Anton mencoba untuk menghubungi Clarissa. Namun ponselnya sampai sekarang belum bisa untuk dihubungi. Dia berusaha untuk menghubunginya berulang kali. Tapi tetap saja dalam nada tulalit.
Anton mencoba untuk menghubungi Isabella. Kemudian sambungan mulai terhubung.
"Halo!”
"Halo Isabella.”
“ Ada apa ya, Kak?”
“ Kenapa ponsel Kakak kamu tidak bisa dihubungi? "Tanya Anton.
“Isabella juga tidak tahu, Kak. Karena Isabella sekarang sedang ada di kota lain.” jawab Isabella dari sambungan telepon.
"Oh ya sudah kalau begitu Isabella. Maaf kak Anton mengganggu waktu kamu. Karena sampai sekarang kakak kamu sangat sulit sekali untuk dihubungi. Ini sudah hampir seminggu lebih Kakak kamu tidak ada kabar sama sekali. " kata Anton.
"Mungkin saja Kakak sedang sibuk. Nanti Isabela bantu telepon ke Kakak deh. "Kata Isabella dalam sambungan telepon.
"Ya sudah terima kasih Isabella. Selamat malam. "Kata Anton mengakhiri teleponnya.
Kemudian sambungan telepon itu pun sudah terputus seketika. Lalu Anton pun berpikir untuk menemui Clarissa di Kota Semarang. Dia ingin sekali bertemu dengan Clarissa karena hingga sekarang tidak ada kabar sama sekali.
Mendadak ponsel Anton mulai berdering. Sebuah pesan pendek terlihat jelas di layar ponselnya. Pesan pendek itu dari Clarissa. Lalu dia segera untuk membaca pesan itu.
Pesan pendek dari Clarissa : Anton, Aku ingin sekali bertemu dengan kamu minggu depan. Apakah kamu ada waktu untukku datang ke kota Semarang?
Kemudian Anton pun membalas pesan chat dari Clarissa: Baiklah aku akan segera datang minggu depan tepat di hari Minggu.
Kemudian Anton pun berinisiatif untuk menelepon Clarissa tapi panggilannya malah ditolak. Lalu Anton pun mengirim pesan kembali.
Pesan chat Anton: Clarissa Kenapa kamu menolak teleponku? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?
Clarissa mulai menjawab pesan chat dari Anton: Maafkan aku Anton. Karena aku sedang sibuk untuk mengurus sesuatu jadi aku tidak bisa untuk mengangkat teleponmu. Lebih baik kita bertemu minggu depan.
Anton merasa sedikit aneh dengan pesan yang disampaikan oleh Clarissa. Dia merasa sangat aneh sekali dengan pesan tersebut. Bahkan dia merasa ada sesuatu yang sangat janggal yang terjadi pada Clarissa akhir-akhir ini.
Sepuluh menit kemudian Anton mencoba untuk menghubungi Clarissa kembali tapi ponselnya malah tidak aktif. Dia merasa sangat aneh sekali. Bahkan dia berniat untuk segera pergi ke Semarang menemui Clarissa.
Anton sudah membooking tiket kereta api menuju ke Semarang besok Senin. Dia tidak ingin menunda-nunda keberangkatannya. Bahkan dia melakukan cuti di kantornya secara dadakan
Keesokan harinya Anton pun segera untuk pergi ke stasiun kereta api. Dia sudah siap untuk menuju dari Jakarta ke Semarang. Dia ingin sekali untuk menemui Clarissa karena dia juga sudah lama tidak bertemu dengan Clarissa dan keluarganya.
Anton sudah naik di gerbong kereta api. Dia akan menjalani perjalanan selama beberapa jam menuju ke kota Semarang. Ia sangat penasaran sekali dengan apa yang terjadi sebenarnya terhadap Clarissa akhir-akhir ini.
Perjalanan begitu sangat jauh sekali menuju dari stasiun tempat Anton berhenti menuju ke rumah keluarga Clarissa. Firasatnya begitu sangat buruk sekali mengenai Clarissa. Rasa was-was telah dia alami.
Sepanjang perjalanan dia selalu saja memikirkan tentang Clarissa. Dia merasa ada sesuatu yang aneh mengenai Clarissa.
*
Kehidupan tidak akan pernah selamanya indah untuk siapa saja yang mengalaminya hal itu yang telah dirasakan oleh Luna. Dia selalu saja mendapatkan penekanan dari keluarganya. Bahkan dia selalu saja untuk dibeda-bedakan dengan kakaknya.
“Dasar anak tidak berguna! "Kata seorang ayahnya terhadap Luna. Karena Luna tidak memiliki karir yang cukup baik dibandingkan dengan kakaknya. Dia hanya bekerja di sebuah kedai kopi kecil sebagai barista. Sementara kakaknya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Nirina menatap wajah Luna. Dia seolah merasa dirinya yang terhebat dibandingkan Luna. Dia memiliki jabatan yang cukup tinggi bahkan dia selalu saja mendapatkan pujian dari kedua orang tuanya.
Tatapan sinis yang terlihat di kedua mata Rebecca. Dia adalah ibu tiri dari Luna. Dia selalu saja membedakan antara Luna dengan Nirina.
“ Sudah kubilang Kan kalau anak kamu itu memang nggak berguna sama sekali. Percuma saja kamu menyekolahkan dia tinggi-tinggi tapi kenyataannya dia malah menjadi barista di kedai kopi. Lihat kalau dirinya itu beda banget dengan anak kamu si Luna.” Sindir Rebecca yang selalu memandang lunas sebelah mata.
Luna berusaha untuk menahan amarahnya. Dia bahkan enggan sekali untuk berkumpul dengan keluarganya. Dia selalu menyendiri.
"Sudah selesai ngomongnya."Luna menatap malas wajah dari mereka. Ia sangat kesal sekali terhadap keluarganya yang tidak pernah memberikan support system terhadap dirinya. Dia memang memiliki keluarga yang sangat utuh tapi keluarganya selalu saja tidak pernah memandang dia sekalipun.
Rebecca pun tersenyum sengit melihat wajah Luna. "Sebaiknya kamu terima saja lamaran dari Bang Jono. Lagian kamu kalau menikah dengan dia, kamu pasti nggak usah repot-repot untuk bekerja di kedai kopi kecil itu. "
Luna berusaha untuk mengontrol emosinya di hadapan Rebecca. Karena dia tidak ingin sama sekali Jika ayahnya terkena serangan jantung lagi ketika dia bertengkar dengan Rebecca, ibu tirinya.
Luna lebih memilih untuk pergi meninggalkan percakapan dengan keluarganya. Dia selalu saja enggan untuk berdebat dengan Rebecca. Dia sudah tahu pada akhirnya salah atau benar tetap saja dia yang akan disalahkan oleh ayahnya.
"Luna!” Bimo berusaha untuk menghentikan langkah kaki Luna, putrinya.
" Sudahlah Ayah. Luna sudah capek Ayah. Lunak mau tidur dan malas untuk berdebat dengan Ibu. "Kata Luna sambil melangkahkan kedua kakinya. Dia segera untuk pergi ke kamarnya.
Sementara Rebecca terlihat sangat kesal melihat tingkah laku Luna yang selalu saja membuat dia naik darah. Sebenarnya dia ingin sekali untuk menyingkirkan Luna dari keluarganya. Baginya Luna hanyalah sebagai parasit yang tidak penting. Dia juga ingin sekali untuk mendapatkan seluruh warisan dari Bimo, suaminya.
"Sayang, anak kamu tuh susah banget untuk dikasih tahu! Lihat aja dibilangin malah pergi gitu aja! " Rebecca mengadu kepada Bimo. Dia merasa sangat kesal sekali dengan sikap Luna.
“ Ya udahlah sayang! Gak usah kamu urusin lagi Luna! Lagian percuma aja kamu terus berdebat dengan dia! Lagian aku sebagai ayahnya juga capek untuk menasehati dia sampai berbusa! " kata Bimo dengan kesal. Dia mengerutkan keningnya.
"Tapi...”
"Percuma saja kamu nasehati dia hingga ratusan kali. Dia pasti tidak akan pernah mendengarkan kamu sayang!" Desis Bimo menatap wajah Rebecca. "Sebaiknya kita pergi ke kamar langsung tidur. Besok aku masih ada pekerjaan di kantor."
“Iya, mami. Ngapain Mami Masih saja ngurusin Luna. Ujung-ujungnya mami pasti cape!” Nirina menatap ibunya yang sedang marah sekali terhadap Luna, saudari tirinya.
*
Di ruang kamarnya Luna merasa sangat kesal sekali dengan perilaku ibunya. Dia merasa jika keluarganya selalu saja menyepelekan apa yang telah dia inginkan selama ini. Bahkan ayahnya selalu saja membanding-bandingkan dia dengan saudari tirinya.
“ Rasanya aku sudah tidak betah lagi berada di rumah ini! " Luna menggumam langsung dia mengambil tasnya. Ia mengisi dengan beberapa pakaian yang ada di lemarinya. Ia akan segera meninggalkan rumah keluarganya besok karena dia merasa tidak betah sama sekali.
*
Anton sudah berada di rumah keluarga Clarissa. Lalu dia mencoba untuk memencet bel rumah keluarga Clarissa. Bel pertama dia pencet tidak ada jawaban sama sekali lalu bel ketiga akhirnya ada seseorang yang membukakan pintu rumah keluarga Clarissa.
“ Selamat pagi, Anton!” seorang wanita paruh baya itu mulai menyapa sambil menatap kedua manik mata Anton. Dia adalah Ibu dari Clarissa.
“ Selamat pagi juga, Tante.”
“Kamu pasti mencari Clarissa. Tapi Clarissa tidak ada dirumah hari ini karena dia sedang berada di rumah pakdenya yang ada di Jogja. "
Sebenarnya Clarissa ada di dalam kamar. Dia melihat Anton yang sedang berdiri di depan rumahnya. Wajah Clarissa terlihat begitu sangat pucat sekali. Dia hanya bisa duduk di atas kursi roda.
"Hmmmm.... Tante, Apakah saya bisa berbicara dengan anda sebentar mengenai Clarissa? " Anton terlihat ragu-ragu sekali untuk bertanya kepada ada ibu Clarissa.
"Silakan saja, Nak Anton. Sebaiknya kamu duduk dulu dan saya akan membuatkan secangkir kopi.”
"Tidak usah repot-repot tante. Karena saya hanya ingin berbicara sebentar saja.” Anton berusaha untuk menolak karena dia tidak ingin merepotkan Ibu Clarissa.
“Tidak apa-apa nak Anton. Karena nak Anton adalah tamu di rumah ini,” kata ibu Clarissa sambil menatap wajah Anton. Dia melihat wajah kecemasan dan ketakutan akan sesuatu. Tapi dia akan berusaha menyembunyikan rahasia besar dari putrinya. Dia tidak ingin sama sekali Jika rahasia itu terbongkar langsung.
Sementara Clarissa masih berada di kamarnya. Sebenarnya dia ingin sekali untuk bertemu dengan Anton tapi dia tidak ingin sama sekali melihat Anton sedih mengenai kondisinya saat ini. Dia memilih untuk bersembunyi dahulu dari Anton.
*
Di teras rumah Anton masih menunggu Ibu Clarissa keluar dalam waktu 10 menit. Sekilas dia melihat ada bayangan yang mirip sekali dengan Clarissa. Ia merasa jika Ibu Clarissa telah berbohong kalau Clarissa sedang berada di Jogja.
Anton berusaha meyakinkan dirinya. Dia secara diam-diam menyelinap masuk ke dalam rumah kediaman Clarissa. Dia tahu jika Clarissa berada di dalam kamarnya.
TOK! TOK! TOK!
"Clarissa aku tahu kamu ada di dalam. Apa salah aku sehingga kamu tidak mau menemui aku di sini? "
Di dalam Clarissa berusaha untuk menahan air matanya. Dia sangat tidak ingin melihat wajah sedih dari Anton. Dia tidak ingin dikasihani oleh Anton. Dia mulai mendongakkan kepalanya ke atas agar air matanya tidak terjatuh.
"Clarissa aku tahu kamu ada didalam. Aku sangat merindukan kamu Clarissa! Kenapa kamu tidak mau menemui aku Clarissa?”
Clarissa hanya menggelengkan kepalanya di dalam ruang kamarnya. Dia berusaha untuk bangkit dari kursi rodanya. Namun tubuhnya begitu sangat lemah sekali karena dia baru saja melaksanakan kemoterapi. Dia bahkan belum memiliki donor tulang sumsum yang tepat untuk dirinya. Apalagi dokter telah memvonis dia terkena leukimia stadium akhir.
Clarissa berusaha menahan tangisnya. Ia merasa tidak berguna sama sekali. Ia merasa Jika dia tidak pernah pantas untuk Anton karena dia akan membuat Anton patah hati dengan kondisinya saat ini. Air matanya pun terjatuh seketika. Bahkan dia tidak sanggup untuk membendungnya kembali.
Tubuh Clarissa terasa begitu sangat lemah. Bahkan dia tidak dapat untuk menggenggam sendok sekalipun ataupun gelas. Dia merasa benar-benar tidak berguna.
“ Clarissa, Kenapa kamu berbuat seperti ini kepadaku?” kata Anton sekali lagi. " Kenapa kamu menghukumku seperti ini? Aku akan selalu ada untuk kamu apapun yang akan terjadi kepadamu, " lanjutnya.
Clarissa merasa tidak kuat sama sekali. Dia merasa cintanya benar-benar diuji. Dia tidak ingin sekali Jika Anton melihat kondisinya saat ini yang begitu lemah. Dia juga tidak ingin Anton merasa sedih karena waktunya di dunia ini sudah tidak lama lagi. Dokter memvonisnya hanya memiliki waktu selama dua bulan. Dia merasa jika Tuhan tidak pernah adil untuk dia.
"Clarissa, aku mohon buka pintunya karena aku membutuhkan penjelasan dari kamu. " Anton mencoba untuk memohon kepada Clarissa untuk segera membukakan pintu kamarnya.
Clarissa tetap keras kepala tidak membukakan pintu kamarnya. Walaupun Anton terus-menerus mengetuk pintu kamarnya dan memohon untuk dibukakan.
*
Luna merasa sangat kesal sekali dengan perilaku dari saudari tirinya yang selalu saja membandingkan dirinya. Dia memilih untuk diam saja. Dia tidak ingin memicu pertengkaran antara dirinya dengan saudari tirinya. Karena benar ataupun salah dia akan tetap disalahkan oleh ayahnya. Apalagi ibu tirinya yang selalu saja ikut campur dengan urusannya.
Luna langsung pergi tidur. Dia enggan sekali untuk memikirkan persoalan keluarganya. Dia hanya merindukan sosok ibu yang selalu ada untuk dia. Tapi semua itu tidak akan pernah mungkin kembali.
Setiap malam Luna selalu saja tidur sambil memeluk bingkai foto ibunya. Dia selalu saja merindukan ibunya. Dia berharap malam itu segera datang agar dia bisa tertidur sambil bermimpi tentang ibunya.
Luna merasa setelah kepergian ibunya semuanya terasa begitu hampa. Apalagi perilaku dari ayahnya sudah berubah seratus persen setelah menikah dengan Rebecca, ibu tirinya. Dia merasa kehidupannya benar-benar jungkir balik. Ayahnya hanya berfokus terhadap Nirina dibandingkan dengan dia. Bahkan kasih sayang ayahnya terbilang sudah mulai menipis.
"Aku sangat merindukanmu, Bu.”
Kegelapan malam menyelimuti hati Luna untuk saat ini. Dia merasa kerinduan yang cukup mendalam terhadap mendiang ibunya yang sudah lama meninggal dunia. Hal itu membuat sayatan luka di dalam hati Luna. Apalagi setelah 40 hari ibunya meninggal, ayahnya menikah kembali dengan Rebecca. Hal itu membuat dia sangat membenci ayahnya. Bahkan dia merasa jika ayahnya tidak pernah peduli lagi terhadap dia.
Sepi dan sunyi yang selalu dirasakan oleh Luna. Dia tidak dapat sama sekali untuk merasakan cinta kasih dan kehangatan keluarga. Dia menganggap keluarganya selalu saja menilai seseorang dari segi matrealistis maupun jabatan.
Luna berencana untuk segera meninggalkan rumah keluarganya. Karena dia sudah merasa tidak betah lagi dengan suasana keluarganya.
*
Terdengar suara deheman dari belakang sehingga membuat Anton mulai terkejut.
"Clarissa tidak ada di sini. Jadi, Percuma saja kamu berteriak-teriak di sana karena tidak akan pernah ada yang membukakan pintu dibalik kamar itu.” wanita paruh baya itu berusaha untuk mengingatkan Anton kalau di balik kamar milik Clarissa tidak ada orang sama sekali. "Clarissa sedang ada di Jogja di rumah pakdenya jadi tidak akan pernah ada yang membukakan pintu itu. "
Mendadak di dalam ruangan itu terdengar suara benda jatuh. Hal itu membuat Anton semakin kuat jika wanita itu telah berbohong kepada dia. Dia yakin jika di dalam kamar itu ada Clarissa yang bersembunyi. Dia hanya ingin berbincang sebentar untuk mencari sebuah jawaban atas firasat buruknya saat ini.
"Tunggu sebentar tante. Di dalam pasti ada Clarissa, kan?" Anton menatap wajah dari wanita paruh baya itu. Dia mulai mencondongkan pandangannya kearah wanita paruh baya itu yang merupakan ibu dari Carissa. Dia melihat jika ekspresi wajah dari wanita paruh baya itu sangat tegang. "Saya tahu jika tante berbohong kepada saya. Karena sebenarnya Clarissa ada di dalam kamar itu, kan?" Selidiknya sambil menatap kedua manik mata dari perempuan paruh baya itu.
“Itu hanya suara tikus mungkin yang ada di dalam. Karena Clarissa sedang ada di rumah Pakdenya Jadi tidak mungkin di dalam ruangan itu ada Clarissa. Tante tidak pernah bohong sama sekali sama kamu. "Wanita paruh baya itu berusaha untuk menegaskan kata-katanya. Dia berusaha untuk meyakinkan bahwa di dalam kamar Clarissa tidak ada orang sama sekali.
Di dalam kamar Clarissa merasa sangat tegang sekali. Dia takut jika Anton bertekad untuk ingin membuka pintu kamarnya. Dia sama sekali belum siap untuk bertemu dengan Anton. Dia tidak ingin sama sekali Jika Anton mengetahui kondisi dia sebenarnya.
"Maafkan saya tante telah mencurigai anda. Karena saya sangat khawatir sekali dengan kondisi Clarissa. Saya selalu saja mendapatkan firasat buruk mengenai dia." Anton mulai menjelaskan tentang isi hatinya.
Ibu Clarissa hanyalah tersenyum. Lalu dia mulai berkata, "Saya tahu kalau kamu sangatlah cemas mengenai kondisi Clarissa. Tapi tenang aja Kalau Clarissa itu kondisinya baik-baik saja. Dia hanya ingin menghabiskan liburannya di Jogja katanya dia merindukan sepupu-sepupunya yang ada di sana."
Anton tersenyum namun sebenarnya dia masih curiga kalau di dalam kamar itu ada Clarissa yang sedang bersembunyi.
Clarissa merasa sangat lega sekali ketika Ibunya bisa meyakinkan Anton. Sebenarnya dia merasa tidak tega sama sekali membiarkan Anton penuh dengan kecemasan.
Di dalam kamar Clarissa hanya dapat termenung sambil menatap langit dari dalam jendela kamarnya. Dia merasakan hatinya sangat hancur sekali ketika dia mendengar vonis dari dokter mengenai penyakitnya. Air matanya pun turun seketika membasahi kedua pipinya. Dia merasa tidak sanggup untuk melawan dunianya sendiri.
"Seandainya kamu tahu, ini adalah hal yang terberat bagi kehidupanku. Maafkan aku sayang. " Clarissa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menangis. Dia merasa sangat hancur sekali dengan takdir yang telah Tuhan berikan kepada dia.
Di ruang tamu terlihat Anton sedang berbincang-bincang dengan ibu Clarissa. Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin dia ketahui mengenai Clarissa yang mendadak menghilang dalam kehidupannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Clarissa, tante?”
Ibu Clarissa mendadak diam sejenak.
“ Clarissa baik-baik saja. Tidak ada sesuatu apapun. "Ibu Clarissa pun tersenyum menatap Anton yang tampak begitu gelisah sekali. Dia ingin sekali mengatakan bahwa sebenarnya putrinya sedang tidak baik-baik saja. Tapi dia sudah berjanji kepada Clarissa untuk tidak mengatakan apapun yang terjadi sebenarnya.
"Tapi kenapa saya merasa ada sesuatu yang buruk terjadi kepada Clarissa? " ujar Anton sambil menatap kedua manik mata Ibu Clarissa. Dia seperti melihat jika Ibu Clarissa menyimpan sesuatu darinya. Namun dia tidak bisa memaksakan apa yang telah disembunyikan oleh ibu Clarissa.
Ibu Clarissa pun hanya tersenyum, " Jangan berpikiran aneh-aneh. Kamu harus yakin jika Clarissa itu baik-baik aja. Dia akan kembali ke Semarang minggu depan. Kamu tunggu saja sampai dia datang. "
"Apakah saya bisa meminta alamat pakdenya Clarissa yang ada di Jogja?” Anton ingin sekali untuk bertemu Clarissa.
Mendadak terdengar suara teriakan dari dalam kamar Clarissa. Sontak membuat mereka sangat kaget sekali. Ibu Clarissa pun berlari bersama dengan Anton.
Anton merasa jika itu adalah suara Clarissa. Lalu dia mengikuti langkah kedua kaki dari ibu Clarissa.
*
Luna tidak bisa tertidur dengan pulas karena dia masih terpikir rencananya untuk kabur dari rumah. Dia ingin sekali untuk segera pergi dari rumah yang tidak pernah senyaman rumahnya dahulu. Dia merasa ayahnya sudah berubah dan semua isinya juga berubah.
Luna langsung saja duduk sambil menatap langit dari jendela kamarnya. Dia merasa hatinya begitu sangat sesak sekali ketika keluarganya selalu saja mewujudkan dia. Dia merasa profesinya bekerja sebagai barista di sebuah kedai kopi adalah profesi yang sangat hina.
Luna akan merindukan sosok ibunya yang telah lama meninggal dunia. Dia merasa hanya ibunya lah yang menyayangi dia. Bahkan dia tidak memiliki seseorang yang selalu memberikan support system untuk dirinya.
Kedua mata Luna terlihat begitu sangat jelas sekali. Bahkan dia merasa hatinya sangat hancur. Keluarganya tidak pernah memberikan ruang untuk dia berbicara ataupun sebuah kehangatan. Dia merasa asing di keluarganya sendiri.
"Seandainya saja Ibu ada di sini mungkin aku lebih bahagia. Ayah tidak pernah mempercayai aku sebagai seorang anak. Bahkan selalu saja menilai ku sebelah mata." Luna mengembuskan nafas begitu sangat berat sekali.
Luna masih mengingat kata-kata dari ayahnya. Dia selalu saja salah di kedua mata ayahnya. Apapun yang telah dilakukan selalu saja bernilai nol. Dia merasa tidak pernah memiliki arti dan makna sebagai seorang anak. Perbandingan yang selalu saja dia dapatkan dari ayahnya.
" Seharusnya kamu itu bisa menjadi orang yang lebih baik dibandingkan dengan dia! Kamu mau jadi apa kalau kehidupanmu cuman seperti ini!” kata Bimo.
“Kalian sudah selesai untuk berceramah dan membeli bandingkan aku dengan anak emas kalian! Aku capek selalu saja mendengar perbandingan dengan dia! " Luna pun langsung beranjak pergi karena dia enggan sekali berdebat dengan mereka. Dia memilih untuk segera berangkat kerja ke kedai kopi. Karena baginya rumah yang begitu nyaman kini menjadi neraka untuk dia.
Luna mulai membuka kedua kelopak matanya perlahan-lahan. Dia merasa keluarganya selalu saja mengalami Toxic. Dia merasa jika keluarganya tidak senyaman dulu.
"Aku selalu saja terlihat salah di mata kalian. Bahkan aku tidak pernah memiliki sebuah waktu yang baik. Percuma saja aku berada disini dan aku tidak pernah memiliki tempat di hati kalian semua. Kalian selalu memandangku dengan sebelah mata. Bahkan aku selalu salah walaupun aku selalu berusaha untuk benar. " Luna mulai mengeluarkan nafas begitu sangat berat sekali. Dia merasa jika rumah terindah yang selalu dibayangkan banyak orang namun sekarang rumah itu berasa pengap.
Luna mulai merindukan sosok ibu terbaik dalam kehidupannya. Dia berharap jika suatu saat nanti bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan ibunya. Dia sudah merasa sangat lelah sekali hidup di dunia yang selalu mengalami toxic.
*
Teriakan itu membuat Ibu Clarissa langsung berlari. Seakan membuat firasat buruk bagi Anton selama ini. Dia merasa jika Ibu Clarissa telah menyembunyikan sesuatu.
Anton mulai mengikuti kedua langkah kaki dari ibu Clarissa yang terlihat begitu sangat panik sekali mendengarkan teriakan itu. Dia merasa jika itu adalah teriakan dari Clarissa.
Kedua langkah kaki dari ibu Clarissa pun berhenti di depan sebuah kamar. Anton meyakini jika kamar itu adalah kamar Clarissa selama ini. Lalu ibu Clarissa mulai meraih gagang pintu dengan jemari tangannya.
Pintu kamar tersebut pun mulai terbuka lebar. Wajah Anton berubah menjadi pucat ketika melihat sosok di balik pintu kamar tersebut.
“ Clarissa! "
Mulut Anton mulai terengah-engah ketika melihat Clarissa yang pingsan di sebuah lantai kamar dalam kondisi kursi roda terbalik. Dia sangat cocok sekali. Dia bahkan tidak dapat berkata apapun.
"Bangun Clarissa! Bangun Clarissa!"
Ibu Clarissa memanggil nama Clarissa berulang kali. Namun Clarissa tetap tidak sadarkan diri saat itu.
"Anton tolong telepon dokter sekarang! "Teriak dari ibu Clarissa meminta tolong kepada Anton yang tercengang berdiri di depan pintu kamar.
Sontak Anton pun tersentak dalam sebuah lamunannya. Dia langsung segera menghubungi dokter.
Beberapa menit kemudian ambulance pun datang. Lalu Anton segera menggendong Clarissa yang dalam kondisi pingsan dan tak berdaya. Ibu Clarissa menangis histeris melihat kondisi anaknya yang masih belum sadarkan diri.
Anton merasa sedikit terkejut sekali dengan kondisi Clarissa yang wajahnya begitu sangat tirus dan pucat. Bahkan dia juga melihat Clarissa mimisan.
Lima belas menit kemudian mobil ambulans telah sampai di sebuah rumah sakit terdekat. Lalu perawat pun segera untuk membantu mengeluarkan Clarissa menggunakan brankar dorong. Mereka Langsung saja untuk membawa ke ruang UGD untuk dilakukan pemeriksaan dan tindakan oleh tim medis.
Sementara Ibu Clarissa dan Anton sedang duduk di ruang tunggu UGD untuk menunggu hasil dari dokter. Mereka terlihat tampak gelisah sekali. Terutama ibu Clarissa yang terlihat sedang mondar-mandir di depan pintu ruang UGD. Dia merasa tidak bisa sama sekali berpikir dengan jernih. Dia hanya berharap jika Clarissa baik-baik saja.
Di ruang tunggu terlihat dokter sedang menangani Clarissa yang kondisinya semakin kritis. Bahkan dokter mulai melakukan tindakan tindakan medis.
Di luar Ibu Clarissa terus saja berdoa agar ada sebuah keajaiban dan harapan untuk Clarissa. Dia berharap jika Clarissa di dalam baik-baik saja. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap putrinya. Air matanya pun terjatuh seketika bahkan bibirnya mulai bergetar.
Sepuluh menit kemudian dokter pun keluar dari ruang UGD.
“Keluarga Nona Clarissa! "Panggil seorang dokter wanita kepada keluarga Clarissa.
Ibu Clarissa dan Anton pun langsung datang menghampiri Dokter wanita tersebut yang yang menangani Clarissa di ruang UGD. Wajah dari dokter itu terlihat begitu tampak begitu gelisah dan suram.
"Saya keluarga Clarissa! "Seru dari ibu Clarissa sambil menatap wajah dokter itu yang tampak gelisah dan suram. Dia merasa ada firasat yang buruk terjadi kepada putrinya. Sementara Anton merasa ada sesuatu yang serius terjadi kepada Clarissa.
"Kondisi Clarissa.....”
Dokter itu mulai menjeda pernyataannya. Seakan membuat Ibu Clarissa dan Anton tampak begitu penasaran. Mereka merasa ada sesuatu yang buruk menimpa Clarissa. Tetap jantung mereka berdua terasa memompa begitu sangat cepat sekali.