejaman ini.

Malam itu, aku hanya bisa minum. Aku minum untuk melupakan rasa sakit, untuk melupakan pengkhianatan, untuk melupakan segalanya. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya ingin mati rasa.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku tahu satu hal: hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku harus kuat. Aku harus bertahan. Aku harus menemukan cara untuk melarikan diri dari semua kekacauan ini.

Aku hanya bisa berharap bahwa suatu hari nanti, aku akan menemukan kedamaian. Tapi untuk saat ini, aku hanya bisa berenang dalam lautan kesedihan dan kemarahan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED