Demi Rangga, kekasihku, aku rela mengorbankan segalanya. Aku memberikan desain arsitektur terbaikku untuk membantunya memenangkan kompetisi besar, percaya pada janji manisnya tentang masa depan kami.
Namun, di ambang pintu pesta perayaan, aku tak sengaja mendengar percakapannya. Dia menyebutku "alat yang berguna" dan berencana bertunangan dengan Zahira demi strategi bisnis.
Malam itu juga, di atas panggung, dia mencuri karyaku dan mengumumkan pertunangannya dengan Zahira di hadapan semua orang.
Lebih menyakitkan lagi, setelah malam intim kami, dia mengirimiku pesan singkat.
"Jangan lupa minum pil pencegah kehamilan."
Cinta sepuluh tahunku ternyata hanyalah sebuah kebohongan. Aku hanyalah batu loncatan untuk ambisinya, seorang gadis naif yang dibutakan cinta.
Dihina dan dikhianati, aku memutuskan untuk menghilang. Aku pindah ke kota lain, membangun kembali hidupku, dan menemukan cinta sejati. Aku pikir aku sudah bebas, sampai suatu hari, pria itu muncul lagi di depan pintuku, terobsesi untuk mendapatkanku kembali.
Bab 1
Aluna POV:
"Lihat saja si Aluna itu, apa dia pikir dia bisa menyingkirkan Zahira dengan mudah?"
Kepalaku terasa pening, seperti ada palu godam yang menghantam tenggorokan. Suara itu, suara yang familiar, membuat darahku seolah membeku. Aku berhenti tepat di ambang pintu, tangan gemetar memegang kenop.
"Aluna? Siapa dia? Dia tidak punya apa-apa dibandingkan dengan Zahira," Rangga berkata, suaranya dipenuhi ejekan. Kata-kata itu menusuk jantungku, setiap suku kata bagai pecahan kaca yang mengoyak.
"Tapi dia selalu menempel padamu seperti lintah. Apa kau akan mengumumkan hubungan kalian setelah kau memenangkan kompetisi ini?" Suara lain, seseorang yang kukenal sebagai teman Rangga, bertanya. Nada bicaranya santai, seolah membicarakan hal sepele.
Jantungku berdebar kencang, menabuh di dadaku seperti genderang perang. Aku menahan napas, berharap apa yang kudengar hanyalah mimpi buruk.
"Hubungan?" Rangga tertawa kecil, tawa yang dingin dan menusuk. "Dia hanya alat yang berguna, tidak lebih. Setelah kompetisi ini, aku akan bertunangan dengan Zahira. Ini semua adalah bagian dari strategi bisnis, untuk mengamankan kerja sama dengan keluarga Radjiman."
Duniaku runtuh. Kata-kata itu menghantamku seperti gelombang pasang, menarik semua udara dari paru-paruku. Kakiku lemas, dan aku harus berpegangan pada dinding agar tidak jatuh. Punggungku terasa dingin, seperti diguyur es. Aku merasakan mual yang luar biasa, seolah isi perutku ingin keluar.
"Hebat juga rencanamu, Rangga," teman Rangga memuji. "Menggunakan desainnya, lalu membuangnya. Dan dia, si Aluna kecil yang naif, pasti tidak akan curiga."
"Dia terlalu dibutakan cinta untuk melihat kenyataan," Rangga menjawab, suaranya terdengar sombong. "Lagipula, apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya seorang gadis biasa yang beruntung bisa dekat denganku."
Aku menutup mata, berharap kegelapan bisa menelan semua rasa sakit ini. Tapi suara mereka terus berdenging di telingaku, menghantam dinding batinku berulang kali. Ini adalah kenyataan. Ini adalah kebenaran yang kejam.
Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan tangis yang mendesak. Aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat rapuh di hadapan mereka. Aku membersihkan tenggorokanku, berusaha menormalkan suaraku.
"Rangga, sayang? Ada apa? Kenapa lama sekali?" Aku berjalan masuk, mencoba memasang senyum terbaikku, senyum yang terasa hambar di bibirku. Hatiku menjerit, tapi aku harus bertindak seolah tidak ada yang terjadi.
Rangga menoleh, senyum manis langsung terukir di wajahnya, seolah beberapa detik yang lalu ia tidak mengatakan hal-hal mengerikan tentangku. "Tidak apa-apa, Luna. Hanya bicara bisnis sebentar. Kau sudah menunggu lama?" Dia menarik tanganku, menatapku dengan mata yang penuh kebohongan. Matanya, yang dulu selalu kuanggap sebagai jendela hatinya, kini terlihat seperti jurang kegelapan.
Aku membiarkan dia menarikku lebih dekat, tubuhku terasa seperti robot. Setiap sentuhan darinya kini terasa menjijikkan, kotor, dan penuh kepalsuan. "Tidak juga," jawabku, suaraku nyaris berbisik. Aku merasa udara di sekitarku menipis, menyesakkan napas. Aku ingin lari, jauh dari sini, jauh dari kebohongan ini.
Dia munafik. Dia bajingan.
Pikiranku berteriak, tapi bibirku tetap terkatup rapat. Aku harus pura-pura. Aku harus menunggu saat yang tepat.
"Aku... aku merasa tidak enak badan, Rangga," kataku, berusaha melepaskan diri dari genggamannya. Aku harus keluar dari ruangan ini, segera. "Aku butuh ke kamar mandi."
"Kau baik-saja? Wajahmu pucat sekali," Rangga bertanya, nada suaranya terdengar khawatir. Kekhawatiran yang terasa sangat palsu.
"Aku butuh sendirian sebentar," kataku, tanpa menatap matanya. Aku berbalik dan berlari, secepat yang aku bisa, meninggalkan suara tawa dan obrolan mereka di belakangku.
Aku mengunci diri di kamar mandi, tubuhku merosot ke lantai. Air mata mengalir deras, membasahi pipiku, leherku, hingga ke bajuku. Aku menutup mulutku, berusaha meredam isak tangis yang histeris. Aku tidak ingin ada yang mendengar.
Kata-kata Rangga terus terngiang di kepalaku, berputar-putar seperti rekam jejak yang tak ada habisnya. "Hanya alat yang berguna." "Bertunangan dengan Zahira." "Bagian dari strategi bisnis."
Aku memukul lantai dengan kepalan tanganku, rasa sakit di pergelangan tanganku tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit di hatiku. Kepalaku terasa kosong, namun pada saat yang sama, dipenuhi oleh jutaan pertanyaan.
Apa yang salah? Apa yang kulakukan sehingga pantas mendapatkan ini?
Aku mengingat kembali malam kemarin, malam "perayaan" kami. Rangga memelukku erat, berbisik janji-janji manis tentang masa depan kami. Dia bilang, setelah kompetisi ini, dia akan mengumumkan hubungan kami. Dia akan melamarku.
Kebohongan. Semuanya kebohongan.
Dia membelai rambutku, senyumnya begitu lembut, tangannya begitu hangat. "Kau adalah segalanya bagiku, Aluna. Kau tahu itu, kan?"
Aku mengangguk, mencium bibirnya, merasakan kebahagiaan yang melingkupiku. Aku percaya padanya, sepenuhnya. Aku telah memberikan segalanya untuknya, bahkan karyaku yang paling berharga.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Rangga.
Rangga: Jangan lupa minum pil pencegah kehamilan.
Mataku terbelalak. Pil pencegah kehamilan. Dia… dia bahkan tidak ingin ada jejakku di hidupnya. Dia tidak ingin ada konsekuensi dari malam kami. Dia begitu dingin, begitu kejam.
Aku mengingat betapa bahagianya aku setelah malam itu. Aku membayangkan masa depan kami, rumah yang akan kami bangun bersama, anak-anak kami. Semua itu kini terasa seperti lelucon yang kejam.
Dia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya memanfaatkan kebodohanku, cintaku yang buta. Aku telah menjadi boneka dalam permainannya, alat untuk mencapai tujuannya.
Pikiranku dipenuhi dengan skenario terburuk. Bagaimana jika aku hamil? Aku tidak punya siapa-siapa. Aku sendirian. Rasa takut mencengkeramku, membuatku gemetar hebat.
Dengan tangan gemetar, aku membuka tas tanganku. Aku mengeluarkan uang tunai dan kunci mobil. Aku harus pergi. Sekarang. Sebelum aku berubah pikiran.
Aku harus membeli pil itu. Aku harus menghapus semua jejaknya dari tubuhku.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku mencintainya. Sejak kami masih kecil, sejak dia adalah anak laki-laki pendiam yang selalu bersembunyi di balik buku-buku. Aku selalu ada untuknya, selalu mendukungnya, selalu mencintainya.
Aku ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Dia duduk sendirian di taman, membaca buku arsitektur. Aku mendekatinya, menawarkan persahabatan. Dia tersenyum, senyum yang mengubah duniaku.
Dia adalah anak yang kesepian, orang tuanya terlalu sibuk dengan bisnis mereka. Aku menjadi satu-satunya temannya, satu-satunya orang yang dia percayai. Aku selalu berpikir, kami memiliki ikatan yang spesial. Ikatan yang tidak akan pernah putus.
Ternyata salah.
Aku tertidur di lantai kamar mandi yang dingin, air mata membasahi pipiku. Rasa sakit di hatiku begitu besar, aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.
Ponselku berdering keras, membangunkan aku dari tidur yang gelisah. Aku meraih ponselku, mataku terasa berat. Nama Raisa terpampang di layar.
"Aluna? Kau di mana? Kenapa tidak datang ke pesta perayaan? Rangga mencarimu," Raisa terdengar khawatir.
"Aku... aku tidak enak badan," kataku, suaraku parau.
"Tidak enak badan? Rangga baru saja mengumumkan pertunangannya dengan Zahira di atas panggung! Mereka berdua berdansa dengan mesra! Semua orang melihatnya!" Raisa berteriak, suaranya dipenuhi kemarahan.
Kata-kata itu menghantamku seperti pukulan telak. Aku sudah tahu, tapi mendengarnya dari Raisa, dengan detail yang begitu jelas, membuat rasa sakit itu semakin nyata.
"Dia... dia melakukannya?" tanyaku, suaraku gemetar.
"Tentu saja! Bajingan itu! Dia bilang desain yang memenangkan kompetisi adalah hasil kolaborasi dengan perusahaan Zahira! Dia mencuri semua karyamu, Aluna!" Raisa marah. Kemarahannya terasa begitu tulus.
Aku menutup mata, membayangkan Rangga berdiri di atas panggung, dengan Zahira di sampingnya, mengumumkan pertunangan mereka, mengklaim karyaku sebagai miliknya. Rasa sakit, kemarahan, dan penghinaan bercampur aduk di dalam diriku.
Ini adalah akhirnya.
Aluna POV:
"Lihat ini!"
Raisa tidak menunggu jawabanku. Dia mengirimkan serangkaian foto dan video ke ponselku. Mataku menyipit, menatap layar yang bercahaya. Dalam foto-foto itu, Rangga dan Zahira berdiri di atas panggung, berpegangan tangan, senyum mereka lebar dan penuh kemenangan. Video menampilkan mereka berdansa, sangat dekat, Rangga memeluk Zahira dengan kelembutan yang belum pernah kutemukan dalam pelukannya.
Aku melihat bagaimana dia menatap Zahira, tatapan memuja dan penuh gairah. Rangga membelai rambut Zahira, tersenyum padanya, berbisik sesuatu di telinganya.
Aku mengingat bagaimana dia menghindariku, menghindari sentuhan lembut, menghindari tatapan mataku ketika kami bersama. Dia selalu beralasan sibuk, lelah, atau tidak ingin terlalu terbuka di depan umum.
Palsu. Semuanya palsu.
Dia pernah bilang, "Aluna, kau adalah duniaku. Tapi mari kita jaga hubungan ini tetap privat. Aku tidak ingin media mengganggu kebahagiaan kita."
Aku percaya. Aku bodoh.
Melihat Rangga sebegitu totalitasnya dengan Zahira, seolah tanpa ragu, tanpa beban, membuat perutku mual. Dadaku terasa sesak. Aku merasa seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku, menghancurkannya berkeping-keping.
Air mata kembali mengalir, membasahi wajahku. Aku terisak, sesak napas.
"Dia sudah mengejar Zahira selama berbulan-bulan, Aluna," kata Raisa, suaranya kini lebih tenang, tapi masih menyimpan kemarahan. "Sejak sebelum kau menyerahkan desainmu padanya. Dia hanya memanfaatkanmu, dia menggunakanmu sebagai batu loncatan."
Rangga adalah seorang manipulator ulung.
Aku selalu tahu Rangga memiliki sisi posesif. Dia tidak suka jika aku dekat dengan pria lain. Dia akan marah, cemburu, dan membuatku merasa bersalah. Aku selalu menganggap itu sebagai tanda cintanya. Tapi sekarang, aku melihatnya sebagai bentuk kontrol, caranya untuk memastikan aku tetap dalam genggamannya, sebagai "alat yang berguna".
Suara musik dansa masih terdengar sayup-sayup dari aula utama. Aku membayangkan Rangga dan Zahira berputar di lantai dansa, dikelilingi oleh tatapan kagum. Aku, di sisi lain, meringkuk di lantai kamar mandi yang dingin, hatiku hancur berkeping-keping.
Air mataku terus mengalir, hingga mataku terasa perih dan bengkak. Aku terisak hingga seluruh tubuhku terasa lemas, tidak ada lagi tenaga.
"Aluna, dengarkan aku," Raisa berkata, suaranya tegas. "Ini bukan salahmu. Dia bajingan. Tapi kau harus bangkit. Kau jauh lebih baik dari ini. Tinggalkan dia. Tinggalkan semua ini."
Kata-kata Raisa menembus kegelapan yang menyelimutiku. Meninggalkan dia? Meninggalkan semuanya? Bisakah aku?
Aku mengingat semua pengorbananku, semua yang kuberikan untuk Rangga. Waktuku, energiku, bakatku. Aku mengesampingkan impianku sendiri demi impiannya. Aku membiarkan dia menginjak-injak harga diriku, karena aku percaya itu adalah bagian dari cinta.
Aku adalah orang bodoh yang paling bodoh di dunia ini.
"Aku akan meninggalkan dia, Raisa," kataku, suaraku bergetar, tapi ada tekad baru yang menyala di dalamnya. "Aku akan memulainya dari nol. Aku akan membangun kembali hidupku."
"Itu baru Aluna!" Raisa bersorak. "Sudah saatnya kau melakukan ini. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik."
Aku memejamkan mata, membiarkan air mata terakhir mengering di pipiku. Aku harus berhenti menangis. Tangisan tidak akan mengubah apa-apa. Aku harus bertindak.
Aku tidak bisa lagi menjadi Aluna yang naif, yang dibutakan cinta. Aku harus menjadi wanita yang lebih kuat, mandiri, dan bertekad.
"Aku akan mengubah semua rencanaku, Raisa," kataku, kini suaraku lebih stabil. "Aku tidak akan bekerja di Suhardi Group. Aku akan pindah ke kota lain. Aku akan bergabung dengan firma arsitektur kecil, dan membangun karierku sendiri."
"Aluna, itu keputusan terbaik! Aku akan mendukungmu sepenuhnya!" Raisa terdengar sangat senang.
Aku tahu dia benar. Aku telah menghabiskan bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang Rangga, mengorbankan impianku sendiri. Aku selalu memandang dunia dari perspektifnya, membiarkan dia menentukan langkahku. Seolah aku tidak memiliki identitasku sendiri.
Aku memang bodoh.
Aku telah menjadi bayangan Rangga, sebuah tambahan dalam hidupnya. Semua orang di sekitar kami, bahkan teman-teman kami, selalu melihatku sebagai "gadisnya Rangga", bukan sebagai Aluna Nurhidayat.
"Aku akan menutup semua akun media sosial yang terkait dengannya, Raisa," kataku. "Aku tidak ingin melihat apapun tentang dia lagi. Aku ingin melupakannya."
"Itu ide yang bagus, Aluna. Jangan biarkan dia mengganggumu lagi."
Aku menutup mata, menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit itu masih ada, tapi kini bercampur dengan rasa lega. Lega karena akhirnya aku bisa melepaskan diri dari racun ini.
Aku tidak lagi mencintai Rangga. Yang kurasakan sekarang hanyalah kehampaan, kekecewaan mendalam, dan sedikit rasa jijik. Aku telah mendedikasikan hidupku untuk orang yang salah, untuk cinta yang tidak pernah ada.
Aku hanya ingin lenyap dari kehidupannya. Aku ingin dia menghilang dari kehidupanku.
Aku akan mengejar impianku sendiri. Impian yang telah lama terkubur di bawah tumpukan janji palsu dan harapan kosong. Aku akan membuktikan nilaiku, bukan untuk Rangga, tapi untuk diriku sendiri.
Perjalanan ini akan sulit, aku tahu itu. Tapi aku akan menghadapinya. Aku akan menjadi Aluna yang baru. Aluna yang kuat, mandiri, dan bebas.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Malam ini adalah titik baliknya. Malam ini, Aluna yang lama mati, dan Aluna yang baru akan lahir.
Aku akan pergi dari sini. Aku akan memulai hidup baru. Dan aku tidak akan pernah menoleh ke belakang.
Aluna POV:
Aku mengakhiri panggilan dengan Raisa, ponsel masih menempel di telinga. Tanganku bergetar. Meskipun aku sudah mengambil keputusan, rasa sakit itu masih mencengkeram. Mataku terpejam, dan tanpa sadar, bayangan Rangga muncul.
Aku melihat kembali adegan demi adegan dari malam perayaan kami. Sentuhannya yang lembut, ciumannya yang memabukkan, bisikannya yang manis di telingaku.
Semua kebohongan itu.
Aku menghela napas berat, mencoba mengusir bayangan itu. Aku menggelengkan kepala keras-keras, seolah bisa mengguncang kenangan-kenangan itu keluar dari benakku. Tapi kenangan itu seperti lem, menempel kuat.
Aku meringkuk di atas lantai kamar mandi yang dingin. Memeluk lututku, berusaha membuat diriku sekecil mungkin, seolah ingin menghilang.
Di benakku, dua Rangga muncul secara bergantian. Rangga yang kucintai, yang tampan dan karismatik, yang selalu membuatku merasa spesial. Dan Rangga yang sesungguhnya-manipulatif, kejam, dan arogan.
Aku membenci Rangga yang kedua. Tapi aku masih merindukan Rangga yang pertama.
Aku tidak tahu pukul berapa aku akhirnya tertidur, tapi saat aku terbangun, matahari sudah bersinar terang di jendela. Kepalaku terasa berat, dan mataku terasa perih. Aku menyadari satu hal: ponselku tidak berdering semalam. Tidak ada pesan dari Rangga.
Biasanya, setiap pagi, dia akan mengirimiku pesan selamat pagi, atau bahkan meneleponku. Dia akan bertanya apakah aku tidur nyenyak, atau apakah aku sudah sarapan. Dia akan melakukan hal-hal kecil yang membuatku merasa dicintai.
Semua itu hanya topeng.
Dulu, aku akan khawatir jika dia tidak menghubungiku. Aku akan meneleponnya, mengiriminya pesan, mencari tahu apa yang terjadi. Tapi sekarang, aku merasa kosong. Kebiasaan itu sudah mati, seperti hubungan kami.
Aku menatap ponselku yang sunyi. Sebuah kelegaan yang pahit menyelimutiku. Kebiasaan kami, rutinitas kami, semua itu sudah berakhir. Aku tidak perlu lagi khawatir, atau berharap, atau berpura-pura.
Selesai. Semuanya selesai.
Rasa marah membuncah di dalam diriku. Aku ingin berteriak, menghancurkan segalanya. Aku ingin membalas dendam. Aku ingin dia merasakan sakit yang sama seperti yang kurasakan.
Tapi kemudian aku teringat. Keluargaku. Keluarga Suhardi. Mereka memiliki hubungan bisnis yang rumit. Ayahku adalah kontraktor setia untuk Suhardi Group. Jika aku melakukan sesuatu yang gegabah, itu bisa merugikan keluargaku.
Aku tidak bisa egois. Aku harus memikirkan mereka.
Aku memutuskan untuk pergi, diam-diam. Tanpa konfrontasi, tanpa drama. Aku akan menghilang dari hidupnya, dan dia tidak akan pernah bisa menyentuhku lagi.
Aku terlelap lagi, dalam tidur yang terasa aneh, tidak nyenyak namun juga tidak sepenuhnya terjaga. Aku merasa ada seseorang memelukku, hangat dan familiar. Wangi Rangga. Aku membuka mataku.
Rangga telah berada di sampingku, menatapku dengan mata yang redup. Matanya yang dulu kuanggap indah, kini terasa dingin dan menakutkan.
"Kenapa kau di sini?" tanyaku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
"Aku masuk. Pintunya tidak dikunci," dia menjawab, seolah itu adalah hal yang paling normal di dunia.
Dia masih punya kunci cadangan apartemenku.
Dia membelai rambutku, sentuhannya terasa hampa. "Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Kenapa kau tidak datang ke pesta?"
Aku menepis tangannya, tubuhku menegang. Aku tidak ingin dia menyentuhku lagi. "Aku bilang aku tidak enak badan."
"Tidak enak badan? Atau kau cemburu?" Dia tersenyum merendahkan. "Kau pikir aku tidak tahu kau menguping pembicaraanku dengan Daniel semalam?"
Mataku terbelalak. Dia tahu. Dia tahu aku mendengar semuanya. Dan dia tidak peduli.
"Kau... kau tahu?" tanyaku, suaraku bergetar.
"Tentu saja. Tapi apa yang kau harapkan, Aluna? Kau tahu aku harus melakukan ini demi bisnis. Lagipula, kau tidak pernah bisa memberiku apa yang bisa diberikan Zahira."
Kata-kata itu menghantamku seperti tombak. Dia begitu jujur, begitu kejam. Dia tidak peduli dengan perasaanku.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku, air mata mendesak keluar lagi.
"Aku ingin kau mengerti," dia berkata, suaranya melembut, tapi matanya tetap dingin. "Aku bertunangan dengan Zahira, tapi itu hanya demi bisnis. Kau... kau tetap di sini untukku."
Aku menatapnya dengan jijik. Dia ingin aku menjadi simpanannya? Setelah semua ini?
"Kau pikir aku murahan seperti itu?" tanyaku, suaraku dipenuhi kemarahan.
"Jangan bodoh, Aluna. Kau tahu aku mencintaimu," ujarnya dengan nada meremehkan.
"Begitu? Lalu mengapa kau menghinaku, memanfaatkan karya dan cintaku sebagai batu loncatan? Mengapa kau memintaku minum pil pencegah kehamilan?" Suaraku bergetar, tapi aku berusaha keras untuk tidak menangis di hadapannya.
Dia terdiam, matanya sedikit melebar. Ekspresinya tampak seperti seseorang yang terkejut karena kedoknya telah terbongkar. Dia mungkin tidak menyangka aku akan tahu tentang pesan itu.
Aku bangkit dari tempat tidur, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan menuju pintu. Aku harus keluar dari sini. Sekarang.
"Kau mau ke mana?" Rangga mengikuti, suaranya kini terdengar lebih marah.
"Aku akan menyiapkan sarapan," kataku, mencoba menjaga suaraku tetap tenang. Aku tidak ingin ada drama. Aku tidak ingin dia melihatku hancur.
Aku berjalan menuju dapur, Rangga mengikutiku. Dia menarik kursi di meja makan, menatapku dengan tatapan mengintimidasi. Aku mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas, tanganku gemetar.
"Aku akan memasakkanmu pancake kesukaanmu," kataku, berusaha fokus pada masakanku.
"Aluna, aku tidak butuh pancake," dia berkata, suaranya kini terdengar lebih dingin. "Aku ingin kau bicara denganku."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," kataku, tanpa menoleh. "Semuanya sudah jelas."
"Jelas? Apa yang jelas? Kau pikir aku akan hidup bahagia dengan Zahira?" Dia tertawa, tawa yang sinis. "Kau tahu itu tidak mungkin. Yang aku butuhkan hanyalah kau, Aluna. Hanya kau."
Aku menghentikan gerakanku, menatapnya. Matanya dipenuhi dengan kemarahan, tapi ada juga sesuatu yang lain. Keterkejutanku bercampur dengan rasa muak yang mendalam.
"Mengapa kau begitu egois, Rangga?" tanyaku, suaraku berbisik.
"Egois? Aku? Kau yang egois, Aluna! Kau yang tidak mau mengerti posisiku! Kau yang membuatku harus melakukan ini!" Dia membanting tangannya ke meja, membuat piring-piring di atasnya bergetar.
"Aku yang membuatmu melakukan ini?" tanyaku, suaraku kini lebih keras. Kemarahan akhirnya meledak. "Aku yang memintamu untuk mengkhianatiku? Aku yang memintamu untuk mencuri karyaku? Aku yang memintamu untuk mempermainkan perasaanku?"
Rangga bangkit dari kursinya, wajahnya memerah. "Kau... kau keterlaluan, Aluna!"
Dia meraih piring yang ada di dekatnya dan membantingnya ke lantai. Pecahan kaca berserakan, bersinar-sinar di bawah cahaya lampu dapur.
Aku terlonjak, ketakutan mencengkeramku. Aku mundur selangkah, air mata mengalir deras. Tubuhku gemetar hebat.
"Aluna, aku... aku tidak bermaksud..." Rangga mendekat, tangannya terulur.
Aku menepis tangannya, meringkuk di sudut dapur. Isak tangisku terdengar memilukan. Aku tidak bisa lagi menahan semua emosi ini.
Tiba-tiba, ponsel Rangga berdering. Dia mengangkatnya, wajahnya kembali tegang. "Ya, Mah," katanya. "Aku... aku akan segera ke sana."
Dia menatapku, matanya dipenuhi kemarahan yang bercampur dengan rasa bersalah yang samar. "Ini semua salahmu, Aluna! Kau membuatku terlambat!"
Dia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan aku sendirian di dapur yang berantakan, dikelilingi oleh pecahan kaca dan air mataku sendiri.
Bajingan. Dia benar-benar bajingan.