Bab 1

"Saya terima nikah dan kawinnya Mentari Ayuningtyas binti Anshori Prasetyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Pramudya dengan lantang dalam satu kali tarikan nafas.

Setelah mendengar suara "Sah" yang diucapkan serempak warga yang menyaksikan pernikahan spesial antara Pramudya dan Mentari, mereka berdua segera mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sebagai tanda syukur.

Baik Mentari maupun Pramudya masih gugup dengan situasi ini. Mentari segera meraba-raba sampingnya seraya mencari tangan sang suami. Dia hendak mencium punggung tangan pria yang sudah menjadi suaminya.

Seakan mengerti dengan apa yang akan dilakukan Mentari, Pramudya meraih tangan istrinya itu. Mentari sedikit terkejut merasakan tangannya ada yang memegang, dia mendongak ke arah Pramudya. Mentari tidak bisa melihat, dia mengikuti feeling saat tangannya digenggam.

Segera dicium punggung tangan suaminya. Pramudya pun menyentuh bahu Mentari. Setelah itu dikecup puncak kepala istrinya sambil membacakan doa yang dia hafalkan secara mendadak tadi.

Pramudya sangat terpesona saat melihat mata coklat istrinya. Mata yang tidak bisa memandangnya, tapi Pramudya bisa melihat kecemasan dalam mata itu. Banyak pertanyaan yang ada di benaknya saat melihat Mentari. Apa hubungan dengan keluarganya baik-baik saja. Kenapa dia juga mau menjadi pengantin pengganti untuk saudaranya.

Saat ini Mentari tampak selayaknya seorang pengantin walau terlihat biasa. Dia mengenakan kebaya putih, kebaya sang ibu yang dulu digunakan untuk menikah dengan ayahnya. Dia juga dirias sang ibu dengan peralatan seadanya. Rambutnya pun di hair do sedemikian rupa.

Walau serba dadakan dan apa adanya, Mentari tetap terlihat cantik. Apalagi sang suami yang tak berkedip melihatnya. Andai Mentari tahu bagaimana Pramudya memandangnya, dia pasti tersipu malu.

Penampilan Pramudya pun sangat sederhana. Dia mengenakan kemeja putih polos dan celana bahan berwarna hitam, seperti out fit saat bekerja.

Tak berselang lama setelah ijab qobul, sepasang pengantin baru beserta keluarga pamit undur diri. Mentari hanya datang dengan Pak Anshori, ayahnya. Sedangkan Pramudya datang dengan paman dan seorang supir pribadi keluarga Angkasa.

Saat hendak memasuki mobil masing-masing, Pak Anshori berhenti karena Mentari terus mengikutinya. Mentari berjalan sambil melamun karena pikirannya belum tenang. Dia belum bisa menerima kenyataan ini. Saat Pak Anshori berbalik, Mentari langsung menabrak ayahnya. Dengan sigap Pak Anshori meraih tangan putrinya dan menahannya agar tidak terjatuh.

"Tari, kenapa ikuti Papa? Sekarang kamu sudah menikah, sudah kewajiban seorang istri ikut suami kemanapun suaminya pergi," mata Pak Anshori berkaca-kaca saat mengatakan itu, tapi sayang Mentari tidak melihatnya.

Dalam benak Mentari, ini adalah cara mengusirnya. Dia sadar selama ini hanya Mbok Darti yang sangat menyayanginya. Mungkin keluarganya sudah tidak menginginkan Mentari lagi. Mungkin Mentari selalu menyusahkan keluarga. Makanya mereka mengusirnya dengan cara halus yaitu menikahkan Mentari secara mendadak.

Berkali-kali Mentari meminta penjelasan tentang pernikahannya, tapi tidak ada seorang pun yang menjelaskan. Tapi saat ijab qobul tadi, Mentari merasa kalau suaminya bukan orang jahat. Tapi kenapa suaminya mau menikahi wanita buta sepertinya.

Saat ijab qobul pernikahan Mentari tadi, pintu hati Pak Anshori seperti ada yang membuka paksa. Dia menangis dalam diam saat menyerahkan Mentari, putri sulungnya pada seorang pria lewat ikrar ijab qobul tadi.

Dia baru menyadari betapa cantiknya sang putri yang selalu disia-siakan. Dia menyesal selalu menganaktirikan Mentari. Tapi semua sudah terlambat. Dia sudah tidak mempunyai hak lagi pada Mentari. Ada Pramudya yang lebih berhak atas putrinya saat ini.

Pramudya berjalan mendekati sepasang ayah dan anak itu. Sebenarnya dia ingin mengajak Mentari berjalan-jalan terlebih dahulu. Supaya mereka bisa lebih kenal satu sama lain. Semakin mendekat terdengar suara isak tangis sang istri.

"Apa salah Tari, Pa? Andai bisa memilih, Tari juga tidak ingin buta. Tari juga ingin seperti Bulan yang bisa melihat," kata Vina disertai isak tangis.

"Tari juga ingin diperhatikan Mama dan Papa. Tari ..." Mentari tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia semakin tersedu-sedu. Dia jongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Air mata Pak Anshori menetes. Beliau memalingkan wajahnya. Beliau ingin memeluk anaknya, menenangkan putrinya, tapi dia tidak bisa. Dia merasa tidak pantas karena terlalu banyak luka yang telah dia torehkan.

Pramudya ikut jongkok di samping Mentari. Dia memegang sebelah bahu istrinya. "Jangan menangis lagi. Aku berjanji akan membuatmu bahagia," ucapnya.

"Sekarang kita partner dalam hidup. Kita akan lewati semua bersama. Jadi jangan pernah merasa sendiri lagi,"lanjut Pramudya.

Mentari seketika menoleh ke sumber suara. Dia mengenal suara ini. Suara yang beberapa saat lalu mengucap ijab qobul untuknya.

Pramudya segera menghapus air mata yang membasahi pipi sang istri. "Kita bisa berbagi semua hal sekarang. Jangan menangis lagi ya," bujuk Pramudya.

Suara Pramudya terdengar lembut dan menenangkan. Ada rasa hangat dalam hati Mentari. Tanpa sadar tangan Mentari terulur dan memeluk suaminya. Dia malah menangis lebih keras seperti menumpahkan segala rasa yang mengganjal di hatinya.

"Jangan menangis. Tersenyumlah untuk mengawali kehidupan baru kita," ucap Pramudya sambil mengelus lembut punggung wanita yang telah menjadi istrinya. Dibiarkan Mentari menangis sebentar. Kemudian Pramudya meraih tangan Mentari dan membantunya berdiri.

Para orang tua yang menyaksikan kejadian itu juga merasakan kehangatan yang Mentari rasakan.

Pak Anshori mendekati anak dan menantunya. Ditepuk bahu Pramudya pelan. Pramudya yang memunggungi Pak Anshori pun menoleh. Diraihnya tangan sang putri kemudian menyatukan dengan tangan Pramudya.

" Papa titip Tari, Nak. Mulai saat ini dia adalah tanggung jawabmu. Tolong bahagiakan Tari. Jangan sakiti dia seperti yang Papa lakukan. Jika kamu tidak menyukainya lagi, jangan sakiti hatinya. Kembalikan Tari pada Papa. Papa akan berusaha untuk membuat dia bahagia," ucap Pak Anshori.

"Baik, Pa. Saya akan berusaha membuat putri Papa bahagia. Jika menangis, saya pastikan dia menangis bahagia," janji Pramudya sambil mengeratkan genggaman tangan Mentari dan Pak Anshori.

Kini tatapan beralih ke Mentari. Ditarik salah satu tangannya dari genggaman Pramudya, kemudian menyentuh bahu putrinya.

"Maafkan Papa, Tari. Papa belum bisa membuatmu bahagia selama ini. Kami yakin suamimu bisa membuatmu bahagia. Jadilah istri yang patuh dan berbakti pada suami. Anggap mertua sebagai orang tua sendir. Nanti kamu bisa tanya suamimu alasan kalian menikah …," Pak Anshori tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Beliau segera memeluk erat tubuh putrinya yang selama ini tidak pernah dia lakukan. Air matanya pun jatuh semakin deras. Mentari ikut menangis lagi. Dia sangat merindukan pelukan dari cinta pertamanya. Pelukan seorang ayah pada putrinya.

Kemudian Pramudya menuntunnya mendekati mobil sang paman. Selang beberapa langkah, Mentari berhenti dan menoleh kebelakang. Berharap ayahnya akan mencegah kepergiannya. Tidak ada tanda-tanda ayahnya mendekat.

Hanya terdengar suara ayahnya berkata "Sering-sering ya main kerumah. Mbok Darti pasti kangen," Pak Anshori mengatakan itu untuk menghibur sang putri.

Mentari tersenyum getir. Hanya Mbok Darti yang akan merasa kehilangan dirinya. Mungkin memang benar kata suaminya tadi. Ini awal kehidupan baru untuknya.

Dalam perjalanan pulang, Pramudya meminta izin berhenti sebentar di sebuah toko pakaian wanita. Dia hendak membelikan istrinya baju karena Mentari tidak membawa apapun saat ke rumah Pak RT. Hanya pakaian yang melekat di tubuhnya saja yang dia bawa.

Bagas turun sendiri meminta sang istri, Pak Saman dan Pak Sam, supir pribadi keluarga Angkasa, menunggu.

Tak perlu waktu lama, Pramudya kembali ke dalam mobil. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah keluarga Angkasa.

Setibanya di rumah, terlihat Bu Rukaiya yang menunggu dengan cemas. Beliau terlihat mondar-mandir.

"Bagaimana, Pa?" tanya Bu Rukaiya sambil menghampiri Pak Saman yang sedang masuk rumah.

"Alhamdulillah, Ma. Lancar," jawab Pak Saman seraya melepaskan kancing tangan kemejanya.

"Paman, Bibi, Pram sama Tari mau langsung ke kamar dulu ya?" izin Pramudya dengan menggenggam tangan Mentari, menuntunnya menuju kamar Pramudya.

Saat melewati Pak pak Saman dan Bu Rukaiya, Mentari tersenyum sambil menunduk sopan. Dia menggunakan feeling saja untuk memastikan keberadaan paman dan bibi suaminya.

Mata Bu Rukaiya bergerak mengikuti Mentari.

Yang buta saja cantik apalagi saudara kembarnya yang merupakan pacar Arjuna, pikir Bu Rukaiya.

"Dia seperti tidak buta, Pa?" tanya Bu Rukaiya curiga. Dalam pikirannya buta itu seperti memejamkan mata. Tapi mata Mentari terlihat seperti mata orang normal pada umumnya.

"Dia memang buta, Ma," jelas Pak Saman. " Bagaimanapun dia, sekarang dia sudah menjadi menantu keluarga Angkasa," lanjut Pak Saman.

Bu Rukaiya menoleh kearah suaminya. "Tapi, Pa? Apa kita harus memperkenalkan dirinya pada orang lain termasuk rekan bisnis kita?" Bu Rukaiya mulai takut kalau nama keluarganya akan tercemar saat orang lain tahu menantu yang buta.

"Paman dan Bibi tidak perlu memberitahukan soal Tari. Dia istriku bukan istri Arjuna," perkataan itu membuat Pak Saman dan Bu Rukaiya menoleh kearah Pramudya.

Pramudya tadi hendak kedapur mengambilkan minuman untuk istrinya. Dan mendengar obrolan paman bibinya.

"Bukan begitu maksud kami, Pram," sela Pak Saman.

Pramudya tersenyum. Dia mengerti maksud pamannya. Dia benar-benar tidak mempersalahkan andai Mentari tidak di akui sebagai menantu keluarga Angkasa.

Pramudya sendiri sudah lama menganggap dirinya bukan anggota keluarga Angkasa. Dia takut disangka anak yang tidak tahu balas budi. Dia tidak mengharapkan apapun dari perusahaan pamannya. Yang tanpa dia sadari itu adalah perusahaannya. Dia akan berusaha berdiri sendiri tanpa ada bantuan keluarga pamannya.

"Aku mengerti maksud Paman. Paman tak perlu cemas," Pramudya mencoba menenangkan pamannya. "Aku permisi dulu. Mau mengantar minuman untuk Tari," ucap Pramudya.

Pria itu segera berjalan menuju kamarnya. Menemui sang istri yang membuatnya ingin menatap wajah ayu istrinya.

Sesampainya di kamar, Bagas langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Kebiasaan yang semestinya harus berubah. Sekarang dia tak lagi sendiri menghuni kamar tersebut.

Di dalam kamar, Mentari terperanjat saat mendengar pintu kamar terbuka. "Mas?" tanyanya ragu-ragu.

Pramudya hanya tersenyum mendengar ucapan Mentari. Dia tidak berkata apapun. Dia berjalan mendekati istrinya. Sedangkan sang istri nampak ketakutan. Dia mencengkeram sprei dan menggeser mundur posisi duduknya.

"Aku hanya mengambilkan air putih, tak apakan?" ucap Pramudya sambil meraih tangan Mentari lalu menyerahkan gelas yang dipegangnya. Mengetahui yang masuk ke kamar adalah Pramudya, Mentari menghela nafas lega.

Segera diminum air yang diambilkan suaminya. Pramudya tetap memandang kagum sosok wanita di depannya. Kemudian dia duduk di samping Mentari.

"Istirahatlah dulu. Nanti sore kita akan pergi membeli beberapa baju lagi untukmu. Aku tadi sengaja membelikan satu karena tidak tahu bagaimana seleramu," ucap Pramudya lagi.

Setibanya di kamar tadi, memang menyuruh Mentari untuk ganti baju dengan yang dia belikan dadakan. Lalu Pramudya turun untuk mengambil air minum.

Pramudya tadi membelikan sebuah dress dengan panjang di bawah lutut dan lengannya sampai siku. Itu rekomendasi dari SPG toko.

Sedari tadi Mentari menatap lurus ke depan. Setelah mendengar ucapan sang suami, dia segera menoleh kearah Pramudya yang duduk di sampingnya.

"Tak perlu, Mas. Nanti kita bisa pulang mengambil baju di rumah," ucap Mentari merasa sungkan.

"Tidak-tidak," ucap Pramudya sambil menggeleng dan tentu saja istrinya tidak bisa melihat itu.

"Kita memulai semua dengan yang baru. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan keluarga, tapi yang aku lihat saat kamu berbicara dengan Papa tadi, itu bukan hal yang baik," kata Pramudya menebak.

Mentari meraba-raba kearah sang suami. Setelah itu dia mengusap pelan lengan suaminya.

"Kita tidak perlu membuang-buang uang untuk beli baju. Aku masih punya baju yang masih layak digunakan," ucapnya sambil tersenyum manis. Manis sekali bagi Bagas.

" Kita masih mempunyai banyak waktu untuk saling mengenal. Nanti aku pasti akan menceritakan semua. Seperti yang Mas Pram katakan tadi, kita adalah partner hidup. Kita berdua akan menjalani pernikahan ini dengan kejujuran dan saling terbuka kan?" ucap Mentari.

Pramudya terdiam mendengar ucapan istrinya. Dia segera meraih gelas yang dipegang Mentari kemudian menaruhnya di atas nakas. Setelah itu Bagas menggenggam kedua tangan wanitanya dan mencium punggung tangan Mentari.

Sebenarnya ingin sekali Pramudya mencium bibir mungil itu, tapi dia belum berani. Tanpa sadar Pramudya melakukan itu. Mentari langsung tersipu mendapat perlakuan yang manis ini. Pengalaman pertama yang dia rasakan.

"Walau pernikahan kita awalnya ketidaksengajaan dan paksaan. Tapi kita akan berusaha menjadikan pernikahan ini abadi sampai Jannah. Berusahalah untuk mencintaiku. Aku juga akan berusaha mencintaimu," ucap Pramudya lembut tapi penuh ketegasan.

"Kita harus saling membantu dan saling mengingatkan sebagai partner hidup agar perjalanan kita menjadi lebih mudah," lanjut Pramudya.

"Aku minta maaf, Mas, belum bisa jadi istri yang baik seperti yang Mas Pram harapkan," ucap Mentari saat mengingat kalau dirinya tidak bisa melihat.

" Kita sama-sama berusaha. Aku juga bukan suami yang baik. Terima kasih menjadi partner hidupku," sekali lagi Pramudya mencium punggung tangan istrinya dengan mesra.

"Sekarang istirahatlah," ucap Pramudya sambil melepas genggaman tangan Mentari. Wanita itu menggeleng dan menarik tangan Pramudya kembali.

"Aku mau minta tolong," ucap Mentari.

"Minta tolong apa?" balas Pramudya penuh tanda tanya.

"Mas ceritakan tentang orang-orang yang tinggal di sini. Dan tentang rumah ini, maksudku tentang setiap sudut ruangan dalam rumah ini," kata Mentari ragu.

"Mas bingung ya?" ucap Mentari lagi. Putri sulung Pak Anshori beranjak dari duduknya, tapi tetap menggenggam tangan Pramudya.

"Tolong bantu aku mengenal rumah ini dan penghuninya. Aku hanya bisa mengenali mereka lewat suara. Mas bantu aku keliling rumah ini agar aku mengenali setiap sudut ruangannya," kata Mentari lagi.

Pramudya mengangguk mengerti perkataan istrinya. Dia bangkit dan berdiri di samping Mentari.

"Nanti saat pulang mengambil baju, tolong antar beli the white cane juga ya, Mas," pinta Mentari.

Setiap mendengar kata "Mas" dari bibir Mentari rasanya ingin meleleh hati Pramudya. Entah apa yang terjadi pada pria ini. Mungkinkah dia sudah jatuh cinta pada istrinya yang baru beberapa jam dia kenal.

Bab 2

Setelah merapikan penampilannya, Mentari pun mengikuti Pramudya keluar kamar. Seperti niat awalnya, dia ingin mengetahui seluk beluk rumah yang akan Mentari tempati sekarang.

Rumah keluarga Angkasa hanya terdiri dari dua lantai. Kamar Pramudya berada di lantai dua. Setelah turun, ternyata lantai bawah sepi. Paman dan bibinya sudah pergi. Bergegas Pramudya mengajak istrinya ke dapur untuk menemui Bik Sumi.

"Bik!" panggil Pramudya. Bik Sumi yang sedang membersihkan kitchen set segera menoleh. "Kenalkan ini Mentari, istri Pram," lanjut Pramudya.

Mentari pun segera mengulurkan tangan dengan senyum tersungging di bibirnya. Bik Sumi mengelap tangannya di daster yang dikenakannya seolah membersihkan tangannya.

"Selamat datang, Non," ucap bik Sumi seraya menyambut uluran tangan Mentari. "Nona bisa panggil saya bik Sumi," lanjut art keluarga Angkasa.

"Bik Sumi jangan panggil saya Nona. Bibi bisa memanggil saya, Tari," ucap Mentari.

Bik Sumi memandang Pramudya seolah meminta penjelasan tentang ucapan Mentari. Tak mungkin bik Sumi hanya memanggil dengan Tari saja. Dia telah menjadi menantu keluarga Angkasa.

"Bik Sumi bisa memanggil dengan Tari saja. Asal jangan panggil Sayang itu hanya aku yang boleh," ucap Pramudya menjawab kode pertanyaan bik Sumi.

Bik Sumi tersenyum mendengar ucapan Pramudya. Dia bisa merasakan cinta yang tumbuh di hati Pramudya untuk istrinya. Wajah Mentari langsung merona mendengar ucapan sang suami.

"Cie …. sudah Sayang rupanya," goda bik Sumi, "Baru menikah langsung panggil Sayang untuk istrinya," ucap bik Sumi.

Wajah Mentari tambah merah mendengar perkataan bik Sumi. Dia benar-benar tidak menyangka semua ini akan terjadi. Dia berpikir akan menikah dengan pria tua karena ayahnya tidak bisa membayar hutang ya seperti yang ada dalam novel. Dia juga belum tahu apa alasan pernikahannya dengan Pramudya.

Siapa Pramudya dan keluarga, dia pun belum tahu. Nanti bisa dia tanyakan. Sekarang yang terpenting mengenal keluarga sang suami.

"Wa bibi membuat wajah istriku seperti kepiting rebus. Lihatlah, merah sekali," ucap Pramudya malah menggoda istri.

Mentari segera memalingkan wajahnya kearah berlawanan dengan Pramudya. Pria pun ikut tertawa melihat tingkah sang istri.

"Paman dan bibi tadi kemana, Bik?" tanya Pramudya mengingat tujuannya membawa Mentari turun.

"Sepertinya tadi Tuan dan Nyonya masuk ke kamar," ucap bik Sumi.

"Kamu saudaranya Bulan?" tanya Arjuna ketika melihat seorang wanita bersama Pramudya. Dia baru bangun tidur dan hendak mengambil minum di dapur.

Serempak, mereka bertiga menoleh ke sumber suara. Arjuna langsung menatap Mentari. Seperti mencari sesuatu dalam diri wanita yang sudah menjadi istri sepupunya.

"Sekilas kalian mirip, tapi Bulan lebih seksi darimu. Tubuhnya lebih berisi," Arjuna langsung mengomentari tentang Mentari.

Mentari terkejut mendengar pria yang baru datang menyebut nama adiknya. Siapa lagi pria ini, pikir Mentari.

"Arjuna, jaga bicaramu. Dia istriku sekarang," kata Pramudya tak suka.

"Yaelah Pram, punya istri buta saja sombong. Tenang saja aku juga tidak akan tertarik padanya," ucapan Arjuna tambah membuat emosi tersulut.

Tidak hanya Pramudya yang marah, bik Sumi pun tidak suka. Sedangkan yang di bicarakan, biasa saja. Mentari sudah terbiasa mendengar hinaan seperti ini. Orang tua dan saudaranya saja sudah bisa Mentari hadapi apalagi Arjuna yang bukan siapa-siapa.

"Arjuna!" teriak Pramudya penuh emosi.

Mentari segera menggenggam tangan sang suami. Dia menghadap Pramudya dan menggeleng pelan.

"Ada apa lagi ini? Kenapa ribut sekali?" Pak Saman berjalan menghampiri mereka yang berada di dapur. Terlihat dari belakang Bu Rukaiya ikut mendekati dapur.

"Pram, Pa. Punya istri buta saja sombong …,"

"Arjuna!" bentak Pak Saman membuat sang putra tidak melanjutkan perkataannya.

"Seharusnya kamu berterima kasih pada Pram dan istrinya. Andai mereka tidak menikah apa jadinya kamu dan pacar kamu itu," Pak Saman ikut geram.

Arjuna masih tetap sama belum berubah. Beberapa jam tidak akan merubah sifat Arjuna yang semaunya. Arjuna mendengus kesal. Sang ibu langsung merangkul putranya.

"Pa, jangan terlalu keras pada Arjuna," kata Bu Rukaiya sang ibu yang selalu membela putranya meski Arjuna salah.

"Mama yang jangan terlalu memanjakan Arjuna. Dia sudah sangat dewasa. Dua puluh tujuh tahun, Ma. Seharusnya dia bisa bertanggung jawab dengan perbuatannya. Bisa menerima kesalahannya. Bukan selalu lari dari masalah," ucap Pak Saman dengan emosi yang tidak bisa dibendung lagi.

"Maafkan perkataan Arjuna tadi ya," pinta Pak Saman pada Mentari. Pak Saman menatap Mentari sendu, tapi istri Pramudya tidak menyadari. Karena Mentari belum terbiasa dengan keluarga barunya.

"Tari, Paman bicara padamu," bisik Pramudya pada istrinya.

Mentay terkesiap, baru menyadari kalau Pak Saman bicara padanya.

"Iya Paman, tak apa-apa," ucap Mentari sambil tersenyum.

Arjuna langsung berbalik pergi meninggalkan dapur. Dia kesal dengan semua. Ayahnya selalu membela Pramudya. Bukan dari dulu, tapi beberapa tahun terakhir. Arjuna masih belum mengerti perubahan sikap ayahnya selama ini karena ingin menjadikan Arjuna sosok yang lebih baik lagi.

Setelah Arjuna pergi, Bu Rukaiya menyusul anaknya. Pak Saman hanya menghela napasnya melihat sikap putranya.

"Pram, segera urus pernikahanmu supaya sah di mata negara juga," titah sang paman sambil berbalik memutar tubuhnya.

"Iya, Paman," kata Pramudya sambil mengangguk.

Setelah pamannya pergi, Pramudya melanjutkan kembali keliling rumah keluarga Angkasa. Dia menuntun sang istri sambil menjelaskan ruangan yang dikunjungi.

"Oh iya, Mas," ucap Mentari mengingat sesuatu yang akan ditanyakan. "Siapa pria tadi? Kok kenal Bulan?"

Pramudya terdiam tidak melanjutkan perkataannya. Dia kasihan pada Mentari yang benar-benar tidak tahu alasannya dia dijadikan pengantin pengganti oleh keluarganya.

"Karena dialah kita menikah," kata Pramudya

Mentari mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti maksud ucapan sang suami.

"Mereka, Arjuna dan saudaramu digrebek warga saat berbuat mesum di dalam mobil," lanjut Pramudya.

Mentari langsung menghentikan langkahnya. Dia menutup mulutnya dan menggeleng. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Tak mungkin Bulan melakukan hal semacam itu.

"Terus mereka dipaksa menikah, tapi keduanya tidak mau. Lalu warga mengancam akan menikahkan paksa. Akhirnya mereka berdua setuju menikah dengan syarat meminta sedikit waktu untuk membujuk orang tua masing-masing," Pramudya melanjutkan cerita yang membuat Mentari penasaran.

"Dan akhirnya seperti saat ini. Kita yang menikah, padahal kita tidak melakukan apa-apa," lanjut Pramudya.

Flashback on

Sepasang kekasih sedang ditarik paksa oleh warga untuk berjalan menuju rumah ketua RT setempat. Mereka dipergoki sedang berbuat mesum di dalam mobil.

Saat itu warga sedang ronda seperti malam sebelumnya. Mereka melihat mobil yang terparkir di pinggir jalan. Mereka tidak mengenali mobil itu. Karena warga sekitar yang memiliki mobil hanya 2 orang saja. Dan tidak ada warga yang memiliki mobil jenis Porsche Cayenne berwarna putih bersih seperti itu.

Warga segera mendekati dan mengintip keadaan di dalam mobil. Terdengar suara desahan dari dalam. Segera warga menggedor mobil mewah itu.

"Hoe …. keluar kalian. Jangan berbuat mesum di sini," teriak warga

Sepasang kekasih itu membuka pintu dan segera keluar. Terlihat sang wanita masih sibuk membenarkan rok yang digunakannya.

Salah seorang warga segera memegang tangan sang pria, takut kalau pria itu kabur.

"Ada apa ini bapak-bapak?" tanya pria itu.

"Jangan berbuat mesum di daerah sini ya," bentak salah satu pemuda yang ikut ronda tadi.

"Ayo ikut kami ke rumah Pak RT," kata warga lain.

"Iya. Ayo bawa saja ke Pak RT," kata warga yang lain.

"Apa-apaan ini?" wanita itu bersuara saat ada dua warga yang menggelandang tangannya. "Lepaskan. Aku bisa jalan sendiri," lanjutnya masih dengan nada sombong

"Bapak-bapak ini tidak seperti yang kalian duga. Kami tidak melakukan apa-apa," kilah sang pria sambil meronta mencoba melepaskan tangannya dari cekakan para warga.

"Kami dengar suara desahan dari dalam mobil kalian. Dugaan apa lagi yang harus kami pikirkan?" sahut warga.

"Pasti kalian berbuat macam-macam," kata orang yang ikut mengerubungi mobil Porsche Cayenne.

"Andai tidak kami pergoki pasti ini akan jadi mobil bergoyang," seru warga yang lain.

Si pria menghela napas. " Maaf, bapak-bapak semua. Kami tadi hanya berciuman, tidak melakukan hal yang lebih jauh," sanggah sang pria.

"Apa salahnya kami berciuman? Wajar kan sepasang kekasih melakukan hal itu?" kata sang wanita yang tidak mempunyai rasa bersalah.

Para warga merasa geram dengan perkataan sepasang kekasih itu. Bisa-bisanya mereka berpikir kalau itu adalah hal yang wajar. Mereka bukan suami istri, lalu melakukan hal tak senonoh di luar rumah ya meskipun di dalam mobil tetap saja itu perbuatan yang tidak patut.

"Sudahlah. Yang terpenting sekarang kalian ikut ke rumah pak RT," teriak salah satu warga lingkungan itu.

Sang pria melirik teman wanitanya seolah menyuruh mengikuti kemauan warga. Percuma saja berargumen dengan warga.

Mereka berjalan mengikuti warga dari belakang. Keduanya juga masih dijaga oleh beberapa orang.

Di rumah Pak RT.

"Jadi kamu anaknya Pak Anshori yang memiliki toko kelontong itu?" tanya Pak RT setelah mendengar penjelasan dari Bulan.

Tapi Bulan mengaku sebagai Mentari, kakaknya. Pak RT kenal dengan orang tua Bulan. Ayah dan ibunya memiliki toko kelontong yang besar di daerahnya.

Sang wanita adalah Bulan Anggraini. Dan nama si pria adalah Arjuna Angkasa. Seorang anak pengusaha terkenal, Saman Angkasa.

"Kita suruh mereka nikah saja, Pak. Perbuatan mereka membuat nama kampung kita menjadi buruk," usul salah satu warga.

"Iya Pak. Agar anak-anak yang lain tidak mengikuti apa yang telah mereka lakukan," timpal yang lain.

"Membuat resah saja perbuatan mereka," gerutu warga lainnya.

Para warga pun menyuarakan pendapatnya. Sedangkan kedua tersangka hanya diam. Tidak ada rasa penyesalan dalam benak mereka. Mereka terlihat santai menghadapi amarah warga.

"Begini saja. Kita panggil dulu orang tua keduanya. Kita diskusikan dengan mereka tentang anak-anaknya," tutur Pak RT.

Mendengar kata orang tua disebut, si pria sedikit terkejut. Dia tidak mau sampai orang tuanya tahu. Bisa-bisa kena omel sang ayah lagi. Tadi siang dia baru kena omel karena tidak bisa mendapatkan tender yang sudah lama di incar.

"Begini Bapak-Bapak, saya berjanji akan menikahi kekasih saya, tapi tidak sekarang," bujuk sang pria.

"Beri kami waktu tiga hari. Kami akan membicarakan dengan orang tua kami dulu. Nanti saat pernikahan, kami akan mengundang bapak-bapak agar percaya kalau kami tidak bohong," lanjut Arjuna.

Sang wanita terkejut dan langsung menoleh ke samping, kearah sang pujaan hati. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Arjuna, akan menyetujui pernikahan ini. Bulan memang mencintai Arjuna, tapi dia tidak ingin menikah sekarang. Usianya masih muda, masih 22 tahun. Dia masih ingin meraih mimpinya menjadi model.

"Sayang … apa yang kau katakan?" tanya Bulan meminta penjelasan.

Arjuna memandang sekilas sang wanita. Lalu dia mengedarkan pandangannya kearah warga sekitar.

"Saya ingin bicara berdua dengan kekasih saya sebentar. Bolehkan?" ucap Arjuna meminta persetujuan.

Pak RT dan warga sekitar berbisik-bisik sebelum mengiyakan permintaan Arjuna tadi. Kemudian Arjuna menarik tangan Bulan dan berjalan menjauh dari para warga.

"Aku masih belum mau menikah. Aku ingin mengejar karir jadi model," ucap Bulan kesal.

Arjuna berkacak pinggang sambil menghembuskan nafas kasar. "Dengar sayang, aku juga belum ingin menikah. Tapi kita harus menyetujui permintaan warga itu agar masalah ini tidak berlarut-larut," kata Arjuna.

"Apa maksudmu?" Bulan benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kekasihnya.

"Kita bisa menyuruh orang lain menggantikan kita menikah," Arjuna berbicara pelan tapi sedikit menekan kata-katanya.

"Carilah yang wajahnya hampir mirip denganmu agar mereka tidak curiga," lanjut Arjuna.

Sepupu Pramudya mulai berjalan menjauhi Bulan yang masih terdiam mencerna kata-kata Arjuna. Tak lama kemudian wanita menyusul sang kekasih yang kembali berkerumun dengan warga.

"Bagaimana Pak, apa permintaan kami tadi disetujui?" Arjuna memulai negosiasinya.

Pak RT dan sebagian warga mulai berdiskusi. Bulan yang berada disamping Arjuna, langsung menggenggam tangan sang kekasih. Mereka saling berpandangan, berharap warga mau menyetujui permintaan Arjuna.

"Kami tidak bisa memberikan waktu tiga hari, tapi kami beri waktu sampai besok siang untuk kalian berbicara pada orang tua," Pak RT angkat bicara mewakili warga.

Raut wajah kecewa terukir di wajah Arjuna dan Bulan. Mereka menghela napas panjang. Setelah berpikir agak lama kemudian mereka pun menyanggupi keinginan RT dan para warga.

"Tapi tinggalkan KTP kalian sebagai jaminan kalau kalian tidak akan kabur," kata Pak RT lagi.

"Tapi, Pak?" ucap Arjuna keberatan.

"Kami tidak akan kabur, Pak. Kami janji besok akan kesini lagi dan melakukan ijab qobul pernikahan," Bulan berkata, membela pacarnya.

"Maaf, kalau kalian tidak bisa menyerahkan KTP dengan terpaksa kami akan menghubungi orang tua kalian dan menikahkan kalian sekarang juga," Pak RT pun tidak mau mengalah.

Arjuna dan Bulan berpandangan lagi. Seolah mereka berdiskusi melalui tatapan mata tanpa ada kata yang terucap.

Tak mungkin Arjuna menyerahkan KTP-nya. Bisa runyam kalau orang-orang tahu siapa dia sebenarnya. Memang sedari tadi, Arjuna tidak menyebutkan namanya.

Bulan ingat kalau dia membawa KTP milik kakaknya. Dia segera mengambil KTP tersebut dan memberikan pada pak RT.

"Ini KTP saya, Pak," ucapnya seraya mengulurkan tangannya menyerahkan KTP itu. "Tapi maaf, kekasih saya tidak membawa KTP. KTP dan dompetnya tertinggal di kantor," lanjut Bulan berbohong. Dia tahu kegelisahan yang dirasakan oleh kekasih hatinya.

Pak RT membaca tulisan yang tertera di KTP dan sekali-kali melirik kearah Bulan.

"Mentari Ayuningtyas ?" tanya Pak RT.

"Iya, Pak. Saya Mentari," kata Bulan penuh percaya diri. "Jadi tidak masalahkan kalau pacar saya tidak meninggalkan KTP-nya?" lanjut Bulan untuk meminta persetujuan.

"Pacar saya sudah menyerahkan KTP. Apakah kami boleh pergi. Kami janji besok akan kesini dan melakukan akad nikah," kata Arjuna meyakinkan Pak RT dan seluruh warga.

Dengan kesepakatan bersama akhirnya mereka berdua diizinkan pulang untuk bicara dengan orang tua.

Arjuna masih kebingungan bagaimana cara menjelaskan ini pada ayahnya. Bukan tentang mendapatkan pengantin pengganti yang dia cemaskan, tapi masalah dia kepergok warga saat berduaan dengan wanita.

Bab 3

Di kediaman keluarga Angkasa.

"Kau ini benar-benar, Ar," kata Pak Saman, ayah Arjuna. "Tidak bisakah kamu melakukan hal yang lebih penting dari berbuat mesum di dalam mobil," lanjut Pak Saman dengan kesal.

Arjuna tertunduk. Dia hanya diam tidak berani bersuara mau pun mengangkat kepalanya. Setelah pulang dari penggrebekan tadi, dia langsung pulang ke rumah setelah mengantar Bulan pulang.

Arjuna langsung menemui orang tuanya yang tengah lelap tertidur. Dia sudah siap akan konsekuensi yang akan diterimanya.

Pak Saman langsung murka mendengar penuturan dari putra semata wayangnya. Beliau sangat geram melihat Arjuna yang masih suka bersenang-senang tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi. Arjuna yang masih senang berbuat sesuka hatinya.

Sedangkan sang istri juga tidak kalah paniknya. Beliau juga terdiam sambil meremas tangannya. Sang ibulah yang selama ini terlalu memanjakan Arjuna. Bahkan sampai usia Arjuna yang sekarang menginjak 25 tahun, Bu Rukaiya selalu memperlakukan putranya dengan sangat berlebihan. Beliau selalu membenarkan semua apa yang Arjuna lakukan.

" Sudahlah, Pa. Percuma papa ngomel-ngomel sama Arjuna. Ini tidak akan membuat kondisi lebih baik," akhirnya Bu Rukaiya mencoba membela Arjuna yang bersalah.

" Lebih baik Papa bujuk Pram agar mau menikah dengan gadis buta itu. Apakah Papa tega membiarkan Arjuna menikah dengan orang buta? Apa Papa tidak malu punya menantu buta?" lanjut Bu Rukaiya.

Dalam perjalanan pulang tadi, Bulan memang menceritakan tentang kakak kandungnya yang akan menjadi pengantin pengganti. Mentari namanya. Dia terlahir tidak sempurna. Dia tidak bisa melihat. Kalau dilihat sekilas mereka memang mirip karena pada dasarnya mereka saudara kandung yang beda 14 bulan. Jadi mereka terlihat seperti kembar.

Perbedaan yang mencolok bisa dilihat dari penampilan mereka. Bulan yang selalu cetar membahana dalam setiap tampilan, mulai dari riasan maupun busana yang dia kenakan. Bahkan pakaian yang digunakan selalu ketat hingga memperlihatkan bentuk tubuhnya.

Sedangkan sang kakak selalu berpenampilan sederhana. Tidak ada polesan make up di wajahnya. Pakaian yang digunakan pun terkesan biasa dan sederhana.

Pak Saman mengusap kasar wajahnya. Timbul rasa bersalah dalam hatinya. Selama ini beliau sudah mengambil alih seluruh harta warisan kedua orang tua Pramudya. Apakah sekarang dia juga tega menikahkan Pramudya dengan gadis buta. Dan itu semua karena kesalahan anaknya sendiri yang terlalu dimanja. Pak Saman berharap Arjuna akan memiliki sifat yang sama dengan Pramudya. Dia seorang yang rajin dan bertanggung jawab.

Pramudya Angkasa adalah anak dari mendiang kakaknya, Sarji Angkasa. Pak Sarji dan istrinya meninggal karena kecelakaan. Saat itu Pramudya masih berusia 3 tahun.

Tidak ada keluarga lain yang dimiliki Pramudya maka dari itu dia dirawat oleh keluarga pamannya. Pak Saman dan Bu Rukaiya awalnya keberatan saat disuruh merawat Pramudya. Bukannya tidak sayang, tapi keadaan ekonomi Pak Saman sangat buruk. Untuk memenuhi kebutuhan anak tunggalnya saja mereka kesulitan dan sekarang harus ditambah dengan Pramudya.

Setelah tujuh hari kematian Pak Sarji, seorang pengacara mengatakan kalau Pak Sarji meninggalkan warisan yang cukup banyak untuk putranya. Selama menunggu Pramudya beranjak dewasa, warisan yang berupa perusahaan dan beberapa lahan untuk investasi akan di pegang sementara oleh wali Pramudya.

Mendengar penjelasan tersebut, Pak Saman pun setuju untuk merawat Pramudya. Tapi Pak Saman tidak pernah memberitahukan tentang warisan itu pada Pramudya.

Bahkan setelah lulus kuliah, Pramudya harus memulai karirnya dari nol. Dia memilih melamar pekerjaan di perusahaan lain. Dan bekerja sebagai staf biasa.

Pak Saman tidak menyangka kalau sang kakak berhasil menjadikan perusahaan warisan orang tuanya menjadi lebih baik. Sebelum orang tua meninggal, baik Pak Sarji maupun Pak Saman sudah diberikan masing-masing perusahaan. Tapi sayang Pak Saman tidak bisa mengelola dan akhirnya mengalami kebangkrutan.

Pak Saman pun menghembuskan napas seakan menyerah dengan berbagai pikiran yang ada di benaknya. Dia harus menolong putranya sendiri dan membiarkan keponakannya menjadi pengantin pengganti Arjuna.

"Baiklah Papa akan membujuk Pram. Tapi ingat ini bantuan papa yang terakhir," kata Pak Musthofa.

"Jangan berbuat bodoh seperti ini lagi, Arjuna. Mulai sekarang fokuslah pada perusahaan. Jangan bermain-main terus. Perusahaan akan menjadi tanggung jawabmu jika papa sudah pensiun," nasihat sang ayah.

Arjuna dan Bu Rukaiya menghela napas lega. Pak Saman tidak akan membiarkan putranya dalam masalah. Walau cara bicaranya kasar, tapi hatinya tidak sekasar itu. Bagaimana pun juga dia seorang ayah yang tidak ingin melihat anaknya menderita.

"Iya, Pa. Arjuna berjanji. Aku akan lebih fokus pada perusahaan," janji Arjuna dengan senyum terukir di bibirnya.

Bu Rukaiya memeluk anaknya dengan rasa gembira. Beliau pun berjanji dalam hati akan berusaha untuk mendidik putranya jadi lebih baik.

Saat sarapan.

"Pram, paman mau minta tolong padamu," ucap Pak Saman tanpa basa-basi.

"Ada apa Paman? Selama Pram bisa membantu pasti aku bantu," ucap Pramudya sambil mengambil nasi goreng ke dalam piring.

"Bisakah kamu izin untuk hari ini?" lanjut Pak Saman. Beliau pun menaruh sendok dan garpu yang beliau pegang.

Pramudya berhenti menyuapkan nasi dalam mulutnya. Dia langsung menoleh kearah sang paman. ' Sepertinya ada masalah yang gawat' batin Bagas.

Dia pun memandang Bu Rukaiya dan Arjuna secara bergantian. Dia mencoba mencari jawaban dari sikap Pak Saman.

Pak Saman mulai menceritakan tentang apa yang terjadi. Pria paruh baya itu juga menitikkan air mata. Itu bukan air mata palsu. Beliau benar-benar menangis menyesali semua perbuatannya. Dia yang selalu memanjakan Arjuna.

Selama ini Pak Saman tidak pernah membeda-bedakan mereka berdua. Kadang Bu Rukaiya yang memberi penekanan kalau Pramudya hanya keponakan.

Usia Arjuna dan Pramudya beda tiga tahun, Pramudya yang lebih tua. Dari mulai sekolah hingga kuliah, mereka juga di tempat yang sama. Bedanya, Arjuna terlalu dimanja. Pramudya hanya bersikap sewajarnya. Dia tidak meminta lebih pada paman bibinya. Dia sudah sangat bersyukur paman bibinya mau merawat dan menganggapnya seperti anak sendiri.

"Paman mohon Pram. Tolong bantu Arjuna kali ini," kata Pak Saman memelas.

Sedari tadi Pramudya menolak untuk menikah dengan Mentari, bukan karena gadis itu buta, tapi karena dia belum siap menikah. Bagi Pramudya, menikah bukan permainan yang bila bosan bisa kita tinggalkan.

Bisakah dia membahagiakan sang istri nantinya. Apalagi dia belum kenal Mentari sama sekali. Dia juga belum berencana akan menikah dalam waktu dekat. Melihat pamannya yang menangis juga membuat hatinya tersentuh. Pramudya benar-benar bingung.

Setelah terdiam cukup lama, tiba-tiba terlintas dalam benaknya bagaimana jika Mentari menikah dengan Arjuna. Dia tahu bagaimana sifat Arjuna. Mentari sudah menderita sejak kecil dengan kebutaannya, kasihan jika dia harus menderita lagi setelah menikah dengan putra Pak Saman.

Pramudya sadar kalau dia juga bukan pria yang baik. Tapi dalam hatinya tiba-tiba berjanji akan membuat Mentari bahagia. Janji yang tidak minta izin untuk menyusup dalam hatinya. Pramudya belum pernah bertemu dengan Mentari, tapi mengapa ada rasa iba yang timbul di dalam hati.

"Baiklah Paman. Aku akan menggantikan Arjuna untuk menikah dengan gadis itu," ucap Pramudya menyanggupi.

Di kediaman keluarga Pak Anshori.

"Tari, bangun!" Bu Fatimah mencoba membangunkan putrinya dengan kasar. Selain berteriak, beliau juga menarik tangan Mentari.

Sepulang di antar Arjuna tadi, Bulan langsung berlari kearah kamar orang tuanya. Dengan bar-bar dia menggedor pintu dan berteriak memanggil orang tuanya.

"Ada apa, Bulan? Kenapa teriak-teriak kayak gini?" kata ibunya setelah membuka pintu.

"Gawat ini, Ma. Papa mana?" kata Bulan seraya menengok kedalam kamar orang tuanya.

"Di dalam lagi tidur," jawab Bu Fatimah kesal.

Bulan segera masuk ke dalam kamar dengan menarik tangan ibunya. Setelah pintu ditutup, Bulan segera membangunkan ayahnya dengan menggoyangkan lengan dan memanggilnya dengan nada kasar.

"Aku tadi kepergok warga saat berduaan dengan Arjuna. Dan kami dipaksa untuk menikah," Bulan memulai perkataannya setelah ayah ibunya terbangun.

Mereka berdua terkejut sampai membelalakkan mata. Kesadaran setelah bangun tidur pun kembali dengan terpaksa karena cerita putri keduanya.

"Bulan belum mau menikah, Ma, Pa," ucap Bulan dengan manja, "Bujuk Tari untuk menggantikan Bulan menikah besok di hadapan para warga," pinta Bulan.

Pak Anshori dan Bu Fatimah masih belum mendengar sepenuhnya ucapan Bulan tadi. Mereka masih terkejut. Bagaimana bisa Bulan melakukan hal bodoh seperti itu. Apa yang akan dikatakan orang-orang nantinya.

"Bulan masih ingin menjadi seorang model. Biarkan Tari yang buta itu menikah. Dia juga tidak berguna di rumah ini," ucap Bulan yang selalu menjelekkan saudarinya. Sama seperti kedua orang tuanya. Bulan malu punya saudara yang buta.

Bulan dan Mentari adalah saudara kandung. Tapi Mentari lahir dengan keterbatasan. Indera penglihatannya tidak berfungsi, dia buta. Mengetahui anaknya yang buta, Pak Anshori dan Bu Fatimah sangat membenci Mentari. Mereka menganggap kebutaan putri pertamanya adalah aib keluarga. Dan Mentari di cap sebagai anak pembawa sial.

Perlakuan Pak Anshori dan Bu Fatimah pun jauh berbeda. Bulan lahir saat usia Mentari 14 bulan. Bulan yang terlahir normal sangat disayang dan dimanja. Semua yang Bulan inginkan selalu terpenuhi. Berbeda dengan Mentari sang kakak, sejak bayi, Bu Fatimah enggan mengurusi Mentari. Pengasuhan Mentari selalu diserahkan pada Mbok Darti, art rumah keluarga Pak Anshori. Mentay selalu diperlakukan layaknya seorang anak tiri.

Mbok Darti kasihan melihat kondisi Mentari. Beliau selalu memberi semangat dan menasehati kalau Mentari tidak boleh membenci orang tua dan saudara kembarnya. Dengan didikan Mbok Darti pula, Mentari tumbuh jadi gadis yang baik dan sopan. Walau tidak bisa melihat, dia bisa menjadi anak yang pintar.

"Ada apa, Ma?" tanya Mentari sambil menarik tangannya kembali yang tadi ditarik sang ibu. Mentari meraba-raba tempat tidur lalu berusaha bangkit dari duduknya.

"Hari ini kamu akan menikah, jadi mulailah bersiap-siap," lanjut Bu Fatimah.

Mentari terbelalak sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia terkejut sampai tidak bisa mengucapkan kata-kata. Mentari juga menyadari kehadiran orang selain ibunya walau sedari tadi mereka tidak melakukan apapun.

"Me ... menikah, Ma?" ucap Mentari terbata. "Dengan siapa Tari akan menikah?" katanya lagi.

Dia juga mengingat apakah dia berbuat salah hingga ibunya mengatakan hal yang tak pernah dia pikirkan sama sekali. Selama ini Mentari juga tidak pernah dekat dengan pria manapun beda dengan Bulan yang sering gonta-ganti pacar. Jangankan dekat dengan pria, pergi keluar rumah saja jarang. Setiap pergi selalu ditemani Mbok Darti.

Orang tuanya yang melarang Mentari untuk keluar. Mereka malu karena Mentari yang tidak bisa melihat.

"Sudahlah, kamu tidak perlu tahu dengan siapa kamu menikah. Pokoknya hari ini kamu harus menikah," kata Bu Fatimah.

"Tapi, Ma, kenapa mendadak begini pernikahannya? Apa Tari punya salah?" ucap Mentari mencoba meminta penjelasan.

"Salah kamu itu ya buta. Coba kamu bisa melihat pasti Mama Papa tidak akan malu," ucapan Bulan selalu pedas.

"Anggap saja kamu membalas kebaikan Mama Papa selama ini karena mengurus anak buta sepertimu," lanjut Bulan.

"Papa mohon, Tari. Bantu kami kali ini," Pak Anshori pun ikut bersuara.

Sebagai ayah dia pun tidak tega menikahkan anaknya dengan orang yang tidak dikenal sama sekali. Walau beliau tidak bisa menerima Mentari yang seorang tuna netra, tapi rasa sayang pun masih ada di dalam hatinya Walau itu hanya setitik kecil.

"Tari mau menikah, tapi tolong jelaskan apa alasannya?" iba Mentari lagi.

"Tak perlu ada penjelasan apapun. Terima saja keputusan ini," jawab sang ibu.

Mentari langsung jatuh terduduk di lantai sambil menangis. Dia benar-benar merasa hancur. Orang tua kandungnya selalu memperlakukannya dengan buruk karena dia buta. Andai bisa memilih, dia juga tidak akan memilih terlahir dengan kekurangan. Setiap rasa kecewa yang di torehkan keluarganya dia hadapi dengan sabar. Dia selalu berharap agar sikap ayah, ibu dan saudaranya berubah.

Bukannya tidak sakit hati selama 22 tahun dia selalu menerima ketidakadilan. Tapi dia selalu bersabar. Entah sampai kapan kesabarannya akan berakhir

Menikah adalah hal yang sangat sakral bagi Mentari. Dia pernah membayangkan menikah dengan orang yang mau menerima dia apa adanya. Orang yang bisa mencintainya dengan tulus. Karena dia berharap menikah sekali seumur hidupnya. Dia tidak tahu apakah orang yang akan menikahinya nanti akan seperti yang Mentari damba.

Bertemu saja belum, bahkan mendengar sesuatu tentang calon suaminya pun tidak. Banyak keraguan dalam benak Mentari. Tapi sebesar apapun ragu itu, dia tidak bisa menolak keputusan keluarganya. Apa yang menyebabkan dia harus segera menikah pun, Mentari tidak tahu.

Mentari hanya bisa berharap agar suaminya nanti bisa menerima kekurangannya. Dia tidak akan menuntut lebih. Dan semoga pernikahannya bisa membuka jalan kebahagiaan bagi Mentari di kemudian hari.

Setelah selesai memaksa sang kakak, Bulan kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menelpon Arjuna.

" Ada apa, Sayang?" suara Arjuna ketika panggilan telepon terhubung.

"Aku sudah berhasil membujuk Tari untuk menikah dengan sepupumu itu," suara Bulan tampak riang.

"Baguslah. Papa juga sudah membujuk Pram untuk menikahi kakakmu yang buta," jawab Arjuna santai.

" Pernikahan mereka segera dipercepat saja biar masalah ini cepat selesai. Aku sudah pusing dengan semua ini," lanjut Arjuna sambil memijit keningnya.

"Baiklah. Aku juga sudah muak melihat Tari. Setelah menikah dia pasti pergi ikut suaminya," ucap Bulan.

"Dan tidak ada lagi anak buta yang membuat malu keluarga," lanjut putri kedua Bu Fatimah.

" Nanti suruh langsung ke rumah Pak RT saja kakak dan Papamu. Aku juga bilang begitu pada Papa dan Pram tadi," kata Arjuna.

"Aku mau istirahat dulu, Sayang. Sampai jumpa lagi," Arjuna langsung memutuskan sambungan tanpa mendengar balasan dari Bulan.

Arjuna benar-benar merasa lelah. Satu hari kemarin begitu banyak kejadian yang tidak diduga. Dia ingin tidur sejenak setelah itu dia akan mencoba fokus mengurus perusahaan. Dan akan melupakan sejenak urusan wanita.

Sedangkan di lain tempat di waktu yang sama. Bulan kesal dengan Arjuna yang tiba-tiba memutuskan sambungan ponselnya.

Dia juga lega karena masalah pengrebekan sudah berakhir. Dia benar-benar tidak memikirkan keadaan saudaranya. Apakah sepupu Arjuna akan bisa menerima kekurangan Mentari? Dia tidak mau tahu hal itu. Yang terpenting dia bahagia.

Flashback end.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED