Aluna POV:
"Lihat ini!"
Raisa tidak menunggu jawabanku. Dia mengirimkan serangkaian foto dan video ke ponselku. Mataku menyipit, menatap layar yang bercahaya. Dalam foto-foto itu, Rangga dan Zahira berdiri di atas panggung, berpegangan tangan, senyum mereka lebar dan penuh kemenangan. Video menampilkan mereka berdansa, sangat dekat, Rangga memeluk Zahira dengan kelembutan yang belum pernah kutemukan dalam pelukannya.
Aku melihat bagaimana dia menatap Zahira, tatapan memuja dan penuh gairah. Rangga membelai rambut Zahira, tersenyum padanya, berbisik sesuatu di telinganya.
Aku mengingat bagaimana dia menghindariku, menghindari sentuhan lembut, menghindari tatapan mataku ketika kami bersama. Dia selalu beralasan sibuk, lelah, atau tidak ingin terlalu terbuka di depan umum.
Palsu. Semuanya palsu.
Dia pernah bilang, "Aluna, kau adalah duniaku. Tapi mari kita jaga hubungan ini tetap privat. Aku tidak ingin media mengganggu kebahagiaan kita."
Aku percaya. Aku bodoh.
Melihat Rangga sebegitu totalitasnya dengan Zahira, seolah tanpa ragu, tanpa beban, membuat perutku mual. Dadaku terasa sesak. Aku merasa seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku, menghancurkannya berkeping-keping.
Air mata kembali mengalir, membasahi wajahku. Aku terisak, sesak napas.
"Dia sudah mengejar Zahira selama berbulan-bulan, Aluna," kata Raisa, suaranya kini lebih tenang, tapi masih menyimpan kemarahan. "Sejak sebelum kau menyerahkan desainmu padanya. Dia hanya memanfaatkanmu, dia menggunakanmu sebagai batu loncatan."
Rangga adalah seorang manipulator ulung.
Aku selalu tahu Rangga memiliki sisi posesif. Dia tidak suka jika aku dekat dengan pria lain. Dia akan marah, cemburu, dan membuatku merasa bersalah. Aku selalu menganggap itu sebagai tanda cintanya. Tapi sekarang, aku melihatnya sebagai bentuk kontrol, caranya untuk memastikan aku tetap dalam genggamannya, sebagai "alat yang berguna".
Suara musik dansa masih terdengar sayup-sayup dari aula utama. Aku membayangkan Rangga dan Zahira berputar di lantai dansa, dikelilingi oleh tatapan kagum. Aku, di sisi lain, meringkuk di lantai kamar mandi yang dingin, hatiku hancur berkeping-keping.
Air mataku terus mengalir, hingga mataku terasa perih dan bengkak. Aku terisak hingga seluruh tubuhku terasa lemas, tidak ada lagi tenaga.
"Aluna, dengarkan aku," Raisa berkata, suaranya tegas. "Ini bukan salahmu. Dia bajingan. Tapi kau harus bangkit. Kau jauh lebih baik dari ini. Tinggalkan dia. Tinggalkan semua ini."
Kata-kata Raisa menembus kegelapan yang menyelimutiku. Meninggalkan dia? Meninggalkan semuanya? Bisakah aku?
Aku mengingat semua pengorbananku, semua yang kuberikan untuk Rangga. Waktuku, energiku, bakatku. Aku mengesampingkan impianku sendiri demi impiannya. Aku membiarkan dia menginjak-injak harga diriku, karena aku percaya itu adalah bagian dari cinta.
Aku adalah orang bodoh yang paling bodoh di dunia ini.
"Aku akan meninggalkan dia, Raisa," kataku, suaraku bergetar, tapi ada tekad baru yang menyala di dalamnya. "Aku akan memulainya dari nol. Aku akan membangun kembali hidupku."
"Itu baru Aluna!" Raisa bersorak. "Sudah saatnya kau melakukan ini. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik."
Aku memejamkan mata, membiarkan air mata terakhir mengering di pipiku. Aku harus berhenti menangis. Tangisan tidak akan mengubah apa-apa. Aku harus bertindak.
Aku tidak bisa lagi menjadi Aluna yang naif, yang dibutakan cinta. Aku harus menjadi wanita yang lebih kuat, mandiri, dan bertekad.
"Aku akan mengubah semua rencanaku, Raisa," kataku, kini suaraku lebih stabil. "Aku tidak akan bekerja di Suhardi Group. Aku akan pindah ke kota lain. Aku akan bergabung dengan firma arsitektur kecil, dan membangun karierku sendiri."
"Aluna, itu keputusan terbaik! Aku akan mendukungmu sepenuhnya!" Raisa terdengar sangat senang.
Aku tahu dia benar. Aku telah menghabiskan bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang Rangga, mengorbankan impianku sendiri. Aku selalu memandang dunia dari perspektifnya, membiarkan dia menentukan langkahku. Seolah aku tidak memiliki identitasku sendiri.
Aku memang bodoh.
Aku telah menjadi bayangan Rangga, sebuah tambahan dalam hidupnya. Semua orang di sekitar kami, bahkan teman-teman kami, selalu melihatku sebagai "gadisnya Rangga", bukan sebagai Aluna Nurhidayat.
"Aku akan menutup semua akun media sosial yang terkait dengannya, Raisa," kataku. "Aku tidak ingin melihat apapun tentang dia lagi. Aku ingin melupakannya."
"Itu ide yang bagus, Aluna. Jangan biarkan dia mengganggumu lagi."
Aku menutup mata, menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit itu masih ada, tapi kini bercampur dengan rasa lega. Lega karena akhirnya aku bisa melepaskan diri dari racun ini.
Aku tidak lagi mencintai Rangga. Yang kurasakan sekarang hanyalah kehampaan, kekecewaan mendalam, dan sedikit rasa jijik. Aku telah mendedikasikan hidupku untuk orang yang salah, untuk cinta yang tidak pernah ada.
Aku hanya ingin lenyap dari kehidupannya. Aku ingin dia menghilang dari kehidupanku.
Aku akan mengejar impianku sendiri. Impian yang telah lama terkubur di bawah tumpukan janji palsu dan harapan kosong. Aku akan membuktikan nilaiku, bukan untuk Rangga, tapi untuk diriku sendiri.
Perjalanan ini akan sulit, aku tahu itu. Tapi aku akan menghadapinya. Aku akan menjadi Aluna yang baru. Aluna yang kuat, mandiri, dan bebas.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Malam ini adalah titik baliknya. Malam ini, Aluna yang lama mati, dan Aluna yang baru akan lahir.
Aku akan pergi dari sini. Aku akan memulai hidup baru. Dan aku tidak akan pernah menoleh ke belakang.
Aluna POV:
Aku mengakhiri panggilan dengan Raisa, ponsel masih menempel di telinga. Tanganku bergetar. Meskipun aku sudah mengambil keputusan, rasa sakit itu masih mencengkeram. Mataku terpejam, dan tanpa sadar, bayangan Rangga muncul.
Aku melihat kembali adegan demi adegan dari malam perayaan kami. Sentuhannya yang lembut, ciumannya yang memabukkan, bisikannya yang manis di telingaku.
Semua kebohongan itu.
Aku menghela napas berat, mencoba mengusir bayangan itu. Aku menggelengkan kepala keras-keras, seolah bisa mengguncang kenangan-kenangan itu keluar dari benakku. Tapi kenangan itu seperti lem, menempel kuat.
Aku meringkuk di atas lantai kamar mandi yang dingin. Memeluk lututku, berusaha membuat diriku sekecil mungkin, seolah ingin menghilang.
Di benakku, dua Rangga muncul secara bergantian. Rangga yang kucintai, yang tampan dan karismatik, yang selalu membuatku merasa spesial. Dan Rangga yang sesungguhnya-manipulatif, kejam, dan arogan.
Aku membenci Rangga yang kedua. Tapi aku masih merindukan Rangga yang pertama.
Aku tidak tahu pukul berapa aku akhirnya tertidur, tapi saat aku terbangun, matahari sudah bersinar terang di jendela. Kepalaku terasa berat, dan mataku terasa perih. Aku menyadari satu hal: ponselku tidak berdering semalam. Tidak ada pesan dari Rangga.
Biasanya, setiap pagi, dia akan mengirimiku pesan selamat pagi, atau bahkan meneleponku. Dia akan bertanya apakah aku tidur nyenyak, atau apakah aku sudah sarapan. Dia akan melakukan hal-hal kecil yang membuatku merasa dicintai.
Semua itu hanya topeng.
Dulu, aku akan khawatir jika dia tidak menghubungiku. Aku akan meneleponnya, mengiriminya pesan, mencari tahu apa yang terjadi. Tapi sekarang, aku merasa kosong. Kebiasaan itu sudah mati, seperti hubungan kami.
Aku menatap ponselku yang sunyi. Sebuah kelegaan yang pahit menyelimutiku. Kebiasaan kami, rutinitas kami, semua itu sudah berakhir. Aku tidak perlu lagi khawatir, atau berharap, atau berpura-pura.
Selesai. Semuanya selesai.
Rasa marah membuncah di dalam diriku. Aku ingin berteriak, menghancurkan segalanya. Aku ingin membalas dendam. Aku ingin dia merasakan sakit yang sama seperti yang kurasakan.
Tapi kemudian aku teringat. Keluargaku. Keluarga Suhardi. Mereka memiliki hubungan bisnis yang rumit. Ayahku adalah kontraktor setia untuk Suhardi Group. Jika aku melakukan sesuatu yang gegabah, itu bisa merugikan keluargaku.
Aku tidak bisa egois. Aku harus memikirkan mereka.
Aku memutuskan untuk pergi, diam-diam. Tanpa konfrontasi, tanpa drama. Aku akan menghilang dari hidupnya, dan dia tidak akan pernah bisa menyentuhku lagi.
Aku terlelap lagi, dalam tidur yang terasa aneh, tidak nyenyak namun juga tidak sepenuhnya terjaga. Aku merasa ada seseorang memelukku, hangat dan familiar. Wangi Rangga. Aku membuka mataku.
Rangga telah berada di sampingku, menatapku dengan mata yang redup. Matanya yang dulu kuanggap indah, kini terasa dingin dan menakutkan.
"Kenapa kau di sini?" tanyaku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
"Aku masuk. Pintunya tidak dikunci," dia menjawab, seolah itu adalah hal yang paling normal di dunia.
Dia masih punya kunci cadangan apartemenku.
Dia membelai rambutku, sentuhannya terasa hampa. "Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Kenapa kau tidak datang ke pesta?"
Aku menepis tangannya, tubuhku menegang. Aku tidak ingin dia menyentuhku lagi. "Aku bilang aku tidak enak badan."
"Tidak enak badan? Atau kau cemburu?" Dia tersenyum merendahkan. "Kau pikir aku tidak tahu kau menguping pembicaraanku dengan Daniel semalam?"
Mataku terbelalak. Dia tahu. Dia tahu aku mendengar semuanya. Dan dia tidak peduli.
"Kau... kau tahu?" tanyaku, suaraku bergetar.
"Tentu saja. Tapi apa yang kau harapkan, Aluna? Kau tahu aku harus melakukan ini demi bisnis. Lagipula, kau tidak pernah bisa memberiku apa yang bisa diberikan Zahira."
Kata-kata itu menghantamku seperti tombak. Dia begitu jujur, begitu kejam. Dia tidak peduli dengan perasaanku.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku, air mata mendesak keluar lagi.
"Aku ingin kau mengerti," dia berkata, suaranya melembut, tapi matanya tetap dingin. "Aku bertunangan dengan Zahira, tapi itu hanya demi bisnis. Kau... kau tetap di sini untukku."
Aku menatapnya dengan jijik. Dia ingin aku menjadi simpanannya? Setelah semua ini?
"Kau pikir aku murahan seperti itu?" tanyaku, suaraku dipenuhi kemarahan.
"Jangan bodoh, Aluna. Kau tahu aku mencintaimu," ujarnya dengan nada meremehkan.
"Begitu? Lalu mengapa kau menghinaku, memanfaatkan karya dan cintaku sebagai batu loncatan? Mengapa kau memintaku minum pil pencegah kehamilan?" Suaraku bergetar, tapi aku berusaha keras untuk tidak menangis di hadapannya.
Dia terdiam, matanya sedikit melebar. Ekspresinya tampak seperti seseorang yang terkejut karena kedoknya telah terbongkar. Dia mungkin tidak menyangka aku akan tahu tentang pesan itu.
Aku bangkit dari tempat tidur, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan menuju pintu. Aku harus keluar dari sini. Sekarang.
"Kau mau ke mana?" Rangga mengikuti, suaranya kini terdengar lebih marah.
"Aku akan menyiapkan sarapan," kataku, mencoba menjaga suaraku tetap tenang. Aku tidak ingin ada drama. Aku tidak ingin dia melihatku hancur.
Aku berjalan menuju dapur, Rangga mengikutiku. Dia menarik kursi di meja makan, menatapku dengan tatapan mengintimidasi. Aku mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas, tanganku gemetar.
"Aku akan memasakkanmu pancake kesukaanmu," kataku, berusaha fokus pada masakanku.
"Aluna, aku tidak butuh pancake," dia berkata, suaranya kini terdengar lebih dingin. "Aku ingin kau bicara denganku."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," kataku, tanpa menoleh. "Semuanya sudah jelas."
"Jelas? Apa yang jelas? Kau pikir aku akan hidup bahagia dengan Zahira?" Dia tertawa, tawa yang sinis. "Kau tahu itu tidak mungkin. Yang aku butuhkan hanyalah kau, Aluna. Hanya kau."
Aku menghentikan gerakanku, menatapnya. Matanya dipenuhi dengan kemarahan, tapi ada juga sesuatu yang lain. Keterkejutanku bercampur dengan rasa muak yang mendalam.
"Mengapa kau begitu egois, Rangga?" tanyaku, suaraku berbisik.
"Egois? Aku? Kau yang egois, Aluna! Kau yang tidak mau mengerti posisiku! Kau yang membuatku harus melakukan ini!" Dia membanting tangannya ke meja, membuat piring-piring di atasnya bergetar.
"Aku yang membuatmu melakukan ini?" tanyaku, suaraku kini lebih keras. Kemarahan akhirnya meledak. "Aku yang memintamu untuk mengkhianatiku? Aku yang memintamu untuk mencuri karyaku? Aku yang memintamu untuk mempermainkan perasaanku?"
Rangga bangkit dari kursinya, wajahnya memerah. "Kau... kau keterlaluan, Aluna!"
Dia meraih piring yang ada di dekatnya dan membantingnya ke lantai. Pecahan kaca berserakan, bersinar-sinar di bawah cahaya lampu dapur.
Aku terlonjak, ketakutan mencengkeramku. Aku mundur selangkah, air mata mengalir deras. Tubuhku gemetar hebat.
"Aluna, aku... aku tidak bermaksud..." Rangga mendekat, tangannya terulur.
Aku menepis tangannya, meringkuk di sudut dapur. Isak tangisku terdengar memilukan. Aku tidak bisa lagi menahan semua emosi ini.
Tiba-tiba, ponsel Rangga berdering. Dia mengangkatnya, wajahnya kembali tegang. "Ya, Mah," katanya. "Aku... aku akan segera ke sana."
Dia menatapku, matanya dipenuhi kemarahan yang bercampur dengan rasa bersalah yang samar. "Ini semua salahmu, Aluna! Kau membuatku terlambat!"
Dia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan aku sendirian di dapur yang berantakan, dikelilingi oleh pecahan kaca dan air mataku sendiri.
Bajingan. Dia benar-benar bajingan.