Nagita Wangi Kuncoro nama gadis manis asli Cirebon sedang berkumpul di cafe depan kampus. Dia biasa dipanggil GITA oleh semua yang mengenalnya.
Selain sedang diskusi materi tugas kelompok tentu sambil ngemil berat.
"Kesiniin saos sambalnya, aku mau tambah. Kurang pedas siomayku," ucap Kusrini atau Rini teman Gita di kampusnya.
"Kamu kebiasaan, makan sambal pakai siomay bukan makan siomay dengan sambal," Gita mendorong botol saos sambal kearah Rini.
"Awas kena buku. Bisa bahaya," ujar Jafar teman diskusi mereka kali ini.
Satu group dengan para betina ini bikin Jafar paling macho tapi membuat dia gemuk karena setiap berkumpul selalu saja berteman makanan.
"Eh pejantan. Kamu sejak tadi kenapa enggak makan siomay mu? Kalau enggak doyan bilang, biar aku habiskan," protes Kumala yang oleh teman satu group dipanggil CUM-CUM karena tubuhnya paling gemuk. Padahal dia biasa dipanggil Mala.
"Cum-cum, betina gendut. Apa enggak cukup kamu sudah makan dua porsi?" Tanya Rini.
"Aku banyak keluar energi untuk berpikir. Wajar kalau aku makan banyak," Cum-cum paling jago nge-les.
Usia Gita saat ini 24 tahun. Dia sedang ambil S2 di kota Bandung.
Gita sudah punya seorang calon suami yang bernama Rusdi Pratama Habsyi. Usia mereka terpaut 3 tahun. Saat ini Rusdi berusia 27 tahun dan sudah bekerja sebagai pemilik yayasan sekolah di kota Cirebon.
Gita dan Rusdi dulu satu kampus saat S1 di Jakarta.
Gita mahasiswi baru dan Rusdi senior yang hampir lulus.
Rusdi melanjutkan S2 di UGM Jogja dan Gita tetap di Jakarta.
Mereka terbiasa LDR dan tak pernah ada kendala.
Kekuatan cinta mereka bisa menepis jarak dan waktu.
Bila ada waktu libur dari Jogja Rusdi akan ke Jakarta menengok pujaan hati.
Berlanjut sekarang saat Gita kuliah S2 di Bandung, Rusdi juga akan on the way ke Bandung dari Cirebon bila week end.
Rusdi memang serius pada Gita. Cintanya tak tergoyahkan.
Meskipun mereka harus LDR Karena beda kota Gita sama Rusdi ini tetap langgeng bahkan hubungan pacaran mereka ini sudah berjalan selama 5 tahun lamanya
***
"Pak, ini data pegawai baru yang sudah lolos seleksi dan siap terjun kelapangan mulai hari Senin depan," lapor manager HRD yayasan yang Rusdi pimpin. Yayasan KUSUMA BANGSA ini bergerak di dunia pendidikan. Memiliki sekolah dari TK, SD, SMP, SMA, SMK dan kursus bahasa inggris serta BIMBEL atau bimbingan belajar.
"Silakan aja dikelola. Kalau sudah anda ACC buat apa hal begitu lapor personal ke saya?" Jawab Rusdi.
"Tapi kan ada beberapa yang akan.ditempatkan di kantor yayasan Pak. Dan satu diantaranya akan jadi sekretaris tambahan untuk Bapak." Jawab manager HRD
"Ya anda aturlah. Soal sekretaris sebenarnya saya tak perlu tambahan. Walau bu Puji resign karena ikut suami pindah keluar Jawa. Kan masih ada dua sekretaris saya yaitu mbak Diah dan pak Gilbert. Sebenarnya dua itu sudah cukup buat saya," balas Rusdi.
"Lalu penempatan calon sekretaris ini bagaimana Pak?
"Taruh aja di sekretaris umum. Bukan khusus bantu saya. Jangan posisikan dia menjadi pengganti bu Puji. Terlalu cepat kalau kita enggak tahu kemampuannya.
"Pengganti bu Puji, mbak Diah aja."
"Baik Pak," sahut Mahmud, sang manage HRD
***
"Bagaimana persiapanmu?"
"Lancar jaya kayak bus," jawab Gita menyebut sebuah PO bus antar kota.
"Ha ha, kamu emang paling bisa ya Cinta," balas Rusdi.
"Harusnya A'a pas mau akhir semester gini enggak perlu kesini lah. Aku juga sibuk ama tugas kampus. A'a juga sibuk di yayasan. Aku enggak apa-apa koq A'a enggak datang asal terus ngabarin," Gita menyarankan Rusdi agar tak selalu datang.
Di Bandung Rusdi kost satu kamar khusus untuk dia tidur tiap week end.
Rusdi memang datang di hari Jumat sore atau malam. Hari Sabtu dan Minggu akan mereka gunakan untuk bersama dan hari Minggu malam atau hari Senin sehabis salat Subuh dia akan kembali ke Cirebon.
***
"Selamat siang Pak. Ini undangan dari Kanwil untuk meeting penetapan yayasan yang akan dikirim tingkat provinsi."
"Sesuai rapat beberapa kali sebelumnya, kemungkinan yayasan kita menjadi salah satu peserta yang akan dikirim," Diah melaporkan pada Rusdi saat menjelang makan siang.
Rusdi baru tiba di kantor jam 10.00. Tadi sengaja dia sarapan dulu dengan kekasih hatinya.
"Kapan pelaksanaan meeting? Dan kegiatan di tingkat provinsi kapan serta berapa hari?" tanpa melihat Diah, Rusdi menjawab sambil memperhatikan program kerja di laptopnya.
"Meeting hari Kamis di kantor Dikbud mulai jam 10.00 Pak."
"Menurut rundown acara akan selesai jam 16.00.
"Acara di Bandung bulan depan tanggal 7-9."
Kegiatan tanggal 7 dimulai sejak salat Subuh bersama, artinya peserta harus sudah di lokasi sejak satu hari sebelumnya."
"Penutupan acara saat api unggun tanggal 9 jam 00. Artinya peserta baru bisa pulang tanggal 10."
Dinda merinci seperti itu karena akan berkaitan dengan jadwal surat izin bagi orang tua peserta didik.
"Ok. Siswa terpilih cepat kamu berikan surat izin juga arahkan ke rencana kegiatan yang akan kita tampilkan."
"Pendamping siswa jangan lupa kamu siapkan semua akomodasinya."
"Dari yayasan kamu atau Gilbert yang berangkat kalian rundingkan."
"Kosongkan jadwal saya full satu minggu itu karena pas kebetulan kegiatan di Bandung sekalian saya stay di sana saja biar puasa dekat tunangan saya."
"Baik Pak." Jawab Diah sambil menulis ssmua yang Rusdi perintahkan.
"Jadi," belum selesai Diah bicara terdengar suara ketukan.
"Masuk," jawab Rusdi.
"Maaf Pak, saya mau menyerahkan file dari pak Gilbert," seorang gadis yang baru sekali Rusdi lihat masuk dan langsung bicara.
"Dia siapa?" Tanya Rusdi pada Diah.
"Saya Listiowati Dewi Pak. Saya pegawai baru," jawab gadis itu.
"Saya tanya ke Diah kan?" Jawab Rusdi.
Dia memang seperti itu. Tegas dan dingin pada karyawannya. Terlebih ini karyawan baru koq berani langsung menjawab hal yang Rusdi tanya pada orang lain.
"Maaf Pak."
"Dia yang rekrut-an baru Pak. Masuk bagian sekretaris umum."
"Kemarin saya sudah bilang pada pak Mahmud tak perlu ada tambahan tenaga buat saya. Cukup kamu dan Gilbert saja."
"Jadi kalian berdua bisa saling sharing tugas lah. Saya yakin tak perlu tambah personil baru buat kita," ucap Rusdi sambil terus menatap layar monitor.
"Kamu masih ada perlu apa? Bukannya hanya memberikan berkas lalu selesaikan?" Rusdi masih bingung mengapa pegawai baru itu malah terdiam di ruangannya.
"Diah, lanjutkan yang tadi."
"Eh maaf. Saya permisi Pak," Listiowati Dewi pun pamit.
'Ternyata ketua yayasan masih muda dan ganteng banget. Muda, ganteng dan pastinya kaya. Cowoq idaman,' batin Wati.
'Aku harus mendapatkan dia,’begitu niat Wati. Dia yakin bisa.
“Pak ini ada tamu yang ingin bertemu,” lapor Wati pada Rusdi.
Rusdi kaget ada Wati di depan meja kerjanya sedang dia tak mendengar ada yang mengetok pintu.
“Diah dan Gilbert ke mana? Kenapa kamu bisa di lokasi ketua yayasan?” tanya Rusdi.
“Mereka sedang sibuk dengan calon orang tua yang untuk berangkat ke Bandung Pak,” kata Wati.
“Siapa tamunya?”
“Dari KANWIL, mereka sudah ada janji dengan Bapak.” jawab Wati.
“Suruh masuk 15 menit lagi,” tegas Rusdi karena dia masih bingung mengapa sekretaris umum bisa menerima tamu di gedung ketua Yayasan. Sekretaris umum kan bekerja di bagian umum atau HRD bukan di bagian kantor ketua yayasan.
***
“Iya Pak,” jawab Mahmud manager HRD mendapat telepon dari Rusdi di telepon meja nya.
“Saya lagi bingung ya sama kamu. Apa kerjamu sehingga sekretaris umum bisa menerima tamu di gedung ketua yayasan?” Rusdi marah dengan kecerobohan Mahmud.
Mahmud jadi serba salah karena mendengar suara Rusdi yang sedikit marah.
“Mengapa sekretaris bagian umum ada di Gedung sekretaris Yayasan? Apa kamu tidak mengajari dia dan menerangkan di mana lokasi wilayah kerjanya?”
“Dia malah terima tamu di sini. Seharusnya kan dia ada di gedung kamu, jauh loh dari bagian umum atau HRD ke bagian sekretariat ketua Yayasan,” kata Rusdi lagi.
“Loh kok bisa ya? Ini dia mengantar tamu ke sini. Bukan soal tamunya tapi soal kinerja dia. Ngapain gitu dia menerima tamu yang bukan urusan dia. lebih-lebih dia sampai tahu tamu tersebut sudah janjian dengan saya. Ini terlalu kelewatan ya kamu menangani anak baru,” baru kali ini Mahmud kena semprot Rusdi soal anak baru.
“Iya Pak saya akan tanya bagaimana dia ada di sana,” jawab Mahmud dengan ketakutan. Rusdi bukan pemarah. Sehingga bila dia sudah marah itu tentu sangat keterlaluan.
***
“Bagaimana meja sekretaris depan bisa kosong dan kalian pergi berdua saat saya ada di ruangan?” kali ini Rusdi menegur Diah.
“Gilbert ada di ruangan Pak,” jawab Diah yang terpaksa menghentikan pembicaraan dengan orang tua siswa karena mendapat panggilan telepon dari Rusdi.
“Dia tidak ada. Dan sekretaris baru bagian umum malah menerima tamu buat saya. Dia bilang kalian berdua pergi urus orang tua siswa. Dan saya bingung apa kerjaan dia sehingga bisa ke lokasi gedung ini?” kembali Rusdi mempertanyakan apa perlunya Wati ada di gedung sekretariat yayasan.
“Konfirmasi ke Gilbert dan habis ini saya minta kalian berdua menghadap saya. Sekarang saya harus menerima tamu dari Kanwil yang memang sudah janjian,” Rusdi memutus pembicaraan dengan Diah.
***
“Bagaimana bisa ya” kata Mahmud kesal karena ditegur oleh Rusdi bukan karena kelakuannya langsung tapi karena kesalahan anak buahnya.
Padahal saat perekrutan dia sudah memberitahu semua karyawan baru yang diterima soal di mana wilayah kerja juga job desk mereka masing-masing.
Mahmud ingat tadi Rusdi bilang ini sudah kedua kalinya karyawan baru itu ada di gedung nya. Pertama dia mengantar berkas katanya disuruh Gilbert, dan sekarang menerima tamu!
“Benar-benar aneh,” kata Mahmud.
***
Rusdi bicara cukup lama tadi dia sudah memberitahu pantry khusus sekretariat untuk menyiapkan minum dan snack keperluan tamu, karena tak ada Gilbert dan Diah. Jadi terpaksa dia yang memesankan.
“Enggak usah Teh,” saat itu office boy bingung Wati juga ikut membantu dirinya.
“Enggak apa-apa, enggak apa-apa saya bantu,” kata Wati.
“Sini saya yang menyerahkan ke depan,” tawar Wati pada office boy.
“Jangan, nanti saya dimarahi,” elak sang office boy.
“Enggak lah, memang tugasnya sekretaris kan seperti ini,” kata Wati.
***
“Silakan Bapak Ibu,” Wati menawarkan minuman yang dia bawa pada para tamu dengan lembutnya.
“Terima kasih,” jawab bapak dan ibu dari KANWIL.
“Permisi,” lalu dengan sopan Wati keluar ruangan. Sebelum keluar Wati memperlihatkan senyum penuh kemenangan.
***
“Gilbert, bisa jelaskan mengapa dua hari lalu kamu memberikan berkas untuk saya pada sekretaris bagian umum? Dia kan bukan harus ada di gedung ini? Apa kamu kurang asisten sehingga pakai anak bagian umum? Tenaga administrasi di sekretariat kan banyak?” Rusdi langsung mencecar Gilbert yang pertama menggunakan tenaga Wati untuk membantunya.
“Saat itu saya sedang di ruang pak Mahmud membawa berkas seluruh peserta. Lalu saya terima telepon dari KANWIL tentang koordinasi keberangkatan peserta Pak.”
“Saat itu pak Mahmud ada di depan saya. Saya tanya mana berkas yang buat Bapak secara langsung. Pak Mahmud menunjuk satu bundel. Saya belum bawa saya terima telepon dulu. Lalu dia bilang biar dia bantu saya. Saya tak sadar saat selesai telepon berkas sudah sampai ke tangan Bapak.” jawab Gilbert jujur.
“Saat itu dia bilang disuruh kamu. Ada Diah sebagai saksi saat dia bicara seperti itu,” jawab Rusdi.
“Wah saya tak berani menyuruh seseorang buat mengantar berkas ke Bapak. Apa selama ini saya pernah gegabah seperti itu?” tukas Gilbert.
Diah dan Rusdi berpandangan.
“Lalu ke mana kamu tadi saat Diah menerima para orang tua siswa? Harusnya kan kamu di sini menerima tamu dan mengurus terima telepon. Ini malah orang bagian umum yang menerima tamu bahkan menghidangkan minuman. Saya sudah tegur bagian pantry dia bilang perempuan itu memaksa mengantarkan minum bagi tamu.” Diah dan Gilbert tak percaya kalau masalah akan seperti ini.
“Tadi saya dan Diah sudah berbagi tugas Pak. Saya di sini Diah yang menghandle tamu. Lalu Wati bilang saya dipanggil kepala SMK karena ada orang tua siswa yang mau berangkat tapi keberatan bila putrinya berangkat dengan rombongan. Orang tua itu ingin putrinya menginap di hotel sendiri dengan keluarga dan semua keberangkatan juga tidak bareng rombongan. Dan bodohnya saya langsung meluncur ke SMK tanpa crosscheck.”
“Ternyata kepala SMK tak memanggil saya, dia memang bilang akan bertanya pada saya sebagai penanggung jawab kontingen. Tapi kemudian saya memang bicara cukup lama dengan orang tua siswa tersebut sampai dia luluh dan mengizinkan putrinya bersama rombongan sejak pembukaan hingga penutupan.”
“Ini peringatan bagi kalian berdua ya. Saya tak ingin ada siapa pun mencampuri pekerjaan kalian. Atau kalian silakan minta pada pak Mahmud untuk di mutasi atau kalian serahkan surat pengunduran diri,” Rusdi tegas memerintah agar kedua sekretarisnya benar-benar bekerja dengan job desk yang benar.
“Kamu bukan satu atau dua hari kan kerja di sini? Bagaimana bisa kepala SMK memanggil kamu? Biar bagaimana pun jabatan kalian lebih tinggi dari kepala SMK. Kecuali orang bagian umum. Mereka satu level atau kalau dengan kepala sekolah ya malah dibawahnya. Itu soal jabatan, bukan personal.”
Gilbert diam. Dia juga tak mengerti bagaimana dia bisa seperti kerbau di cocok hidung langsung kabur ketika mendengar kepala SMK memanggilnya untuk segera datang keruangannya.
“Loh, kamu kenapa di sini” tanya Rusdi pada sosok perempuan yang sedang meneduh di lobby gedung sekretariat yayasan yang dipimpinnya.
“Iya Pak, tadi habis mengembalikan buku pada Pak Gilbert. Ngobrol lama eh hujan. Pak Gilbert nya barusan pulang.” Perempuan itu adalah Wati pegawai baru bagian umum yang seharusnya beda gedung dengan Rusdi.
“Kamu kenapa masih berteduh di sini?” tanya Rusdi bingung. Hari hampir maghrib.
“Saya lupa tadi enggak bawa motor, biasanya saya pakai motor jadi saya nunggu sampai hujan agak reda baru mau pesan ojek online,” jawab Wati lancar tanpa kesan berbohong. Rusdi adalah seorang yang welas asih. Dia tentu bertanya agar bisa ada yang menemani atau mengantar karyawan nya itu.
“Memang kamu arahnya ke mana?” tanya Rusdi, entah mengapa dia bisa tidak ketus pada Wati kali ini. Mungkin karena kasihan sudah sore dan hujan lebat.
“Ke arah Jalan Penang Pak,” jawab Wati.
“Lho itu saya lewati, kamu ikut saya aja. Saya akan turunkan kamu di dekat arah rumahmu. Saya tak akan antar sampai rumah,” Rusdi tentu menjaga agar tak ada salah paham bila ada yang melihat dia mengantarkan karyawan hingga di rumahnya.
“Wah tidak usah Pak, nanti merepotkan,” tampik Wati basa basi.
“Enggak merepotkan karena hanya sampai tempat terdekat dengan rumahmu, bukan sampai rumahmu. Itu hanya sekadar kelewatan saja. Dan hanya satu kali ini saja bukan untuk tiap hari,” jawab Rusdi saat melihat mobil nya sudah sampai di lobby, diambil kan oleh satpam seperti kebiasaannya setiap hari.
Rusdi memang tak menggunakan jasa sopir bila hanya kegiatan rutin sehari-hari. Rusdi lebih suka bawa mobil sendiri. Tak membebani orang. Bukan tak mampu menggaji.
Tak banyak yang dibicarakan dalam mobil dan seperti yang tadi Rusdi katakan, dia menurunkan Wati di halte dekat rumah kost nya. Tidak belok kiri ke arah rumah kost Wati walau masih jalan besar. Rumah Rusdi masih lurus dan dia tak mau direpotkan orang.
Yang Rusdi tak habis pikir, entah bagaimana Rusdi memberikan nomor ponselnya pada Wati. Dia pikir semua karyawan nya juga banyak yang punya nomor ponselnya. Kalau tak dia kasih juga Wati akan dapatkan dari karyawan lainnya. Itu saja pikiran Rusdi saat itu.
***
‘Terima kasih ya Pak saya sudah dianterin dengan selamat,’ itu pesan pertama dari Wati. Rusdi tidak menjawab karena merasa tak perlu menjawab walau hanya bilang sama-sama atau kata-kata basa basi lainnya.
‘Ngapain dia kirim pesan? Kan sebelum turun tadi dia sudah bilang terima kasih?’
Rusdi langsung meletakkan ponselnya dan tak mau peduli lagi pada pesan yang Wati kirim. Dia tak minat berbalas pesan. Dengan tunangannya pun dia biasa langsung telepon. Mereka berbalas pesan bila jam sibuk takut ganggu jam kuliah atau meeting. Biasanya juga kirim pesan hanya tanya bisa telepon atau enggak. Bukan kirim pesan lebay tanya sudah makan belum? Sudah salat belum atau saling ucap selamat pagi atau selamat tidur seperti pacaran jarak jauh pada umumnya.
Sehabis bersih-bersih badan, makan malam juga salat, Rusdi langsung menghubungi Gita di Bandung. Mereka rutin melakukan komunikasi setiap malam. Mereka bertukar info apa yang telah mereka lakukan hari ini juga rencana kegiatan mereka esok hari.
“A’ siapa pengganti bu Puji?’” tanya Gita pada calon suaminya. Sehabis Gita wisuda S2 memang mereka akan menikah.
“A’a enggak cari pengganti. Cukup Diah dan Gilbert aja lah,” balas Rusdi.
“Ada pegawai baru, tapi A’a minta ke pak Mahmud suruh taruh bagian umum aja. Kalau bagian sekretariat dikasih orang baru, kan jadi acak-acakan. Kalau bagian sekretariat butuh orang, ya nanti ambil dari bagian umum yang sudah senior, bukan orang baru,” jelas Rusdi.
***
‘Selamat pagi Pak. Semoga hari ini hari yang indah dan Bapak selalu sehat untuk menjalani hari indah ini,’ Rusdi bingung pagi-pagi ada sapaan selamat pagi selain dari calon istrinya.
Calon istri saja tidak lebay seperti ini. Gita biasa hanya bilang dia telah tiba di kampus atau kegiatan lainnya. Bukan sapaan selamat pagi, siang atau malam seperti yang pegawai barunya ini lakukan.
‘Ngapain sih ni anak?’ Rusdi masih tak ingat tadi malam dia kasih nomor ponsel milikya gara-gara bicara apa. Rusdi malah lupa mengapa dia bisa memberikan nomor telepon pada Wati..
Rusdi memang benar lupa memberikan nomor ponsel pada Wati untuk alasan apa, benar-benar blank.
“Sarapan dulu atuh Kasep,” sang AMAH, mamanya Rusdi menegur Rusdi yang membaca pesan saat di meja makan.
Ini pertama kalinya Rusdi ditegur membaca pesan saat sarapan. Biasanya dia tak pernah, karena Gita dan dirinya memang bukan yang hobby berbalas pesan.
“Iya Mah,” Rusdi meletakkan kembali ponselnya dan berbincang dengan APA’ atau papa serta mamanya. Rusdi memang masih tinggal dengan kedua orang tuanya. Tapi semua tahu begitu menikah nanti Rusdi akan pindah ke rumah yang sudah dia bangun. Tak jauh dari rumah kedua orang tuanya ini.
***
“Ada apa?” tanya Rusdi heran ketika dia sedang memperhatikan berkas di ruangan nya ada telepon dari Wati.
“Kenapa kamu berani menelepon saya?” belum juga Wati menjawab Rusdi melanjutkan pertanyaan lagi.
“Maaf, maaf Pak. Ini bu Diah terjatuh dari motor,” jawab Wati.
“Lalu kenapa kamu telepon saya? Kan di situ banyak orang? Minta bantuan orang sekitar lah. Kenapa saya yang dihubungi?” Rusdi jelas tak mengerti mengapa dia dihubungi karena Diah terjatuh dari motor.
“Saya kasihan aja Pak, orang terdekat bu Diah yang saya kenal, kan cuma Bapak,” jawab Wati tanpa merasa bersalah.
“Cari orang lain,” kata Rusdi cepat. Rusdi bingung, ada apa sih sama Wati ini kok selalu menghubungi dia.
Dan kenapa Diah bisa jatuh dari motor? Sedangkan Diah itu ke kantor naik mobil. Aneh kan?
***
“Anda kayaknya perlu re-posisi atau apalah karyawan baru hasil rekrutanmu terakhir deh pak Mahmud,” Rusdi langsung menghubungi kepala HRD karena terganggu dengan kelakuan Wati.
Bahkan sekelas pak Mahmud saja tak berani langsung menghubungi nya saat jam kerja membahas hal yang bukan masalah kerjaan. Diah jatuh dari motor kan bukan urusan kepala yayasan walau Diah adalah sekretarisnya.
“Ada apalagi Pak?” jawab pak Mahmud bingung.
“Saya bingung mau bersikap bagaimana pak Mahmud. Ini juga baru kali ini saya alami. Wati pegawai baru tiba-tiba menelepon saya. Ini belum jam istirahat, masih jam kerja dia berani menghubungi saya cuma bilang katanya Diah jatuh dari motor. Pak Mahmud tahu kan Diah itu kerja naik mobil. Bagaimana Diah jatuh dari motor?”
“Bagaimana caranya anda ultimatum dia atau anda pecat dia. Saya tidak mau tahu,” jelas Rusdi kesal.
Untung saat ditelepon tadi dia sedang ada di ruangan nya bukan sedang meeting. Kalau sedang dengan tamu kan tidak sopan tidak menjawab telepon masuk.
Diah atau Gilbert tak pernah menggunakan telepon selular bila urusan pekerjaan dalam yayasan, kecuali mereka sedang tak di kantor. Gilbert dan Diah akan menghubungi dengan nomor sekretariat sehingga Rusdi tahu apa bahwa itu adalah telepon kerja. Tidak asal telepon seperti yang Wati lakukan barusan.
***